Monochrome Days

Park Jimin x Min Yoongi

All Bangtan Boys members belong to their rightful family and BigHit enterprise.

AU University

Boys x Boys

Don't like, don't read.

Please enjoy~


Diagnostic Feature

Criterion no 1

Individu yang menderita BPD akan mengupayakan apapun, dalam keadaan panik,
untuk menghindari perasaan ditinggalkan baik yang nyata maupun imajiner

Seminggu telah berlalu sejak pengakuan Jung Kook. Tidak ada perubahan signifikan, selain Jung Kook lah yang selalu mengirimkan chat terlebih dulu. Lebih karena merasa bersalah, tapi Jimin menganggap hal itu merupakan hal yang baik. Ia hampir melupakan fakta bahwa Jung Kook sedang menyukai orang lain selain dirinya saat ini ketika Jung Kook menjadi sedikit lebih perhatian padanya.

Jimin kembali berusaha memfokuskan dirinya untuk pementasan teaternya. Peran yang termasuk dalam golongan pemeran utama yang didapatnya membuat Jimin harus bekerja dan berlatih lebih keras, seberapa besar pun Ia ingin menghabiskan waktunya dirumah karena emosi dan mental nya yang terasa lelah dan terkuras habis.

KaTalk chat

JeonJK (19:30) : Hyungie, apa kau sudah pulang?

ParkJimin (20:03) : Ah maaf aku baru saja sampai rumah Kookie

JeonJK (20:05) : Tidak Apa, aku baru saja selesai makan malam

ParkJimin (20:15) : Baguslah kalau begitu, aku akan mandi dan langsung tidur

JeonJK (20:17) : Kau tidak makan dulu? : (

ParkJimin (20:20) : Aku sudah makan tadi di kampus, tenang saja

JeonJK (20:21) : Oke~ ^^

Jimin tersenyum dan meletakkan handphone nya di atas meja nakas di sisi tempat tidurnya. Ia pun beranjak menuju kamar mandi. Selesai mandi Jimin merasa matanya sudah semakin berat. Meskipun lapar Ia malas keluar kamar untuk mencari makan. Ia pun membaringkan tubuhnya yang lelah di atas kasur. Rasanya sangat nyaman berada di atas selimutnya yang tebal dan halus setelah seharian bergerak dan terpaksa bertemu dan bersosialisasi dengan banyak orang. Menurut Jimin menghadapi manusia atau kenalan – kenalan nya di kampus jauh lebih melelahkan dibanding lari 5km setiap pagi.

Jimin membiarkan pikirannya melayang entah kemana, meskipun tubuhnya lelah dan kedua matanya terasa berat Ia belum juga bisa tidur. Ketika malam semakin sunyi, benaknya kembali pada pengakuan Jung Kook seminggu yang lalu. Jimin pun mulai berpikir apa yang kurang dari nya sehingga Jung Kook bisa menyukai pelatih basket barunya? Apa karena Ia kurang tinggi? Kurang tampan? Kurang perhatian? Kurang baik?

Semakin banyak pertanyaan yang muncul di benak Jimin membuat Ia semakin lelah dan pada akhirnya terlelap dalam kegamangannya. Pertanyaan terakhir yang melintas di benak Jimin adalah : haruskah Ia memutuskan untuk pergi dari Jung Kook?

Matahari sudah meninggi, namun Jimin masih berada di atas tempat tidurnya. Ia enggan beranjak dari sana. Pikirannya masih melanglang buana, dan perasaannya masih kosong. Ketika Ia menyalakan handphone nya, Ia mendapat sebuah pesan dari Yoo Min Kyung, salah seorang sahabatnya ketika SMA dulu. Min Kyung mengenal dan mengetahui hubungan Jimin dengan Jung Kook, dan Jimin memang dekat dengan Min Kyung terlebih dahulu.

KaTalk chat

10.21_yoo (09:21) : Jiminnie~ apa kau akan datang ke festival minggu depan?

ParkJimin (09:22) : Nuna, apa kau perlu menanyakan hal itu pagi – pagi begini?

10.21_Yoo (09:23) : hei kau ini buta? Ini sudah siang! Kebiasaan sekali menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi ):T

ParkJimin (09:25) : Aku tidak buta, aku baru bangun. Memang ada festival apa? Dimana?

10.21_Yoo (09:26) : Ada food fest di kampus ku. Datang ya? Aku buka stand di sana~

ParkJimin (09:27) : Aku tidak harus beli kan? Tadi rasanya kau bertanya, kenapa sekarang kau meminta ku untuk datang?

10.21_Yoo (09:30) : Ish! Banyak tanya! Sudah datang saja! Kookie juga akan hadir kok! Aku sudah mengundangnya kemarin~

Jimin terdiam. Ia belum menceritakan masalahnya dengan Jung Kook pada Min Kyung. Setelah membalas dengan 'ok' Jimin pun memutuskan untuk mandi. Ada latihan teater yang harus Ia hadiri hari itu, meskipun mulai setelah jam makan siang mungkin akan berlanjut sampai malam lagi karena hari ini adalah hari Jumat. Jika Jimin bukan pemeran utama mungkin Ia akan memilih untuk kembali tidur dan membolos latihan. Sayangnya itu hanya angan – angannya saja.

KaTalk chat

JeonJK (19:30) : Hyungiee

ParkJimin (20:48) : Maaf Kookie, aku baru selesai latihan. Ada apa?

JeonJK (20:49) : Ah.. Tidak apa, hanya ingin memanggil saja. Kau sedang sibuk ya?

ParkJimin (20:51) : Yah begitulah.. Kenapa, sayang?

JeonJK (20:55) : Emm.. Min Kyung nuna mengajak ku untuk datang ke kampusnya minggu depan.. Apa kau juga datang?

ParkJimin (21:00) : Mungkin iya, dia juga mengundangku kemarin

JeonJK (21:07) : ok, sampai ketemu di sana~

Jimin tersenyum kecil membaca balasan Kookie nya. Perasaannya yang kacau selalu saja dibisukan oleh balasan semacam itu. Jimin berpikir bahwa mungkin mereka bisa sekalian berkencan di event kampus Min Kyung. Mood Jimin yang kembali naik membuatnya semangat membereskan tasnya dan segera beranjak pulang. Ia berharap Ia dapat mimpi indah malam ini.

KaTalk chat

ParkJimin (22:20) : Maaf aku baru sempat balas, aku baru sampai di rumah

JeonJK (22:21) : welcome back~ ^^

ParkJimin (22:22) : Thank you.. :* Apa kau sudah makan malam?

JeonJK (22:23) : Emm.. Sudah kok, hyung sendiri?

ParkJimin (22:24) : Sudah, dapat jatah dari kampus haha

JeonJK (22:36) : ah hyung maaf aku ketiduran.. TT TT

ParkJimin (22:37) : Tidak apa, kau tidur saja. Aku juga akan tidur sebentar lagi..

JeonJK (22:40) : Ne.. Jalja yo~

ParkJimin (22:42) : Jalja yo..

Jimin tersenyum. Ia baru sadar betapa Ia merindukan kekasihnya itu. Sebagaimanapun Ia telah membuatnya marah dan kecewa, tapi rasa sayang Jimin sudah terlalu besar sehingga menutupi rasa sakit itu. Yang Ia tahu, Ia ingin akhir pekan minggu depan segera datang. Ia ingin segera merengkuh kekasih nya yang lebih muda itu.

"Aku sangat merindukan mu, Kookie.." ucap Jimin lirih ketika Ia melihat wallpaper hp nya yang merupakan fotonya dengan Kookie kesayangannya. Jimin pun mengunci handphone nya dan setelah beberapa menit terdiam, Ia pun terlelap.

=Dua hari kemudian=

"Hoseok, hari ini temani mama belanja ya. Jangan kemana – mana!" Hoseok hanya menghela nafas atas ajakan ibunya yang mendadak itu. Ia mau tidak mau harus merelakan waktunya bersantai di rumah pada hari Minggu ini untuk mengantar kemana pun ibunya ingin pergi.

"Ya eomma, aku ganti baju dulu sebentar" seusai Hoseok mengganti baju menggunakan pakaian layak untuk dibawa keluar, Ia pun segera menuju pintu depan dimana ibunya sudah menunggu. Mereka pun berangkat ke sebuah mall dengan menggunakan transportasi umum.

Dua jam sudah berlalu sejak Hoseok dan ibunya sampai di mall itu. Hoseok dengan langkah semakin berat terus menemani ibunya yang asyik melihat – lihat berbagai hal yang terpajang di depan toko. Padahal tujuan utama ibunya adalah membeli bahan makanan dan keperluan bulanan.

"Eomma.. Ingat tujuan mu ke sini untuk apa.. Makanan dirumah sudah hampir habis, jangan membeli tas atau sepatu baru dulu.." rajuk Hoseok yang sebenarnya sudah sangat pegal menemani ibunya mengitari mall itu dari lantai paling atas.

"Seharusnya aku mengajak kakakmu saja ke sini. Baiklah, baiklah, ayo kita turun ke bawah" ibunya menghela nafas, memang seharusnya acara window shopping ini ditemain oleh putrinya, bukan malah putra bungsunya. Tapi apa daya? Putrinya sedang sibuk saat ini dan hanya ada putra nya dirumah, jadilah Hoseok korbannya.

Ketika akhirnya ibunya memutuskan untuk menuju lantai paling bawah untuk menuju supermarket, Hoseok melihat sesosok laki – laki yang sangat familiar untuknya. Laki – laki itu sedang bersama seorang lelaki lainnya. Dan mereka terlihat terlalu akrab untuk sebatas 'teman'.

"..Jung Kook..? Ta-Taehyung?" ingin rasanya Hoseok mengejar dua sosok yang sangat dikenali nya itu, tapi niatnya terpaksa harus diurungkan karena Ia sedang bersama ibunya dan tidak mungkin Ia meninggalkan ibunya begitu saja. Sementara Jung Kook dan Taehyung sudah semakin jauh dari pandangan.

"...keterlaluan.." Hoseok berbisik pada dirinya sendiri, tidak percaya akan apa yang dilakukan oleh adik kelasnya itu.

=Jimin's side=

Jimin benar – benar menghabiskan hari liburnya dikamar, tidak banyak keluar kecuali untuk makan. Tidak juga banyak beranjak dari tempat tidurnya karena tubuhnya yang terasa sangat lelah. Ia masih menantikan chat dari Jung Kook yang belum dibalas sejak pagi tadi. Jung Kook berkata Ia harus menemani ayahnya membeli sesuatu hari itu jadi mungkin akan sulit untuk membalas chat dari Jimin. Jimin dengan polosnya percaya dan mengucapkan semoga harinya menyenangkan.

KaTalk chat

J-Hope (14:30) : Jims

ParkJimin (14:31) : yo?

J-Hope (14:32) : Kita perlu bicara, kau dirumah?

ParkJimin (14:33) : Iya.. Kau mau datang?

J-Hope (14:34) : Aku akan menginap sekalian. Bisa kan? Besok aku berangkat sendiri dari rumahmu

ParkJimin (14:35) : okayy

J-Hope (14:36) : Aku akan tiba di sana kira – kira satu setengah jam lagi

Ketika mendapat chat dari Hoseok, Jimin mendadak gelisah dan tidak tenang. Perasaannya berubah menjadi tidak enak, karena tidak biasanya Hoseok sampai ingin bertemu hanya untuk bicara. Biasanya Hoseok akan langsung menelepon, tidak langsung datang seperti ini.

Satu jam setengah berlalu, handphone Jimin masih belum mendapat notifikasi dari Kookie kesayangannya dan Hoseok telah berada di depan pintu kediaman Park.

"Jim aku diluar, tolong buka pintunya" Hoseok menelpon ketika Jimin hampir saja terlelap menunggu kedatangannya. Tanpa menjawab Hoseok, Jimin pun turun dari kasurnya untuk membukakan pintu depan agar Hoseok bisa masuk. Ketika Jimin membuka pintu, Hoseok terlihat serius, bahkan senyum nya terasa janggal. Jimin menjadi semakin takut dibuatnya.

"Masuk lah ke kamar mu dulu, baru aku bercerita" Jimin menyanggupi dan kembali mengunci pintu depan rumahya, membiarkan kunci pintunya di bawah jendela yang sedikit terbuka agar kedua orangtuanya dan kakak nya bisa membuka pintu tanpa harus menelponnya untuk membukakan pintu.

"Jimin kau percaya padaku kan?" Jimin mengangguk dalam bingung.

"Ada apa sih sebenarnya?" Hoseok menghela nafas panjang.

"Aku.. Bertemu dengan Jung Kook tadi" Jimin menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum. Senyum itu membuat Hoseok merasa tercekat untuk mengatakan apa yang Ia lihat beberapa jam yang lalu.

"Oalah jadi kalian ternyata pergi ke mall yang sama ya?" Jimin tertawa kecil, tapi melihat wajah Hoseok yang tidak berubah, senyum Jimin pun hilang.

"Aku.. Melihatnya dengan Taehyung.. D-dan mereka, aish, terlalu.. Akrab, untuk sebatas teman..." Hoseok menatap dalam – dalam manik milik Jimin. Ada rasa tidak percaya terpancar dari adik kelasnya itu. Jimin mengedipkan matanya pelan, menunduk dan berusaha mencerna apa yang baru saja Hoseok katakan.

"Kau percaya pada ku kan..? Aku tidak mungkin membohongi mu.." ucap Hoseok lagi, dengan kedua tangannya hampir mencengkram bahu Jimin. Ia yakin benar matanya masih sehat dan Ia tidak salah mengenali kedua lelaki yang Ia lihat di mall tadi.

"Tapi Kookie bilang dia.. Pergi.." Jimin terdiam. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya percaya jika Kookie pergi dengan ayahnya. Padahal Ia sudah menghargai kejujurannya yang pertama, kenapa Ia harus bohong sekarang?

"Padahal Taehyung sudah punya Min Kyung.. Aku tidak mengerti apa yang ada di pikirannya.." ucapan Hoseok menarik perhatian Jimin. Ada dua nama terucap, salah satunya tidak Ia kenal.

"Orang yang.. Dia.. Pacar Min Kyung..?" Jimin menatap Hoseok tidak percaya. Tapi rasa itu bukan untuk Hoseok, perasaan kecewa itu pada Kookie nya, dan rasa marah itu terbagi antara Kookie dan Min Kyung. Ia membebaskan diri dari cengkraman Hoseok dan menyambar handphone nya.

"Nuna"

"Ah, Jimin-ah! Wae yo? Kenapa tiba – tiba menelepon?"

"Siapa nama kekasihmu sekarang?"

"Eh? Kenapa tiba-tiba.."

"Sudah sebutkan saja"

"Kim.. Taehyung.." Jimin mengumpat pelan sebelum melanjutkan omongannya.

"Sebaiknya kau putuskan saja dia" Min Kyung kaget dengan pernyataan tiba – tiba itu. Jimin bahkan belum pernah bertemu dengan Taehyung lalu tiba – tiba Ia meminta Min Kyung putus dengan lelaki itu.

"Ada apa ini sebenarnya?" belum sempat Jimin menjawab, handphone nya telah direbut Hoseok terlebih dulu.

"Hai Min Kyung, ini Hoseok. Aku matikan sebentar ya, nanti aku akan kembali menelpon mu." Setelah sambungan terputus, Hoseok mendorong Jimin untuk duduk di kasurnya.

"Jimin percuma saja kau bilang begitu, kau tahu kan betapa keras kepalanya Min Kyung? Ia sama batu nya seperti dirimu!" Jimin tidak bergeming, Ia masih tidak percaya akan kesaksian Hoseok. Tidak, Ia sedang menyangkal kenyataan itu. Kenyataan bahwa kini Kookie nya memang sudah jatuh hati pada orang lain selain dirinya.

"Jims.. Biar aku yang bicara pada Min Kyung.. Kau tenangkan dirimu dulu.. Ya?" ucap Hoseok melembut. Melihat Jimin yang tidak memberikan respon apa – apa, Hoseok kembali berdiri dan menelpon Min Kyung dengan handphone nya. Dan seperti yang Hoseok duga, Min Kyung tidak percaya begitu saja.

"Apa kau yakin itu Taehyung?"

"Min Kyung-ah, untuk apa aku berbohong pada mu?" Min Kyung berpikir sejenak, dibandingkan dengan Taehyung, Min Kyung memang mengenal Hoseok jauh lebih lama. Ia tahu benar bahwa sahabatnya itu memang tidak bisa berbohong sama sekali.

"Aku.. Akan menanyakannya pada Tae.." kemudian sambungan kembali terputus. Hoseok masih berusaha menenangkan Jimin yang, meskipun tidak bergeming dari posisi duduknya di atas kasur, terlihat sangat kacau. Perasaan dan pikirannya terpancar jelas dari ekspresi wajah dan tatapannya yang kosong dan kalut.

Tidak lama kemudian handphone Hoseok berdering. Namun hanya sebuah chat yang masuk. Sepotong screenshot percakapan Min Kyung dan Taehyung lebih tepatnya.

*screenshot*

10.21_yoo : Tae kau dimana?

Taetae : aku di mall, kenapa?

10.21_yoo : sama siapa?

Taetae : sama adik kelas ku, kenapa?

10.21_yoo : siapa namanya?

Taetae : kenapa kau tiba – tiba bertanya seperti itu?

10.21_yoo : aku paling benci pertanyaan ku dijawab dengan pertanyaan lagi, Tae

Taetae : Jeon Jung Kook

10.21_yoo : Kau hanya teman?

Taetae : iya lah, kau ini kenapa sih?

10.21_yoo : teman ku baru saja melihat kalian, dia bilang kalian seperti pacaran

Taetae : oh ayolah kau kan tau kalo aku dan adik kelas ku memang sering menempel

10.21_yoo : Aku tidak tahu, aku tidak tahu kau begitu. Sejak kapan?!

*end of screenshot*

Sekarang giliran handphone Jimin yang berdering, menandakan ada pesan masuk.

10.21_yoo (17:18) : Jimin-ah.. Maafkan aku..

10.21_yoo (17:18) : Aku tidak tahu kalo Tae ku seperti itu

ParkJimin (17:21) : Ini semua bukan salah mu, eonnie

10.21_yoo (17:22) : Aku akan bicara pada Tae soal ini

Jimin menghela nafas pelan ketika Ia membaca pesan dari Min Kyung. Ia tahu benar bahwa Min Kyung merasakan sakit yang sama dengan yang Ia rasakan saat ini. Perasaan sakit dan kecewa telah di khianati orang yang paling disayang. Jimin tidak lagi membalas pesan terakhir dari Min Kyung. Ia tidak tahu harus merasa apa, rasanya terlalu sakit sampai Ia kebas.

"Jimin-ah.." panggil Hoseok khawatir. Ia merasa memang sudah seharusnya Ia menginap di rumah Jimin hari itu, atau Jimin mungkin tidak akan melihat mentari pagi keesokan harinya. Jimin terlihat begitu hancur. Sekuat apapun Ia berusaha menyangkal kenyataan itu, semua itu percuma. Ia tahu dan yakin bahwa Hoseok tidak mungkin berbohong. Selama mengenalnya, Hoseok memang terkenal karena jadi seseorang yang tidak pernah bisa berbohong. Lagi pula, benar apa kata Hoseok, untuk apa Ia membohongi Jimin dan Min Kyung?

"..aku kurang apa hyung..?"


Pertama bales review dulu yah www

Vtan368 www beloom ini masih bahas konflik awalny dulu hewhewhew dinanti ya www

Minyoonlovers bisa jadi kamu bipolar lho kalo perubahan mood nya ekstrem OAO)/

Myga YAY! *tos makasih udah baca dan kasih review~ ditunggu chap berikutnya Xd

AmaliaSalm makasih udah baca dan kasih review XD

Wow11 wwwww makasih udah baca sama kasih review XD

27tiavy WWWWWW iya dibikin baper dulu diawal biar kepo ahah makasih udah baca dan review~

Wah panjang.. Udah lama ga nulis sampe di angka 2000 kata lmao Aku kerjain di kantor sambil nyambi kerjaan juga wwwww pemanis aka abang gula nya muncul nanti biar enak. Sekarang yang pait – pait dulu wwww terima kasih udah baca dan review! Oh iya, Yoo Min Kyung itu sebenernya nama ssaem ku di tempat les. /muridkurangajar

-Ches Anderson-