Monochrome Days
Park Jimin x Min Yoongi
All Bangtan Boys members belong to their rightful family and BigHit enterprise.
AU University
Boys x Boys
Don't like, don't read.
Please enjoy~
Diagnostic Feature
Criterion no 1
Individu yang menderita BPD akan mengupayakan apapun, dalam keadaan panik,
untuk menghindari perasaan ditinggalkan baik yang nyata maupun imajiner
KaTalk chat
ParkJimin (12:30) : Kookie~ jangan lupa makan siang ya~ :*
ParkJimin (16:57) : Kookie..?
ParkJimin (16:57) : Kau sedang sibuk ya..?
JeonJK (16:59) : Ah, hyungie, maaf aku sedang sakit.. Jadi seharian aku tidak menyalakan handphone ku..
ParkJimin (16:59) : Sakit?! Sakit apa..? Mau ku jenguk..?
JeonJK (18:03) : Tidak usah, aku tidak mau kau ikut sakit juga : (
ParkJimin (18:03): Apa ada yang bisa ku lakukan untuk membuat mu baikan..?
JeonJK (19:05) : Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku, istirahat lah dengan tenang, hyungie. Kau juga butuh istirahat. Lakukan lah itu untuk ku, ya? Aku tidak mau kau sakit juga.. : (
ParkJimin (19:06) : ..ok.. Get well soon, Kookie.. Neomu saranghae~ 3
JeonJK (20:15) : Jalja yo, Hyungie.. ^^
-end-
Jimin meletakkan handphone nya di meja nakas di samping tempat tidurnya. Ia gelisah mengetahui kekasihnya yang lebih muda itu sedang sakit dan Ia tidak bisa melakukan apa – apa. Baginya, tak mengapa meski harus menunggu lama untuk sekedar satu balasan chat dari Kookie. Ia hanya ingin tahu keadaan kekasihnya itu. Perasaan bersalah dan keinginan untuk melakukan apapun demi membuat Kookie merasa lebih baik terasa menyesakkan dada ketika Jimin tidak bisa keluar dari kamarnya dan berbuat apapun.
Kedua orangtua nya tahu akan hubungan mereka, setidaknya itu yang Jimin duga. Ibunya tidak ingin Jimin berada di dekat Kookie, karena menurutnya kedekatan mereka tidak wajar. Jelas saja, Jimin bukanlah orang yang sulit ditebak. Terutama jika Ia sedang bersama dengan orang yang dicintainya. Perasaan Jimin yang selalu menggebu itu membuat ibu nya menghapalkan gerak gerik anak bungsunya ketika Ia memberikan perhatian pada orang lain. Dan ibunya tidak menyukai Kookie. Entah mengapa.
Meskipun perasaan ibunya benar, tapi hubungan Jimin dan Kookie bisa lolos dan berlangsung selama 2 tahun meskipun pertemuan mereka semakin hari semakin jarang. Terlebih ketika Jimin masuk kuliah dan Kookie masuk ke tahun terakhirnya di SMA. Kookie yang bercita – cita ingin menjadi dokter hewan harus belajar ekstra keras karena universitas pilihannya bukanlah universitas yang tidak populer di kalangan teman sekelasnya.
Jimin berusaha memahami hal itu. Ia berusaha sabar menunggu balasan chat dari Kookie yang semakin hari semakin lama interval nya. Jimin tidak ingin menjadi beban dan tidak ingin ketakutannya menjadi kenyataan; bahwa suatu saat di masa depan Kookie akan sangat kecewa ketika di papan pengumuman universitas impiannya tidak ada namanya tersemat disana hanya karena Ia harus meladeni Jimin dan ketakutannya akan ditinggalkan.
"Konyol.. Seharusnya aku mempercayai nya kan..? Aku ini kenapa sih..? Ketakutan sendiri, seperti orang bodoh saja.." Jimin menghela nafas, terbaring di atas kasurnya dalam kamarnya yang gelap. Ketika Ia memutuskan untuk membaca ulang chat antara dia dan Kookie untuk menenangkan diri, Jimin menyadari sesuatu. Kookie sudah beberapa kali tidak membalas ucapannya ketika Jimin berkata Ia mencintai Kookie.
Jimin tahu itu hal sepele, mungkin Kookie lupa atau mungkin hal itu tidak perlu diucapkan sering – sering bagi Kookie. Tapi hal itu justru membuat Jimin gundah. Apakah perasaan Kookie terhadapnya sudah berubah? Apakah ada orang lain yang kini Kookie sukai? Jimin mendengus kasar dan memutuskan untuk mematikan handphone nya.
"Malah makin berpikir bodoh.. Kenapa pikiran mu itu jahat sekali, Jimin?" Jimin pun mengambil bantal dari bawah kepalanya dan menibankannya kembali ke atas kepalanya, menutupi kepalanya dan berusaha untuk tertidur. Ia berharap bantal itu juga bisa menyumpal suara – suara pikirannya yang membuatnya semakin gila. Tapi hal itu mustahil. Ia hanya bisa memaksa dirinya untuk tidur.
=Satu bulan yang lalu=
Matahari sudah semakin tinggi, pelajaran hari ini terasa sangat membosankan bagi seorang Jeon Jung Kook. Ia terduduk di kursinya dan hanya memandang keluar jendela, tidak begitu menghiraukan apa yang gurunya sampaikan di depan kelas. Hari itu Jung Kook tidak bisa langsung pulang. Meskipun Ia baru saja sembuh, Ia harus menghadiri klub basketnya karena akan ada coach baru yang datang hari itu. Dari informasi yang Ia dengar, coach baru klub mereka seumuran dengan Jimin.
Ketika bel pelajaran terakhir berbunyi, Jung Kook dengan senang hati meregangkan tubuhnya yang pegal dan segera membereskan meja dan memasukkan semua buku dan peralatan tulisnya ke dalam tas. Ia segera menuju ke gymnasium dan mengganti bajunya ke dalam seragam basket sekolahnya.
"Kookie~" seseorang dengan surai berwarna coklat kemerahan itu berlari dari sisi lain lapangan dan menghampiri Kookie yang sedang melakukan pemanasan.
"Ah, Hoseok hyung! Kenapa kau harus berhenti jadi coach disini?" Jung Kook cemberut dan terlihat sedih. Ia sudah terbiasa berlatih dengan coach kesayangannya itu dan Jung Kook bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain.
"Yah.. Mau bagaimana lagi? Aku kan juga harus memberikan kesempatan pada orang lain. Lagipula, dia tidak seburuk yang kau bayangkan kok~" Hoseok hanya tertawa melihat Jung Kook yang mendengus sebal.
"Kenapa kau harus pergi sekarang? Aku kan hanya tinggal setengah semester ada di klub basket.. Tidak bisa kah kau menunggu sampai aku meninggalkan klub basket semester 2 nanti?" Jung Kook merajuk dan hanya mendapat tawa dari Hoseok sebagai balasan.
"Oh ayo lah, kau akan terbiasa nanti. Lagipula kan seperti kau bilang kau hanya akan bersama dengan coach baru ini setengah semester. Aku tetap akan sering main ke sini kok~" Hoseok mengacak rambut adik kelasnya itu dengan sedikit kasar. Tiba – tiba handphone di kantung Hoseok berbunyi, menandakan ada pesan masuk.
"Oh! Dia sudah disini! Sebentar ya, aku harus menjemputnya dulu. Kau ajak anak – anak yang lain untuk bersiap – siap!" dan dengan itu Hoseok pun berlari menjauhi Jung Kook untuk menemui coach baru itu. Jung Kook hanya menghela nafas dan mulai mengumpulkan anak – anak klub basket lain untuk mempersiapkan diri mereka.
"Kookie!" suara familiar itu kembali terdengar dari ujung lapangan. Kini Hoseok tidak berjalan sendiri. Ada seseorang yang, Jung Kook duga, adalah coach baru mereka. Seseorang dengan rambut blonde dan tatapan tajam dan terlihat dingin namun tampak menawan bagi Jung Kook. Tak terasa seluruh perhatiannya tertuju pada pria di belakang Hoseok itu.
"Kenalkan, ini adik kelasku, Jeon Jung Kook~ Nah Jung Kook, dia yang akan menggantikan ku jadi coach disini!" pria di belakang Hoseok kini sudah berdiri sejajar dengan Hoseok dan berhadapan langsung dengan Jung Kook yang masih terpana. Dengan tergesa karena kaget dan takut ketahuan jika Ia melamun, Jung Kook pun langsung mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan coach baru mereka.
"J-Jeon Jung Kook..."
"Tae. Kim Taehyung. Salam kenal"
=Real Time=
Jimin semakin hari semakin sibuk dengan perkuliahannya, begitu juga dengan Jung Kook dengan ujian – ujian dan urusan sekolahnya. Jimin tahu sejak awal bahwa Jung Kook adalah anggota klub basket. Meskipun dulu Ia dan Jung Kook sering bertengkar kecil karena Jung Kook yang selalu memaksakan diri untuk tetap hadir di klub basket ketika Ia sakit, Jimin hanya bisa mengalah dan menunggu dalam khawatir.
Jimin terpilih menjadi salah satu pemeran utama dalam drama teater nya di akhir semester kedua nya di kampus. Ia latihan hampir setiap hari dan bahkan jarang mendapat kontak dari Jung Kook ketika weekend tiba. Semakin lama, Jimin semakin jengah. Bayangannya akan bertemu dengan Jung Kook yang bersama orang lain kian lama kian kuat dan hampir setiap saat menghantui pikirannya, sekeras apapun Jimin berusaha untuk percaya pada Jung Kook dan menyibukkan dirinya agar tidak berpikir yang aneh – aneh.
KaTalk chat
JeonJK (19:30) : hyung..
ParkJimin (19:35) : Kookie! Bogoshippo.. TT TT
JeonJK (19:36) : Ah maafkan aku.. Aku sangat sibuk belakangan ini..
ParkJimin (19:36) : Aku tahu
ParkJimin (19:37) : Kau makan dengan teratur kan?
JeonJK (19:38) : Hyung..
ParkJimin (19:38) : Hm?
JeonJK (19:40) : Aku ingin mengatakan sesuatu..
JeonJK (19:41) : Tapi kumohon jangan marah..
ParkJimin (19:43) : Ada apa Kookie?
JeonJK (19:43) : Berjanjilah kau tidak akan marah..
ParkJimin (19:44) : Iya aku janji
JeonJK (19:45) : Dulu kau berkata aku harus selalu jujur pada mu kan..?
ParkJimin (19:46) : Mhm..?
JeonJK (19:56) : Aku.. Sepertinya..
JeonJK (20:00) : Menyukai pelatih basket ku..
Jimin terdiam melihat balasan dari Jung Kook. Dari Kookie kesayangannya itu. Ia tidak percaya dengan apa yang Ia baru saja baca. Ia memang meminta Jung Kook untuk selalu jujur padanya, betapapun menyakitkan kenyataan itu. Jimin merasa lebih baik sakit karena kejujuran daripada harus berbohong. Yang membuat Jimin sangat sesak adalah selama ini Ia menahan diri untuk tidak mengganggu Jung Kook dan waktu belajarnya, tapi sempat – sempatnya kekasih nya itu menyukai orang lain. Harus Ia kemanakan rindunya kini? Hati Jimin terlalu sakit sampai jemarinya gemetar.
JeonJK (20:30) : ..hyung...?
ParkJimin (20:31) : terima kasih kau sudah jujur padaku
JeonJK (20:32) : Aku tidak ingin kita putus..
ParkJimin (20:32) : ..aku..
JeonJK (20:33) : Hyung maafkan aku..
JeonJK (20:45) : Hyung.. :'(
ParkJimin (20:46) : Tidurlah. Ini sudah malam. Aku butuh waktu sendiri.
JeonJK (20:47) : ...Baiklah.. Jalja yo, hyung..
JeonJK (21:00) : ..saranghae..
Jimin hanya terbaring dalam diam. Menatap langit – langit kamarnya yang gelap. Ia masih tidak percaya Kookie tersayangnya melakukan ini padanya. Lalu untuk apa Ia menahan diri selama ini? Ia mengusap kasar airmata yang jatuh di pipinya. Dugaan Jimin selama ini benar, suara – suara yang menghantui pikirannya kini menjadi kenyataan. Dan Jimin masih berharap dalam hati kecilnya bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk.
Beberapa hari sebelumnya, Jung Kook menelpon Jimin dan terisak karena cincin yang diberikan oleh Jimin hilang. Jimin saat ini merasa bahwa ketika cincin itu hilang, saat itu juga lah hati Jung Kook untuk Jimin ikut menghilang. Sekalipun Jimin sanggup membelikan Jung Kook cincin yang baru, tapi cincin itu tidak akan pernah sama. Dan sekarang semua ketakutannya menjadi kenyataan.
Keesokan harinya Jimin merasa sangat kosong. Ia tidak mampu melakukan apapun dengan benar, begitu pula dengan latihan drama nya di kampus. Ia memutuskan untuk pulang dan mengurung dirinya di kamar. Beruntung hari itu kedua orangtua juga kakaknya sedang tidak dirumah. Jimin berpikir bahwa sendirian akan membuatnya merasa lebih baik, tapi Jimin salah besar. Pikirannya semakin kalut dan berisik, dan Jimin tidak bisa berpikir jernih.
Ia berusaha menjauhkan dirinya dari hal – hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri. Semua chat dari Kookie nya semalam terus terngiang di kepalanya, meskipun handphone nya telah lama mati dan telah terbanting sempurna ke tembok sejak satu jam yang lalu. Jimin hanya bisa duduk terdiam di kamarnya yang gelap. Ia menatap nanar ke tembok kosong di hadapannya.
KaTalk chat
ParkJimin (19:20) : hyung
J-Hope (19:23) : Yo?
ParkJimin (19:24) : Tolong jaga Kookie ya
J-Hope (19:24) : kau kenapa?
ParkJimin (19:25) : Tidak apa
Dan Hoseok pun menelpon, membuat Jimin kaget dan mengangkat telponnya dengan malas.
"Kau bertengkar dengan Kookie?"
"Tidak"
"Oh?"
"Hyung.." Jimin menghela nafas panjang, tahu bahwa Ia terlalu mudah ditebak dan tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa dari nada bicaranya.
"Katakan saja.. Ada apa diantara kalian?"
"Apa ada pelatih basket lain selain dirimu di sekolah?"
"Eh.. Ada sih.. Kenap- eh.. Jangan bilang.."
"hm..?"
"...erh.."
"Apa kau tahu sesuatu tentang dia dan Jung Kook, hyung..?"
"..itu.. ah.."
"...sudah ku duga.."
"Jimin-ah.. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya dari mu.. Aku sendiri memang dari awal sudah curiga tapi aku merasa tidak berhak melakukan apa – apa.. Dan mereka memang terlihat biasa saja.. Jadi aku tidak melakukan apa – apa..."
"Tidak apa, hyung.. Aku percaya pada mu.. Kookie sendiri yang mengaku Ia menyukai pelatih basketnya pada ku kemarin malam.."
"MWO?!"
"..dan aku masih tidak bisa melepasnya.. Haha aku bodoh ya..?"
"...menurutku itu wajar.. Kau dan dia sudah 2 tahun bersama.."
"Dan aku masih memaafkannya.. Berencana untuk memberikan dia kesempatan kedua.."
"Jangan bodoh.."
"Aku memang sudah bodoh, hyung.."
"Jimin-ah.."
"Sudah ya.. Aku mau tidur. Jalja.." dan Jimin pun memutuskan hubungan telepon itu. Ia menghargai kejujuran Kookie, dan menurutnya Kookie pantas mendapat kesempatan kedua. Setelah menenangkan diri, Jimin pun kembali berusaha terlelap dan mengubur rasa sakitnya dalam - dalam.
Chapter 1! I'm very productive today haha.. My friend said the prologue is too long. What do you readers think? ;-;) I just want to tell you a glimpse of what BPD feels like so.. yeah.. I didn't mean to make baby Kookie a jerk here, its just that.. Ah I'll explain the reason later in chapter 2. Hopefully, I'll be able to update this one, You and also Living With Depression tomorrow all at once. :"D I'm such a masochist LMAO
MinYoonlovers TERIMA KASIH SUDAH MAU BACA #terharu kalo mau baca lebih lanjut soal disorder ini bisa baca di buku DSM TR-IV. Itu buku psikologi. Atau bisa cek di youtube dengan keyword "what does bpd feels like". Ada beberapa kriteria yang lupa ku sebut di prolog dan aku kembangin per chapter nanti. Sekali lagi terima kasih sudah mau baca dan memberi review!
Vtan368 TERIMA KASIH SUDAH MAU BACA #terharujuga dan terima kasih atas review nya! Ditunggu ya chap berikutnya heheheheheheheheheheh
