Tittle : Sweetest Memories
Author : Izumi Akita Suzuki a.k.a Ichan
Rated : T
Genre : Romace,Drama serta mungkin humor?
Fandom : Harry Potter
Pairing : JPSS,JPLE,SBRL
Disclaimmer : Harry Potter owned by J.K Rowling,I'm only have the storyline of this fic ^^
Setting : Tahun Kelima Marauders dan Severus tidak pernah mengatakan 'kata terkutuk itu' pada Lily
Chapter : XI
Sumarry : "Kau benar benar melakukannya untuk kami semua?""Hei! Ayolah tak ada yang lebih berharga daripada persahabatan kita kan?""Terimakasih banyak! Untuk kalian semua."
Warn : Sho-ai a.k.a BL,AR,Gaje(las),Abal,Modified Canon,dll
Tanpa sepengetahuan Severus, Sirius telah berdiri di sana dan Sirius memperhatikan sosok berambut hitam berminyak itu dengan hati – hati. Uh, benarkah dia harus menjatuhkan harga dirinya sekarang juga? Ia masih menatap pemuda Slytherin itu dengan hati – hati karena ia takut akan menganggu aktivitas pemuda itu. Setelah meyakinkan dirinya berulang kali Sirius langsung menghampiri Severus.
"Snape."
Severus beranjak terkejut ketika mendengar suara itu. Suara milik Black mengejutkan dirinya, jadi Black benar – benar kesini? Oh betapa manisnya persahabatan antara Black dan Potter, itulah isi pikiran sarkastik Severus. Ia kemudian beralih menatap pemuda Gryffindor yang kini berdiri di sampingnya itu.
"Kalau kau datang untuk membahayakan hidupku lagi. Aku tak mau tau apapun, Black." Ia mendengus sembari kembali fokus ke perkamennya.
Sirius merasa sedikit nervous dengan semua ini. Minta maaf dengan sujud serta meronta – ronta? Uh bagaimana caranya? Bahkan untuk minta maaf secara formal melalui kata kata pun jarang ia lakukan. Sirius menghela nafasnya.
'Ini demi James, kali ini harus berpikir sebelum bertindak.' Batin pemuda Gryffindor itu lagi.
Severus masih lebih memilih berkonsentrasi pada perkamennya dan tetap mengacuhkan sosok Sirius Black. Namun, sebelum ia berhasil menuntaskan perkerjaannya di perkamen tersebut…
"Severus Snape."
Suara milik Black kembali terdengar dan kini ia melihat pemuda itu bersujud di kakinya. Huh? Sirius Black bersujud padanya? Uh sepertinya ia harus benar – benar minta maaf pada Potter setelah ini. Ia menatap pemuda yang merupakan kakak dari Regulus Black itu.
"Geez, Black jangan bertele – tele,"
Sirius menghela nafas panjang dan mulai menyusun kalimat yang cukup dramatis di kepalanya. Adengan yang terjadi selanjutnya adalah Sirius Black menangis… Ya kalian tak salah baca, Sirius Black menangis. Entah kenapa hal ini membuat batin Severus tertawa pasti James telah menghiperbolis permintaannya sehingga sekarang Sirius menjadi seperti ini. James memang seorang prankster sejati! Namun tetap saja Severus hanya menunjukkan wajah santai dan tenangnya.
"MAAFKAN AKU SNAPE… AKU BERSALAH PADAMUUU! AKU TAK BERMAKSUD MEMBUAT HUBUNGANMU DAN JAMES HANCUR! AKU TAU JIKA JAMES JUGA BERHAK BAHAGIA!"
Sirius berkata disertai isakan dan Severus bisa dengan jelas melihat air mata membasahi mata Sirius, uh rasanya ingin bicara sarkastik dalam keadaan seperti ini. Tapi, kasihan juga dengan Sirius yang sudah dikerjai oleh James. Namun, Severus mendelik mendengar ucapan terakhir Black. Hell, memangnya siapa yang mau bahagia dengan James?
"Ups.. maaf Severus! Aku benar – benar bersalah." Sirius kembali meraung dengan sedikit terisak.
Oh andai saja Severus bisa mengabadikan momen ini, ia pasti akan selalu menang dalam pertandingan dengan Black. Namun, secara tiba tiba Madam Pince datang menghampiri kedua manusia itu. Ia mendelik ke arah Sieius Black.
"Black, kalau kau mau cari ribut sebaiknya keluar." Madam Pince bicara dengan nada sedikit sebal.
Uh sepertinya Siriysus melupakan satu fakta jika ia kini sedang ada di perpustakaan. Sirius hanya menunjukkan cengiran tanpa dosa dan mengangguk. Madam Pince hanya menggeleng dan langsung kembali ke tempatnya dengan tenang. Severus menghela nafas sambil menatap Sirius.
"Kau boleh berdiri, Black."
"Uh? James sudah dimaafkan?" Severus memandang mata pemuda yang duduk di kursi perpustakaan yang ada depannya itu.
Severus hanya mengangguk. Sirius akhirnya berdiri dan menatap Severus dan perkamen yang sedang dikerjakan pemuda Slytherin itu. Sirius menunjukkan ekspresi cukup kagetnya ketika mengetahui apa yang ditulis Severus.
"Ramuan penjinak werewolf? Kau pasti bercanda." Sirius berkata dengan sangat tak percaya.
"Lupin hampir membunuhku. Kurasa dia perlu ramuan semacam ini." Severus kembali melanjutkan tulisannya yang hampir selesai.
"Tunggu! Jangan bilang kau melakukannya untuk James…" Sirius melirik pemuda Slytherin itu dengan tatapan yang mengadakan 'Are you fucking kidding me?'
"Black aku dan Potter bukanlah kekasih gelap seperti apa yang ada dipikiranmu." Severus mendengus dan melipat perkamen itu serta memasukkannya ke dalam kantung jubah.
"Snape… Snape oh ayolah kau jangan menyangkal dirimu sendiri! Aku tau harga diri Slytherin itu sangat tinggi! Kau pasti hanya menyangkal kan?" Sirius menatap Severus dengan senyum –penuh kecurigaan.-
"Diamlah Black, aku naksir Evans bukan Potter. Oh ya omong – omong soal Potter, apakah kau tau dia dimana? Aku butuh menemuinya."
"Kencan rahasia lagi? Uh, Snape ayolah aku sudah ikhlas kalian menjadi sepasang kekasih tapi kenapa kalian masih main rahasia – rahasiaan."
"Kalau rahasia aku tak mengajakmu." Severus kembali bicara dengan sebuah dengusan.
"Jadi ini benar – benar kencan?" Sirius berkata sambil tertawa.
"Tidak." Severus menjawab dengan datar dan tanpa ekspresi sama sekali.
Sirius hanya balas mendengus dan kemudian mulai berjalan. Ia sangat berharap untuk menemukan James di perjalanan mereka. Karena kalian tau sendiri, James itu banyak bertingkah. Tidak mungkin dia betah ada di tempat yang sama dalam jangka waktu yang lama. Sirius menghela nafas karena belum juga menemukan sosok berkacamata itu. Severus mulai memandanginya dengan sedikit kesal, uh untuk apa dia berjalan dengan Black jika Black nyatanya tak tau dimana letak James? Namun, pikiran itu segera di tepisnya karena mereka bertemu dengan James di depan Aula Besar.
"Yo! Pads!" James tersenyum dan lalu menatap Severus.
"Uh, kejutan?" kata Sirius dengan wajah ragu sembari menatap James yang sepertinya mempertanyakan keberadaan Severus disana.
"Wow! Dude! Kau sangat luar biasa!" James tertawa dan menepuk pundak Sirius kemudian ia memandang Severus.
"Err… Sev?" James menyapa pemuda Slytherin itu setengah ragu.
"Ya, Potter?" Severus hanya menjawab dengan nada dingin seperti biasa.
"Jadi? Aku dimaafkan atau tidak?" James memandang Severus penuh harap. Oh ayolah masakah usaha kerasnya selama berbulan bulan ini harus tersia – siakan begitu saja?
"Kau dimaafkan. Omong – omong aku suka bumbu tambahannya." Kata Severus dengan sedikit senyum –yang tak begitu kertara.
Severus tersenyum padanya? Oh James Potter rasanya ingin pingsan sekarang. Apakah yang ia lihat kini nyata atau hanyalah halusinasi belaka? Ia menatap Sirius dengan penuh tanda tanya.
"Pukul aku, Pads."
"Dengan senang hati!" Sirius menepuk bahu James dengan cukup keras.
Dan sosok Severus tetaplah berdiri di depan James –walau kini sosok itu sudah tak tersenyum lagi-. James menatap Severus dengan santai dan tersenyum pada pemuda berambut hitam itu.
"Sev, kau harus lebih sering tersenyum. Kau tau itu kau lebih menawan jika tersenyum."
"Omong kosong, Potter. "
"Hei, aku serius!"
"Untuk apa aku tersenyum jika aku dilahirkan untuk dibenci?" Severus kembali bicara dengan ketus.
"Kau terlalu menutup dirimu Sev. Bukalah dirimu dan kau akan menyadari betapa berharganya dirimu." James menatap dalam mata Severus.
Selanjutnya ia hanya mendengar dengusan dari Severus. Severus kemudian menatap Sirius dan juga James.
"Aku duluan." Ia berkata sambil langsung beranjak pergi dari hadapan James dan Sirius.
Sirius dan James saling pandang dan kemudian menatap sosok Severus yang mulai menghilang. James tersenyum, kelihatannya Severus merasa sedikit nervous karena ada Sirius disana. James pun hanya tertawa menatap Sirius.
"Ke Hospital Wing sekarang, Prongsie? Moony dan Pete pasti sudah menunggu kita." Sirius berkata sembari menepuk pundak James dengan enteng.
"Yeah, ayo." James menatap sahabatnya dengan senyuman.
James dan Siriuspun berjalan menuju Hospital Wing. Sementara itu di Hospital Wing Remus sudah tersadar dari pingsannya dan sekarang menatap Peter yang ada di sampingnya. Ia tak mendapati James dan Sirius disana. Ia menatap Peter ragu – ragu lalu menghela nafas…
"Well, Peter. Apakah kau tahu dimana Prongs dan Pads?"
Peter menggeleng karena nyatanya ia memang tak tau lokasi mereka dimana. Remus hanya menghela nafas panjang, berharap kedua manusia itu segera datang. Remus tak tau rasanya ia ingin meminta maaf pada James, jujur ia mengingat semalam ia hampir membunuh Severus Snape. Remus kemudian mulai sedikit menjatuhkan air mata, ia merasa bersalah. Walau well, saat ia menjadi werewolf ia hanya akan bergerak dengan naluri kebinatangannnya bukan naluri kebinatangannya. Remus Lupin menangis karena apa yang telah ia lakukan semalam. Saat itu juga sosok James dan Sirius masuk dan mendapati Remus yang sedang menangis.
"Hey, Moony!" Sirius menyapa sang kekasih sebelum menyadari sang kekasih sedang menangis.
"P-Pads, aku bersalah. Aku hampir membunuh Severus." Remus menangis dan membayangankan apa yang telah terjadi semalam.
"Hey, Moony kau tak menyadarinya ayolah! Severus masih sehat." James mendekati Remus dan berusaha menghibur pemuda berambut keemasan itu.
"Prongs! Kau tau rasanya aku hampir membunuh orang! MEMBUNUH! Kau tau itu! Jika satu saja nyawa melayang pasti aku akan dikeluarkan dari sekolah ini." Remus kembali menyalahkan dirinya sendiri dan tetap menangis.
Sirius mengambil tindakan untuk memeluk kekasihnya itu dan ia langsung menepuk kepala kekasihnya itu. Bagaimanapun ia sesungguhnya adalah yang paling bersalah atas semua ini. Ia berpikir untuk mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya, tapi itu tak mungkin karena pasti jika ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pasti Remus akan marah padanya. Sirius menatap James dengan hati – hati berharap James bisa melintasi apa yang ada di pikirnya dan kemudian James hanya menggeleng.
"Hey, It's Okay Moony. Kau tak menyadari kau tau Severus sudah memaafkanmu aku sudah bicara padanya." James tersenyum dan berusaha menghibur sahabatnya.
"Yeah, dan dia juga akan membuatkan sesuatu untukmu." Kata Sirius teringat dengan apa yang ia lihat di perpustakaan.
"Benarkah?" Remus mulai terlihat tak menangis lagi.
James dan Sirius mengangguk secara bersamaan. Mereka kemudian tersenyum. Sirius berkata lalu ia tersenyum kecut mengingat permintaan Severus agar ia dimaafkan.
"Yeah, walau Severus memaafkan kami dengan cara yang memuakkan." Kata Sirius.
Remus memandang Sirius dan James secara bergantian. Jujur dia bingung apa yang dimakasud Sirius lalu ia langsung menatap James. James hanya tersenyum dan lalu berkata..
"Uh intinya Sirius menjatuhkan harga dirinya demi kita."
"Kau benar benar melakukannya untuk kami semua?" Remus memandang Sirius tak percaya. Sirius menjatuhkan harga dirinya? Uh, sepertinya peristiwa ini perlu dicatat dalam peristiwa paling bersejarah di dunia sihir.
"Hei! Ayolah tak ada yang lebih berharga daripada persahabatan kita kan?" kata Sirius sembari tersenyum penuh arti dan menatap semua orang yang ada di situ secara bergantian.
"Terimakasih banyak! Untuk kalian semua." James tersenyum dan segera memeluk ketiga sahabatnya. Bahkan Peter juga ikut terpeluk walau sebenarnya Peter tak terlalu paham dengan semua yang terjadi di antara sahabat – sahabatnya.
Ah, memangkan di dunia ini tak ada yang lebih berharga dari teman? Mereka selalu ada untuk mendukung dan menopangmu saat kau tak mampu berdiri sendiri. Well, dan inilah yang bisa kita lihat dari Marauders walau kadang mereka berseteru namun mereka sebenarnya membutuhkan satu sama lain dalam setiap peristiwa yang mereka alami. James menatap ketiga sahabatnya.
"High-Five untuk Marauders!" katanya sambil tersenyum bangga dan bahagia.
Anggota lain dari Kuartet Gryffindor itupun mengangguk dan mereka berempat segera melakukan High-Five. Ah betapa bahagianya menjadi mereka yang selalu mempunyai orang terdekat untuk menmbantu dan menghibur dalam kesusahan setiap saat.
~OMAKE~
Sementara itu Severus menemui Professor Slughorn di kantornya. Ia beharap professor gempal itu akan menerima idenya dalam membuat ramuan pejinak werewolf yang akan dinamakan wolfsbane itu. Severus dengan sopan mengetuk pintu masuk ke ruangan Professor itu.
"Masuk saja."
Seusai suara Slughorn terdengar di telinga Severus. Severus langsung memasuki ruangan itu dan menatap Slughorn. Slughorn menatap bingung salah satu anak murid emasnya itu.
"Professor. Boleh aku pinjam ruang bawah tanah?" kata Severus berusaha menyakinkan professor itu.
"Untuk apa? Kau ingin mencoba membuat ramuan baru?" Slughorn menatap muridnya yang memang sangat berbakat dalam bidang ramuan itu.
Severus mengangguk dan menunjukkan perkamen yang sedari tadi dibawanya. Slughorn menatap perkamen itu tak percaya. Menjinakkan werewolf? Dapat ide dari mana pemuda yang berdiri di depannya itu? Well, itu taklah penting mengingat bisa saja Ramuan itu akan sangat berguna di masa depan. Slughorn mengangguk menyetujui permintaan Severus.
"Terimakasih." Kata Severus yang kemudian langsung beranjak dari sana. Karena ia baru akan mulai pekerjaannya besok. Sekarang sih waktunya istirahat.
Severus melangkah ke ruang rekreasi Slytherin ketika Avery dan Mulciber sudah menampilkan mimik wajah panik karena Severus tak kunjung datang. Mereka akhirnya tersenyum melihat kedatangan teman mereka.
"Sev! Dari mana saja kau?" Avery mulai membuka pembicaraan.
"Konsultasi dengan Slughorn. Oh ya omong – omong aku lelah, aku tidur duluan ya." Severus membalas dengan santai.
Avery dan Mulciber saling pandang. Terkadang memang sosok Severus itu membingungkan tapi well siapa peduli akan hal itu selama mereka masih bisa berteman dengan baik sih itu tak akan menjadi sebuah masalah bagi mereka.
~TBC~
A/N : Rencana untuk menghabiskan liburan buat ngelanjutiin fanfic ini ternyata tak lancar sodara – sodara saya kena w-block dan akhirnya saya berusaha menulis fic ini karena saya pikir fic ini akan segera mendekati akhir kurang satu atau dua chapter lagi. Hehehe mari saatnya membalas review!
Mami Fate Kamikaze : Sirius beneran melakukan itu karena sesuai judul chapter ini Nothing More Precious Than Friends ;v; Sev itu aslinya emang baik kok Cuma ya itu dia jutek xD ini udah dilanjut ya :3
Kazeko Aoi to Kamui Seiyuu : Namanya juga Severus. Severus mah gitu orangnya suka sok sokan gak peduli :v hehehe Ichan juga sayang sama readers kok tenang aja Ichan gak suka gampar gampar xD
Icioca : weh makin penasaran gak? Menjelang ending lho ini xD
