Monochrome Days

Park Jimin x Min Yoongi

All Bangtan Boys members belong to their rightful family and BigHit enterprise.

AU University

Boys x Boys

Don't like, don't read.

Please enjoy~


Criterion no 2

Individu yang menderita BPD memiliki sebuah pola ketidak-stabilan
dalam hubungan interpersonal yang dikarakterisasikan dengan perubahan ekstrem antara pemujaan dan pendevaluasian seseorang yang dekat dengan penderita BPD.

.

"Hyung?! Jangan bercanda. Kau sendiri yang membuangku. Kau sendiri yang berbohong. Lalu kau masih ingin aku menganggap mu kakak seperti tidak terjadi apa – apa? Hah! Yang benar saja. Kau hanya sunbae untuk ku. Kau bukan hyung ku. Kau yang memberikan pilihan ini untuk ku kan? Terima saja, karena aku tidak akan mengambil pilihan lain."

Yoongi menghela nafas panjang mengingat pertengkarannya dengan Chanyeol beberapa minggu yang lalu. Kakak tingkatnya yang dulu sangat dekat dengannya kini sudah memiliki kekasih. Sebenarnya yang membuat Yoongi marah bukan karena Ia cemburu atau apapun, tapi Ia kecewa. Kenapa Chanyeol harus berbohong? Kenapa di awal Chanyeol bilang Ia tidak akan mencari pacar lalu malah menjalin hubungan di belakang Yoongi untuk kemudian menghilang dan bersikap seolah Yoongi hanyalah mainan bekas yang dibuang begitu saja? Kenapa tidak jujur? Kenapa harus membuat janji yang pada akhirnya di batalkan sendiri?

"Untung saja dia tinggal menunggu wisuda. Jangan sering – sering mampir ke klub lah.." Yoongi bermonolog pelan. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam dan Yoongi tengah terduduk di salah satu bangku taman dekat kampusnya. Ia tidak ingin segera pulang dan bergelung di apartemennya sendirian. Udara dingin menerpa pipi Yoongi yang pucat dan membuatnya bergidik. Ia menyesal tidak mengenakan jaket yang lebih tebal.

Yoongi pun membuka tasnya dan menemukan kertas formulir pendaftaran milik Jimin. Ia menarik kertas itu dan membacanya ulang. Hal itu mengingatkan dirinya bahwa Ia harus menghubungi anak baru ini untuk diberikan arahan mengenai liputan yang akan menjadi tes masuknya.

"Park Jimin ya.. Seorang Park lagi.. Hah.. Semoga kau tidak mengecewakan." Yoongi kembali menghela nafas dan mengembalikan formulir pendaftaran itu ke dalam map nya agar tidak terlipat atau robek. Ia kemudian mengeluarkan handphone dari sakunya dan menambahkan ID 'ParkJimin' ke dalam kontak KaTalk nya.

.

=Jimin's side=

.

Jimin baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaiannya ketika tiba – tiba handphone nya berdering. Jimin tersenyum membaca nama yang muncul di handphone nya.

"Ya hyung?"

"Mochi mochi~"

"Kenapa menelepon? Tumben haha.."

"Hanya ingin menanyakan keadaan mu saja, habis belakangan ini chat ku jarang kau balas. Kau sedang sibuk ya?"

"Oh iya haha aku sedang banyak tugas. Dan aku baru akan ikut klub."

"Mwo? Tumben kau mau ikut klub. Bukannya semua klub di kampus mu mulai sore?"

"Ternyata tidak semua. Ada klub yang jam nya bebas hyung. Jadi aku ikut itu~"

"Hoo.. Yasudah kalau begitu. Eh iya, aku dan Min Kyung hari Minggu besok akan datang ke pameran lukisan. Kau mau ikut?"

"Boleh. Dimana? Aku sudah lama tidak bertemu kalian.."

"Uuu lucu nya, kangen ya? Hahahaha.."

"Hahahaha.. Begitu lah.. Sejak kejadian itu juga kan kau sibuk jadi tidak sempat main.."

"Hahaha iya iya, nanti aku jemput saja seperti biasanya. Bagaimana?"

"Ok~"

"Ku tutup dulu ya. Jaljaa~"

Dan sambungan pun terputus. Jimin menghela nafas lega dan tidak sabar untuk bertemu Hoseok dan Min Kyung hari Minggu besok. Ia baru sadar ada notifikasi lain dari KaTalk nya. Seseorang bernama 'MinSuga' baru saja menjadi kontak baru nya.

"Min Suga siapa?" Jimin mengernyitkan dahi nya karena merasa tidak mengenali nama itu. Beberapa menit kemudian masuk lah chat dari ID yang bernama 'Min Suga' itu.

.

KaTalk chat

MinSuga (20:13) : Yo anak baru

MinSuga (20:14) : Kau kosongkan jadwal mu weekend ini

MinSuga (20:14) : Karena tes liputan mu baru akan dimulai (evil)

.

Membaca chat terakhir yang menyebutkan liputan, Jimin pun berpikir bahwa Min Suga ini pastilah seseorang yang memiliki jabatan atau bahkan ketua dari klub News yang baru saja Ia datangi siang tadi. Jimin mendengus kesal karena Ia tidak bisa bertemu dengan Hoseok minggu ini. Tapi bagaimana pun Ia ingin masuk ke klub News. Ia butuh poin tambahan itu untuk lanjut ke semester berikutnya.

.

ParkJimin (20:16) : Hyung maaf aku tidak bisa ikut, tes liputan untuk klub ku hari Minggu ini

J-Hope (20:17) : Yaaaaaaaaaah (sad face) (cry) yasudah kalau begitu. Semoga berhasil, mochi~

J-Hope (20:18) : Hwaiting!

ParkJimin (20:18) : Gomawo~

.

Selesai mengabari Hoseok, Jimin pun berniat untuk membalas chat dari Min Suga. Ia merebahkan dirinya di atas kasur dan mulai menguap. Ini memang masih agak sore, tapi Jimin merasa kedua kelopak matanya sudah berat.

.

ParkJimin (20:20) : ya sunbaenim

MinSuga (20:21) : bagus, bagus

MinSuga (20:21) : ku tunggu di stasiun dekat kampus jam 8 pagi

MinSuga (20:22) : tidak boleh terlambat satu detik pun

MinSuga (20:22) : karena itu akan berpengaruh pada penilaianku

ParkJimin (20:23) : siap

MinSuga (20:24) : Satu lagi, pakai kemeja dan baju formal

ParkJimin (20:25) : siap sunbaenim

.

Setelah itu tidak ada balasan lagi dari MinSuga dan Jimin pun sudah terlelap ke alam mimpi. Jimin masih bersyukur bahwa dengan keadaannya sekarang, pikiran – pikiran buruk yang biasanya hinggap dapat terabaikan begitu saja meskipun Ia tidak lagi bermimpi dalam tidurnya karena terlalu lelah.

Hari pun berganti tanpa terasa dan kalender pun menunjukkan hari Minggu. Jimin datang terlalu cepat di tempat Ia dan Min Suga berjanji untuk bertemu sebelum pergi ke event yang akan menjadi liputan perdana bagi Jimin hari itu.

Rasanya aneh menggunakan pakaian formal di hari Minggu. Jimin menggunakan kemeja putih lengan pendek dan celana bahan warna hitam. Karena berangkat pagi dan udaranya masih dingin, Ia pun masih menggunakan hoodie hitam lengan panjang kesayangannya. Selama menunggu, Jimin terus berandai – andai, seperti apa rupa seorang Min Suga ini.

"Semoga saja tidak seburuk yang ku kira.. Jika Ia ketua yang ditakuti itu, maka mungkin tubuhnya tinggi besar dan suaranya berat sehingga anak – anak lain takut padanya.." Jimin bermonolog sambil memperhatikan pejalan kaki yang berlalu lalang di hadapannya. Dengan gambaran yang terbentuk sendiri di kepalanya, Jimin mencari sosok yang sesuai dengan dugaannya itu. Pencariannya terhenti ketika Ia melihat sosok indah yang kemarin ditemuinya.

'Ah.. Yoongi sunbaenim..' Jimin pun tersenyum tanpa Ia sadari. Ia pun tak henti bertanya dalam hati sedang apa sunbaenim nya itu ada di sini? Sunbae yang indah bagi Jimin itu menggunakan pakaian semi formal. Kemeja kotak – kotak berwarna putih -biru muda lengan panjang dilapisi sweater tipis berwarna hitam yang kontras dengan kulit pucatnya dan celana jeans hitam.

'Sunbaenim rapi sekali.. Apa dia mau berkencan dengan seseorang ya? Aish.. Manis sekali..' Jimin tidak menyadari bahwa Ia terus memperhatikan sunbaenim nya tanpa sadar bahwa Yoongi semakin dekat ke arahnya, dan lamunannya harus buyar ketika segulung kertas menepuk kepalanya.

"Hei kenapa kau senyum – senyum sendiri? Mengerikan. Kau sedang mengkhayal apa, ha?" tanya Yoongi datar. Jimin pun salah tingkah dibuatnya. Ia hanya tertawa kecil dan merapikan bajunya secara tidak sadar.

"Sunbaenim sedang apa disini?" Yoongi mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan dari Jimin. Kenapa dia masih bertanya apa yang Yoongi lakukan disini padahal sudah jelas Jimin sedang menunggunya.

"Kenapa kau bertanya? Kau amnesia? Tes liputan mu hari ini, dan aku penguji mu. Ini bawa, berat." Yoongi menyerahkan tas kamera pada Jimin yang masih terpana tak percaya mendengar apa yang baru saja sunbae indahnya itu katakan.

"Lho.. Jadi Min Suga itu.. akun sunbaenim?" Yoongi mengerjap beberapa kali dan Ia baru sadar kenapa Jimin bertanya Ia sedang apa disana. Yoongi pun tertawa dan menepuk – nepuk pundak Jimin yang masih berpikir.

"Hahaha iya aku lupa, kau tidak tahu nama ku ya. Kemarin sedang banyak kerjaan. Panggil saja Suga. Ayo jalan." Yoongi pun mendorong punggung Jimin untuk berjalan di depannya. Jimin tidak dapat menyembunyikan senyum nya. Ketua News yang Ia kira akan sangat mengerikan dan menyeramkan ternyata adalah mahluk indah ini. Dan itu artinya Ia akan menghabiskan waktunya seharian dengan sunbae nya itu hari ini. Bahkan seterusnya jika Ia berhasil mendapatkan nilai bagus atas liputannya hari ini. Ah sungguh keberuntungan mutlak.

"Kita mau kemana sunbaenim?" tanya Jimin ketika mereka menunggu kereta datang di peron no 2. Yoongi yang tidak begitu memperhatikan pertanyaan Jimin sedang sibuk meletakkan dompetnya di bagian tas paling bawah. Agar tidak dicopet, pikirnya.

"Hah? Apa?"

"Kita mau liputan kemana hari ini?"

"Ooh, ada event pameran lukisan. Aku diundang untuk liputan disana. Kebetulan kau baru masuk. Jadi ini waktu yang pas untuk ujian mu. Jangan sampai melakukan apapun yang mempermalukan ku ya." Ancam Yoongi. Meskipun diucapkan dengan nada datar dan diakhiri dengan ancaman, senyum Jimin masih melengkung sempurna. Ia hanya mengangguk paham dan merasa bahwa sunbae nya ini pasti produser berita yang hebat hingga Ia bisa dapat undangan untuk liputan.

'Eh? Pameran lukisan?' Jimin pun teringat ajakan Hoseok beberapa hari yang lalu. Jika Ia sampai bertemu dengan Hoseok hari ini maka lengkap sudah keberuntungannya. Membayangkan kemungkinan itu membuat senyum Jimin semakin lebar, dan membuat Yoongi semakin bingung.

"Kau ini kenapa? Jangan senyum – senyum sendiri. Kau membuatku takut." Yoongi menyipitkan matanya dan terlihat kesal. Masalahnya, Yoongi bukan peramal atau cenayang yang bisa membaca pikiran orang lain. Jadi pengetahuannya yang tidak ada mengenai apa yang dipikirkan Jimin membuatnya ngeri sendiri.

"Ah iya maaf sunbae" Jimin pun memasang wajah datar hanya untuk kembali tersenyum ketika Yoongi tidak memperhatikan. Tidak lama kemudian, kereta yang akan membawa mereka ke tempat liputan pun datang.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi, Yoongi menjelaskan sedikit mengenai pameran lukisan yang akan mereka kunjungi. Tentang lokasi, siapa penyelenggara nya dan orang – orang penting yang hadir dan hal – hal apa saja yang akan membuat para pembaca web maupun majalah cetak yang selama ini klub News miliki tertarik.

"Tips dariku, kau cari informasi sebanyak mungkin yang bisa kau dapat selama di sana. Masalah informasi mana yang akan kita pakai, itu urusan belakangan. Yang pasti, kumpulkan informasi sebanyak mungkin. Hal – hal krusial yang sudah kusebutkan tadi juga jangan lupa kau lengkapi informasinya. Itu saja pesan ku. Deadline hari Selasa pagi. Karena Rabu majalah sudah harus angkat cetak. Walaupun majalah terbit dua minggu sekali, kalau kau sudah resmi jadi anggota news kau tetap harus mencari bahan liputan tiap weekend." Jelas Yoongi panjang lebar.

Jimin mendengarkan dengan seksama, walaupun Ia sempat agak kesulitan memfokuskan pendengaran dan pikirannya karena duduk bersebelahan dengan mahluk seindah Yoongi memang membuatnya selalu salah tingkah. Tapi Ia tahu Ia harus berhasil melewati liputan ini, atau ucapkan selamat tinggal pada hari – hari bersama sunbaenim manis nya itu.

"Paham kan?" tanya Yoongi lagi, meyakinkan dirinya bahwa hoobae nya itu benar – benar mendengarkan penjelasan panjang lebarnya tadi. Jimin mengangguk pasti, Ia pun mengeluarkan handphone nya dan mencatat semua yang perlu Ia ingat dan lakukan pada liputan kali ini pada fitur note di handphone nya.

"Bagus, bagus. Aku tidak akan mendampingi mu seperti anak kecil di sana. Kau bisa jaga diri kan? Jaga kamera ku. Kalau sampai tergores sedikit pun, habis riwayat mu." Ancam Yoongi lagi. Sesungguhnya yang ada di tangan Jimin saat ini bukan kamera miliknya, tapi milik Seokjin. Mana mungkin Yoongi rela memberikan kameranya pada anak baru yang Yoongi sendiri tidak tahu bagaimana Jimin memperlakukan sebuah kamera?

Tetap saja Yoongi harus memberi Jimin peringatan agar Ia tidak sembarangan dengan barang mahal milik orang lain. Jimin menggangguk mantap sekali lagi dan Yoongi tersenyum puas dengan respon yang Ia terima. Dan kereta mereka pun sampai di stasiun tujuan.

Setelah berjalan sekitar 5 menit dari stasiun, mereka pun sampai di sebuah gedung serba guna. Letaknya agak menjorok ke dalam dari jalan raya dan dipenuhi pohon rindang. Bentuk gedungnya pun unik walaupun terbilang cukup sederhana.

Ketika mereka naik ke lantai dua, banyak orang sudah berkumpul di hall utama nya. Jimin dapat melihat sekilas ke dalam hall utama dan banyak lukisan indah dan unik terpampang di kiri dan kanan dinding nya. Yoongi menunjukkan kartu ID media nya pada resepsionis dan mereka pun masuk ke dalam hall utama tersebut.

"Hei jangan bengong. Tugas mu disini untuk liputan. Kita bertemu lagi nanti. Aku ada urusan. Kau lakukan apa yang ku minta tadi ya. Ku tunggu jam 2 tepat di sini. Ok?" Yoongi menepuk – nepuk pundak Jimin sebelum memisahkan dirinya dari Jimin. Jimin pun mengangguk dan memperhatikan punggung Yoongi hingga Ia menghilang dibalik kerumunan orang sebelum mencari pojokan yang agak sepi.

Jimin meletakkan backpacknya dan memindahkan tas kamera yang kosong ke dalam backpacknya, sementara kamera DSLR sudah tergantung di lehernya. Ia pun tidak lupa mengalungkan nametag 'media' yang diberikan Yoongi padanya di resepsionis. Jimin memulai pengumpulan informasinya dengan melihat – lihat lukisan dan mengambil beberapa foto dari panggung kecil di tengah ruangan dan lukisan – lukisan tertentu yang boleh di foto.

Langkah Jimin terhenti ketika Ia melihat sebuah lukisan di tempat yang tidak terlalu ramai pengunjung. Sebuah lukisan yang dilukis menggunakan cat minyak. Dibandingkan dengan lukisan – lukisan yang Jimin lihat dalam hall sebelumnya, entah kenapa Ia tertarik dengan lukisan yang hampir tidak ada yang memperhatikan ini.

"Le Lit.. By Hendri le Toulouse-Lautrec.. 1892.." dan hanya itu yang Jimin temukan dari papan penjelasan kecil yang tersemat di samping lukisan itu. Sebuah lukisan berisi sepasang insan manusia yang sedang terlelap. Terlihat damai namun Jimin merasakan adanya kesedihan dan jarak diantara dua insan manusia itu. Karena Jimin tidak menemukan ada tanda dilarang foto, Ia pun mengambil foto dari lukisan tersebut.

Jimin merasa dari lukisan itu Ia bisa membuat sebuah blog atau semacamnya. Ia sangat tertarik dengan lukisan itu dan berniat mencari tahu lebih jauh mengenai kisah di balik sepasang insan manusia yang terlelap dalam damai itu.

Tidak terasa hari sudah semakin siang, Jimin mulai merasa perutnya panas minta diisi. Karena sunbae nya tidak nampak sedari tadi, Jimin pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk meletakkan kembali kamera ke dalam tasnya dan beranjak keluar venue untuk sekedar mencari pengganjal lapar. Baru saja Jimin sampai di dalam kamar mandi, handphone nya berdering menandakan ada chat masuk.

.

KaTalk chat

MinSuga (12:38) : kau dimana?

ParkJimin (12:39) : kamar mandi sebelah kanan, sunbae

MinSuga (12:40) : ok aku ke sana

.

Setelah membaca balasan dari Yoongi, Jimin melanjutkan kegiatannya merapikan kamera dan isi dalam tasnya. Tiba - tiba pintu salah satu bilik kamar mandi terbuka dan suara yang sangat Jimin kenal memanggil nama panggilannya.

"Mochi..?! Kau disini? Kau bilang kau ada tes liputan hari ini!" Jimin langsung mendongak dengan senyum terkembang di bibirnya.

"Hoseok hyung! Dugaan ku benar! Ternyata kita bisa bertemu disini hahaha!" ucap Jimin senang. Ia pun memeluk Hoseok singkat dan kembali pada kegiatannya.

"Aku memang sedang liputan. Tapi aku tidak tahu jika kita ternyata akan pergi ke tempat yang sama. Lagipula yang menentukan event untuk ujian ku kan ketua klub ku. Min Kyung nuna dimana?" wajah Hoseok agak merona mendengar nama seorang gadis yang baru saja disebutkan Jimin tadi. Perubahan itu membuat Jimin bingung 100%.

"Dia diluar. Masih melihat – lihat lukisan. Ah ada banyak sekali yang ingin ku ceritakan pada mu. Kau selesai liputan jam berapa? Kau langsung pulang kan?" tanya Hoseok beruntun.

"Iya aku langsung pulang. Kau mau menginap dirumah?" Hoseok mengangguk semangat, memperjelas maksud dan keinginannya yang ditawarkan oleh Jimin.

"Yasudah nanti aku ke rumahmu. Aku harus mengantar Min Kyung pulang dulu." Mendengar pernyataan Hoseok, Jimin menaikkan sebelah alisnya. Pasti ada sesuatu diantara mereka berdua.

"Hyung?"

"Yo?"

"Ada apa dengan kau dan nuna?"

"...h-hah? A-ada apa? Memangnya kenapa?" Jimin menyeringai. Jika Hoseok mencoba berbohong dia pasti menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi. Sadar diri bahwa usahanya sia - sia, Hoseok hanya menghindari tatapan mata Jimin dan tersenyum malu.

"Nanti saja cerita nya. Aku-"

"Park Jimi- Oh maaf"

"Ah sunbaenim.."

"Cepat selesaikan urusan mu. Kau harus merekam interview." Dan Yoongi pun kembali keluar dari ruangan itu. Sekarang giliran Hoseok yang menyeringai memperhatikan Jimin yang masih terdiam di tempatnya dengan wajah mengawang.

"Hei, keluarkan lagi kamera mu. Liputan, sana! Hahaha jangan diam disini!" ucapan Hoseok menyadarkan Jimin dari lamunannya dain Ia pun bergerak tergesa mengeluarkan kembali kamera nya dan meletakkan kembali tas kamera kosong ke dalam backpacknya.

"Sampai nanti hyung!" dan Jimin pun melesat keluar mencari Yoongi. Sementara Hoseok hanya terkekeh melihat kelakuan adik tingkat kesayangannya itu.

"Dasar bodoh, kau sama saja mudah terbacanya seperti aku." Hoseok pun keluar dan mencari Min Kyung untuk makan siang.

.
=Jimin's home, 16:48=

.

Jimin baru saja sampai dirumah setelah setengah hari mengikuti Yoongi kemana - mana dan menjadi kameramen nya. Yoongi memberikan ijin pada Jimin untuk membawa memory card kamera nya pulang agar Ia dapat mengerjakan laporannya, memilih foto dan informasi apa saja yang akan Ia berikan untuk di cek Yoongi Selasa pagi.

Jimin menghela nafas panjang dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menyadari bahwa Yoongi memang sangat serius dalam urusan pekerjaan. Dan Jimin, walaupun menjadi jurnalis atau wartawan bukan minat sesungguhnya, dapat merasakan bahwa Yoongi memang pantas jadi ketua klub. Selain Ia sangat memperhatikan pekerjaannya, di usianya yang hanya berbeda 2 tahun dari Jimin, Ia terlihat sangat profesional di event tadi.

"Sunbae kau bukan hanya manis, tapi juga keren.. Haah.. Andai aku dapat menemukan minat ku seperti kau.." Jimin bermonolog dan senyum tipis terbentuk di bibirnya ketika Ia mengingat senyuman Yoongi hari itu. Ketika Jimin hampir kehilangan kesadarannya, handphone nya berdering.

"Mochi mochi, buka pintunya. Aku sudah di gerbang~" ucap Hoseok riang di seberang telpon. Jimin pun menguap dan segera bangun sebelum memutuskan sambungan telepon. Hoseok segera menuju kamar Jimin seperti biasanya.

"Jadi, ada apa dengan kau dan Min Kyung nuna?" senyum Jimin kembali terkembang nakal. Hoseok hanya terkekeh malu mendapatkan pertanyaan itu.

"Ah.. Aku mulai ceritanya dari mana ya.. Intinya, Min Kyung sudah bersama ku sekarang. Yaa.. Begitu.. Lah.." Jimin ikut tertawa bersama Hoseok yang berusaha menjelaskan hubungannya dengan Min Kyung tetapi Ia malu sendiri dan berakhiran gagap juga tertawa.

"Sejak kapan?" Hoseok berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Em.. Belum lama sih.. Sejak kejadian itu, kau menjauh dari kami. Dan Min Kyung bilang Ia hanya punya aku untuk bercerita. Jadi aku yang menemaninya selama ini. Dan.. Ya.. Pada akhirnya kami memutuskan untuk jadian.. Saat aku menelepon mu kemarin kan pertama kalinya kita ada kontak lagi setelah masalah mu dan Jung Kook. Makanya aku belum sempat cerita apa – apa.." senyum Jimin pudar meskipun masih melengkung tipis di bibirnya.

"Ah.. Baguslah, aku turut senang untuk kalian~ Setidaknya nuna dan hyung kesayangan ku sudah ada di tangan yang benar sekarang. Jadi aku hanya tinggal menunggu undangan dari kalian." Hoseok meninju pundak Jimin becanda. Wajahnya tersipu malu.

"Ya! Apa maksudnya undangan! Kau ini." Jimin hanya tertawa melihat reaksi dari Hoseok.

"Kau sendiri, ada hubungan apa dengan sunbae mu kemarin, hm?" kini giliran Hoseok yang menyeringai dan Jimin yang tersipu.

"Ah aku tidak ada hubungan apa – apa dengan Suga sunbae. Dia ketua klub News yang ingin aku ikuti. Hanya itu.." papar Jimin, dan Hoseok tertawa geli melihat wajah Jimin yang memerah dan salah tingkah.

"Jadi itu alasannya kenapa kau ingin sekali masuk News? Wajar sih.. Dia manis. Dan tinggi kalian juga cocok~" Jimin yang agak sensitif dengan topik tinggi badan menggeser Hoseok dari tempatnya duduk di atas kasur agar Ia juga dapat duduk.

"Ish. Kenapa harus tinggi yang dibahas" Jimin memicingkan mata kesal pada Hoseok, dan Hoseok hanya tertawa sampai Ia rebahan di atas kasur. Jimin pun ikut merebahkan dirinya di samping Hoseok dan menghela nafas panjang.

"Kalau kau benar – benar menyukainya, kejar saja dia. Atau buat liputan yang selalu bagus agar Ia memperhatikan mu." Ucap Hoseok lagi.

"Tapi aku takut, hyung.." senyum Jimin memudar. Dan Hoseok mengernyitkan dahinya bingung.

"Takut? Takut kenapa?"

"Kalaupun aku berhasil mendapatkannya.. Bagaimana jika aku hanya jadi beban lagi bagi sunbae..?" pernyataan Jimin membuat Hoseok menghela nafas panjang.

"..kau masih mengingat kata – kata Jung Kook rupanya.." Jimin kaget mendengar pernyataan Hoseok dan berusaha membela dirinya. Mungkin memang apa yang Jung Kook katakan terpatri kuat bahkan dalam alam bawah sadarnya sehingga Jimin menjadi takut menjalin hubungan lagi.

"B-bukan begitu.. Hanya saja.. Yah.. Aku tidak bisa membaca pikiran orang lain.. Dan hal itu membuat ku takut.. Kau tahu sendiri kan aku paling tidak suka dan takut pada hal – hal yang ada di zona abu – abu..? Dan pikiran manusia itu salah satunya.."

"Hmh.." Hoseok memejamkan kedua matanya untuk mendengarkan penjelasan Jimin.

"Lagipula aku mana tahu Kook- maksudku Jung Kook, merasa tertekan karena aku..? Dia tidak pernah bicara apa – apa.." Hoseok kembali menghela nafas panjang mendengar jawaban Jimin.

"Tapi Jimin-ah.. Suga kan bukan Jung Kook.."

"...tetap saja.. Masalahnya kan ada pada diri ku dan amarah ku.. Bukan pada Jung Kook.."

"Hei, kau selalu bilang pada ku untuk berani mencoba hal baru. Kau yang paling marah dan jengkel ketika dulu aku sempat terhenti di salah satu fase hidup ku hanya karena seseorang. Aku ingin kau berani sekali lagi dan mencoba hal yang sama seperti apa yang kau minta aku lakukan dulu.." Jimin bungkam dengan pernyataan Hoseok. Ia tidak bisa mengucapkan apa - apa.

"Kalau kau memang masih takut untuk menjalin hubungan, yah.. Jadi teman kan tidak jadi masalah? Walaupun rasanya pasti lebih berat karena kau sudah terlanjur ada rasa padanya.."

"Aku hanya takut mengecewakan sunbae dengan diri ku yang asli.."

"Tadi siang kau dengan percaya dirinya mengirimkan chat padaku bahwa kau pasti akan masuk klub News dan mendapatkan hati ketua klub mu itu. Lalu kemana Jiminnie dengan tingkat kepercayaan diri itu, ha?" pertanyan Hoseok membuat Jimin malu. Ia tidak tahu kemana rasa percaya dirinya yang tadi pergi dan menghilang begitu saja.

"I-Itu beda.. M-maksudnya.. Setelah ku pikir lagi.. Aku.. Tidak mau menyakiti orang lagi.."

"Jimin-ah, percaya padaku. Jika Jung Kook dulu benar – benar menyayangi mu, Ia akan menghargai permintaan mu untuk selalu jujur pada mu. Mungkin berat baginya untuk menyampaikan perasaan sesungguhnya tentang diri mu. Tapi jika dia memang berniat untuk serius dengan hubungan kalian, dia pasti akan selalu jujur pada mu jika apa yang kau lakukan padanya menyakiti nya. Karena aku tahu, dan seharusnya Jung Kook juga tahu, bahwa kau tipe pria yang akan berusaha menjadi sosok yang lebih baik lagi demi orang yang kau cintai sepenuh hati. Logika nya kan seperti itu. Jadi jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri.. Ya..?"

Jimin terdiam dengan penjelasan Hoseok. Logikanya berusaha mencerna apa yang Hoseok katakan dan itu memang benar adanya. Jimin menghela nafas panjang, rasa takut mengecewakan Yoongi masih bercokol kuat di hatinya, tapi kini jalan pikirannya sudah terbuka.

"Mungkin orang yang seharusnya ku coba maafkan adalah diriku sendiri.." ucap Jimin lirih, bibirnya melengkungkan senyum tipis dan Hoseok lega adik tingkat kesayangannya itu mengerti apa yang Hoseok ingin sampaikan. Ia tidak suka melihat Jimin seperti dirinya dulu, terlalu terlarut dalam rasa bersalah sampai mengasingkan dirinya sendiri dari dunia. Jimin menariknya dari ruang gelap itu, dan Hoseok ingin melakukan hal yang sama baginya.

"Terima kasih, hyung.."


GILAAAA TEMBUS 3,5k words LMAO /kagetsendiri/

Maafkan aku yang telat update. Semoga panjang chap kali ini dapat menebus kesalahan ku membuat kalian menunggu. Hiks TTwTT

Dari kemarin aku sedang sibuk jadi tidak sempat mengerjakan fic mana pun. Semoga setelah ini dapat update lebih cepat QwQ

Mari balas review dulu x"D

Hirokisasano1 wwww iya dong soalnya abang gula kan manis nya tiada tara x"DD

Minyoonlovers Iya ga pernah karena mereka beda jadwal kuliah dan Jimjim kan ga masuk klub x"D Sudah dijelaskan ya antara Yoongi sama Chanyeol ada apa X"D

Wow11 sudah dijelaskan disini x"DDD

Sugapheromone belum kok x"D Jims kan setia, move on nya susah /loh. Makasih juga udah review ya~ :*

Real bunda nya Jimin ya ampun bunda maafkan aku anaknya ku siksa /lah. Sedang dalam masa transisi nih bun anaknya x"D Doakan bisa cepet move on ya UvU Iya soalnya Yoongi ga mau ngelepas Seokjin habis Seokjin paling rajin x"DDD

Sekali lagi terima kasih bagi yangsudah baca dan kasih review. Sayang kalian~ :*

-Ches A-