Monochrome Days

Park Jimin x Min Yoongi

All Bangtan Boys members belong to their rightful family and BigHit enterprise.

You're The Answer To A Guy Like Me belong to Leessang

AU University

Boys x Boys

Don't like, don't read.

Please enjoy~


Diagnostic Feature

Criterion no 1

Individu yang menderita BPD akan mengupayakan apapun, dalam keadaan panik,
untuk menghindari perasaan ditinggalkan baik yang nyata maupun imajiner

Chapter IV

.

Waktu pun bergulir dan datanglah hari yang dinantikan. Jimin telah bangun jauh sebelum waktu yang ditentukan Hoseok. Sehari sebelumnya Jimin menanyakan lokasi event yang akan Ia hadiri bersama Hoseok pada kakaknya dan memberikan informasi itu pada Jung Kook, yang ternyata juga berencana untuk pergi ke sana. Hoseok tidak tahu akan rencana Jimin untuk menemui Jung Kook di sana. Menemui seseorang yang masih memiliki status menjadi kekasihnya itu untuk meminta kesempatan kedua. Untuk meminta maaf. Yang tentu saja jika Hoseok sampai tahu, Ia pasti akan menyeret Jimin pulang.

KaTalk chat

J-Hope (08:36) : Mochi mochi apa kau sudah bangun?

ParkJimin (08:38) : -_-)" Sudah, hyung

J-Hope (08:39) : Ah tidak seru, padahal aku sudah berniat menarik mu keluar dari kasur

ParkJimin (08:40) : Pfft kau terlambat

J-Hope (08:41) : Huff yasudah, aku sampai sana sebentar lagi ya, kau sudah mandi kan?

ParkJimin (08:42) : Sudaaaaaaaah

J-Hope (08:43) : kkkk okay

Tidak lama kemudian Jimin dapat mendengar deruan mobil yang mendekat. Jimin pun mengenakan jaket hitamnya dan menyandang backpack nya sebelum berpamitan pada kedua orangtuanya.

"Lho? Ku kira hyung yang akan menyetir?" ucap Jimin kaget ketika Ia membuka pintu mobil dan mendapati kakak Hoseok yang memegang setir.

"Biarkan saja. Lagipula Hoshiki tidak tahu jalan." Hoseok hanya merengut dan mendengus mendengar ucapan kakaknya. Jimin hanya tertawa kecil mendengar pernyataan itu.

"Oh iya, hyung, mungkin kita akan berpisah di sana. Aku ingin bertemu seseorang. Tapi jika aku sudah selesai aku pasti kembali ke kalian" ucap Jimin ketika mobil mulai melaju ke tempat yang ingin mereka tuju.

"Bertemu siapa?" Hoseok menaikkan sebelah alisnya dan menengok pada Jimin yang terduduk di jok belakang sebelah kiri.

"Adik kelas ku di kampus. Dia ingin menanyakan tugas pada ku. Kebetulan Ia juga pergi ke tempat yang sama jadi ya sekalian saja.." ucap Jimin ringan. Berusaha sedatar mungkin agar Hoseok tidak curiga. Semudah apapun Jimin terbaca, Ia masih bisa memberikan tampang polos dan tidak terlihat panik ketika mengucapkan sesuatu yang berlawanan dengan kenyataan, tidak seperti hyung kesayangannya itu.

"Oooh oke oke atur saja nanti disana~" ucap Hoseok polos. Ia pun kembali duduk manis menghadap ke depan, melewatkan Jimin yang membuang nafas lega Hoseok tidak bertanya lebih jauh. Ketika keadaan di mobil cukup hening, Jimin baru sadar bahwa radio telah menyala sedari tadi. Dan ketika pendengarannya fokus, lagu yang terputar di radio adalah 'You're The Answer To A Guy Like Me' milik Leessang.

If you leave, I lose everything, I forget everything

Please trust me just one more time please

Dear my love who endured all of me

I only gave you tears

But still, this worthless guy

Still always, only think of you

Only if you're next to me, I gain strength

You know this so pelase come back

Only if you're next to me, it's perfect

You know this so please come back

Lagu tersebut membuat Jimin menerawang jauh keluar jendela. Pikirannya memutar hari – hari dimana Ia masih di SMA. Pada hari – hari dan waktu dimana Ia dan Jung Kook masih dapat bertemu setiap hari, menghabiskan waktu bersama di klub kebudayaan tempat mereka pertama kali bertemu. Mengulang kembali momen – momen manis yang pernah Ia dan Jung Kook lalui bersama. Jimin menutup matanya dan mengingat saat pertama kali Jung Kook menciumnya, sebagai tanda bahwa setelah sekain kali menolak Jimin, cinta Jimin pun diterimanya.

Jimin tersenyum dan menghela nafas. Ketika Ia membuka mata, niatnya sudah bulat. Ia tidak ingin melepas semua kebahagiaan itu begitu saja. Ia butuh kesempatan kedua. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa Ia tidak ingin dan tidak akan menjadi beban emosional lagi bagi Jung Kook.

"Jims, bangun. Kita sudah sampai~" ucap Hoseok sambil menepuk nepuk bahu Jimin yang hampir terlelap karena lamunannya. Jimin pun menguap sebelum keluar dari mobil.

KaTalk chat

ParkJimin (10:02) : Aku sudah sampai. Kau sudah jalan?

JeonJK (10:04) : Sudah, aku akan tiba disana 30 menit lagi

ParkJimin (10:05) : ok

Jung Kook menghela nafas panjang. Ayahnya menyadari hal itu dan melihat anak semata wayangnya gelisah dan terlihat gusar.

"Nak.. Kamu yakin mau pergi?"

"Iya.. Kenapa pa?"

"Kau tidak terlihat senang.."

"Ah.. Tidak, aku hanya sedikit lelah saja"

"Yakin tetap mau pergi?"

"Iya.. Lagipula aku sudah berjanji, tidak bisa ku batalkan seenaknya.."

"Ok kalau begitu" dan keheningan kembali menyelimuti keduanya di dalam mobil. Sama halnya seperti Jimin, Jung Kook pun ikut tertidur di jalan.

Sekitar setengah jam kemudian, Jung Kook tiba. Ayahnya sudah kembali pulang dan meninggalkan Jung Kook untuk pulang sendiri ketika acaranya selesai nanti. Jung Kook pun melangkahkan kaki nya menuju sebuah cafe tempat Ia akan bertemu dengan Jimin hari itu. Ketika sampai di pintu, Jung Kook menghentikan langkah kakinya, memperhatikan sesosok pria yang sangat dikenalnya. Seseorang yang pernah sangat Ia sayangi. Seorang Park Jimin yang terduduk sendirian. Menunggu 'Kookie' nya datang. Seperti yang selalu Jimin lakukan selama ini.

Jung Kook menghela nafas panjang. Rasanya Ia ingin berbalik dan kembali pulang, tapi itu hanya akan membuat Jimin semakin sedih. Setelah agak lama terdiam di ambang pintu cafe, Jung Kook pun memutuskan untuk masuk dan menemui Jimin.

"Hai Kookie~" sapa Jimin senang ketika Jung Kook menghampirinya. Ia tetap seperti biasanya bagi Jung Kook, dan Jung Kook merasa Ia harus melakukan hal yang sama seperti apa yang Jimin minta beberapa hari sebelumnya.

"Hai hyungie.." Jung Kook tersenyum dan duduk di sofa seberang Jimin. Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat ketika Jimin memberi kabar pada Hoseok bahwa Ia sudah bertemu dengan adik kelasnya dan akan menyusul mereka sekitar 2 jam lagi.

"Kau sudah sarapan?" Jung Kook menggeleng, Ia terlalu gugup pagi ini sehingga Ia tidak sempat memakan apapun. Jimin merengut dan menyodorkan menu di hadapannya pada Jung Kook.

"Kau ini selalu saja melupakan sarapan. Kalau kau sakit nanti bagaimana? Kau mau makan apa?" Jimin membuka menu di hadapan Jung Kook dan menunggu 'Kookie' nya membuat keputusan. Jung Kook tidak dapat menyangkal bahwa Ia merindukan ini. Kapan terakhir kali mereka memiliki waktu berdua dan menghabiskannya bersama seperti ini?

"Maaf hyung, aku lupa hehe.." Jung Kook pun memfokuskan perhatiannya pada menu di hadapannya. Tidak mendapati hal menarik dalam menu, Jung Kook pun mengangkat kepalanya dan tidak sengaja membuat kontak mata dengan Jimin yang sedari tadi tersenyum memperhatikan gerak gerik 'kekasih' nya itu. Sontak hal itu membuat Jung Kook salah tingkah dan segera mencari hal lain untuk menjadi pusat penglihatannya. Senyum Jimin terlalu indah dan menyakitkan untuk Jung Kook saat ini. Bagaimana mungkin setelah apa yang Ia lakukan Jimin masih tersenyum begitu bahagia nya melihat Jung Kook?

"Kenapa kau tutup menunya? Tidak ada yang menarik ya?" tanya Jimin lagi ketika Jung Kook memutuskan untuk menutup buku menu dan menyenderkan punggungnya ke sofa. Ia menggeleng dan membalas senyum Jimin.

"Hemm.. Baiklah, mau coba cari ke lokasi event? Ku lihat di sana banyak stand makanan. Mau?" Jimin kembali menawarkan Jung Kook sebuah pilihan dan Jung Kook pun mengiyakan. Jimin mengusak gemas rambut hitam Jung Kook ketika mereka berdiri dan beranjak pergi dari cafe itu. Senyum hangat itu tidak pernah menghilang dari bibir Jimin dan Jung Kook yang dikuasai rasa bersalah mulai berubah menjadi rasa rindu. Ia diam – diam mengutuk dirinya sendiri yang mudah jatuh hati pada orang lain.

Dan hari bagi Jimin dan Jung Kook pun dimulai ketika mereka keluar dari cafe itu. Jimin, seperti yang selalu Ia lakukan, masih tetap memperhatikan Jung Kook sepanjang perjalanan mereka. Membelikan makanan, sesekali menyuapi nya, mengelus rambut nya, memeluk dan merangkul seperti yang selalu Jimin lakukan. Jung Kook merasa ingin kembali, memutar waktu dan tidak membiarkan dirinya jatuh hati pada orang lain. Tapi semua itu sudah terjadi. Setelah berputar – putar di event yang sedang berlangsung dan tidak menemukan makanan berat yang menarik perhatian, mereka pun duduk di sebuah restoran sambil menunggu makan siang mereka. Jimin telah membayar makanan mereka sebelum makanannya datang.

"Kookie.." panggil Jimin pelan. Jung Kook mengangkat kepalanya dan menatap Jimin seraya menaikkan sebelah alisnya. Handphone nya terus berbunyi sejak satu jam yang lalu dan Jung Kook merasa tidak enak pada Jimin.

"Apa kau harus pergi..?" tanya Jimin lagi ketika Ia memperhatikan Kookie nya sedari tadi sibuk memperhatikan handphone nya yang terus berdering menandakan chat masuk. Jung Kook kembali menunduk dan melihat layar handphone nya yang penuh dengan chat yang menanyakan keberadaannya sekarang. Seseorang sedang mencarinya sejak tadi dan Jung Kook berusaha tidak membalasnya meskipun pada akhirnya Ia memberitahukan lokasinya pada orang yang mencarinya itu.

"Kookie.." Panggil Jimin lagi. Ia ingin Jung Kook mendengarkan apa yang ingin diucapkan Jimin baik – baik. Belum sempat Jung Kook berkata apa – apa, Jimin melanjutkan perkataannya.

"Maafkan aku.. Aku tidak tahu apa yang ibu ku lakukan pada mu.. Aku tidak tahu jika aku sudah melukai mu selama ini.. Sehingga kau harus berpaling pada orang lain.." ucap Jimin lirih. Di tangannya sudah tergenggam lembut sepasang tangan milik Jung Kook. Jung Kook hanya bisa menunduk, tidak berani menatap Jimin sama sekali.

"Aku tahu mungkin ini bukan hal yang ingin kau dengar.. Tapi sungguh aku minta maaf.. Aku seharusnya bersikap lebih dewasa dan berkepala dingin.. Aku seharusnya lebih peka terhadap perasaan mu.. Seharusnya aku tidak egois.. Kookie maafkan aku.." lanjut Jimin. Jung Kook tidak memberikan respon apa – apa. Ia tidak tahu harus menjawab atau bersikap seperti apa. Mendengar Jimin begitu merasa bersalah dan tersiksa juga membuat Jung Kook merasakan hal yang sama.

"Karena itu.. Apa boleh aku meminta kesempatan kedua..? Aku berjanji akan berubah.. Kumohon.." pinta Jimin, hampir memelas. Jung Kook tidak tega dan tidak ingin membiarkan keheningan itu berlanjut lebih lama diantara mereka.

"Aku.." belum sempat Jung Kook menjawab, suara berat yang familiar memanggil namanya dari jauh. Jung Kook tidak menoleh dan malah memandang Jimin, yang justru menoleh ke arah suara itu. Jimin mengembalikan pandangannya pada Jung Kook. Kilatan kecewa menghiasi tatapan Jimin dan perlahan kedua tangannya melepas sepasang tangan milik Jung Kook. Jung Kook dapat merasakan betapa hancurnya seseorang yang ada di hadapannya saat ini.

"Jadi ini jawabanmu.." ucap Jimin lirih, Ia hanya bisa tersenyum sedih dan berdiri. Meninggalkan Jung Kook sendirian sebelum Taehyung menuju meja mereka. Jimin terus berjalan dan tidak lagi menoleh pada Jung Kook yang memanggilnya ataupun pada Taehyung yang kini berdiri di sisi Jung Kook menggantikan dirinya.

Semakin kencang Jung Kook memanggil, semakin cepat pula langkah Jimin terpacu. Ia tidak ingin di sana. Jimin tidak menyadari bahwa degupan jantungnya semakin cepat dan Ia tidak peduli pada paru – parunya yang meronta membutuhkan oksigen. Ia hanya ingin pergi sejauh – jauhnya. Dalam pelariannya Ia tidak sengaja menabrak seseorang hingga Ia hampir menjatuhkan kamera SLR kesayangannya. Pria yang tinggi nya hampir setara dengan Jimin itu mengumpat dan memanggil Jimin yang masih berlari, namun tidak juga digubris oleh Jimin. Jimin pun terus dan terus berlari sampai Ia lagi - lagi tidak sengaja menubruk seseorang. Kali ini menubruk telak.

"Nah ini dia ketemu. Kau dari mana saja? Kau bilang—JIMS!" Hoseok yang ingin mengomel mendadak panik ketika Jimin yang oleng langsung ambruk dan kehilangan kesadaran di hadapannya.

=Rumah Sakit, 3 jam kemudian=

Hoseok masih setia menunggu di kamar tempat Jimin berada. Sesaat setelah mereka sampai di Rumah Sakit, Jung Kook dan Taehyung menyusul ke sana. Namun belum sempat Jung Kook melihat Jimin, Hoseok sudah mengusirnya lebih dulu.

"Pergi lah. Aku tidak ingin melihat kalian sekarang." Ucap Hoseok tegas, wajah ceria nya kini tidak nampak dan raut muak menggantikannya. Jung Kook hanya bisa menurut dalam diam, Ia pun menarik Taehyung pergi dari sana.

Jimin sebenarnya sudah bangun satu jam sebelumnya, namun Ia enggan membuka mata. Ia masih berusaha mengatur perasaan dan pikirannya dalam keheningan. Ia tahu jika Ia membuka mata pasti Hoseok akan memberondong nya dengan ratusan pertanyaan seperti seorang papparazi, dan Jimin sedang tidak bisa menghadapi itu saat ini.

"Lebih baik aku mengabari ahjumma dulu kalau Jimin disini.." ucap Hoseok pada kakaknya yang juga masih setia menunggui Jimin bersama adik kesayangannya itu. Jimin yang mendengar itu langsung membuka matanya dan menggenggam lengan Hoseok yang sedang memegang handphone.

"Hyung tolong jangan bilang pada eomma aku disini.. Aku tidak ingin membuat nya khawatir. Aku tidak mau dia menginterogasi ku dan bertanya kenapa aku bisa ada di sini.." ucap Jimin parau. Hoseok hanya menghela nafas panjang lega karena Jimin telah siuman.

"Lalu kau kenapa seperti orang yang habis melihat setan tadi? Tiba – tiba pingsan, membuat ku jantungan. Kalau kau kenapa – kenapa kan kau juga masih tanggung jawab ku! Aku yang mengajak mu pergi. Untung saja kata dokter kau hanya kurang istirahat." Gerutu Hoseok panjang lebar. Jimin hanya mengucapkan maaf berulang kali sambil berusaha tersenyum.

"Dan lagi.. Bagaimana Jung Kook bisa tahu kau pergi ke sana?" senyum Jimin yang susah payah terbentuk tipis kini pudar dan menghilang sempurna. Hoseok menangkap perubahan wajah Jimin dan membuat senyum terbalik.

"Jangan bilang adik kelas yang kau bilang itu dia?" Jimin mencuri pandang ke arah Hoseok dan memalingkan wajahnya, menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.

"Ish. Kalau kau sedang sehat kepala mu habis ku jitak." Ucap Hoseok kesal. Ia tahu Jimin terkadang bisa menjadi sangat bodoh, tapi Ia baru tahu Jimin sebodoh ini.

"Untuk apa kau menemuinya lagi?" tanya Hoseok, masih dengan nada kesal. Jimin hanya tersenyum sedih dan mengangkat bahunya.

"Entahlah.." Hoseok hanya memutar bola matanya mendengar jawaban Jimin. Ia kemudian pergi keluar untuk mencari dokter yang tadi memeriksa Jimin. Setelah mendapat lampu hijau untuk pulang, Jimin pun segera merapikan bajunya dan bersiap untuk pulang.

"Pulang dan istirahat lah dengan benar. Kalau kau sampai sakit dan tidak bisa ikut drama kelas mu, bukan hanya aku yang akan menghajar mu nanti." Ucap Hoseok sebelum Jimin turun dari mobilnya. Jimin hanya tersenyum dan mengangguk pelan sebelum menutup pintu mobil Hoseok.

"Cepat sembuh ya, Jiminnie. Kalau ada apa – apa beritahu kami ya. Jalja yo~" ucap Ji Woo sebelum menutup jendela mobilnya dan melaju pulang. Jimin masih terdiam di depan gerbang hingga mobil milik Hoseok menghilang ditelan malam. Ia menghela nafas dan menutup gerbang rumahnya sebelum melangkah masuk. Rumahnya sudah gelap, kakak dan orangtuanya sudah dipastikan telah terlelap seperti biasanya.

Dengan langkah gontai, Jimin masuk ke kamarnya. Hoseok menawarkan diri untuk menginap malam itu, tapi Jimin menolak. Ia masih butuh waktu sendiri. Jimin terduduk di kursi meja belajarnya dan menyalakan laptop nya. Roti yang tadi Hoseok belikan terpampang rapi tak tersentuh di samping laptop. Jimin mengganti wallpaper handphone dan laptop nya dengan gambar default, kemudian menon-aktifkan beberapa akun media sosialnya agar Ia tidak perlu melihat Jung Kook untuk sementara waktu.

Ketika laptopnya telah kembali mati, Jimin yang hendak mengambil roti untuk disantap menatap sebuah cincin yang masih melingkar di jari manis tangan kanannya. Ia terdiam beberapa saat sebelum melepas cincin itu dan menaruhnya asal di dalam lacinya. Keinginannya untuk makan hilang, tapi Ia harus tetap makan agar Ia tidak terlihat terlalu 'sakit' dihadapan orangtua nya besok pagi. Jimin pun mematikan lampu kamarnya dan beranjak tidur setelah menghabiskan roti daging pemberian Hoseok. Ia menarik selimut menutupi kepalanya dan berusaha menghentikan pikirannya mengulang kejadian siang tadi bersama Jung Kook. Namun hal itu sia – sia.

=Di sebuah apartemen, real time=

Dengan perlahan pintu apartemen itu terbuka, memperlihatkan isinya yang gelap karena seharian tidak dihuni penghuninya. Sebuah ucapan 'aku pulang' tak terjawab memecah keheningan apartemen itu. Seseorang yang hampir kehilangan kamera SLR kesayangannya karena seseorang menabraknya siang tadi. Ia menghela nafas panjang sebelum berbalik untuk menutup dan mengunci pintu apartemen kecilnya.

Masuk ke kamarnya, Ia meletakkan SLR dan tasnya di atas kasur dan melepas nametag bertuliskan 'Min Yoongi/Suga' yang sedari pagi tergantung di lehernya. Mencari liputan untuk portofolio klub 'News' nya memang bukan hal yang mudah, terlebih ketika Ia harus pergi cukup jauh hanya untuk meliput sebuah event. Seharusnya Ia bersama seseorang lagi, tapi temannya sedang sibuk dengan 'kekasih' nya, maka itu Ia harus pergi sendiri.

"Menyebalkan.. Aku hampir kehilangan uang untuk menyembuhkan mu.. Untung kau tidak apa – apa.." ucap Yoongi kesal sambil mengelus kamera kesayangannya. Setelah merapikan barang – barangnya dan meletakkan nya di bawah kasur, Ia melempar tubuhnya ke atas kasur. Ia tidak berniat untuk mandi atau pun mengganti bajunya karena Ia sangat lelah.

Kantuk mulai menghinggapi kedua mata sipitnya sebelum Ia terganggu dengan handphone nya yang berdering. Yoongi mendengus kesal dan mencari handphone nya di dalam tas. Ia pun mendapat chat dari partner yang seharusnya melakukan liputan bersamanya hari itu.

KaTalk chat

KingSeokJin (22:03) : Yoongi-yah, sudah tidur?

MinSuga (22:05) : Kau sudah selesai pacaran?

KingSeokJin (22:06) : Ish, iya maaf aku tidak bisa ikut liputan hari ini : (

MinSuga (22:07) : Jika tidak ada hal penting aku mau tidur

KingSeokJin (22:08) : Kau copy saja liputan nya ke Drive biar aku saja yang mengerjakan body copy nya, ok?

MinSuga (22:10) : Ok~

KingSeokJin (22:11) : Thank youu :*

Yoongi tersenyum puas. Paling tidak Seokjin mengerjakan sebagian dari liputan yang seharusnya mereka lakukan bersama. Paling tidak sahabatnya itu adalah orang yang bertanggung jawab. Tidak seperti partner – partner nya yang lain di klub. Yoongi pun menyamankan dirinya di atas kasur dan mulai terlelap dalam hening.


Nah muncul sudah si abang gula. Kasian ya pertama kali muncul malah ditabrak Jimin WWWWWW mari balas review dulu x'D

Myga iya.. Maafin Kookie ya.. :"D

Wow11 itu sebenernya date terakhir maksudnya aku lupa nyempilin wwwww x'D

27tiavy WAKAKAKAKAK JANGAAAN ENCHIM HANYA PUNYA SYUGAH /ditabok. Ini ini abang gula syudah datang x"D Maafin dedek Kuki yaa :"D

Klandestin ya ampun ga nyangka bisa bikin orang nangis :"D Maafin ya huhu makasih udah mau baca juga x"D

Helenaaaaafela Abang syuga syudah tiba wwwwwwwwww

Thank you yang udah mau baca dan kasih review. Kalian bahan bakar ku untuk tetep lanjut dan nulis fic ini :"D Maafin emphi dan dedek Kuki yaa ga maksud bikin mereka jahat disini huhu TT TT

-Ches Anderson-