Monochrome Days

Park Jimin x Min Yoongi

All Bangtan Boys members belong to their rightful family and Big Hit Ent

AU University

Boys x Boys

Don't like, don't read

Please enjoy~


Hari ini hari Senin, Jimin masih tersenyum karena Ia adalah orang pertama yang tahu bahwa Suga diterima menjadi trainee di salah satu company besar. Meskipun dipukul dengan map beberapa kali karena kelancangannya, Jimin tahu Suga sangat senang. Dari intonasi suaranya yang berubah drastis, cara bicara dan raut wajah juga binar di matanya, Jimin tahu benar bahwa Suga sangat senang dengan hasil audisinya.

KaTalk chat

MinSuga (12:33) : Mochi jelek

MinSuga (12:34) : kemari kau

MinSuga (12:34) : cepat

ParkJimin (12:35) : ruang News?

MinSuga (12:37) : Media

Jimin pun melangkahkan kakinya menuju ruang Media. Begitu Ia memasuki ruangan, semua kru TV dan anggota News menyambut kedatangannya. Ia dapat melihat banner yang bertuliskan 'welcome to News club!' yang dibawa oleh beberapa anggota News lainnya.

"Nah, kau sudah jadi bagian dari kami sekarang. Jangan pernah lewat deadline ya." Ucap

Suga bercanda seraya merangkul bahu Jimin. Jimin mengangguk dan tersipu malu. Ia tidak menyangka akan mendapatkan penyambutan seperti ini.

"Terima kasih sunbaenim, terima kasih semuanya~"

"Hyung. Mulai saat ini panggil hyung saja." Ucap Suga lagi dengan senyum terkembang di bibir kucingnya. Dan itu membuat Jimin merasa sangat senang. Ia menjadi beberapa langkah lebih dekat dengan sunbaenim, tidak, hyung kesayangannya itu.

Semenjak resmi menjadi anggota News, Jimin dan Suga sering menghabiskan waktu bersama untuk hunting event atau sekedar hunting foto. Dan semakin lama, Jimin pun membiasakan dirinya untuk memanggil Suga dengan sebutan 'Yoongi' hyung. Setiap kali mereka pergi, selalu Jimin yang membawa motor Yoongi. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Jimin trauma dengan cara Yoongi membawa motor.

Jimin pun sering menginap di apartemen milik Yoongi karena letaknya yang strategis dan dekat dengan banyak tempat menarik. Tiap kali Jimin menginap, Yoongi tidak akan tidur di kamarnya. Ia pasti akan menggelar kasur lipatnya di depan TV dan tidur disana dengan Jimin.

Semenjak diterima di Big Hit Ent akibat kelancangan Jimin, Yoongi merasakan sesuatu terhadap Jimin. Mendengar cerita mengenai Jimin dari Hoseok membuatnya seakan ingin melindungi adik kelasnya yang seperti anak bebek kehilangan induknya ini.

Yoongi merasa Jimin mengerti apa yang Ia rasakan. Dan Yoongi tidak lagi merasa kesepian karena selama ini, Jimin selalu berada di sana ketika Ia membutuhkan support dan seseorang untuk bicara. Yoongi tidak bisa berbohong bahwa Ia selalu tidak ingin Jimin pulang dan sendirian lagi di apartemennya. Tapi Ia tidak mungkin mengatakannya karena Ia tidak punya hak apapun atas Jimin.

Ruang TV apartemen Yoongi kini gelap, hanya sedikit cahaya dalam ruangan yang masuk dari jendela. Yoongi masih sibuk dengan handphone nya sementara Jimin sudah pergi ke alam mimpi sedari tadi di sampingnya. Setelah seharian berburu bahan artikel, akhirnya mereka kelelahan dan terdampar di apartemen kecil milik Yoongi.

Yoongi diam – diam memperhatikan Jimin ketika Ia sudah terlelap dalam tidurnya, sudah lama pula Ia mengetahui luka – luka yang ada di lengan Jimin karena Jimin tidak sengaja menyingkap lengan panjangnya untuk membantu Yoongi membawa gallon atau barang berat lainnya. Seakan mengejek perhatian Yoongi, mp3 player miliknya memutar lagu

She milik Doodie Clark

Am I allowed

To look at her like that?

Could it be wrong

When she's just so nice to look at?

She smells like lemon grass and sleep

She taste like apple juice and peach

You would find her in a polaroid picture

She..

Means everything to me

I never tell

No I never say a word

And though it aches

But it feels oddly good to hurt

And I'll be okay

Admiring from afar

Cause even when she's next to me

We could not be more far apart

Cause taste like birthday cake

And story time unfold

But to her

I taste

Nothing at all

Falling Slowly

Satu event lagi telah terlewatkan, dan baik Jimin maupun Yoongi sedang sama – sama tidak ingin segera pulang ke kediaman masing – masing. Dalam hati kecil mereka, mereka hanya tidak ingin segera berpisah dengan satu dan lainnya. Namun saat ini, perasaan mereka hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

"Hyung selesai kuliah mau kemana?" tanya Jimin membuka percakapan malam itu di playground dekat apartemen Yoongi.

"Pasti aku akan memfokuskan diriku di Big Hit. Kau tidak mau ikut?" ajak Yoongi sambil tersenyum. Ia berharap Ia tidak terdengar seperti memohon untuk tidak ditinggal Jimin. Jimin berpikir sesaat sebelum Ia menaiki sebuah ayunan dan menjawab ajakan Yoongi.

"Aku mau. Tapi kan aku lulus masih lama. Aku pasti menyusul jika kuliah ku juga sudah selesai, hyung~" Jimin tersenyum, dan lagi – lagi Yoongi tertular untuk ikut tersenyum. Ada sebuah perasaan takut terselip di hati keduanya. Bagaimana jika yang satu merasa bosan dengan yang lain karena mereka terus menghabiskan waktu bersama? Bukan kah jarak di butuhkan agar hubungan mereka tetap sehat? Eh? Tunggu dulu, memang mereka ada hubungan apa?

"Jim.."

"Ya?"

"Sebenarnya.. Aku ingin bertanya sejak lama, soal kenapa kau selalu menggunakan kaos lengan panjang meskipun hari sangat panas" Jimin terdiam, Ia memperhatikan Yoongi yang melihatnya dengan rasa penasaran. Jimin pun berhenti berayun pada ayunannya.

"Itu.."

"Karena luka mu?" Jimin kembali terdiam.

"Bagaimana.. hyung bisa tahu?"

"Kau ceroboh, setiap kali mengangkat galon kau selalu menarik lengan mu. Memang kau pikir aku buta?" Jimin tidak menjawab apa – apa dan hanya memandang Yoongi lama.

"Sebenarnya aku ingin mendengar semuanya dari mu.. Tapi.. Hoshiki memberitahu ku semuanya lebih dulu.."

"...Ah..."

"Kau tidak berhak marah padanya. Kelakuan mu lebih lancang pada ku ketimbang aku. Aku

hanya ingin tahu kau kenapa, itu saja" Yoongi dan Jimin sama – sama menghela nafas panjang.

"Aku.."

"Apa kau ingin mengakhiri hidupmu..?"

"itu.."

"Tiap orang ada waktunya kok.. Suatu saat jarum jam itu juga akan berhenti berdetik dengan sendirinya.." jawab Yoongi yang duduk di ayunan sebelah Jimin dan mulai berayun pelan.

"Aku tidak mau mati hyung.. Aku hanya ingin.. Menghilang.. Andai saja hidup itu seperti video game yang bisa di restart ulang semau kita.."

"Tapi kenyataan tidak seindah itu.."

"Menyakiti fisikku sudah tidak berpengaruh untuk mengurangi perasaan ku sekarang.."

"Sama kok, aku juga begitu." Jimin pun menatap Yoongi sendu, penasaran. Apa maksudnya sama? Apa Yoongi hyung juga seperti dia?

"Setiap hari pulang ke apartemen sendirian, orangtua ku jauh dan mungkin sudah lupa dengan ku dan sibuk dengan keluarga baru mereka masing – masing. Hanya saja, aku melampiaskan semuanya dengan bekerja, bekejra, dan bekerja seperti orang gila. Aku juga merasa tidak ada gunanya jika aku tetap hidup. Tidak ada yang menunggu ku juga.."

"..hyung.." Yoongi berhenti berayun dan menghadapkan tubuhnya pada Jimin.

"Tapi sejak ada kau semuanya berubah. Jadi.. Jika kau merasa ingin menghilang lagi, beritahu aku. Let's just be each other's reason to stay alive, hm?" Yoongi tersenyum, dan demi apapun Jimin ingin memeluk Yoongi saat itu juga, tapi Ia tahan. Ia juga merekahkan senyumnya dan mengangguk.

"Terima kasih hyung.."

"Tidak, terima kasih, Jimin.."

Kau sudah memberikan ku alasan untuk tetap ada di dunia yang jahat ini..

...

Waktu berlalu begitu cepat, hari demi hari berganti dan 4 bulan berlalu begitu saja. Dua hari lagi merupakan graduation day bagi Yoongi dan Seokjin. Jabatan sebagai ketua redaksi sudah turun pada Jimin dan wakil ketua nya diambil alih oleh Woozi yang kelakuannya 11 – 12 dengan Yoongi, bahkan bisa dibilang lebih galak dan tegas.

Hari ini hari Selasa. Jimin menyiapkan dirinya untuk sesuatu yang selama ini Ia tunggu. Untuk sesuatu yang selama ini Ia tunda karena Ia ingin 'sembuh' dari sakit hatinya untuk memulai lembar baru. Untuk sesuatu yang selama ini tertunda karena rasa takutnya mengecewakan Yoongi.

"Hyung?" Jimin memanggil ketika Yoongi sedang membereskan barang – barangnya di ruang News. Hanya tersisa mereka berdua malam itu, dan sejak Chanyeol lulus, Yoongi lah yang memegang kunci ruang News.

"Hm?" Yoongi masih sibuk dengan barang – barangnya dan tidak terlalu memperhatikan Jimin yang gelisah sedaritadi.

"Aku.. Boleh minta waktunya sebentar?" Yoongi menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekati Jimin.

"Ada apa?" Jimin menghela nafas panjang kemudian tersenyum dan meraih kedua tangan Yoongi untuk digenggam. Yoongi mengerjap bingung.

"Hyung.. Aku.." Jimin memberanikan diri untuk mendongak dan mempertemukan pandangannya dengan kedua bola mata Yoongi yang masih kebingungan. Jika Jimin menduga Ia akan merasa takut dan canggung ketika pandangan mereka bertemu, maka Jimin salah besar. Memandang Yoongi malah membuatnya merasa lebih tenang dan bahagia.

"Aku.. mencintai mu.." dan tersebutlah tiga kata sakral itu. Yoongi tidak memberikan respon apa – apa dan hanya terus menatap Jimin, meskipun pipi nya yang mulai memerah mengkhianatinya.

"Will you be mine..?"

Hari ini hari Kamis. Hari wisuda Yoongi. Pertanyaan Jimin dua hari lalu belum juga Ia jawab. Meskipun begitu, Yoongi bertekad untuk menjawab pertanyaan itu hari ini, karena itu Ia mengundang Jimin untuk datang di upacara kelulusannya. Yoongi sempat berpikir untuk mengatakan 'tidak'. Tapi hatinya tahu itu berarti Ia membohongi dirinya sendiri.

Ketika Yoongi membereskan berkas – berkas artikelnya di apartemen, sebuah foto polaroid terjatuh dari mejanya. Sebuah foto dirinya yang sedang tertidur dan Jimin yang mengambil foto itu. Dibawah foto nya tertulis "reason to live #1" dan senyum Jimin di foto itu lah yang mengubah jawaban Yoongi.

"Kau sudah berani mengambil foto ku tanpa ijin. Awas kau, Park Jimin.." Yoongi terkekeh dan berniat untuk memberikan Jimin pelajaran. Ia pun pergi ke mini market untuk membeli permen dengan tulisan – tulisan beragam di bungkusnya.

"Park Jimin" panggil Yoongi dari pintu masuk gedung upacara kelulusannya. Yang dipanggil pun mendekat dan terlihat sangat grogi. Selain karena Ia satu – satunya adik kelas yang hadir disitu, hari ini Yoongi akan menjawab pertanyaannya dua hari lalu. Ketika Jimin sudah mendekat, Yoongi pun menunjukkan kedua tangannya yang sudah terkepal.

"Di tangan ku ada dua buah permen bertuliskan jawaban ku. Apapun yang kau pilih, maka itu lah jawaban ku terhadap pertanyaan mu."

"Apa.. Ada jawaban 'tidak'...?" tanya Jimin hati hati.

"Hmm mungkin saja~ Jadi pilihlah dengan baik~" Jimin membelalakkan matanya tidak percaya. Ia pun bimbang. Bagaimana jika Ia memilih 'tidak'? Apakah Yoongi hyung akan menolaknya? Ia tidak mau itu terjadi. Sangat tidak mau.

5.. 10... 15 menit berlalu dan Jimin masih memperhatikan kedua tangan Yoongi yang masih terkepal dan mulai lelah.

"Hei ayolah cepat pilih! Aku pegal dan aku mau pulang!" keluh Yoongi. Lengannya sudah terasa pegal, begitu pula kakinya. Menggunakan pakaian formal dan setelan jas hitam tidak membuatnya merasa lebih baik di bawah udara panas hari itu. Jimin pun menunjuk tangan kanan milik Suga dengan terpaksa.

"Yakin?" Yoongi tersenyum jahil sementara Jimin menggigit bibir bawahnya takut. Akhirnya Jimin mengangguk dan Yoongi pun membuka kepalan tangannya. Di tangannya terdapat permen dengan tulisan 'yes' dan senyum Jimin merekah. Ia pun tidak tanggung – tanggung dan memeluk Yoongi yang tertawa dengan respon Jimin.

"Kau mau tahu apa yang ada di tangan kiri ku?" tawar Yoongi. Jimin mengangguk semangat, tapi senyum nya berubah terbalik ketika Ia membaca apa yang tertulis di permen dalam kepalan tangan kiri Yoongi dan Yoongi tertawa lepas melihat wajah Jimin.

.

.

.

.

.

Permen itu juga bertuliskan 'yes'.

The End


Epilogue..

"Jiminnie"

"Ya hyung?"

"Aku mendaftarkan video tari mu di audisi Big Hit"

"APAH?!"

"Sekarang kita impas. Dan kau akan berada di bawah pimpinan ku lagi untuk waktu yang lama. Hahaha~"


HALOOOO!

Setelah sekian lama akhirnya FF ini bisa tamat juga TTvTT
Mohon maaf dan terima kasih banyak yang sebesar - besarnya untuk yang follow dan kasih review, juga dengan setia nunggu cerita ini yang update nya kayak surprise kapan aja dan ga konsisten, semoga ke depannya saya bisa update fanfic dengan jadwal yang fix biar para reader sekalian ga menanti terlalu lama :")

Without you guys I wont be a better writer. Sampai bertemu di karya ku yang berikutnya. Semoga ga kapok :"D
Terima kasih banyak!

Aku sayang kalian.

Sebesar Chimchim sayang ke Suga sunbae HEWHEWHEW

Your one and only,

Agnar Ionwyn AKA Ches A