Monochrome Days

Park Jimin x Min Yoongi

All Bangtan Boys members belong to their rightful family and BigHit enterprise.

Crooked belong to G-Dragon

AU University

Boys x Boys

Don't like, don't read.

Please enjoy~


*Satu bulan kemudian*

.

=Yoongi's side =

I used to believe in you alone and I was happy

But like a joke, I am left alone

You used to promise me with your pinky finger

But in the end

Nothing ever lasts forever

In the end, you changed

There is no reason, no sincerity

Take away such a thing as love

Tonight, I'll be crooked

Leave me alone

I was alone anyway

I have no one, everything is meaningless

Take away the sugar-coated comfort

Tonight, I'll be crooked

Lagu 'Crooked' milik G-Dragon terus berputar di mp3 milik Yoongi. Meskipun begitu, sang empunya mp3 tidak memperhatikannya. Ia tengah sibuk mengedit beberapa video dan foto hasil liputan beberapa event yang Yoongi datangi seminggu yang lalu.

"Yoon, kau belum pulang?" ucap seseorang bersurai hitam yang membuka pintu klub mereka dan mendapati adik tingkatnya masih terduduk di hadapan laptopnya.

"Tanggung. Tinggal sedikit lagi" jawab Yoongi datar tanpa menoleh ke kakak tingkatnya yang kini berjalan mendekati nya.

"Tapi ini sudah jam 7 malam. Aku harus mengunci pintu ruangan klub sekarang." Ucap kakak tingkatnya lagi. Yoongi hanya menghela nafas dan mengubah laptopnya menjadi mode 'sleep'. Ia tetap berniat untuk menyelesaikan hasil liputannya hari ini. Ia hanya perlu pindah tempat karena seseorang yang bernama Park Chanyeol, yang merupakan kakak tingkatnya itu, harus mengunci ruang klub mereka.

"Ok ok, sebentar" Yoongi pun berdiri dari kursinya dan mulai membereskan barang – barangnya, tidak memberikan perhatiannya sedikit pun pada kakak tingkatnya yang tengah terduduk di sofa dekat Yoongi meletakkan tasnya.

"Kau.. masih marah?" tanya Chanyeol tiba – tiba, membuat Yoongi dalam sepersekian detik menghentikan kegiatan beberesnya.

"Tidak tahu" ucap Yoongi singkat. Mood nya sedang baik, dan Ia ingin mood nya tetap dalam keadaan seperti itu atau Ia tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan apapun nanti.

Chanyeol hanya menghela nafas panjang, dan ketika adik tingkatnya itu sudah menyandang backpack dan menuju pintu, Chanyeol berdiri dan dengan cepat menarik salah satu lengan Yoongi yang terbalut lengan panjang hoodie hitamnya.

"...apa..?" Yoongi yang terkejut dengan kelakuan Chanyeol yang tiba – tiba itu berusaha tetap terlihat tenang dan sedatar mungkin. Chanyeol yang juga terkejut dengan apa yang Ia refleks lakukan melepas perlahan lengan Yoongi dalam cengkramannya.

"Ah tidak.. Aku.. Hanya oleng saat aku berdiri terlalu cepat tadi." Jawab Chanyeol tenang. Yoongi segera berbalik dan tidak menoleh lagi pada Chanyeol. Ketika dirasa Chanyeol sedang sibuk mengunci pintu, Yoongi berlari sekuat tenaga melewati tangga menuju lantai dasar.

"Cepat lah lulus, sunbae. Kehidupan ku tidak akan tenang jika kau masih disini" gerutu Yoongi hampir tidak terdengar. Setelah mengatur kembali nafasnya yang tersengal akibat sprint pendek menuruni 2 lantai, Yoongi pun keluar dari gedung kampusnya dan menuju parkiran untuk mengendarai motornya pulang.

.

=Jimin's side, the next day=

.

KaTalk chat

ParkJimin (08:35) : hyung, ada rekomen klub yang harus ku ikuti tak?

RyanMon (08:37) : Memang kenapa? Bukannya kau tidak suka di kampus lama lama?

ParkJimin (08:38) : Aku butuh poin tambahan untuk tugas akhir, jadi harus ikut klub

RyanMon (08:40) : Yasudah nanti ketemu di kantin, kita bicara di sana saja. Dosen ku sudah datang

ParkJimin (08:41) : Ok

Jimin mengunci handphone nya tepat ketika dosen pelajaran pertama nya masuk ke kelas. Ia ingin menyibukkan dirinya dengan apapun itu. Ia bahkan berniat untuk ikut dua atau tiga klub sekaligus di kampusnya hanya agar Ia tidak menghabiskan waktu nya dirumah atau sendirian.

Walaupun tugas kampusnya sendiri sudah menyita banyak waktu istirahatnya, Jimin tidak begitu ambil pusing. Jimin merasa kesibukan membuatnya lebih mudah mendapat ketenangan dan menjauhkan dirinya dari memori apapun tentang Jung Kook. Menjauhkan pikirannya dari keadaan runyam seperti TV lama yang statis.

Satu setengah jam berlalu dan pelajaran pertama pun usai. Jimin berusaha sekuat tenaga untuk menahan kantuknya di kelas tadi. Bukan karena pelajarannya tidak menyenangkan, tetapi karena Ia tidur hanya beberapa jam semalam. Apalagi penyebabnya selain tugas?

Jimin menguap sambil keluar dari kelasnya, pelajaran berikutnya masih setengah jam lagi. Itu pun belum tentu ada karena dosen pelajaran berikutnya sering absen. Jimin biasanya menghabiskan waktunya di perpustakaan, entah untuk membaca, mencari bahan tugas atau untuk tidur sejenak. Tapi Ia harus menemui Namjoon di kantin sekarang.

"Jims, sebelah sini!" panggil Namjoon dari kursinya ketika Ia melihat Jimin yang celingukan mencari sosoknya. Mendengar seseorang memanggil namanya, Jimin langsung menengok ke arah suara itu dan menghampiri Namjoon yang sedang duduk sendirian saat ini.

"Jadi.. Kau ada rekomendasi?" tanya Jimin langsung sembari duduk di kursi seberang Namjoon.

"Ah sebentar, aku ambil makanan ku dulu. Titip tas ku ya" Namjoon pun berdiri dan berjalan ke arah salah satu counter makanan di kantin itu. Jimin kembali menguap, rasanya Ia ingin segera pulang dan tidur seharian sebelum terbangun dan kembali pada tugasnya. Tidak lama kemudian, seseorang menepuk pundak Jimin pelan dan menariknya kembali pada kenyataan.

"Permisi, ini tas Namjoon kan?" tanya pria itu. Ia terlihat manis walaupun Jimin sadar pria itu lebih tinggi dan mungkin teman sekelas Namjoon karena tidak ada embel – embel 'hyung' dari pertanyaan yang terlontar tadi.

"Ah iya.." jawab Jimin singkat. Pria itu kemudian meletakkan tasnya di kursi sebelah tas Namjoon dan duduk disana. Jimin mau tak mau memperhatikan gerak geriknya.

"Oh iya maaf lupa, kenalkan aku Kim Seokjin. Kau?" Seokjin pun mengulurkan salah satu tangannya pada Jimin dengan senyum khasnya meghias wajahnya.

"Oh um.. Jimin. Park Jimin." Jimin pun menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya sesaat sebelum kembali menarik tangannya bersamaan dengan Seokjin.

"Namjoon nya kemana?" tanya nya lagi. Jimin hanya mengangkat bahu menandakan Ia juga tidak tahu kemana kakak tingkatnya itu pergi. Seokjin hanya mengangkat kedua alisnya, menghela nafas lalu mengeluarkan handphonenya. Sementara Jimin yang masih mengantuk melipat lengannnya di atas meja dan meletakkan kepalanya di atas kedua lengannya.

"Ah hyung, maaf tadi aku mengambil makanan ku dulu." Ucap Namjoon memecah keheningan di antara Jimin dan Seokjin. Perlahan Jimin mengangkat kepalanya dari lengannya dan menguap lebar. Tunggu, tadi Namjoon memanggil hyung?

"Tidak apa apa, untung aku mengenali tas mu. Haha.. Kau makan apa?" perhatian Seokjin pun teralihkan pada nampan yang dibawa Namjoon. Nampan itu berisi semangkuk ramyun lengkap dengan telur rebus, kani stick dan beberapa lauk lainnya.

"Sepertinya enak... Tapi kemarin aku baru makan mi.." Seokjin menghela nafas panjang dan cemberut. Ia masih menimbang nimbang apa yang ingin Ia makan saat ini.

"Jims, kau tidak makan?" tanya Namjoon sebelum adik tingkatnya itu berubah menjadi lalat karena tidak dihiraukan. Jimin menggeleng pelan sebelum kembali menguap.

"Aku makan siang saja, setelah pelajaran kedua selesai. Jadi, apa kau ada rekomendasi klub yang cocok dengan ku apa?" tanya Jimin lagi. Ia sedang berhemat dan uang saku nya hanya cukup untuk satu kali makan. Sengaja, agar Ia tidak boros.

"Hmm.. Kau cocok di teater, aku sempat menonton performance kelas mu kemarin dan akting mu bagus. Tapi aku tidak tahu mereka masih membuka pendaftaran untuk anak baru atau tidak. Kau tidak mau coba dance atau choir?" tutur Namjoon panjang sebelum menyeruput kuah ramyun dari sendoknya, sementara Seokjin sudah beranjak dari kursinya untuk mengitari kantin, mencari makanan yang sekiranya akan menarik perhatiannya.

"Ketiga nya mulai jam 5 sore.. Sedangkan kelas ku selesai jam 12. Aku harus kemana sambil menunggu? Sebenarnya aku tertarik ikut dance dan choir, tapi setahu ku mereka sudah menutup pendaftaran dan baru akan buka semester depan.." jawab Jimin panjang sementara Namjoon hanya mengangguk mengiyakan.

"Jadi ada rekomen lain?" tanya Jimin lagi. Sebelum Namjoon menjawab, Seokjin sudah kembali datang dengan nampan berisi semangkuk donburi dan satu botol air mineral dingin.

"Rekomen apa?" tanya Seokjin ketika Ia mendudukkan diri di samping Namjoon yang masih sibuk dengan mangkuk ramyun nya.

"Itu, Jimin meminta rekomendasi klub dari ku." Jawab Namjoon singkat sebelum menghabiskan makanannya.

"Oooh, kau tertarik masuk news tidak? Kebetulan klub ku sedang kurang orang. Masalah pendaftaran itu bisa diatur, kebetulan aku menyandang sebagai wakil ketua jadi tidak ada masalah~" Jelas Seokjin antusias. Ada maksud tersembunyi dari ajakan Seokjin itu. Selama ini Ia terikat dengan Yoongi sebagai partner liputannya. Yoongi tidak mau mencari partner lain di klub meskipun anggota nya lumayan banyak.

Menurut penilaian Yoongi, hanya Seokjin yang bisa mengikuti kecepatan kerja nya dan meskipun tidak bisa ikut liputan, hanya Seokjin yang mau mengerjakan bagian copy dari liputan Yoongi. Tapi sekarang Seokjin punya fokus lain, dan Ia tidak bisa dan tidak mau menghabiskan waktu nya di News sebanyak dulu.

Jimin berpikir sejenak dengan tawaran Seokjin. Ia tidak pernah tertarik sama sekali dengan dunia liputan atau semacamnya. Tapi di satu sisi, Jimin merasa ini kesempatan yang baik dan tidak boleh dilewatkan.

"Emm.. Boleh. Apa yang harus ku lakukan di news? Maksudnya.. Apa yang harus ku lakukan di klub?"

"Kau hanya perlu liputan dan menulis artikel kok. Itu saja~" ucap Seokjin santai diantara suapannya. Jimin mengangguk dan berpikir lagi, melewatkan wajah Namjoon yang menahan tawa mendengar jawaban Seokjin.

"Hanya itu? Yakin?" tanya Namjoon dengan nada mengejek, dan Ia mendapat sikutan dari Seokjin.

"Kau ini di pihak siapa sih? Kau mau aku sibuk terus di news lalu menelantarkan mu?" Seokjin cemberut dan Namjoon akhirnya tertawa geli.

Namjoon tahu bahwa klub dengan seksi paling sibuk di kampus mereka adalah news. Selain event kampus yang wajib di liput dalam setahun bisa ratusan jumlahnya, anak – anak news juga harus mencari event – event lain diluar kampus sebagai selingan. Belum lagi mereka harus menghadapi ketua mereka yang mereka juluki 'malaikat maut'.

"Satu lagi.. Klub nya mulai jam berapa?" tanya Jimin. Jawaban dari pertanyaan ini lah yang akan menentukan apakah Jimin akan masuk ke klub news atau tidak. Karena sejauh yang jimin tahu, semua kegiatan klub mulai jam 5 sore saat weekdays atau hari Sabtu.

"Kau hanya datang ketika kita harus liputan kok. Sisanya bebas~ Ruang klub ada di lantai dua di sebelah Editing room." Jelas Seokjin. Dan Jimin pun sepenuhnya tertarik.

"Jadi kau mau masuk klub ku?" Jimin mengangguk dan wajah Seokjin semakin sumringah. Ia pun membuka tasnya dan mengeluarkan selembar formulir pendaftaran klubnya.

"Ini, isi dulu. Nanti kau berikan lagi padaku. Selesai kelas aku selalu ada di ruang News~" Jimin mengambil selembar kertas dari Seokjin dan membacanya baik – baik. Belum selesai Ia membaca sampai akhir, bel istirahat selesai berbunyi dan Seokjin yang belum menyelesaikan makanannya mengumpat sebelum menyuap nasi dan lauknya sebanyak yang Ia bisa.

"Kau akan sering bertemu dengan ku nanti. Sampai ketemu~" dan dengan itu ketiga pemuda itu pun berpisah dan kembali ke kelas masing – masing.

Jimin masih memandangi formulir pendaftarannya selama menunggu dosennya di kelas. Salah satu teman baik Jimin di kelas telah duduk di sampingnya dan Jimin masih memperhatikan formulir pendaftaran klub dengan kata 'News' tersemat di header nya.

"Kau mau ikut News, hyung?" hanya ketika Hoshi bicara Jimin baru sadar kursi di sebelahnya sudah terisi oleh adik/teman sekelasnya itu.

"Kaget aku.. Iya sepertinya.. Kenapa?"

"Kenapa kau tidak ikut taekwondo saja? Kan bisa latihan denganku~" ucap Hoshi girang. Jimin mengernyitkan dahinya dan menggeleng.

"Kau sudah tingkat tinggi. Lagipula taekwondo bukan sesuatu yang menjadi minat ku. Kalian juga latihan tiap Sabtu, mana mau aku keluar rumah." Senyum Hoshi terbalik mendengar penjelasan itu. Karena sejauh yang Hoshi tahu, menulis bukan hal yang juga diminati hyung nya itu, lalu kenapa Ia ingin masuk News?

"Hmm yasudah kalau begitu. Yang ku dengar dari teman – temanku di klub News sih katanya ketua nya galak luar biasa. Dan untuk masuk News katanya kau harus tiga kali liputan sebagai tes, jika hasil liputan mu jelek maka kau tidak akan diterima" Hoshi pun membeberkan apa yang Ia tahu seputar klub News yang akan di ikuti oleh Jimin. Jimin merengut, tanda Ia sedang berpikir.

"Memangnya separah itu ya?" Hoshi hanya mengangkat bahu polos. Ia hanya membagikan apa yang Ia dengar, tapi rumor mengenai ketua klub News galak sepertinya satu kampus sudah tahu bahwa hal itu bukan sekadar rumor.

Pelajaran kedua telah usai dan formulir pendaftaran Jimin pun telah terisi dengan rapi. Setelah membereskan barang – barangnya Jimin pun segera naik ke lantai dua dan menuju ruang News dan letaknya persis di sebelah Editing room seperti yang Seokjin bilang. Jimin mengetuk pintunya dua kali dan setelah dipersilahkan masuk, membuka pintunya sedikit untuk menengok ke dalam.

"Masuk saja, jangan di pintu." Ucap seseorang yang sedang terduduk membelakangi pintu. Ia masih sibuk dengan laptopnya dan Jimin pun masuk seperti yang diperintahkan.

"Ah permisi.. Aku ingin mengembalikan formulir pendaftaran klub. Apa Seokjin hyung ada?" tanya Jimin hati – hati. Pemuda yang menghadap laptopnya tadi pun memutar kursinya dan kini menghadap Jimin.

"Oh kau anak baru itu? Sini berikan saja formulirnya pada ku. Seokjin masih di kelas" ucapnya datar. Meskipun begitu, ada kilatan aneh yang terlintas di kedua mata sipitnya. Jimin tidak bergerak dari tempatnya. Ia merasa seseorang di hadapannya begitu.. indah? Bahkan Ia sempat meragukan gender pemuda di hadapannya ini sebelum Ia bicara.

"Hei, kenapa diam saja?" Jimin pun tersentak dari fokus perhatiannya dan beranjak mendekati pemuda tadi untuk menyerahkan formulir pendaftarannya. Setelah membacanya sejenak, pemuda tadi pun mengangguk pelan. Jimin yang dianggurkan kembali memperhatikan wajah indah di hadapannya.

Mata yang sipit, bibir yang tipis seperti kucing, dan kulit yang putih pucat. Sangat kontras dengan warna rambutnya yang hitam kelam. Jimin tidak bisa memalingkan pandangannya pada hal lain saat ini.

"Kau pulang sana. Nanti akan ku hubungi lagi. Aku sedang banyak kerjaan. Shooh" pemuda itu membuat gestur mengusir dengan salah satu tangannya dan memutar dirinya kembali untuk menghadapi laptopnya.

"A-ah baiklah..." Jimin dengan kikuk melangkah keluar dari ruang News dan hampir menabrak Seokjin.

"Oh hey! Halo! Kau ingin mengembalikan formulirnya?" Jimin menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal dan mengangguk.

"Aku sudah berikan pada.. Orang yang ada di dalam..." ucap Jimin pelan, dan Jimin baru ingat Ia tidak mengetahui nama pemuda menawan tadi.

"Oh ok ok, kau mau pulang sekarang?" Jimin kembali mengangguk dan setelah mengucapkan selamat jalan, Seokjin pun masuk ke ruangan klub. Jimin pun tidak sengaja mendengar Seokjin memanggil pemuda di dalam ruang klub itu.

"Jadi namanya Yoongi.."


Sebelumnya maaf kalo chapter ini agak ngambang dan somehow boring orz
Imajinasi ku udah sampe di beberapa chapter ke depan tapi tanpa chapter ini dan berikutnya rasanya bakal terlalu patah dan ga natural jadi mohon sabar ya MinYoon shipper wwwww :") Makasih banyak yang udah mau baca dan kasih review :*

Minyoonlovers Wwwwww iya maafkan dedek Kuki ama Emphi ya :"D

Lunar Peach selamat datang di fic ini x"D Sama, aku juga ga tega sebenernya :"D

Vtan368 tidaaak jangan menangis :"DDD

Wow11 wwww siaaap dinanti ya X"D

Myga wwww iya kasian dia. Siaaap dinanti ya~ x"D

27tiavy karena Jimin masih sayang banget sama jeka, dedek Tia :"D Orang – orang BPD ngerasa ga gampang nyari orang yang ngertiin mereka sedalam itu makanya Jimin susah setengah mati mau move on wwwww kasian dedek Kuki X"D

Helenaaaaafela siaap dinanti yaaa wwww

Sugapheromone maygat nama akunnya wwww sukak /hus siaaaap mohon dinanti X"D

Oh iya habis dari chap ini kayaknya mood nya bakal lebih rollercoaster lagi wwwww jadi yang sabar ya sama saya x"DDD

-Ches Anderson-