Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR! ROMANCE AHEAD!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 28 tahun
Shintarou = 25 tahun
Atsushi = 24 tahun
Ryouta = 22 tahun
Daiki = 21 tahun
Tetsuya= 17 tahun
Enjoy!
Chapter 27: As Man, Wants
"Ini laporan keuangan bulan lalu, Akashi-kun," kata Momoi sembari meletakkan laporan yang dimaksud. Setelah Seijuurou menggumamkan terima kasihnya, wanita itu menyapa Nijimura yang duduk di hadapan Seijuurou lalu melangkah pergi.
Seijuurou tengah membuka-buka laporan yang baru diberikan Momoi ketika Nijimura berkata, "aku kecewa."
Mata Seijuurou yang sebelumnya terpaku pada barisan angka di kertas yang ia pegang, kini terangkat menatap mata Nijimura. Pria berambut hitam itu masih melihat pintu yang belum lama ditutup Momoi. "Kecewa pada apa, Nijimura-san?"
"Kecewa melihat Momoi menggerai rambutnya lagi," Seijuurou mengerutkan kening dan hampir tertawa mendengar alasan konyol rekan kerjanya tersebut. "saat ia menggulung rambutnya beberapa minggu lalu, aku baru paham keyakinan orang Jepang lama kalau kecantikan wanita itu letaknya di tengkuk."
Seijuurou mendengus dan tersenyum tapi tak berkomentar. Walau bagaimana pun, ia juga mengakui kalau Momoi memang lebih cantik dengan rambut digulung seperti. Kalau ia tidak berpikir begitu, ia tidak mungkin menyarankan Momoi untuk mengenakan tatanan rambut itu saat ke kantor, kan?
Nijimura membalikkan tubuhnya hingga ia bisa menatap Seijuurou, sikunya ia tumpukan di meja dan dagunya ia topang dengan tangan. "Kenapa ia menggulung rambutnya beberapa minggu lalu, ya? Apa ada orang yang ingin ia buat terkesan?"
Oke, Nijimura sudah mulai berlebihan. Ini harus dihentikan. Laporan mingguan pria itu jadi tertunda.
"Nijimura-san, kau sudah punya istri," Seijuurou mengingatkan, berpikir kalau menyebutkan keberadaan istrinya akan membuatnya fokus kembali.
Tapi pikiran Seijuurou ternyata salah.
"Mengagumi perempuan lain itu tidak sama dengan selingkuh, Akashi," jawab Nijimura sambil lalu. Astaga, apa yang akan dikatakan istrinya kalau mendengar ini? "Apa orang yang ingin Momoi buat terkesan itu ternyata tidak terkesan? Karena menurutku ia melakukan itu untuk membuat orang yang disukainya terkesan tapi gagal makanya sekarang ia berhenti. Siapa laki-laki beruntung itu menurutmu, Akashi?"
Aku. Dan Momoi menggulung rambutnya seperti itu karena saranku. Sekarang ia tidak lagi melakukannya karena ia sudah tidak mau berusaha membuatku terkesan lagi.
Rasanya ingin sekali Seijuurou menjawab begitu hanya agar Nijimura tidak mengungkit soal Momoi lagi dan bisa kembali melaporkan bagiann pekerjaannya.
Dan kalau Seijuurou bilang begitu juga ia tidak berbohong, kan?
Dalam hati Seijuurou, sejenak membuncah perasaan senang ketika ia berpikir kalau Momoi sengaja menggulung rambutnya beberapa minggu lalu untuk Seijuurou. Pria berambut merah itu merasa… istimewa?
Di saat yang sama, Seijuurou merasa tidak suka dengan Nijimura yang begitu memerhatikan Momoi. Aneh sekali, padahal biasanya ia tak pernah merasa begitu terhadap Nijimura.
Ah, mungkin Seijuurou tidak suka karena Nijimura sudah beristri dan perhatiannya pada Momoi -menurutnya—berlebihan. Mereka hanya rekan kerja, tidak seharusnya Nijimura begitu perhatian pada Momoi. Lagi pula perhatian pria yang lebih tua dari Seijuurou itu mulai mengganggu pekerjaannya, mengganggu laporannya sekarang misalnya.
Seijuurou memilih untuk tidak menanggapi pertanyaan Nijimura, menepis sekelebat perasaan tak penting dalam hatinya tadi, dan menekuri laporan keuangannya lagi. Pria itu tidak begitu ingin mengungkit tentang Momoi saat ini karena ia masih belum bisa menepis perasaan yang ia rasakan beberapa waktu lalu. Ia masih tidak bisa menghilangkan keinginan untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan Momoi.
Ia masih ingin meminta kesempatan kedua pada Momoi.
Tapi ia tahu ia egois sekali kalau memintanya karena Momoi sudah jelas mengatakan tidak ingin.
Lagi pula, bagaimana ia mengatakan keinginannya untuk kencan lainnya jika Momoi bersikap seakan-akan tak ada apa pun yang terjadi di antara mereka?
Wanita itu bersikap sama saja seperti sebelum pernikahan Mibuchi. Ia bersikap seakan mereka tidak pergi ke pernikahan bersama, seakan pengakuan hari itu tak ada, seakan mereka tak pernah berdebat dan mencapai kesepakatan absurd itu dalam ruangan ini, dan yang terpenting, ia bersikap seakan kencan mereka akhir pekan itu tidak terjadi.
Rasanya semua yang mereka lakukan akhir pekan lalu hanya mimpi yang buyar begitu Momoi menutup pintu apartemennya malam itu.
Begitu Senin datang, mereka kembali ke peran mereka sebelum pernikahan Mibuchi datang. Mereka kembali menjadi Akashi Seijuurou sang atasan dan Momoi Satsuki sang bawahan, sepasang teman yang pernah satu sekolah.
"Ngomong-ngomong, Akashi. Ada apa denganmu?"
Pertanyaan Nijimura berhasil membuat Seijuurou mengangkat kepalanya lagi. Pria berambut merah itu mengedip beberapa kali.
"Aku baik-baik saja. Kenapa Nijimura-san bertanya begitu?" tanya Seijuurou. Apa ia terlihat sakit? Tapi saat melihat cermin untuk bercukur pagi ini, ia lihat ia baik-baik saja, wajahnya tidak terlihat pucat. Ia juga merasa bugar.
Nijimura mengangkat bahu. "Entahlah. Hanya saja sepertinya kau sedikit menahan diri di depan Momoi. Kau bicara sekenanya padanya dan bahkan tidak tersenyum waktu ia memberikan laporan itu tadi."
Nijimura menunjuk laporan di tangan Seijuurou. Seijuurou menatap laporannya, mengangkat alis. Benarkah? Ia tidak tersenyum saat menerima ini? Apa ia biasanya tersenyum kalau menerima sesuatu? Seijuurou tidak tahu.
"Kau cuma bilang 'terima kasih', biasanya kau tersenyum saat kau mengatakan terima kasih. Seperti sudut bibirmu sudah diprogram agar bisa melengkung kecil secara otomatis saat orang berterimakasih," Nijimura menjelaskan ketika dilihatnya Seijuurou diam saja, kebingungan sendiri. Pria yang lebih tua itu menyilangkan tangan di atas meja lantas mencondongkan badan. "Ada terjadi sesuatu di antara kalian?"
"Tidak ada apa-apa, Nijimura-san. Aku rasa aku hanya sedikit kelelahan hari ini," jawab Seijuurou. Ia berusaha untuk bersikap seperti biasa, tapi ia tahu kalau Nijimura tetap curiga. "Aku ingin dengar lanjutan laporanmu, Nijimura-san."
Dahi Atsushi mengernyit. Pria berambut ungu itu menegakkan badan lantas menatap Tetsuya tepat di mata dari atas pintu kulkas, mencoba untuk menangkap apa sebenarnya maksud sang adik melalui matanya.
Tetsuya tak bergeming di bawah tatapan Atsushi yang terkesan mengintimidasi.
Atsushi menyerah, mengalihkan pandangannya. Mungkin ia berpikir berlebihan. Mungkin ia hanya salah menangkap maksud gerak-gerik Tetsuya. Walau bagaimana pun, ia tidak terlalu pandai mendeteksi sesuatu.
Pria itu kembali membungkuk, memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam kulkas.
"Tetsu-chin tadi bilang ingin pergi makan malam di luar? Dengan siapa?" tanya Atsushi. Ia bukannya ingin mencampuri urusan adiknya. Ia bukan tipe pria seperti itu. Lagi pula pada dasarnya ia pria yang cuek. Tapi Seijuurou sudah memeringatkannya minggu lalu untuk menanyakan pertanyaan tersebut pada Tetsuya jika si bungsu izin makan malam di luar.
Walau bagaimana pun, si sulung tak sesering dulu makan di rumah, Atsushi lah yang lebih rajin hadir di meja makan sekarang dan menurutnya, akan lebih wajar kalau si bungsu meminta izin pada Atsushi dari pada ke padanya.
Tapi sejujurnya, Atsushi juga curiga. Ia mungkin cuek, ia mungkin tidak sesensitif Seijuurou atau Ryouta, tapi ia tahu saat ada yang mencurigakan.
Dan ia tahu kalau Tetsuya yang tiba-tiba sering minta izin makan di luar itu mencurigakan.
Memang Tetsuya mengatakan di mana ia akan makan dan dengan siapa ia pergi –dengan Kagami, teman-teman setimnya atau dengan teman perempuan entah siapa—tapi tetap saja rasanya mencurigakan untuk Atsushi. Kalau Tetsuya pergi dengan Kagami dan teman-teman setimnya itu sudah biasa, tapi kalau dengan perempuan?
Ryouta bilang itu biasa. Anak seumur Tetsuya memang wajar kalau tertarik dengan lawan jenis. Atsushi tidak begitu mengerti bagaimana tingkah anak yang tengah jatuh cinta karena ia sendiri belum pernah merasakannya, tapi kalau pun adik bungsu mereka tengah jatuh cinta, Atsushi merasa si bungsu tidak akan melakukan hal sejauh itu.
Di mata Atsushi, Tetsuya bukan tipe yang akan terang-terangan mengajak perempuan yang ia sukai makan malam atau kencan berdua. Tipe seperti itu lebih cocok dengan Ryouta. Tetsuya kelihatan lebih seperti tipe yang akan berbuat baik pada orang yang ia sukai, ia akan membantu serta mendukung apa pun yang orang yang disukainya lakukan.
Dari sisi lain pintu kulkas, Atsushi bisa mendengar Tetsuya menghela napas.
"Iya, dengan Kagami-kun, Kak," jawab Tetsuya.
Atsushi menggumam paham. Setelah selesai meletakkan belanjaannya, pria itu menutup pintu kulkas dan sekali lagi melihat Tetsuya.
"Baiklah, jangan pulang terlalu malam, Tetsu-chin. Hati-hati."
Apa hanya perasaannya atau memang Tetsuya terlihat lebih rileks ketika ia mengatakan 'baiklah'?
Ah, pasti hanya perasaannya. Tetsuya masih terlihat sama saja.
Setelah mengucapkan terima kasihnya, Tetsuya berjalan ke luar dapur. Atsushi pikir sebaiknya ia melaporkan ini pada Seijuurou.
Walau bagaimana pun, untuk Tetsuya yang sebelumnya tak pernah absen, tiga kali dalam seminggu makan malam di luar itu aneh, kan?
"Ada sesuatu yang mengganggumu, Tuan?"
Seijuurou menolehkan kepalanya. Pandangannya bertemu dengan pandangan Masako. Bagi orang yang baru mengenal wanita tersebut, mereka pasti akan merasa kalau pertanyaan Masako hanya sekadar basa-basi, tapi Seijuurou lebih tahu. Seijuurou bisa mendengar nada khawatir dalam nada bicara wanita paruh baya itu.
Seijuurou menyuguhkan satu senyum simpul pada Masako.
Sudah dua kali ia mendapatkan pertanyaan yang sama minggu ini. Apa kebimbangannya begitu terlihat?
"Kenapa Masako-san bertanya begitu?" tanya Seijuurou lembut. Sebelah tangannya mengangkat gelas berisi air yang baru saja diletakkan Masako di atas meja kerjanya. Wanita di sampingnya itu terlihat ragu sesaat.
"Kelihatannya ada sesuatu yang mengganggu Tuan," jawab Masako akhirnya tanpa ada penjelasan lebih lanjut mengenai kenapa ia merasa begitu. Seijuurou rasa wanita itu hanya mengutarakan apa yang intuisinya katakan. Intuisi bukanlah sesuatu yang memiliki dasar kuat, jadi bukan sesuatu yang bisa dijelaskan.
Seijuurou menghela napas. Ia menaruh kembali gelas airnya. Ia memutar kursinya hingga kini berhadapan penuh dengan Masako.
Beberapa hari ini Seijuurou ingin sekali bertanya apakah sebaiknya ia mengatakan keinginannya pada Momoi, apa sebenarnya maksud sikap Momoi. Ia butuh tuntunan untuk hal yang sama sekali asing baginya ini. Ia sempat berpikir untuk bertanya pada Teppei tapi pamannya pasti akan menasihatinya dengan hal-hal aneh karena ini menyangkut perempuan. Ia juga sempat berpikir untuk bertanya pada Nijimura tapi Nijimura cukup tajam intuisinya dan akan tahu kalau perempuan yang Seijuurou maksud adalah Momoi. Seijuurou tidak mau Nijimura tahu. Bertanya pada Mibuchi dan kawan-kawan hanya akan menambah masalah.
Biasanya ia bertanya pada Momoi tentang sikap perempuan, tapi sekarang Momoi lah yang menjadi objek pertanyaannya jadi tidak mungkin ia bertanya pada wanita itu, kan?
Melihat Masako di hadapannya membuat Seijuurou berpikir, mungkin sebaiknya ia bertanya pada Masako saja. Toh, ketika ayahnya sibuk dulu dan sebelum Momoi ada, Masako selalu jadi tempat ia bertanya.
"Masako-san, aku ingin meminta pendapatmu," kata Seijuurou, membuka.
Mata Masako melebar. Jelas sekali kalau wanita itu terkejut mendengar Seijuurou menginginkan pendapatnya. Wajar menurut Seijuurou karena ia tak pernah menanyakan pendapat Masako lagi selama bertahun-tahun.
"Silakan."
Seijuurou diam sejenak, menyusun kata-kata yang pas dalam benak.
"Ada seorang perempuan, Masako-san," Masako terlihat terkejut tapi ia diam saja, "ia bilang ia menyukaiku."
"Lalu bagaimana perasaan Tuan padanya?"
Seijuurou diam sejenak. "Aku tidak menyukainya seperti itu dan aku memberitahunya."
Dahi Masako mengerut. "Tuan sepertinya tahu pasti bagaimana perasaan Tuan padanya. Jadi Tuan butuh pendapatku untuk apa?"
Seijuurou tersenyum. Masako memang bukan orang yang suka basa-basi. "Jadi begini, aku sudah banyak berutang padanya. Aku ingin membalasnya dan melihat ini bisa jadi kesempatanku. Aku memintanya jadi pacarku tapi ia menolak. Ia bilang ia tidak mau karena aku tidak menyukainya seperti ia menyukaiku. Tapi karena aku memaksa ingin melakukan sesuatu untuknya, ia bilang ia bersedia pergi kencan denganku, satu kali saja."
Masako diam. Tapi Seijuurou bisa melihat sudut bibir wanita itu berkedut, ingin tersenyum.
"Baiklah, lalu?"
"Kami pergi kencan. Tapi sepanjang kencan itu ia tidak terkesan ingin kencan denganku. Aku yang selalu berinisiatif melakukan kontak fisik dengannya. Menurutmu, kenapa ia seperti itu, Masako-san?" tanya Seijuurou akhirnya.
Masako diam sesaat. Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca. Sekilas, ia terlihat seperti… seperti terharu? Seijuurou tidak yakin.
"Menurutku, perempuan itu memang menyukai Tuan dan kurasa ia perempuan yang baik," Masako menambahkan di akhir, "kurasa ia tidak berinisiatif melakukan kontak fisik dengan Tuan karena ia tidak mau berharap lebih, apa lagi setelah Tuan secara jelas bilang tidak menyukainya dalam cara seperti itu. Mungkin juga ia malu."
Seijuurou mengangguk serta menggumam paham. Penjelasan Masako bisa ia terima dan cukup masuk akal baginya. Baiklah, satu pertanyaan terjawab, satu pertanyaan lagi.
Pada saat itu juga, Seijuurou merasa sedikit malu karena akan mengakui apa yang ia rasakan. Mungkin karena ia akan mengatakan ia menginginkan sesuatu dari seorang wanita, yang mana tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Lalu setelah kencan itu selesai, aku baru sadar kalau aku menikmatinya. Aku tidak ingin kencan itu jadi yang terakhir, Masako-san, karena aku senang saat menghabiskan waktu lebih banyak dengannya tapi ia jelas bilang ia hanya akan pergi kencan denganku satu kali. Menurutmu, apa yang sebaiknya kulakukan? Aku merasa sangat egois kalau memintanya pergi denganku sekali lagi."
"Apa Tuan yakin Tuan tidak menyukainya seperti itu?" tanya Masako dengan dahi berkerut setelah beberapa saat diam.
Sekarang gantian Seijuurou yang mengerutkan dahi. Kenapa Masako bertanya begitu? Apa Seijuurou terdengar tidak yakin saat mengatakan kalau ia tidak suka Momoi dalam artian yang seperti itu?
Sebelum Seijuurou sempat menjawab, Masako kembali bicara.
"Menurutku sebaiknya Tuan jujur mengatakannya padanya. Katakan kalau Tuan ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengannya. Mungkin memintanya untuk pergi satu atau dua kencan lagi," kata Masako. "Tapi Tuan juga coba pikirkan lagi perasaan Tuan. Apa Tuan benar-benar hanya menyukainya sebagai teman? Kalau Tuan memang hanya melihatnya sebagai teman dan tidak lebih, jangan beri perempuan itu harapan kosong dengan mengajaknya kencan lagi."
Seijuurou diam. Masako benar.
Bukankah jika ia meminta Momoi untuk pergi kencan dengannya lagi akan sama artinya dengan ia memberi Momoi harapan kosong?
Sejak awal ia sudah tahu kalau keinginannya egois sekali jadi kenapa ia memertahankan keinginan itu dalam hati? Mungkin memang sebaiknya ia mengesampingkan keinginan egoisnya dan diam saja.
"Terima kasih, Masako-san. Pendapatmu sangat membantu. Aku merasa tercerahkan," kata Seijuurou akhirnya. Sebuah senyum simpul tergantung di bibirnya. Masako memimik Seijuurou, membalas senyumnya.
"Sama-sama," balas Masako.
Merasa perbincangan mereka sudah berakhir, Seijuurou memutar posisi duduknya lagi hingga kini ia berhadapan dengan meja. Tapi Masako tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri.
"Tuan tahu, terkadang kita boleh menjadi egois dan mengatakan apa yang kita inginkan. Terkadang kita boleh meminta sesuatu dari orang lain. Memiliki keinginan itu bukan dosa, Tuan."
Seijuurou menoleh cepat. Alisnya berkerut heran.
Apa maksud Masako tadi?
Memiliki keinginan bukan dosa? Bukankah memang begitu? Siapa yang menganggap memiliki keinginan itu dosa?
Sebelum Seijuurou bisa menanyakan apa maksud Masako, wanita itu sudah mohon diri dan melangkah keluar pintu.
Tetsuya tahu ini bukan ide yang bagus.
Tetsuya juga tahu kalau seharusnya ia berhenti sebelum semua ini tak bisa dihentikan, sebelum Tetsuya tak bisa lagi menghentikan semua ini.
Tapi di saat yang sama, Tetsuya menginginkan ini. Rasa ingin tahunya menuntut untuk dipuaskan dan Tetsuya merasa tak berdaya di bawah tuntutannya.
Maka dari itu, di sinilah ia berada, di dalam gerbong kereta yang cukup sepi. Di sebelahnya, duduk Sora. Wanita itu memerhatikan gedung-gedung yang melintas cepat di sekeliling mereka dengan pandangan santai.
Pertemuan mereka yang pada awalnya hanya sebatas makan malam di akhir pekan, kini bertambah frekuensinya menjadi beberapa kali dalam seminggu. Di tiap makan malam itu, Sora selalu bercerita mengenai berbagai hal. Wanita itu ternyata sangat cerewet dan cukup ceria. Sekilas, kepribadiannya mirip dengan Ryouta.
Awalnya mereka bicara mengenai karir basket Tetsuya, lalu perbincangan tersebut berubah menjadi laga basket profesional karena ternyata Sora mengikuti pertandingan basket profesional. Beberapa kali mereka membahas apa yang mereka alami selama beberapa tahun terakhir dan terkadang mereka membahas kebiasaan serta kelemahan yang mereka bagi bersama. Pernah beberapa kali mereka membahas kelainan Tetsuya.
Tidak seharusnya Tetsuya merasa nyaman dan membuka diri pada Sora. Tetsuya tahu betul mengenai itu.
Tapi Tetsuya tak bisa memungkiri kalau Sora adalah orang yang menarik. Dengannnya, percakapan terasa mengalir begitu saja. Dengannya, rasanya tak ada hal yang tak bisa diperbincangkan.
Pada makan malam hari ini, mereka membahas mengenai keluarga. Tetsuya menceritakan tentang saudara-saudaranya, tentang bagaimana ia diasuh dengan baik oleh mereka selama ini, dan bagaimana baiknya mereka menangani kelainan Tetsuya. Sebagai gantinya, Sora menceritakan tentang suaminya. Ralat, suami-suaminya.
Pada awalnya, wanita itu menceritakan suaminya yang sekarang, tapi lama-kelamaan, cerita tersebut menjalar ke cerita mengenai mendiang suaminya atau dengan kata lain, ayah Tetsuya.
Kontan Tetsuya dihajar rasa penasaran. Bagaimana rupa ayahnya? Bagaimana sikap ayahnya? Apa Tetsuya memiliki kemiripan dengan ayahnya? Tetsuya sama sekali tidak ingat ayahnya lagi dan ia benar-benar ingin tahu.
Lalu Sora menyarankan mereka pergi ke rumahnya karena wanita itu masih menyimpan kenangan berupa beberapa foto bersama dengan ayah Tetsuya. Jika Tetsuya mau, Tetsuya bisa melihatnya sendiri dan rasa ingin tahunya pun akan terpuaskan.
Tetsuya tidak dapat menolak.
Oleh karena itulah mereka berada di sini sekarang, di dalam gerbong kereta, tengah menuju rumah Sora.
Awan kelabu tebal bergulung di atas kota Tokyo, pertanda malam itu akan ada badai melanda. Seharusnya Tetsuya pulang sebelum badai itu datang. Badai di musim dingin tidak pernah jinak.
Tapi Tetsuya terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri untuk menyadari awan kelabu tebal itu atau pun menyadari jam yang jarum pendeknya mendekati angka sepuluh.
Dahi Seijuurou berkerut mendengar laporan Atsushi.
"Atsushi yakin Tetsuya sudah tiga kali tidak makan malam di rumah?" tanya Seijuurou. Matanya bergerak menutup. Refleks, sebelah tangannya terangkat, memijat pangkal hidung.
Atsushi, di seberang sambungan telepon, mengiyakan.
Atsushi benar, ini mencurigakan. Tetsuya yang sebelumnya tak pernah makan malam di luar, minggu ini sudah tiga kali makan malam di luar? Ada apa sebenarnya? Apa yang sebenarnya dilakukan si bungsu? Apa yang anak itu sembunyikan sebenarnya?
Rasanya terlalu berlebihan kalau anak itu melakukannya demi mendekati seorang gadis.
Tidak, tidak mungkin ini seorang gadis.
Seijuurou mengucapkan terima kasihnya pada Atsushi dan menyuruhnya untuk istirahat. Pria berambut merah itu menekan simbol telepon merah di ponselnya. Sambungan telepon terputus, tapi rasa khawatir tak memutuskan diri dari hatinya.
Tetsuya tidak mungkin melakukan sesuatu yang terlarang, bukan?
Tidak, rasanya tidak mungkin. Tetsuya mereka tidak mungkin melakukan sesuatu yang terlarang. Anak itu terlalu manis kelakuannya untuk berbuat hal buruk.
Jadi apa? Apa yang ia lakukan?
Apa sebaiknya Seijuurou mulai mencari tahu?
Ketukan pintu terdengar, membuat Seijuurou mengangkat kepala lagi. Pria itu meluruskan postur lantas menyuruh si pengetuk untuk masuk dan pintu terbuka, menampilkan sosok Momoi. Bahu Seijuurou yang tadinya menegang, langsung berubah rileks kembali.
Momoi melangkah masuk. Tangannya meletakkan setumpuk dokumen di atas meja kerja Seijuurou. Seijuurou mengalihkan pandangannya pada setumpuk dokumen tersebut.
"Ini dokumen yang perlu Akashi-kun baca sebelum lusa," kata Momoi menjelaskan.
Seijuurou mengangguk, memasukkan dokumen-dokumen tersebut dalam tas kerjanya. Kalau ia perlu membaca semuanya sebelum lusa, sebaiknya ia membawanya pulang dan membaca beberapa di antaranya di rumah.
"Belum pulang, Momoi?" tanya Seijuurou, berbasa-basi sedikit sembari membereskan mejanya.
Momoi menggeleng. "Di luar badai, Akashi-kun. Aku belum bisa pulang."
Seijuurou melirik jam tangannya. Sudah jam sepuluh malam. Seijuurou lantas melirik jendela. Benar kata Momoi, badai berkecamuk di luar sana. Sepertinya badai baru saja mulai karena kelihatannya tak terlalu ganas. Tapi dalam beberapa puluh menit, badai itu akan membesar hingga bisa membuat kereta dihentikan operasionalnya hingga badai mereda. Jika Momoi pulang sekarang pun, kemungkinan besar ia hanya akan terjebak di tengah badai. Hanya ada tiga jam sebelum kereta terakhir lewat dan badai ini sepertinya tidak akan berhenti sebelum itu. Kalau pun badai berhenti sebelum jam satu pagi, saat itu sudah terlalu larut untuk perempuan pulang sendirian.
"Bagaimana kalau kau ikut denganku saja?" tawar Seijuurou setelah berpikir sesaat. Pria itu selesai menutup tasnya dengan satu bunyi 'klik' halus. Sejujurnya, ia merasa sedikit tak enak dengan Momoi karena ia meminta wanita itu memeriksa beberapa dokumen masuk setelah rapat yang berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Ia sama sekali tidak tahu kalau dokumennya sangat banyak hingga membuat wanita itu belum pulang jam segini.
Mereka berdua berdiri lantas berjalan beriringan keluar ruangan Seijuurou.
Momoi menggeleng. "Aku tidak mau merepotkanmu, Akashi-kun."
Mereka sampai di depan meja Momoi.
"Kau tidak merepotkanku. Badai akan membesar, Momoi. Kau tidak akan bisa pulang malam ini kalau pulang dengan kereta. Cepat kemasi barangmu. Aku akan mengantarmu pulang," kata Seijuurou dengan tegas agar tak meninggalkan ruang bagi Momoi membantah.
Mungkin tahu kalau ia tak akan bisa menang jika berargumen dengan Seijuurou tentang ini, Momoi mulai mengemasi barangnya.
Berdua, mereka menyusuri koridor dan turun menuju parkir bawah tanah. Setelah beberapa saat, mereka berdua telah duduk di mobil Seijuurou, terikat sabuk pengaman, dan melaju membelah jalanan ibu kota Jepang tersebut di tengah hujan deras.
Tak ada yang membuka pembicaraan di antara mereka. Suara radio yang dinyalakan Seijuurou saat menghidupkan mobil tadi dirasa sudah cukup untuk jadi pengisi atmosfer dalam mobil tersebut. Sebenarnya Seijuurou ingin mengajak Momoi bicara, apa pun, agar suasana terasa lebih hangat, agar terasa seperti kencan mereka waktu itu tapi Seijuurou tidak tahu bagaimana memulai dan tidak yakin Momoi akan merespon.
Telunjuk Seijuurou mengetuk-ngetuk roda kemudi sembari menunggu perubahan lampu merah ketika Momoi memutuskan untuk bicara.
"Akashi-kun."
"Hm?" sahut Seijuurou tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari detik berwarna merah di tiang lampu yang terus menghitung mundur.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku? Akhir-akhir ini kau kelihatannya ingin mengatakan sesuatu padaku tapi menahan diri," kata Momoi. Sebelum Seijuurou sempat menanyakan 'kenapa bertanya begitu?' khasnya, wanita di sampingnya telah lebih dahulu menjelaskan.
Apa memang ia tak bisa menyembunyikan rahasia atau orang-orang di sekitarnya terlalu mengenalnya?
Seijuurou ragu. Ia tidak tahu apa sebaiknya ia berbohong atau tidak. Di satu sisi otaknya, terbayang kata-kata Masako tempo hari sedangkan di sisi otaknya yang lain, yang menjunjung tinggi logika, mengatakan padanya untuk berbohong saja.
Mungkin Seijuurou diam terlalu lama -meski Seijuurou sendiri tak merasa begitu karena detik merah di hadapan mereka baru berkurang tiga angka—karena Momoi kembali buka mulut, "Apa kau ingin minta tolong padaku?"
Seijuurou menggeleng, "Tidak."
"Lalu?"
Seijuurou menutup mata sejenak. Bagaimana mengatakannya?
Seijuurou nyaris berjengit terkejut ketika ada sebuah tangan memegang tangannya yang tengah berada di atas persneling. Mata merah Seijuurou beralih dari detik merah penanda waktu berhenti ke persneling mobil.
Dilihatnya tangan kecil dan lentik tengah memegang tangannya.
Pandangan Seijuurou beralih ke wanita di sampingnya.
"Kalau kau memang ingin meminta tolong padaku, tidak apa, Akashi-kun. Katakan saja. Jangan sungkan," bujuk Momoi lembut.
Rasanya muncul retakan dalam pertahanan diri Seijuurou.
"Atau ada hal yang kau inginkan dariku? Katakan saja apa yang kau inginkan, Akashi-kun. Tidak apa-apa," bujuk Momoi lagi. "Menginginkan sesuatu itu tidak dosa, Akashi-kun."
Kata-kata itu lagi. Kata-kata yang sama dengan yang diucapkan Masako padanya tempo hari. Ada apa dengan orang-orang dan kata-kata ini? Kenapa wanita di sekitarnya mengucapkannya? Apa kata-kata ini memang sedang terkenal di kalangan wanita?
"Kalau begitu, apa boleh kalau aku memintamu untuk menghabiskan waktu lebih banyak denganku? Aku menikmati kebersamaan kita saat kencan kemarin," kata Seijuurou jujur setelah berpikir beberapa saat.
Mobil di belakang mereka membunyikan klakson dan Seijuurou tersadar kembali kalau mereka tengah menunggu lampu merah. Ketika ia melihat ke depan kembali, lampu ternyata sudah berubah hijau. Seijuurou menginjak pedal gas dan mobil kembali melaju.
Momoi di sebelahnya diam saja. Seijuurou mulai menyesali keputusannya mengatakan keinginannya tadi. Setelah dipikir lagi, keinginannya konyol sekali, ia tidak seharusnya mengatakannya. Lagi pula, bagaimana kalau sekarang Momoi sudah berpacaran dengan seseorang?
Tidak ada yang tahu, bukan, apakah wanita itu masih lajang atau tidak. Keadaan bisa saja berubah hanya dalam tempo beberapa minggu.
Alis Seijuurou sedikit berkerut, rasanya ia tidak begitu menyukai ide Momoi pergi kencan dengan orang lain, ia tidak begitu menyukai ide Momoi sengaja berdandan untuk orang lain selain dirinya, dan ia tidak begitu menyukai ide Momoi tersipu dengan tingkah apa pun yang dilakukan lelaki lain.
Tunggu, kenapa ia tidak menyukai ide itu? Ide-ide itu bahkan tidak ada hubungannya dengannya.
Aneh sekali. Ia seperti orang tengah cemburu.
Seijuurou melirik Momoi, sedikit penasaran dengan reaksi wanita itu.
Lagi-lagi reaksi wanita itu di luar dugaan. Momoi Satsuki kini tengah tersenyum lembut. Seijuurou tidak yakin, tapi sepertinya ekspresi Momoi mengandung campuran rasa senang, terkejut sekaligus bangga. Senyum perlahan merekah di bibirnya.
Ekspresi campur-aduk Momoi membuat Seijuurou bertanya-tanya dalam hati. Bagian mana dari kata-katanya yang bisa membuat Momoi berekspresi seperti itu?
Momoi tertawa. "Kadang selama enam belas tahun aku berteman denganmu, Akashi-kun, kupikir aku berteman dengan robot yang tidak punya keinginannya sendiri. Ternyata aku salah. Tentu saja boleh, Akashi-kun. Sejujurnya, aku juga menikmatinya."
Sekali lagi, mereka bertemu lampu merah. Seijuurou menggunakan kesempatan itu untuk menoleh, menatap Momoi lurus-lurus dan memasukkan ekspresi wanita itu saat ini -pipinya yang merona, bibirnya yang merekah dengan senyum, dan matanya yang ikut tersenyum bersama bibirnya—ke dalam memori.
Seijuurou tersenyum lembut.
Keinginan egois lainnya muncul dalam hati Seijuurou. Keinginan yang, anehnya, mirip dengan tanda-tanda seseorang jatuh cinta yang dibilang Ryouta.
Ia ingin melihat Momoi yang seperti ini, yang berbeda dengan yang biasanya, yang tidak bersikap sopan dan menahan diri di hadapannya, yang tersenyum padanya karena memang senang dan bukan karena kesopanan, yang bicara tentang pendapatnya mengenai sesuatu serta hal-hal tidak penting lainnya dan bukan bicara tentang pekerjaan atau masalah dengannya—di tiap kesempatan yang ada.
Ia ingin melihat berbagai sisi Momoi yang selama ini tak diperlihatkannya pada orang lain.
Ia ingin mengenal Momoi lebih jauh.
Dan yang paling aneh, ia menginginkan Momoi.
Apa ini berarti seorang Akashi Seijuurou jatuh cinta pada Momoi Satsuki?
Mata merah jambu gelap Momoi melebar. Tawa wanita itu menguap dan mulutnya kini terbuka sedikit. Seijuurou heran melihatnya. Ada apa? Kenapa Momoi berhenti tertawa?
"Akashi-kun bilang apa barusan?"
Apa ia mengatakan sesuatu barusan? Apa yang ia katakan? Mungkinkah ia mengatakan apa yang terlintas di pikirannya? Mungkinkah ia mengatakan kalau ia menginginkan Momoi?
"Apa kau baru saja bilang…"
Sepertinya benar, Seijuurou baru saja mengatakan apa yang ada di pikirannya tanpa sadar. Seijuurou melihat mata Momoi, melihat bagaimana mata wanita itu menatapnya lekat, seakan mencoba mencari sesuatu dalam mata Seijuurou, mencari binar jenaka mungkin.
Seijuurou tidak tahu apa yang membuatnya mengatakannya, mungkin kata-kata Masako tempo hari, mungkin dorongan dari Momoi beberapa saat lalu, mungkin juga keinginannya yang menolak untuk ditahan lebih lama lagi, tapi Seijuurou mengatakannya juga.
"Aku menginginkanmu, Momoi," jawab Seijuurou tanpa benar-benar berpikir. "dan maksudku bukan dalam artian aku menginginkanmu sebagai seorang teman dekat, aku menginginkanmu sebagai…"
Sebagai apa? Seijuurou tidak benar-benar menemukan kata yang pas. Yang pasti Seijuurou menginginkan hubungan lebih dengan Momoi. Ia tidak ingin mereka menjadi sekadar teman yang pernah satu sekolah, hanya sekadar teman kerja atau hanya sekadar teman dekat tempat berkeluh kesah karena ia tidak akan bisa mendapatkan apa yang ia inginkan hanya dengan menjadi teman dekat wanita itu.
Seijuurou ingin lebih.
Dan jika satu-satunya cara untuk bisa mendapatkannya adalah dengan menjadi pacar seorang Momoi Satsuki, maka ia bersedia menjadi pacar wanita itu.
Yah, mungkin ia sebenarnya menginginkan Momoi sebagai pacarnya.
Entahlah, Seijuurou tidak yakin. Perasaan ini baru dan terasa sangat asing baginya. Perasaan ini membuatnya kehilangan kendali penuh atas dirinya serta membuatnya tak yakin dengan keinginannya sendiri.
Astaga, sekarang ia benar-benar terdengar seperti orang yang sedang jatuh cinta dalam kamus Ryouta. Ryouta dulu pernah berkata padanya kalau orang yang jatuh cinta akan bersikap egois. Adiknya satu itu juga menyebutkan ciri-ciri orang jatuh cinta dan semuanya tengah Seijuurou alami saat ini.
Apa ia benar-benar telah jatuh cinta pada Momoi? Bagaimana dan sejak kapan?
Setelah dipikir lagi, kalau pun ia memang benar jatuh cinta pada Momoi, ia tak benar-benar keberatan dan ia tak benar-benar peduli kapan mau pun bagaimana itu terjadi.
Momoi diam. Matanya masih membelalak terkejut, mulutnya masih terbuka sedikit tapi selain itu, ia tak bergerak sama sekali, tak bicara sama sekali. Seijuurou mulai ragu wanita itu masih bernapas.
Diamnya Momoi membuat Seijuurou sadar betapa egoisnya kata-katanya barusan. Seijuurou sadar ia tak seharusnya bersikap seperti ini. Seorang Akashi tidak seharusnya bersikap egois apalagi jika sudah menyangkut orang lain.
Seijuurou jadi merasa bersalah, "Maaf. Aku seharusnya tidak mengatakannya. Sungguh egois—"
"Tidak…" bisik Momoi memotong Seijuurou. Seijuurou mengembuskan napas yang ia tahan tanpa sadar. "Semua orang boleh menginginkan sesuatu, Akashi-kun."
Senyum kembali merekah di wajah cantik Momoi. Kali ini lebih lebar dari sebelumnya.
Mereka kembali diam. Badai di luar sana berubah menjadi lebih ganas dari sebelum mereka melangkahkan kaki keluar kantor tadi. Di belakang kemudi, Seijuurou berusaha fokus pada jalanan licin di hadapannya.
Bohong seandainya Seijuurou mengatakan tak ada rasa senang membuncah dalam hatinya. Ia senang. Senang sekali karena secara tak langsung Momoi mengatakan ia boleh menginginkan wanita itu, ia tak egois karena menginginkannya. Tapi sekarang apa? Momoi tak mengatakan ia juga menginginkan Seijuurou seperti Seijuurou menginginkannya.
Apa Momoi masih menginginkannya?
"Bagaimana denganmu?" tanya Seijuurou akhirnya.
Momoi tidak menoleh, bahkan tidak melepaskan matanya dari jalanan di depan yang terlihat kabur karena hujan.
"Apa Akashi-kun perlu bertanya? Tentu saja aku masih menginginkan Akashi-kun," jawab Momoi lirih. Dari sudut penglihatannya, Seijuurou bisa melihat ujung telinga wanita itu memerah dan wanita itu menggosok lengannya gugup.
"Kalau begitu, bolehkah aku berasumsi kalau kita—"
"Kurasa ya..."
Pipinya terasa panas, tapi Seijuurou tersenyum.
Tetsuya mengambil salah satu bingkai foto yang berjajar di atas meja. Di foto yang dipegang Tetsuya, terdapat enam orang anak lelaki yang tersenyum ke arah kamera. Empat di antara anak lelaki itu memiliki rambut sewarna pelangi sedangkan dua sisanya memiliki rambut hitam khas orang Jepang asli.
Satu lirikan pada foto itu dan Tetsuya langsung tahu kalau empat anak lelaki dengan rambut sewarna pelangi itu adalah ayah dari kakak-kakaknya sedangkan dua anak lelaki berambut hitam itu pastilah ayahnya dan ayah Seijuurou.
Tidak sulit mengetahuinya karena wajah empat anak lelaki berambut pelangi itu memiliki kemiripan dengan kakak-kakaknya meski tidak persis sedangkan di rumah terdapat beberapa foto ayah Seijuurou jadi tidak sulit mengenalinya. Lagi pula, Seijuurou dan ayahnya memiliki mata yang mirip.
Yang membuat Tetsuya yakin anak berambut hitam yang lainnya adalah ayahnya adalah senyumnya. Tetsuya tahu senyum mereka mirip.
Foto enam anak tadi Tetsuya letakkan di tempat semula.
Mata biru Tetsuya berpindah pada foto berikutnya. Foto pernikahan. Anak lelaki berambut hitam yang dikenali Tetsuya sebagai ayahnya muncul lagi di sini, tapi kali ini ia memakai tuksedo putih dan terlihat beberapa tahun lebih tua. Di sebelahnya berdiri wanita yang sudah pasti merupakan Sora versi lebih muda. Mereka berdua tersenyum bahagia menatap kamera.
Setitik rasa sedih merayapi hati Tetsuya ketika sadar kalau lelaki berambut hitam dalam foto pernikahan tersebut sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Dan sulit rasanya untuk percaya kalau wanita yang tengah tersenyum bahagia di foto pernikahan yang dilihat Tetsuya merupakan orang yang sama dengan yang membuangnya belasan tahun lalu. Lebih sulit lagi percaya kalau wanita itu kini tengah berdiri di sampingnya, ikut melihat-lihat jajaran foto.
Tetsuya melirik Sora. Wanita itu tengah memandangi foto-foto dengan pandangan penuh nostalgia. Binar sedih muncul di matanya meski redup.
"Tetsuya punya senyum yang sama dengan ayah Tetsuya. Sebenarnya sikap kalian sama. Kalian sama-sama sopan, sama-sama baik hati, sama-sama pantang menyerah. Melihat Tetsuya sekarang membuatku merasa Tetsuya dibesarkan olehnya langsung," jelas Sora tanpa diminta.
Tetsuya melirik gambar ayahnya sekali lagi.
Tetsuya tidak tahu ayahnya seperti apa tapi kalau melihat berbagai ekspresi ayahnya di foto, Tetsuya rasa Sora benar. Ayahnya merupakan orang yang baik hati dan sopan. Ia juga terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan teman-temannya karena ketika beberapa temannya tersenyum lebar menampilkan gigi pada kamera, ia hanya tersenyum tipis. Tapi ia jelas sama bahagianya dengan teman-temannya.
"Ayah meninggal karena apa?" tanya Tetsuya.
Tetsuya penasaran. Selama belasan tahun ia hanya tahu kalau ayahnya telah pergi menghadap Tuhan ketika ia berusia dua. Beberapa minggu lalu ia baru tahu kalau ayahnya meninggal karena sakit. Ia bahkan tidak tahu sakit apa.
Binar sedih menguat di mata Sora.
"Kanker. Sudah sangat parah ketika kami tahu dan kami tidak punya cukup uang waktu itu untuk membawanya berobat."
Tetsuya mengalihkan pandangannya pada foto berikutnya. Sebuah foto keluarga berisi tiga orang. Masih ada ayahnya dan Sora di sana. Di pelukan ayahnya, terdapat seorang bayi kecil, mungkin baru beberapa bulan waktu foto itu diambil. Ayahnya dan Sora menatap bayi kecil itu dengan penuh sayang, seolah seluruh dunia mereka berputar dengan bayi itu sebagai pusatnya.
Kesedihan sekali lagi menghantam Tetsuya. Kalimat dengan kata 'seandainya' mulai berputar dalam otaknya disusul dengan kalimat-kalimat lain.
Bagaimana seandainya ayahnya masih hidup? Apa yang akan terjadi? Apa ibunya tidak akan membuangnya? Apa mereka akan hidup bahagia bertiga? Bagaimana rasanya punya ayah?
Tak satu pun dari pertanyaan di atas terjawab dan tidak mungkin ada yang bisa menjawabnya.
Ketika ayahnya meninggal dulu, Tetsuya masih terlalu kecil. Ia bahkan tidak akan tahu wajah ayahnya seandainya saja ia tidak melihat foto-foto ini.
Maka dari itu, ia tidak ingat lagi bagaimana sikap ayahnya padanya dulu. Tapi kalau melihat foto ini, Tetsuya rasa ayahnya sangat menyayanginya. Mungkin pria itu akan bersedia melakukan apa pun untuk Tetsuya.
Ia memang tidak ingat sosok ayahnya, tapi melihatnya dalam foto seperti ini, melihat kasih sayangnya untuk Tetsuya yang membeku dalam bingkai foto ini, membuat Tetsuya merindukannya. Sangat.
Tetsuya berusaha menelan kesedihan sekaligus kerinduannya. Ia tak boleh lupa kalau ia harus mengendalikan emosi.
Tetsuya memejamkan mata, menarik napas panjang lantas mengembuskannya beberapa kali hingga ia merasa lebih tenang. Ia membuka matanya lagi lantas melirik sekeliling ruangan tempat mereka berada. Jam dinding di salah satu sisi kamar menarik perhatiannya dan ia terkejut.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas kurang sepuluh menit. Ia harus segera pulang kalau tidak mau dimarahi Seijuurou dan yang lain.
Tetsuya menoleh menatap Sora, "maaf, Sora-san. Aku harus pulang sekarang."
Sora melirik jam lantas melirik ke luar jendela yang belum ditutup gorden. Bahkan dengan jendela yang tertutup rapat, Tetsuya bisa mendengar desau angin di luar. Badai belum berhenti dan sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dalam kurun waktu dua jam. Dengan badai seganas ini, sudah pasti kereta dihentikan.
"Sebaiknya Tetsuya menginap di sini malam ini. Badai terlalu besar, kereta tidak akan beroperasi hingga besok pagi. Aku ragu mobil sekali pun bisa melintas di cuaca seperti ini. Lagi pula, besok hari Minggu, tidak akan mengganggu sekolah kalau Tetsuya menginap," usul Sora.
Sora benar. Bagaimana ini? Apa Tetsuya sebaiknya menuruti usulnya?
Tetsuya juga tidak benar-benar punya pilihan lain…
Otak Tetsuya mulai berputar, memikirkan kebohongan yang sebaiknya diutarakannya saat menelepon rumah nanti.
"Apa tidak apa-apa kalau aku menginap malam ini, Sora-san? Bagaimana dengan suamimu?" tanya Tetsuya. Ia baru terpikir kalau Sora bukan lagi seorang janda. Ia sudah menikah lagi dan tentu rasanya aneh jika Tetsuya bertemu dengan suaminya nanti.
"Suamiku dapat shift malam minggu ini. Lagi pula kalau pun kalian bertemu, ia akan mengerti. Aku sudah menceritakan soal Tetsuya padanya," jelas Sora.
Kalau sudah begitu, apa boleh buat, kan? Toh Tetsuya juga memang terjebak di rumah Sora hingga badai selesai dan kereta kembali beroperasi. Setelah berpikir beberapa saat, Tetsuya akhirnya mengangguk.
Sora tersenyum, "Kalau begitu mari kutunjukkan kamar Tetsuya untuk malam ini. Aku juga bisa meminjamkanmu beberapa baju lama suamiku. Ia tidak akan keberatan."
Setelah sampai di kamar, Sora meninggalkan Tetsuya dan pergi mengambilkan baju untuknya. Tetsuya menggunakan saat itu untuk menelepon rumah. Sejujurnya, Tetsuya merasa bersalah sedikit memikirkan betapa khawatirnya Seijuurou dan kakak-kakaknya saat ini.
Walau bagaimana pun, Tetsuya tak pernah belum pulang selarut ini sebelumnya.
Hanya dengan satu kali nada tunggu, telepon diangkat. Benar dugaan Tetsuya, Seijuurou di seberang telepon terdengar khawatir sekali. Tapi si sulung terdengar lebih lega ketika Tetsuya berbohong dengan mengatakan kalau ia menginap di tempat Kagami.
"Aku akan pulang besok, Kak. Tidak perlu khawatir. Aku akan hati-hati. Baiklah, sampai ketemu besok," kata Tetsuya, mengakhiri percakapan mereka. Pemuda itu meletakkan teleponnya di atas nakas.
Ia sedikit merasa bersalah karena sudah berbohong tapi juga lega karena dengan begitu, Seijuurou tak lagi khawatir mengenai keberadaannya. Setelah kejadian dengan Atsushi beberapa tahun lalu, Seijuurou menjadi sedikit paranoid jika ada adiknya yang pulang telat.
Tepat saat itu, suara ketukan terdengar dan pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Sora dengan beberapa lembar pakaian di tangannya. Wanita itu masuk, meletakkan pakaian di atas tempat tidur lantas berdiri menghadap Tetsuya.
"Ada hal lain yang Tetsuya perlukan?" tanya Sora.
Tetsuya menggeleng, "tidak. Terima kasih banyak, Sora-san."
Sora mengangguk. Wanita itu tidak langsung berjalan ke luar kamar dan justru menggosok lengannya canggung. Ia kelihatannya ingin mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu tapi menahan diri. Tetsuya mengangkat alis heran melihatnya.
"Kamarku ada di sebelah kanan kamar ini. Dua pintu dari sini," jelas Sora lagi. Dengan tangannya, ia memberikan penjelasan tambahan, "kalau butuh sesuatu, jangan segan mengetuk kamarku, Tetsuya."
Tetsuya mengangguk dan sekali lagi mengucapkan terima kasih.
Sora berjalan keluar tapi ia tak langsung menutup pintu. Ia melongokkan kepala ke dalam sekali lagi.
"Selamat malam, Tetsuya. Mimpi indah," kata Sora. Wanita itu terlihat ragu sekaligus takut. Mungkin takut ia akan menakuti Tetsuya atau membuat Tetsuya benci padanya dengan bersikap keibuan seperti itu.
"Selamat malam untukmu juga, Sora-san," balas Tetsuya. Wanita itu kontan tersenyum mendengar balasan Tetsuya.
Pintu kamar menutup. Tetsuya menghela napas.
Kata-kata terakhir Sora tadi membuat Tetsuya merasakan kasih sayang ibu walau samar. Kata-katanya tadi juga membuat Tetsuya berpikir mungkin seperti inilah rasanya kalau Sora tak pernah meninggalkannya dan mereka tetap hidup bersama. Mungkin kata-kata tadi akan mengiringi malam-malamnya jika mereka hidup bersama.
Tetsuya berganti baju, lantas menyusup ke bawah selimut.
Ia tak bisa memungkiri kalau ia menginginkan malam-malam seperti itu.
Pada tengah malam, Tetsuya terbangun karena merasakan ada tangan yang mengusap kepalanya dengan penuh sayang. Tanpa perlu membuka mata, Tetsuya tahu tangan itu milik siapa.
Perasaan senang Seijuurou menguap begitu saja ketika Atsushi memberitahunya kalau Tetsuya belum pulang. Rasanya seakan rasa senang Seijuurou barusan tertiup angin kencang yang berembus di luar. Hilang begitu saja begitu mendengar kabar tersebut.
Seijuurou bahkan belum sempat melepas sepatunya ketika Atsushi mendatanginya. Di belakang Atsushi berdiri Ryouta dan Daiki yang kelihatan sama cemasnya meski Daiki dan Atsushi lebih bisa menyembunyikan kecemasan mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas kurang dua puluh malam. Tidak mungkin badai seganas ini berhenti dalam dua jam. Ke mana Tetsuya pergi? Biasanya sebelum jam sepuluh malam ia sudah di rumah.
"Tetsuyacchi tidak bersama Kakak-ssu?" tanya Ryouta begitu melihat ruang di belakang Seijuurou kosong.
Seijuurou menggeleng, meski ia sangat khawatir ia berusaha untuk menjaga pikirannya tetap bersih. Panik tidak akan membantunya dalam situasi seperti ini.
"Sudah coba hubungi teman-temannya?" tanya Seijuurou sembari melepaskan sepatu serta kaus kakinya. Tasnya ia berikan pada Atsushi yang tangannya telah siap terangkat.
Ketiga adiknya menggeleng. "Kami pikir Tetsuya dijemput Kakak-ssu. Biasanya ia pulang jam segini hanya kalau dengan Kakak, kan, ssu."
"Kalau begitu aku akan coba hubungi Kagami. Bukankah Tetsuya izin makan malam di luar dengan Kagami? Mungkin Tetsuya masih bersamanya sekarang," kata Seijuurou. Ia mencoba melempar senyum tipis pada adik-adiknya agar mereka tidak terlalu khawatir. Melihat kakak sulung mereka tesenyum lembut sembari menawarkan sebuah solusi membuat mereka lebih tenang sedikit.
Seijuurou melangkah masuk, diikuti oleh adik-adiknya. Sebelah tangannya merogoh saku lantas mengeluarkan ponsel. Ponsel tersebut ditempelkan ke telinga setelah ia menekan tombol panggil. Butuh lima kali nada tunggu hingga Kagami mengangkat teleponnya.
"Malam, Kagami. Maaf mengganggu, tapi ini kakak Tetsuya," jeda sejenak. Seijuurou membiarkan Kagami menanyakan ada apa padanya, "apa Tetsuya masih bersama dengan Kagami sekarang?"
Jawaban Kagami berikutnya mengempiskan harapan Seijuurou. Teman sejak kecil Tetsuya itu berkata kalau jangankan tengah bersama, mereka bahkan tidak bertatap muka sama sekali hari ini.
Mencoba mengesampingkan rasa khawatirnya yang semakin menjadi, Seijuurou menjelaskan keadaan pada Kagami yang bertanya. Si sulung lantas mengucapkan terima kasihnya pada Kagami serta meminta anak itu meneleponnya jika mengetahui keberadaan Tetsuya. Sambungan pun diputus.
Rasanya sama seperti ketika Atsushi kelas satu SMP dulu.
Waktu itu juga Atsushi diam-diam bolos dari latihan basketnya dan pergi main entah ke mana. Ia tak mengatakan pada siapa pun ke mana ia pergi hingga akhirnya Seijuurou mendapat telepon kalau ia ditemukan di taman dalam keadaan tak sadarkan diri dan babak belur.
Bukankah apa yang terjadi sekarang juga sama? Hanya saja Tetsuya benar-benar berbohong pada mereka untuk bisa pergi dengan entah siapa sedangkan Atsushi tidak.
Satu pertanyaan berputar dalam benak Seijuurou.
Apa akhirnya juga akan sama? Apa Seijuurou juga akan mendapat telepon yang mengabarkan kalau Tetsuya ditemukan dalam keadaan tidak baik?
Buru-buru Seijuurou memindai nama-nama dalam daftar kontak ponselnya sembari berpikir kira-kira dengan siapa adik bungsunya pergi.
Sisi otak Seijuurou yang rasional mengatakan kalau Tetsuya tidak sedang bersama teman-temannya yang biasanya karena kalau iya, anak itu tak akan repot-repot mengambil risiko dan berbohong di depan Seijuurou dan Ryouta. Walau bagaimana pun, fakta kalau Tetsuya berbohong demi menemui siapa pun itu berarti Tetsuya menemui seseorang yang mereka tidak kenal dan ia tidak ingin ada yang tahu kalau ia menemui orang itu, bukan?
Sisi otaknya itu mengatakan mustahil menemukan Tetsuya dengan cara menelepon teman-temannya.
Tapi Seijuurou berusaha untuk berpegang teguh pada harapan.
Tepat ketika Seijuurou hendak menelepon teman setim Tetsuya yang lain, telepon rumah berdering. Seijuurou dan adik-adiknya bertatapan lantas Seijuurou bangkit. Pria itu mengambil langkah panjang agar bisa sampai dengan cepat di depan meja telepon.
Sebelum mengangkat telepon tersebut, Seijuurou menarik napas, berusaha mengendalikan kekhawatiran yang menggerogoti hatinya.
"Halo, dengan Seijuurou di sini," kata Seijuurou hampir otomatis ketika ia menjawab telepon. Rasa lega membanjirinya ketika adiknya membalas sapaan di seberang sambungan. Ia terdengar baik-baik saja dan tidak terdengar tengah ketakutan atau berada di bawah tekanan, "Tetsuya di mana? Kenapa belum pulang?"
Tetsuya menjelaskan kalau ia terjebak badai dan tidak bisa pulang jadi ia memutuskan menginap di tempat Kagami. Kemungkinan ia baru akan pulang besok pagi. Terakhir, ia meminta Seijuurou untuk tidak khawatir.
Bohong. Ketika Tetsuya berkata ia menginap di tempat Kagami, Seijuurou ingin sekali membeberkan kalau ia sudah menelepon tempat Kagami sebelumnya dan tahu kalau Tetsuya tidak ada di sana.
Kenapa Tetsuya berbohong? Kenapa harus berbohong? Seijuurou ingin sekali bertanya.
Tapi Seijuurou merasa sekarang bukan saat yang tepat untuk mengungkit hal tersebut. Pria itu memutuskan untuk menunggu hingga besok pagi, ketika mereka bertemu langsung dan ia bisa melihat isi hati Tetsuya melalui matanya.
Seijuurou akhirnya hanya meminta Tetsuya untuk berhati-hati dan mengucapkan sampai jumpa besok sebelum menutup sambungan.
Pria itu menghela napas. Di satu sisi ia lega karena ia tahu adiknya baik-baik saja, tapi di sisi lain ia khawatir karena adiknya jelas menyembunyikan sesuatu darinya.
Seijuurou mengalihkan pandangan pada adik-adiknya yang masih menunggu kabar. Sekali lagi, Seijuurou tersenyum guna menenangkan mereka.
"Tetsuya baik-baik saja. Anak itu terjebak badai jadi ia menginap di tempat kenalannya dan baru akan pulang besok pagi," jelas Seijuurou. Si sulung tersenyum tipis ketika melihat adik-adiknya sedikit lebih rileks setelah mendengar kabar tersebut. "Sekarang pergilah tidur. Kalian tidak lelah?"
Ryouta menguap tepat ketika Seijuurou menanyakan itu. Seakan kembali ke masa ketika mereka masih kecil, Seijuurou menggiring mereka ke kamar masing-masing. Setelah semuanya masuk kamar, Seijuurou berjalan ke kamarnya sendiri.
Dalam hati ia membuat janji pada diri sendiri untuk menanyai Tetsuya besok pagi.
Tetsuya memasang sepatunya lantas mengetuk-ngetukkan ujungnya ke lantai beberapa kali. Setelah dirasanya sepatunya sudah terpasang benar dan mantelnya telah erat membungkusnya, pemuda itu membalikkan badan. Matanya langsung bertemu dengan mata Sora. Biru langit saling bertemu.
"Terima kasih untuk tadi malam, Sora-san. Aku pulang dulu," kata Tetsuya.
Sora menggeleng pelan, "tidak masalah. Itu bukan apa-apa."
Tetsuya mengangguk satu kali. Pemuda baru akan memegang kenop pintu ketika Sora di belakangnya berkata, "anu…"
Tetsuya kembali membalikkan badan.
"Aku… aku tahu aku tidak tahu diri kalau meminta ini, tapi…" kata Sora. Wanita itu meremas-remas tangannya gugup. Kepalanya tertunduk, berusaha untuk tidak melihat mata Tetsuya. Mungkin wanita itu takut melihat apa yang ada di sana. "aku… maukah Tetsuya mengunjungiku sesekali? Maksudku ke sini. Tidak, maksudku, maukah Tetsuya menginap di sini sesekali?"
Mata Tetsuya melebar. Ia sama sekali tidak mengira Sora akan menanyakan itu. Ia mengira Sora akan mengajaknya tinggal bersama selayaknya keluarga tapi ini tetap saja mencengangkan. Mungkin tadi wanita itu memang ingin menanyakannya tapi memutuskan merubah haluan di saat terakhir.
"Aku tahu aku bilang aku tidak akan memintamu untuk tinggal denganku tapi menginap sesekali itu tidak sama dengan tinggal bersama... kan? Apa tidak bisa?"
Tetsuya diam. Bibir Tetsuya terbuka sedikit, lantas menutup lagi. Memangnya apa yang bisa ia katakan?
Wanita itu tertawa gugup. "Maaf, aku seharusnya tidak perlu menanyakannya, ya. Aku harusnya tahu apa jawaban Tetsuya."
"Aku…"
Aku apa? Tetsuya tidak tahu sebaiknya berkata apa. Ia tidak tahu ia ingin membalas kata-kata Sora dengan apa. Ia tidak yakin ia siap menerima ajakan Sora. Dilihat dari segi mana pun, Sora jelas tengah mengajaknya perlahan-lahan, selangkah demi selangkah, untuk tinggal bersama lagi.
Pertanyaan mengenai perasaannya pada Sora ketika mereka bertemu di Maji Burger kembali menghantui Tetsuya.
Apa ia masih begitu membenci Sora hingga bisa mengatakan 'tidak' pada permintaan wanita itu?
Apa setelah mereka bertemu belakangan ini, Tetsuya sudah bisa memaafkan perbuatan Sora bertahun-tahun lalu hingga bisa mengiyakan ajakannya?
Tetsuya tidak tahu. Tidak tahu.
"Aku… akan memikirkannya," jawab Tetsuya akhirnya. Ia sungguh tak tega melihat wajah kecewa sekaligus sedih Sora.
Alisnya sempat berkerut samar ketika Sora buru-buru mengangkat wajah. Wanita itu terlihat begitu senang mendengar Tetsuya tidak langsung menolak permintaannya. Padahal jawaban Tetsuya masih sangat ambigu dan bisa saja berubah menjadi penolakan pada akhirnya.
Tetsuya mengangguk sekali. "Aku pergi dulu, Sora-san."
Sora mengangguk mantap. "Hati-hati di jalan, Tetsuya."
Rasanya tidak seperti Tetsuya akan pulang ke rumah. Rasanya lebih seperti ia baru pergi dari rumah.
Tetsuya masih benar-benar terguncang dengan pertanyaan Sora tadi hingga ia tak benar-benar memerhatikan jalan ketika ia pulang. Ia tak sadar apakah ia bahkan menaiki kereta yang benar dan turun di stasiun yang benar. Pemuda itu baru sadar kalau ia melamun sepanjang jalan ketika tangannya telah memegang kenop pintu depan rumah. Khawatir salah rumah, Tetsuya memeriksa pelat besi nama keluarga. Untungnya di sana terpampang nama keluarganya. Baru setelahnya Tetsuya masuk.
Begitu ia membuka pintu, Seijuurou sudah berdiri di hadapannya. Pandangan mereka bertemu. Merah bertemu biru langit.
Dalam tatapan Seijuurou terdapat berbagai emosi tapi tak satu pun emosi itu bisa diidentifikasi Tetsuya.
"Selamat datang, Tetsuya," sapa Seijuurou. Sebuah senyum menempel otomatis di bibir Seijuurou. Senyum terpaksa, Tetsuya tahu.
Tetsuya membalas senyumnya dan menggumamkan, "aku pulang."
Tetsuya lantas duduk di area genkan dan mulai bekerja melepas sepatu dan kaus kakinya. Ketika Tetsuya selesai meletakkan sepatunya dalam rak dan bangkit, Seijuurou ternyata masih berdiri di tempat yang sama di belakangnya.
Sedikit rasa terkejut menghinggapi Tetsuya. Tidak biasanya Seijuurou seperti ini. Biasanya jika ia seperti ini berarti ada sesuatu yang ingin ia bicarakan, segera.
"Ada yang ingin Kakak sampaikan padaku?" tanya Tetsuya. Pemuda itu melangkah lantas berhenti di hadapan Seijuurou. Tetsuya menatapnya lurus-lurus.
Seijuurou menghela napas. Ia hanya berdiri di sana, menatap Tetsuya selama beberapa saat. Tetsuya berani bertaruh kalau batin si sulung tengah bertarung. Si sulung tengah memutuskan apa yang sebaiknya ia lakukan.
"Semalam Tetsuya menginap di mana?" tanya Seijuurou.
Tetsuya mengerutkan dahi. Bukankah ia mengutarakan semuanya di telepon? Atau itu hanya perasaannya saja?
Tidak, tidak, jelas tadi malam ia mengatakan kalau ia akan menginap di rumah Kagami. Jika Seijuurou menanyakannya sekarang berarti si sulung tidak memercayainya.
Hati Tetsuya mencelos. Apa ini berarti Seijuurou sudah berhasil mengendus kebohongannya?
"Di tempat Kagami-kun. Bukankah aku sudah mengatakannya di telepon semalam?" jawab Tetsuya. Berkat usahanya mengendalikan diri bertahun-tahun, ia berhasil mengatakan kebohongannya kali ini dengan wajah datar dan nada bicara yang tidak bergetar.
Mata Seijuurou yang sebelumnya memancarkan kelembutan kini berubah tegas. Alisnya berkerut sedikit.
Oke, sepertinya Seijuurou sudah tahu kalau Tetsuya berbohong.
Tanpa mengatakan apa-apa, Seijuurou berjalan lantas menaiki tangga menuju lantai dua. Seijuurou tidak menyuruh Tetsuya untuk mengikutinya, tapi melihat aura Seijuurou membuat Tetsuya merasa ia sebaiknya mengikuti sang kakak. Seijuurou membawa mereka ke kamarnya dan setelah Tetsuya menutup pintu, barulah Seijuurou bicara.
"Kakak tahu Tetsuya tidak ada di tempat Kagami semalam," Tetsuya menelan ludah instingtif. Ia berusaha untuk menjaga wajahnya tetap datar, "Kakak menelepon tempat Kagami sebelum Tetsuya menelepon rumah. Sekarang, jujur pada Kakak, di mana Tetsuya semalam?"
Tinju Tetsuya mengepal di sisi tubuhnya.
Bagaimana ini? Apa sebaiknya ia mengatakannya? Mengatakan kalau selama ini ia tidak makan malam di luar dengan teman-temannya dan justru menemui ibu kandungnya? Tapi bagaimana reaksi Seijuurou nanti?
Tetsuya ingin mengatakannya. Ingin mengatakan kebenaran. Terlebih pertanyaan Sora tadi membuatnya sangat kebingungan. Ia butuh saran dari orang lain dan orang yang selalu ia mintai nasihatnya ada di hadapannya sekarang.
Tetsuya menundukkan kepala, berusaha lari dari pandangan menyelidik Seijuurou.
Katakan? Tidak katakan?
"Tetsuya," panggil Seijuurou dengan nada memeringatkan.
Panggilan itu membuat pertahanan Tetsuya retak.
"Tetsuya, Kakak tahu ini bukan karena perempuan. Kakak tahu Tetsuya bukan tipe orang yang seperti itu," kata Seijuurou lagi. Pria itu mungkin tidak sadar, tapi kata-katanya semakin membuat Tetsuya terpojok.
Berada di bawah tatapan menyelidik Seijuurou seperti ini, dengan kebohongan yang mulai terurai satu per satu, membuat Tetsuya merasa seperti ditelanjangi.
"Tetsuya, katakan saja," bujuk Seijuurou lagi. Tetsuya masih diam. Seijuurou menghela napas lantas memijat pelipisnya, "aku tidak akan marah, Tetsuya."
Seijuurou sudah menggunakan kata 'aku' untuk memanggil dirinya sendiri. Semua anggota keluarga Akashi tahu itu artinya Seijuurou sudah mulai kehilangan kesabaran.
"Kenapa Tetsuya berbohong padaku? Kenapa berbohong pada kami? Apa selama ini juga Tetsuya sebenarnya tidak pergi makan malam dengan teman-teman?"
Rasa bersalah menghujani Tetsuya, terlebih karena ia bisa mendengar jelas nada khawatir sekaligus kecewa yang membungkus pertanyaan-pertanyaan Seijuurou barusan.
"Aku menemui ibu kandungku," jawab Tetsuya. Dengan takut-takut, Tetsuya melirik si sulung.
Seijuurou terlihat terkejut. Matanya membelalak tapi alisnya berkerut.
Bertahun-tahun tinggal bersama Seijuurou, dibesarkan olehnya, membuat Tetsuya tahu kalau reaksi Seijuurou satu ini berarti ia terkejut dan tak terlalu suka dengan kejutannya.
"Tetsuya menemui siapa?" tanya Seijuurou lagi. Pria itu kelihatannya tidak yakin dengan apa yang ia dengar sehingga bertanya.
"Aku menemui ibu kandungku," ulang Tetsuya.
Seijuurou terdiam. Alisnya masih tetap berkerut.
Berbagai skenario terputar dalam benak Tetsuya. Salah satu skenario yang dianggapnya paling mungkin terjadi adalah skenario di mana Seijuurou marah padanya lantas melarangnya menemui Sora sembari mengingatkannya akan apa yang telah wanita itu lakukan padanya bertahun-tahun lalu.
"Sudah berapa lama?" tanya Seijuurou akhirnya dengan lirih tapi terkesan dingin.
Tetsuya diam sejenak. "Sejak Kak Daiki masuk rumah sakit. Aku bertemu dengan ibuku di sana."
Sekelebat pemahaman melintas di mata Seijuurou, Tetsuya bisa melihatnya.
"Kenapa tidak jujur padaku kalau Tetsuya ingin menemuinya? Kenapa harus mengarang alasan?" tanya Seijuurou lagi.
Tetsuya menyadari kalau Seijuurou masih menggunakan kata 'aku' dan nadanya masih dingin, berarti mood-nya belum benar-benar membaik.
"Aku takut Kakak akan melarangku pergi menemuinya kalau tahu," jawab Tetsuya, akhirnya benar-benar menyerah dan jujur.
Konflik kini berkelebat di mata Seijuurou. Di mata orang lain, mungkin Seijuurou masih terlihat sama saja, masih tenang, masih berwibawa. Tapi Tetsuya tahu lebih baik.
Konflik batin tengah menerjang Seijuurou.
Sekarang apa? Apa Seijuurou akan mengatakan ia tidak suka Tetsuya menemui ibunya? Apa Seijuurou akan melarangnya pergi lagi dari rumah?
"Kakak tidak suka kalau aku menemui ibu?" meski rasanya sangat aneh memanggil Sora dengan sebutan ibu, Tetsuya tetap memakai sebutan itu. "Apa Kakak akan melarangku menemuinya lagi?"
Jakun Seijuurou bergerak naik-turun samar.
"Tidak, aku…" untuk pertama kalinya, Seijuurou terlihat berusaha mengeluarkan apa yang ada dalam benaknya. Biasanya pria itu selalu bisa mengeluarkan pikirannya dengan mudah.
Pada akhirnya pria di hadapan Tetsuya menghela napas dan berkata, "jika memang itu yang Tetsuya inginkan, tidak apa-apa. Temui saja."
Mata Tetsuya membelalak. Ia sama sekali tidak mengira Seijuurou akan mengizinkannya semudah itu.
"Tapi ibumu tidak menyakitimu atau apa, kan, Tetsuya?" tanya Seijuurou lagi. Lagi-lagi nada khawatir kental melapisi pertanyaannya. Wajar menurut Tetsuya, mengingat apa yang sudah wanita itu lakukan padanya dulu.
Tetsuya menggeleng, "tidak. Ia memerlakukanku dengan sangat baik. Tadi malam ia bahkan menyuruhku menginap di tempatnya."
Sekelebat emosi muncul di mata Seijuurou. Tapi emosi itu datang dan pergi begitu cepat, Tetsuya tak sempat mengidentifikasinya.
Merasa sebaiknya ia tidak memaksakan keberuntungannya, pemuda itu tidak mengatakan apa-apa soal ajakan ibunya untuk menginap sesekali. Mungkin lain kali, ketika keadaan hati Seijuurou sudah membaik, ia akan mengatakannya.
"Benarkah tidak apa-apa Tetsuya menemuinya? Kakak tidak keberatan?" tanya Tetsuya sekali lagi, hanya untuk memastikan.
"Selama ia tidak menyakiti Tetsuya, tidak apa Tetsuya menemuinya. Tidak apa…"
Seijuurou terdengar lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri dari pada meyakinkan Tetsuya.
"Aku menemui ibu kandungku."
Pada detik itu, semua di sekitar Seijuurou terasa membeku.
Ada perasaan aneh yang tidak menyenangkan menyelimuti hati Seijuurou ketika mendengar Tetsuya pergi menemui ibu kandungnya. Bersamaan dengan munculnya perasaan aneh itu, pikiran Seijuurou juga mulai dipenuhi kabut.
Seijuurou tidak memercayai apa yang didengarnya. Ia salah dengar, kan?
"Tetsuya menemui siapa?" tanya Seijuurou, mencoba memastikan. Dari pada memastikan pendengarannya benar, ia justru bertanya untuk memastikan ia memang salah mendengar. Ia berharap ia salah mendengar.
Tapi sayangnya tidak, ia tidak salah dengar karena Tetsuya mengulangi kata-katanya, "aku menemui ibu kandungku."
Tidak suka. Seijuurou tidak menyukainya. Seijuurou tidak menyukai gagasan Tetsuya menemui ibu kandungnya.
Kenapa Tetsuya menemui ibu kandungnya? Apa keluarga mereka tidak cukup untuk Tetsuya? Apa yang ingin Tetsuya dapatkan dengan menemui ibunya? Bukankah sudah jelas wanita itu bukan wanita baik? Buktinya ia melakukan kekerasan pada Tetsuya dulu lantas menelantarkannya begitu saja.
Kenapa Tetsuya masih menemuinya? Kenapa? Kenapa?
Satu sisi dalam diri Seijuurou ingin marah, ingin menanyakan pertanyaan di atas, ingin melarangnya menemui wanita itu lebih jauh, tapi sisi dirinya yang lain, sisinya yang menjunjung tinggi logika dalam bertindak, melarangnya.
Apa haknya melarang Tetsuya menemui ibunya? Begitulah kata sisi dirinya yang rasional.
"Sudah berapa lama?" tanya Seijuurou akhirnya, ia memutuskan untuk menjauhi pertanyaan-pertanyaan sensitif di atas dan mencari pertanyaan yang dianggapnya lebih aman.
Jawaban Tetsuya membuat hati Seijuurou mencelos.
Ternyata sudah cukup lama. Ternyata Tetsuya sudah menemui ibunya berkali-kali.
Apakah kasih sayang dari Seijuurou tidak cukup? Kenapa masih ingin menemui ibunya?
Perasaan aneh dalam hati Seijuurou menguat seiring dengan menguatnya rasa kecewa dalam diri Seijuurou. Ia kecewa pada Tetsuya karena masih ingin menemui ibunya, ia kecewa pada Tetsuya yang sepertinya tak menganggap cukup kasih sayang yang telah Seijuurou curahkan padanya selama empat belas tahun terakhir.
Ia kecewa pada dirinya sendiri karena sekeras apa pun usahanya selama ini, ia tetap tak bisa menggantikan posisi seorang ibu dalam hati Tetsuya.
Lihat, begitu inginnya Tetsuya menemui ibunya hingga ia rela berbohong agar bisa bertemu sang ibu.
Apa Seijuurou tidak cukup? Sama sekali tidak cukup? Selama ini Tetsuya menganggapnya apa?
"Kakak tidak suka kalau aku menemui ibu?" Ya, aku tidak suka…
"Apa Kakak akan melarangku menemuinya lagi?" Ya, aku ingin melarangmu…
Aku tidak suka dan tidak rela Tetsuya pergi menemuinya, rasanya ingin sekali Seijuurou berkata begitu.
Bagaimana ia bisa menyukai gagasan Tetsuya menemui ibu kandungnya setelah apa yang wanita itu lakukan? Wanita itu melakukan kekerasan terhadap Tetsuya! Wanita itu menjuluki adiknya pembawa sial! Wanita itu meninggalkan adiknya untuk hidup sendiri!
Seijuurou yang telah mengambil Tetsuya setelah ibunya meninggalkannya dan ayah mereka meninggal. Seijuurou yang telah merawat Tetsuya selama empat belas tahun terakhir. Seijuurou yang mengajari Tetsuya apa yang Tetsuya ketahui sekarang. Seijuurou yang mengajari Tetsuya untuk bersikap sopan dan baik. Seijuurou yang telah membentuk Tetsuya hingga bisa seperti sekarang ini. Seijuurou yang telah membesarkan Tetsuya…
Lalu setelah empat belas tahun menghilang, wanita itu muncul lagi secara tiba-tiba. Setelah Tetsuya sudah besar, sudah bisa melakukan semua sendiri, sudah tumbuh menjadi seorang pria muda yang baik dan sopan, wanita itu datang. Ia kira setelah tak mengacuhkan keberadaan Tetsuya selama itu, ia bisa berjalan santai dan masuk begitu saja ke kehidupan Tetsuya lagi?
Setelah apa yang ia lakukan, wanita itu tidak punya hak untuk menunjukkan wajahnya di depan Tetsuya lagi, tidak punya…
Perasaan aneh dalam benak Seijuurou semakin menjadi. Seijuurou hampir tak bisa berpikir lurus. Oleh karena itu, pertanyaan Tetsuya hanya bisa dijawabnya dengan kata-kata yang bahkan tak bisa dianggap sebuah jawaban.
Ia ingin berkata ia tak suka Tetsuya menemui ibunya, ia ingin menyuruh Tetsuya berhenti.
Tapi ia tak bisa.
Egois seandainya Seijuurou mengatakan perasaannya atas masalah ini. Egois seandainya Seijuurou melarang Tetsuya menemui ibunya. Egois seandainya Seijuurou melarang Tetsuya melakukan apa yang ingin ia lakukan. Egois, egois, egois…
Akashi Seijuurou tidak boleh egois. Akashi Seijuurou harus selalu memerhatikan keinginan orang lain dulu baru keinginannya sendiri. Akashi Seijuurou harus selalu mengedepankan keinginan adik-adiknya. Walau bagaimana pun, adik-adiknya adalah hal terpenting dalam hidupnya.
Seijuurou tidak boleh egois. Tidak boleh, tidak boleh, tidak boleh…
Ayahnya tidak pernah mengajarinya untuk jadi seorang yang egois. Tidak pernah…
"Jika memang itu yang Tetsuya inginkan, tidak apa-apa. Temui saja."
Pada akhirnya sisi rasional dirinya menang. Dengan usaha sangat besar, Seijuurou mengubur dalam-dalam apa yang ingin ia katakan tadi. Dengan usaha besar, Seijuurou mengubur dalam-dalam keinginan egoisnya.
"Tapi ibumu tidak menyakitimu atau apa, kan, Tetsuya?" tanyanya setelah beberapa saat. Mungkin ia bertanya untuk memastikan benar-benar tidak apa-apa adiknya menemui wanita itu.
Atau mungkin ia bertanya agar ia bisa mendapat alasan untuk melarang Tetsuya pergi.
Sekali lagi, jawaban Tetsuya mengempiskan harapannya. Wanita itu ternyata memerlakukan Tetsuya dengan sangat baik. Paling tidak, begitulah testimoni Tetsuya.
Mungkin Seijuurou tidak benar-benar pandai menyembunyikan konflik batin yang bergejolak dalam dirinya karena Tetsuya terlihat skeptis dengan jawaban yang ia lontarkan, ia bisa melihatnya di wajah si bungsu. Benar saja, pemuda itu bertanya sekali lagi.
"Selama ia tidak menyakiti Tetsuya, tidak apa Tetsuya menemuinya. Tidak apa…"
Seijuurou berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau memang tidak apa-apa Tetsuya menemui ibunya.
Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ia memang tidak masalah dengan semua itu.
Special thanks to: Azzellia, Yuki Caniago, AfridinaTriArdianti, Tamu, Iftiyan Herliani253, AkariHanaa, Sayounara Watashi, VT Lian, Yuu Yukimura, penikmat fanfic, sinaoi sora, UchiHaruno Kid, Kavyana, Dewi729, WhiteIceCream, Lisette Lykouleon, ainkyu, kyokohikari, Kaito Akaihime, Ai and August 19.
Balesan buat yang gak login:
sinaoi sora: gak papasan sih, tapi akhirnya ketauan juga wkwkwk. Kalo soal abang sei yang deket-deket yang lain itu... hehe mohon maklum ya, tinggal 2 chap lagi kok.
Tamu: kalo soal itu aku usahain ya, tapi gak janji hehe... mohon maklum ya, tinggal 2 chap lagi kok.
Ecie ketauan cie wkwkwk. Akhirnya ketauan juga ya ihiy.
Btw makasih buat yang udah review dan buat yang gak suka pair-nya, mohon bersabar, tinggal (mudah-mudahan) 2 chap lagi kok hehe abis itu fic ini tamat yeeey.
MAKASIH BANYAK REVIEWNYA GAIS, KALIAN BIKIN AKU BISA TERUS NGETIK FIC INI.
Review please?
