Monochrome Days

Park Jimin x Min Yoongi

All Bangtan Boys members belong to their rightful family and BigHit enterprise.

Never Ever song belong to All Saint

AU University

Boys x Boys

Don't like, don't read.

Please enjoy~


Diagnostic Feature

Criterion no 1

Individu yang menderita BPD akan mengupayakan apapun, dalam keadaan panik, untuk menghindari perasaan ditinggalkan
baik yang nyata maupun imajiner

A few questions that I need to know

how you could ever hurt me so

I need to know what I've done wrong

and how long it's been going on

Was it that I never paid enough attention?

Or did I not give enough affection?

Not only will your answers keep me sane

but I'll know never to make the same mistake again

You can tell me to my face or even on the phone

You can write it in a letter, either way, I have to know

Did I never treat you right?

Did I always start the fight?

Either way, I'm going out of my mind

all the answers to my questions

I have to find

Ketika radio bis yang dikendarai Jimin menyala, lagu Never Ever milik All Saint terputar disana. Mendengar liriknya membuat Jimin merasa tertampar. Sudah lebih dari dua minggu sejak Hoseok memberikan kesaksiannya. Sudah lebih dari dua minggu pula Jimin tidak menggubris chat apapun dari Jung Kook. Ia tidak ingin bicara dengan Kookie nya. Ia kecewa dan masih sakit hati. Tapi untuk memutuskan hubungan dengan Kookie, Ia masih merasa berat.

"Dia sudah berpaling pada orang lain. Untuk apa kau masih berada di tempat yang sama..?" ucapan Hoseok terngiang di benak Jimin. Ia tersenyum miris, melihat keluar jendela bis yang mulai basah karena hujan.

'Karena aku masih menyayangi nya, hyung.. Terlalu menyayangi nya..' Jimin menghela nafas dan memejamkan matanya, perjalanannya menuju kampus masih jauh dan Ia ingin tertidur sejenak. Tapi rencananya agak terganggu ketika tiba – tiba handphone nya bergetar.

KaTalk chat

J-Hope (06:59) : Jims

ParkJimin (07:01) : ya?

J-Hope (07:02) : hanya memastikan saja kau masih hidup

ParkJimin (07:03) : haha very funny

J-Hope (07:04) : Apa kau kosong weekend ini?

ParkJimin (07:05) : Yah.. Sepertinya. Kenapa?

J-Hope (07:06) : Aku dan kakak ku ingin pergi ke sebuah acara performance. Kau mau ikut?

ParkJimin (07:07) : Perform apa?

J-Hope (07:08) : Ntahlah, aku hanya diseret kakak ku. Aku tidak mau sendirian dan melamun di sana jika acaranya tidak menarik.

ParkJimin (07:09) : Pfft jadi kau bawa aku agar jadi korban juga?

J-Hope (07:10) : Yep

ParkJimin (07:11) : Baiklah. Hari Sabtu/Minggu? Jam berapa? Bertemu dimana?

J-Hope (07:12) : Aku saja yang jemput ke rumah mu hari Minggu nya, jika jam 9 kau belum bangun ku seret ya kekeke

ParkJimin (07:13) : ya ya terserah lah, aku mau tidur dulu

J-Hope (07:14) : okk

J-Hope (07:16) : ... hei, kau tidak kuliah?

Jimin sengaja tidak membalas chat terakhir Hoseok dan hanya tertawa. Ia tidak sengaja membuka kalender dan melihat ada sebuah tanda tersemat di hari Minggu.

'JiKook's 3rd Anniversaryy~' Jimin menatap kalender di handphone nya dengan tatapan kosong. Ia tersenyum miris melihat pengingat di kalendernya itu.

"Sayang ya.." Jimin menutup kalender di handphone nya dan kembali menyamankan dirinya di kursi bis itu. Ia menutup mata, menyenderkan kepalanya di jendela dan menghela nafas. Ia tidak menyangka akhirnya akan jadi seperti ini. Apakah harus berakhir seperti ini?

Jimin kembali membuka matanya. Melihat tab KaTalk dari Kookie nya yang menunjukkan puluhan chat yang belum Ia baca. Rasa rindunya meluap. Mendominasi kecewa dan sakit hatinya. Selalu seperti itu. Lagi dan lagi. Jimin tahu Ia sangat bodoh. Tapi Ia masih tidak bisa melepaskan Kookie. Hampir 3 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk bisa dihapus dalam waktu 2 minggu. Mengingat hubungan – hubungan Jimin sebelumnya, Ia bahkan butuh waktu setengah tahun untuk benar – benar merasa baik – baik saja.

'Oh Hoseok hyung akan marah dengan keputusan ku..' batin Jimin sebelum Ia akhirnya membuka chat dari Kookie. Puluhan chat itu di dominasi oleh permintaan maaf dari Kookie. Jimin membacanya satu persatu. Semakin lama perasaannya semakin kebas. Apa yang diucapkan Kookie di chat dan apa yang Hoseok katakan bertengkar dalam benak Jimin.

KaTalk

ParkJimin (07:20) : hey

JeonJK (07:21) : Hyung..! :"(

JeonJK (07:21) : Aku sangat mengkhawatirkan mu...

JeonJK (07:22) : Kau tidak membalas chat ku sama sekali

JeonJK (07:22) : Hoseok hyung juga tidak menjawab apa apa jika aku menanyakan mu

ParkJimin (07:23) : Apa yang kau rasakan sekarang?

JeonJK (07:24) : senang, karena akhirnya kau membalas pesan ku

ParkJimin (07:25) : Sungguh?

JeonJK (07:25) : iya :')

ParkJimin (07:26) : Bukan karena Taehyung?

JeonJK (07:30) : ..jadi itu kenapa kau tidak membalas pesan ku?

ParkJimin (07:31) : Jung Kook

ParkJimin (07:31) : Jika memang

ParkJimin (07:32) : Kau bahagia dengannya

ParkJimin (07:32) : Aku bisa terima

ParkJimin (07:32) : Aku juga sudah pernah bilang kan? Ketika kau menemukan orang yang lebih baik dari ku, kau katakan saja..

ParkJimin (07:34) : Yang membuatku kecewa kenapa kau harus bohong..?

JeonJK (07:40) : Maaf..

ParkJimin (07:41) : Iya kau mengakui kau menyukainya, tapi kau bilang kalian hanya teman. Nyatanya seperti ini.. Kenapa harus bohong..?

Lama Jimin menunggu, Jung Kook tidak memberikan balasan apa - apa. Akhirnya Jimin menghabiskan sisa perjalanannya ke kampus dengan menatap layar handphone nya yang sudah mati, menanti jawaban. Ia melangkah turun dari bis dan langsung menuju ke kelasnya. Untungnya masih belum banyak orang disana. Jimin melipat kedua tangannya di atas meja dan menundukkan kepalanya di atas tangannya. Emosi yang Ia rasakan ketika akhirnya berbicara lagi dengan Jung Kook membuatnya sangat lelah.

Di sisi lain Jung Kook merasa sangat asing dan sakit ketika Jimin memanggilnya dengan 'Jung Kook' dan bukan 'Kookie' seperti biasanya. Ia tahu Jimin sangat kecewa dan marah, dan Ia berpikir bahwa untuk terakhir kalinya Jimin akan memaafkannya ketika Ia membalas chat. Tapi Jung Kook salah.

Ketika Jung Kook membaca ulang chat dari Jimin, Ia menyadari bahwa Jimin tidak mengatakan kata 'putus' sama sekali. Ia pun menjadi gamang. Jung Kook tidak mau melepas Jimin, tapi Ia sendiri juga sadar telah melakukan kesalahan besar yang bahkan menurut dirinya sendiri sudah tidak bisa dimaafkan. Satu – satunya yang bisa Jung Kook lakukan sekarang adalah mengakui sesuatu yang selama ini telah tersimpan jauh.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Jimin baru saja selesai latihan teater. Hari pementasannya semakin dekat dan latihan mereka semakin intens. Ia hanya punya waktu 10 hari lagi sampai pertunjukkan di kampusnya. Minggu ini meskipun Ia ingin beristirahat, Ia terlanjur berjanji untuk pergi dengan Hoseok, padahal hanya hari Minggu yang Ia punya untuk istirahat. Pelatihan teater nya sekarang menjadi 6 hari seminggu. Karena memang pertunjukan teater musikal bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dalam waktu kurang dari dua bulan.

Menghindari kecelakaan yang mungkin terjadi, Jimin memilih untuk menggunakan transportasi umum dibandingkan membawa motor nya ke kampus. Karena tiap kali selesai latihan, energinya akan sangat terkuras dan Ia jadi mudah mengantuk. Sesampainya di gerbang rumahnya, Jimin menghela nafas lega. Ia ingin segera berbaring dan istirahat.

=Keesokan harinya=

KaTalk chat

JeonJK (09:30) : Hoseok hyung, apa kau ke sekolah hari ini?

J-Hope (09:56) : Maaf baru balas, iya. Kenapa?

JeonJK (09:57) : Ada sesuatu yang ingin ku berikan, kau akan ke lapangan kan nanti sore?

J-Hope (09:58) : Iya. Untukku?

JeonJK (10:01) : Untuk Jimin, hyung..

J-Hope (10:04) : Ok

Jung Kook meremas sebuah amplop di tangannya. Sebuah surat untuk Jimin. Ia menunggu Hoseok dengan gelisah, ini pertama kalinya mereka bertemu kembali setelah lebih dari dua minggu Hoseok tidak bermain ke sekolahnya. Jung Kook berpikir bahwa Hoseok pasti sudah tahu apa yang terjadi diantara dirinya dan Jimin. Ia hanya tidak tahu jika Hoseok adalah orang yang menjadi saksi bagi Jimin.

"Yoo~ sudah lama menunggu?" suara Hoseok membuyarkan lamunan Jung Kook yang duduk di pinggiran lapangan sendirian. Anak – anak klub basket lain sedang berganti pakaian dan Taehyung belum datang.

"A-ah tidak.. Aku tidak menunggu lama.." Jung Kook tersenyum, Ia merasa agak takut bertemu dengan Hoseok karena Ia tahu benar Hoseok adalah teman dekat Jimin. Jung Kook pun menyodorkan amplop yang sedari tadi berada di genggamannya.

"Aku hanya ingin memberikan ini pada Jimin, hyung.. Boleh kan aku minta tolong menyampaikan nya..?" tanya Jung Kook ragu. Hoseok memperhatikan amplop itu dan melayangkan pandangannya kembali ke wajah Jung Kook yang tidak berani bertatap mata dengannya.

"Kenapa kau tidak berikan sendiri?" tanya Hoseok polos, berpura – pura tidak tahu apa yang terjadi di antara Jung Kook dan Jimin walaupun Hoseok yakin Jung Kook tahu Ia mengetahui semuanya.

"Ah.. Itu.. Aku.." belum sempat Jung Kook menjawab, sebuah suara berat memanggil namanya.

"Kookie, kenapa kau belum ganti baju? Oh, Hoseok hyung! Sudah lama tidak melihat mu disini. Kau kemana saja?" ucap Taehyung santai sambil berjalan menuju kedua temannya itu. Paling tidak, satu dari mereka benar - benar hanya sekedar teman.

"Yo. Aku sedang sibuk jadi tidak sempat main haha" jawab Hoseok datar. Iya, dia masih tersenyum, tetapi mengingat Jimin yang hancur dua minggu yang lalu membuatnya sulit mengakrabkan diri dengan Taehyung maupun Jung Kook.

"Ini saja kan? Baiklah, akan aku sampaikan pada Jimin~" ucap Hoseok, sengaja, saat Taehyung berada di depan mereka dan Ia pun mengambil amplop itu dari tangan Jung Kook.

"Aku ganti baju dulu ya~" Hoseok pun beranjak pergi meninggalkan Taehyung yang menatap Jung Kook bingung dan Jung Kook yang menunduk takut.

"Apa yang kau berikan pada Jimin?" tanya Taehyung. Jung Kook hanya menggeleng.

"Bukan apa – apa, aku.. Ganti baju dulu.." Jung Kook pun kini ikut meninggalkan Taehyung sendirian di tengah lapangan.

KaTalk chat

J-Hope (19:34) : mochi mochi

ParkJimin (19:37) : Hah?

J-Hope (19:38) : Mochi mochi, annyeonghaseo

ParkJimin (19:40) : Itu moshi moshi, hyung. Bukan mochi

J-Hope (19:42) : Tapi kan kau mochi

ParkJimin (19:43) : Sial lol

J-Hope (19:44) : Kau sudah dirumah belum?

ParkJimin (19:45): Sudah, kenapa? Mau main?

J-Hope (19:46) : Mengantar paket kekeke

ParkJimin (19:47) : Sejak kapan kau kerja di delivery service?

J-Hope (19:50) : Aku di jalan ke sana, tunggu di pintu ya. Aku tidak bisa menelpon mu.

Tidak lama kemudian, Jimin bisa melihat dari jendela Hoseok yang berjalan menuju gerbang rumahnya. Ia pun membuka pintu depan dan menyambut Hoseok di gerbang.

"Tidak usah dibuka, aku tidak akan masuk. Aku hanya mampir saja" Jimin dibuat bingung dengan pernyataan Hoseok. Memang Ia berkata akan mengantarkan paket, tapi Ia tidak terlihat sedang membawa apapun.

"Kau tidak main dulu?" Jimin berpura – pura terlihat sedih dan Hoseok hanya tertawa.

"Tidak bisa, ini sudah malam. Aku mau cepat pulang dan tidur. Aku hanya ingin memberikan ini. Tadi Jung Kook memberikan ini padaku." Hoseok merogoh kantong jaket nya dan menarik sebuah amplop yang kemudian Ia berikan pada Jimin.

"Oh.. Oke.. Terima kasih, hyung. Maaf merepotkan"

"Yasudah aku pulang ya"

"Hyung"

"Yo?"

"Menginap saja lah, ya? Dirumah tidak ada orang. Aku jaga sendiri"

"Tapi aku belum ijin..."

"Makan dulu sambil tunggu ijin?"

"Hemm... Yaaa... Baiklah.. Aku pinjam telepon rumahmu ya" Jimin pun dengan senang hati membuka gerbang rumahnya dan membiarkan Hoseok masuk. Meskipun Ia sering bertengkar dengan Hoseok, mungkin bahkan lebih sering ketimbang Ia bertengkar dengan Jung Kook, tapi Hoseok adalah satu – satunya orang yang tinggal paling lama di sisi Jimin. Seorang Park Jimin dengan emosionalnya yang selalu berubah cepat seperti rollercoaster.

Setelah menyiapkan makanan untuk Hoseok, Jimin pun mendudukan dirinya di kursi sebrang Hoseok. Ia dengan ragu membuka amplop pemberian Jung Kook. Ia takut membaca isinya, karena Ia tidak tahu apa yang akan Ia temukan didalam sana.

Setelah menghela nafas, Ia pun mengeluarkan secarik kertas putih bergaris dari dalam amplop yang sudah terbuka itu untuk kemudian mulai membacanya.

Dear my dearest hyung,

Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan,
semoga kau masih sudi membacanya sampai akhir.
Aku hanya ingin mengutarakan beberapa hal yang selama ini tidak berani kuucapkan karena aku takut jika kau akan marah dan tidak ingin berbicara lagi pada ku. Sekarang semuanya sudah terlanjur terjadi, aku tidak tahu apakah kau akan membaca penjelasanku ini atau tidak.
Apalagi mempercayainya.
Tapi aku sungguh menyayangi mu, hyung. Kau keras kepala, tidak mau menyerah sampai akhirnya aku jatuh pada mu karena melihat kegigihan dan ketulusan mu memperjuangkan ku dulu. Kau satu – satunya orang yang menyayangi ku seperti mendiang ibu ku. Tapi.. aku tidak bisa selamanya tersenyum dan mengangkatmu naik ketika kau terus dan terus terjatuh. Maafkan aku hyung..
Terima kasih atas semuanya. Terima kasih atas waktu mu, perhatian mu, kasih sayang mu, semua hadiah dari mu. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga dengan baik cincin pemberian dari mu.
Kau tahu? Ketika kau jatuh, aku berusaha memberikan hal positif untuk mu, tapi itu juga menguras emosi ku ketika kau malah memutuskan untuk tetap bergelung dalam jatuh mu. Aku merasa tidak berguna dan tidak bisa berbuat apa - apa. Dan ketika aku jatuh, dia datang dan membantu ku untuk kembali berdiri. Maafkan aku hyung..
Tapi aku tidak sekuat yang kau kira. Terlebih dengan tatapan sinis ibu mu setiap kali aku berkunjung ke rumah mu atau setiap Ia melihat kita bersama. Aku sungguh tidak bisa menahan semuanya. Maafkan aku.. Jika kau membenci ku dan tidak ingin memaafkan ku, aku bisa terima. Maafkan aku yang egois ini.. Ku harap kau bisa menemukan seseorang yang lebih kuat dari ku. Ku harap kau bisa berbahagia.. Aku menyayangi mu, hyung. Aku sangat menyayangi mu.

_Jeon Jung Kook_

Jimin tertawa. Ia sungguh tidak tahu harus bereaksi apa selain tertawa membaca surat itu. Ia tidak mengerti. Jika Jung Kook memang sangat menyayangi Jimin, kenapa Ia malah pergi dengan orang lain? Dan isi surat itu seolah – olah mengatakan bahwa Jimin adalah sebuah beban. Beban emosional yang berat.

Hoseok yang kaget karena Jimin yang tiba – tiba tertawa menghentikan kegiatan menyantap makan malamnya. Ketika Ia mendongak, Jimin masih tertawa, tapi matanya sudah tergenang.

"Ternyata aku sejahat itu ya, hyung..? Hahaha.." Hoseok mengerutkan alisnya bingung. Ia mengambil secarik kertas di tangan Jimin yang merupakan surat dari Jung Kook dan membacanya. Hoseok menghela nafas kesal, tapi Ia tidak menemukan kata apapun untuk membuat Jimin merasa lebih baik. Kemudian Hoseok pun merasa keputusannya untuk menginap malam ini lagi – lagi benar.

"Jimin-ah.." orang yang dipanggil hanya menghela nafas dan mengelap wajahnya yang sudah basah. Ia merasa kosong dan rasa bersalah lebih mendominasi pikirannya dibandingkan rasa kecewa telah dikhianati. Semua ini salahnya. Andai saja Ia tidak terlalu emosional. Andai saja Jimin lebih bisa bersikap dewasa. Andai saja Jimin bisa lebih menggunakan waktunya untuk membuat Jung Kook bahagia. Mungkin Jung Kook tidak akan berpaling.

"Jimin-ah, ini bukan salah mu.." ucap Hoseok lirih. Ia tahu persis apa yang ada di benak Jimin dan Ia tidak mau Jimin semakin stres. Hoseok mendadak menyesali kejujurannya. Tapi Ia tahu benar jika Ia tidak memberitahu Jimin dari awal, mungkin ketika Jimin mengetahuinya kemudian, sahabat mochi nya itu akan bertingkah lebih nekat lagi. Dan Hoseok tahu benar betapa Jimin sangat menghargai kejujuran seseorang. Terutama orang – orang yang dekat dengannya.

"Aku tidak tahu harus merasa apa.." ucap Jimin pelan setelah lama mereka tenggelam dalam keheningan.

"Kau tidur saja, istirahatkan pikiranmu.." ucap Hoseok seraya berdiri dan membawa piringnya ke wastafel. Ia kemudian berdiri di samping Jimin dan menepuk punggungnya pelan, mengisyaratkan adik kelasnya itu untuk beranjak dari kursinya.

=Kamar Jung Kook=

KaTalk chat

ParkJimin (20:49) : Jung Kook

JeonJK (20:50) : maaf hyung aku baru selesai makan malam...

ParkJimin (20:52) : kau kosong hari Minggu ini?

JeonJK (20:53) : Emm.. I..ya..?

ParkJimin (20:54) : Boleh aku meminta sesuatu?

JeonJK (20:55) : ...apa?

ParkJimin (20:56) : Hari Minggu besok.. Aku ingin menghabiskannya bersamamu. Untuk yang terakhir kalinya.

Jung Kook terdiam. Hari terakhir bersama Jimin hyung. Apa maksudnya hari terakhir?

JeonJK (20:59) : Baiklah..

ParkJimin (21:00) : Terima kasih

Jung Kook tidak membalas lagi. Ia tidak tahu harus membalas apa. Ia merasa bersalah, tapi Ia tidak bisa menyangkal bahwa sesungguhnya Ia juga merindukan Jimin. Seumur hidupnya, orang yang memperlakukan Jung Kook persis seperti ibu nya yang telah meninggal hanyalah Jimin. Bahkan ayahnya yang masih hidup tidak selembut dan sesayang itu pada Jung Kook seperti halnya Jimin. Tapi Jung Kook juga tidak bisa menyangkal bahwa hatinya sudah bergeser pada Taehyung. Dan hal itu membuatnya gelisah. Dalam lamunannya, handphone milik Jung Kook kembali bergetar.

ParkJimin (21:10) : Satu hal lagi

ParkJimin (21:11) : Bisakah kau berpura – pura bahwa tidak pernah ada masalah apa – apa diantara kita Hari Minggu besok?

JeonJK (21:12) : Baiklah..

ParkJimin (21:13) : Terima kasih.. Aku menyayangi mu

Rasa bersalah di hati Jung Kook menjadi berlipat ganda. Ia merasa sangat berat ketika Ia membaca kalimat terakhir yang dikirimkan oleh Jimin. Ia tidak tahu apakah Hoseok hyung telah memberikan suratnya atau belum, tapi yang pasti Jung Kook tidak ingin weekend segera datang.


Mari balas review terlebih dahulu wwwww

Babyn maap maap yak kurang panjang, soalnya ini nyambi kerjaan juga x"D Semoga bisa lebih panjang ke depannya wwww

Minyoonlovers kalo emang udah parah lebih baik ke psikiater dulu, chingu OAO)/ wwwww abang gula masih melanglang buana x'D

Hirokisasano1 karena... Karena apa ya? Wwwwwww x'D Nanti spoiler kalo dijelasin disini www

Wow11 Yoongi nya masih sibuk dengan dunianya sendiri wwww dinanti ya kemunculan abang gula nya x'D

Mulfan Girl IYAAAAAAA AHAHAHAHHAA duh maaf aku lupa soalnya dari kemarin aku manggil eonni, eonni terus jadi lupa kalo ada nuna. Makasih ya udah ngingetin :"D Aku udah update kok dan udah ku ganti jadi nuna. Thank you so much for your review x'D

Yak, ngerjain chap ini sambil nyambi kerja lagi wwww jadi mohon maaf kalo pendek2 yak. Semoga fic lain juga bisa update. Karena ini yang paling banyak review nya jadi ini yang aku terusin terus :'D Terima kasih sudah baca dan kasih review~ kalian penyemangat buat lanjutin fic ini www

-Ches Anderson-