Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR! ROMANCE AHEAD!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 28 tahun
Shintarou = 25 tahun
Atsushi = 24 tahun
Ryouta = 22 tahun
Daiki = 21 tahun
Tetsuya= 17 tahun
Enjoy!
Chapter 28: Conflicted
"Kak, nanti malam aku tidak ikut makan malam lagi."
Tetsuya melihat jakun Seijuurou bergerak naik-turun, tapi tak ada perubahan berarti pada wajah si sulung. Seijuurou menghentikan kegiatannya mengancingkan ujung lengan kemeja kerjanya dan menoleh, menatapnya kali ini. Wajah kakaknya memasang sebuah senyum, hampir secara otomatis.
Senyum palsu, Tetsuya tahu.
"Baiklah, hati-hati di jalan, Tetsuya. Jangan pulang terlalu malam," pesan Seijuurou. Sekali lagi Tetsuya menyadari kakaknya menelan ludah.
Tanpa diberitahu pun Tetsuya tahu kalau kakaknya sebenarnya menahan diri. Menahan diri dari apa juga sepertinya Tetsuya bisa menebak. Seijuurou sudah melakukannya sejak ia tahu Tetsuya akhir-akhir ini pergi menemui ibunya jadi kemungkinan besar Seijuurou menahan diri untuk melarang Tetsuya pergi.
Meski Tetsuya tahu Seijuurou tidak suka, Tetsuya tidak bisa menahan diri untuk tidak pergi.
Pertanyaan Sora tempo hari mengganggunya dan ia merasa untuk bisa membuat keputusan, ia perlu mengetahui wanita itu lebih dekat. Oleh karena itu, ia tetap memertahankan pertemuan makan malamnya dengan Sora, hanya saja frekuensinya sedikit dikurangi untuk menghormati Seijuurou.
Di satu sisi, Tetsuya ingin mencoba tinggal serumah dengan Sora selangkah demi selangkah, ingin merasakan punya keluarga sungguhan yang terikat atas darah. Tapi di sisi lain, ia tak mau meninggalkan keluarga Akashi yang telah membesarkannya selama empat belas tahun terakhir.
Sora memang tidak pernah mengungkit tentang pertanyaan itu lagi, tapi Tetsuya tahu kalau wanita itu masih menunggu sebuah jawaban.
"Tolong jangan beritahu yang lain kalau aku menemui ibuku, Kak," pesan Tetsuya sebelum pemuda itu membuka pintu depan.
Seijuurou hanya mengangguk.
Tetsuya menggumamkan terima kasih lalu keluar rumah. Begitu pintu menutup, pemuda itu menghela napas.
Maafkan Tetsuya, Kak.
Seberapa keras pun Seijuurou membohongi diri sendiri, Seijuurou tetap tak bisa menepis fakta bahwa ia tak suka dengan ibu kandung Tetsuya. Ia juga tak bisa membohongi diri sendiri dengan mengatakan kalau ia suka gagasan mengenai Tetsuya pergi menemui ibunya. Alhasil, fakta bahwa Tetsuya tetap menemui ibunya setelah Seijuurou mengetahuinya membuat hati Seijuurou serasa diiris-iris, bahkan lebih sakit rasanya dari pada ketika ia baru mengetahui kalau si bungsu akhir-akhir ini pergi menemui ibunya diam-diam.
Mungkin yang membuat semua urusan mengenai ibu kandung Tetsuya ini menyakitkan adalah fakta bahwa Seijuurou tak menyukainya tapi tak bisa mengatakannya.
Walau bagaimana pun, seorang anak butuh figur ibu. Selama ini Seijuurou berusaha untuk mengambil peran tersebut karena ia pikir adik-adiknya membutuhkannya dan tak ada yang bisa melakukannya selain dirinya. Jadi sekarang, ketika figur ibu sungguhan melangkah masuk dalam salah satu hidup adiknya, bagaimana bisa ia menolak?
Kalau memang menemui ibunya adalah hal yang Tetsuya inginkan, bagaimana ia bisa melarang?
Kalau memang itu yang terbaik untuk Tetsuya, bagaimana ia bisa melarang?
Rasanya seperti dengan sengaja mengiris pergelangan tangan sendiri. Sudah tahu akan menyakitkan, tapi masih dilakukan.
Kedatangan Kouki adalah satu-satunya hal yang berhasil membersihkan pikiran Seijuurou dari Tetsuya dan ibunya. Keponakannya satu itu memang memiliki kemampuan khusus yang membuat orang-orang mencurahkan perhatian penuh padanya. Atau mungkin memang itu merupakan kemampuan yang dimiliki semua anak-anak.
Khusus selama jam makan siang hari itu, Teppei menitipkan Kouki pada Seijuurou. Pamannya berkata ia ingin makan siang berdua saja dengan sang istri, sekali-sekali. Jika Kouki dibawa serta, anak itu hanya akan mengacaukan makan siang romantis mereka, seperti yang terjadi terakhir kali. Ayah Kouki, Junpei, sibuk bekerja, begitu pula istrinya.
Akhirnya, Seijuurou jatuh sebagai pilihan terakhir untuk mengasuh Kouki selama satu jam saja, selama jam makan siang. Seijuurou terpilih terlebih karena Seijuurou tak pernah bisa menolak kunjungan dari sang keponakan.
Terdengar ketukan di pintu.
"Masuk," kata Seijuurou. Setelah beberapa lama mengejar Kouki keliling ruangannya, pria itu akhirnya bisa menangkap keponakannya. Kadang Seijuurou bertanya-tanya sebenarnya keponakannya itu diberi makan apa hingga bisa bergerak begitu cepat dan tidak bisa diam.
Seijuurou mengangkat Kouki dalam gendongannya agar anak itu tak bisa berlari ke sana-ke mari lagi lantas menghancurkan kantornya dalam prosesnya. Kouki tertawa-tawa senang dalam gendongan Seijuurou, anak itu menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri.
Seijuurou terkekeh sembari mengencangkan tangannya di sekeliling tubuh berandal kecil itu.
"Kau tahu, kau sudah pantas jadi ayah, Akashi-kun."
Seijuurou menoleh ke arah pintu. Di sana berdiri Momoi, dengan wajah tersenyum senang memerhatikan interaksi paman-keponakan itu diam-diam.
Sebuah senyum Seijuurou berikan pada wanita itu.
"Lihat siapa yang datang, Kouki," bisik Seijuurou di telinga Kouki. Kouki diam saja. Anak itu memang pemalu jadi tidak benar-benar pandai berhadapan dengan orang baru. Mata besar hitamnya memerhatikan Momoi. "Itu teman Paman, namanya Momoi Satsuki. Momoi, ini keponakanku."
"Jadi aku hanya teman? Ah, aku sakit hati, Akashi-kun," kata Momoi. Wajahnya mengerut membentuk ekspresi kesakitan. Binar jenaka jelas terlihat di mata wanita tersebut. Mau tak mau Seijuurou terkekeh dibuatnya.
"Lalu kau mau aku mengatakan apa? Kau mau aku mengatakan pada Kouki kalau kau istriku? Kukira kita belum sampai di sana," kata Seijuurou. Nada suaranya dipenuhi tawa tertahan.
Wajah Momoi memerah tapi ia tertawa sejenak sebelum mengarahkan sebuah tersenyum lembut pada anak di gendongan Seijuurou. Wanita itu lantas membungkuk agar ia sejajar dengan Kouki.
"Halo, Kouki-kun. Namaku Momoi Satsuki. Salam kenal ya," Momoi menyapa Kouki dengan senyum lebar dan mulai mengajak anak itu bicara meski tentu saja, keponakan Seijuurou tidak membalas dan hanya memandangi Momoi malu-malu. Momoi mengangkat wajahnya, menatap Seijuurou, "umurnya berapa, Akashi-kun?"
"Satu. Mei tahun ini dua tahun."
Seijuurou tersenyum, rasanya sama seperti ketika Seijuurou membawa Tetsuya ke daycare dulu.
Pria berambut merah tersebut lantas berjalan kembali menuju kursinya. Momoi mengikuti di belakangnya. Seijuurou duduk di kursinya, Kouki didudukkan di pangkuan, sedangkan Momoi duduk di hadapannya.
Sebelah tangan Seijuurou digunakan untuk menjaga Kouki tetap duduk di pangkuannya sedangkan tangannya yang lain membuka tas dan merogoh isinya, mengeluarkan sebuah kotak bekal.
"Eh, Bekal Akashi-kun mana?" tanya Momoi ketika melihat isi kotak bekal yang dikeluarkan Seijuurou ternyata berisi nasi tim yang jelas untuk Kouki.
"Ada di dalam tas," jawab Seijuurou singkat. Pria itu mengeluarkan sendok plastik dan mulai menyuapi keponakannya dengan nasi tim tersebut.
"Akashi-kun tidak makan siang?" tanya Momoi lagi. Wanita itu meletakkan sebungkus sandwich telur di atas meja.
Tanpa mengalihkan perhatiannya dari Kouki, Seijuurou menjawab, "aku akan makan siang setelah ini."
Dahi Momoi mengerut. Jelas sekali kalau wanita itu tidak setuju dengan pernyataan Seijuurou. Sandwich telur miliknya yang sebelumnya hendak ia buka bungkusannya kini ia letakkan kembali di atas meja. Seijuurou mengangkat wajahnya setelah ia berhasil memasukkan satu suapan ke dalam mulut Kouki. Pandangan mata pria itu jatuh pada sebungkus sandwich telur di atas meja.
"Kenapa kau selalu makan sandwich telur? Bukankah itu terlalu sedikit?" tanya Seijuurou. Nada khawatir kental dalam kata-katanya.
Momoi tidak menjawab. Wanita itu justru merebut kotak makan Kouki di tangan Seijuurou. Seijuurou tak sempat protes karena wanita itu sudah mengalahkannya.
"Aku saja yang memberi makan keponakanmu. Kau makan siang saja, Akashi-kun. Setelah ini kau akan sibuk," kata Momoi. Mata wanita menyiratkan pandangan tegas tak ingin dibantah. Setelah beberapa saat beradu pandang dengan Seijuurou, ia mengalihkan perhatiannya pada Kouki. Wajah wanita itu langsung berubah lembut, "Kouki, sama Tante, yuk."
Membujuk Kouki untuk mendekati orang baru tidak mudah. Tidak pernah mudah sebenarnya. Anak itu sangat pemalu dan mungkin pada dasarnya ia adalah seorang introvert. Ia sangat aktif dan bisa berlari ke sana ke mari tapi akan diam seketika ketika seseorang yang ia tak kenal atau baru kenal mencoba mendekatinya.
Hal yang sama terjadi dengan Momoi.
Tidak mudah membujuk Kouki agar mau berpindah dari pangkuan Seijuurou tapi entah bagaimana Momoi akhirnya berhasil melakukannya. Mungkin yang membuat triknya berhasil adalah kata-kata Momoi mengenai Seijuurou yang sebenarnya sibuk, ia akan sakit jika tidak makan sekarang, jadi kalau Kouki tidak mau paman kesayangannya sakit, sebaiknya ia menurut dengan Momoi.
Kouki pintar, Seijuurou tahu. Mungkin karena itulah ia mengerti maksud Momoi dan langsung berpindah tempat duduk. Setelah itu, dengan mudah Kouki menelan makanannya –paling tidak hampir setengah kotak makannya habis dan itu rekor—sehingga Seijuurou bisa makan bekalnya dengan tenang.
Sejujurnya, Seijuurou sedikit terharu melihat implikasi kalau keponakannya sangat sayang padanya dan tak ingin ia sakit.
"Pesawat terakhir datang, Kouki-kun! Ayo, buka mulutmu," kata Momoi sembari meniru suara pesawat. Sebelah tangan Momoi yang memegang sendok bergerak-gerak di depan mulut Kouki hingga anak itu membuka mulutnya. "Anak pintar!"
Momoi mencium pipi Kouki gemas. Kouki membalas pujian wanita itu dengan sebuah cengiran lebar. Keduanya lantas tertawa.
Seijuurou yang telah menyelesaikan makan siangnya, melihat pemandangan tersebut dengan sebelah tangan menopang dagu dan sebuah senyum terukir di wajah. Ada kebahagiaan tersendiri melihat mereka berdua berinteraksi layaknya ibu dan anak.
Perasaan yang dulu muncul tiap kali Seijuurou menghadiri pernikahan serta ketika Kouki lahir kembali hinggap dalam hatinya. Jauh, jauh dalam lubuk hatinya, Seijuurou ingin memiliki keluarganya sendiri. Seijuurou ingin melihat sekaligus menjadi bagian dari pemandangan ini tiap hari. Tentu saja dengan wanita yang resmi berstatus sebagai istrinya dan seorang anak miliknya sendiri.
Dulu, Seijuurou sekuat tenaga menahan keinginan itu. Banyak alasan yang menjadi dasar keputusannya. Mulai dari segi pekerjaan, prioritasnya yang sedikit berbeda, serta berbagai pertimbangan lainnya.
Tapi sekarang ada Shintarou yang menunggunya menikah, secara tidak langsung memaksanya untuk cepat mencari pasangan dan sekarang ia sudah memilikinya, bahkan pasangannya sedang duduk di hadapannya, bercengkerama dengan keponakannya. Pasangannya sangat mengerti dirinya dan menerimanya apa adanya. Ia bahkan menerima fakta kalau ia tak akan pernah menjadi nomor satu dalam daftar prioritas Seijuurou.
Semua kualifikasi untuk memenuhi keinginannya sudah terpenuhi, jadi mungkin sekaranglah waktunya Seijuurou mewujudkan keinginannya satu itu.
Tapi mungkin agak terlalu cepat seandainya Seijuurou melamar Momoi sekarang. Mereka mungkin memang sudah kenal bertahun-tahun, tapi alangkah baiknya jika mereka saling mengenal sedikit lebih lama sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.
Hanya sedikit lebih lama. Lalu Shintarou juga akan bisa menyempurnakan kebahagiaannya.
Meski tidak berencana melamar Momoi sekarang, mungkin akan lebih baik kalau Seijuurou mengatakan keinginannya pada adik-adiknya terlebih dahulu. Walau bagaimana pun, mereka keluarganya, mereka pantas untuk jadi yang pertama tahu mengenai keinginannya satu ini. Toh, ketika Shintarou memutuskan untuk melamar pacarnya dulu juga ia memberitahu keluarga dulu sebelum benar-benar melamar pacarnya.
Sebentar lagi, sebentar lagi Momoi tidak akan tersiksa karena pertanyaan terkutuk itu dan Shintarou tak perlu terlalu lama menungguku, pikir Seijuurou.
Sebuah senyum tipis terbentuk di wajahnya memikirkan ia bisa membahagiakan tiga orang sekaligus. Dirinya sendiri, Shintarou, dan Momoi.
"Ada sesuatu yang menyenangkan terjadi, Akashi-kun?"
Seijuurou berkedip beberapa kali. Ia baru sadar kalau tadi ia melamun. Ia bahkan tidak sadar kalau Kouki telah turun dari pangkuan Momoi dan sekarang menarik-narik lengan kemejanya, mencoba untuk menarik perhatiannya.
Seijuurou mendengus, tersenyum. Sebelah tangannya menggenggam tangan Momoi di atas meja, meremasnya sedikit, "tidak ada apa-apa."
Tetsuya menatap kotak berlapis kertas kado warna biru langit polos di pangkuannya dengan pandangan bingung. Di sampingnya, duduk Sora yang tengah tersenyum. Boleh dikatakan ekspresi wanita itu terlihat sangat cerah sore ini. Binar mata, senyum, serta lututnya yang bergerak naik-turun mengindikasikan kalau wanita tersebut sedang sangat antusias akan sesuatu.
Kedua tangan Tetsuya memegang sisi kotak tersebut, mengangkatnya, lantas mengguncangkannya sedikit. Sebelah telinganya ia tempelkan di sisi kotak. Dari suara yang ia dengar, ia tahu kalau dalam kotak tersebut ada barang yang cukup berat, tapi bukan barang pecah-belah.
Tetsuya menoleh, menatap Sora.
Dengan dagunya, Sora mempersilakan Tetsuya membuka kotak tersebut.
Tetsuya kembali mengalihkan pandangannya pada kotak di tangannya dan ia membuka kotak tersebut. Mata biru langitnya membelalak, terkejut, tapi bukan dalam artian yang buruk.
Senyum Sora melebar melihat ekspresi Tetsuya.
Tetsuya mengeluarkan sepasang sepatu Air Jordan berwarna putih bergaris biru sederhana dari dalamnya. Sepatu yang beberapa lama ini Tetsuya inginkan tapi tak ia beli karena mahal dan karir basket SMA-nya sudah berakhir musim dingin ini.
"Tetsuya suka?" tanya Sora setelah beberapa saat.
Meski tak bisa melihat wajah Sora dari posisinya sekarang, yang membungkuk melepaskan sepatu yang ia pakai dan mencoba sepatu pemberian Sora, ia bisa mendengar senyum wanita itu dalam suaranya. Tetsuya menegakkan tubuh, mengangguk singkat, sebelum menunduk lagi dan mengencangkan tali sepatunya.
Dua kali hentakan pada tanah, satu kali cubitan pada ujung sepatunya, dan Tetsuya terkesima.
Ukuran sepatunya pas sekali. Tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar. Benar-benar pas.
Rasanya seakan Sora tahu persis ukuran kaki Tetsuya.
"Terima kasih banyak, tapi bagaimana Sora-san bisa tahu?" tanya Tetsuya. Pemuda itu kembali menunduk, kali ini untuk mengganti kembali sepatunya.
Sora terkekeh. "Waktu kita berjalan-jalan di distrik perbelanjaan tempo hari, Tetsuya kelihatannya sangat menginginkannya, jadi apa boleh buat. Untuk ukurannya, aku mengira-ngira ukuran kaki Tetsuya."
Jujur saja, Tetsuya terkejut. Satu lagi hal yang ia ketahui dari Sora hari ini adalah wanita itu ternyata peka terhadap sekelilingnya. Ia bahkan bisa mengenali tatapan penuh hasrat milik Tetsuya. Tidak banyak orang yang bisa melakukan itu.
Tetsuya sangat senang, memang, mendapatkan hadiah seperti ini, terlebih ia memang menginginkannya sejak lama, tapi ia merasa tak bisa menerimanya. Mereka belum terlalu lama kenal dan sepatu itu harganya mahal. Selain itu tidak ada sesuatu yang khusus terjadi pada hari ini sehingga Tetsuya pantas menerima hadiah.
"Aku sangat senang Sora-san memberiku ini, tapi aku tak yakin aku bisa menerimanya."
Ekspresi terluka melintas di wajah Sora sesaat.
"Kenapa Tetsuya bilang begitu?"
Tetsuya memasukkan sepatu Air Jordan pemberian Sora kembali ke dalam kotak lantas menutup kotak tersebut. Kotak sepatu tersebut Tetsuya letakkan di ruang yang ada di antara mereka.
"Bukankah Tetsuya menyukainya?"
Tetsuya mengangguk. "Sepatu ini mahal sekali, kita belum terlalu lama mengenal, lagi pula tidak ada hal khusus hari ini hingga membuatku pantas menerima hadiah."
Sora tertawa. Di sela-sela tawanya, Tetsuya bisa mendengar wanita itu berkata, "Tetsuya benar-benar mirip ayah Tetsuya."
Kotak sepatu di sampingnya ia dorong sedikit, mendekati Sora. Sebuah indikasi kalau ia benar-benar merasa tak bisa menerima hadiah tersebut. Tawa Sora mereda. Ia masih tersenyum tapi ada binar serius dalam mata biru langitnya. Tangan wanita itu bergeser ke samping kotak dan mendorongnya kembali ke arah Tetsuya.
"Anggap saja itu hadiah karena Tetsuya sudah berusaha keras dalam ujian masuk universitas beberapa hari lalu."
Tetsuya tertegun. Sekali lagi hari itu, ia terkejut dengan perilaku Sora.
Ia sama sekali tidak menyangka wanita itu akan sadar kalau ia baru saja menjalani ujian masuk perguruan tinggi.
Meski begitu, tetap saja rasanya hadiah ini terlalu berlebihan apa lagi Tetsuya hanya baru menyelesaikan ujiannya dan bukan berhasil lulus darinya. Saudara-saudaranya saja tidak pernah dapat hadiah ketika lulus ujian masuk perguruan tinggi bagaimana mungkin Tetsuya menerimanya?
Kepala berambut biru langit Tetsuya menggeleng. "Terima kasih, tapi tetap rasanya tidak pantas bagiku menerimanya."
Sora memejamkan mata erat. Mulutnya mengeluarkan embusan napas keras. Terlihat sekali kalau ia sudah mulai kehilangan kesabaran.
"Baiklah, baiklah. Aku sebenarnya membelikan ini untuk ulang tahun Tetsuya," Mungkin wajah Tetsuya benar-benar menampilkan ekspresi terkejut sekarang karena Sora kembali tersenyum, meski kali ini senyumnya terlihat sedikit sedih, "aku masih ingat ulang tahun Tetsuya."
Ulang tahun adalah alasan yang cukup kuat untuk Tetsuya bisa menerima hadiah mahal tersebut. Keluarga Akashi -Seijuurou lebih tepatnya—hanya menerima dan memberikan barang mahal atau melakukan hal-hal sangat spesial untuk masing-masing anggota keluarga pada hari tersebut. Seijuurou membesarkan mereka dengan kepercayaan kalau hari ulang tahun adalah hari yang istimewa, hari di mana kau terlahir ke dunia dan karena itu keluarga Akashi bisa berkumpul seperti sekarang. Oleh karena itu kau akan diistimewakan untuk satu hari dan pantas menerima sesuatu yang istimewa pula.
Sebenarnya keluarga Akashi -khususnya Seijuurou—memang senang menghargai berbagai hal. Bahkan peristiwa seperti lepasnya gigi susu pun bisa jadi istimewa dalam keluarga.
Oleh karena itu, setelah Sora mengutarakan maksud sebenarnya membelikan Tetsuya sepatu tersebut, Tetsuya jadi enggan menolak.
Walau bagaimana pun, menolak pemberian Sora hampir sama dengan menolak tradisi yang telah ditanamkan Seijuurou padanya selama bertahun-tahun.
"Memang, hari ini bukan ulang tahun Tetsuya, tapi aku yakin aku tidak akan bisa memberikannya hari itu. Tetsuya pasti akan menghabiskan hari itu dengan keluarga Akashi, kan?" tanya Sora. Sekali lagi, wanita itu terlihat sedikit sedih. "Makanya aku memberikannya sekarang. Sedikit lebih cepat."
Tetsuya baru sadar kalau ia terlalu lama diam. Mau tak mau pemuda itu mengangguk mengiyakan pernyataan Sora yang memang benar. Saudara-saudaranya belum merencanakan apa pun untuk hari itu, Tetsuya juga pada dasarnya menolak adanya pesta, tapi paling tidak, seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka akan makan malam bersama.
Tapi rasanya agak aneh mendengar Sora menyebut keluarganya dengan 'keluarga Akashi'. Seakan-akan Tetsuya bukan bagian dari 'keluarga Akashi' tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak atas hadiahnya, Sora-san."
Sora mengibaskan tangannya sambil lalu di depan wajah. "Tidak masalah."
Tetsuya menunduk, menatap kotak biru muda di tangannya. Hadiah pertamanya dari ibu. Yah, mungkin bukan hadiah pertamanya karena mungkin saat usianya baru satu atau dua tahun, Sora pernah memberikan sesuatu padanya. Tapi ini hadiah pertama yang ibunya berikan padanya setelah empat belas tahun.
Perasaan hangat kembali menjalar dalam hati Tetsuya. Sebuah senyum tipis mengembang di wajah pemuda tersebut.
"Selamat ulang tahun yang ketujuhbelas, Tetsuya."
Tetsuya, yang baru turun dari tangga, menoleh dan mendapati Seijuurou tengah mengarahkan kamera legendarisnya ke arah Tetsuya. Sebelah mata pria itu tertutup kamera. Seijuurou menurunkan kamera dari matanya dan tersenyum pada Tetsuya, yang mana dibalas dengan senyum serupa.
Empat belas tahun mereka tinggal bersama dan tak pernah sekali pun Seijuurou gagal menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat padanya.
"Selamat ulang tahun, Tetsuya. Ternyata adikku sudah besar."
Ada sedikit luapan rasa bangga dalam hati Tetsuya mendengar kata-kata itu dari Seijuurou. Maklum, selama ini Seijuurou terkesan sedikit memanjakannya dan sedikit berlebihan melindunginya. Mungkin karena ia bungsu di keluarga, latar belakangnya sedikit berbeda, dan kesehatannya tak sebaik anggota keluarga mereka yang lain.
Senyum Seijuurou berubah. Ada sedikit senang, sedih, sekaligus haru bercampur di sana. Senang mungkin karena ia merasa sudah berhasil membesarkan adik bungsunya, sedih mungkin karena ia sadar ia tak bisa menghentikan pertumbuhan adiknya, dan haru mungkin karena melihat adiknya sudah tumbuh menjadi seorang yang baik.
"Terima kasih, Kak Seijuurou."
Kontak fisik seperti pelukan, elusan, dan ciuman di dahi mungkin sesuatu yang lazim di keluarga ini beberapa tahun lalu, tapi Seijuurou meminimalisir kontak tersebut menjadi fist bump atau high five pada adiknya yang menginjak usia tiga belas. Kontak fisik paling intim yang ia lakukan pada adik-adiknya sekarang adalah rangkulan. Tetsuya menebak alasan si sulung melakukannya bukan karena ia tak suka bersentuhan, tapi lebih karena ia tahu kalau anak seumuran itu tak lagi suka dipeluk dan dicium.
Tapi untuk satu hari ini, Tetsuya mengesampingkan hal tersebut lantas melingkarkan tangannya ke sekeliling bahu Seijuurou.
Di bawah pipi Tetsuya, otot bahu Seijuurou menegang, tapi beberapa saat kemudian rileks kembali. Tak lama berselang, Tetsuya bisa merasakan sebelah tangan kakaknya mengelus puncak kepalanya.
Oke, mungkin Tetsuya merindukan kontak fisik seperti ini.
Setelah beberapa detik, Tetsuya melepaskan pelukannya. "Terima kasih sudah membesarkanku selama ini, Kak."
Seijuurou hanya mengulum senyum. Lagi-lagi senyum haru itu.
"Tetsuyacchi, selamat ulang tahun-ssu!"
Tetsuya melihat sekelebat warna kuning sebelum tubuhnya terdorong beberapa langkah ke samping. Tiba-tiba saja sepasang tangan sudah melingkar erat di sekeliling tubuhnya dan ia bisa merasakan hidung Ryouta menggelitik telinganya.
Satu per satu kakak-kakaknya bermunculan. Satu per satu pula mereka mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah mereka masing-masing. Hadiah mereka semua sederhana. Seijuurou memberikannya jam tangan, Shintarou membelikan Tetsuya satu karya sastra terkenal yang beberapa bulan belakangan ini ingin Tetsuya baca, Atsushi tidak memberikan barang fisik pada Tetsuya tapi Tetsuya tahu saat ia pulang nanti ia akan mendapati meja makan penuh dengan makanan kesukaannya, Daiki berkata ia akan mentraktir Tetsuya makan sepuasnya dan Tetsuya tahu itu artinya Daiki tidak tahu apa yang sebaiknya ia berikan, dan Ryouta memberikannya sebuah syal biru muda.
Meski hadiahnya sederhana, tapi Tetsuya tetap senang. Walau bagaimana pun, bukankah yang terpenting adalah perhatian yang ada di baliknya dan bukan barang fisiknya?
Lagi pula meski mereka merupakan keluarga kaya, Seijuurou dan ayahnya tak pernah mengajarkan mereka untuk menilai barang dari harga.
"Bagaimana kalau malam ini kita adakan pesta untuk merayakan ulang tahun Tetsuyacchi?" usul Ryouta. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengangguk meyetujui gagasan Ryouta, tapi tidak ada yang menolak pula.
"Kakak tahu aku tidak suka hal seperti itu," kata Tetsuya, menolak dengan halus.
"Tapi, kan, Tetsuyacchi tidak setiap hari jadi tujuh belas-ssu."
Seijuurou, yang sedari tadi sibuk merekam apa yang terjadi, menurunkan kameranya. "Kalau memang Tetsuya ingin, tidak apa-apa, kok."
Kehangatan yang diberikan kakak-kakaknya membuat Tetsuya merasa meleleh. Mereka bersikap begitu hangat padanya tapi Tetsuya justru menyimpan rahasia dari mereka. Rahasia yang mungkin akan membuat mereka tidak senang. Rasanya tidak adil.
Sudah beberapa lama ia menyimpan rahasia ini dengan Seijuurou. Mungkin sebaiknya ia mengatakannya sekarang? Ya, mungkin sebaiknya begitu. Mungkin suasana hati mereka tidak akan terlalu memburuk seandainya Tetsuya mengatakannya sekarang, saat mereka sedang bahagia seperti ini. Mungkin mereka akan mengerti kalau Tetsuya bercerita dan meminta mereka untuk mengerti.
"Tidak, makan malam yang biasa juga sudah cukup."
Kakak-kakaknya otomatis tersenyum lembut padanya. Tipikal Tetsuya, mungkin begitu yang terlintas di pikiran mereka.
Senyum kakak-kakaknya, anehnya, justru membuat keberanian Tetsuya menciut. Ah, mungkin akan lebih baik kalau ia mengatakannya di lain waktu saja. Tidak sebaiknya mengatakan sesuatu yang bsia menghancurkan suasana seperti itu sekarang, ketika suasana sedang menggembirakan.
"Baiklah, kalau begitu, seperti biasa, luangkan waktu kalian nanti malam," titah Seijuurou. Pria itu tersenyum ketika adik-adiknya mengiyakan titahnya dengan bersemangat.
Tetsuya sendiri merasa bersemangat, sudah lama sejak mereka berenam makan bersama di satu meja.
Sekali lagi, mereka mengucapkan selamat ulang tahun pada Tetsuya lantas kembali mengerjakan rutinitas pagi masing-masing. Seijuurou mengancingkan lengan kemeja dan merapikan dasi, Shintarou mengunyah roti sarapan paginya, Atsushi membagikan bekal, dan Ryouta bertengkar dengan Daiki mengenai siapa yang akan membawa bekal isi daging hari ini.
Tetsuya tersenyum melihat perilaku kakak-kakaknya. Rasanya sudah lama sekali sejak mereka bersama-sama seperti ini. Mungkin terakhir kali mereka bersama di pagi hari adalah ketika tahun baru. Selain hari itu biasanya Shintarou atau salah satu dari Ryouta dan Daiki sudah pergi pagi-pagi buta untuk kerja dan mengejar latihan.
"Oh ya, ada sesuatu yang ingin kuberitahukan pada kalian," kata Seijuurou. Pria itu baru turun lagi dari kamarnya setelah menyimpan kamera dan mengambil tas kerja. Kontan, semua kepala yang ada di sana menoleh ke arah Seijuurou, tersita perhatiannya.
"Mengenai apa?" tanya Shintarou. Biasanya kalau Seijuurou mengatakan sesuatu pada mereka semua serentak, maka sesuatu itu merupakan hal penting.
Senyum tipis, yang entah kenapa serasa menyimpan banyak rahasia, terkembang di wajah Seijuurou. "Rahasia."
Alis Tetsuya terangkat. Tidak biasanya Seijuurou menyimpan rahasia seperti ini. Kelihatannya saudara-saudaranya yang lain juga merasa demikian karena mereka semua juga memasang ekspresi serupa dengan Tetsuya.
Seijuurou berjalan menuju genkan lantas mengeluarkan sepatunya dari dalam rak. Setelah memasang sepatunya dengan rapi, si sulung membalikkan badan, menatap mereka satu per satu yang masih terdiam memandanginya.
"Aku akan memberitahu kalian nanti malam. Baiklah, aku pergi dulu. Kalian semua juga hati-hati di jalan."
Pintu menutup menelan sosok Seijuurou.
Tetsuya sendiri keheranan. Ia baru tahu kalau kakaknya menyimpan sesuatu.
Seijuurou gugup.
Tapi, tentu saja, Seijuurou tidak menampakkan itu di wajahnya.
Gugup karena apa juga Seijuurou tidak mengerti. Padahal ia hanya ingin mengatakan apa yang ia inginkan dan bukan meminta restu tapi kenapa rasanya begitu menegangkan? Apa yang sebenarnya membuat Seijuurou gugup?
Mata merah Seijuurou memandang adik-adiknya yang tengah makan malam satu per satu. Keriuhan yang terjadi di awal kini sudah menyusut. Yah, karena Seijuurou dan Shintarou menegur mereka juga. Kini adik-adiknya makan malam dengan tenang dengan diselingi celetukan sesekali.
Bagaimana sebaiknya ia memulai?
Seijuurou mengangkat mangkuk supnya dan menyesapnya perlahan, menghabiskan isinya. Bersama dengan tegukan terakhir supnya, Seijuurou membulatkan keputusan.
Kenapa perlu berpikir lama? Toh ia hanya memberitahukan mereka tentang apa yang ia inginkan.
Seijuurou meletakkan mangkuk yang telah habis isinya. Setelah menumpuk piring-piring bekas makannya, Seijuurou berdeham, berusaha menarik perhatian adik-adiknya.
Sukses, adik-adiknya, yang juga satu per satu menyelesaikan makan malam, mengangkat wajah mereka dan menatapnya.
"Seperti yang kukatakan tadi pagi, ada sesuatu yang ingin kukatakan pada kalian."
"Tentang?" tanya Shintarou sebelum menyesap supnya, sekali lagi menjadi orang yang memecah keheningan.
Sebuah senyum, yang tidak penuh kepercayaan diri seperti biasanya, menghiasi wajah Seijuurou.
"Kurasa aku ingin menikah."
"Kakak bergurau lagi?" tanya Atsushi dengan nada malas khasnya. Pria itu telah selesai makan dan mulai menumpuk piring-piring bekas makannya.
Seijuurou menggeleng sekali. Mantap.
Meja makan langsung hening. Bahkan denting alat makan pun berhenti. Semua orang menurunkan mangkuk nasi mereka dan menatap Seijuurou, berusaha menatap Seijuurou tepat di mata, mungkin mencari sesuatu yang mengisyaratkan kalau kakak sulung mereka tengah bercanda.
Tentu saja mereka tidak akan menemukannya.
Ryouta menurunkan mangkuk nasinya dari wajah. Selama beberapa saat, adiknya yang berambut pirang itu mengunyah nasinya, diam. Begitu ia menelan nasinya, ia langsung angkat bicara, "Kak Seijuuroucchi, Kakak tahu, kan, kalau menikah itu perlu pasangan-ssu? Memangnya Kakak sudah punya pasangan-ssu?"
Perhatian semua orang yang ada di meja makan teralih pada Ryouta. Adiknya satu itu sendiri dengan mantap menatap Seijuurou lurus-lurus. Dahinya sedikit berkerut. Mungkin ia sulit memercayai kenyataan kalau kakaknya baru saja berkata ia ingin menikah.
Seijuurou mengangguk. "Sebenarnya sudah."
Serentak, ekspresi semua orang di meja makan berubah. Bahkan Tetsuya dan Shintarou terang-terangan menunjukkan ekspresi terkejut.
"Aku belum merencanakan apa pun, aku hanya merasa sebaiknya aku memberitahu kalian lebih dulu. Walau bagaimana pun, Shintarou juga memberitahu kita dulu baru melamar pacarnya, kan?"
Usaha Seijuurou untuk menenangkan keterkejutan adiknya sepertinya sia-sia karena mereka masih memasang ekspresi tidak percaya yang sama. Juga tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan Seijuurou. Bahkan Shintarou sendiri pun tidak.
Merasakan sedikit suasana tidak enak di udara, Seijuurou menatap adik-adiknya sekali lagi.
Ekspresi mereka kini sudah berganti. Mereka diam, menunduk dengan alis berkerut dan bibir terkatup rapat.
Mereka hampir terlihat seperti… tidak menyukai sesuatu?
Terutama Atsushi. Wajah adiknya satu itu bahkan terlihat menyeramkan.
"Aku tidak yakin aku suka mendengar gagasan Kakak menikah."
Seijuurou tertegun. Kepalanya menoleh ke arah sumber suara. Ke arah Atsushi.
Seijuurou hampir tidak memercayai pendengarannya. Apa ia mendengar dengan benar? Apa benar Atsushi baru saja berkata kalau ia tidak suka gagasan Seijuurou menikah?
Mengejutkan sekali, padahal biasanya Atsushi menurut saja dengan apa pun yang Seijuurou katakan. Padahal biasanya di antara adik-adik Seijuurou yang lain, pria itu yang paling patuh dan paling sejalan dengan Seijuurou.
Seijuurou mencoba menatap Atsushi lekat-lekat, siapa tahu Atsushi akan mengatakan hal lain lagi. Tapi pria berambut ungu panjang itu tidak mengatakan apa pun lagi, bahkan mengangkat wajahnya pun tidak. Seijuurou mengedarkan pandangannya ke arah adik-adiknya yang lain.
Tak satu pun dari mereka menegur Atsushi. Bahkan tidak Shintarou.
Seijuurou ingin menikah seharusnya bukan sesuatu yang mengejutkan, terlebih ketika beberapa minggu lalu mereka berbicara, Seijuurou memang mengatakan ia ingin menikah, jadi kenapa rasanya aneh mendengarnya lagi dari Seijuurou saat makan malam ulang tahun Tetsuya?
Mungkin, mungkin Shintarou merasa aneh karena kali ini Seijuurou benar-benar mengatakannya dari dalam hati –Shintarou bisa melihatnya di mata sang kakak—dan bukan karena ia ingin meyakinkan orang lain kalau ia tidak aseksual. Mungkin juga karena jawaban positif Seijuurou pada pertanyaan Ryouta mengenai keberadaan pasangannya.
"Hei, Shin-chan, kalau kau terus melamun begitu, aku akan habiskan kopimu."
Kalimat itu berhasil menarik Shintarou dari lamunannya. Pria berambut hijau itu menoleh dan mendapati teman sejak kecilnya, Takao Kazunari, tengah mengambil tempat duduk di sampingnya. Dengan santai, pria berambut hitam itu duduk, mengambil remote control televisi lantas mengganti saluran. Sebelah tangan pria itu bergerak ke samping, berupaya mengambil kopi kaleng di tangan Shintarou tapi Shintarou bergegas menjauhkan kaleng kopinya dari Takao.
Takao berpura-pura kecewa.
"Kau tahu, kalau kau melamun seperti itu terus, mungkin kau akan membunuh seorang pasienmu suatu hari nanti," canda Takao. Pria itu lantas terkekeh sendiri, menggoda Shintarou.
Ah, kenapa Shintarou bertahan berteman dengan anak ini? Ah ya, karena meski menyebalkan ia sebenarnya baik.
Dan Takao punya adik yang cantik.
"Diam kau, Takao," balas Shintarou. Ia merebut kembali remote televisi dari tangan Takao sebelum mengembalikan saluran televisi seperti sebelumnya. Takao menggerutu.
"Jadi ada apa? Tumben kau main ke apartemenku, biasanya lebih suka ke tempat adikku," kata Takao. Pria itu menjangkau semangkuk keripik kentang pedas yang tergeletak di atas meja kopi di hadapan mereka. Dipeluknya mangkuk keripik kentang tersebut dan dimasukkannya satu potongan kentang ke dalam mulut.
Mau tak mau, wajah Shintarou memerah mendengar implikasi yang terdapat dalam kalimat Takao.
"Tidak ada apa-apa," jawab Shintarou, sedikit ketus.
Takao mengangkat bahu lantas memfokuskan perhatiannya pada layar televisi yang kini menampilkan film horror.
"Kakakku bilang ia ingin menikah," kata Shintarou tiba-tiba setelah beberapa saat diam.
Takao, seakan sudah bisa menebak kalau pada akhirnya Shintarou akan bicara, tidak terlihat terkejut sama sekali.
"Bukankah itu bagus? Berarti kau akan bisa menikahi adikku lebih cepat," sahut Takao sebelum memasukkan satu potong keripik lagi ke dalam mulutnya. Suara renyah keripik dikunyah menyaingi suara televisi untuk beberapa saat.
Memang, pikir Shintarou. Tapi entah kenapa ia juga merasa ia tak benar-benar suka gagasan kakaknya menikah, seperti kata Atsushi. Itu sebabnya ia tidak menegur Atsushi ketika ia dengan terang-terangan mengatakannya di meja makan. Sepertinya adik-adiknya yang lain juga merasakan hal yang sama karena tak ada dari mereka yang menegur Atsushi.
Setelah dua puluh dua tahun bersama Seijuurou dan empat belas tahun tinggal bersama adik-adik mereka yang lain, rasanya aneh kalau memikirkan akan ada seorang perempuan yang mereka tidak kenal, dekat dengan sang kakak dan mungkin akan mengambil perhatian sang kakak.
"Kalau kau ada di posisiku bagaimana?" tanya Shintarou lagi.
Kali ini sepertinya Takao sama sekali tak mengira Shintarou akan bertanya seperti itu karena matanya terlihat membelalak sesaat. Pria itu memasukkan dua keripik lantas menggumamkan 'hmmm' panjang, tanda berpikir.
"Apa rasanya tidak aneh? Membayangkan saudaramu, yang sudah bertahun-tahun denganmu, sekarang akan bersama dengan orang yang tidak kau kenal, akan membentuk keluarga baru yang tidak termasuk kau di dalamnya, apa rasanya tidak aneh?"
Takao menelan keripiknya dan berkata, "Kau sadar tidak kalau aku sudah mengalami itu selama beberapa saat?"
Shintarou tertegun. Benar juga. Bukankah ia sendiri sedang berusaha mengambil adik Takao?
Shintarou mulai merasa bodoh karena bertanya.
"Ya aneh," aku Takao setelah beberapa saat. " Apalagi rasanya baru kemarin aku melindunginya dari anak-anak nakal di sekolah dan menenangkannya dari mimpi buruk. Begitu aku sadar, sekarang ia sudah akan menikah."
Shintarou tidak melakukan itu untuk Seijuurou. Kenyataannya justru sebaliknya. Seijuurou yang selalu ada untuk Shintarou, yang menemaninya melewati masa-masa buruk terlebih ketika ia baru masuk keluarga Akashi dan masih dihantui bayang-bayang keluarga lamanya.
Tapi anehnya, Shintarou mengerti maksud Takao. Meski berbeda, tapi Shintarou juga merasakan hal yang sama.
Rasanya baru kemarin ia dipertemukan dengan Seijuurou, sekarang anak lelaki yang ia temui itu sudah tumbuh jadi pria dewasa mengagumkan yang berhasil membesarkan mereka semua tanpa mengeluh.
"Tapi justru karena itu aku berusaha memastikan kalau orang yang mengambil adikku dariku bukan orang sembarangan."
Shintarou menoleh.
Takao tidak memandang Shintarou sama sekali. Pandangannya terpaku pada layar televisi tapi Shintarou bisa melihat kalau ada sedikit binar sedih dalam pandangannya.
Tiba-tiba Shintarou berpikir, bagaimana perasaan Seijuurou ketika Shintarou sendiri berkata ia ingin melamar pacarnya?
Apa ia merasakan ini juga? Apa sebenarnya berat baginya melepas Shintarou untuk seorang perempuan yang tak ia kenal dekat?
Jika melepas Seijuurou menikah terasa berat bagi Shintarou, pasti bagi Seijuurou lebih berat lagi melepaskannya. Bagi Shintarou, Seijuurou hanyalah sosok seorang ayah, ibu, kakak, sekaligus sahabat. Tapi bagi Seijuurou, adik-adiknya pasti lebih dari itu.
Seijuurou membesarkan mereka. Mereka sudah seperti anak Seijuurou dan semua orang tahu selalu sulit rasanya bagi orang tua untuk melepaskan anaknya pergi.
Bagaimana Seijuurou bisa melepasnya pergi? Bagaimana Seijuurou bisa dengan senyum mengatakan selamat padanya waktu itu?
Seketika Shintarou merasa sangat egois karena merasa tak suka Seijuurou ingin menikah. Padahal ia sudah sengaja menunda pernikahannya sendiri demi menunggu Seijuurou mengejar kebahagiaannya. Bahkan hingga sempat adu mulut dengan adik Takao karena itu. Ke mana resolusinya itu pergi?
Meski tahu kalau ia sudah bersikap bodoh, egois, serta kekanakan, masih berat rasanya bagi Shintarou untuk merelakan Seijuurou menikah.
"Muro-chin, kalau Alex bilang ia ingin menikah, bagaimana?"
Himuro menoleh cepat. Sebelah matanya yang tak tertutup rambut terlihat membelalak lebar. Saking terkejutnya, ia hanya bisa merespon dengan sebuah 'hah?' pelan. Tangannya yang tadinya sibuk memotong daun bawang langsung berhenti.
"Kalau Alex bilang ia ingin menikah, bagaimana?" tanya Atsushi lagi, kali ini dengan nada yang bahkan lebih malas lagi. Tepat saat itu sejumput rambut ungu panjangnya menjuntai keluar dari ikatan, menutupi matanya, membuatnya mengembuskan napas kencang-kencang agar rambut itu menyingkir dari penglihatannya.
Himuro mengerjap. Bagaimana kalau Alex bilang ingin menikah? Kenapa tiba-tiba Atsushi bertanya seperti itu?
Himuro meletakkan pisaunya lantas mengelap tangan ke celemek yang ia gunakan. Bukan untuk membersihkannya –karena memang tangannya tidak kotor atau basah—tapi untuk mengulur waktu untuk berpikir.
Refleks, karena bingung juga kenapa Atsushi bertanya begitu, sebelah tangan Himuro bergerak mengusap bagian belakang kepala. "Hmm, tapi Alex bilang ia tidak ingin menikah jadi…"
Tanpa mengalihkan perhatian dari sup miso yang tengah diaduknya, Atsushi berkata, "seandainya, Muro-chin, seandainya…"
Himuro mengatupkan bibir rapat-rapat. Agar pekerjaan mereka menyiapkan makan malam hari itu tidak tertunda lebih lama, Himuro kembali melakukan pekerjaannya memotong daun bawang.
Kalau Alex ingin menikah? Yah, Himuro tidak pernah memikirkannya karena sejak awal Alex mengatakan kalau ia tak ingin menikah. Sejak awal mereka bersama, Alex dengan jelas bilang kalau ia hanya butuh Himuro saja. Tapi kalau seandainya Alex ingin menikah…
"Kurasa aku akan berbahagia untuknya," jawab Himuro setelah berpikir beberapa saat. "Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
Atsushi diam, tapi dari sudut matanya, Himuro bisa melihat kalau pria itu tengah mengerucutkan bibir. Kecurigaan Himuro mengenai sesuatu terjadi di rumah keluarga Atsushi menguat. Keberadaannya di sini sekarang saja sudah merupakan tanda kalau memang ada yang salah. Atsushi tidak pernah menyanggupi tawaran makan malam dari siapa pun karena ia selalu makan di rumah, tapi anehnya hari ini ia menyanggupi ketika Alex menawarkan.
Alhasil, sekarang mereka memasak makan malam di dapur sedangkan Alex menyiapkan meja.
"Apa kau tidak merasa aneh karena mungkin Alex tidak akan selalu ada untukmu lagi?" tanya Atsushi lagi, masih tanpa melihat Himuro. "Kakakku bilang ia mau menikah."
Alis Himuro mengerut. Kakak Atsushi? Kakaknya yang mana? Shintarou? Atau kakaknya yang satu lagi?
"Hanya karena ia punya orang lain dalam hidupnya, bukan berarti ia tidak bisa selalu ada untukku, Atsushi," jawab Himuro santai. Akhirnya ia selesai memotong-motong daun bawang dan memasukkannya dalam panci sup yang isinya tengah diaduk Atsushi. "Mungkin rasanya memang aneh. Tapi ia selalu mengesampingkan kebahagiaannya untukku, jadi jika seandainya ia ingin menikah nanti, kurasa seaneh apa pun rasanya, aku akan berusaha untuk beradaptasi. Deminya."
Atsushi diam saja. Mengangguk pun tidak. Himuro jadi ragu kalau anak itu mendengarkan apa yang ia katakan tadi.
"Siapa yang mau menikah?"
"Kak Sei-chin," jawab Atsushi.
Hm, Himuro terkejut. Ia kira kakak Atsushi satu itu semacam biksu atau memang aseksual. Ia tidak pernah kelihatan punya teman perempuan dan kelihatannya tidak tertarik dengan perempuan. Ternyata ia salah.
Tapi berkat jawaban Atsushi, Himuro jadi mengerti permasalahan yang dialami Atsushi. Kemungkinan besar anak itu mengalami dilema antara berbahagia untuk kakaknya dan rasa posesif atas sang kakak.
"Jadi…" Himuro mengambil sendok sup dari tangan Atsushi dan menyendok sup yang mereka masak, mencicipinya sedikit. "Karena tidak suka kakakmu mau menikah, kau memutuskan untuk lari ke sini? Ngomong-ngomong, menurutku supnya kurang garam."
Atsushi beranjak mengambil garam. Sudah begitu sering ia bertandang ke apartemen Alex dan Himuro hingga ia hapal di mana letak benda-benda. Ia mengambil sejumput dan menaburkannya ke dalam sup. Dengan sendok sup, sekali lagi ia aduk agar garamnya merata.
"Tidak juga," jawab Atsushi akhirnya. Pria itu mengangkat sendok supnya yang berisi dan mengarahkannya pada Himuro, menyuruh temannya untuk mencicipinya. Himuro menurut lantas mengangguk. "Hari ini Tetsu-chin bilang ia akan menginap di rumah teman dan akan makan malam di sana jadi tidak ada yang akan makan malam di rumah."
Himuro mengangguk-angguk paham. Apa mungkin saudara-saudara Atsushi yang lain juga memilih untuk tidak makan malam di rumah karena rasanya aneh makan satu meja dengan kakak sulung mereka sekarang?
Lucu juga memikirkan kalau keluarga Atsushi yang ramai itu menolak keinginan kakak sulungnya untuk menikah hanya karena takut kehilangan si sulung. Posesif sekali. Rasanya mereka seperti anak-anak.
Tapi Himuro rasa ia bisa mengerti perasaan saudara-saudara Atsushi yang menolak pernikahan si sulung. Perasaan posesif sekaligus protektif terhadap anggota keluarga itu wajar. Walau bagaimana pun, ketika anggota keluargamu menikah, itu berarti ia akan bersama dengan seseorang yang mungkin tak kau kenal baik dan selalu ada kemungkinan kalau orang itu akan menyakiti anggota keluargamu itu. Dengan kemungkinan seperti itu, melepaskan seorang anggota keluarga menikah tak akan mudah.
Himuro sendiri juga pasti akan merasakan perasaan yang sama jika seandainya hal itu terjadi padanya. Tapi mungkin ia tak akan mengatakannya terang-terangan.
Himuro membuka rak piring dan mengeluarkan tiga buah mangkuk. Atsushi langsung menyendok sup ke dalam mangkuk-mangkuk tersebut.
"Hei, makanannya belum siap? Aku lapar."
Himuro menoleh, mendapati sosok Alex tengah berdiri bersandar pada kusen pintu. Kedua tangan wanita itu tersilang di depan dada dan bibirnya mengerucut. Seperti anak kecil.
Himuro terkekeh. Bersama dengan Atsushi, ia membawa makanan yang baru mereka masak ke meja makan.
Yah, untuk sekarang, Himuro tak perlu mengkhawatirkan soal itu.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa murung begitu?"
Ryouta mengangkat wajahnya dan menatap Momoi. Wanita itu baru saja meletakkan nampan pesanan mereka di atas meja dan sekarang tengah berkacak pinggang.
Ryouta mengambil segelas soda dan menyesapnya perlahan. Daiki di hadapannya mengikuti apa yang ia lakukan. Satu tarikan napas panjang keluar dari mulutnya. Ryouta tahu tindakannya membuat Momoi mengangkat alis keheranan, tapi ia tak benar-benar peduli sekarang ini.
Daiki yang biasanya menegurnya karena bersikap ambigu seperti itu juga diam saja. Adiknya satu itu justru mengambil sebungkus burger dari nampan yang tadi dibawa Momoi lantas melahapnya dalam diam.
Momoi, masih dengan alis berkerut heran, mengambil tempat duduk di samping Ryouta. Perempuan itu mengambil gelas sodanya dan menyesapnya sedikit.
"Ada yang mengganggu kalian? Kalian tahu kalian bisa cerita padaku," bujuk Momoi. Perempuan itu mengambil sebatang kentang goreng dan memasukkannya dalam mulut tanpa mengalihkan pandangannya dari Ryouta dan Daiki.
"Kak Seijuuroucchi mau menikah-ssu," jawab Ryouta. Sebelah tangannya menumpu dagu sedangkan tangan yang lain mengaduk-aduk kentang goreng dalam saus tomat. Tapi ia sama sekali tak punya niat untuk memakan kentang goreng tersebut.
"He? Akashi-kun mau menikah?!" tanya Momoi. Karena terkejut, tanpa sadar ia meninggikan volume suaranya. Buru-buru ia menggumamkan maaf pada pelanggan restoran lain yang melirik kesal ke arah mereka. "Dengan siapa?"
"Tidak tahu-ssu," jawab Ryouta. Benar juga, kalau dipikir-pikir, Seijuurou ingin menikah dengan siapa? Seijuurou tidak pernah menyebutkan nama pacarnya. "Kak Momoicchi juga tidak tahu-ssu? Kan, Kak Momoicchi teman dekatnya-ssu."
Momoi memberikan pandangan tak tertarik pada Ryouta lantas menjawab, "hanya karena kami teman dekat, bukan berarti aku tahu segalanya tentangnya, kan?"
Momoi mengambil satu lagi kentang goreng dan mengaduk-aduknya dalam saus, "jadi, kenapa kalian kelihatan murung? Bukankah itu kabar bagus?"
Yah, memang itu kabar bagus. Hanya saja sisi posesif Ryouta bangkit ketika mendengar kabar tersebut.
Selama ini ia selalu meledek kakaknya dengan pikiran kalau kakaknya satu itu memang tidak punya niatan menikah, dan kalau pun ia akan menikah, tidak akan dalam waktu dekat. Nyatanya, pikirannya salah. Ia harus menanggung shock seperti disengat petir siang hari ketika Seijuurou mengatakannya waktu itu.
"Kalian tidak mau Akashi-kun menikah?" tanya Momoi. Gerakan tangannya mengaduk kentang goreng dalam saus terhenti.
"Bukan begitu, hanya saja…" kali ini Daiki yang menjawab, tapi sepertinya adik Ryouta itu juga sama seperti Ryouta. Sesungguhnya mereka memang tidak mau Seijuurou menikah.
"Jadi benar kalian tidak ingin Akashi-kun menikah. Tapi kenapa?" tanya Momoi, menyimpulkan kata-kata mereka yang tidak selesai.
Inilah enaknya berteman dengan Momoi. Ia selalu mengerti keadaan bahkan ketika kau tidak mampu menjelaskannya dengan benar.
"Yaa kalau Kak Sei menikah, berarti ia akan bersama dengan perempuan yang kami tidak kenal. Bagaimana kalau perempuan itu tidak cocok dengan kami? Dan yang lebih penting, bagaimana kalau perempuan itu tidak cukup baik untuk Kak Sei? Aku tidak tahu dengan yang lain, tapi aku berpikir begitu."
Ryouta mengangguk mengiyakan jawaban Daiki. Ia memang merasakan itu meski bukan hanya itu yang ia rasakan.
Momoi diam saja. Ia justru menatap Ryouta lekat-lekat. Ia bersikap seakan ia tahu kalau masih ada yang ingin Ryouta katakan. Di bawah tatapannya, Ryouta merasa ditelanjangi.
"Kalau Kak Seijuuroucchi menikah, bukankah itu berarti ia pindah dari rumah dan akan tinggal bersama orang lain-ssu? Ia akan punya keluarga baru yang tak ada kami di dalamnya, bukankah itu berarti kami bukan lagi prioritasnya nomor satu-ssu? Aku tidak suka itu-ssu," jawab Ryouta, akhirnya memutuskan untuk jujur. Memang kalau dengan wanita ini, ia merasa tak ada yang bisa ia sembunyikan. Pria berambut pirang tersebut menunduk, agak malu karena mengakui perasaan kekanakan yang ia rasakan. "Selama ini aku merasa Kak Seijuuroucchi itu konstan tapi sekarang…"
Ryouta mengaduk-aduk sodanya dengan sedotan. Berusaha kabur dari tatapan Momoi.
Benar, alasan terbesarnya tidak menyukai gagasan Seijuurou menikah adalah karena secara hampir bersamaan, di otak Ryouta muncul pikiran kalau Seijuurou tidak akan selalu ada lagi untuk mereka dan justru akan fokus pada keluarga kecil barunya. Seijuurou pasti akan tetap memerhatikan mereka, tapi perhatiannya tidak akan sebesar sekarang.
Tidak suka, Ryouta tidak suka dengan gagasan itu.
Seijuurou seharusnya menjadi sosok konstan dalam hidup mereka, selalu ada, tidak pernah berubah. Ryouta tidak rela kalau terjadi pergeseran dalam kestabilan tersebut. Ryouta tidak mau ada yang berubah dari keluarga kecil mereka.
Ryouta tidak mau ada yang pergi…
Ryouta tahu ia egois sekali mengatakannya. Ryouta tahu seharusnya ia membiarkan Seijuurou bahagia. Oleh karena itu, ia berusaha mengesampingkan keinginan egoisnya agar Seijuurou selalu ada untuk mereka dan mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau memang sudah sepantasnya Seijuurou menikah. Tapi meski berhasil mengesampingkan keinginannya pun, tetap saja ada masalah mengenai pasangan Seijuurou dan ia tak berhasil meyakinkan dirinya sendiri soal itu.
Jika ia memang harus melepaskan Seijuurou, ia ingin melepaskannya pada orang yang ia kenal dekat, yang ia tahu pasti akan bisa membahagiakan Seijuurou. Contohnya, ya, seperti perempuan yang duduk di sampingnya ini.
"Kenapa Kak Seijuuroucchi tak menikah dengan Kak Momoicchi saja-ssu?" gumam Ryouta lesu.
Momoi membelalak. Daiki langsung tersedak. Dengan cepat, Momoi berpindah tempat duduk dan mulai mengusap-usap punggung adik Ryouta satu itu hingga ia bisa bernapas lega lagi.
"Apa boleh buat, Akashi-kun tidak melamarku."
Jawaban Momoi yang terkesan acuh tak acuh membuat Ryouta kembali mengembuskan napas berat.
Tetsuya menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong. Kedua tangan dan kakinya terkulai lesu di atas tempat tidur. Tubuhnya ada di sana, terkulai lesu di atas tempat tidur, tapi tidak dengan pikirannya. Pikirannya kini tengah melayang ke beberapa hari yang lalu, lebih tepatnya, ke malam hari ulang tahunnya.
Kata-kata Seijuurou tentang keinginannya menikah dan kenyataan kalau ia sudah punya pasangan untuk mewujudkan keinginannya tersebut –meski tak tahu siapa orang itu—membuat Tetsuya terkejut. Untung saja ia bisa mengendalikan keterkejutannya hingga tak jatuh lemas di meja makan saat itu.
Sepertinya saudara-saudaranya yang lain juga merasakan hal yang sama karena tak satu pun dari mereka yang bisa mengeluarkan respon segera.
Sejujurnya, Tetsuya tak tahu apa yang ia rasakan saat mendengar kata-kata Seijuurou. Senang? Sepertinya tidak juga. Sedih? Sepertinya itu juga tidak.
Kak Seijuurou diambil orang lain, entah kenapa secara otomatis Tetsuya berpikir seperti itu waktu itu.
Lantas, segera setelah pikiran itu terlintas dalam benaknya, perasaan tak suka menghantui hati Tetsuya. Tak suka pada apa juga Tetsuya tak benar-benar mengerti.
Mungkin ia tak suka kalau Seijuurou diambil seseorang yang tak ia kenal, seseorang yang bukan dari keluarga? Bisa jadi, tapi rasanya bukan benar-benar karena itu juga.
Mungkin ia hanya tak suka Seijuurou menikah? Tapi tak biasanya Tetsuya seegois itu. Ia terakhir kali bersikap seposesif itu terhadap si sulung saat ia kelas tiga SD. Jadi apa? Apa yang sebenarnya ia tak suka?
Sekali ini, Tetsuya tak berani mengucapkan apa yang terlintas dalam benaknya. Ia juga tak ingin berpura-pura bahagia di hadapan Seijuurou –lagi pula tak akan ada gunanya juga—jadi ia tak menyelamati Seijuurou karena sudah berhasil mendapat pasangan.
Satu-satunya yang berani mengucapkan apa yang ia rasakan malam itu hanya Atsushi. Secara terang-terangan, ia menyatakan kalau ia tak suka dengan ide Seijuurou menikah, tapi itu pun tak ditambahi dengan alasan kenapa ia merasa begitu.
Tetsuya rasa saudara-saudaranya yang lain juga sependapat dengan Atsushi sehingga tak ada yang menegurnya karena berani bicara tak sopan begitu pada Seijuurou. Bahkan Shintarou yang biasanya mendukung Seijuurou pun diam saja.
Setelahnya, makan malam hari itu terasa sangat canggung dan kecanggungan tersebut bersambung hingga sekarang.
Entah kenapa, sekarang rasanya aneh bertemu muka dengan Seijuurou. Aneh karena ia tak menyetujui keinginan sang kakak dan mungkin takut melihat reaksinya. Mungkin Tetsuya sendiri juga tidak enak hati karena sudah bersikap kekanakan dengan tak suka Seijuurou menikah.
Sepertinya kakak-kakaknya juga berpikir demikian karena sudah beberapa hari ini rumah terasa sangat sepi. Mereka berangkat dari rumah lebih pagi dan pulang lebih malam. Makan malam di rumah bahkan sudah beberapa hari tidak berlangsung.
Oleh karena itu, beberapa hari ini Tetsuya menghindari Seijuurou, menghindari rumah bahkan. Oleh karena itu pula, sekarang Tetsuya berada di sini, di rumah Sora, di kamar tamunya.
Ia merasa ia perlu pergi sebentar dan memikirkan semua ini. Permintaan Sora ia sanggupi demi bisa mendapat kesempatan ini. Lagi pula, masalah dengan Seijuurou ini membuatnya mendapat sedikit keberanian untuk menyanggupi permintaan Sora jadi ia tak mau menyia-nyiakan keberanian itu.
Ah, kenapa ia bersikap sangat tidak rasional mengenai ini? Padahal selama ini ia merasa ia adalah adik Seijuurou yang paling rasional, setelah Shintarou paling tidak. Selama ini ia selalu bisa menanggapi permasalahan dengan bijak, tapi kenapa rasanya kali ini sisi kekanakannya begitu mendominasi hingga mengelabui pikirannya?
Tetsuya berguling hingga sekarang ia rebahan dengan posisi menyamping.
Ia tidak seharusnya seposesif ini. Jika Seijuurou memang ingin menikah, apa hak Tetsuya melarangnya? Apa lagi alasannya melarang juga tidak benar-benar ada.
Lagi pula, menikah bukan berarti ia akan jadi orang yang sepenuhnya berbeda. Seijuurou tetaplah Seijuurou bagaimana pun statusnya. Tetsuya yakin pasti Seijuurou masih akan menyayangi mereka sama besarnya. Tetsuya juga yakin mereka akan selalu menjadi nomor satu dalam daftar prioritas Seijuurou. Seijuurou juga pasti tidak sembarangan memilih pasangan hidup jadi seharusnya Tetsuya tidak khawatir.
Tapi bagaimana kalau pilihan Seijuurou tidak cukup baik untuknya?
Mungkin sebaiknya Tetsuya mengajak Seijuurou bicara mengenai ini lebih dalam lagi, agar perkara ini terasa lebih jelas. Agar tak ada kekhawatiran tersisa dalam benak Tetsuya juga.
Agar Tetsuya benar-benar bisa melepas Seijuurou dengan sebuah ucapan selamat yang tulus.
Ketukan terdengar di pintu kamar dan Tetsuya membalikkan badan. "Masuk."
Pintu terbuka dan tampaklah Sora, berdiri canggung di sana. Wanita itu menunduk dan meremas-remas tangannya sendiri. Beberapa minggu bersama Sora membuatnya mengenal beberapa kebiasaan wanita itu.
Dan Tetsuya tahu kalau menunduk sembari meremas tangan adalah salah satu kebiasaan Sora ketika sedang gugup. Khususnya jika ada sesuatu yang sulit ia katakan.
Tetsuya bangkit dari posisi rebahannya. Pemuda itu menatap Sora lekat-lekat, menunggu. Setelah beberapa detik berlalu, wanita itu memutuskan untuk masuk dan duduk di samping Tetsuya di sisi tempat tidur.
"Apa Tetsuya merasa nyaman di sini?" tanya Sora. Pertanyaan basa-basi, Tetsuya tahu.
Tetsuya mengangguk. Sebuah senyum tipis sopan ia tempelkan di wajah. "Ya, terima kasih karena mau menerimaku, Sora-san."
Sora balas tersenyum dan menggeleng. "Tidak masalah. Aku justru sangat senang dan berterima kasih karena Tetsuya sudah bersedia menerima tawaranku menginap di sini."
Sekali lagi, Sora meremas tangannya yang ia letakkan di atas pangkuan. Tetsuya melirik tangannya. Apa yang sebenarnya ingin Sora katakan? Tetsuya jadi bertanya-tanya.
"Ada sesuatu, Sora-san?"
Sora berjengit terkejut. Wanita itu kembali memalingkan wajahnya dan menunduk, menolak menatap Tetsuya. Remasan tangannya bertambah kencang.
"Uh, um… begini, Tetsuya," Sora menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya, begitu terus berulang-ulang. Tetsuya mengerutkan alis. "Aku tahu aku tidak seharusnya meminta ini. Aku tahu aku bilang aku tidak akan meminta Tetsuya tinggal bersamaku lagi tapi… Aku tahu tidak tahu diri bagiku memintanya tapi… maukah Tetsuya tinggal bersamaku lagi? Maksudku, tinggal bersamaku sebagai keluarga lagi?"
Tetsuya membelalak.
Ternyata firasatnya benar. Ajakan Sora untuk menginap adalah permintaan tersirat untuk tinggal bersama. Mungkin wanita itu berpikir jika Tetsuya menyanggupi ajakannya menginap sesekali, maka Tetsuya lima puluh persen bersedia tinggal bersamanya. Padahal Tetsuya menginap di sini hanya karena ingin menghindari Seijuurou hingga ia bisa membulatkan pikirannya.
Bagaimana ini? Tetsuya tidak tahu harus menjawab apa.
Pertemuannya dengan Sora akhir-akhir ini membuatnya sadar kalau ia tak sepenuhnya membenci Sora lagi. Ia tahu Sora sudah berubah. Tapi perubahan Sora tak cukup untuk membuatnya menyukai wanita itu hingga membuatnya bisa menyanggupi ajakan tinggal bersama. Walau bagaimana pun tinggal bersama sebagai keluarga jelas bukan hal main-main.
Jujur, selama ini Tetsuya bertanya-tanya akan bagaimana rasanya jika tinggal bersama ibunya dan ia ingin mencicipi setitik rasa kehidupan seperti itu, kehidupan normal seperti itu. Sekarang kesempatan tersuguh di hadapannya, ia hanya perlu mengulurkan tangan untuk bisa merasakannya. Tapi apa ia tega meninggalkan keluarga Akashi begitu saja?
Tetsuya tidak yakin…
Benar-benar tidak yakin…
Tetsuya sadar ia sudah diam terlalu lama karena Sora kembali meremas tangannya kuat-kuat.
"Tidak bisa, ya?" Tawa gugup yang terdengar sedih keluar dari mulut wanita itu. "Ah, maaf, harusnya aku tak perlu bertanya. Aku harusnya sudah tahu apa jawaban Tetsuya. Maaf mengganggu Tetsuya malam-malam begini."
Sora membalikkan badannya dan mulai melangkah menuju pintu.
Entah bagaimana, punggung Sora saat itu terlihat sangat kecil, sangat rapuh. Tetsuya lagi-lagi tidak tega melihatnya.
Tanpa benar-benar berpikir, sama seperti ketika Sora memintanya untuk menginap sesekali di sini, Tetsuya menjawab, "aku akan memikirkannya."
Detik itu juga, ketika Sora membalikkan tubuhnya, ketika senyum lebar merekah di wajah yang mirip dengan wajah Tetsuya, Tetsuya mengutuk dirinya sendiri. Tetsuya jadi sedikit merasa benci pada dirinya yang tak bisa cepat mengambil keputusan dan memberikan harapan tak jelas pada orang lain seperti ini.
Setelah Sora mengucapkan selamat malam dan pergi, Tetsuya merebahkan diri lagi di atas kasur.
Tetsuya benar-benar perlu bicara dengan Seijuurou.
Meski badan Tetsuya tengah duduk di sofa di ruang keluarga, tapi pikiran dan pendengarannya tidak benar-benar ada bersamanya. Televisi di hadapannya tak ia perhatikan. Volume suaranya sengaja ia kecilkan agar ia bisa mendengar jelas jika ada yang membuka pintu depan.
Tadi malam ia kesulitan tidur akibat memikirkan kata-kata Sora. Begitu matahari sudah naik dan kereta sudah berjalan, ia buru-buru pamit pada Sora. Berlama-lama di rumah Sora tanpa memberikan jawaban jelas pada permintaan wanita itu terasa aneh. Sora melihatnya dengan pandangan aneh, mungkin karena ia pamit pada Sora dua jam sebelum sekolah dimulai, tapi wanita itu tidak mengatakan apa pun.
Berkonsentrasi di sekolah juga terasa sama sulitnya. Untuk pertama kalinya, Tetsuya merasa bersyukur ia memiliki hawa kehadiran yang lemah, jadi guru pun tidak menyadari kalau ia melamun sepanjang jam pelajaran.
Begitu bel pulang berbunyi, tanpa menunggu Kagami, Tetsuya langsung pulang.
Sudah terhitung tiga setengah jam setelah Tetsuya sampai di rumah dan dua jam yang lalu seharusnya Seijuurou sudah pulang. Yah, paling tidak, dulu Seijuurou selalu pulang jam segitu.
Pintu depan terbuka, membuat Tetsuya tersentak. Tak sampai sedetik kemudian, terdengar "aku pulang" yang ditunggu-tunggu Tetsuya sejak tadi. Pemuda berambut biru langit tersebut lekas mematikan televisi dan beranjak dari tempat duduknya.
"Kak Seijuurou sudah pulang?" kata Tetsuya begitu ia keluar dari ruang keluarga.
Pertanyaan retoris. Sekali lihat juga seharusnya Tetsuya sudah tahu. Tapi Tetsuya benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana.
Mata Seijuurou melebar sedikit dan ia berhenti melepaskan sepatunya sesaat. Jelas ia sama sekali tidak mengira kalau adiknya satu itu akan berada di rumah. Ada sedikit rasa sakit ketika melihat Seijuurou terkejut melihat keberadaan adiknya sendiri di rumah. Tapi itu juga salah Tetsuya sendiri.
"Ya, Tetsuya juga sudah pulang rupanya," kata Seijuurou. Tidak terdengar ada rasa senang tersirat dalam nadanya, justru rasa sedih sarat di dalamnya. "Bagaimana menginapnya? Keluarga ibumu menyenangkan?"
Nada suara Seijuurou terdengar lebih sedih dari sebelumnya. Meski sekilas si sulung terdengar biasa saja, tapi Tetsuya tahu lebih baik.
Sebenarnya Tetsuya tidak benar-benar bertemu dengan orang selain Sora ketika ia menginap. Tetsuya hanya benar-benar bertemu dengan suami Sora satu kali. Suami Sora sangat sibuk, biasanya ia baru pulang ketika Tetsuya sudah terlelap dan sudah pergi sebelum Tetsuya bangun. Tapi dari pertemuan sekali itu, Tetsuya bisa melihat kalau lelaki paruh baya itu tak merasa tak suka atau apa padanya.
"Lumayan," jawab Tetsuya. Yah, paling tidak, ia tidak benar-benar berbohong.
Seijuurou hanya menggumam paham. Pria itu melepaskan kaus kakinya dan memasukkannya ke dalam sepatu tanpa mengatakan apa pun lagi.
Tetsuya masih merasa ini bukan saatnya mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia katakan jadi ia memutuskan untuk berbasa-basi sedikit lagi. Oke, sebenarnya tidak benar-benar berbasa-basi karena sejujurnya ia memang ingin mengetahuinya.
"Boleh aku bertanya sesuatu, Kak?"
"Tentu," jawab Seijuurou. Pria itu memasukkan sepatunya ke dalam rak dan mulai berjalan ke dalam. Tetsuya mengambil tas Seijuurou dari tangannya, membawakannya sembari menyejajarkan langkahnya dengan si sulung.
"Kakak bilang Kakak sudah punya pacar. Siapa?" tanya Tetsuya. Pertanyaan yang tak sempat ditanyakannya malam itu karena terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri akhirnya ditanyakan juga.
"Momoi," Seijuurou terdiam sesaat, lalu, "kenapa tiba-tiba Tetsuya bertanya?"
Ah, jadi pasangan Seijuurou adalah Momoi. Mengetahui kalau Seijuurou memilih Momoi sebagai pasangannya membuat hati Tetsuya terasa tentram sedikit. Paling tidak, mereka mengenal Momoi dengan cukup baik dan mereka tahu kalau wanita itu sangat bisa mengurus Seijuurou.
Sepertinya kakak-kakaknya yang lain belum tahu mengenai ini karena kalau mereka tahu, mereka pasti tidak akan benar-benar keberatan. Terutama Ryouta dan Daiki karena mereka berdua sangat dekat dengan Momoi.
"Tidak, aku hanya terpikir kalau kami belum tahu siapa pacar Kakak," jawab Tetsuya sekenanya.
Mereka diam lagi. Rasanya aneh. Biasanya Seijuurou selalu bisa menemukan hal untuk dibicarakan atau ditanyakan. Biasanya ia akan bertanya bagaimana sekolah, bagaimana Kagami, dan serangkaian bagaimana-bagaimana lainnya. Kali ini ia diam saja.
Dan ia terlihat lebih lesu dari biasanya.
"Bagaimana hubungan Kakak dan Kak Momoi? Kakak sudah bilang padanya kalau Kakak ingin menikah?" tanya Tetsuya. "Maaf, waktu itu aku tidak bilang apa-apa. Waktu Kakak mengatakannya rasanya aneh bagiku, tapi sekarang aku tidak masalah kalau Kakak menikah—"
Wajah Seijuurou terlihat sedikit lebih sedih.
"Tetsuya tidak perlu khawatirkan itu," potong Seijuurou. Sebelah tangannya terangkat, mengusap puncak kepala Tetsuya. Elusan tangannya tidak terasa selembut biasanya.
"Tetsuya sudah makan malam? Bagaimana kalau temani Kakak makan malam?" tanya Seijuurou. Pria itu berjalan, kali ini di depan Tetsuya dan bukan di samping Tetsuya.
Tetsuya tidak mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan saat mendengar kata-kata Seijuurou sebelumnya. Tapi kemungkinan besar, perasaan yang mendominasi hatinya saat ini adalah kekesalan. Atau mungkin geram.
Tanpa Seijuurou perlu mengatakannya pun Tetsuya sudah tahu, tahu kalau pria itu tengah menguburkan keinginannya dalam-dalam, memendamnya dalam-dalam karena adik-adiknya tak senang dengan keinginannya. Mungkin pria itu berpikir untuk memutuskan hubungannya dengan Momoi atau malah mungkin ia benar-benar sudah melakukannya.
Tetsuya tak perlu memiliki kemampuan membaca pikiran hanya untuk mengetahui apa yang Seijuurou pikirkan mau pun rasakan. Bertahun-tahun tinggal bersamanya membuat Seijuurou sudah seperti buku yang terbuka baginya.
Bagaimana Tetsuya bisa tidak tahu? Seijuurou selalu melakukan itu, memendam keinginannya dalam-dalam, membatalkan apa yang ia lakukan, ketika ada anggota keluarganya yang tidak menyukai keinginannya. Untuk pria itu, keluarganya nomor satu, keinginan keluarganya mungkin terasa bagai perintah baginya. Mungkin kebahagiaan keluarganya adalah kebahagiaannya. Bahkan ketika keinginan keluarganya bertentangan dengan keinginannya sekali pun.
Awalnya Tetsuya merasa itu wajar. Walau bagaimana pun, Seijuurou membesarkan mereka dengan mengesampingkan dirinya sendiri. Keadaan seperti itu membuat dirinya tak benar-benar memiliki waktu untuk memuaskan keinginannya. Ia sudah terlalu terbiasa melakukannya hingga ia tumbuh menjadi pria yang tidak memiliki banyak keinginan.
Tapi ini sudah keterlaluan.
Tetsuya tidak tahan lagi melihat Seijuurou seperti ini. Ia jelas tersiksa dengan tingkahnya sendiri tapi sama sekali tidak melakukan apa pun untuk mengubahnya.
Kenapa Seijuurou tak pernah jujur mengatakan keinginannya? Sekali saja? Atau paling tidak mengatakan apa yang ada dalam pikirannya?
Kalau keinginannya sesederhana "aku ingin makan ramen" maka Tetsuya tidak akan mempermasalahkannya. Tapi ini berbeda. Menikah adalah sesuatu yang penting untuk hidup Seijuurou, untuk hidup semua orang bahkan. Apa Seijuurou akan melepaskannya begitu saja, tanpa memperjuangkannya terlebih dulu, seperti selama ini?
Bagaimana kalau Tetsuya mengatakan tentang permintaan ibu kandungnya? Apa Seijuurou juga akan melepaskannya begitu saja, tanpa mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan, ia inginkan, dengan dalih "demi kebahagiaan Tetsuya"?
"Ibuku memintaku tinggal bersamanya sebagai keluarga," tanpa benar-benar berpikir, terbawa oleh perasaan geramnya, Tetsuya berkata. "Bagaimana menurut Kakak?"
Tubuh Seijuurou berubah kaku. Kontan ia menghentikan langkahnya. Ia hanya diam, tak mengatakan apa pun, tak bergerak sedikit pun.
Tetsuya menunggu, menunggu. Bagaimana Seijuurou akan bersikap sekarang? Apa ia masih bisa mengesampingkan perasaannya ketika salah seorang anggota keluarganya akan diambil orang lain?
Katakanlah, pikir Tetsuya. Aku ingin dengar apa yang sebenarnya Kakak pikirkan, Kakak inginkan. Aku ingin Kakak menahanku. Bukankah Kakak membenci Sora-san, bukankah Kakak tidak ingin aku pergi?
Seijuurou berbalik. Tanpa sadar, Tetsuya menahan napas.
"Kalau Tetsuya ingin tinggal bersamanya," harapan Tetsuya runtuh, bahunya melesak turun. Tidak, jangan kata-kata itu lagi. Kenapa di saat seperti ini pun Seijuurou tidak jujur? Kenapa Seijuurou tidak menahannya? Apa Seijuurou sama sekali tidak keberatan kalau ia pergi? "tidak apa-apa, tinggallah bersamanya. Walau bagaimana pun, Tetsuya punya kesempatan untuk merasakan hidup dengan seorang ibu. Jangan disia-siakan, Tetsuya."
Tetsuya benci, benci pada dirinya sendiri yang tak bisa memutuskan sendiri apakah ia ingin tinggal bersama ibunya atau tetap dengan keluarga Akashi, benci pada dirinya sendiri karena berharap jika ia memberitahu Seijuurou maka Seijuurou akan menahannya, benci pada dirinya sendiri yang bergantung pada jawaban Seijuurou untuk membuat keputusan, dan yang terpenting, Tetsuya benci pada Seijuurou karena sama sekali tak berusaha menahannya pergi.
Special thanks to: 27aquarrow72, Yuki Caniago, 7Shafa's DiFA, Besse Nikma Rahayu, Tamu, VT Lian, Dewi729, Sayounara Watashi, Seiya Akashi, Asahina Yuuhi, draay, kyokohikari, Kavyana, ainkyu, Arisa Ezakiya, Yuki Carlyle, Prince'ss218, Hanee Kim, UchiHarunoKid, Ai and August 19, Lisette Lykouleon, sinaoi sora, WhiteIceCream, dan Newbie Kepo.
Balesan buat yang gak login:
sinaoi sora: maaf ya heuheu, di chap ini lebih banyak scene bingungnya Akashi kan. Makasih reviewnya ya :')
Tamu: makasih ya karena udah bersabar hehe. Wah jujur sebenernya aku sempet kepikiran buat matiin Akashi di akhir cerita ini wkwkwk /jahat/ tapi batal hehe soalnya kok kayaknya kasian banget toh hidupnya Akashi kalo aku gituin dia. Sudah cukup kubuat dia menderita di sini. Btw makasih reviewnya ya :')
Halo, Dee balik lagi di pertengahan bulan! Wkwkwk Ea ea Akashi bingung ea. Mampus lu kagak dikasih nikah wkwkwk /digampar Akashi/
Jadi, aku kembali dengan kabar buruk dan baik. Kabar buruknya adalah /jengjengjeng/ ternyata chapter terakhir fic ini terpaksa kupotong jadi dua karena kepanjangan wkwkwk. So, well, tadinya chap depan itu terakhir, sekarang malah jadi 2 chap lagi menuju end. Mohon bersabar denganku ya hehe. Diusahakan supaya chap terakhir gak sampe ngelewatin 2017 kok. dan aku juga udah siapin 1 chap tambahan(?) buat setelah ending, karena gak bener-bener bisa dibilang epilogue jadi ya gak kubilang itu epilog wkwkwk.
MUNGKIN KALIAN UDAH BOSEN BANGET LIAT AKU BILANG INI TAPI MAKASIH GAIS, FAV, ALERT, REVIEW KALIAN YANG BISA BIKIN CERITA INI SAMPE SEJAUH INI :')))
So, review please?
