Tittle : Sweetest Memories

Author : Izumi Akita Suzuki a.k.a Ichan

Rated : T

Genre : Romace,Drama serta mungkin humor?

Fandom : Harry Potter

Pairing : JPSS,JPLE,SBRL

Disclaimmer : Harry Potter owned by J.K Rowling,I'm only have the storyline of this fic ^^

Setting : Tahun Kelima Marauders dan Severus tidak pernah mengatakan 'kata terkutuk itu' pada Lily

Chapter : XII –Am I Still Loving Her?-

Sumarry : "Tapi Lils, apakah menurutmu aku dan Potter memang harus bersama?""Hidup itu pilihan Sev, kau yang bisa mengetahui isi hatimu sendiri.""Mungkin aku harus mencoba."

Warn : Sho-ai a.k.a BL,AR,Gaje(las),Abal,Modified Canon,dll

Terbangun di pagi hari karena mimpi buruk tentu saja bukan hal yang diharapkan semua orang, begitu juga dengan seorang Severus Snape, namun sayang pada pagi hari ini ia terbangun karena sebuah mimpi buruk dan bisa dikatakan mimpi buruknya sangat mengejutkan. Dimana dalam mimpinya ia melihat animagus rusa dibunuh oleh seekor werewolf. Apakah ini pertanda bahwa Severus harus segera menyelesaikan ramuan yang sengeja ia buat untuk seorang Lupin ataukah mimpi itu hanya sebuah bunga tidur belaka? Namun sebenarnya bagian itu tak terlalu buruk, bagian teburuk dari mimpi buruknya adalah saat James dikuburkan ia yang menangis dan bersujud di kuburan itu paling lama seolah – olah James adalah orang yang paling berharga di hidupnya –dan lagi sepertinya dalam mimpi itu ia menyesali sesuatu yang belum sempat ia atakana pada James-. Ia menghela nafas panjang tahu itu tak akan pernah terjadi, lagipula ia percaya hatinya hanya untuk Lily Evans seorang dan James Potter tak akan pernah bisa memasuki dirinya. Lily Evans wanita berambut merah dan bermata emerald, wanita yang sempat ditaiksir oleh Potter juga, wanita yang merupakan sahabatnya. Severus mengeluarkan sebuah senyum kecil saat ia membayangkan Lily, ah mungkin ini waktunya untuk menemui Lily setelah sekian lama ia tak menemui sahabatnya itu.

Sementara itu di kamar wanita di Gryffindor Lily sedang asik berbincang dengan teman – teman seasramanya. Lily mendesah pelan mengetahui belum ada perkembangan yang benar – benar berarti di antara Severus dan James. Apakah pengorbanannya akan perasaannya untuk James itu sama sekali tak berarti? Apakah semua kebenaran yang ia ungkapkan sama sekali tak berarti? Kenapa Severus tak mau menanggapi James sama sekali? Bukankan James sudah selalu berusaha menolong dan melindungi Severus tapi kenapa Severus masih terus saja mengacuhkan pemuda berkacamata dari Gryffindor itu? Alice menatap sahabat karibnya itu, dan kemudian mulai bicara –berusaha mengalihkan seorang Lily Evans dari alam bayangannya-.

"Lils?"

Lily yang mendengar sebuah suara dari dunia nyata akhirnya sadar dari lamunannya. Ia menatap Alice yang duduk tepat di seberangnya. Lily menagngguk sebagai tanggapan.

"Kau ada masalah apa lagi, Lils? Kau terlihat jelek jika berkerut begitu." Kata Alice sembari tersenyum kecil.

"Soal Potter lagi." Jawab Lily sembari mengehela nafas.

Alice hanya menggeleng mendengar sahabatnya menyebutkan nama ketua dari Marauders itu. Alice tau sendiri seberapa besar rasa yang dimiliki oleh Lily untuk James dan seberapa besar pengorbanan Lily akan perasaannya itu. Haah, terkedang hidup memang benar – benar sulit dan memusingkan, lagipula Alice tak pernah mengalami hal serumit Lily hubungannya dengan sang kekasih alias Frank Longbottom selalulah menjadi hubungan asmara normal.

"Jadi apa yang kau pikirkan tentang pembuat onar itu lagi?" Alice menatap atak emerald milik Lily dalam.

"Entahlah, aku merasa pengorbananku sia – sia maksudku aku sudah mengungkapkan kebenaran dan segalanya tapi kenapa James tak berhasil meraih Severus?" Lily memasang wajah bingung dan sedihnya secara bersamaan.

"Kau baru mengungkapkan segalanya pada Potter Lils, kurasa kau juga harus mengatakan semuanya pada Snape." Alice mengangguk akan solusi yang diberikannya untuk sahabatnya tersebuty.

"Hmm, kau benar mungkin bicara dengan Sev bisa jadi solusinya." Lily tersenyum dan mengangguk.

Setelah obrolan singkat antara dirinya dan Alice. Lily memutuskan untuk keluar dari sarang dan berusaha untuk menemukan sosok Severus. Ketika ia sampai ke ruang rekreasi Gryffindor ia mendapati Potter menatap ke arahnya. Lily hanya dapat mengangkat alis.

"Lils?"

"Apa maumu, Potter?"

"Kalau kau bertemu Severus katakana padanya aku ingin bicara sesuatu padanya nanti."

Lily memilih hanya mengangguk mendengar ucapan James. Akankah ini menjadi pertanda baik atau justru menjadi pertanda buruk? Lily hanya mampu menghela nafas dan melanjutkan perjalanannya guna mencari Severus. Setelah pencarian yang bisa dikatakan cukup rumit, Lily akhirnya menemukan Severus yang sepertinya baru saja keluar dari ruangan ramuan, padahal seingatnya jadwal pelajaran ramuan para siswa Slytherin itu bersamaan dengan para siswa Gryffindor dan pelajaran ramuan itu baru akan mereka jalani besok. Tapi, well jangan lupakan Severus adalah pecinta ramuan sejati jadi mungkin Severus sedang mengerjakan ramuan baru guna masa depan dunia menunggu waktu lama, Lily langsung menghampiri pemuda Slytherin yang merupakan sahabatnya itu.

"Er, Sev sepertinya kita perlu bicara."

Severus menghela nafas dan menatap gadis pujaan hatinya itu. Ia kemudian hanya mengangguk guna menanggapi ucapan Lily.

"Jadi apa yang mau kau bicarakan, Lils?" Severus menatap dalam mata Lily seolah ia berusaha untuk membaca isi pikiran dari sang singa betina tersebut.

"Soal dirimu dan Potter." Lily bicara dengan santai.

Severus membelakkan matanya dengan tak percaya, ia tahu bahwa Lily menyukai Potter. Tapi kenapa Lily juga ikut campur dalam masalah Potter dan Snape harus dipersatukan! Severus menggelengkan kepalanya, mungkin inikah saatnya ia mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya pada Lily? Agar Lily tak menyuruhnya menyukai Potter? Tapi tunggu apakah Severus masih menyukai Lily? Bagaimanapun saat mengingat Lily menyukai James hatinya tak seperih ketika ia mengetahui hal itu untuk pertama kali. Severus menghela nafasnya panjang dan memilih meninggalkan pikirannya untuk kembali ke kenyataan.

"Ada apa dengan aku dan Potter?'

"Bukannya aku mau ikut campur tapi aku harap kau menerimanya. Apakah kau tak kasian dia mengejarmu tapi ka uterus mengacuhkannya begitu?" Lily menatap dalam lawan bicaranya berharap ia mendapatkan respon yang seperti di bayangannya.

Severus menggeleng dan langsung menyentuh bahu Lily. Lalu dengan sengaja Severus membuat matanya bertemu dengan mata Lily, Mata hitamnya menatap mata hijau cerah milik Lily. Ia menghela nafas dulu sebelum mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya.

"Dengar Lils, aku tak mengacuhkan Potter. Hanya saja dia bukan orang yang kusukai, walau sebenarnya aku tak yakin dengan perasaanku sendiri." Severus memperdalam tatapannya ke mata Lily.

"Jadi, siapa yang menurutmu kau sukai?" Lily menatap mata hitam yang kini telah menjebak pandangannya tersebut.

"Kau. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu." Severus menatap dalam mata Lily agar sahabatnya tersebut tau bahwa dirinya serius dengan ucapannya.

"Tapi tadi kau bilang kau tak yakin pada perasaanmu sendiri? Ada apa?" Lily menatap Severus lagi berharap yang ada di pikirannya adalah hal yang akan diucapkan Severus.

"Aku dengar pembicaraan dengan Lupin beberapa bulan yang lalu dan aku tahu kau suka pada Potter atakan melakukan semua ini untuknya."

Lily mendelik tajam kea rah Severus. Severus menguping pembicaraannya dengan Remus? Uh! Bagus! Kini ada dua orang yang mengetahui rahasia pribadinya. Namun, Lily akhirnya memilih untuk tetap santai bagaimanapun Severus adalah seseorang yang sangat bisa dipercayai.

"Jadi apa hubungannya dengan perasaanmu?" Lily kembali bicara untuk melanjutkan pembahasan yang mereka lakukan.

"Saat mendengar kau naksir Potter pada saat itu, entahlah rasanya ada yang mengganjal tapi ketika tadi aku mengingat lagi akan itu tak ada perasaan yang mengganjal. Apakah berarti aku sudah tak mencintaimu lagi Lils?" Severus menunjukkan wajah bingungnya, wajah yang sangat jarang dipertunjukkan oleh Severus bahkan pada saat pelajaran pelajaran yang diikutinya meraih bab tersulit Severus tak pernah menunjukkan wajah seperti itu.

Lily hanya tersenyum kecil memandang sahabatnya tersebut. Sahabatnya tersebut memanglah seorang siswa paling cerdas di seantero siswa – siswa Slytherin lain namun sahabatnya tersebut tak peka dengan perasaannya sendiri. Lily kemudian mengangguk.

"Kalau begitu kau bisa mulai semua dengan Potter kan? Kau sudah kehilangan rasamu padaku." Lily kembali dalam mode 'Mari Jodohkan Potter dan Snape Agar Mereka Bahagia Bersama Selamanya'.

"Tapi Lils, apakah menurutmu aku dan Potter memang harus bersama?" Severus menghela nafas ketika mendengar Lily kembali mengarahkan atak mereka atakan hubungannya dengan James.

Lily ingin tertawa rasanya mendengar perkataan sahabatnya tersebut. Well, Severus Snape seorang paling dingin dari Slytherin pikirannya sedang dikacaukan oleh perasaanya sendiri. Bukankah itu sebuah hal baru? Namun Lily memilih menepuk bahu sahabat ularnya tersebut.

"Hidup itu pilihan Sev, kau yang bisa mengetahui isi hatimu sendiri." Lily berkata sambil tersenyum penuh arti, berharap Severus mau memilih jalan yang relah disarankan semua orang.

Severus meningat mimpi buruk yang membangunkannya di tidur malamnya. Ia kemudian menghela nafasnya panjang. Apakah berarti ia harus mencoba semuanya dengan James sebelum ia menyesal? Severus menatap Lily dalam dan kemudian ia memutuskan untuk bicara.

"Mungkin aku harus mencoba."

Lily kemudian menghela nafas lega dan kembali menatap sahabatnya tersebut. Ia penasaran dengan apa yang dilakukan Severus di ruang ramuan.

"Sev, boleh aku tanya sesuatu?"

"Apapun itu akan kujawab." Severus mengangguk yakin dan dia tak mau mengecawakan sahabatnya tersebut.

"Kau tahu aku tahu jadwal kelas Ramuan milik Slytherin dan Gryffindor itu bersamaan dan itu jelas bukan hari ini. Lalu apa yang kau lakukan di ruangan pengap itu?" Lily menatap Severus dengan sedikit penasaran.

"Sedang berencana memberikan sesuatu pada Lupin. Terimakasih pada Black yang hampir membunuhku, dengan mengiringku atakan Lupin yang sedang bukan Lupin." Severus menghela nafas mengingat kejadian yang menimpanya tempo hari.

"K-kau tau rahasia Remus?" Lily memandang Severus dengan tak percaya.

"Yeah, terimakasih sekali lagi pada Black yang tak pernah berpikir dengan otaknya itu." Kata Severus sembari mendengus.

"Well, semoga sukses dengan pekerjaanmu itu! Ohmu ya omong – omong James bilang ia ingin bertemu denganmu." Kata Lily sembari mengingat hal yang diucapkan James padanya tadi.

"Dimana?" Severus menatap Lily berharap ia segera bisa menemukan Potter setelah ini dan urusannya dengan pemuda berkacamata itu akan segera selesai.

"Entahlah, ia tak bilang ia hanya bilang padaku bahwa ia ingin bicara sesuatu padamu." Kata Lily mengangguk.

"Well, ada baiknya aku cari dia dulu. Sampai jumpa dan terimakasih Lils." Severus langssung beranjak meninggalkan Lily.

Lily Evans tak dapat menghentikan senyum yang mengembang di wajahnya. Entah kenapa melihat Severus yang sepertinya benar – benar ingin mencoba membuat Lily bahagia. Well, ia bahagia karena akhirnya pengorbanan yang selama ini ia lakukan taklah sia – sia. Tapi di lain sisi dia bahagia juga karena Severus akan bersanding dengan orang yang benar – benar tepat.

~OMAKE~

Sementara itu di pihak lain, seorang James Potter didampangi dengan sang sahabat setia –Sirius Black- sedang berjalan memutari seantero Hogwarts dengan gundah gulana. Rencana dua dari empat anggota Marauders itu hanyalah mencari Severus Snape. Well, mengingat Sirius sudah merestui sahabatnya tersebut memadu asmara dengan sosok Snape, Sirius akhirnya bersedia mengantar James memutar – mutar kastil guna mencari sang ahli ramuan dari Slytherin itu –walau sebenarnya Sirius punya tujuan lain, yaitu untuk menanyakan kelanjutan ramuan yang sedang dibuat sosok Severus Snape-. Normalnya sosok Severus Snape adalah sosok yang akan sangat mudah dicari, tapi kali ini sosok itu benar – benar seperti kasat mata. Heck! Jam Pelajaran Transfigurasi akan dimulai setengah jam lagi dan mereka masih belum menemukan Severus Snape untuk bicara akan hal penting. Terkadang hidup itu memang tak adil. James menatap sahabatnya tersebut.

"Pads, kurasa Severus sedang tak berminat untuk ditemui." James berkata dengan nada setengah mengeluh.

James sama sekali tak mendapat balasan dari sahabatnya tersebut. Namun, ia justru mendapatkan jawaban dari orang yang sedang atakana – nantinya.

"Siapa bilang aku sedang tak berminat untuk ditemui?" Severus seperti biasa bicara dengan nada dingin nan angkuhnya.

James dan Sirius saling pandang. Well, setidaknya perjuangan mereka taklah sia – sia untuk mencari sosok pria Slytherin itu. Jadi, inilah waktunya bagi mereka untuk membicara segala hal yang ingin mereka katakan pada Severus.

~TBC~

A/N : bahahaha saya sudah sekolah lagi dan memasuki tahun neraka a.k.a tahun terakhir di sekolah. Ya sodara – sodara saya sudah kelas 3 SMA, saya sebenernya mau hiatus tapi gak tau kenapa otak saya debat lagi sama saya x"D jadi saya putuskan untuk melanjutkan fic ini dan kabar gembira untuk kalian semua fanfic ini tinggal menyisakan satu chapter lagi! Huuuuh mari saya balas review yang sudah saya terima!

Aoi-hime to Seiyuu-Hime : sekali – kali perlu ada yang memberi pelajaran agar Sirius gak terlalu mempertahankan harga dirinya XD. Nah kan dirimu sudah tau jawabannya sendiri /bukan gitu/ Dia minta maaf soalnya takut ngerusak PDKT-nya James sama Sev xD. Ini sudah dilanjut ya

Mami Fate Kamikaze : Sudah dilanjut. Yeap kurang satu chapter lagi silahkan ditunggu ya! ^^

Guest : sudah dilanjut ya~