Monochrome Days

Park Jimin x Min Yoongi

All Bangtan Boys members belong to their rightful family and BigHit enterprise.

All songs included belong to their rightful owner.

I only own the plot of the story.

AU University

Boys x Boys

Please enjoy!


The Second Trial

Di sela – sela jam pelajaran dan di antara tumpukan tugas – tugasnya, Jimin mengerjakan laporan hasil liputan pertamanya dengan sebaik – baiknya. Semua detail dan transkrip wawancara tidak lupa Ia ketik dan selipkan di dalam map laporan.

Beberapa contoh foto yang akan digunakan sebagai pendukung artikel pun Ia print dalam beberapa lembar HVS 80gr dan disatukan dengan semua laporan lainnya dalam map. Selama menginap, Jimin banyak meminta pendapat pada Hoseok mengenai pilihan foto yang bagus untuk digunakan.

Menulis artikel merupakan hal baru bagi Jimin. Untuk mencapai standar sunbaenim manisnya, Jimin membongkar semua majalah edisi lama yang diterbitkan klub News dibawah pimpinan Suga dan beberapa sebelum Suga menjadi ketua redaksi. Perbedaannya signifikan dan memang ketika Suga menjabat, majalah Kampus mereka terlihat rapi, teratur, dan lebih menarik untuk dibaca.

Jimin merasa cukup puas dengan laporan liputan pertamanya. Ia pun bergegas menuju ke ruang News ketika pelajaran terakhirnya hari itu usai. Setibanya disana, ruang News masih kosong. Bahkan Suga yang biasanya telah terduduk di hadapan pc nya belum nampak batang hidungnya.

Jimin baru kali ini benar – benar memperhatikan ruang News. Ruangannya memanjang ke belakang dan memang terkesan agak sempit karena terbagi menjadi dua sisi dan empat kolom. Jika berdiri di pintu seperti yang kini Jimin lakukan, sebelah kiri ruangan terdapat sofa dan loker – loker setinggi pinggang untuk menyimpan arsip arsip klub. Di sebelah kanan ruangan, tepat di samping pintu masuk ada satu set meja dan PC. Mayoritas pernak pernik dan alat tulis di atas meja itu berwarna pink. Jika Jimin duduk di kursi set meja itu, maka Ia memunggungi satu set meja dan PC lainnya. Meja milik Suga sunbaenim.

Meja milik Suga tertata rapi, di tembok nya terdapat board hitam berisi beberapa post- it yang berisi info – info penting seputar News dan jadwal event – event mendatang. Dan Jimin melihat sesuatu yang familiar di meja Suga.

"Kumamon! Wah sunbaenim suka Kumamon.. Lucu.. Hahaha.."

"Hey sudah ku bilang jangan berdiri di pintu" Suga yang tiba – tiba muncul dibelakang Jimin membuat adik kelasnya hampir melompat karena kaget.

"Ada apa kemari? Bukannya deadline mu besok?" tanya Suga sembari berjalan masuk menuju mejanya dan mendudukkan diri di kursi kesayangannya.

"Ah iya, laporannya sudah selesai sunbaenim. Artikel, foto – foto yang akan dipakai dan semua yang sunbaenim mita sudah ku masukkan di file ini." Jimin pun menyerahkan file berisi laporannya pada Suga dan kembali terdiam memperhatikan sunabenim nya yang mulai mengecek kelengkapan file laporan yang diterimanya. Merasa diperhatikan, Suga pun mengalihkan pandangannya pada Jimin yang masih berada di tempatnya.

"Nanti hasil penilaianku ku kabari, kau pulang saja sana, shooh shooh. Aku masih banyak pekerjaan" dan Suga pun berbalik memunggungi Jimin setelah memberi gestur 'pergi' menggunakan salah satu tangannya pada Jimin.

"Ah baiklah, terima kasih sunbaenim. Aku permisi" dan ketika Jimin berbalik lagi – lagi Ia hampir menabrak Seokjin.

"Hei Chim chim! Kau sedang apa disini?" sapa Seokjin yang kemudian duduk di meja bernuansa pink dan dihiasi pajangan Mario Bros yang baru disadari Jimin.

"Lho? Jadi ini meja sunbaenim?" Jimin mengerjap beberapa kali tak percaya.

"Iya, kenapa? Kau pasti berpikir meja ini milik perempuan ya? Hahaha.."

"Hei, kalau kalian ingin mengobrol diluar saja sana, aku mau kerja. Berisik" ucap Suga ketus. Ia tidak suka bekerja dengan banyak suara disekitarnya, jadilah Seokjin menarik Jimin keluar dari ruangan. Satu persatu beberapa anak News lain pun berdatangan dan mengisi 3 set meja dan PC lainnya dibelakang meja milik Suga.

"Jangan dimasukkan hati ya, Yoongi memang begitu. Dia tidak suka kebisingan, makanya yang masuk ruang klub biasanya memang hanya akan diam dan mengerjakan artikel masing – masing di PC" jelas Seokjin sambil menuntun Jimin menuju ruang Media.

Di ruang Media terdapat setting seperti pembawa berita di TV, lengkap dengan tiga kamera besar di tiga titik di depan setting berita. Lebih banyak anggota News berada di ruang Media seraya membantu klub TV merekam berita yang diberikan klub News.

"Nah jika kau ingin bersantai atau mengerjakan hal lain selain artikel lebih baik disana, di ruang TV di balik setting berita. Yah agak sempit sih tapi lebih baik daripada kau kena amuk kakek Min" Seokjin tertawa dan Jimin hanya tersenyum karena mengetahui julukan lain dari Suga.

Selesai berkeliling dan berkenalan dengan beberapa anggota klub News lainnya, Jimin pun pamit pulang. Ia masih harus mengerjakan beberapa tugasnya yang terabaikan karena mengerjakan laporan hasil liputan.

Di ruang News, Suga baru saja selesai mengerjakan artikel bagiannya dan membaca apa yang Jimin tulis di dalam file laporan yang Ia serahkan tadi. Suga cukup terkesan dengan Jimin yang bisa menyerahkan laporan sebelum deadline, meskipun Suga masih harus melihat kualitas laporannya. Selesai membaca semuanya, Suga tersenyum puas.

"Jin hyung, kau dapat saingan" Suga terkekeh dan meregangkan tubuhnya yang pegal karena duduk sejak beberapa jam yang lalu.

KaTalk Chat

MinSuga (20:33) : Yo

MinSuga (20:34) : Jumat ini ada tamu asing yang datang

MinSuga (20:34) : Dikampus, jam 4 sore, ruang Media

MinSuga (20:35) : Ujian kedua mu menjadi pewawancara

MinSuga (20:36) : Info lebih lanjut mengenai tamunya bisa kau cek di web kampus

ParkJimin(20:38) : Siap sunbaenim

MinSuga (20:40) : Keep up the good work

Dan Jimin tersenyum membaca chat terakhir dari Suga. Dengan jawaban itu Ia percaya Suga menyukai hasil kerjanya. Jimin pun kembali melanjutkan tugas desainnya sebelum masuk ke website kampus untuk mencari info tentang tamu yang akan di wawancarainya Jumat besok.

Jumat pun tiba. Jimin telah menyiapkan sederetan pertanyaan yang menurutnya penting untuk ujian wawancaranya siang ini. Sedari pagi, Jimin merasa gelisah dan tidak tenang. Ia tidak pernah mewawancarai orang lain sebelumnya, terlebih lagi kemampuan berbahasa Inggrisnya cukup terbatas. Ia tidak ingin mempermalukan dirinya ataupun klub News kesayangan Suga.

Jimin pun memasuki ruang Media dengan perasaan campur aduk. Ia merasa ruang Media tidak sedingin hari ini. Setelah berusaha menenangkan dirinya, Ia pun bergegas melewati setting berita dan menuju ruang TV untuk meletakkan tasnya. Diruang TV sudah ada Seokjin dan Suga juga beberapa kru TV lainnya.

"Ah kau sudah datang, baguslah. Persiapkan pertanyaan mu, kita take gambar 5 menit lagi." Jimin mengangguk dan meletakkan tasnya di sofa. Setelah mengeluarkan daftar pertanyaan yang sudah dibuatnya, Suga pun mengajak Jimin keluar menuju setting.

Setting berita kemarin telah disulap menjadi sebuah ruang tamu dengan sofa besar merah dan meja coklat pendek di hadapannya.

"Kau duduk di sofa sebelah kanan, tamu nya sudah menuju kemari" ucap Suga yang kemudian berdiri di belakang kameramen. Tak lama setelah Jimin mendudukkan dirinya di sofa, tamu asing itu pun datang. Jimin segera berdiri dan membungkuk memberi hormat sebelum berjabat tangan dengan tamu asing tersebut.

"Pardon my question, but.. Do you speak Korean?" pertanyaan pertama Jimin sebelum kamera mulai merekam gambar.

"Oh ya, saya bisa bicara bahasa Korea sedikit sedikit." Jawaban tamu asing itu melegakan Jimin walau tidak sepenuhnya. Tamu yang Jimin wawancarai memiliki rupa tipikal ras kaukasian. Berkulit putih pucat, berambut blonde, dan bermata biru cerah. Seorang pria berusia sekitar paruh baya.

Setelah Suga memberikan aba – aba, kamera pun mulai mengambil gambar dan Jimin melakukan tugas wawancaranya. Jimin yang sibuk dengan cue card pertanyaan dan tamu dihadapannya melewatkan tatapan Suga pada Jimin yang penuh harap di balik punggung kameramen. Meskipun terlihat agak canggung, Suga tidak keberatan dengan cara Jimin membawa percakapan dengan sang tamu.

Setelah empat puluh lima menit dan beberapa take untuk stock shoot, berakhirlah sesi wawancara sebagai ujian kedua Jimin. Setelah tamu asing itu berpamitan dan keluar dari ruang Media, Jimin menarik nafas lama dan membuang nya dengan perasaan sangat lega.

Ia pun mendapatkan tepuk tangan dari beberapa kru TV termasuk Suga. Seokjin yang melihat pemandangan itu merasa Ia telah membawa orang yang benar untuk menggantikan posisinya di samping Suga.

"Ide yang bagus. Kau tahu kau tidak bisa banyak berbahasa Inggris dan kau menanyakan hal itu pada tamu mu. Aku baru menemukan orang seperti kau." Ucap Suga bangga sembari menepuk – nepuk punggung Jimin yang hanya tersenyum malu mendapat pujian dari ketua redaksi yang dikenal super galak itu.

"Kau jangan pulang dulu sebelum data hari ini selesai ku copy ke hard disk." Ucap Suga singkat yang kemudian berlalu menuju ruang TV setelah kameramen menyerahkan memori card yang digunakan untuk merekam wawancara Jimin tadi. Jimin mengangguk dan berjalan menuju Seokjin sambil tersenyum seperti seorang anak yang baru saja memenangkan lomba dan berjalan menuju ibunya.

"Aigoo~ kau keren sekali~ bahkan si kakek memuji mu~ yakinlah kau pasti akan diterima di klub News~" ucap Seokjin ketika Jimin mendekatinya untuk kemudian mengacak – acak rambut adik kelasnya lembut.

"Terima kasih sudah mengajakku bergabung, sunbaenim~" ucap Jimin sambil tersenyum memamerkan sederetan giginya yang rapi. Seokjin terbatuk dan kembali tersenyum, mungkin jika Jimin tahu Ia mengajak Jimin masuk agar Suga melepasnya maka Jimin tidak akan sesenang ini. Jimin hanya belum melihat seperti apa kakek Min ketika Ia menjalankan perannya sebagai ketua redaksi,terlebih mendekati deadline cetak.

"Ahem~ hahaha iya sama sama~ semoga kau betah ya~ Oh aku harus pergi, ada yang menunggu ku diluar. Duluan ya~" Seokjin hanya tertawa dan Ia pun pamit pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lewat dan data yang harus dibawa Jimin pulang untuk laporannya belum juga selesai di copy ke hard disk. Jimin pun masuk ke ruang TV dan ikut menunggu datanya dengan duduk manis di sofa kecil di ruangan itu.

Jimin kembali memperhatikan Suga yang masih memilih milih take yang akan dipakai dengan kameramen di depan PC selagi menunggu data nya ter copy ke hard disk. Sunbae kesayangannya itu kini mengenakan kaos putih polos yang dilapisi dengan kemeja flanel berwana coklat putih kotak- kotak.

'Sunbaenim suka baju kotak – kotak ya? Sepertinya tiap kali aku bertemu dengannya Ia pasti selalu menggunakan kemeja dengan motif kotak -kotak..' pikir Jimin. Perhatiannya buyar ketika handphone nya tiba tiba berdering menandakan chat masuk. Ketika melihat nama yang tersemat di layar handphone nya, senyum Jimin pudar.

'Jung Kook..'

"Jim, kau pakai hard disk ku dulu. Nanti kalau sudah- kau kenapa?" pertanyaan Suga menarik kembali kesadaran Jimin yang tenggelam dalam memori nya ketika Ia melihat nama itu.

"A-ah iya ada apa sunbaenim?" Suga tidak langsung menjawab, Ia memperhatikan raut wajah Jimin yang terlihat sendu meskipun adik kelasnya itu berusaha menyembunyikannya dengan senyuman khasnya yang biasa.

"Ini, kau bawa saja hard disk ku. Setelah kau copy datanya, kau kembalikan secepatnya ya. Aku butuh juga soalnya" ucap Suga seraya menyerahkan hard disk merah miliknya pada Jimin. Jimin mengambil hard disk itu dari tangan Suga dan segera meletakkannya di dalam tas.

"Ada lagi yang harus ku lakukan?" tanya Jimin, dan Suga hanya menggeleng, masih memperhatikan gelagat dan raut wajah Jimin yang berubah kaku dan dingin.

"Kau pulang lah. Terima kasih untuk hari ini. Ku tunggu laporan mu selasa pagi seperti biasa." Ucap Suga sambil kembali menghadap PC untuk menentukan shot yang akan digunakan.

Jimin pun pamit dan segera melesat keluar dari ruangan, kembali melewatkan tatapan Suga yang kebingungan melihat tingkahnya.

'Kenapa dia?'

KaTalk chat

JeonJK (17:56) : hyung..

JeonJK (17:56) : aku merindukan mu..

Jimin tidak membuka tab chat dari Jung Kook sampai Ia tiba dirumah dan berada di kamarnya sendirian. Setelah menaruh tasnya asal di meja belajarnya, Jimin terduduk di atas kasur melihat handphone nya yang membuka layar Kakao. Jung Kook merindukannya. Yang benar saja.

Jimin tidak ingin percaya, tapi seketika semua kenangan ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih menyeruak keluar dari kotak hitam di belakang pikiran Jimin yang selama ini Ia pendam. Setelah bertengkar dengan akal sehatnya, Jimin pun kalah dengan perasaannya. Ia bukan tipe orang yang mudah berlalu.

ParkJimin (18:20) : Hey

JeonJK (18:21) : Ku kira kau tidak akan membalasnya :')

JeonJK (18:22) : Bagaimana kabarmu..?

ParkJimin (18:23) : Kau ingin aku jawab seperti apa..

JeonJK (18:25) : Maaf..

JeonJK (18:25) : Aku hanya memimpikan mu semalam

JeonJK (18:26) : Dan aku khawatir terjadi sesuatu padamu.. :')

Jimin menghela nafas panjang. Seolah otaknya ingin mengikuti kata hatinya, semua kenangan buruk yang pernah diberikan Jung Kook dihilangkan dari ingatan Jimin sementara. Jung Kook merindukan Jimin. Dan meski Jimin telah menemukan mahluk indah bernama Suga, Ia tidak bisa berbohong bahwa Ia juga merindukan Jung Kook. Lagipula, siapa lah dirinya berani mengatakan bahwa Suga pasti akan berakhir menjadi kekasihnya?

Jimin terus membalas chat Jung Kook dan hal itu berlangsung sampai pagi. Bernostalgia, membicarakan masa lalu, seolah dunia masih jadi milik mereka berdua. Jimin terus terbangun hingga pagi selama tiga hari dan melupakan laporan liputan yang harusnya Ia buat. Kurang tidur pun membuat mood dan kesehatannya berantakan.

Dengan mengerahkan segala kesehatannya yang tersisa Jimin berusaha mengejar tugas dan membuat laporan hasil wawancaranya Jumat lalu. Ia merasa mempunyai kekuatan, dan benar – benar jatuh sakit ketika tiba – tiba Jung Kook memutuskan untuk menghentikan pembicaraan mereka dengan berkata:

"Taehyung sudah kembali.. Terima kasih atas waktu mu, hyung.. Aku menyayangi mu.. Jaga kesehatan mu ya.."

Jimin merasa sangat bodoh. Kenapa Ia bisa melupakan fakta bahwa Jung Kook sekarang milik orang lain? Kenapa Ia bisa melupakan fakta bahwa Jung Kook mengkhianatinya sampai Ia takut mencari orang lain?

Hari itu hari Selasa, dan Jimin ambruk karena sakit.


AAAAAAAAAAAAAA MAAFKAN AUTHOR ABAL INI YANG BARU APDET SETELAH SEKIAN LAMA QAQ)"

Baru sekarang ini agak renggang meskipun baru masuk kerja ;; Semoga masih ada yang menanti ff ini apdet huhu. Maafkan aku TT-TT

Minyoonlovers amin amin amin! Hehe

Sugapheromone bener banget, ini makanya Jimin berusaha "naklukin" si kakek lewat kerajinannya HEHEHE

Kono Ouji sama ga inai Kasih semangat dong buat chimchim! xD

Mini Yoongi t'D tapi ada baiknya kamu baca dari source lain juga ya :'D Ini hanya interpretasi ku aja. Ku tak maksud menyesatkan kalian huhu ;;

Snowminyg biasa mah orang kasmaran suka begitu/?

ORUL2 Iya Jimin seme disini x"D Sebenernya ga ada yang salah sih, Tae kan ga tau kalo Kookie dulu udah sama Jimin U.U Makanya dipepet~

Viukookie HOWALAH KU TERSANJUNG DAN TERSAPU SAPU /apalah semoga suka dan masih menanti lanjutannya ya. Maafkan hamba yang tak tentu arah ini huhu ;;