Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.

Cerita ini hanya milik saya seorang.

Warning: AU, Nice not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR! ROMANCE AHEAD!

pengingat mulai chapter ini:

Seijuurou = 28 tahun

Shintarou = 25 tahun

Atsushi = 24 tahun

Ryouta = 22 tahun

Daiki = 21 tahun

Tetsuya= 17 tahun

Enjoy!


Chapter 29: Letting Go


Shintarou baru sadar ia sama sekali tidak tahu siapa pasangan Seijuurou ketika Takao bertanya padanya. Detik itu juga, Shintarou merasa bodoh sekali. Kenapa ia bisa begitu saja tidak menyukai gagasan Seijuurou menikah ketika ia bahkan tidak tahu siapa pasangannya?

Setelah mendengar kata-kata Takao tempo hari, akhirnya Shintarou memutuskan untuk mencari tahu siapa calon pasangan hidup Seijuurou. Siapa tahu setelah mengetahui siapa pasangannya, Shintarou dan adik-adik Seijuurou lainnya jadi lebih bisa melepas si sulung.

Walau bagaimana pun, rasanya tidak benar menahan Seijuurou seperti ini. Si sulung berhak untuk mendapatkan kebahagiaannya sendiri.

Dengan tekad yang telah dibulatkan, Shintarou memutuskan hal pertama yang harus dilakukannya adalah membujuk adik-adiknya untuk berkumpul bersama membahas hal ini, membahas alasan mereka tidak benar-benar menyetujui keputusan si sulung dan bagaimana caranya agar mereka bisa merelakan kakak mereka.

Karena merasa akan lebih mudah jika membujuk si bungsu, berhubung ia adalah yang paling rasional, Shintarou memutuskan untuk memberitahu Tetsuya rencananya.

Setelah mendengar sahutan 'masuk' dari balik pintu, Shintarou memutar kenop pintu dan masuk. Pemandangan kamar Tetsuya yang sedikit berantakan, dengan lemari baju yang terbuka dan isinya menghilang setengah, membuat Shintarou tertegun. Tetsuya sendiri tengah berdiri membelakanginya sembari memasukkan barang-barang ke dalam tas.

Keadaan kamar Tetsuya membuat apa pun itu yang hendak dikatakan Shintarou tertelan kembali.

"Apa yang sedang Tetsuya lakukan?" tanya Shintarou.

Tetsuya menghentikan kegiatannya lantas menoleh. "Ah, Kak Shintarou."

Shintarou melangkah maju ke sisi Tetsuya, sepasang mata hijau lumutnya memandang berkeliling sebelum akhirnya kembali terpaku pada kegiatan Tetsuya memasukkan bajunya.

"Kenapa Tetsuya memasukkan baju ke dalam tas? Tetsuya mau pergi menginap?"

Hening sejenak. Shintarou hampir mengira Tetsuya tidak mendengarnya.

"Begitulah."

Alarm di kepala Shintarou berbunyi, memeringatkannya kalau ada yang salah dengan keadaan ini. Sekarang tidak sedang libur sekolah, bahkan ini bukan akhir pekan, dan Tetsuya tidak biasanya menginap di tempat teman ketika hari sekolah. Jadi mungkinkah Tetsuya…?

Shintarou berusaha menepis prasangka itu jauh-jauh. Tidak mungkin Tetsuya berencana lari dari rumah. Seijuurou pasti akan tahu dan akan menghentikannya sebelum anak itu bahkan sempat memasukkan baju pertamanya ke dalam tas. Ya, tidak mungkin begitu. Paling-paling Tetsuya hanya akan menginap di rumah teman, merayakan lewatnya ujian masuk universitas.

"Kakak tidak perlu khawatir, Kak Seijuurou sudah mengizinkanku pergi."

Shintarou tersentak. Ia baru sadar kalau ia melamun. Begitu pandangannya fokus kembali, ia menemukan Tetsuya sudah berdiri tegak dan menatapnya tepat di mata. Baju-baju yang tadinya tergeletak di samping tasnya di atas tempat tidur, sudah menghilang dan tas tersebut sudah terisi penuh.

Baru saat itu Shintarou teringat tujuan awalnya menyambangi kamar si bungsu.

"Berapa lama Tetsuya menginap? Di mana?"

Tetsuya mengalihkan pandangannya. Ia kelihatan hampir seperti takut, hampir seperti melarikan diri dari Shintarou.

"Entahlah. Di rumah teman."

Alis Shintarou mengerut. Firasatnya mengatakan sesuatu telah terjadi dan apa pun itu bukan sesuatu yang bagus. Entah bagaimana firasatnya mengatakan kalau Tetsuya tidak hanya pergi menginap biasa.

Tapi Tetsuya tadi bilang kalau Seijuurou sudah mengizinkannya, kan? Kalau begitu seharusnya tidak apa-apa…

"Jadi, kenapa Kak Shintarou ke kamarku? Ada yang ingin dibicarakan?"

"Begitulah. Aku ingin mengajakmu bicara mengenai keinginan Kak Seijuurou."

Shintarou bisa mendengar Tetsuya menggumam 'ah, soal itu' dengan sangat pelan. Melihat Tetsuya diam saja, mengisyaratkannya untuk melanjutkan, Shintarou kembali bicara.

"Melihat reaksi kalian saat itu, aku rasa kalian juga tidak benar-benar setuju Kak Seijuurou menikah," Shintarou diam sebentar, meneliti wajah Tetsuya, tapi tak berhasil menemukan apa pun, "jadi aku ingin kita membicarakan itu. Maksudku, tidak hanya berdua, tapi juga dengan Atsushi, Ryouta, dan Daiki."

Entah kenapa, Tetsuya menghela napas panjang. Kenapa rasanya kelakuan adik bungsunya ini aneh sekali hari ini?

"Boleh saja, tapi kalau hari ini aku tidak bisa," jawab Tetsuya akhirnya. "Jadi bisakah kita bicarakan itu lain hari? Di tempat lain?"

Nah, ini aneh. Kalau membicarakannya lain hari Shintarou bisa mengerti, tapi di tempat lain? Kenapa memangnya dengan rumah mereka?

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Kakak, dengan yang lainnya juga, tapi aku tidak ingin melakukannya di rumah. Aku ingin membicarakannya berlima saja."

Lagi-lagi Tetsuya melakukannya, ia menjawab bahkan sebelum Shintarou bertanya, seakan ia bisa mendengar isi pikiran Shintarou.

Apa yang ingin dibicarakan Tetsuya? Kenapa membicarakannya harus di tempat lain? Kenapa memangnya kalau membicarakannya di rumah? Apa Seijuurou sudah tahu tentang apa pun itu yang ingin Tetsuya bicarakan dengan mereka?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berputar dalam kepala Shintarou, tapi untuk saat ini, pria berambut hijau lumut tersebut memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun dan mengiyakan saja. Setelah menaikkan gagang kacamatanya yang sebenarnya baik-baik saja, Shintarou mengangguk satu kali.

Tetsuya kembali menghela napas. Apa adiknya itu sebenarnya menahan napas sejak tadi? Entahlah.

"Kalau begitu aku pergi dulu," kata Tetsuya. Ia mengambil tas yang tergeletak di atas tempat tidur lantas menyampirkannya di bahu. Sesaat, adik Shintarou itu berhenti dan menatap Shintarou. "Beri tahu saja kalau Kakak sudah menetapkan kapan dan di mana kita akan membicarakannya."

Setelah berkata begitu, Tetsuya pergi meninggalkan Shintarou.


Tetsuya mengangkat kepalanya, menatapi sebuah rumah putih besar berpagar tinggi. Rumah Sora. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya berdiri diam di sana dengan bahu memanggul tas berisi pakaian-pakaiannya.

Sebelah tangannya terangkat mendekati tombol bel, tapi sebelum ujung jarinya sempat menyentuh tombol tersebut, ia menurunkan tangannya lagi. Satu helaan napas panjang ia keluarkan. Sekarang ia merasa benar-benar bodoh.

Ketika Seijuurou berkata padanya kalau ia bisa tinggal bersama Sora jika ia memang ingin, emosi menguasai dirinya, membuat kabut menyelubungi pikirannya, membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Setelah berdiri diam beberapa saat guna menenangkan diri, tanpa mengucapkan apa pun pada Seijuurou ia berbalik dan pergi menuju kamar.

Setelah itu Tetsuya tidak benar-benar ingat apa yang ia pikirkan hingga bisa mengambil keputusan seperti ini. Ia hanya ingat ia sangat marah pada Seijuurou juga pada dirinya sendiri hingga ia memutuskan untuk pergi dari rumah keesokan harinya dan mulai tinggal dengan Sora. Toh, Seijuurou juga tidak keberatan.

Ia juga ingat pagi ini Shintarou masuk ke kamarnya dan mengajaknya bicara tapi satu-satunya hal yang bisa ia ingat dari percakapan itu adalah Shintarou ingin mengajak mereka semua membicarakan keinginan Seijuurou dan kakaknya itu akan menghubunginya kalau ia sudah menetapkan tempat serta waktu yang tepat.

Tindakan yang benar-benar kekanakan, Tetsuya tahu. Tetsuya juga tahu kalau tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Seharusnya ia tidak menyalahkan Seijuurou. Salahnya yang tidak bisa memutuskan sendiri. Salahnyalah ia tidak bisa mengatakan tidak pada Sora sehingga ia dalam diam meminta dukungan dari Seijuurou.

Ia seharusnya tahu betul jawaban Seijuurou akan seperti apa. Pria itu terlalu baik, terlalu tidak mementingkan diri sendiri. Tapi Tetsuya ingin, sekali saja, Seijuurou bersikap egois dan menahannya pergi.

Sekarang setelah menempuh perjalanan setengah jam lebih dengan kereta dan ia sudah berdiri di depan rumah Sora, Tetsuya justru meragu. Pada dasarnya ia tidak benar-benar ingin tinggal bersama Sora. Meski pun mereka sudah jadi lebih dekat dalam sebulan terakhir, Sora masih terasa asing baginya.

Selain itu, Tetsuya juga merasa salah jika ia muncul di hadapan Sora dengan satu tas penuh baju hari ini. Bukankah itu hanya akan membuat Sora berpikir kalau ia setuju untuk tinggal bersama lagi dengan wanita tersebut? Tetsuya tidak ingin membuatnya berharap.

Pada akhirnya, Tetsuya mengurungkan niatnya dan mulai melangkah pergi dari sana. Dikeluarkannya ponselnya dari dalam saku lantas mencari satu kontak. Tanpa menghentikan langkah kakinya, Tetsuya menelepon kontak tersebut. Hanya perlu tiga kali nada tunggu sebelum telepon diangkat.

Tetsuya diam-diam bernapas lega.

"Halo, Kagami-kun? Bisakah aku menginap di tempatmu malam ini?"


"Akashi-kun?" Seijuurou mengerjap beberapa kali. Setelah beberapa saat ia baru sadar kalau sekarang ia tengah duduk di sebuah restoran, dengan semangkuk katsudon yang nyaris belum tersentuh di hadapannya dan Momoi yang menatapnya khawatir. "Kau baik-baik saja?"

Melihat ekspresi khawatir Momoi membuat Seijuurou merasa bersalah. Seandainya saja wanita itu tahu apa yang hendak dilakukan Seijuurou…

Lidah Seijuurou kelu. Ia ingin sekali memasang senyum formalnya dan mengatakan kalau ia baik-baik saja tapi ia tahu kalau Momoi pasti bisa melihat menembus sandiwaranya. Pada akhirnya ia memilih diam, mengangkat sumpit yang sempat diam, dan mulai menyantap katsudon-nya.

Momoi masih memandanginya lekat selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali memakan katsudon miliknya.

"Kau tahu kau bisa mengatakan apa pun padaku, kan?" bujuk Momoi setelah ia berhasil menelan nasinya.

Seijuurou menyerah.

Seberapa dalam pun Seijuurou memikirkannya, dengan cara apa pun Seijuurou hendak mengatakannya, tetap saja yang ingin disampaikannya akan menyakitkan, menyakitkan baginya juga bagi Momoi. Lebih cepat Seijuurou mengatakannya lebih baik.

"Aku tahu," jawab Seijuurou pada akhirnya. Ia diam sejenak, lalu, "Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu setelah ini."

Dari eskpresinya, Seijuurou tahu kalau Momoi bisa merasakan kalau apa pun itu yang ingin Seijuurou katakan padanya bukanlah sesuatu yang baik tapi wanita itu memilih untuk diam saja dan mengangguk. Seijuurou sedikit lega melihat reaksi wanita itu. Paling tidak, ia tidak langsung bergerak menuruti intuisi dan membombardir Seijuurou dengan pertanyaan.

Setelah menyelesaikan makan malam, Seijuurou mengantar Momoi pulang. Dalam diam mereka berjalan bersisian membelah trotoar yang ramai. Entah tahu kalau apa pun yang akan dikatakan Seijuurou sulit atau bagaimana, Momoi sama sekali tidak mencoba membujuk Seijuurou untuk bicara.

Wanita itu benar-benar diam, matanya tertuju ke jalanan di hadapannya dengan sebuah senyum menggantung di wajah. Ia bahkan tidak mengatakan apa pun ketika Seijuurou menggenggam tangannya tiba-tiba.

Perjalanan menuju apartemen Momoi hanya memakan waktu lima menit.

"Jadi," kata Momoi begitu mereka sampai di depan pintu apartemennya, "kenapa tiba-tiba Akashi-kun bersikap manis sekali padaku? Dan tiba-tiba mengajakku makan malam?"

Sesungguhnya Seijuurou hanya ingin mengatakan sesuatu pada Momoi tapi karena ia tak kunjung menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, jadilah ia mengajak Momoi makan malam mendadak ketika mereka sampai di depan apartemennya sepulang kerja. Momoi sempat keheranan tapi tetap mengiyakan, jadilah mereka pergi ke kedai katsudon dekat apartemen Momoi.

Sialnya, Seijuurou justru semakin bingung bagaimana mengatakannya pada Momoi setelah mereka makan malam.

Bagaimana caranya mengatakan pada pacarmu kalau kau ingin mengakhiri hubungan? Bagaimana cara mengatakannya tanpa membuat pacarmu sakit hati?

Seijuurou sudah memikirkan masak-masak, memikirkan cara terbaik mengatakannya pada Momoi agar wanita itu tak benar-benar sakit hati, tapi semua cara yang berhasil ia pikirkan mengarah ke satu kesimpulan yang sama; memutuskan seseorang pasti akan membuat seseorang sakit hati bagaimana pun caranya.

Kalau boleh jujur, ia tak ingin memutuskan hubungannya dengan Momoi. Ia bahagia seperti ini dan ia juga ingin membahagiakan Momoi. Tapi reaksi adik-adiknya ketika makan malam ulang tahun Tetsuya waktu itu jelas artinya baginya.

Adik-adiknya tak ingin ia menikah. Tidak peduli siapa pasangannya, mereka tak ingin ia menikah. Buktinya mereka tak menanyakan siapa pacar Seijuurou. Kata-kata Tetsuya tempo hari juga cukup untuk menjadi bukti.

Dengan keinginan adiknya sejelas itu, bagaimana Seijuurou bisa bersikap egois dengan memaksakan keinginannya?

Kebahagiaan adik-adiknya nomor satu, Seijuurou sudah membuat kalimat itu prinsip hidupnya sejak ia berusia empat belas dan prinsip itu tak akan berubah sampai kapan pun.

Hanya saja melepaskan apa yang ia inginkan ternyata tak semudah itu. Tidak pernah mudah sebenarnya.

Seijuurou memejamkan mata. Ia meremas tangan Momoi. "Mengenai hal yang ingin kusampaikan padamu…"

"Ya?"

Seijuurou membuka mata lantas menatap Momoi lurus-lurus. Pria itu mencoba menantang dirinya sendiri untuk mengatakannya. Seharusnya tidak sulit, toh ia hanya harus mengatakan empat kata aku ingin kita putus.

Seijuurou menelan ludah.

"Aku ingin kita putus, Momoi."

Nah, akhirnya Seijuurou berhasil mengatakannya. Sejujurnya ia ingin sekali melarikan pandangannya ke arah lain, ke mana pun asal bukan Momoi karena ia tak tega melihat reaksi wanita itu. Tapi bukankah tak sopan jika ia melihat ke arah lain? Maka dari itu, meski sulit, meski membuat alisnya sedikit berkerut, Seijuurou berusaha memertahankan pandangannya.

Mengejutkannya, ekspresi Momoi tak berubah banyak. Wajahnya berubah sendu, senyumnya jatuh, tapi ia tak melepaskan tangannya dari genggaman Seijuurou. "Kenapa?"

Seijuurou tidak benar-benar memikirkan alasan untuk disebutkan pada Momoi. Ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya mengatakan putus pada Momoi hingga tak terpikirkan olehnya kalau Momoi mungkin saja akan menuntut penjelasan.

Apa sebaiknya ia mengatakan alasan yang masuk akal? Apa ia sebaiknya jujur saja? Mana yang merupakan pilihan terbaik?

"Apa karena adik-adikmu?" tanya Momoi sebelum Seijuurou sempat mengatakan apa pun. "Ryou-chan dan Dai-chan bilang padaku beberapa hari lalu kalau kau ingin menikah dan dari wajah mereka aku tahu mereka tidak setuju."

Jujur, Seijuurou terkejut. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, ia memutuskan untuk jujur, "ya. Karena adik-adikku."

Seijuurou berpikir Momoi akan mendengus dan mulai mengejeknya karena hendak memutuskan hubungan hanya karena adik-adiknya atau mungkin wanita itu akan mulai marah-marah pada Seijuurou karena berani memerlakukannya seperti ini. Satu sisi Seijuurou juga berharap Momoi akan melakukannya, agar semua ini terasa lebih mudah baginya.

Tapi tentu saja, Momoi tidak melakukan apa yang Seijuurou pikirkan. Ia justru dengan tenang berkata, "baiklah. Aku mengerti. Ayo putus."

Seijuurou tidak pernah mengerti Momoi. Bahkan sekarang pun ia tidak mengerti apa yang ada di pikiran wanita itu dan ia merasa ia tidak akan pernah mengerti.

"Kau tidak marah padaku?" tanya Seijuurou, ia meremas tangan Momoi lembut.

Momoi menggeleng. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum lemah. Wanita itu menolak memertemukan pandangannya dengan Seijuurou dan pria itu yakin Momoi tengah menahan air mata. Hati Seijuurou terasa sakit melihatnya seperti ini tapi ia memutuskan untuk diam. Pria itu justru menempelkan dahinya dengan dahi wanita tersebut.

"Kau tidak menjelaskan apa pun pada Ryouta dan Daiki? Kalau kau mengatakan pada mereka kau pacarku mungkin mereka akan mengerti dan berubah pikiran," kata Seijuurou lirih. Pria itu memejamkan mata, berusaha untuk tidak memerhatikan Momoi yang jelas-jelas menahan emosi sekuat tenaga.

Jauh di dalam hati, ia sungguh-sungguh berharap Momoi akan berkata kalau ia memang menjelaskan pada mereka berdua.

"Tidak. Aku rasa masalahnya bukan tentang siapa pasanganmu. Mereka memang tidak mau kau menikah, Akashi-kun. Aku menjelaskan pun tidak akan ada gunanya," jawab Momoi dengan benar-benar lirih. Mungkin jika suaranya lebih keras sedikit, suaranya akan terdengar pecah. "Lagi pula, aku tidak yakin kalau kau ingin menikahiku. Kau, kan, tidak pernah mengatakan apa-apa padaku soal itu."

"Kupikir aku sebaiknya mengatakan keinginanku pada keluargaku dulu baru aku memberitahumu."

Mereka berdua diam, masih dalam posisi yang sama, hanya mendengarkan tarikan napas masing-masing.

"Maaf," kata Seijuurou.

"Jangan minta maaf," tegas Momoi berkata. Wanita itu mengambil satu langkah mundur, memisahkannya dengan Seijuurou meski tangan mereka masih bertaut. "Saat aku bilang 'ya' di mobilmu malam itu, aku sudah tahu hal seperti ini akan terjadi. Ini konsekuensi dari keputusan yang kuambil saat itu, Akashi-kun, jadi jangan minta maaf. Ini bukan salahmu."

Seijuurou kembali meremas tangan Momoi. Ia membuka mata, menatap Momoi lekat-lekat. Alis merahnya berkerut dalam.

"Tapi—"

Momoi menempelkan telunjuknya ke bibir Seijuurou, sukses meredam protes pria tersebut.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah, oke? Aku baik-baik saja. Sungguh."

Apanya yang baik-baik saja? Alis Momoi berkerut, matanya merah, berair, dan menyipit. Tidak ada yang baik-baik saja dari seorang Momoi Satsuki.

Seijuurou ingin sekali mengatakan 'jangan bohong padaku' tapi ia tahu Momoi akan menekankan telunjuknya makin keras ke bibir Seijuurou.

Mungkin Momoi tahu kalau Seijuurou tidak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya karena wanita itu menautkan jemarinya dengan jemari Seijuurou, memberinya semacam kepastian.

"Dengar, meski kita putus, kita tetap teman dekat. Yang berubah dari kita hanya kita tidak akan melakukan hal-hal seperti ini lagi," Momoi melirik jemari mereka yang bertaut dan Seijuurou mengerti. "kau tetap bisa mendatangiku kalau ada masalah. Mengerti? Kita hanya akan kembali jadi seperti dulu."

Momoi berusaha menenangkan Seijuurou, Seijuurou tahu. Tapi justru di situlah letak permasalahannya. Seijuurou tidak ingin kembali jadi seperti dulu. Ia ingin mereka tetap seperti ini.

Benak Seijuurou mulai berperang. Satu sisi benaknya mengutuki dirinya yang tak memerjuangkan hubungannya dengan Momoi sedangkan benaknya yang lain memujinya karena sudah mengorbankan keinginan pribadinya lagi.

Seijuurou memejamkan matanya erat, mencoba mengusir pemikiran-pemikiran tersebut dari otaknya.

Pria berambut merah itu lantas mengangguk.


Ketika hari itu Tetsuya tidak kunjung pulang dan Shintarou memberitahunya kalau ia pergi "menginap" di tempat teman entah berapa hari, Seijuurou langsung tahu kalau sesungguhnya anak itu tidak benar-benar pergi "menginap". Si sulung Akashi tahu kalau adiknya satu itu pergi ke rumah ibunya. Mungkin juga si bungsu tidak akan kembali lagi.

Ketika pemikiran bahwa Tetsuya lebih memilih tinggal bersama ibunya dan meninggalkannya terbersit dalam benak Seijuurou, hati pria tersebut serasa ditusuk-tusuk, diremas sekuatnya oleh tangan tak kasat mata lantas dibanting kuat-kuat ke tanah. Sakitnya luar biasa, bahkan lebih sakit daripada ketika ia meminta putus hubungan dengan Momoi. Bahkan lebih sakit daripada ketika ia mengizinkan Tetsuya tinggal dengan sang ibu.

Mungkin wajahnya benar-benar menunjukkan apa yang ia rasakan hingga Shintarou bertanya padanya apa ia baik-baik saja. Dilihat dari caranya memberitahu Seijuurou, sepertinya Shintarou belum tahu mengenai ibu Tetsuya. Seijuurou berpikir sebaiknya begitu karena pasti adiknya yang berambut hijau lumut itu akan menentang Tetsuya habis-habisan. Di antara mereka berlima, Shintarou selalu menjadi yang paling protektif pada Tetsuya mengenai hal satu ini.

Tidak ingin terlihat selemah itu di hadapan adiknya sekaligus untuk menghindari pertanyaan lain, Seijuurou memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Tentu saja setelah mengatakan pada Shintarou kalau ia sungguh baik-baik saja.

Sesampainya di kamar, Seijuurou menjatuhkan diri di atas tempat tidurnya lantas mengusap wajah. Ia menghela napas panjang. Sebelah tangannya terangkat ke rambut, tinjunya mengepal di sana, menarik helai-helai rambut merahnya.

Sejak Tetsuya jujur padanya mengenai dirinya yang kerap kali pergi menemui sang ibu, Seijuurou tahu kalau hari ini akan datang juga. Tidak, sejujurnya, ketika Tetsuya berusia tiga dan menyiratkan kalau ibunya masih hidup, Seijuurou tahu hari ini akan datang.

Seijuurou sudah memersiapkan diri sejak saat itu untuk hari ini, mempersiapkan diri agar tak merasa terlalu sakit hati ketika suatu hati nanti adik bungsunya diambil sang ibu. Tapi ketika akhirnya hari ini datang, Seijuurou tetap tidak bisa menahan rasa sakit yang membuncah di dadanya.

Ia ingin meluapkan amarahnya. Ia ingin mendatangi ibu Tetsuya dan memberitahunya apa yang ada dalam pikirannya. Ia ingin berkata kalau wanita itu tidak pantas merebut Tetsuya darinya setelah meninggalkannya begitu saja. Ia ingin sekali membawa Tetsuya pulang.

Tapi tidak bisa. Tidak boleh.

Seijuurou sudah berkata tempo hari pada Tetsuya kalau Seijuurou tidak keberatan si bungsu tinggal dengan sang ibu jika Tetsuya mau. Hanya jika Tetsuya mau. Sekarang Tetsuya pergi. Bukankah itu berarti Tetsuya memang mau tinggal dengan ibunya?

Bagaimana bisa Seijuurou menghalangi Tetsuya dari mendapatkan apa yang ia inginkan? Bagaimana bisa ia membawa Tetsuya pulang kalau itu hanya akan membuatnya sedih?

Seijuurou tidak bisa, benar-benar tidak bisa…

Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Seijuurou frustrasi dan matanya terasa panas.


Mengumpulkan adik-adiknya ternyata tidak semudah yang Shintarou kira. Wajar sebenarnya mengingat mereka semua sudah punya kesibukan masing-masing sekarang. Tapi untungnya setelah berdiskusi panjang mengenai tempat dan waktu berkumpul, akhirnya mereka mencapai mufakat. Pertemuan mereka pada akhirnya dilakukan di toko kue Atsushi di malam hari ketika toko sudah tutup. Selain untuk memudahkan Atsushi untuk bisa ikut berdiskusi, juga agar yang lainnya bisa datang.

Shintarou melirik wajah adik-adiknya. Sedikit rasa nostalgia sekaligus asing menelusup dalam hatinya. Rasanya sedikit aneh melihat mereka berkumpul berlima saja seperti ini tanpa Seijuurou. Biasanya tiap kali mereka berkumpul, Shintarou akan bisa menemukan sosoknya yang tengah duduk tenang di salah satu sisi ruangan, tapi kali ini tidak.

Di saat yang sama, Shintarou juga menyadari wajah adik-adiknya yang seperti merasa risih akan sesuatu. Shintarou rasa ia tahu apa sesuatu itu.

"Seperti yang sudah kukatakan tempo hari, aku mengajak kalian berkumpul tanpa Kak Seijuurou hari ini karena satu alasan," kata Shintarou membuka pembicaraan. Beberapa adiknya yang tadinya fokus pada hal lain kini mengalihkan fokus mereka pada Shintarou, "aku ingin membicarakan tentang keinginan Kak Seijuurou."

Shintarou menyadari Ryouta menggeser posisi duduknya sedikit sedangkan Daiki berjengit. Alis ungu Atsushi juga berkerut sedikit ketika mendengar kata-kata Shintarou. Hanya Tetsuya saja yang tidak benar-benar mengeluarkan reaksi fisik apa pun mendengar kata-kata Shintarou.

"Aku tahu kalian semua sama dengan Atsushi, tidak suka dengan gagasan Kak Seijuurou menikah," aku Shintarou. Ryouta dan Daiki yang sejak tadi sibuk mengamati desain interior toko kue Atsushi kini mengalihkan pandangan mereka pada Shintarou sepenuhnya.

"Nah, Kak Shin-chin tahu itu," potong Atsushi. Wajahnya masih menampilkan ekspresi tidak suka. Semua pandangan beralih ke arah pria berambut ungu tersebut.

"Ya, aku juga merasakan hal yang sama sebenarnya. Tapi aku juga tahu kita tidak seharusnya bersikap begitu."

"Tapi, coba Kakak pikir, kalau Kak Seijuuroucchi menikah, berarti ia akan punya keluarga baru yang tidak termasuk kita di dalamnya-ssu. Kak Seijuuroucchi mungkin tidak akan selalu bisa ada untuk kita seperti selama ini karena seseorang yang tidak kita kenal akan mengambilnya dari kita…" jelas Ryouta. Melihat adiknya yang satu itu bicara seperti itu membuat Shintarou merasa seperti kembali ke masa-masa ketika mereka masih SD.

Ryouta tidak mengatakan 'aku tidak ingin kehilangan anggota keluargaku lagi' tapi Shintarou tahu kata-katanya barusan menyiratkan itu. Wajar menurut Shintarou kalau Ryouta merasa seperti itu. Wajar sebenarnya kalau mereka semua merasa begitu. Walau bagaimana pun mereka sudah berkali-kali ditinggalkan anggota keluarga yang berharga.

Kata-kata Ryouta juga bukannya tidak pernah melintas dalam pikiran Shintarou. Sejujurnya ia sudah memikirkan itu selama beberapa hari ini. Tapi satu sisi diri Shintarou berkata kalau itu sama sekali tidak benar. Menikah seharusnya tidak seperti itu, karena kalau begitu, rasanya Shintarou tidak akan bersedia menikah. Jika harus memisahkan diri dengan keluarganya yang sekarang, ia akan lebih memilih untuk tidak menikah.

"Menikah bukan berarti membentuk keluarga baru, Ryouta. Menikah itu memperluas keluargamu, bukan memisahkanmu darinya," jelas Shintarou. Ia berusaha untuk bersikap sabar seperti Seijuurou meski sebenarnya sangat sulit.

Ryouta diam saja, tapi terlihat jelas dari wajahnya kalau ia tidak benar-benar puas dengan jawaban Shintarou. Adik-adiknya yang lain, kecuali Tetsuya yang tetap berwajah datar, memasang ekspresi yang sama dengan Ryouta.

Shintarou menghela napas. Ia memejamkan matanya sesaat. Ia tahu ia terdengar munafik sekali melakukan ini, berusaha meyakinkan adik-adiknya untuk melepaskan kakak sulung mereka ketika ia sendiri sebenarnya kesulitan, tapi ia ingin kakaknya bahagia. Sekali ini, setelah empat belas tahun.

"Dengar, aku juga merasa aneh tiap kali memikirkan Kak Seijuurou menikah. Tapi coba pikirkan, kita semua sudah besar, " Shintarou menatap adik-adiknya satu per satu, memastikan mereka semua mendengarkan, "semuanya sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Bahkan aku sudah berencana menikah. Suatu hari nanti kita pasti akan benar-benar mengejar tujuan kita masing-masing dan meninggalkannya."

Adik-adiknya mengerutkan alis ketika mendengar Shintarou berkata ia berencana menikah. Shintarou memutuskan untuk tak mengacuhkannya.

"Lalu coba bayangkan, kalau Kak Seijuurou akhirnya benar-benar tidak menikah, kita akan meninggalkannya sendirian."

Shintarou memberikan penekanan lebih pada kata terakhir itu. Ia sudah memikirkannya akhir-akhir ini, bagaimana seandainya kalau Seijuurou benar-benar menuruti keinginan mereka satu ini dan semua pemikiran itu berakhir pada satu kesimpulan yang sama: Seijuurou akan menua, sendirian di saat mereka semua berbahagia dengan keluarga masing-masing.

Pemikiran mengenai meninggalkan Seijuurou sendirian membuat Shintarou sesak, lebih sesak dari pemikiran Seijuurou akan menikah. Shintarou tidak tahan membayangkannya.

Rasa sesak itu membuatnya sampai pada satu keputusan; ia akan mengesampingkan keinginan egoisnya agar Seijuurou bisa berbahagia dan untuk itu, ia perlu membujuk adik-adiknya untuk melakukan hal yang sama.

"Kita akan berbahagia dengan keluarga masing-masing, dengan kehidupan masing-masing, sedangkan Kak Seijuurou akan terus berada di rumah, menua sendirian. Masako-san sekali pun tidak akan bisa terus ada untuknya. Apa kalian tega membuat Kak Seijuurou jadi seperti itu?"

Adik-adiknya mulai menunduk. Daiki bahkan tengah memelototi taplak meja yang di tengah mereka. Shintarou tahu kalau kata-katanya sudah masuk ke dalam pikiran adik-adiknya. Satu hal yang ia tahu pasti mereka semua miliki adalah keinginan untuk membuat si sulung bahagia.

Semoga saja keinginan tersebut jauh lebih besar dari keinginan mereka untuk memonopoli si sulung.

Untuk kedua kalinya malam itu, Shintarou menghela napas.

"Mungkin kita akan lebih tenang kalau kita tahu siapa pacar Kak Seijuurou," kata Shintarou.

"Jadi Kak Shintaroucchi tahu siapa pacar Kak Seijuuroucchi?" tanya Ryouta. Badannya ia condongkan sedikit ke arah Shintarou, jelas terlihat kalau ia tertarik. Mungkin setelah berpikir sekali lagi, anak itu baru sadar kalau ia tidak tahu siapa pacar kakak sulungnya dan ia tertarik untuk mencari tahu. Hanya saja ia terlalu takut untuk bertanya pada orangnya langsung sekarang karena hubungan mereka sedang aneh.

Shintarou menggeleng. Ryouta kembali menyandarkan punggungnya ke punggung kursi, kecewa. Dengan sangat lirih dan nada menggerutu, Ryouta menggumam kalau ia pikir Shintarou tahu. "Justru aku mau mengajak kalian mencari tahu soal itu."

"Pacar Kak Seijuurou itu Kak Momoi."

Shintarou menoleh ke arah Tetsuya. Pemuda itu tengah menyilangkan tangan di atas meja dan ia sama sekali tidak terlihat seperti baru saja bicara.

"Apa?" tanya Daiki. Sepertinya pria itu juga tidak yakin dengan pendengarannya.

"Pacar Kak Seijuurou itu Kak Momoi," ulang Tetsuya dengan sabar.

Kontan Shintarou menaikkan alis, terkejut mendengarnya. Kelihatannya adik-adiknya yang lain juga mengeluarkan reaksi serupa.

"Dari mana Tetsu-chin tahu?" tanya Atsushi akhirnya.

"Aku bertanya pada Kak Seijuurou tempo hari," jawab Tetsuya santai. Caranya bicara seakan mengatakan kalau hal yang baru dikatakannya adalah hal paling lumrah sedunia. Sebenarnya tidak benar-benar salah juga, kalau kau memang ingin tahu sesuatu ya memang seharusnya kau bertanya pada orang yang bersangkutan.

"Tapi Kak Momoicchi tidak bilang apa-apa soal itu waktu aku memberitahunya kalau Kak Seijuuroucchi mau menikah-ssu," bantah Ryouta. Kelihatannya pria berambut pirang itu masih kesulitan memroses informasi ini.

Shintarou melirik Tetsuya. Tetsuya mengangkat bahu.

"Mungkin Kak Seijuurou belum memberitahu Kak Momoi tentang keinginannya. Kurasa Kak Seijuurou ingin kita tahu soal itu terlebih dulu sebelum ia benar-benar mengatakannya pada Kak Momoi," jelas Tetsuya. "Dan melihat sikap Kak Momoi yang seperti itu, ia tidak ingin melompat ke kesimpulan kalau tidak ada bukti, jadi karena Kak Seijuurou tidak pernah bilang ingin menikahinya, Kak Momoi jadi tidak bilang apa-apa."

Daiki mengangguk, antara paham dan membenarkan kata-kata Tetsuya.

"Waktu ia tahu kalau kita belum tahu mengenai hubungannya dengan Kak Sei, mungkin ia berpikir sebaiknya kita tahu kalau ia pacar Kak Sei dari Kak Sei sendiri, itu sebabnya ia tidak mengatakan apa-apa," gumam Daiki.

Tetsuya mengangguk.

Setelah mengetahui siapa sebenarnya pacar Seijuurou, Shintarou jadi semakin merasa bersalah.

Kalau ia tahu calonnya adalah Momoi Satsuki, mungkin ia tidak akan bereaksi seperti itu waktu Seijuurou mengumumkan keinginannya.

Walau bagaimana pun, ini Momoi Satsuki, perempuan yang sudah menemani Seijuurou selama enam belas tahun terakhir. Ini perempuan yang berusaha selalu ada ketika Seijuurou butuh, yang berusaha untuk selalu membantu Seijuurou ketika Seijuurou kesulitan, yang bahkan membantu beberapa dari mereka menyelesaikan masalah dengan Seijuurou.

Momoi sudah seperti kakak tidak resmi mereka. Mereka mengenal Momoi dengan cukup dekat. Kalau ada perempuan yang mereka rasa pantas bersanding dengan kakak sulung mereka, maka orang itu sudah bisa dipastikan adalah Momoi.

Karena Seijuurou tidak pernah menunjukkan tanda-tanda ia tertarik pada Momoi, mereka jadi berpikir kalau pacar Seijuurou bukanlah Momoi.

Ternyata mereka salah.

Seandainya mereka tahu lebih awal, melepaskan si sulung pasti akan terasa lebih mudah karena sudah bisa dipastikan kakak sulung mereka berada di tangan yang tepat.

"Aku khawatir," kata Tetsuya lirih. Sekali lagi, tatapan semua orang di sekeliling meja mengarah padanya. "Aku khawatir Kak Seijuurou memutuskan Kak Momoi karena tahu kita tidak mau ia menikah."

Ada perasaan dingin mengalir dalam diri Shintarou. Bagaimana kalau apa yang dikhawatirkan Tetsuya benar? Bukankah Seijuurou selalu bersikap seperti itu? Bagaimana kalau Seijuurou benar-benar sudah mengakhiri hubungannya?

"Kenapa Tetsu berpikir begitu?" tanya Daiki. Tangannya ia silangkan di depan dada. Ia terlihat sangsi dengan kata-kata Tetsuya tapi sama seperti Shintarou, berpikir kalau kemungkinan itu tetap ada.

"Waktu aku bicara dengannya tempo hari tentang itu ia bilang padaku untuk tidak khawatir tapi wajahnya… aku rasa Kakak tahu maksudku," jawab Tetsuya.

Shintarou bisa membayangkannya dengan cukup jelas. Dalam benaknya, Shintarou membayangkan kakaknya itu mengelus kepala Tetsuya sembari meminta si bungsu untuk tidak khawatir dengan wajah memasang senyum meyakinkan, atau paling tidak, berusaha meyakinkan.

Satu sisi Shintarou merasa bersalah karena menurutnya, adalah salahnya jika Seijuurou mengubur keinginannya sekarang. Tapi di sisi lain, Shintarou marah pada kakaknya karena tidak mau memperjuangkan keinginannya. Ia marah karena Seijuurou tidak kunjung sadar kalau ia bukan pelayan keluarganya, kalau ia juga boleh mengejar keinginan pribadinya sendiri.

Dilihat dari ekspresi adik-adiknya, Shintarou bisa menebak kalau adik-adiknya juga merasakan hal yang sama dengannya.

Shintarou mengepalkan tinjunya di atas meja. Sekarang bukan saatnya kesal dengan perilaku kakak sulung mereka, sekarang saatnya mendorongnya –atau mungkin meninjunya—agar ia sadar. Menunggunya sadar sendiri sepertinya akan terlalu lama.

"Aku merasa kadang Kak Seijuurou terlalu mengesampingkan dirinya sendiri. Bahkan sekarang pun begitu. Kurasa sebaiknya kita menyadarkannya kalau ia juga manusia," kata Tetsuya, entah bagaimana mewakili pikiran Shintarou.

Semua yang berada di sekeliling meja mengangguk. Ada kesepakatan tanpa suara bahwa setelah ini, mereka akan mengajak si sulung bicara, mencoba meyakinkannya untuk mengejar keinginannya sendiri. Pasti sulit, tapi tidak berarti mustahil.

"Baiklah," kata Shintarou, secara tidak langsung telah menutup diskusi karena mereka telah mencapai mufakat. Shintarou menolehkan kepalanya ke arah Tetsuya. Pandangan mereka bertemu, "kemarin Tetuya bilang Tetsuya ingin memberitahu kami sesuatu, kan? Tetsuya ingin memberitahu kami apa?"

Perhatian adik-adik Shintarou yang lain kontan terfokus pada Tetsuya. Yang ditatapi justru menunduk, mengalihkan pandangannya dari pandangan semua orang. Entah bagaimana, Shintarou merasa apa pun yang ingin dikatakan Tetsuya bukanlah hal yang baik.

"Sebenarnya ini tentang ibu kandungku. Kakak tahu ibuku masih hidup," Shintarou mengangguk. Dari sudut matanya ia bisa melihat Atsushi mengangguk. "sebenarnya akhir-akhir ini aku menemuinya."

Shintarou menahan napas. Ia sungguh tidak menduga kalau hal yang ingin Tetsuya bicarakan adalah hal ini. Rasa tidak suka menelusup dalam hati Shintarou. Ia juga sungguh tidak habis pikir dengan Tetsuya. Bagaimana bisa ia menemui ibunya setelah semua yang telah wanita itu lakukan? Apa lagi dari kata-kata Tetsuya, Shintarou bisa tahu kalau ia tidak hanya menemui ibunya sekali…

Sejujurnya, Shintarou ingin sekali melarang Tetsuya menemui ibunya. Tapi ia mencoba untuk diam dulu, apa pun itu yang ingin dikatakan Tetsuya sepertinya belum selesai. Ryouta, Daiki, dan Atsushi juga sepertinya berpikir demikian karena meski pun mereka terlihat seperti ingin menggigit kepala orang, mereka tetap diam di kursi masing-masing.

"Kak Atsushi tahu aku jarang makan malam di rumah akhir-akhir ini. Sebenarnya itu karena aku pergi makan malam dengan ibuku. Kak Seijuurou sudah tahu tentang ini."

Mungkin terdengarnya sangat tidak seperti Shintarou tapi dalam hati, Shintarou mencemooh wanita itu. Dulu ia meninggalkan Tetsuya begitu saja lalu sekarang ketika Tetsuya sudah tumbuh besar dan bahagia ia melenggang masuk begitu saja dalam hidupnya? Wanita itu pikir ia siapa?

Selama ini Shintarou berpikir tidak mungkin membenci seseorang yang sama sekali tidak ia kenal, tapi ternyata pikirannya salah.

Yah, tapi paling tidak, ibu Tetsuya tidak benar-benar mengambil Tetsuya dari keluarga mereka. Kalau wanita itu berani mengajak Tetsuya tinggal bersamanya lagi—

"Lalu tempo hari ibuku mengajakku tinggal bersama lagi, seperti keluarga. Aku sebenarnya bingung harus bagaimana jadi aku bertanya pada Kak Seijuurou tentang pendapatnya soal ini."

Oh, sepertinya Shintarou terlalu cepat mengambil kesimpulan. Amarah mulai membuat pikiran Shintarou tidak jernih. Berani-beraninya perempuan sialan itu mengajak Tetsuya tinggal bersama lagi setelah semua yang telah ia lakukan. Benar-benar tidak tahu diri. Apa perempuan itu tidak sadar kalau ia sudah tidak pantas menyebut dirinya ibu Tetsuya setelah meninggalkan Tetsuya malam itu?

Tapi mendengar Tetsuya menanyakan pendapat Seijuurou mengenai itu membuat Shintarou merasa lebih lega sedikit. Meski pun tinggal dengan ibunya mungkin lebih baik untuk Tetsuya, tidak mungkin Seijuurou akan membiarkannya. Seijuurou terlalu sayang pada mereka untuk bisa melepaskan mereka begitu saja.

Kali ini, pasti Seijuurou tidak akan bertindak sesuai akal sehat. Kali ini pasti Seijuurou akan bertindak sesuai keinginannya.

"Dan Kak Seijuurou bilang tidak apa-apa kalau aku memang ingin tinggal dengan ibuku. Ia justru bilang aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatanku memiliki keluarga sungguhan."

Apa?


Shintarou pulang dalam keadaan linglung.

Pria berambut hijau lumut tersebut masih belum benar-benar bisa memercayai pendengarannya. Ia terlalu terkejut, terlalu shock bahkan untuk menyadari keadaan sekitarnya. Begitu ia sadar, tahu-tahu ia sudah sampai di depan rumah. Untungnya ia pulang bersama adik-adiknya karena kalau tidak, mungkin ia sudah tersesat entah di mana.

Shintarou langsung memasuki kamarnya lantas mendudukkan diri di sisi ranjang.

"Dan Kak Seijuurou bilang tidak apa-apa kalau aku memang ingin tinggal dengan ibuku. Ia justru bilang aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatanku memiliki keluarga sungguhan."

Sebelah tangan Shintarou terangkat, mengusap kepala. Ia sungguh tidak habis pikir.

Bagaimana bisa Seijuurou berkata begitu? Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran si sulung?

Apa benar Seijuurou berkata begitu? Apa bukan orang lain yang mengatakannya?

Mata Shintarou bergerak liar, seliar pikirannya saat ini.

Kenapa Seijuurou memerbolehkan Tetsuya tinggal dengan ibunya? Apa Seijuurou tidak merasa berat ketika mengatakannya?

Tidak, tidak. Pasti berat bagi Seijuurou mengatakan itu. Melepaskan adik yang sudah kau besarkan selama empat belas tahun terakhir tidak akan pernah terasa mudah. Pasti hati Seijuurou serasa ditusuk-tusuk ketika mengatakannya, terlebih karena –dari penjelasan Tetsuya—Seijuurou tidak benar-benar punya alasan untuk melarang Tetsuya pergi.

Kalau memang benar semenyakitkan itu lantas kenapa Seijuurou masih melakukannya?

Apa sebenarnya kebiasaan Seijuurou menutup perasaan itu lebih parah dari yang mereka kira? Sampai sejauh mana sebenarnya si sulung Akashi bersedia mengorbankan kebahagiaannya?

Tidak bisa dipercaya.

Shintarou melepaskan kacamatanya lantas memijat pangkal hidung perlahan.

Astaga, sebenarnya apa yang ada di pikiran Seijuurou?

Kalau benar Seijuurou bahkan sampai rela melepaskan Tetsuya pergi dengan dalih kebahagiaannya, apa ia juga bersedia menjadi bujang lapuk seumur hidup jika adik-adiknya memintanya demikian?

Rahang Shintarou menegang.

Geram, marah, sedih, dan bingung bercampur aduk dalam hati pria itu.

Bagaimana cara meyakinkan Seijuurou kalau ia juga manusia?


Pada awalnya, Seijuurou berusaha meyakinkan diri kalau ia tidak apa-apa, kalau semuanya baik-baik saja. Absennya Tetsuya dari rumah mereka memang bukan hal kecil tapi ia yakin bisa membiasakan diri dengan itu toh pernah ada masa di mana Shintarou kuliah di Hokkaidou.

Tapi berapa kali pun Seijuurou mencoba menipu diri, ia tetap tidak berhasil menepis rasa janggal dalam hati.

Berapa kali pun ia mencoba mengatakan pada diri sendiri kalau absennya Tetsuya sama seperti pergi kuliahnya Shintarou, tetap saja ia merasa tidak sama.

Dengan Shintarou, mereka memang terpisah bermil-mil jauhnya tapi ia tahu kalau anak itu masih menjadi bagian keluarga Akashi, paling tidak hatinya masih milik keluarga Akashi. Tapi dengan Tetsuya, Seijuurou tidak yakin.

Rasanya aneh ketika Seijuurou tidak melihat Tetsuya di pagi hari, bersiap-siap sekolah. Rasanya aneh ketika ia tidak melihat Tetsuya tidak ikut duduk mengelilingi meja makan ketika sarapan maupun makan malam. Rasanya aneh tidak melihat Tetsuya duduk-duduk di sofa ruang keluarga sembari membaca novel atau mengobrol dengan yang lain.

Rasanya aneh sekali mengetahui kalau Tetsuya, adik bungsunya, yang sudah bersamanya selama empat belas tahun terakhir kini pergi begitu saja. Rasanya aneh mengetahui kalau Tetsuya sudah bukan benar-benar adiknya lagi.

Rasanya aneh, aneh sekali ketika mengetahui kalau hanya masalah waktu hingga Tetsuya secara resmi tak lagi menjadi bagian dari keluarga Akashi.

Rasanya aneh, asing, dan meski sudah lebih dari dua minggu berlalu, Seijuurou masih tak terbiasa dengan itu semua.

Seijuuro merindukan Tetsuya. Rindu sekali. Begitu rindunya sampai rasanya sesak.

Si sulung Akashi tak bisa tak memikirkan Tetsuya di sela-sela kegiatannya. Tiap pagi ketika ia bangun dan bersiap-siap, ia bertanya-tanya apakah Tetsuya sudah bangun. Tiap ia melintasi kamar Tetsuya, ia bertanya-tanya apakah Tetsuya baik-baik saja di tempat ibunya sana. Ia bertanya-tanya apakah ia betah di rumah ibunya, apakah ibunya memerlakukannya dengan baik, apakah ia bisa menjaga kesehatannya dengan baik selama Seijuurou tidak bersamanya. Ketika Seijuurou melewati restoran Maji Burger, pikirannya akan langsung melayang ke Tetsuya.

Apakah Tetsuya makan teratur? Apa ia cocok dengan makanan di tempat ibunya? Bagaimana kalau tiba-tiba katapleksinya kambuh? Siapa yang akan menangkap Tetsuya selagi Seijuurou tidak bersamanya?

Seijuurou tahu kalau kekhawatirannya tidak beralasan. Tetsuya sekarang bersama ibunya, dan dari cerita Tetsuya, ibunya sepertinya sangat bisa merawatnya jadi Seijuurou seharusnya tak perlu khawatir. Lagi pula Tetsuya adalah adik Seijuurou yang paling mandiri jadi sungguh tak ada alasan bagi Seijuurou khawatir.

Tapi Seijuurou tetap saja khawatir. Ia tidak bisa begitu saja menghilangkan perasaan protektif khas orangtua yang telah ia rasakan selama belasan tahun terakhir.

Telepon bisa menyelesaikan semuanya. Hanya perlu satu telepon untuk bisa meluapkan perasaan rindu serta khawatirnya. Ia hanya perlu menekan salah satu speed dial di ponselnya dan ia akan bisa langsung tersambung dengan Tetsuya. Seijuurou tahu itu.

Tapi ia merasa tak sebaiknya ia melakukan itu. Selain hal itu akan membuat hatinya semakin sakit, ia juga merasa ia akan mengganggu kehidupan baru Tetsuya jika melakukannya. Tetsuya sudah memiliki hidup baru di mana tak diperlukan Seijuurou di dalamnya.

Seijuurou merasa satu telepon darinya akan bisa merusak kebahagiaan Tetsuya.

Perang batin Seijuurou sekarang hampir konstan. Seijuurou merasa hampir jadi gila karenanya.

Satu sisi dirinya menuntut agar keinginannya dipuaskan tapi sisi dirinya yang lain dengan keras melarangnya karena Seijuurou memang tak seharusnya bersikap egois seperti itu.

Sejak kepergian Tetsuya, wajah Seijuurou terlihat lebih sedih dari biasanya, bahunya terlihat lebih lemas, nafsu makannya pergi entah ke mana, ia lebih sering menghela napas, dan ia jadi sedikit kesulitan fokus.


"Keluargamu sedang bermasalah ya, Akashi?" tanya Kagami.

Pertanyaan Kagami mengalihkan perhatian Tetsuya. Ia tidak benar-benar menunjukkan kekagetannya dengan eskpresi tapi pergerakan karakter game-nya berhenti sesaat. Kesempatan itu digunakan Kagami untuk balas menyerang karakter Tetsuya.

"Kupikir keluargamu sedang bermasalah karena kau menginap di tempatku dua minggu penuh," ujar Kagami. Mata pemuda itu sama sekali tidak lepas dari layar televisi. Karena Tetsuya sudah pulih dari keterkejutannya, Kagami perlu berusaha lebih keras untuk bisa bertahan dari serangan karakter Tetsuya.

Tetsuya diam saja. Kagami jadi merasa bersalah.

Bukannya Kagami keberatan Tetsuya menginap di tempatnya, tapi dua minggu menginap itu bukankah berarti Tetsuya sedang bermasalah?

Sejujurnya, ketika Tetsuya tiba-tiba ingin menginap, Kagami langsung merasa ada yang salah. Tetsuya bukan orang yang spontan seperti itu. Ia tidak pernah menginap di tempat Kagami tanpa perencanaan beberapa hari sebelumnya.

Terlebih lagi ketika ia datang ia kelihatan murung. Kagami jadi menyimpulkan kalau ia sedang bermasalah –kemungkinan besar—dengan keluarganya.

"Aku tidak keberatan kau menginap di rumahku, Akashi. Aku jadi ada teman main juga. Tapi apa keluargamu tidak khawatir kau di sini terus?" tanya Kagami lagi, setengah mencoba mengajak Tetsuya bicara. Matanya masih tidak lepas dari layar televisi.

Ketika karakter Tetsuya memberikan pukulan terakhir pada karakternya, Kagami mengerang kesal. Pemuda itu langsung merebahkan diri di lantai sembari mengingatkan diri kalau ia tidak boleh melemparkan joystick playstation miliknya ke udara.

"Tidak, kok. Kak Seijuurou sudah mengizinkanku pergi," jawab Tetsuya akhirnya. Temannya itu meletakkan joystick-nya di atas tempat tidur dengan perlahan.

Kagami menatapnya dan tatapan mereka bertemu.

Sayangnya Kagami tidak pandai membaca orang melalui mata. Apalagi jika orangnya adalah Akashi Tetsuya.

Sulit sekali menebak apa yang ada di pikiran Tetsuya karena matanya hampir selalu sama.

Tapi Kagami merasa jawaban Tetsuya aneh sekali. Kakaknya mengizinkannya pergi selama dua minggu? Tanpa menelepon sama sekali dalam waktu dua minggu itu? Kedengarannya sama sekali tidak seperti Seijuurou.

Tidak mungkin Seijuurou membiarkan Tetsuya menginap dua minggu tanpa alasan yang benar-benar jelas.

Tapi mata Tetsuya tidak menyiratkan kalau ia berbohong.

Kagami mengerutkan alis, berusaha menatap mata Tetsuya lekat-lekat. Mungkin saja ia akan mulai gugup lalu luluh kalau ditatapi terus seperti ini.

Sayangnya itu tidak berhasil. Tetsuya justru membalas tatapannya dengan pandangan datar khasnya.

Ah, ya sudahlah. Kalau memang Tetsuya tidak mau bilang apa-apa, Kagami bisa apa?


Kalau tahu Seijuurou rela mengesampingkan diri hingga sejauh ini, Ryouta tak akan menentang ketika Seijuurou bilang ia ingin menikah.

Seijuurou dan Momoi tidak mengatakan apa-apa tapi Ryouta tahu dari sikap mereka kalau mereka sudah berpisah. Parahnya lagi Momoi selalu mengelak jika Ryouta bertanya tentang hubungan mereka. Perempuan itu bersikeras tidak apa-apa di antara mereka. Seijuurou juga sama saja. Tiap kali Ryouta mencoba bertanya untuk memastikan, pria itu pasti akan mengalihkan topik.

Usaha keras mereka untuk mengalihkan pembicaraan justru menguatkan kata-kata Tetsuya malam itu.

Perilaku mereka juga membuktikan kalau kata-kata Tetsuya benar. Jelas sekali kalau Seijuurou sudah memutuskan hubungan mereka karena adik-adiknya tidak setuju dan Momoi, yang merasa belum dilamar Seijuurou, merasa sebaiknya ia tidak mengatakan apa-apa tentang hubungan mereka di hadapan Daiki dan Ryouta waktu itu.

Kelakuan dua orang itu membuat Ryouta geram.

Di saat yang sama juga membuat Ryouta merasa bersalah.

Secara tidak langsung, Ryouta-lah penyebab mereka harus mengubur keinginan masing-masing.

Ryouta tidak suka kakak sulungnya diambil orang lain. Tapi bukan berarti Ryouta rela mengorbankan kebahagiaan kakaknya seperti ini. Jika bagi Seijuurou kebahagiaan adik-adiknya nomor satu, maka begitu juga halnya dengan Ryouta. Ryouta ingin membahagiakan Seijuurou juga.

Maka dari itu, menyaksikan Seijuurou berusaha terlihat baik-baik saja tanpa Tetsuya benar-benar menyiksa Ryouta.

Dua minggu berlalu sejak Tetsuya tiba-tiba menghilang dari rumah. Selama dua minggu itu pula Ryouta harus bertahan melihat Seijuurou tersiksa. Kakak sulungnya tidak bersikap seperti orang frustrasi kebanyakan.

Orang-orang biasanya akan bersikap berbeda. Mereka akan membuang semuanya ketika benar-benar frustrasi. Akan sangat jelas melihat kalau ada yang salah dengan mereka dan akan lebih mudah bagi orang lain untuk membantu.

Tapi Seijuurou tidak begitu.

Seijuurou tetap bangun pagi seperti biasa. Ia bisa memersiapkan diri sama rapinya dengan biasa. Ia tetap ikut sarapan tiap pagi dan ia masih tersenyum ketika melihat interaksi-interaksi konyol yang Ryouta dan Daiki lakukan.

Tapi rasa frustrasinya tetap terlihat dari hal-hal kecil yang ia lakukan.

Seijuurou yang sekarang sering tidak fokus. Ia juga jadi lebih sering menghela napas. Ia terlihat lebih capek dari biasanya.

Yang paling terlihat jelas, adalah matanya selalu mencari-cari sesuatu tiap kali ia masuk ruangan.

Tanpa perlu diberitahu pun Ryouta tahu kalau yang kakaknya cari adalah sosok adik bungsu mereka.

Melihat sosok Seijuurou yang menghela napas sangat pelan ketika ia tak berhasil menemukan sosok Tetsuya di ruang keluarga membuat Ryouta menggigit bibir geram.

Ryouta tidak suka melihat Seijuurou seperti ini. Sama sekali tak suka…

Apa yang sebaiknya Ryouta lakukan untuk membantu kakaknya?


Daiki melirik Seijuurou. Ia berdiri canggung, tidak yakin sebaiknya melakukan apa.

Sebaliknya, Seijuurou diam saja menatapi bungkusan plastik berlogo huruf M melengkung di tangan Daiki.

Daiki sedikit merasa bersalah karena pulang sambil membawa sebungkus burger dari Maji Burger. Logo restoran cepat saji itu pasti mengingatkan Seijuurou pada Tetsuya dan milkshake vanilla kesukaannya. Semua orang tahu kalau Seijuurou tengah berusaha biasa saja dengan kepergian adik bungsu mereka meski usahanya sama sekali tak membuahkan hasil.

Rasanya konyol sekali, merasa bersalah hanya karena membawa pulang burger.

"Ah, Daiki sudah pulang," sambut Seijuurou. Ia menyunggingkan sebuah senyum lemah.

Daiki tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan senyuman itu. Senyum itu justru membuat Seijuurou makin terlihat tidak baik-baik saja di mata Daiki.

Pada akhirnya, Daiki hanya memejamkan mata sesaat, membalas sambutan Seijuurou dengan sebuah 'ya' lalu berjalan menuju kamarnya.

Ah, ini benar-benar menyiksa.


Kapan Tetsu-chin pulang?

Atsushi menekan tombol kirim.

Pria berambut ungu itu tidak sebodoh itu. Ia tahu pertanyaannya mungkin sia-sia. Mendengar ceritanya tempo hari membuatnya sadar kalau mungkin saja Tetsuya tidak akan pernah pulang lagi. Tidak, mungkin ia pulang, tapi saat itu mungkin ia sudah bukan lagi bagian dari keluarga Akashi.

Atsushi tidak benar-benar mengerti kenapa Tetsuya masih bersedia tinggal dengan ibunya. Walau bagaimanapun, ibunya sudah melakukan hal buruk padanya.

Maka dari itu, Atsushi juga tidak mengerti kenapa Seijuurou membiarkan Tetsuya diambil ibunya.

Tanpa perlu menunggu lama, ponsel Atsushi bergetar. Sebuah pesan baru dari Tetsuya masuk.

Tidak tahu. Kenapa?

Alis ungu Atsushi mengerut. Jawaban tidak pasti seperti itu membuat Atsushi sedikit kesal. Terlebih lagi, Tetsuya masih menyematkan 'kenapa' di pesannya.

Bukankah jawabannya sudah jelas?

Rumah sepi kalau tidak ada Tetsuya.

Atsushi berhenti mengetik sesaat. Apa sebaiknya ia memberitahu Tetsuya soal Seijuurou?

Perasaan Atsushi mengatakan adik bungsu mereka belum tahu keadaan Seijuurou. Kalau ia tahu si sulung sedang tersiksa karena kepergiannya, ia pasti sudah pulang berhari-hari lalu.

Dalam hati, Atsushi mengutuki kebodohan keduanya. Keduanya karena menurutnya, Tetsuya juga bersalah dalam hal ini. Seijuurou harusnya tahu kalau yang Tetsuya inginkan adalah pendapat jujurnya sedangkan Tetsuya harusnya tahu kalau Seijuurou membolehkannya pergi karena kebahagiaannya bukan karena ia benar-benar ingin Tetsuya pergi.

Pada akhirnya Atsushi memutuskan untuk memberitahu Tetsuya.

Tetsuya berhak tahu dan Seijuurou setidaknya berhak mendapatkan kunjungan dari adiknya.


Shogi adalah cara terbaik untuk bisa mengajak Seijuurou bicara berdua.

Mengorek informasi dari Seijuurou paling efektif dilakukan sembari main shogi. Shintarou tahu hal tersebut dari pengalaman. Selain itu, memang ia selalu melakukan cara tersebut jika ada sesuatu yang bersifat pribadi yang ingin ia bicarakan dengan sang kakak.

Maka dari itu, ia mengajak Seijuurou main shogi malam ini.

Shintarou hampir menyesali keputusannya mengajak Seijuurou main.

Seijuurou masih jago bermain, tentu saja. Tapi karena pikiran si sulung tidak sedang berada di sana, ia jadi sering melakukan kesalahan kecil. Sesuatu yang tak akan pernah dilakukan oleh Seijuurou yang biasanya.

Lima belas menit atau bahkan kurang, adalah waktu yang dibutuhkan Seijuurou untuk menang dari siapa pun. Tapi mereka sudah bermain selama dua puluh lima menit dan Shintarou masih bisa mengimbangi pergerakan pion Seijuurou.

Mata hijau Shintarou menyipit melihat sang kakak. Sebelah tangannya terangkat, mendorong gagang kacamatanya.

Menyakitkan melihat kakaknya seperti ini.

Apa sebaiknya sekarang ia bicara?

"Sudah dua minggu lebih ya…" kata Shintarou pelan, memancing. Pria itu melirik kakaknya yang tengah menunduk memandang pion-pion shogi.

Seijuurou mengangkat kepalanya. "Apanya?"

"Tetsuya pergi," Shintarou bisa melihat jelas kalau tubuh kakaknya menegang, "Bukankah dua minggu terlalu lama untuk menginap di tempat teman? Kakak tidak mau menyuruhnya pulang?"

Seijuurou kembali menatap papan shogi di antara mereka. Ia melarikan diri dari tatapan Shintarou, Shintarou tahu. Kekesalan sedikit meletup dalam hati Shintarou.

"Tetsuya sudah izin. Kalau ia belum pulang juga setelah dua minggu mungkin ia perlu mengurus sesuatu yang penting," jawab Seijuurou sembari menggerakkan salah satu pion miliknya.

Langkah yang Seijuurou buat barusan terkesan lemah. Kenapa ia justru menggerakkan pion jenderal emasnya kalau menggerakkan pion menteri akan lebih efektif untuk memblokir pergerakan pion Shintarou?

Kakaknya pasti terlalu terdistraksi untuk menyadari kelemahan langkah yang ia buat.

"Kakak terlihat tenang sekali. Biasanya dua hari Tetsuya menginap Kakak sudah meneleponnya beberapa kali," serang Shintarou.

Shintarou tidak ingin terlihat seakan ia benar-benar peduli, seakan ia benar tahu permasalahannya.

"Ia sudah besar. Ia pasti bisa menjaga diri. Kakak tidak benar-benar perlu mengkhawatirkannya lagi," jawab Seijuurou. Mungkin bagi orang lain jawabannya terdengar enteng tapi tidak bagi Shintarou. Bahu Seijuurou masih kelihatan tegang, itu berarti ia tidak benar-benar menganggap percakapan ini 'enteng'.

Selain itu, jawaban macam apa itu? Benarkah Seijuurou mengatakan itu? Hipokrit sekali. Siapa yang selalu cerewet bertanya ini-itu ke adik-adiknya jika mereka pulang telat sedikit? Siapa yang menunggui Tetsuya pagi-pagi ketika ia terjebak badai dan menginap di tempat teman?

Kalau semua yang Seijuurou lakukan itu bukan khawatir, lalu disebut apa?

"Apa Kakak tidak berpikir ia sedang bermasalah dengan seseorang di rumah? Makanya ia tidak mau pulang sampai sekarang," tanya Shintarou. Ia sudah mulai kehabisan kesabaran. Lebih baik ia langsung ke inti permasalahan saja.

Shintarou awalnya pikir tidak mungkin tubuh Seijuurou menegang lebih dari ini tapi ternyata ia salah.

Sebelum Seijuurou sempat membalas, Shintarou sudah memotongnya, "aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetsuya sudah bercerita."

Seijuurou kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Shintarou. Matanya terlihat sedih. Shintarou perlu menahan diri agar tidak mengerutkan alis melihatnya.

"Kenapa tidak melarang Tetsuya? Aku tahu Kakak tidak suka dengan ini."

Alis Seijuurou berkerut, seakan tidak setuju dengan pernyataan Shintarou barusan.

"Kakak tidak masalah dengan semua ini. Lagi pula, keputusan bukan di tangan Kakak, Shintarou."

Shintarou perlu menahan diri dari menepuk dahinya frustrasi. Kenapa kakaknya tidak mengerti? Tidak, ia menolak mengerti. Ia bahkan menolak mengakui kalau ia tidak baik-baik saja dengan semua ini.

"Kak, aku tahu Kakak tidak suka dengan kepergian Tetsuya. Kenapa tidak bilang saja padanya?"

Alis Seijuurou berkerut makin dalam. Shintarou makin kesal melihatnya.

"Kakak sudah bilang kalau Kakak—"

"Aku tahu Kakak tidak baik-baik saja. Akui saja, Kak."

Seijuurou diam saja meski matanya tak berhenti menatap Shintarou. Setelah beberapa saat ia menghela napas. Salah satu kebiasaan baru yang ia dapatkan selama dua minggu Tetsuya tidak di rumah. Seijuurou lantas memutus kontak mata. Jemarinya disilangkan lantas ia tumpukan dahinya di atasnya .

Permainan shogi mereka terlupakan sudah.

"Kakak sudah bilang padanya kalau ia memang ingin, Kakak tidak akan melarangnya. Sekarang ia pergi, jadi berarti ia memang ingin, kan?" balas Seijuurou. Bahkan sudah seterpojok ini pun ia masih tidak bisa mengatakan dengan jujur apa yang ia inginkan. Orang benar-benar harus memerhatikan dengan cermat agar bisa mengetahui keinginannya yang tersirat dalam kata-kata.

Kini ganti Shintarou yang menghela napas panjang.

"Aku dengar dari Tetsuya kalau waktu itu ia menanyakan pendapat Kakak, apa itu benar?"

Seijuurou diam sesaat lantas mengangguk. Ia masih belum mengangkat wajahnya.

Shintarou menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia diam sesaat. Dalam benaknya ia berusaha menghitung hingga sepuluh, sebuah upaya untuk menenangkan diri sendiri.

"Tetsuya menanyakan pendapat Kakak, itu berarti ia masih menghormati perasaan Kakak. Tapi Kakak malah menjawab seperti itu, aku rasa ia justru jadi merasa tidak benar-benar diinginkan di rumah ini."

Kepala Seijuurou terangkat cepat. Matanya membelalak lebar. Ia kelihatan seakan ia sama sekali tidak berpikir hingga ke sana.

Shintarou ingin sekali menepuk wajahnya sekarang.

"Tapi ia tidak perlu memikirkan perasaan Kakak. Tetsuya harusnya tahu kalau yang terpenting bagi Kakak adalah kebahagiaannya…" gumam Seijuurou lirih tapi cukup keras untuk bisa didengar Shintarou.

Ini lagi.

Shintarou mulai muak mendengarnya.

"Dengar, Kak. Menurutku Kakak benar-benar harus berhenti mengesampingkan diri sendiri—"

"Tapi itu egois, Shintarou. Kakak tidak boleh egois seperti itu," balas Seijuurou sengit. Ia terkesan seakan tidak mau disalahkan dalam hal ini.

"Egois sesekali itu tidak apa-apa!" balas Shintarou. Untuk pertama kalinya ia menaikkan volume suaranya ketika berbicara dengan Seijuurou.

Seijuurou kelihatan terkejut sekali dengan tindakan Shintarou barusan hingga ia diam saja. Yah, tidak heran, karena selama dua puluh dua tahun mereka bersama, tak pernah sekali pun Shintarou membangkang seperti ini padanya.

Tak pernah terbayang di benak Shintarou sendiri kalau ia akan melakukan ini pada Seijuurou. Baginya, Seijuurou adalah sosok yang harus dihormati. Baginya, Seijuurou memiliki segala yang tak ia miliki. Baginya, Seijuurou adalah sosok sempurna yang kata-katanya mutlak baiknya.

Tapi kali ini berbeda. Seijuurou jelas perlu ditinju.

Seumur hidup Shintarou tidak akan pernah tega meninju kakaknya itu, jadi ia memilih untuk meninju Seijuurou dengan cara lain; kata-kata.

Lagi pula, ia memang sudah muak dengan kelakuan Seijuurou satu ini. Sudah waktunya Shintarou meluapkan rasa muaknya tersebut.

"Kakak selalu mementingkan kebahagiaan kami, selalu mengesampingkan keinginan sendiri demi sesuatu yang Kakak anggap adalah kebahagiaan kami, tapi apa Kakak pernah bertanya apa yang sebenarnya kami inginkan?"

Seijuurou masih diam, masih dengan mata terbelalak menatap Shintarou.

Tentu saja Shintarou belum selesai sampai di situ. Tapi menurutnya ia sudah tak perlu lagi menaikkan volume suaranya di hadapan si sulung. Ia sudah cukup memberikan tinju untuknya.

Tiga detik habis dalam diam. Shintarou mencoba menenangkan diri sesaat.

Sebelah tangan Shintarou terangkat memijat pelipis. "Apa waktu Kakak menyarankan pada Tetsuya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan bersama ibunya, Kakak sudah bertanya padanya apa yang sebenarnya ia inginkan?"


Tetsuya tidak berani mengangkat kepalanya.

Setelah percakapannya dengan Seijuurou, ia jadi tidak benar-benar berani menatap mata Sora. Mungkin ia tidak enak menemui wanita itu karena ia merasa bersalah pada Seijuurou telah berbohong guna menemuinya.

Jika Tetsuya merasa begitu, mungkin memang sebaiknya ia tidak pergi menemui Sora sekarang ini. Tapi masalahnya, Tetsuya juga tidak enak menolak permintaan Sora. Terlebih lagi setelah ia tak bisa memberikan jawaban konkrit atas permintaan Sora waktu itu.

Seijuurou sudah memberikan lampu hijau, memang. Tapi Tetsuya merasa berat meninggalkan keluarga Akashi yang sudah membesarkannya. Berat rasanya meninggalkan Seijuurou. Tetsuya tahu kalau sebenarnya Seijuurou tersiksa dengan ini dan kesadaran itu membuat semua ini semakin sulit.

"Terima kasih sudah bersedia datang menemuiku, Tetsuya," Tetsuya mendengar Sora berkata. Tetsuya melirik cangkir kopi di hadapan Sora. Nada sedih Sora membuat rasa bersalah makin menggunung dalam hati Tetsuya.

"Maaf aku tidak bisa menemui Sora-san akhir-akhir ini," Tetsuya tidak suka berbohong jadi ia memutuskan untuk tidak mengarang sebuah alasan.

Sora sepertinya tidak masalah dengan itu.

Mereka berdua diam. Tetsuya tidak benar-benar ingin bicara dan Sora sepertinya tengah memikirkan sesuatu. Wanita itu mengaduk-aduk kopinya perlahan. Bunyi 'ting' pelan hasil sendok Sora bertemu dengan cangkir menjadi satu-satunya suara yang menemani mereka.

"Apakah Tetsuya sudah memikirkan tawaranku waktu itu?" tanya Sora pada akhirnya.

Ah, ini dia.

Sejak awal Tetsuya tahu kalau Sora mengundangnya makan siang akhir pekan ini untuk menanyakan itu. Sudah dua minggu Tetsuya menggantungkan Sora. Waktu sebanyak itu mungkin menurutnya sudah lebih dari cukup.

Tapi dua minggu berpikir pun Tetsuya masih belum bisa mencapai satu jawaban pasti. Di satu sisi ia merasa tidak enak dengan Sora dan sejujurnya ia ingin merasakan hidup dengan keluarga yang sedarah, tapi di sisi lain ia tidak tega meninggalkan keluarganya yang sekarang.

Ia tidak tega meninggalkan Seijuurou.

Seberapa keras pun Tetsuya meyakinkan diri kalau tidak apa-apa ia pergi, ia tetap tak bisa. Wajah tersiksa Seijuurou waktu itu kembali terngiang-ngiang dalam kepala Tetsuya tiap kali ia memikirkan ini.

Tetsuya masih butuh waktu untuk berpikir.

Ia merasa tidak ada jalan keluar dari masalah ini selain berbohong lagi pada Sora agar ia bisa mendapat tambahan waktu.

"Sudah," jawab Tetsuya. "Tapi aku ingin bertanya pada kakak-kakakku lebih dulu soal ini. Maaf tapi aku butuh lebih banyak waktu untuk memutuskan, Sora-san."

Sora diam saja. Tetsuya khawatir ia telah menyinggung perasaan wanita itu.

Tangan Sora yang sejak tadi mengaduk kopinya kini berhenti. Ia mengangkat cangkirnya, menyesap isinya sedikit.

Tetsuya memerhatikannya sejenak. Sedikit khawatir dengan reaksi wanita tersebut.

"Maaf aku telah menanyakan pertanyaan sulit seperti itu pada Tetsuya. Santai saja. Tetsuya bisa berpikir selama apa pun yang Tetsuya mau," jawab Sora ketika akhirnya ia menurunkan cangkirnya.

Bahu Tetsuya yang tadinya tegang kini melesak sedikit. Lega menyapu seluruh perasaannya.

"Tapi," kata Sora lagi. "Aku punya satu permintaan."

Tetsuya diam. Diamnya Tetsuya dianggap Sora sebagai pertanda untuk melanjutkan. Wanita itu menautkan jemarinya di atas meja. Sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Aku ingin sekali bertemu dengan keluarga Akashi. Aku ingin berterima kasih karena mereka sudah membesarkan Tetsuya sekaligus membicarakan bagaimana ke depannya. Bolehkah?"

Sejujurnya, sejak bertemu Sora, tak pernah sekali pun Tetsuya membayangkan momen di mana Seijuurou dan Sora bertemu. Tak pernah terlintas di benaknya kalau salah satu dari mereka akan meminta bertemu yang lain.

Bagaimana ini? Apa Seijuurou bahkan mau menemui Sora? Semua anggota keluarga Akashi tahu betapa si sulung tidak menyukai Sora. Tidak, sebenarnya selain Tetsuya, tak ada satu pun anggota keluarga Akashi yang menyukai Sora.

Apa yang akan terjadi seandainya mereka berdua bertemu?

Astaga.

Bagaimana ini? Apa yang sebaiknya Tetsuya lakukan?

Sepertinya sudah saatnya Tetsuya pulang.


Special thanks to: Frincess620, fukudakey3, nene kerebek, Sayounara Watashi, Kaito Akahime, Lateliv, Ai and Augut 19, valeryy0x0x, Prince'ss218, murochan, Sayaka Minamoto, ainkyu, Dewi 729, Yuki Carlyle, VT Lian, Hinamori Hikari, kyokohikari, Tamu, 27aquarrow72, Yose Hyuann, teman minum kopi.

Balesan buat yang gak login:

Lateliv: coba perasaanmu masukin loyang terus masukin oven, siapa tau ntar jadi kue wkwkwk.

valeryy0x0x: gapapa, gak ada yang namanya telat kok wkwkwk. Waah makasih, jadi malu ih wkwkwk. Nah loh, pengen cepet selesai tapi gak mau selesai wkwkwk. Sabar ya, chapter depan harusnya selesai kok hehe. Makasih review dan pujiannya :)

Tamu: that dia gak songon-songong amat tho wkwkwkwk. Makasih, duh jadi malu dipuji-puji gitu hehe. Wah apa aku perlu bikin 2 versi ending cerita ini? wkwkwk /gak

SURPRISE! AKU DATANG LAGI! Belom ganti bulan padahal wkwkwk. Ya itu karena aku pengen fic ini abis sebelum 2017 selesai jadi kucepetin updatenya hehe. Update berikutnya mungkin sekitar tanggal 15 Desember so please look forward to it wkwkwk.

Tapi jujur, aku agak kesulitan ngetik chap terakhir soalnya di chap itu aku harus nulisin karakter Akashi yang gak pernah dijelasin di manga ataupun di anime. Jadi aku bener-bener ngeraba-raba(?) eh pokoknya ngira-ngira karakternya, pokoknya abu-abu banget deh, kalo ternyata OOC banget maafkeun daku :(

Makasih buat review dan fav-nya gais, I LOVE YOU TO THE MOON AND BACK :*

Review please?