Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR! ROMANCE AHEAD!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 28 tahun
Shintarou = 25 tahun
Atsushi = 24 tahun
Ryouta = 22 tahun
Daiki = 21 tahun
Tetsuya= 17 tahun
Enjoy!
Chapter 30: He is Only Human, After All
Ketika tempo hari Atsushi memintanya pulang dan menjelaskan padanya kalau Seijuurou benar-benar merindukannya, Tetsuya tidak benar-benar ambil pusing. Pemuda itu merasa itu wajar. Ia sendiri juga merindukan Seijuurou, juga merindukan keluarga Akashi. Tapi ia merasa belum saatnya pulang, toh kakaknya sendiri yang berkata ia boleh pergi.
Bahkan ketika Sora berkata ia ingin menemui keluarga Akashi, Tetsuya tidak begitu saja mengemasi barangnya dan pergi dari rumah Kagami. Ia merasa ia perlu menunggu sehari. Ia merasa perlu menenangkan diri sejenak. Ia tidak boleh gegabah dalam menangani hal ini karena jika ia salah langkah, hubungan dua keluarga akan rusak. Suami Sora adalah pemilik rumah sakit tempat Shintarou bekerja, siapa yang tahu apa yang akan terjadi kalau hubungan keluarga mereka rusak?
Tapi kira-kira sejam setelah makan siang dengan Sora, datang pesan dari Daiki. Ia meminta Tetsuya pulang tapi alasan kenapa ia meminta si bungsu pulang tidak ia jelaskan. Sampai di poin ini, Tetsuya masih belum merasa perlu buru-buru pulang.
Sore hari yang sama, datang telepon dari Ryouta. Ryouta menjelaskan panjang lebar bagaimana ia rindu si bungsu, begitu juga dengan Seijuurou. Kali ini, Ryouta menjelaskan dengan detail bagaimana sikap Seijuurou selama Tetsuya tidak ada. Ryouta menjelaskan bagaimana Seijuurou kelihatan sering termenung, kemungkinan besar memikirkan Tetsuya. Ryouta menjelaskan bagaimana mata Seijuurou selalu mencari-cari sosoknya tiap ia masuk ruangan.
Mendengar penjelasan Ryouta membuat hati Tetsuya terenyuh. Keputusannya untuk menunda pulang sebentar langsung goyah. Benarkah Seijuurou seperti itu?
Meski sangat sulit, Tetsuya berusaha untuk meyakinkan diri kalau pulang sekarang bukan tindakan tepat. Salah-salah karena kebingungannya sendiri ia justru salah menyampaikan pesan Sora.
Tetsuya berusaha meyakinkan diri kalau Seijuurou sesungguhnya tidak seperti itu. Ia pasti baik-baik saja. Yang dibicarakan ini Seijuurou, ia selalu bisa mengendalikan perasaan serta tindakan di segala situasi. Ryouta pasti hanya melebih-lebihkan.
Tapi satu sisi diri Tetsuya tidak setuju. Ryouta adalah kakaknya yang paling peka kedua setelah Seijuurou. Jika ia berkata kalau Seijuurou separah itu, maka hampir bisa dipastikan memang begitulah Seijuurou.
Malamnya, ketika Tetsuya tengah rebahan di futon yang digelar di kamar Kagami, datang pesan dari Shintarou. Pesannya sangat singkat. Hanya sebuah permintaan untuk pulang dan sebaris kata 'Kak Seijuurou butuh Tetsuya'.
Pesannya sangat singkat. Tapi rasanya pesan itu benar-benar menohok hati Tetsuya. Kalimat Shintarou secara tidak langsung memperkuat kata-kata Ryouta tadi.
Tetsuya berusaha untuk tidak benar-benar menghiraukan pesan kakak-kakaknya, terutama pesan Shintarou. Ia menyelipkan kembali ponselnya di bawah bantal lantas memejamkan mata, mencoba mendatangkan kantuk.
Tapi usahanya sia-sia saja. Bukan kantuk yang datang padanya, justru rasa bersalah bertubi-tubi menghantamnya.
Tetsuya merasa ia bodoh sekali. Bagaimana bisa emosi sesaat membuatnya melakukan ini? Apa yang ia pikirkan? Kenapa tidak pernah terbersit di benaknya bagaimana perasaan Seijuurou selama dua minggu ini? Bagaimana perasaannya ketika berpikir selama dua minggu ini Tetsuya tinggal dengan Sora?
Bagaimana bisa ia pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun, tanpa memberi kabar apa pun pada Seijuurou?
Tetsuya mengutuki diri sendiri.
Bagaimana ia bisa tega melakukan itu pada si sulung?
Seketika itu juga, rasa rindu pada Seijuurou yang ia tahan selama dua minggu terakhir ini membuncah.
Tetsuya tidak tahan lagi. Rasa bersalah sekaligus rindu tak bisa lagi ia bendung. Ia ingin sekali pulang. Ia ingin sekali meluruskan permasalahan ini dengan Seijuurou. Ia ingin meringankan beban pikiran kakaknya.
Tetsuya buru-buru meraba bawah bantal, mencari ponselnya. Apa ia masih bisa mengejar kereta terakhir?
Sayangnya tidak. Jam di sudut layar ponselnya menunjukkan pukul satu malam kurang lima belas menit. Kereta terakhir berangkat lima belas menit lagi. Tidak mungkin Tetsuya mengejarnya sedangkan ia belum mengemasi bajunya sama sekali. Lagi pula tidak sopan kalau ia pergi begitu saja tanpa pamit pada Kagami dan keluarganya.
Tetsuya mematikan kembali ponselnya lantas menyelipkannya lagi ke bawah bantal. Pemuda itu menyibak selimut. Sembari berusaha agar tidak berisik, ia menjejalkan baju-bajunya ke dalam tas. Ketika dirasanya tak ada lagi barangnya yang tertinggal, ia kembali masuk dalam selimut.
Jika ia tidak bisa mengejar kereta terakhir, ia akan mengejar kereta pertama.
"Kau yakin kau akan baik-baik saja?" tanya Kagami.
Biasanya Kagami bukan orang yang peka terhadap sekelilingnya, tapi sekali ini ia menyadari ada yang salah dengan sahabat karibnya. Sejak keluar untuk menemui seseorang kemarin, Tetsuya jadi sering sekali melamun.
Melihat itu membuat Kagami merasa memang benar ada yang salah dengan sahabatnya. Tapi Tetsuya tidak mau menjawab ketika Kagami menyinggungnya dan Kagami merasa tidak pantas memaksa Tetsuya bicara jika ia memang tidak mau.
Meski begitu, tetap saja Kagami khawatir.
Dalam keadaan seperti itu, apa Tetsuya bisa pulang dengan selamat sampai rumah?
Apa sebaiknya Kagami mengantarnya pulang?
Tetsuya berdiri, mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya masing-masing dua kali ke tanah. Ketika ia merasa sudah siap pergi, ia menatap Kagami tepat di mata lantas memberikan sebuah senyum lemah.
Kagami tahu itu adalah senyum meyakinkan milik Tetsuya. Tapi sayangnya senyum itu tak pernah berhasil meyakinkan Kagami kalau temannya baik-baik saja. Efek yang diberikan senyum itu justru sebaliknya.
Mungkin kesangsian Kagami terlihat di wajahnya karena Tetsuya berkata, "aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah mengizinkanku menginap di tempatmu dua minggu ini, Kagami-kun."
Kagami menjawabnya hanya dengan sebuah geraman afirmatif di tenggorokan. Otaknya masih memikirkan hal apa yang sekiranya bisa mengganggu Tetsuya hingga ia tak benar-benar bisa memberikan sebuah jawaban yang jelas.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai ketemu, Kagami-kun," kata Tetsuya sebelum menghilang di balik pintu.
Dahi Kagami mengerut. Ia mengusap kepalanya frustrasi sembari menghela napas panjang.
Empat belas tahun mereka berteman tapi hingga sekarang pun Kagami masih tidak mengerti apa yang ada dalam kepala anak itu.
Kata-kata Shintarou waktu itu terus terngiang dalam kepala Seijuurou. Selain karena Shintarou mengucapkannya dengan volume suara yang tidak biasa, juga karena kata-katanya sangat menohok Seijuurou.
Benar, ia sama sekali tidak menanyakan keinginan Tetsuya saat itu. Yang ada di benaknya kala itu hanyalah Tetsuya sedang dihadapkan dengan kebahagiaannya jadi seharusnya ia meraih kesempatan itu. Ia sama sekali tidak berpikir hingga ke sana.
Apa yang sebenarnya Tetsuya inginkan saat itu? Apa ia ingin mengambil keputusan setelah mendengar bagaimana pendapat jujur Seijuurou mengenai itu? Apa ia ingin mendengar bagaimana perasaan Seijuurou sesungguhnya mengenai itu?
Tapi tidak seharusnya Tetsuya membuat keputusan berdasarkan perasaan Seijuurou…
Seharusnya Tetsuya memikirkan perasaannya sendiri saja…
Ah, sekarang ia jadi semakin ingin menemui Tetsuya. Ia ingin bertanya apa yang sebenarnya Tetsuya inginkan waktu itu. Benarkah ia ingin tinggal dengan ibunya dan meninggalkan keluarga Akashi begitu saja?
Seijuurou mengambil ponsel pintarnya dan menatapnya lekat-lekat. Apakah sebaiknya ia menelepon? Apa sebaiknya tunggu hingga Tetsuya pulang?
"Telepon saja-ssu," Seijuurou menoleh ke balik bahunya. Ryouta berdiri di sana, sebuah senyum lemah tersungging di bibirnya.
"Kalau memang ingin, telepon saja Tetsu," sahut Daiki dari sofa di seberang Seijuurou. Seijuurou beralih menatap adiknya satu itu.
Daiki mengusap kepalanya asal. Ekspresinya menyiratkan kalau ia kesal atau mungkin juga geram. Mungkin ia geram melihat kelakuan Seijuurou.
Seijuurou jadi bertanya-tanya apakah ia benar-benar sudah membuat adik-adiknya kesal. Sebegitu kesalnya hingga bahkan Shintarou pun membangkang padanya.
"Ah, tidak, Kakak hanya—"
"Kalau mau menelepon Kak Momoi juga tidak apa-apa, kok," sahut Shintarou dari sisi lain ruang keluarga. Atsushi yang duduk di sebelahnya mengangguk setuju.
Alis Seijuurou mengerut. Kenapa tiba-tiba mereka membawa-bawa Momoi? Bukankah barusan mereka tengah membicarakan Tetsuya? Apa jangan-jangan mereka sudah tahu kalau ia dan Momoi…? Apa Tetsuya memberitahu mereka?
Tunggu, kalau mereka tahu, sejak kapan mereka jadi suportif soal ini? Bukankah sebelumnya mereka benar-benar tidak setuju Seijuurou menikah? Bukankah mereka bahkan tidak mau tahu siapa pasangan Seijuurou? Apa yang terjadi tanpa sepengetahuannya?
Sebelum Seijuurou sempat bertanya lebih jauh, pintu depan rumah terbuka. Sebuah suara halus yang mereka kenal betul menyerukan sebaris 'aku pulang'. Lima anggota keluarga Akashi yang tengah bersantai di ruang keluarga kala itu sontak menoleh ke arah pintu. Ruang keluarga rumah mereka terhubung dengan pintu depan oleh lorong maka dari itu siapa pun yang datang pasti akan melewati ruang keluarga.
Apa mereka tidak salah dengar? Apa yang baru saja pulang benar-benar Tetsuya?
Mereka menunggu.
Sosok pendek berkulit pucat berambut biru langit muncul di ambang pintu. Mata biru pemuda itu menatap mata kakak-kakaknya yang balas menatapnya. Mereka semua terdiam. Tetsuya sendiri juga tidak kunjung bergerak dari tempatnya.
Seijuurou jadi orang pertama yang berdiri.
Sejujurnya, perasaan campur-aduk dalam benak Seijuurou. Ia senang Tetsuya kembali, jelas. Ia ingin memarahi Tetsuya karena pergi begitu saja. Di saat yang sama, rasa cemas kalau ini akan jadi terakhir kalinya Tetsuya pulang memenuhi dada Seijuurou.
Ia ingin sekali memeluk Tetsuya, meresapi momen adiknya masih di sini, membanjirinya dengan berbagai pertanyaan tapi ia berusaha menahan diri. Ia ingin sekali membombardir Tetsuya dengan pertanyaan yang berhubungan dengan keputusannya, tapi ia juga tidak ingin kebahagiaan sementara ini menguap.
Maka dari itu ia memutuskan untuk tidak bertanya.
"Selamat datang," setelah beberapa saat, Seijuurou akhirnya berhasil bicara.
Seijuurou meneliti Tetsuya. Semuanya terlihat baik-baik saja. Tidak ada luka macam apa pun pada Tetsuya. Itu bagus.
Tapi wajah Tetsuya terus tertunduk dan sebelah tangannya mencengkeram tali tasnya terlalu kuat. Ia terlihat seakan tak mau memertemukan mata dengan kakak-kakaknya. Ia kelihatan murung. Adik bungsu mereka sepertinya tengah berusaha merangkai kata-kata dalam kepalanya.
"Ada yang ingin aku katakan pada kalian semua, terutama pada Kak Seijuurou," kata Tetsuya setelah beberapa saat.
Jantung Seijuurou serasa berhenti. Ekspresi dan nada itu… apa Tetsuya akan membawa sebuah kabar buruk untuk mereka? Apa adiknya benar-benar akan meninggalkan mereka?
"Bagaimana kalau Tetsuya meletakkan barang dan ganti baju dulu?" tawar Seijuurou. Selain ia merasa Tetsuya akan butuh waktu untuk merangkai kata, ia juga merasa ia sendiri butuh waktu untuk memersiapkan diri.
Sepertinya adik-adiknya yang lain juga berpikir demikian karena mereka mengiyakan dari balik bahu Seijuurou.
Untungnya Tetsuya menurut. Pemuda itu berbalik lantas menaiki tangga menuju kamarnya.
Seijuurou bisa mendengar napas-napas tertahan yang diembuskan, termasuk miliknya sendiri. Ia kembali duduk. Hatinya dipenuhi rasa khawatir. Bagaimana kalau memang ini terakhir kalinya Tetsuya pulang?
Seijuurou melirik adik-adiknya. Atmosfer berat yang tiba-tiba menggantung di antara mereka membuat Seijuurou merasa perlu mengatakan sesuatu untuk sedikit mencerahkan suasana. Tapi melihat ekspresi adik-adiknya yang sepertinya tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing, membuat Seijuurou jadi urung membuka percakapan.
Sepuluh menit berlalu dan akhirnya Tetsuya muncul lagi. Pemuda itu sudah berganti baju menjadi kaus tipis dan celana pendek. Ia mengambil tempat di sofa tiga orang yang diduduki Ryouta dan Daiki. Ia duduk tepat di antara mereka.
"Tetsuya dari mana saja?" tanya Seijuurou, berusaha membuka percakapan. Meski ia sebenarnya sudah bisa menebak ke mana Tetsuya pergi selama dua minggu belakangan, demi basa-basi ia sebaiknya bertanya.
Tetsuya masih menunduk. Pemuda itu menelan ludah.
"Aku menginap di tempat Kagami-kun."
Alis Seijuurou dan empat adiknya yang lain terangkat tinggi. Apa Tetsuya sedang berbohong? Bukankah selama dua minggu ini ia berada di tempat ibunya?
Mata merah Seijuurou berusaha meneliti wajah adiknya, mencari tanda-tanda kalau ia berbohong. Tapi Seijuurou hapal betul kebiasaan Tetsuya. Jika berbohong, Tetsuya akan mengatakan hal tadi sembari memalingkan muka dan menghela napas, tapi ia tidak begitu. Itu berarti ia tidak sedang bohong.
Empat adik Seijuurou yang lain melempar pandang padanya. Dalam diam bertanya apakah Tetsuya berbohong. Seijuurou diam saja. Ia sendiri tidak tahu.
Adik-adiknya sepertinya sudah sepakat menyerahkan keadaan padanya. Maka dari itu, Seijuurou memutuskan untuk bertanya lebih jauh.
Seijuurou membuka mulut, hendak bertanya, tapi Tetsuya memotongnya.
"Sekarang itu tidak penting," kata Tetsuya. Akhirnya anak itu mengangkat wajahnya. Ia menatap Seijuurou lurus-lurus. "kemarin aku menemui ibuku."
Seijuurou tidak tahu harus merasa bagaimana. Ia merasa harusnya ia senang karena Tetsuya mengejar kebahagiaannya tapi di sisi lain ia marah, ia sedih. Seijuurou tidak tahu harus mengatakan apa. Ia bahkan tidak tahu harus berekspresi bagaimana.
Maka dari itu ia diam saja, memersilakan Tetsuya meneruskan kata-katanya.
"Ia bertanya apa aku sudah memutuskan," Seijuurou memasang telinganya baik-baik. Tanpa sadar, ia menahan napas. "dan kubilang aku ingin bertanya pada kalian dulu mengenai ini."
Sekarang ganti Seijuurou yang menundukkan kepala.
Konflik batin itu datang lagi. Tinju Seijuurou mengepal di pangkuannya. Satu sisi dirinya ingin bersikap egois dan meneriakkan larangannya pada Tetsuya sedangkan sisi dirinya yang lain ingin menceramahi Tetsuya karena ini semua tentang Tetsuya, tidak seharusnya ia meminta pendapat mereka mengenai ini.
Tapi Seijuurou menahan diri untuk tidak mengatakan apa pun dulu. Salah-salah masalah akan jadi makin runyam jika ia mengatakan sesuatu yang salah sekarang ini.
Sepertinya adik-adik Seijuurou juga berpikiran sama karena mereka juga diam saja.
"Ibuku bilang ia ingin bertemu dengan kalian," alis Seijuurou kontan mengerut mendengarnya. Ia sama sekali tak punya keinginan menemui wanita itu. "ia bilang ia ingin berterima kasih pada kalian karena sudah merawatku dengan baik sekaligus membicarakan bagaimana ke depannya. Bagaimana menurut kalian? Apa kalian mau menemuinya?"
Seijuurou melirik adik-adiknya dari sudut matanya. Alis Shintarou mengerut dalam dan bibirnya melengekung ke bawah, jelas anak itu tidak suka dengan gagasan Tetsuya barusan. Ryouta memasang tatapan tajam terbaik yang ia miliki meski ia tak menujukan itu untuk siapa pun. Daiki menyilangkan tangan di depan dada tapi ekspresinya kurang lebih sama dengan Shintarou. Atsushi bahkan tidak mau melihat Tetsuya.
Adik-adiknya tidak mengatakan apa pun, tapi jelas dari bahasa tubuh mereka kalau mereka menolak.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Seijuurou. Di saat seperti ini, ia benci sekali dirinya sendiri. Untuk sekali ini, ia ingin sekali bersikap seperti anak-anak dan dengan jelas mengatakan ia tidak ingin, ia tidak suka, menemui ibu Tetsuya. Tapi tentu saja sisi rasionalnya selalu menang.
"Kakak bersedia menemuinya."
Semua kepala menoleh ke arahnya. Tinju Seijuurou mengepal makin erat di pangkuannya.
"Kakak yakin?" tanya Shintarou. Adiknya satu itu kelihatan skeptis. Entah kenapa Seijuurou merasa adiknya meneriakinya hipokrit dengan ekspresinya semata.
Seijuurou mengangguk. "Bukankah tidak sopan kalau menolak menemuinya? Kalau kalian tidak mau, biar Kakak saja."
Tetsuya memandanginya dengan pandangan aneh. Alisnya mengerut dan matanya menyipit. Ada apa? Apa ada yang aneh dengan kata-katanya barusan?
Seijuurou memutuskan untuk tak mengacuhkannya.
"Lalu satu lagi yang ingin kutanyakan adalah tentang ajakan ibuku untuk tinggal bersama lagi. Aku merasa tidak adil bagi kalian kalau aku pergi begitu saja. Makanya aku ingin tanya, bagaimana menurut kalian? Apa tidak apa-apa kalau aku pergi?" tanya Tetsuya.
Pertanyaan ini lagi.
Seijuurou memejamkan mata erat.
Kenapa Tetsuya masih menanyakan pertanyaan ini? Bukankah jawaban Seijuurou sudah jelas kemarin? Sisi rasional diri Seijuurou mencemooh Tetsuya.
Seijuurou tahu kalau bukan ia yang menentukan kebahagiaan Tetsuya. Ia juga tahu kalau seharusnya ia bertanya dulu mengenai keinginan Tetsuya sebenarnya sebelum bicara macam-macam. Tapi kebiasaan lama sulit dihilangkan.
Seberapa keras pun ia mencoba, ia tetap merasa tidak seharusnya Tetsuya memikirkan perasaannya, memikirkan pendapatnya, untuk memutuskan perkara ini. Ini semua soal Tetsuya, tidak ada hubungannya dengan Seijuurou, maka dari itu harus Tetsuya putuskan sendiri.
"Aku tidak suka Tetsu-chin tinggal dengan perempuan itu," Seijuurou mendengar Atsushi menjawab terang-terangan.
Ah, seandainya ia bisa berkata seperti itu juga. Seijuurou iri.
Seijuurou tidak mendengar respon apa pun dari Tetsuya. Ia rasa Tetsuya hanya mengangguk paham menanggapi pendapat jujur Atsushi.
"Aku juga tidak suka Tetsuyacchi tinggal dengan ibu Tetsuyacchi. Aku tahu ini egois tapi apa Tetsuyacchi sendiri tega meninggalkan kami-ssu?"
Pertanyaan bagus. Apa Tetsuya sendiri tega meninggalkan keluarga Akashi? Meninggalkan Seijuurou?
"Maka dari itu aku bertanya sekarang," jawab Tetsuya datar.
Siapa yang Seijuurou bohongi? Ada perasaan senang menelusup dalam hatinya ketika Tetsuya berkata begitu. Secara tidak langsung adik bungsunya berkata kalau ia menyayangi mereka dan tidak tega meninggalkan mereka begitu saja.
Tapi ini justru membuat semuanya terasa semakin sulit untuk Seijuurou.
Kata-kata Tetsuya tadi membuat keinginan dalam diri Seijuurou semakin kuat memberontak, meminta dikabulkan. Logikanya hampir tidak bisa membendung keinginannya lagi.
Bagaimana Seijuurou harus menjawab kalau Tetsuya bertanya padanya sekali lagi? Bagaimana kalau nanti Tetsuya mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan, ia inginkan? Apa Seijuurou masih bisa mengedepankan logikanya jika ia sudah mendengar keinginan Tetsuya?
"Menurut Kak Daiki dan Kak Shintarou bagaimana?"
"Tidak usah ditanya juga sudah jelas, kan. Kami tidak setuju," kata Daiki dengan nada menggerutu khasnya.
"Aku tidak peduli kalau aku egois. Tapi setelah semua yang dilakukannya, kurasa sampai kapan pun aku tidak akan bisa membiarkanmu kembali pada ibumu, Tetsuya," jawab Shintarou akhirnya setelah beberapa saat diam.
Sejujurnya, Seijuurou cukup terkejut mendengar pernyataan Shintarou. Adiknya satu itu jarang sekali bisa jujur terhadap perasaannya. Seijuurou tahu ia sebenarnya peduli pada banyak hal, tapi ego anak itu terlalu besar hingga menghalanginya mengekspresikan rasa sayangnya.
Lihat, bahkan Shintarou saja jujur pada perasaannya sekarang, begitulah kata keinginan egois Seijuurou.
Seijuurou mendengar dengusan geli. Ia rasa dengusan itu berasal dari Tetsuya.
"Baiklah, aku mengerti," Seijuurou bisa mendengar senyum dalam nada bicaranya, "bagaimana dengan Kak Seijuurou?"
Meski dengan mata tertutup rapat, Seijuurou masih bisa merasakan tatapan adik-adiknya. Ia membuka matanya, menatap adik-adiknya. Benar saja, mereka semua tengah menatapnya penuh harap. Tapi mereka mengharapkan apa? Apa mereka berharap Seijuurou akan menahan Tetsuya pergi?
Ia tidak ingin Tetsuya pergi, tentu saja. Sama seperti yang dikatakan Shintarou tadi, sampai kapan pun Seijuurou tidak akan pernah rela adiknya kembali pada sang ibu.
Tidak boleh! Itu egois! Raung sisi rasional Seijuurou saat itu juga, melarangnya bersikap egois.
Apa yang sebaiknya Seijuurou katakan? Ia benar-benar tidak mengerti.
Seijuurou tidak tahu…
Tidak bisakah seseorang memberitahunya apa yang sebaiknya ia lakukan?
Kepalan tinju Seijuurou mulai bergetar. Ia menundukkan kepalanya lagi.
Tetsuya menoleh ke arah Seijuurou. Sejak tadi kakaknya satu itu diam saja. Ia bahkan memejamkan mata erat-erat selagi yang lain mengutarakan pendapat mereka. Apa ia tengah mengalami konflik batin?
Kemungkinan adanya konflik batin dalam diri Seijuurou anehnya justru membuat Tetsuya senang.
Tetsuya ingin sekali mendengarkan pendapat jujur Seijuurou seperti pendapat kakak-kakaknya yang lain. Ia ingin Seijuurou mengesampingkan apa yang menurutnya baik untuknya. Ia hanya ingin mendengarkan keinginan murni Seijuurou mengenai hal ini.
Maka dari itu ia sengaja mengalihkan pembicaraan pada Seijuurou. Ia sengaja menanyakan pendapat Seijuurou lagi.
Seijuurou membuka matanya, menatap mereka yang juga menatapnya. Tapi si sulung diam saja. Hanya tangannya yang mengepal di pangkuan yang bergetar. Kepalanya yang tadinya sempat terangkat kini kembali tertunduk.
Tetsuya menatap kakaknya penuh harap.
Ayo, katakan, pikir Tetsuya.
"Kakak…" kata Seijuurou akhirnya. Untuk kedua kalinya dalam rentang waktu dua minggu, Seijuurou kelihatan berusaha keras hanya untuk bisa mengeluarkan apa yang ada dalam kepalanya. Seijuurou menarik napas. "Kakak tidak masalah kalau Tetsuya memang ingin tinggal dengan ibu Tetsuya."
Jawaban Seijuurou membuat bahu Tetsuya melesak turun. Hal yang sama berlaku untuk kakak-kakak Tetsuya yang lain.
Tapi kali ini Tetsuya tidak akan lari seperti dua minggu yang lalu.
Tetsuya akan mengkonfrontasi Seijuurou kali ini. Ia sudah terlalu muak dengan kelakuan Seijuurou.
"Bohong," sergah Tetsuya. Kepala Seijuurou yang tadinya sempat terntunduk kini terangkat cepat. Mata merah kakaknya membelalak, menatapnya tidak percaya. Alis merahnya kembali berkerut.
"Tidak, Kakak benar-benar—"
"Aku ingin dengar keinginan Kakak. Aku tidak mau dengar embel-embel 'kalau Tetsuya mau'. Apa yang sebenarnya Kakak rasakan tentang ini? Tolong, sekali saja, jujur pada kami. Tidak apa mengutarakan keinginan sesekali."
Tetsuya berusaha untuk lebih jelas dalam mengutarakan keinginannya. Kali ini ia tidak menggunakan kata 'pendapat'. Ia tidak mau Seijuurou salah menangkap maksud kata-katanya lagi.
Meski rasanya nyaris mustahil, tapi kerutan dahi Seijuurou makin dalam. Getaran kepalan tangannya makin hebat.
Mungkin perang batin yang ia alami juga makin hebat.
Melihatnya yang sepertinya tengah berusaha begitu keras untuk mengutarakan apa yang ada dalam kepalanya membuat Tetsuya hampir iba. Melihatnya kebingungan memilih antara mengutarakan perasaan atau logikanya membuat hati Tetsuya pedih.
Apakah ini hasil menahan keinginan selama belasan tahun?
Tetsuya tidak tega melihatnya. Ia merasa bersalah karena bagaimana pun juga, ia salah satu penyebab Seijuurou menahan keinginan pribadinya hingga seperti ini.
"Kenapa masih bertanya?" akhirnya Seijuurou berhasil membuka mulut. Suaranya terdengar tercekat dan bergetar. Sepertinya sebagian dirinya masih mencoba menahan diri. "Kenapa masih menanyakan perasaanku soal ini? Tanpa bertanya pun harusnya kalian sudah tahu, kan?"
Seijuurou menelan ludah.
Tetsuya dan kakak-kakaknya yang lain bertukar pandang sesaat sebelum akhirnya menatap Seijuurou lagi.
"Tentu saja aku tidak suka Tetsuya pergi menemui ibunya apalagi kembali padanya. Tentu saja aku tidak suka perempuan itu setelah semua yang ia lakukan pada Tetsuya. Ia membuang Tetsuya dengan begitu mudahnya lalu sekarang ia ingin mengambil Tetsuya kembali? Ia pikir ia siapa?"
Jujur saja, Tetsuya terkejut.
Di hadapannya, di hadapan mereka semua, Seijuurou akhirnya mengeluarkan emosi terdalamnya. Nada suaranya kian meninggi seiring dengan keluarnya kata-kata dari mulutnya. Ekspresinya, nada suaranya, sudah cukup untuk jadi bukti kalau kata-kata Seijuurou berasal dari dalam hati.
"Aku yang mengambil Tetsuya waktu itu. Aku yang membesarkan Tetsuya. Aku yang mengubah cara pandang Tetsuya tentang dirinya sendiri. Aku yang membuat Tetsuya menyadari potensi Tetsuya sesungguhnya. Aku yang menangkap Tetsuya tiap Tetsuya jatuh. Sekarang ia dengan mudahnya mengatakan kalau ia ibu Tetsuya? Ia tidak tahu diri…"
Seijuurou memejamkan matanya erat-erat lagi. Sepertinya bicara jujur dari hati seperti ini benar-benar sulit untuknya. Ia menghirup napas panjang lalu mengembuskannya.
Tetsuya masih terlalu terkesima untuk bisa bereaksi. Begitu juga dengan kakak-kakaknya yang lain. Yah, sebenarnya ia tidak benar-benar ingin mengatakan apa pun, melakukan apa pun. Ia terlalu takut kata-katanya akan menghentikan Seijuurou ketika akhirnya ia bersedia bicara.
Tapi… siapa yang sangka kalau jauh dalam hatinya Seijuurou berpikir begitu? Seijuurou yang mereka kenal selama ini adalah Seijuurou yang sempurna, yang tidak mengeluh. Seijuurou yang mereka kenal adalah orang baik yang selalu bisa melihat sisi positif seseorang, yang tidak pernah membenci siapa pun. Seijuurou mereka hampir tak pernah menaikkan intonasi ketika bicara. Seijuurou yang biasanya tidak akan pernah menyebut seseorang tidak tahu diri.
Senyum tipis merekah di bibir Tetsuya.
Ternyata memang kakak sulungnya hanya manusia biasa.
"Kalau memang Kakak tidak suka pada ibunya Tetsuya, lalu kenapa masih bersedia menemuinya?" tanya Shintarou.
Tetsuya tidak tahu apa kakaknya itu hanya sekadar ingin tahu atau sebenarnya ia tengah memancing Seijuurou mengeluarkan emosinya lebih dalam.
"Sebenarnya aku tidak ingin menemuinya, sama sekali tidak ingin. Tapi aku tidak seharusnya bersikap seperti itu. Ayah tidak pernah mengajariku bersikap begitu. Itu egois. Aku tidak boleh egois…"
Kedua tangan Seijuurou terangkat, menumpu dahi. Jemarinya menggenggam helai-helai poninya erat-erat.
Dalam benak, Tetsuya bertanya-tanya apa kalimat 'aku tidak boleh egois' sudah menjadi mantra yang Seijuurou ucapkan berulang-ulang selama ini. Apa ia selalu mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak egois?
Tapi syukurlah, sekarang Seijuurou berhasil melewati kekangan dirinya sendiri.
Tetsuya memandang kakak-kakaknya, yang balas menatapnya. Serentak mereka tersenyum lantas menghela napas.
Itu yang mereka tunggu-tunggu. Itu yang mereka ingin dengar selama ini.
Seijuurou yang memiliki keinginan pribadi, Seijuurou yang berpikiran egois. Seijuurou sang manusia biasa. Itu yang mereka ingin lihat.
Tetsuya bangkit dari sofa dan melangkah maju. Ketika ia sampai di hadapan Seijuurou, ia berlutut. Saudara-saudaranya yang lain mengikuti. Tak berapa lama, mereka sudah duduk di hadapan si sulung. Dengan lembut, Tetsuya menarik tangan Seijuurou, menjauhkan tangannya dari wajah.
Mata biru langit Tetsuya bertemu mata merah Seijuurou. Berbagai macam perasaan campur aduk dalam mata merah kakaknya. Terlalu banyak perasaan di sana hingga Tetsuya tidak tahu lagi apa yang sebenarnya tengah Seijuurou rasakan saat ini. Di matanya jelas ada sedih, mungkin ia sedih tidak bisa menjadi sosok sempurna hingga akhir. Di sana juga ada kecewa, mungkin kecewa pada diri sendiri karena mengalah pada keinginan pribadi.
Ada satu lagi emosi negatif dalam mata Seijuurou tapi tak dapat diidentifikasi Tetsuya.
"Terima kasih, Kak. Itu yang ingin kudengar," kata Tetsuya lembut. Ia berusaha menenagkan kakaknya, berusaha mengatakan tidak apa-apa lewat tindakannya. "Tapi seperti yang kubilang tadi, sesekali egois itu tidak apa-apa."
Mata Seijuurou menyipit. "Tidak bisa begitu—"
"Apa ini karena ajaran Ayah?" tanya Daiki. Seijuurou menggeleng pelan.
"Bukan hanya itu. Aku sangat menyayangi kalian. Karena itu aku ingin mengurus kalian, membuat kalian tumbuh menjadi orang hebat. Kalau aku egois, aku tidak akan bisa membesarkan kalian dengan baik. Keinginan egoisku hanya akan menghalangi."
Dari sudut matanya, Tetsuya bisa melihat kalau alis empat kakaknya yang lain berkerut dalam mendengarnya. Tetsuya juga sama saja. Ia benar-benar tidak habis pikir. Dari mana Seijuurou mendapat pemikiran seperti itu?
Meski ingin sekali membantah, mereka semua menahan diri. Wajah Seijuurou jelas mengatakan kalau ia belum selesai bicara.
"Supaya aku bisa membesarkan kalian, aku harus sempurna. Aku tidak boleh lemah. Keinginan egois seperti itu hanya akan jadi kelemahan. Kalian tidak butuh orang lemah. Yang kalian butuhkan adalah superman."
Benarkah itu yang selama ini dipikirkan Seijuurou? Itukah yang selama ini selalu Seijuurou lakukan? Berusaha menjadi superman? Demi mereka?
Kembali terbayang di benak Tetsuya bagaimana kerasnya usaha Seijuurou selama ini. Sejujurnya, Seijuurou tidak punya kewajiban untuk terus mengurus mereka setelah kepergian ayah mereka. Toh mereka bukan saudara kandung. Seijuurou bisa saja memasukkan mereka ke panti asuhan lalu hidup nyaman bersama pamannya.
Tapi Seijuurou memilih untuk tidak melakukannya. Seijuurou memilih untuk merangkul mereka semua, memberi mereka atap untuk bernaung, makanan, perhatian bahkan waktu. Setelah menampung mereka pun, sebenarnya Seijuurou bisa saja hanya membesarkan mereka. Membesarkan dalam artian hanya memberikan kebutuhan dasar mereka, dengan kata lain kebutuhan sandang, pangan, papan. Seijuurou tidak harus meladeni semua masalah yang mereka berikan.
Seijuurou sesungguhnya tidak perlu repot-repot berusaha agar Shintarou menerima Tetsuya dulu. Seijuurou sesungguhnya tidak perlu repot-repot meladeni segala permintaan kekanakan Ryouta. Seijuurou tidak perlu bersabar menghadapi tingkah Atsushi. Seijuurou tidak perlu terus bersikap baik pada Daiki. Seijuurou sesungguhnya tidak perlu repot menangkap Tetsuya tiap kali ia jatuh. Seijuurou sebenarnya tidak perlu datang sendiri ke sekolah adik-adiknya tiap kali mereka melakukan masalah. Seijuurou sebenarnya tidak perlu merendahkan diri, membungkukkan badan meminta maaf atas segala kesalahan yang adiknya lakukan.
Tapi Seijuurou tetap melakukannya. Seijuurou tetap bertahan melewati segala kesulitan yang telah mereka berikan.
Sebenarnya seberapa jauh ia mendorong diri sendiri demi mereka?
Tetsuya berterimakasih. Ia sangat, sangat berterimakasih atas segala usaha yang telah dilakukan Seijuurou. Sejak ia baru masuk keluarga Akashi, ia tahu ia tak akan pernah bisa membalas apa yang telah Seijuurou lakukan untuknya.
Tapi sudah cukup. Semua yang Seijuurou lakukan sudah cukup. Sudah lebih dari cukup malah. Sudah saatnya Seijuurou tahu kalau yang mereka butuhkan sesungguhnya bukan superman.
"Aku sangat berterimakasih untuk semua yang telah Kakak lakukan untuk kami," kata Tetsuya. "Tapi kami tidak butuh superman, Kak. Kami tidak ingin superman."
Tetsuya menggelengkan kepalanya perlahan.
Seijuurou menatapnya tidak percaya. Tetsuya balas menatapnya dengan pandangan paling lembut yang ia punya. Rasanya aneh berada dalam posisi ini. Biasanya posisi mereka terbalik. Biasanya Tetsuya yang kesulitan mengungkapkan sesuatu lalu Seijuurou akan berlutut di hadapannya, memandangnya lembut lantas membujuknya bicara perlahan.
"Benar. Kami tidak ingin superman-ssu," sahut Ryouta. Seijuurou mengalihkan pandangannya pada Ryouta.
"Kami butuh Akashi Seijuurou," kali ini Daiki yang bicara. Bahkan pria berkulit gelap itu menanggalkan ekspresi garangnya saat ini dan menggantinya dengan ekspresi lembut.
"Kami ingin Akashi Seijuurou," kata Atsushi.
"Akashi Seijuurou yang manusia," tambah Shintarou cepat sebelum Seijuurou sempat membuka mulut untuk protes.
"Tapi—" Seijuurou terlihat tidak terima dengan pernyataan adik-adiknya. Alisnya tak berhenti berkerut, Tetsuya tidak akan heran kalau setelah ini alis Seijuurou tidak bisa kembali seperti semula.
"Dengar," kata Shintarou, memotong kata-kata Seijuurou. "Kakak menginginkan yang terbaik untuk kami. Begitu juga kami. Bagi kami kebahagiaan Kakak nomor satu."
Seijuurou mengedarkan pandangannya pada adik-adiknya. Mungkin pria itu tengah mencoba mencari kebohongan dalam ekspresi adik-adiknya. Tentu saja ia tidak akan menemukannya. Tidak mungkin ia menemukannya.
"Kami sangat berterima kasih karena Kakak bersedia mengesampingkan diri sendiri demi kami. Tapi sudah cukup, Kak. Kami sadar Kakak manusia dan Kakak juga harus menyadari itu. Tidak apa-apa menginginkan sesuatu sesekali," tambah Daiki, menimpali Shintarou.
Seijuurou diam saja.
Tetsuya menghela napas. Seijuurou memang tidak mengatakan apa-apa tapi ia tahu kalau kakaknya itu masih tidak sepenuhnya setuju dengan mereka. Pasti dalam hatinya ia masih merasa keinginan pribadi bukan sesuatu yang sebaiknya dituruti.
Mereka berenam diam saja. Tetsuya masih memikirkan kata-kata apa yang sebaiknya ia katakan agar Seijuurou mengerti. Mungkin kakak-kakaknya juga berpikir demikian.
"Kalau Kakak ingin menikah juga tidak apa-apa," kata Atsushi tiba-tiba. Mereka semua menoleh ke arah Atsushi. Alis pria itu mengerut, mulutnya juga terkesan melengkung ke bawah. Jelas ia sendiri sebenarnya tidak senang mengatakannya tapi menahan diri. "Maaf karena sebelumnya aku bilang aku tidak suka."
Tatapan Seijuurou melembut mendengarnya. Tetsuya bisa melihat ketegangan di bahunya menguap sedikit. "Tidak apa-apa kalau memang kalian tidak suka. Aku sudah berpikir ulang dan membatalkan rencanaku."
Kekhawatiran Tetsuya benar-benar terjadi. Seijuurou benar-benar sudah memutuskan hubungannya dengan Momoi demi mereka. Ah, kenapa kakaknya satu ini bodoh sekali?
"Tapi kami juga sudah berpikir ulang dan kami berubah pikiran-ssu," kata Ryouta. Kali ini pria itu tidak mengatakannya sambil tersenyum. Ia terlihat sangat serius. Sesaat, ia tidak terasa seperti Akashi Ryouta. Seijuurou membuka mulut, tapi Ryouta mendahuluinya, "tolong jangan seperti itu. Bukankah sudah kami bilang kalau bagi kami kebahagiaan Kakak nomor satu-ssu? Kami ingin Kakak bahagia-ssu."
"Sudah kami bilang, kami tidak ingin superman, jadi berhentilah sok kuat, Kak," kata Daiki. Nada bicara pria itu sedikit tajam, jelas menandakan kalau ia kehabisan kesabaran. "Lagi pula, mungkin menjadi superman memang baik, tapi lihat apa yang hampir saja terjadi karena Kakak bersikeras sok kuat."
Kata-kata Daiki benar-benar menohok. Kalau Tetsuya tidak lihai mengendalikan ekspresinya, mungkin ia sudah meringis mendengar kata-kata Daiki. Seijuurou di hadapannya saja sampai menyipit matanya mendengarnya.
Tapi kata-kata Daiki benar. Karena Seijuurou gigih mengikuti akal sehatnya, mereka nyaris akan kehilangan Tetsuya.
Apa Seijuurou masih bersedia meneruskan kebiasaannya meski tahu kalau hal itu dapat membuatnya kehilangan sesuatu yang penting?
Seijuurou diam saja. Tapi matanya menyiratkan kalau ia tengah berpikir keras. Melihatnya kehilangan pegangan seperti ini membuat Tetsuya iba. Ia rasa sudah cukup untuk hari ini. Seijuurou mungkin butuh waktu untuk berpikir. Yang penting sekarang adalah menetapkan apakah kakak-kakaknya bersedia menemui Sora dulu.
Tetsuya melempar pandang pada Daiki, memintanya untuk menahan diri. Daiki terlihat cemberut tapi ia menurut.
"Mungkin untuk sekarang sebaiknya kita kesampingkan itu dulu. Jadi, bagaimana? Apa Kakak masih bersedia menemui ibuku?" tanya Tetsuya sekali lagi, memastikan. "Kakak tidak perlu memaksakan diri. Kalau memang tidak mau, tidak apa-apa. Aku akan menyampaikan sesuatu padanya nanti."
Seijuurou menggeleng. Ia mengangkat kepalanya. Mereka berdua bertatapan. "Tidak apa. Aku tetap bersedia menemuinya. Katakan saja kapan dan di mana kita akan menemuinya."
Shintarou menghela napas panjang. Tetsuya sendiri tersenyum tipis, maklum. Bagaimana pun juga, kebiasaan lama tidak akan hilang semudah itu.
"Tidak sopan kalau aku tidak menemuinya," kata Seijuurou, menatapi adik-adiknya satu per satu. Daiki membuang muka. "paling tidak, aku harus menemuinya untuk mengatakan aku tidak suka Tetsuya diambil."
Semua yang ada di ruangan itu membelalakkan mata. Daiki bahkan cepat-cepat menoleh guna dapat melihat Seijuurou.
Tetsuya sendiri terkejut. Ia menatap Seijuurou dengan mata terbelalak. Sulit rasanya memercayai pendengarannya. Apa ia tidak salah dengar? Apa Seijuurou bilang ia akan menemui Sora untuk mengatakan ia tidak setuju Tetsuya pergi?
Seijuurou memberikan senyum lemah pada mereka semua. Senyumnya membuat hati Tetsuya lega. Meski masih sulit baginya, Seijuurou benar-benar akan menuruti keinginannya kali ini.
Senyum itu menular, sekarang Tetsuya percaya pepatah itu. Karena begitu Seijuurou memberikan senyum lemahnya, mereka semua balas tersenyum padanya.
Bohong kalau Seijuurou mengatakan ia tidak gugup.
Setelah berdiskusi panjang dengan Tetsuya mengenai waktu yang tepat, akhirnya mereka sepakat untuk bertemu Sora seminggu kemudian saat jam makan siang. Karena bingung sebaiknya bertemu di mana, Seijuurou menyanggupi saran Tetsuya untuk bertemu di sebuah restoran mewah yang katanya pernah ia datangi bersama Sora.
Sekarang di sinilah ia, di restoran mewah tersebut. Karena adik-adiknya bersikeras tak ingin menemui Sora, jadilah Seijuurou dan Tetsuya saja yang pergi. Mereka berdua mengambil tempat duduk di samping jendela, agar mudah melihat Sora ketika wanita itu datang, kata Tetsuya.
Tempat duduk yang mereka tempati sesungguhnya untuk dua orang tapi Tetsuya meminta pelayan mengambil kursi tambahan untuknya. Tadinya Seijuurou mengajaknya duduk di kursi empat orang, tapi Tetsuya menolak. Adiknya itu merasa akan lebih adil jika pengaturan tempat duduknya seperti ini. Dengan begini, ia jadi terkesan tidak memihak siapa pun.
Kata-kata Tetsuya ada benarnya, jadi Seijuurou tidak menolak.
Meski ia tahu kalau suatu saat Tetsuya akan bertemu –atau menemui—ibunya, sejujurnya Seijuurou tidak pernah membayangkan dirinya akan bertemu ibu Tetsuya. Ia tidak memiliki niatan untuk menemui ibunya dan ia tidak berpikir ibu Tetsuya akan meminta bertemu.
Lonceng yang digantung di pintu masuk restoran berbunyi. Secara bersamaan, Seijuurou dan Tetsuya menoleh ke arah pintu masuk. Meski jarak mereka ke pintu masuk lumayan jauh, tapi Seijuurou bisa melihat Sora tersenyum lebar ketika ia melihat Tetsuya. Wanita itu bergegas menghampiri mereka.
Meski tidak suka, Seijuurou merasa omongan Tetsuya ada benarnya. Mungkin Sora memang tidak seburuk itu.
Ketika melihat Seijuurou, Sora terlihat sedikit terkejut. Mungkin ia tidak menyangka kalau orang yang membesarkan anaknya masih begitu muda. Yah, Seijuurou sudah terbiasa dengan reaksi itu.
"Selamat siang, maaf saya terlambat," kata Sora ketika ia sampai. Seijuurou cepat berdiri lalu membungkuk.
"Selamat siang. Tidak, kami saja yang terlalu cepat datang," balas Seijuurou. Seijuurou lantas memersilakan wanita itu duduk.
"Sora-san," panggil Tetsuya. "Ini kakak sulungku, Akashi Seijuurou. Ia yang sudah membesarkanku. Kak Seijuurou, ini ibuku, Sora."
Dalam posisi duduk di hadapan Seijuurou, Sora membungkukkan badan. "Saya Sora, ibu kandung Tetsuya. Terima kasih karena telah membesarkan Tetsuya selama ini dan maaf karena telah merepotkan Anda."
Aneh rasanya mendengar ada orang yang berterimakasih karena telah membesarkan adiknya. Seijuurou membesarkan adik-adiknya karena ia menyayangi mereka, jadi menurutnya itu bukan sesuatu yang perlu diberi ucapan terima kasih.
Seijuurou balas membungkuk sekenanya pada Sora.
"Saya Akashi Seijuurou, putra sulung keluarga Akashi. Tidak apa-apa, saya senang bisa membesarkannya. Lagi pula Tetsuya tidak pernah membuat masalah."
Dari sudut matanya, Seijuurou bisa melihat kalau alis Tetsuya berkedut sedikit ketika Seijuurou berkata ia tidak pernah membuat masalah. Mungkin ia tidak benar-benar setuju dengan kata-kata Seijuurou.
Mereka terdiam sesaat. Sepertinya Sora tidak tahu harus mengatakan apa dan Seijuurou sendiri tiak benar-benar ingin mengatakan sesuatu pada wanita di hadapannya. Tetsuya, melihat kecanggungan yang mengalir di antara mereka, mengusulkan agar mereka memesan makanan. Seijuurou dan Sora setuju.
Setelah memesan makanan, mereka bertiga menunggu dalam diam. Seijuurou duduk di kursinya tanpa bergerak sedikit pun. Ia tahu sejak tadi Tetsuya meliriknya sesekali, mungkin berharap ia akan membuka percakapan seperti ketika ia dengan adik-adiknya. Ia juga bisa melihat kalau Sora sebenarnya gugup berhadapan dengannya seperti ini. Hal itu terbukti dari tangannya yang sejak tadi berkutat dengan serbet.
Sayangnya, rasa tak suka terlalu mendominasi hati Seijuurou hingga ia enggan berbicara dengan wanita ini jika memang tidak perlu.
Seijuurou tahu ia tidak seharusnya membenci seseorang yang baru pertama kali ia temui. Terlebih lagi, ia hanya mengetahui Sora dari cerita Tetsuya. Itu sangat tidak profesional, bahkan tidak dewasa. Tapi ketika Tetsuya pertama bercerita padanya mengenai Sora, usianya baru tiga tahun. Anak tiga tahun tidak mungkin berbohong.
Sulit rasanya untuk memandang netral Sora setelah apa yang ia lakukan pada adik bungsunya.
Ketika akhirnya mereka selesai makan, barulah Sora berani angkat suara.
"Anu, Bagaimana kabar keluarga Akashi?" tanya Sora. Pertanyaan basa-basi, Seijuurou tahu. "Apa mereka baik-baik saja?"
Seijuurou menyesap air mineralnya dulu baru menjawab, "Mereka baik-baik saja. Saya sangat bersyukur karena adik-adik saya, termasuk Tetsuya, tumbuh menjadi orang-orang hebat."
Sora menunduk, menatap cangkir es kopinya yang tinggal setengah. "Saya dengar Akashi Seijiro-san sudah meninggal belasan tahun lalu? Saya turut berduka atas kepergiannya. Ia benar-benar orang baik."
Meski sudah belasan tahun berlalu, tetap ada rasa sedih mengganjal dalam hati Seijuurou tiap kali ayahnya dibicarakan. Seijuurou berusaha untuk mengontrol dirinya agar tidak menunjukkan reaksi apa pun terhadap kata-kata Sora.
"Terima kasih atas pujian untuk ayah saya, Sora-san."
Tangan Sora masih terlihat bergerak gelisah, kemungkinan di bawah meja sana ia masih memain-mainkah serbetnya. Mungkin ia gugup, mungkin juga ia bingung bagaimana memulai pembicaraan yang sesungguhnya.
Apa mungkin ia merasa terintimidasi di bawah tatapan Seijuurou? Tapi Seijuurou bahkan tidak memberikan tatapan tajam padanya.
Atau mungkin ia memberikannya tanpa sadar?
Seijuurou kembali menyesap air mineralnya.
"Saya dengar, Anda meminta bertemu dengan saya hari ini untuk membicarakan sesuatu. Kalau boleh tahu, hal apa yang sebenarnya ingin Anda bicarakan?" tanya Seijuurou akhirnya. Ia tidak benar-benar ingin pertemuan ini jadi berlarut-larut.
Sora mengangkat kepala. Berbeda dengan sebelumnya, wajahnya kali ini terlihat penuh dengan keyakinan. Hilang sudah sosok gugup Sora tadi.
"Ah, ya. Sebenarnya saya meminta bertemu dengan Anda untuk berterima kasih karena telah membesarkan Tetsuya selama empat belas tahun terakhir," jelas Sora. Seijuurou diam saja. "Saya juga ingin membicarakan bagaimana ke depannya."
Sora tidak menjelaskan apa yang ia maksud dengan ke depannya. Tapi sebelum ini Tetsuya sudah menjelaskan jadi Seijuurou sudah mengerti.
Seijuurou meletakkan gelas airnya. Ia lantas menatap Sora lekat-lekat.
"Begini, saya tahu memang saya sudah melakukan hal buruk pada Tetsuya empat belas tahun lalu dan saya sangat, sangat menyesal," Seijuurou bisa melihat penyesalan di mata Sora, "tapi saat itu saya tidak sanggup merawat Tetsuya karena satu dan lain hal."
Sora berhenti sejenak, menelan ludah.
Seijuurou mengalihkan pandangannya sejenak. Pembenaran diri. Seijuurou merasa yang barusan dikatakan Sora barusan adalah pembenaran diri.
"Tapi sekarang saya sudah sanggup merawat Tetsuya. Kesulitan yang saya alami empat belas tahun lalu sudah berhasil saya lalui. Oleh karena itu, saya ingin sekali menjadi keluarga utuh dengan Tetsuya lagi. Saya ingin membicarakan itu dengan Anda hari ini."
Jengkel dan rasa tidak suka membuncah dalam hati Seijuurou mendengarnya.
Seijuurou berusaha mengingatkan diri sendiri kalau ia tidak boleh begitu saja mengeluarkan apa yang ia pikirkan pada wanita ini. Ia harus tetap tenang. Ia tidak boleh lepas kendali. Hal ini harus dihadapi dengan dewasa dan profesional.
Seijuurou memejamkan mata sejenak. Ketika dirasanya ia sudah cukup tenang, ia membuka matanya lagi lantas kembali menatap mata Sora lekat-lekat. Mata biru langitnya langsung mengingatkan Seijuurou pada Tetsuya. Mereka memang ibu dan anak.
"Saya minta maaf sebelumnya. Tapi sangat sulit bagi saya untuk setuju dengan itu. Tetsuya sudah menjelaskan semua tentang Anda pada saya. Saya juga bisa melihat kalau Anda sudah berubah. Tapi saya rasa Anda mengerti tidak mudah rasanya melepaskan seorang anak. Terlebih setelah saya membesarkannya selama empat belas tahun."
Seijuurou berusaha setenang mungkin ketika mengatakannya. Tapi sepertinya usahanya sia-sia, karena di akhir kalimat, ia merasa nada bicaranya jadi sedikit tajam.
Sora terdiam. Alisnya berkerut. Seijuurou rasa ia tidak terima dengan kata-kata Seijuurou.
Mungkin sebagian diri Sora mengerti perasaan Seijuurou tapi sebagian lainnya merasa ia masih lebih berhak atas Tetsuya.
Sora diam. Dilihat dari ekspresinya, jelas ia tengah mempertimbangkan kata apa yang sebaiknya ia katakan.
"Saya mengerti perasaan Anda. Tapi bukankah seorang anak membutuhkan figur ibu? Saya mengerti Anda sangat menyayangi putra saya. Saya sangat senang mengetahui ada orang yang begitu menyayangi putra saya. Tapi saya sungguh berharap Anda mau mengerti."
Kata-kata Sora menohok Seijuurou. Atas dasar pertimbangan itulah Seijuurou membiarkan Tetsuya menemui Sora selama ini. Karena pertimbangan itulah Seijuurou harus tersiksa tempo hari.
Seijuurou tidak bisa menampik kalau kata-kata Sora ada benarnya. Tapi tetap saja, ia tidak bisa melepaskan Tetsuya hanya karena alasan itu.
Seijuurou tahu ia egois. Tapi adik-adiknya mengajarkannya kalau tidak apa-apa menjadi egois.
Tetsuya melirik Seijuurou. Saat ini, Seijuurou tidak benar-benar tertarik untuk menafsirkan arti lirikan Tetsuya padanya.
Seijuurou menatap gelas airnya.
"Saya mengerti, maka dari itu saya tidak melarangnya menemui Anda. Tapi bukankah Anda tetap bisa menjadi figur ibu tanpa harus tinggal bersamanya?"
Sora berjengit. Seijuurou rasa kata-katanya cukup tepat sasaran karena Sora diam sesaat.
"Tapi bagaimana kalau sewaktu-waktu Tetsuya butuh saya? Kalau saya tidak tinggal bersamanya, bagaimana saya bisa membantunya?" tanya Sora. Ia kelihatan tidak mau kalah.
Entah bagaimana, Seijuurou merasa bisa mengerti bagaimana perasaannya. Setelah empat belas tahun berpisah, Sora pasti ingin bisa bersama dengan putranya lagi. Seijuurou juga merasakan hal yang sama ketika Shintarou kuliah di Hokkaidou.
Tapi keputusan Seijuurou sudah bulat.
Seijuurou melirik Tetsuya sesaat. Ekspresi Tetsuya terlihat datar, tapi Seijuurou tahu kalau sebenarnya ia sedang khawatir. Seijuurou memberikan satu senyum tipis guna menenangkannya.
"Selama saya membesarkannya, saya bisa melihat kalau Tetsuya anak yang sangat mandiri. Ia selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalau memang ia benar-benar butuh bantuan selagi Anda tidak ada, saya bisa membantunya," jawab Seijuurou setenang mungkin. Seijuurou lantas melirik Tetsuya lagi. "Tapi kalau Anda memang bersikeras, bagaimana kalau kita tanya langsung saja pada yang bersangkutan? Apa pun hasilnya nanti, yang menjalaninya adalah Tetsuya. Ia harus memberikan pendapatnya dalam hal ini."
Meski Seijuurou merasa tidak suka karena hasil akhir diskusi ini bukan ia yang menentukan, ia berusaha untuk tetap adil. Bagaimana pun juga, hal ini menyangkut Tetsuya. Maka dari itu Tetsuya harus bersuara.
Untungnya, Sora mengangguk menyetujui. Ia lantas melemparkan pandangan penuh harap pada Tetsuya. Dengan tatapannya, ia membujuk Tetsuya agar bersedia tinggal bersamanya lagi.
Tetsuya menunduk.
Sejujurnya, ada perasaan khawatir kalau adiknya akan benar-benar meninggalkannya. Tapi Seijuurou memutuskan untuk percaya padanya. Ia percaya Tetsuya tidak akan benar-benar tega meninggalkannya begitu saja.
Tapi seandainya Tetsuya memang benar-benar ingin tinggal dengan ibunya, Seijuurou akan berusaha untuk paham. Kebahagiaan adiknya nomor satu. Seijuurou tidak boleh melupakan itu.
"Aku," kata Tetsuya akhirnya. Seijuurou yang sebelumnya sempat menatap gelas airnya, langsung mengembalikan tatapannya pada Tetsuya. Sora, di sisi lain, memajukan posisi duduknya. "Aku sudah memikirkannya. Aku ingin sekali tinggal dengan Sora-san dan merasakan bagaimana rasanya punya keluarga sedarah."
Wajah Sora berubah sumringah sedangkan hati Seijuurou mencelos.
Ah, kalau memang Tetsuya inginnya begitu, Seijuurou bisa apa?
Ingat, kebahagiaan adiknya nomor satu.
Seijuurou menunduk sedikit. Ia berusaha tersenyum, meski ia yakin ia hanya bisa memasang senyum sedih.
"Tapi ternyata aku memang tidak bisa meninggalkan keluarga Akashi begitu saja. Aku terlalu menyayangi mereka. Maaf, Sora-san."
Seijuurou mengangkat wajahnya cepat. Ia memandang Tetsuya dengan tatapan tak percaya.
Benarkah Tetsuya baru saja menolak ajakan Sora?
Refleks, logika Seijuurou menendang masuk. "Tetsuya yakin?"
Tetsuya mengangguk. Kini ganti Sora yang mematung. Wanita itu kelihatan masih terkejut, masih sulit menerima kenyataan. Ia menundukkan kepala.
"Aku sudah memikirkannya berkali-kali. Pada akhirnya, aku memang tidak bisa meninggalkan Kakak begitu saja," jawab Tetsuya mantap sembari menatapnya lurus-lurus.
Meski rasanya tak sopan kalau tersenyum senang saat ini, Seijuurou tetap tak bisa menahan diri dari tersenyum. Sejujurnya, Seijuurou tidak benar-benar berpikir kalau Tetsuya akan memilih untuk tetap bersamanya.
Rasanya ini terlalu surreal.
Sora menghela napas. Seijuurou baru sadar kalau mereka masih bersama dengan Sora. Seijuurou mengalihkan pandangannya pada Sora. Wanita itu mengangkat wajahnya lagi. Matanya terlihat sedih, alisnya juga berkerut, tapi ia berusaha untuk memasang sebuah senyum maklum.
"Yah, kalau memang Tetsuya ingin begitu, mau bagaimana lagi?" Sora mengangkat bahu. "Hanya saja… aku harap Tetsuya masih mau berhubungan denganku."
"Tentu, Sora-san. Aku akhirnya punya ibu setelah empat belas tahun, aku tidak mungkin menyia-nyiakannya," kata Tetsuya. Pemuda itu melirik Seijuurou lantas tersenyum tipis. Seijuurou langsung menyadari kalau adiknya baru saja mengutip kata-katanya tempo hari. "Aku sungguh-sungguh minta maaf karena tidak bisa menyanggupi permintaanmu, Sora-san."
Sora mendengus pelan. Sebelah tangannya terangkat, mengibas sambil lalu. "Tidak apa-apa. Aku akan berusaha mengerti. Lagi pula, sekarang bagiku kebahagiaan Tetsuya yang terpenting."
Sora sengaja menyelipkan kata 'berusaha' yang mana berarti sesungguhnya ia tidak benar-benar menerima semua ini. Tapi paling tidak, ia bersedia mengalah demi Tetsuya. Fakta itu membuat Seijuurou tertegun.
Soramelemparkan sebuah senyum yang sangat lembut untuk Tetsuya. Sebuah senyum yang Seijuurou sadari adalah senyum yang sama dengan yang ia simpan khusus untuk adik-adiknya.
Sora mengalihkan pandangannya pada Seijuurou. Meski tak selembut saat dengan Tetsuya, ia tetap melemparkan senyum dan tatapan yang lembut untuk Seijuurou.
"Meski saya masih berat hati dengan keputusan ini, sejujurnya saya senang sekali ada orang yang sangat baik yang menyayangi putra saya. Kalau sampai Tetsuya pun enggan berpisah dengannya, saya rasa saya bisa memercayakan Tetsuya padanya," kata Sora.
Seijuurou membungkuk sekenanya pada wanita itu. Dengan mantap ia berkata, "saya akan menjaga Tetsuya dengan baik. Anda tidak perlu khawatir."
Sora memejamkan matanya sesaat sebelum menatap Seijuurou lagi.
"Saya juga berharap saya bisa terus berhubungan dengan Anda, Akashi-san. Bagaimana pun juga, saya ingin berhubungan baik dengan orang yang telah merawat putra saya."
Seijuurou mengangguk pasti.
Keikhlasan Sora dalam menerima keputusan Tetsuya membuat pandangan Seijuurou terhadapnya kurang lebih berubah. Meski awalnya ia bersikeras ingin Tetsuya tinggal bersamanya, toh pada akhirnya ia mengalah demi Tetsuya sendiri.
Kalau ia rela mengorbankan keinginannya sendiri demi Tetsuya, mungkin… mungkin ia memang benar-benar sudah berubah.
Mungkin Sora benar-benar tidak seburuk itu.
"Ya?" Pintu di hadapan Ryouta terbuka, menampilkan sosok Momoi yang terkejut melihatnya. "Eh, Ryou-chan? Dai-chan?"
Ryouta dan Daiki diam saja. Mereka bahkan tidak berusaha untuk tersenyum pada Momoi. Momoi memandang mereka dengan pandangan heran. Ryouta mengerti kalau wanita itu bingung. Bagaimana pun juga, mereka datang tanpa pemberitahuan apa pun sebelumnya.
"Ah, ayo masuk," kata Momoi akhirnya ketika menyadari kalau mereka benar-benar tidak berniat menjelaskan apa pun. Wanita itu menahan pintu dengan tubuhnya, memersilakan mereka untuk masuk. "Kalian sedang ada masalah?"
Ryouta menggigit bibir. Rasa bersalah makin kuat bersarang di hatinya.
Kenapa wanita itu masih memerlakukan mereka begitu baik bahkan setelah mereka nyaris merebut kebahagiaannya?
"Kak Momoicchi, maafkan kami-ssu," kata Ryouta akhirnya dengan suara tercekat. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Ia sudah mencoba menyusun percakapan ringan sebelum meminta maaf. Tapi susunan percakapannya buyar ketika Momoi membuka pintu. Setelah itu, otak Ryouta serasa mati mendadak.
Ryouta membungkuk sedalam yang ia bisa, sebuah tanda kalau ia benar-benar menyesal. Ryouta bisa mendengar Momoi mengatakan 'eh?' pelan.
"Kenapa minta maaf? Ryou-chan, kan, tidak salah apa-apa," kata Momoi, kedua tangannya menempel di bahu Ryouta, mencoba membujuknya agar berdiri tegak lagi. Ryouta bersikeras dengan posisinya. Mungkin karena usahanya tidak berhasil, Momoi meminta tolong pada Daiki, "Dai-chan, bantu aku?"
Tapi sepertinya Daiki justru menundukkan kepalanya dalam-dalam karena setelahnya Momoi menjeritkan "Eh, Dai-chan juga?!" tertahan.
"Kalian ini kenapa?" tanya Momoi sembari berusaha membuat mereka berdiri tegak kembali. "Memangnya kalian habis melakukan apa? Aku tidak merasa kalian punya salah padaku."
Baru saat itu Ryouta menegakkan badannya lagi dan menatap Momoi lekat-lekat. "Tapi gara-gara kami, Kak Momoicchi dan Kak Seijuuroucchi…"
Momoi mengerutkan alis tidak setuju. Tapi Ryouta bisa melihat kalau matanya menunjukkan binar sedih. "Kan, sudah kubilang kalau tidak apa-apa di antara kami. Kenapa kalian tidak percaya?"
Ryouta membuka mulut, hendak membantah kata-kata Momoi. Tapi ia didahului adiknya. "Jangan bohong pada kami. Kami sudah tahu."
Kini Momoi menundukkan pandangannya. Mungkin ia merasa sudah kalah, sudah tidak bisa menghindar dari topik itu lagi makanya ia justru mengalihkan pandangannya. Sebelah tangannya terangkat, menggosok lengannya yang tertutup sweater hijau tosca.
Mereka bertiga diam. Ryouta dan Daiki tidak benar-benar tahu bagaimana harus bicara sedangkan Momoi sepertinya ingin cepat-cepat pergi dari sana. Untungnya wanita itu tidak begitu saja masuk lalu membanting pintu di hadapan keduanya.
"Aku tahu ini egois tapi bisakah kami meminta tolong padamu sekali lagi?" tanya Daiki akhirnya. Ryouta menoleh cepat pada adiknya. Apa yang adiknya ini bicarakan? Kenapa justru ingin menambah masalah? Bukankah mereka ke mari untuk menyelesaikan masalah yang telah mereka buat?
"Apa?" tanya Momoi lirih tanpa memandang mereka.
"Kakak kami benar-benar menyayangimu tapi ia sangat bodoh. Makanya, bisakah kau membujuknya agar kalian kembali berpacaran?" tanya Daiki. Pemuda itu mengatakannya dengan wajah sangat biasa, seakan ia hanya meminta tolong pada Momoi untuk membelikannya sesuatu di mini market.
Ryouta menyikut rusuk Daiki. Adiknya ini apa-apaan? Membujuk Momoi untuk meminta kembali berhubungan dengan Seijuurou sejatinya memang tujuan mereka datang ke tempat Momoi. Tapi tidak seperti ini juga caranya.
Jujur itu yang terbaik, Ryouta tahu dan ia percaya itu. Tapi bukankah ini namanya terlalu jujur?
Momoi tertawa pahit. Sebelah tangannya bergerak naik-turun menggosok lengan. "Kalian tahu itu tidak akan berhasil. Lagi pula, tidak apa-apa, aku tidak keberatan ia memutuskanku."
Momoi mengangkat wajahnya lantas menyuguhkan sebuah senyum tipis pada mereka. Ia berusaha mengisyaratkan bahwa ia sungguh baik-baik saja. Tapi efeknya justru sebaliknya. Ryouta dan Daiki justru semakin ingin mengembalikan mereka berdua sebagai pasangan.
Ah, kenapa mereka begitu tidak mementingkan diri sendiri? Menyebalkan sekali.
Kenapa Seijuurou begitu gigih mengesampingkan keinginannya demi adik-adiknya? Kenapa Momoi begitu gigih mengesampingkan keinginannya demi orang yang disukainya dan temannya?
"Tapi tidak ada salahnya mencoba, kan-ssu?" tanya Ryouta.
Momoi menggeleng pelan. Sebelah tangannya mengambil tangan Ryouta sedangkan tangannya yang lain mengambil tangan Daiki lantas ia mengusap punggung tangan mereka lembut.
"Dengar, kami sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan kami. Kami sungguh tidak masalah dengan itu, jadi kalian juga tidak perlu khawatir, oke? Itu bukan salah kalian, sungguh," bujuk Momoi.
"Tapi kami—"
"Hush," potong Momoi, efektif mendiamkan Daiki. Ia meremas tangan Daiki. "Sudah, tidak apa-apa."
Akhirnya Daiki menghela napas panjang. Jelas sekali kalau ia sangat tidak puas dengan percakapan mereka tapi ia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana lagi. Sebelah tangannya yang bebas terangkat mengusap belakang kepalanya.
"Tapi kami masih merasa bersalah tentang ini. Jadi bisakah kami melakukan sesuatu untukmu?" tanya Daiki. Ryouta bisa mengerti ke mana arah pembicaraan Daiki, karena itu ia mengangguk mengiyakan kata-kata pemuda itu.
Entah kenapa Momoi terkekeh. Samar-samar Ryouta bisa mendengar wanita itu mengatakan 'mirip sekali Akashi-kun' di sela-sela kekehannya. Dengan lembut, ia berkata, "apa aku boleh menolak?"
"Tidak-ssu," jawab Ryouta cepat dan tegas. Momoi kembali terkekeh. Ryouta mau tak mau tersenyum.
"Yah, asal kalian tidak berencana melakukan yang aneh-aneh, kurasa tidak apa," kata Momoi akhirnya sembari mengangkat bahu acuh tak acuh.
Ryouta menghela napas lega diam-diam. Di sebelahnya, Daiki juga melakukan hal yang sama.
"Bagaimana dengan makan malam di rumah kami hari Minggu ini-ssu?" tanya Ryouta. Pria itu kembali bersemangat setelah Momoi menjawab positif tawarannya.
Alis Momoi mengerut sedikit mendengar pertanyaan Ryouta. Nyali Ryouta sedikit menciut melihatnya. Apa wanita itu akan menolak? Apa ia berhasil mengendus maksud mereka sebenarnya?
Tidak pernah sebelumnya Ryouta mengutuk ketajaman Momoi, tapi sekali ini ia sungguh, sungguh berharap Momoi tidak peka. Ia benar-benar tidak ingin wanita itu mengerti tujuan mereka mengundang wanita itu makan malam di rumah.
Momoi memandang mereka berdua dengan ragu. Sepertinya ia memang merasa ada yang aneh dengan permintaan tersebut tapi tak yakin dengan intuisinya. Mungkin sekarang ini perempuan itu tengah berdebat dengan diri sendiri, apakah ia sebaiknya mengiyakan atau tidak ajakan mereka.
Setelah kediaman yang menegangkan beberapa saat, akhirnya Momoi menjawab, "baiklah."
Ryouta tersenyum lebar.
Ketika adik-adiknya memintanya meluangkan waktu di akhir pekan agar bisa makan malam bersama, Seijuurou sudah merasa ada yang aneh. Seingat Seijuurou –dan ingatan Seijuurou sangat bagus—hari itu bukan hari yang sangat spesial hingga mereka perlu makan bersama.
Pasti ada sesuatu, pikir Seijuurou waktu itu. Karena ia tidak tahu pastinya apa yang adik-adiknya rencanakan, ia menyanggupi saja permintaan mereka. Toh, pasti adik-adiknya tidak tengah merencanakan yang aneh-aneh.
Oleh karena itu, ia sama sekali tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan ketika melihat Momoi berdiri di balik pintu depan rumahnya. Beberapa saat sebelumnya bel berbunyi dan ia berinisiatif untuk membuka pintu selagi adik-adiknya menyiapkan makanan serta meja.
"Momoi?"
Momoi memasang ekspresi heran. Tapi Seijuurou curiga ia heran bukan karena Seijuurou yang membuka pintu tapi lebih karena Seijuurou heran melihatnya.
"Eh, halo, Akashi-kun."
"Ah, ayo masuk, Kak Momoicchi," kata Ryouta dari belakang Seijuurou. Seijuurou menoleh, melihat adiknya tengah memasang cengiran lebar pada mereka berdua. Seijuurou menyingkir agar Momoi bisa masuk.
Apa maksudnya ini?
Seijuurou menatap Ryouta lekat-lekat dengan alis mengerut. Dalam diam, si sulung menanyakan 'apa-apaan ini?' pada adiknya. Tapi Ryouta hanya melemparkan senyum penuh arti padanya.
"Kak Momoicchi tunggu saja di ruang keluarga-ssu. Sebentar lagi semuanya siap-ssu. Kak Seijuuroucchi temani Kak Momoicchi saja, ya," kata Ryouta tanpa meninggalkan ruang sedikit pun agar Seijuurou bisa berargumen.
Sebelum Seijuurou atau pun Momoi bisa menyangkal, pria itu sudah meninggalkan mereka berdua di ruang keluarga.
Seijuurou bertanya-tanya, apa adik-adiknya merencanakan ini? Apa yang sebenarnya mereka rencanakan sampai mengundang Momoi makan malam?
Merasa sebaiknya tidak berasumsi macam-macam lebih dulu, Seijuurou berusaha menepis prasangka buruk pada adik-adiknya dan memersilakan Momoi duduk. Mereka duduk berseberangan. Momoi duduk di sofa tiga orang sedangkan Seijuurou di sofa satu orang.
Mereka berdua diam, tidak benar-benar tahu harus mengatakan apa. Televisi yang dibiarkan menyala sejak tadi menjadi satu-satunya pengisi suara di antara mereka.
"Kulihat Ryou-chan tidak mengatakan apa-apa padamu soal ini," kata Momoi lirih. Seandainya Seijuurou tidak benar-benar memasang telinga, ia pasti akan melewatkan kata-kata Momoi.
"Ya, begitulah," jelas Seijuurou.
Mereka diam lagi. Sejujurnya, Seijuurou senang melihat Momoi. Tapi sisi dirinya yang lain masih merasa bersalah karena telah memutuskannya begitu saja. Ia juga merasa semakin tidak enak karena Momoi sangat mengerti keadaannya.
Seijuurou ingin meminta maaf, tapi ia tahu kalau Momoi pasti akan menolak permintaan maafnya mentah-mentah, seperti saat malam itu. Bersikap seakan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka juga tidak bisa Seijuurou lakukan. Terlalu sulit rasanya mengesampingkan fakta kalau hingga sekarang pun ia masih menyayangi wanita itu.
"Jadi, bagaimana adik-adikmu, Akashi-kun? Apa mereka masih marah padamu?" tanya Momoi. Wanita itu memain-mainkan jemari di pangkuannya. Ia menolak melihat Seijuurou. Mungkin ia malu, mungkin juga ia takut sakit hati jika melihatnya.
Rasanya aneh sekali, bicara berdua seperti ini dan bukan di tempat kerja. Mereka memang masih berhubungan, tapi hanya di tempat kerja. Saat itu pun mereka hanya membicarakan pekerjaan, jadi tidak benar-benar ada ruang bagi mereka untuk menjadi canggung.
Tapi sekarang mereka tidak sedang bekerja. Semua masalah mengenai pekerjaan sudah diselesaikan di kantor sehingga tidak benar-benar ada yang bisa dibicarakan di sini sekarang. Menyadari semua itu membuat Seijuurou tiba-tiba merasa canggung.
Seandainya mereka belum putus hubungan, mungkin Seijuurou akan senang sekali Momoi makan malam di rumahnya sekarang.
Seijuurou tersenyum tipis. Ia menatap Momoi.
"Mereka justru sedang marah padaku sekarang," jawab Seijuurou jujur.
Jawaban tak terduga Seijuurou berhasil membuat Momoi mengangkat wajahnya cepat. Ia menatap Seijuurou dengan pandangan tak percaya. Satu kata "eh?" pelan meluncur dari bibirnya.
"Tapi, kan, kita sudah tidak…" wajah Momoi berubah pucat. Pasti wanita itu berpikir kalau adik-adik Seijuurou benar-benar marah dengannya karena pernah berhubungan dengan kakak mereka. Pasti ia takut telah menghancurkan hubungan baik keluarga Akashi.
Seijuurou mendengus. Senyum tipisnya melebar.
"Tidak, mereka justru marah padaku karena memutuskanmu," kata Seijuurou, berusaha menghentikan pikiran Momoi sebelum pikirannya bercabang lebih jauh lagi. Alis merah muda wanita itu terangkat makin tinggi.
Pasti ia makin tidak mengerti.
"Eh, bukannya mereka tidak suka kalau kita…"
"Itu sebelum mereka tahu kalau kau pacarku, Momoi," jawab Seijuurou. "Begitu mereka tahu, kita sudah putus. Setelah itu mereka protes padaku. Mereka bilang aku sebaiknya berhenti mengesampingkan diri sendiri."
Momoi berkedip beberapa kali. Tapi selain itu ia tidak melakukan apa pun lagi. Ia lantas menundukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan Akashi-kun sendiri?" tanya Momoi akhirnya. Lagi-lagi ia menolak memertemukan pandangan dengan Seijuurou. "Apa Akashi-kun akan tetap mengesampingkan diri sendiri?"
Seijuurou menyilangkan tangan di depan dada lantas berpikir.
Satu sisi diri Seijuurou ingin, ingin sekali mengikuti nasihat adik-adiknya dan berusaha meraih keinginannya. Tapi sisi dirinya yang lain masih ragu, masih enggan. Apakah meraih keinginan sungguh tidak apa-apa?
Berbeda dengan ketika dengan Tetsuya, keinginannya yang satu ini mutlak keinginan egois yang tidak menyangkut kesejahteraan keluarganya. Ia mengikuti keinginannya menahan Tetsuya pergi karena ia pikir kepergian Tetsuya juga akan berpengaruh pada keluarga. Tapi yang ini? Apa tidak apa-apa kalau ia juga mengikuti keinginannya ini?
"Tidak apa-apa, kok, kalau Kakak memang ingin menikah."
Seijuurou menoleh ke ambang pintu. Di sana berdiri tegak Atsushi. Adik-adiknya yang lain berdiri di belakang Atsushi. Sepertinya awalnya mereka berniat agar tidak ketahuan Seijuurou dan Momoi tapi gagal karena Atsushi tak bisa menahan diri dari bersuara.
Ryouta tertawa gugup di belakang Atsushi tapi lantas ia menghela napas. "Benar-ssu. Kami sudah tidak keberatan kalau Kakak menikah-ssu."
"Kalian tidak perlu memaksakan diri begitu. Lagi pula aku dan Akashi-kun sudah—"
Shintarou menyeruak dari belakang Atsushi. Ia berdiri di depan adik-adiknya lantas membungkuk pada Momoi. Adik-adik Seijuurou yang lain mengikuti, meski Atsushi dan Daiki hanya menundukkan kepala sekenanya.
"Maafkan kami. Kami benar-benar egois dan karena itu Momoi-san juga ikut terkena dampaknya," kata Shintarou tegas.
Jujur saja, Seijuurou terkejut mendengar Shintarou meminta maaf. Seumur hidup, Seijuurou hanya pernah mendengar Shintarou meminta maaf satu kali, yaitu saat ia marah-marah tanpa memberi penjelasan pada Seijuurou ketika Tetsuya baru masuk dalam keluarga mereka. Setelah itu ego Shintarou yang terlalu besar menghalanginya dari meminta maaf.
Momoi bangkit dari duduknya lantas mendorong bahu Shintarou lembut, membujuknya untuk berdiri tegak lagi. Seijuurou juga bangkit dan menyusul Momoi.
Setelah beberapa saat, akhirnya Shintarou kembali menegakkan tubuhnya. Adik-adik Seijuurou yang lain mengikutinya tapi kepala mereka semua masih tertunduk.
"Eh, tidak apa-apa. Kalian tidak perlu minta maaf. Aku sungguh tidak masalah dengan itu," kata Momoi lembut. Wanita itu mengedarkan pandangannya pada semua adik Seijuurou, yang mana justru dibalas dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Tidak, kami sungguh tidak masalah dengan itu. Ya, kan, Akashi-kun?"
Seijuurou masih terpaku memandang adik-adiknya, tapi paling tidak, ia berhasil mengeluarkan sebuah "ya" pelan.
"Tapi kami yang keberatan," jawab Daiki. Pria berkulit gelap itu menatap Momoi lekat-lekat. Entah kenapa, Seijuurou merasa mereka berdua tengah melakukan percakapan lewat mata.
Alis Momoi mengerut. "Tapi, Dai-chan, bukankah kau bilang kau khawatir tidak cocok dengan pasangannya? Bagaimana kalau kalian tidak cocok denganku? Iya, kan, Ryou-chan?"
Momoi mengalihkan perhatiannya pada Ryouta, mencari dukungan dari adiknya satu itu. Sayangnya ia tidak mendapatkannya. "Tapi itu sebelum kami tahu kalau pasangannya Kak Momoicchi! Kami justru lebih suka Kak Seijuuroucchi denganmu dari pada dengan perempuan tidak jelas."
Alis Momoi mengerut makin dalam. "Bagaimana dengan berbagi? Bukankah kalian tidak suka kalau harus berbagi Akashi-kun denganku? Bukankah kalian berpikir aku akan membawa Akashi-kun jauh-jauh?"
Kedua kalinya malam itu Seijuurou terkejut. Benarkah adik-adiknya berpikir seperti itu?
Satu sisi Seijuurou merasa tersanjung karena itu berarti adik-adiknya sangat menyayanginya hingga tak rela berbagi, tapi di sisi lain Seijuurou tak habis pikir kenapa adik-adiknya bisa sampai ke kesimpulan kalau Momoi akan membawanya jauh-jauh dari mereka.
Kali ini Shintarou yang maju dan bicara, "aku sudah menjelaskan pada adik-adikku kalau menikah itu tidak seperti itu. Mereka mengerti. Lagi pula, yang penting bagi kami adalah kebahagiaannya."
Momoi menoleh ke arah Seijuurou. Seijuurou melihat matanya dan mengerti kalau perempuan itu tengah memintanya untuk membantu. Tapi Seijuurou tak bisa menemukan keinginan untuk membantah adik-adiknya.
"Selain itu, aku yakin bagaimana pun statusnya, Kak Seijuurou tidak akan melupakan kami begitu saja. Aku juga yakin Kak Seijuurou bahkan tidak akan keluar dari rumah ini kecuali kami menginginkannya," Tetsuya akhirnya buka suara. Sekilas, ia terkesan mengatakannya sambil lalu tapi siapa pun yang melihat matanya akan tahu kalau ia serius dengan ucapannya.
Mendengar kata-kata Tetsuya, tanpa sadar Seijuurou mengangguk.
Benar, tidak mungkin ia akan meninggalkan mereka, apalagi melupakan mereka.
"Bagaimana dengan Kak Sei sendiri? Kakak inginnya bagaimana?" tanya Daiki, mengalihkan perdebatan itu pada Seijuurou sebelum Momoi bisa buka suara.
Seijuurou bertanya pada diri sendiri. Sebenarnya ia inginnya bagaimana?
Seijuurou menatap adik-adiknya. Ia ingin melihat apa yang sesungguhnya dirasakan adik-adiknya sebelum benar-benar memutuskan. Mereka semua sama, mereka menatap Seijuurou lekat-lekat dengan alis berkerut. Mereka seakan berusaha mengatakan "jangan bohong!" padanya.
Seijuurou kemudian mengalihkan pandangan pada Momoi. Ia tidak pernah mengerti apa yang ada dalam pikiran wanita itu, tapi sekali ini ia bisa melihat kalau Momoi juga tengah berperang melawan keinginannya sendiri.
Setelah beberapa saat berpikir, Seijuurou akhirnya mengalihkan pandangan pada adik-adiknya lagi. "Kalian yakin tidak apa-apa?"
Mata adik-adiknya melebar terkejut. Senyum merekah di beberapa wajah mereka. Ryouta mengangguk cepat. Atsushi mengalihkan pandangannya dari Seijuurou tapi kemudian ia pun mengangguk sekali. Shintarou hanya mendorong gagang kacamatanya tapi ia tidak menolak. Daiki mendengus tapi akhirnya mengangguk. Tetsuya melontarkan sebuah senyum simpul.
"Jangan sampai kehilangan sesuatu yang berharga karena bersikeras sok kuat," celetuk Daiki. Ryouta di sampingnya menyikut rusuknya. Daiki yang tidak terima langsung menatap galak Ryouta.
Seijuurou tersenyum.
Benar. Jangan sampai ia kehilangan sesuatu karena ia bersikeras sok kuat.
"Kalau begitu," Seijuurou memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Momoi. "bagaimana menurutmu, Momoi? Aku tahu sangat egois bagiku meminta ini, tapi bisakah kita mencoba lagi?"
Mata Momoi bergerak liar. Ia menatap adik-adik Seijuurou, seakan ia tengah berusaha mencari sesuatu di mata mereka. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya pada Seijuurou. Alis merah mudanya mengerut dalam.
"Akashi-kun yakin?" tanya Momoi.
Sebenarnya tidak, Seijuurou rasanya ingin menjawab jujur. Ia benar-benar tidak yakin kalau apa yang ia lakukan benar. Tapi dengan persetujuan adik-adiknya, nyaris mustahil rasanya menahan keinginannya lebih lama lagi.
Seijuurou tidak bisa membohongi dirinya lebih lama lagi.
"Kenapa? Kau tidak mau?" tanya Seijuurou.
Momoi menunduk lantas menggosok sebelah lengannya. "Bukan begitu. Hanya saja…"
Seijuurou diam, menunggu Momoi menyelesaikan kata-katanya.
"Apa benar tidak apa-apa?" tanya Momoi akhirnya. Kelihatannya wanita itu tidak tahu bagaimana cara menyampaikan apa yang ada dalam benaknya. "Kalian yakin tidak apa-apa kalau Akashi-kun bersamaku?"
Sekarang rasanya Seijuurou kurang-lebih mengerti perasaan adik-adiknya. Pasti begini lelahnya melihat orang yang rela mengorbankan diri sendiri demi orang lain.
"Benar tidak apa-apa, kok," sahut Atsushi.
Momoi masih menolak menatap keluarga Akashi.
"Aku yakin Kak Momoicchi tidak akan mengambil Kak Seijuuroucchi sepenuhnya-ssu."
Seijuurou mendengar erangan geram dan ia langsung menoleh ke arah Daiki. Adiknya satu itu tengah mengusap kepala frustrasi. "Sudahlah. Kami benar-benar tidak apa-apa. Pokoknya jaga saja kakak kami baik-baik."
Dari sudut matanya, Seijuurou bisa melihat kalau Momoi tersenyum melihat tingkah Daiki. Seijuurou juga mau tak mau tersenyum melihatnya.
Seijuurou mengalihkan pandangannya pada Momoi. "Jadi?"
Momoi diam sesaat. Ia kelihatan masih berpikir keras.
Seijuurou sungguh berharap Momoi bersedia mencoba lagi. Tapi seandainya ia menolak pun, Seijuurou paham. Apa yang telah ia lakukan pada Momoi akan cukup menunjukkan kalau Seijuurou tak akan jadi pacar yang baik. Wajar seandainya Momoi menolaknya karena alasan itu. Lagi pula, wanita senang diproritaskan dan apa yang Seijuurou lakukan tempo hari jelas menandakan Seijuurou tidak akan bisa memrioritaskan Momoi.
"Baiklah. Kurasa tidak ada salahnya mencoba…" tapi tentu saja Momoi tidak menjawab sesuai perkiraan Seijuurou.
Seijuurou mengangkat alis tapi ia akhirnya tersenyum simpul.
Di saat yang sama, Shintarou mendorong gagang kacamatanya sambil tersenyum. Atsushi mencoba menyembunyikannya tapi ia juga tesenyum. Daiki menghela napas lantas memalingkan muka. Samar-samar Seijuurou bisa mendengar pria itu menggumamkan 'dasar dua orang bodoh ini'. Tetsuya menghampiri Seijuurou lantas mengucapkan selamat. Ryouta tidak bisa menahan kegembiraannya dan memeluk erat Momoi.
"Akhirnya! Terima kasih, Kak Momoicchi!" seru Ryouta sembari memeluk Momoi erat-erat dan melonjak-lonjak di tempat. Momoi kewalahan menepuk lengannya, minta dilepaskan.
"Hei, kau ini bagaimana! Jangan memeluknya di depan Kak Sei, bodoh!" seru Daiki. Bersama dengan Shintarou, ia berusaha melepaskan Ryouta dari Momoi.
"Biar saja, Kak Seijuuroucchi pasti tidak masalah-ssu!" balas Ryouta, masih enggan melepaskan pelukannya pada pacar sang kakak.
Seijuurou mendengus melihat interaksi adik-adiknya. Sekali ini ia tidak berusaha menghentikan mereka dari membuat keributan.
Melihat adik-adiknya bereaksi seperti ini, tidak apa-apa, kan, kalau ia merasa ia telah membuat pilihan yang tepat?
Rasanya seperti mimpi. Rasanya aneh, surreal, karena bisa mendapatkan dua hal yang ia inginkan sekaligus. Selama ini Seijuurou selalu mengira kalau ia menginginkan sesuatu maka harus ada yang ia relakan. Tapi apa yang terjadi saat ini menunjukkan sebaliknya.
"Terima kasih," kata Tetsuya lirih di sebelahnya.
Seijuurou mengalihkan perhatiannya dari Daiki yang baru saja menjitak kepala Ryouta. Ia menatap Tetsuya yang tengah tersenyum tipis melihat kakak-kakaknya adu mulut. "Untuk?"
Tetsuya menoleh. Ia memberikan senyum tipisnya yang tulus pada Seijuurou.
"Karena sudah mewujudkan keinginan kami melihat Kakak bahagia," jawab Tetsuya.
Seijuurou memejamkan mata sesaat lantas mendengus. "Kalau begitu, Kakak juga berterimakasih karena kalian bersedia melakukan hal sejauh ini untuk Kakak."
Jika empat belas tahun lalu seseorang memberitahu Seijuurou apa yang akan ia alami, mungkin Seijuurou akan tertawa dan berkata kalau membesarkan anak memang sulit tapi pasti tidak sesulit itu. Sekarang setelah melewati empat belas tahun membesarkan adik-adiknya, ia jadi mengerti susahnya menjadi orangtua.
Empat belas tahun yang mereka lewati memang sulit, kadang bahkan membuat Seijuurou frustrasi, tapi Seijuurou tidak pernah menyesal melewatinya. Bagaimana pun juga, Seijuurou jadi belajar banyak hal dari masalah-masalah yang adik-adiknya bawa.
Melihat adik-adiknya sekarang, rasanya masih sulit bagi Seijuurou percaya kalau ia memang telah berhasil membesarkan mereka.
Lebih tidak percaya lagi karena ia bisa, ia boleh, memiliki keinginan pribadi dan berusaha mendapatkannya selagi ia membesarkan adik-adiknya. Kalau empat belas tahun lalu ada yang berkata begitu padanya, mungkin Seijuurou akan mengerutkan alis menatap orang itu sembari berpikir apakah orang ini sedang bercanda.
Seijuurou menatap adik-adiknya yang tengah duduk mengelilingi meja untuk sarapan.
Matanya berhenti pada Shintarou yang makan dengan tenang sembari sesekali menegur Ryouta yang tidak bisa diam.
Rasanya baru kemarin Seijuurou mengelus kepalanya, menenangkannya setelah ia merasa bersalah karena bersikap tidak adil pada Tetsuya. Sekarang ia sudah jadi dokter, sebentar lagi akan menikah, dan sudah cukup dewasa hingga bisa mengatur adik-adiknya jika Seijuurou tidak ada.
Seijuurou mengalihkan pandangannya pada Atsushi. Adiknya satu itu baru saja meletakkan bekal-bekal mereka di atas meja.
Dulu, ia sempat berpikir sebaiknya tidak membiarkan Atsushi melakukan ini-itu tanpa pengawasan. Dulu, ia sempat berpikir adiknya satu itu perlu perhatian khusus. Dulu, pernah ada saat di mana mereka benar-benar tidak bisa menyatukan pikiran hingga mereka sering adu mulut.
Tapi setelah Seijuurou belajar memercayainya, sekarang ia berubah. Ketidakpercayaannya memberikan kekangan pada Atsushi dan begitu kekangan tersebut dilepaskan, lihat apa yang bisa dilakukan adiknya. Sekarang semua makanan di rumah mereka disiapkan oleh Atsushi. Ia bahkan sudah memiliki tokonya sendiri.
Tapi jika bisa memilih, tentu saja Seijuurou tidak ingin melewati bagian di mana Atsushi babak belur.
Ryouta dan Daiki yang bertengkar karena Ryouta baru mencuri daging panggang Daiki menjadi pusat perhatian Seijuurou berikutnya.
Mengurus mereka berdua, dengan segala kelakuan mereka, tidak pernah mudah. Ryouta dengan keengganannya untuk jujur mengenai masalahnya dan Daiki dengan keengganannya mengatakan apa yang sesungguhnya ia inginkan.
Dari Ryouta ia belajar profesionalisme sedangkan dari Daiki ia belajar mengatakan kebenaran seutuhnya.
Yah, meski Seijuurou akui, hingga sekarang pun ia masih mengatakan kebenaran setengah-setengah, seperti saat ia berkata ia ingin menikah tapi tak bilang dengan siapa. Maklum, kebiasaan lama sulit dihilangkan.
Meski awalnya terlihat gawat, tapi untungnya masalahnya dengan Ryouta bisa cepat terselesaikan sedangkan masalahnya dengan Daiki ternyata berefek lebih panjang dari yang semula ia kira. Hingga sekarang pun kadang Seijuurou masih merasa ada jarak di antara mereka. Tapi mereka punya waktu, sangat banyak waktu, untuk mengubah itu.
Kalau ingat betapa sederhananya sebenarnya masalahnya dengan Daiki, kadang Seijuurou jadi ingin tertawa.
Lalu ada Tetsuya.
Seijuurou mengalihkan tatapannya pada Tetsuya.
Tetsuya dengan latar belakangnya yang sedikit berbeda. Tetsuya dengan katapleksinya. Tetsuya yang diam-diam merasa rendah diri.
Melihatnya makan dengan tenang di salah satu sisi meja makan seperti ini, tersenyum melihat tingkah kakak-kakaknya, membuat Seijuurou kesulitan percaya kalau beberapa minggu lalu ia nyaris kehilangan si bungsu.
Satu hal lain yang ia pelajari dari Tetsuya dan dari adik-adiknya yang lain juga, adalah ia bukan superman. Ia tidak akan pernah menjadi superman. Ia tidak perlu menjadi sempurna untuk mereka, mereka tahu itu, dan mereka lebih senang seperti itu.
Sekali lagi, Seijuurou melihat adiknya satu per satu.
Ia memang sudah berhasil membesarkan mereka hingga ke titik ini dan ia bangga dengan itu.
Tapi bukan berarti pekerjaannya sudah selesai.
"Kalau Kakak melamun terus seperti itu nanti bisa terlambat, lho."
Seijuurou berkedip beberapa kali. Pria tersebut lantas memberikan senyum tipis pada Atsushi. Atsushi hanya mendengus sebelum meletakkan bekal Seijuurou siang itu di hadapannya. Sebuah ucapan terima kasih Seijuurou lontarkan untuknya.
"Tidak biasanya Kakak melamun-ssu. Kenapa? Gugup, ya-ssu?" goda Ryouta dari sisi lain meja makan. Sebelah tangannya menumpu dagu dan ia menatap Seijuurou. Pria berambut pirang itu sepertinya berhasil mengakhiri pertengkarannya dengan Daiki dengan mengalah. Di sebelahnya, Daiki mengunyah telur mata sapinya dengan sebal.
Ryouta mengangkat alisnya dua kali, gigih menggoda Seijuurou. Seijuurou menghela napas meski senyum tetap menghiasi wajahnya.
Seijuurou gugup, tentu. Tapi bukan karena itu ia melamun. Ryouta sepertinya tidak akan mendengar alasan apa pun yang Seijuurou katakan padanya, maka dari itu Seijuurou tidak berusaha menjelaskan apa pun.
Setelah menyelesaikan sarapannya dan mengambil tas kerjanya, Seijuurou beranjak ke pintu depan.
"Kakak melupakan ini," Seijuurou membalikkan badan. Sebelum ia sempat bertanya, sebuah kotak beludru merah sudah dilemparkan padanya. Untungnya ia memiliki refleks bagus hingga bisa menangkap kotak itu dengan mudah.
Ah, bodoh sekali. Bagaimana bisa ia melupakan ini? Rencananya hari ini tidak akan bisa terlaksana tanpa benda krusial ini.
"Terima kasih," kata Seijuurou sembari memberikan sebuah senyum pada Daiki. Daiki tersenyum, mengibaskan sebelah tangannya sambil lalu. Pria berkulit gelap itu lantas memasang sepatunya. Di sebelahnya, Seijuurou duduk. Seperti Daiki, ia mulai memasang kaus kakinya.
Setelah terpasang benar, Daiki mengetukkan sepatunya ke tanah. Pria itu menjangkau kenop pintu namun menghentikan diri. Ia membalikkan badan hingga menghadap Seijuurou. Merasa ditatapi, Seijuurou mengangkat kepalanya, menghentikan kegiatannya memasang sepatu.
Merah bertemu biru gelap. Melihat Daiki, entah bagaimana Seijuurou tahu kalau adiknya ingin mengatakan sesuatu tapi tidak benar-benar tahu bagaimana caranya.
Setelah beberapa saat akhirnya Daiki menyerah. Ia mengusap belakang kepalanya, menghela napas, lantas berkata, "jangan buat ia menangis, Kak."
Sekelebat warna kuning melintas di samping Seijuurou dan tiba-tiba Ryouta sudah berdiri di sebelah Daiki, berusaha memasang sepatunya sambil berdiri. Sebelah tangannya mencengkeram bahu Daiki, menjadikan adiknya pegangan.
"Benar-ssu, jangan buat ia menangis, ya, Kak Seijuuroucchi!" kata Ryouta dengan sebuah senyum lebar. Sekilas ia kelihatan seperti bercanda, tapi ia tahu kalau adiknya itu sama seriusnya dengan Daiki.
Tanpa mereka katakan siapa "ia" yang dimaksud, Seijuurou bisa menangkap maksudnya. Tanpa kata, Seijuurou mengangguk tegas. Jawaban bisu Seijuurou sepertinya cukup bagi mereka karena setelahnya senyum mereka melebar sebelum akhirnya mengatakan sebaris 'aku pergi dulu' dan keluar rumah.
Begitu pintu menutup, Seijuurou kembali memasang sepatunya.
Lalu Tetsuya muncul. Hawa kehadirannya yang tipis membuatnya seakan-akan muncul begitu saja di sebelah Seijuurou. Untungnya Seijuurou sudah terbiasa hingga ia tak lagi berjengit tiap adiknya 'muncul tiba-tiba'. Adiknya membuka rak sepatu, mengambil sepatunya lantas duduk di samping Seijuurou.
"Kak," Seijuurou menghentikan kegiatannya. Ia menoleh. "kurasa Kakak tidak membutuhkannya tapi semoga beruntung."
"Ya, semoga beruntung, Kak Sei-chin."
Seijuurou mengangkat kepalanya, mengucapkan terima kasih pada kedua adiknya lantas mengusap puncak kepala Tetsuya lembut. Kedua adiknya sekali lagi memberikan sebuah senyum padanya sebelum menutup pintu.
Seijuurou menatap pintu yang menutup sebelum berdiri. Ia membetulkan kaus kakinya yang terasa tinggi sebelah. Setelah dirasa sudah benar dan ia memasukkan kotak beludru yang diberikan Daiki tadi dalam tas, pria itu menjangkau kenop pintu.
"Kak Seijuurou," Seijuurou menghentikan pergerakan tangannya. Di belakangnya terdengar suara sepatu dikeluarkan dari rak dan suara seperti seseorang tengah berusaha cepat mengenakan sepatu. Tak berapa lama kemudian, Shintarou sudah berdiri di sampingnya, menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan.
Sama seperti ketika dengan Daiki, Seijuurou merasa ada banyak yang ingin disampaikan Shintarou tapi ia tidak tahu bagaimana mengatakannya.
"Terima kasih," kata Shintarou. Ia diam sesaat. "Semoga beruntung."
Seijuurou tertawa. Dari semua hal yang mungkin ingin dikatakan Shintarou, ia memilih untuk mengatakan itu?
"Kau tidak punya saran untukku, Shintarou?"
Shintarou yang tadinya hendak mendorong pintu, membatalkan niatnya. "Apa Kakak benar-benar perlu saran?"
"Entahlah, kau yang lebih berpengalaman soal ini," kata Seijuurou sambil mengangkat bahu sambil lalu.
Shintarou diam, berpikir. "Kurasa Kakak hanya perlu tenang. Kalau tidak gugup, semuanya akan baik-baik saja."
Ah, tidak gugup ya? Seijuurou juga inginnya begitu tapi rasanya sulit sekali untuk tidak gugup. Bagaimana pun juga, ini langkah besar kedua dalam hidupnya setelah memutuskan mengurus adik-adiknya. Lagi pula, bagaimana ia bisa tidak gugup kalau langkah besar ini adalah langkah yang akan menuntunnya pada langkah yang lebih besar lagi?
Mungkin kegugupannya terlihat di wajahnya karena Shintarou menepuk sebelah bahunya. Ia menyuguhkan sebuah senyum menenangkan untuk Seijuurou.
"Tenang saja. Bagaimana pun juga, ini Momoi-san. Lagi pula ia juga tidak punya alasan untuk menolak Kakak, kan?" kata Shintarou.
Benar. Tapi bukan berarti kegugupan Seijuurou bisa menguap begitu saja.
Tidak, setelah dipikir lagi, sebenarnya ada banyak hal yang bisa menjadi alasan kenapa Momoi menolaknya. Bahkan sepertinya ada lebih banyak alasan untuk menolaknya daripada menerimanya. Ah, kenapa ia jadi pesimis begini? Sekarang bukan saatnya memikirkan kemungkinan terburuk.
Untuk menenangkan adiknya sekaligus menenangkan dirinya sendiri, Seijuurou mengangguk sekali.
"Sebenarnya menurutku tantangan sebenarnya justru setelah ini," kata Shintarou lagi sembari membuka pintu. Seijuurou di belakangnya tertawa.
Benar. Tantangan sebenarnya justru setelah ini.
Phew so many id, ego, superego.
Kuy cuss ke chap terakhir!
