Monochrome Days

By Agnar Ionwyn

Park Jimin x Min Yoongi

All Bangtan Boys members belong to their rightful family and BigHit enterprise.

All songs included belong to their rightful owner.

I only own the plot of the story.

AU University

Boys x Boys

Please enjoy!


"Kau lupa deadline, hah?" ucap Suga ketus ketika Jimin baru menghadap ke ruang News hari Kamis setelah kelasnya usai. Suga tidak tahu bahwa Jimin sakit. Bahkan sebagai ketua redaksi, tidak jarang Suga tidak peduli dengan alasan apapun untuk menjelaskan kenapa laporan liputan dikumpulkan lewat dari deadline.

"Maaf sunbaenim. Aku sakit dan baru masuk hari ini.." jawab Jimin takut. Suga mendengus kesal. Alasan basi yang sudah tidak mempan lagi untuk Suga. Terlalu banyak orang yang berbohong dan menggunakan alasan itu sehingga Suga tidak lagi lembek hanya karena alasan sakit. Dan Jimin tidak menjadi pengecualian.

"Kau kan bisa menitipkannya pada teman sekelas mu untuk dikirim atau apa lah bagaimana pun caranya. Coba bayangkan jika kemarin deadline angkat cetak. Habis kau." Suga terus mengomel, melempar asal file laporan yang diberikan Jimin ke meja nya dan memunggungi Jimin untuk kembali fokus pada PC nya.

"Ma-maaf sunbaenim. Aku tidak akan mengulanginya-"

"Baru tes kedua sudah terlambat. Kau begitu yakin diterima sampai kau jadi lalai, hah?" uh- oh, Seokjin menyadari bahwa kata – kata Suga semakin sengit. Jika Jimin sampai sport jantung maka hilang sudah kesempatannya untuk menghabiskan waktu bersama Namjoon lebih banyak.

"Yoongi, sudahlah. Kemarin aku bertanya pada Namjoon dan memang dua hari ini Jimin tidak masuk. Don't be too hard on him.." ucap Seokjin seraya berdiri dan merangkul pundak Jimin yang masih pucat dan berkeringat dingin.

"Basi alasannya." Ucap Suga singkat. Ia tidak menoleh lagi dan hanya sibuk mengerjakan artikel dihadapannya. Ia masih kesal karena Ia memang sangat tidak suka orang lalai, terlebih lagi menggunakan alasan yang membuatnya muak. Seokjin menghela nafas, Ia hapal benar jika Yoongi sudah naik darah maka Ia harus dibiarkan sendiri sampai tenang.

Seokjin pun menarik Jimin keluar ruangan dan baru menyadari bahwa Jimin memang masih pucat. Seokjin meletakkan punggung tangannya ke dahi Jimin dan merasa bahwa Jimin masih demam. Ia menghela nafas prihatin melihat adik kelasnya yang masih shock karena perlakuan si kakek ketua redaksi mereka yang mulai memperlihatkan 'taring' nya.

"Jims, lebih baik kau pulang. Kau tidak ada kelas lagi kan setelah ini?" Jimin menggeleng pelan. Matanya masih melirik ke arah pintu ruang News yang terbuka dan memperlihatkan punggung Suga. Jelas Jimin merasa sangat tidak enak dan bersalah pada Suga. Ia jadi merasa tidak pantas untuk masuk ke News.

"Jangan terlalu banyak dipikirkan. Kau harus mulai terbiasa dengan Yoongi yang itu ya, dia sebagai teman dan sebagai ketua redaksi memang sangat berbeda. Jangan dimasukkan ke hati ya. Kau pasti bisa masuk~" Seokjin berusaha menghibur Jimin yang jelas masih merasa bersalah.

"Aku.. Ada satu kelas pengganti setelah ini.. Aku permisi dulu, sunbaenim.." Jimin pun membungkuk dan hendak beranjak pergi sebelum Seokjin menahan bahunya.

"Kau bawa obat? Lebih baik kau makan siang dulu dan minum obat sebelum kelas pengganti mulai. Atau kalau kau tidak kuat lebih baik pulang saja ya?" Seokjin mulai mengkhawatirkan keadaan Jimin yang masih pucat. Jimin hanya mengangguk untuk kemudian berlalu menuju kelasnya.

Setelah kembali "diusir" dari ruang News oleh Chanyeol, Yoongi segera menggunakan hoodie putihnya dan berjalan menuju parkiran motor. Ketika Ia hendak mengambil beberapa bukunya di loker, Ia melihat Jimin yang juga sedang mengambil barang – barangnya di loker tak jauh dari lokernya.

'Kenapa anak itu belum pulang? Katanya sakit?' Yoongi mengernyitkan dahinya. Ketika Ia perhatikan lebih baik, Jimin memang berpakaian beberapa lapis dan sebuah syal rajut melingkar di lehernya. Wajahnya terlihat pucat, rambutnya tidak rapi dan hidungnya memerah. Perhatian Yoongi buyar ketika Jimin bersin dan mengagetkan Yoongi.

"Kenapa kau belum pulang?" tanya Yoongi yang kembali secara tiba – tiba telah berada di dekat Jimin. Kemunculannya kembali membuat Jimin sport jantung karena kaget.

"Astaga sunbaenim... Aku kaget... Ku kira hanya tinggal aku di kampus.." Jimin mengelap hidungnya dengan lengan bajunya. Yoongi mengerjap beberapa kali dan menyenderkan tubuhnya di loker sebelah loker Jimin.

"Aku selalu pulang kedua terakhir sebelum tukang kunci. Kenapa kau baru pulang? Bukannya kau masih sakit?" Jimin tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal akibat gugup karena Yoongi berada dekat dengannya.

"Iya sunbaenim.. Ada yang harus ku selesaikan dan kelas pengganti ku juga baru selesai 45 menit yang lalu.." ucap Jimin dengan suara parau. Yoongi yang tadi siang memarahinya merasa agak bersalah karena menyamakan Jimin dengan anggota – anggota lain yang berbohong padanya. Kemudian sebuah ide pun muncul di benak Yoongi untuk menebus rasa bersalahnya.

"Kau pulang naik apa?"

"Naik bis sunbaenim, seharusnya aku bawa motor tapi dengan keadaan begini aku takut terjadi apa – apa di jalan.." jelas Jimin, dan Yoongi merasa senang dengan jawaban itu.

"Ku antar saja, aku bawa motor. Lagipula jam segini sudah susah cari bis." Jimin mengerjap beberapa kali, tak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar. Suga mengajaknya pulang. Dengan motor. Berdua.

"E-eh aku.. Naik kendaraan umum saja sunbaenim, nanti malah merepotkan mu-"

"I insist. Ayo bereskan barang mu agar kita cepat pulang"dan Jimin dengan tergesa gesa, tidak ingin membuat sunbaenim nya menunggu, memasukkan barang – barang yang diperlukannya ke dalam tasnya. Dengan berjalan beberapa langkah dibelakang Suga, Jimin pun mengikutinya seperti seekor anak anjing.

Sesampainya di samping motor Yoongi, Ia menyerahkan salah satu helmnya pada Jimin. Dengan sisa kesadaran yang ada juga dengan mengira bahwa dengan sebutan 'kakek Min' Suga akan membawa motornya lebih pelan dari Jimin, Ia pun duduk di belakang Suga.

"Pegangan, jangan sampai jatuh" ucap Suga sebelum Ia menarik kaca helmnya turun, menyembunyikan smirk yang terpoles tipis di bibir kucingnya. Jimin awalnya hanya berpegangan pada bahu Suga, namun kecepatan yang di gunakan Suga membuat Jimin memeluk erat pinggang ramping Suga. Bukan karena Ia modus, tapi karena Ia benar – benar ketakutan.

Suga hanya tertawa ketika Jimin memindahkan lengannya melingkari pinggang Suga. Memang awalnya Suga menawarkan diri untuk mengantar Jimin karena kasihan, tapi mengingat Ia terlambat Jimin harus diberi hukuman juga. Setelah melambatkan laju motornya agar Jimin tidak terlalu tegang beberapa kali untuk meminta arah rumahnya, mereka pun sampai dan berakhirlah perjalanan mengerikan itu.

"Hey sudah sampai. Mau sampai kapan kau bertengger seperti koala begitu?" Suga tertawa melihat Jimin yang masih menempelkan lengan kakunya pada pinggangnya. Jimin perlahan membuka matanya, rasanya Ia sempat kehilangan kesadaran tadi. Ia pun melepas pelukannya di pinggang Suga dan turun dari motornya.

Jimin membungkuk dan mengucapkan terima kasih sebelum bergegas menuju pintu masuk rumahnya. Suga melambaikan salah satu tangannya sebelum beranjak pergi dengan motor kesayangannya, melesat jauh dengan kecepatan yang sama tingginya.

"Demi segala Tuhan yang ada di muka bumi ini, aku tidak akan membiarkan Suga sunbaenim membawa motor lagi jika aku yang berada di belakangnya..."

Here and Back Again

Karena terakhir Jimin mengumpulkan laporannya secara tergesa – gesa, Ia lupa harus mengembalikan hard disk milik Suga. Karena mengerjakan laporannya tergesa – gesa pula lah Ia tidak memilih folder mana yang harus Ia copy dan mengcopy semua isi hard disk Suga ke komputer di rumahnya.

Setelah Ia merasa lebih sehat, untuk mengisi hari liburnya Jimin berniat untuk membereskan folder – folder yang ada di PC nya. Ia pun menemukan folder berjudul 'mixtape' yang tidak Ia kenali.

"Mixtape? Rasanya aku tidak pernah punya folder ini..." Jimin pun membuka folder tersebut dan terdapat tiga buah lagu di dalamnya. Penasaran, Ia pun memainkan ketiga lagunya di Winamp. Lagu – lagu itu berjudul 'Agust D', 'Give It To Me', dan 'So Faraway'. Ketika 'Agust D' mulai terdengar, Jimin mendengarkan dengan seksama dan Ia baru menyadari bahwa Ia mengenali suara itu.

"SUGA SUNBAENIM?! INI-?! HAH?!" Jimin kaget karena tidak menyangka bahwa Ia akan tidak sengaja menemukan sisi lain dari sunbaenim kesayangannya yang ternyata seorang rapper. Sebagai ketua redaksi klub News yang selalu berkutat dengan artikelnya, Jimin hanya tidak menyangka bahwa sunbaenim nya itu memiliki bakat lain.

Setelah 'Give It To Me' habis, 'So Far Away' pun mulai terdengar dan Jimin berusaha menyesapi liriknya. Ia termenung dan mendengarkannya dengan baik sampai selesai. 'So Far Away' seolah membuat Jimin merasa Suga ingin mengutarakan hal ini pada orang lain namun Ia merasa Ia tidak punya siapapun lagi. Sama seperti dirinya.

Even my friends and family are drifting away

I feel anxious as time passes by

It feels like I'm all by myself, I hope everything disappears when I'm alone

I hope things disappears like mirage, I hope things disappear

I hope my damn self disappears

I'm abandoned like this in the world, in this moment I'm drifting away from the sky

I'm falling..

Setelah menyelesaikan kelas terakhirnya Jimin pun beranjak menuju ruang News untuk mengembalikan hard disk milik Suga. Rupanya hari itu sedang ramai karena segala macam artikel dan semua yang harus ada di majalah harus angkat cetak. Jimin yang kebingungan karena ruang News tiba - tiba ricuh hanya bisa terduduk manis di sofa menunggu Suga sedikit lengang. Ia tidak berani membangunkan macan tidur lagi.

Setelah 30 menit pengumpulan artikel dan penyusunan majalah, barulah keadaan agak lengang dan hanya tersisa Jimin dan Suga di ruang News. Suga menghela nafas lelah dan melempar tubuhnya ke sofa di samping Jimin.

"Aku baru sadar kau disini daritadi. Ada apa? Kau menunggu ujian terakhirmu ya?" tebak Suga asal sambil memejamkan matanya dan mengurut dahinya.

"Ah ini aku lupa mengembalikan hard disk sunbaenim karena kemarin aku buru – buru jadi aku tidak sempat membawanya" jawab Jimin seraya menyodorkan hard disk merah milik Suga.

Pemilik hard disk pun membuka sebelah matanya dan menerima hard disk itu dari Jimin.

"Hah... Ternyata hard disk nya ada padamu. Saking hektik nya ku kira aku menghilangkannya entah dimana. Bisa bahaya kalo hard disk ini hilang." Suga menghela nafas panjang dan merasa kantuk mulai menghinggapi matanya. Dengan keadaan sedekat ini, Jimin bisa melihat kantung mata yang menghitam dibawah mata sipit sunbaenim kesayangannya itu.

"Sunbaenim istirahat saja. Aku permisi dulu." Ketika Jimin hendak beranjak pergi, Suga kembali memanggilnya.

"Kau tahu event Seoul Comic World kan?" Jimin mengangguk bingung. Ia memang sudah lama ingin ke sana tapi Ia tidak pernah punya waktu. Semenjak Ia tahu mengenai Busan Comic World, Ia ingin sekali datang, tapi sampai Ia harus pindah ke Seoul Ia tidak dapat pergi ke sana.

"Nah baguslah, berarti aku tidak harus menjelaskan apa itu pada mu. Ujian ketiga mu di sana. Akhir bulan ini. Aku tidak akan memberitahu mu apa yang harus kau ambil. Dan aku juga tidak akan mengantarmu seperti event lukisan kemarin. Selamat berjuang" jelas Suga sambil mengacungkan salah satu jempolnya sebelum Ia memejamkan kedua matanya dan menyamankan diri diatas sofa ruang klub.

Mata Jimin berbinar mendengar itu. Tidak hanya Ia akan pergi ke event yang selama ini Ia inginkan, tetapi ini juga menjadi ujian ketiga nya, yang sudah dapat dipastikan bahwa Ia akan meliput event nya dengan sangat baik dan penuh antusias.

"Eh.. Tapi sunbaenim.. Aku belum ada kamera-" Suga kembali membuka sebelah matanya ketika mendengar pengakuan Jimin. Suga pun berpikir sejenak sebelum akhirnya menunjuk loker di sebelahnya.

"Kau pakai kamera ku saja. Tapi sampai aku menemukan goresan sedikit pun pada kamera ku, kau lihat saja." ancam Suga malas. Seokjin membawa kamera nya pulang untuk di service, dan kamera yang ada di ruang Media tidak boleh dibawa keluar. Mengingat perlakuan Jimin terhadap kamera Seokjin pada ujian pertamanya memberikan Suga sedikit kepercayaan pada Jimin, meskipun Ia masih takut merelakan kameranya di pegang orang lain.

"Baik sunbaenim! Terima kasih!" Jimin pun berdiri menuju loker dan mengambil tas kamera milik Suga di dalamnya. Ia kemudian memasukkan tas kamera itu ke dalam backpacknya sebelum ijin pulang pada Suga.

"Oh iya, sunbaenim.. Rapmu keren sekali.. Permisi" ucap Jimin sambil tersenyum dan melangkah keluar ruangan. Sunbaenim manis di dalam ruangan mengernyitkan dahinya dan membuka kedua matanya ketika Jimin sudah berlalu.

'Darimana dia tahu aku rapper...?'


Another update! Hyeaay!
Rencananya aku mau print book #3 untuk kompilasi fanfic BTS. Apa.. Ada yang tertarik? :"D Aku juga pasti jual di Neo Comicfest ID kok. Apa ada yang mau bersua?

Viukookie halo pembaca setia, terima kasih sudah setia menanti :"D Iya si kakek ngamuk tapi dia mah mana tegaan ama Chimchim xD