Tittle : Sweetest Memories

Author : Izumi Akita Suzuki a.k.a Ichan

Rated : T

Genre : Romace,Drama serta mungkin humor?

Fandom : Harry Potter

Pairing : JPSS,JPLE,SBRL

Disclaimmer : Harry Potter owned by J.K Rowling,I'm only have the storyline of this fic ^^

Setting : Tahun Kelima Marauders dan Severus tidak pernah mengatakan 'kata terkutuk itu' pada Lily

Chapter : X

Sumarry : "Aku minta maaf soal kemarin okay? Aku benar – benar tak tau jika Pads bermaksud melakukannya.""Omong kosong kau sengaja mengerjaiku, Potter!""Kalau aku mengerjaimu kenapa aku justru menyelamatkanku?"" Kau hanya tak ingin aku mengadu ke kepala sekolah kan?"

Warn : Sho-ai a.k.a BL,AR,Gaje(las),Abal,Modified Canon,dll

Sang Rembulan telah menyinari malam dengan sinarnya. Malam ini adalah malam bulan purnama total, malam dimana katanya para werewolf akan bermunculan. Well, soal werewolf tentu saja itu benar – benar nyata karena salah satu dari Marauders adalah seorang werewolf. Remus John Lupin menjadi werewolf sejak ia digigit oleh Fenrir Greyback. Kini Marauders sedang dalam perjalanan ke Gubuk Menjerit dengan melalui jalan pintas yang ada di bawah tanah Dedalu Perkasa. Jalan Pintas yang sengeja dibuat untuk Remus agar transformasinya tak menganggu kegiatan belajar dan mengajar di Hogwarts.

Sementara itu seorang Severus Snape sedang duduk termenung di dekat Dedalu Perkasa. Apakah ia harus benar – benar melalui jalan pintas yang ada di sana? Bagaimana jika ia menemukan makhluk mengerikan seperti troll? Jangan lupa yang menantangny adalah Sirius Black, seingatnya Sirius Black adalah orang yang paling membencinya di dunia ini -apalagi sejak seorang James Potter tertarik padanya- kebencian Sirius Black kepada dirinya semakin menjadi – jadi. Kalian tau kan, bahwa Slytherin adalah tipikal yang akan sangat bersungguh sungguh dalam mengambil keputusan? Mereka tak seperti Gryffindor yang akan melakukan sesuatu terlebih dahulu dan baru berpikir. Namun, jangan pernah lupakan jika hal yang sangat penting bagi seorang Slytherin adalah harga diri, oleh karena itu Severus memutuskan untuk nekat memasuki jalan tembus yang ada di bawah Dedalu Perkasa itu.

Percaya atau tidak, selama di jalannya tersebut Severus tak menemukan apapun sama sekali. Bahkan seekor kecoapun tidak ia temukan di dalam jalan tersebut. Namun, jalan tersebut amatlah panjang, sekali lagi ia curiga jangan – jangan jalan ini merupakan jebakan dari Black agar dia tersesat ke suatu tempat yang jauh ke dalam penjara Azkaban mungkin? Namun segeralah di tepisnya pikiran itu ketika ia telah menemukan sebuah tangga ke dalam sebuah rumah? Setidaknya itulah yang ada dipikiran seorang Severus Snape.

Setelah ia menaiki tangga itu, ia mendapati sebuah rumah yang kumuh dan terkesan gaib. Entah kenapa tiba – tiba ia teringat pada Gubuk Menjerit, Gubuk yang menurut desas – desus sangat angker. Bahkan di katakan bahwa semua penyihir yang ada di Inggris tak mau menyentuh gubuk itu sama sekali, takut di kutuk oleh hantu katanya. Namun, hal itu sama sekali tak logis. Severus tumbuh dengan muggle dan ia memiliki nalar seperti muggle, well mungkin beberapa hal sihir memang tak logis. Tapi kalau soal kutukan hantu Severus tak percaya toh dia belum pernah melihat dan merasakannya sendiri.

Suara lolongan dan jeritan kesakitan secara bertubi terdengar di telinga Severus. Oke, hal ini berhasil membuat bulu kuduknya berdiri. Heck! Gubuk ini tak berpenghuni lalu kenapa bisa ada suara – suara mengerikan seperti itu? Apakah ini jebakan dari Black? Severus lebih mempercayai jawaban terakhir. Mungkin saja ini adalah jebakan dari Black dan gang-nya. Marauders memang benar – benar telah menganggu hidupnya. Severus dengan langkah tenang akhirnya berusaha mencari asal suara tersebut. Ia bermaksud untuk memergoki Black dan berseru padanya bahwa taktik murahannya itu tak berhasil. Namun sebelum ia berhasil menyusuri bangunan itu guna mencari Black…

Ia melihat serigala berukuran besar. Mungkin, ini werewolf yang katanya akan muncul di malam bulan purnama seperti malam ini. Severus hendak berlari namun gerakan serigala itu amatlah cepat sehingga Severus memutuskan memejamkan matanya –takut melihat apa yang ada terjadi berikutnya-. Namun nyatanya ia tak merasakan tertikam oleh kuku – kuku tajam ataupun tergigit oleh gigi – gigi yang runcing. Akhirnya Severus membuka matanya dan mendapati seekor rusa jantan berdiri di depannya. Rusa jantan itu sepertinya membuat serigala itu berhenti melakukan gerakan liar nan anarkisnya. Severus memandang rusa jantan itu tak percaya…

Tunggu, aura ini familiar baginya. Aura yang sama ketika ia bersama James Potter, benarkah rusa di depannya ini adalah James Potter? Jikalau begitu James Potter ikut dalam rencana Sirius Black? Heck! Ternyata bukan hanya Black yang mengerjai dia tapi juga Potter. Severus entah kenapa ingin tertawa –tawa prihatin tentunya-. Jadi selama ini Potter benar – benar hanya bermaksud mengerjainya dan inilah puncaknya? Oh untunglah Severus sudah menduga ini sejak awal, jadi ia tak akan terlalu kecewa.

Sang Rusa jantan menatap Severus dalam, tanduknya segera menunjuk pintu keluar seolah menyuruh Severus keluar. Ah Potter memang laknat tapi ia masih punya belas kasihan juga rupanya! Severus memandang tajam rusa jantan itu dengan iris matanya yang seolah menunjukkan perasaan terluka walau dirinya sendiri telah menyangkal itu. Sang rusa jantan tak dapat bergeming dan hanya menatap sosok Severus yang menghilang di balik pintu. Andai saja James ada dalam bentuk manusianya, tentu saja ia sudah akan menjelaskan semua ini. Ia kemudian menatap seekor anjing hitam besar –yang mirip dengan Grim- yang ada di sebelah sang serigala. Ia menunjukkan tatapan yang begitu geram dan Nampak kalap dalam emosi. Sang anjing hitam besar hanya dapat menunjukkan ekspresi wajah sangat bersalah, sementara itu tikus kecil yang ikut memeriahkan suasana di sana hanya hanya dapat mencicit dalam pilu. Merasa bahwa sebentar lagi akan kembali terjadi gelojak dalam Marauders.

Pagi telah tiba anggota Marauders telah kembali ke wujud mereka masing – masing. Seperti biasa tubuh Remus dipenuhi luka setelah malam transformasinya. Namun, luka yang ia alami mala mini terlihat lebih parah dari sebelumnya. Apakah Remus setengah sadar ketika ia hampir menyerang Severus sehingga ia melakukan self-harm? Well, tak ada –atau setidaknya belum ada- yang bertanya mengenai itu, toh Remus sendiri kini dalam keadaan pingsan. Kuartet dari Gryffindor itu langsung menuju ke Hospital Wing ketika mereka kembali ke Hogwarts, bermaksud untuk segera memberika Remus pertolongan. James mempercayakan urusan Remus pada Sirius dan Peter, well bukannya ia tak setia kawan. Tapi ia punya suatu urusan yang lebih penting karena ia percaya urusan ini akan jauh lebih sulit diselesaikan daripada urusan soal Remus.

Severus masih menggeram kesal atas peristiwa yang menimpanya tadi malam. Tapi, ia masih bisa bersyukur kepada Merlin karena bagaimanapun ia tak terbunuh. Ia mengambil sebuah buku ramuan dan sebuah buku yang menjelaskan seluk – beluk werewolf di rak yang ada di perpustakaan. Maksudnya kali ini baik –bahkan bisa terukur terlalu baik untuk seorang Slytherin-. Setelah melihat betapa berbahayanya seorang werewolf itu, Severus ingin menciptakan sebuah ramuan untuk menjinakkan werewolf pada masa transformasinya. Namun, sebelum ia mulai kegiatan membacanya yang penuh khimad…

"Sev!" James berlari ke arah Severus, dan berdiri tepat di depan pemuda berambut hitam itu.

Severus memandang sengit James –teringat peristiwa yang menimpanya kemarin malam-. Dengan tatapan dingin dan lebih tak bersahabat dari sebelum – sebelumnya ia memandang mata James secara dalam. Jelas saja hal ini membuat James tertusuk. Heck! Kemarin bahkan ia tak tau kenapa Severus bisa kesana!

"Apa, Potter? Apa lagi kali ini?" Severus menjawab dengan nada yang lebih dingin dan lebih menusuk dari sebelum – sebelumnya.

Sialan! Ini akan momen terlaknat di hidup James –dijauhi oleh Severus Snape untuk hal yang tidak ia lakukan-. James menghela nafas sebentar, mencoba merangkai kata – kata di kepalanya guna minta maaf. Walau, ia tak salah tapi tetap saja melihat pandangan Severus yang berubah begitu dingin dan kelam membuatnya merasa bersalah.

"Aku minta maaf soal kemarin okay? Aku benar – benar tak tau jika Pads bermaksud melakukannya."

James sadar kalau tersangka atas peristiwa itu pasti Sirius. Ternyata peristiwa ingin minta maaf kemarin hanya berupa akal – akalan belaka, dan tentu saja kalau begini ia tau kenapa Severus bertindak semengerikan ini. James menghela nafas menanti reaksi dari Severus, walau ia tau reaksi yang ia terima tak akan menyenangkan.

"Omong kosong kau sengaja mengerjaiku, Potter!" Severus membalas dengan nada geram dan sengit.

"Kalau aku mengerjaimu kenapa aku justru menyelamatkanku?" James sudah mempersiapkan respon ini di kepalanya sedari tadi. Karena ia sadar Severus pasti menyadari bahwa rusa jantan yang kemarin menolongnya adalah James.

" Kau hanya tak ingin aku mengadu ke kepala sekolah kan?" Severus dengan nada kasar menyahut lagi.

Jika kalian bertanya dari skala satu sampai sepuluh berapakah tingkat kemarahan yang dialami Severus? Maka jawabannya adalah sepuluh setengah. Heck! Angka sepuluh yang merupakan angka tertinggi dalam skala itu belum bisa menggambarkan bagaimana rasa jengkel yang dialami Severus. Ia menatap tajam James menunggu respon dari sang pemuda berkacamata.

"Sev… tidak! Aku ingin kau selamat! Kemarin murni rencana Pads dan aku tak tau apa – apa." James kembali memasang wajah memelasnya.

Severus hanya mendecih melihat itu. Karena upaya apapun yang dilakukan James tak akan berhasil padanya. James telah –hampir- membunuhnya. Mempercayai orang yang hampir membunuhmu? Yang benar saja! Well, kalau Hufflepuff sih mungkin melakukan itu, tapi seorang Slytherin? Jelas saja itu sangatlah mustahil!

"Suruh Pads mengaku di depanku, kalau ini murni kesalahannya. Suruh dia bersujud di bawah kakiku sambil menangis karena kau yang katanya sahabatnya."

Telak… Severus menang telak kali ini. James tau ia akan kalah dalam permainan ini karena menyuruh Sirius melakukan hal yang diinginkan Severus adalah suatu hal yang mustahil, karena Sirius adalah orang yang tak pernah mau harga dirinya diinjak – injak. Walau tau akan begitu James tetap berusaha menyanggupi karena seorang Gryffindor tak akan menyerah pada satu titik! James memandang Severus dengan tatapan penuh keyakinan dan keteguhan.

"Apapun akan ku lakukan, agar kau mau percaya lagi padaku."

Sementara itu Sirius dan Peter masih menanti kesadaran Remus di Hospital Wing. Jujur, Sirius sendiri sekarang terjebak dalam dilema di pikirannya sendiri. Ia tau sebentar lagi persahabatannya dengan James akan kembali terancam. Ia menatap sekitar dengan gelisah, berharap James segera muncul dan berkata bahwa Severus tak mempermasalahkan apapun, walau ia sendiri tau kalau itu adalah hal mustahil. Bagaimanapun kemarin ia melihat sendiri apa reaksi James.

"Pads!" suara itu bisa diidentifikasikan sebagai suara James oleh Sirius. Sirius menghela nafas takut – takut sang sahabat akan geram padanya.

Namun ketakukan milik Sirius sama sekali tak terbukti. James melangkah dengan santai dan menatap Remus yang masih dalam keadaan pingsan, kemudian ia melirik Sirius. Jujur walau tatapan James biasa saja Sirius masih merasa takut.

"Prongs, maafkan aku okay? Aku telah menghancurkan segalanya dan mungkin kini kau akan tak mau lagi bersahabat denganku." Sirius mulai bicara dengan suara yang lebih rendah dari biasanya. Ia kini merasa telah menjadi manusia yang paling laknat di dunia karena ia telah berani mengkhianati sahabatnya sendiri.

Sebuah tepukan di bahunya membuat Sirius sadar bahwa James tak marah. Sirius menatap wajah James yang hanya nyengir –entah apa maksud dari cengiran itu-. James kemudian tersenyum ringan dan menatap Sirius.

"Kau tau aku selalu memaafkanmu tapi Sev, dia sudah marah – marah padaku." James menghela nafas panjang.

Sejujurnya James ingin bicara langsung pada intinya. Tapi, mengingat kali ini lawan bicaranya Sirius yang agak temperamental dengan urusan Severus. James akhirnya memutuskan untuk bicara pelan – pelan dan berharap Sirius benar – benar mau menolongnya. Sirius mulai memandangi James dengan tatapan mata penuh keyakinan.

"Aku akan minta maaf padanya." Sirius berkata dengan suaranya yang normal.

"DIa mengajukan syarat." James menatap Sirius takut – takut. Heck! Ia sangat yakin kalau Sirius jelas akan menolah persyaratan itu –kecuali jika Merlin sedang berbaik hati pada dirinya-.

"Akan aku turuti apapun permintaannya. Aku tak ingin persahabatan kita hancur lagi Prongs!" Suara itu penuh dengan keteguhan, keteguhan yang jarang dimiliki seorang Sirius Black.

Jujur saja James tercenggang. Tapi, well tidak ada waktu untuk tercenggang karena inilah saatnya ia menunjukkan segelanya pada Severus dan membuat Severus dapat menerimanya lagi –walau hanya sebagai teman bicara-.

"Dia menyuruhmu sujud di hadapannya dan menangis meronta – ronta sambil mengatakan bahwa James sama sekali tak ada kaitannya."

Permintaan dari Severus sengaja dibuat hiperbolis oleh James. Bagaimanapun James ingin sesekali melihat sahabatnya tersebut menjatuhkan harga dirinya. Bukan, dia tak bermaksud jahat hanya saja kadang Sirius itu memang perlu diberi pelajaran bahwa harga diri itu tak selama – lamanya begitu penting penting.

"Baiklah, akan aku lakukan!"

Sirius segera beranjak dari Hospital Wing sambil melirik James, dan mengisyaratkan pada James untuk menunggu dan menjaga Remus bersama Peter. James hanya mengangguk menanggapi isyarat itu. IA berharap semoga Sirius kali ini benar – benar berhasil karena well sekarang harapan yang ia miliki hanya ada pada Sirius.

~~OMAKE~Seusai

Severus masih menatap buku – buku di hadapannya dengan hening. Ia sama sekali belum mendapatkan ide tentang hal apa yang ia lakukan. Sepertinya peristiwa semalam telah membuat pikirannya agak kacau. Entah karena alasan apa, selain itu ia juga menunggu apakah si Black yang katanya mementingkan harga diri di atas segalanya itu akan datang? Severus masih belum tau pasti akan hal itu.

"Aku akan meminta maaf pada Potter kalau si Black benar – benar datang." Severus akhirnya memulai sebuah monolog sembari membolak – balikkan lembar buku tersebut –berharap ia akan menemukan ide-.

Seusai monolog itu sepertinya Severus menemukan sebuah ide. Pena bulu miliknya pun menari dengan indah di atas perkamen. Severus yakin apa yang ia tulis akan sangat berguna di masa ini maupun masa depan. Sebuah ramuan untuk menjinakkan werewolf, toh ini untuk seorang Remus Lupin dan seingatnya Remus Lupin bukan orang yang anarkis dan suka mencari keributan seperti James dan Sirius walaupun ia anggota dari gang Marauders.

A/N : Oke udah di apdet sayang – sayang berhubung sedang dalam liburan jadi kemungkinan apdetnya gak lama lama dan fanficnya gak akan jamuran seperti yang sebelumnya. Baiklah mari Ichan balas review yang sudah Ichan terima *jreng**music dramatis*

Kamui-Hime to Kazeko-Kishi : Termakasih atas doanya xD! Oke ini udah gak lama – lama banget kan? XD Tenang tenang James sudah menyelamatkan Severus disini sesuai dengan cerita canon yah walau Severusnya nganggep itu cuma akal – akalan James doang sih ya. Mungkin James patah hati saat itu lol *digorok Mom Jo*

Mami Fate Kamikaze : Termakasih juga atas doanya xD yo! Selamat membaca fanfic ini ya~ hhehe yang alur ini saya ngepasiin di cerita canon kok dan karena emang di canon James yang nyelametiin Severus yodah jadilah chapter ini xD. Dan ini sudah dilanjut yaa. Selamat menunggu chapter berikutnya xD