let the roses talk
disclaimer
hetalia series © himaruya hidekazu
fanfiction © pindanglicious
saya tidak mengambil sedikit pun keuntungan dari pembuatan karya ini karena sesungguhnya saya hanya menulis atas dasar menambah asupan dan amunisi, bukan untuk memperkaya diri.
warning: au . bl . ficlet . engspaweek2015
.
.
.
Arthur bukan seorang pengemis rindu.
Bukan.
Dia bukan tipe orang yang akan terang-terangan membuka resleting mulutnya untuk meneriakkan; I bloody miss you! di tengah orang ramai. Jangankan menyeru, berbisik pelan lewat kabel telpon pun belum pasti ia mau. Bukan karena dia pemalu, sebab gengsi dan harga dirinya sudah lekat seperti lilitan benalu.
Dia tidak akan sudi menggerakkan sebatang pena di atas kertas untuk menulis secarik surat. (Surat cinta yang penuh kalimat-kalimat gombal murahan seperti yang keluar dari mulut para buaya darat.) Mungkin baginya terlalu berat. Atau barangkali pula dia punya cara lain untuk mengumandangkan kerinduan yang tersirat.
Mereka sudah lama tak bersua, tak bertemu, tak bercengkerama seperti apa yang mereka lakukan di masa lalu. Setahun, dua tahun, sampai hari ini bulat tiga tahun. Arthur tidak pernah bisa dihubungi, kadang itu yang membuat Antonio dirundung gelisah.
Kemana Arturo? Sedang apa dia sekarang?
Namun sore sebelum melakukan siesta, Antonio dikejutkan oleh kiriman pak pos berkumis dan berwajah ramah yang memberikannya serangkaian bunga mawar. Kelopak-kelopaknya merah marun. Harumnya semerbak. Dan ketika lelaki berdarah Spanyol itu membuka kartu kecil yang tersemat di antara tangkai-tangkai tak berdurinya, ia tak bisa menahan tarikan sudut bibir ke atas.
[Arthur Kirkland. Madrid, August-20]
"Sejak kapan kau terbang lagi ke sini tanpa bilang padaku, idiota …"
.
.
.
Antonio tak begitu mengerti bahasa bunga, tapi dia tak bodoh untuk menginterpretasikan makna di balik serangkai bunga mawar merah.
(Dan dia selalu tahu kapan mantan musuhnya itu dicumbu rindu.)
end
