Tittle : Sweetest Memories

Author : Izumi Akita Suzuki a.k.a Ichan

Rated : T

Genre : Romace,Drama serta mungkin humor?

Fandom : Harry Potter

Pairing : JPSS,JPLE,SBRL spesial chapter ini ada implied Drarry! XD

Disclaimmer : Harry Potter owned by J.K Rowling,I'm only have the storyline of this fic ^^

Setting : Tahun Kelima Marauders dan Severus tidak pernah mengatakan 'kata terkutuk itu' pada Lily dan ada setting special di ending /grin/

Chapter : XIII – Let's Give It A Try!-

Sumarry : "Jadi, kau serius akan memberikan kesempatan padaku? Oh akhirnya!""Jangan berlebihan, Potter.""Tapi Sev kau tak tau betapa bahagianya aku setelah semua hal yang kualami.""Yea yea terserah.""I love you, Sev!"

Warn : Sho-ai a.k.a BL,AR,Gaje(las),Abal,Modified Canon,Implied M-preg.

James memandang ragu – ragu Severus seolah ia baru saja terkena amnesia. Sementara itu Sirius menatap Severus dan menepuk bahu pemuda Slytherin itu –well, ini merupakan reaksi yang sangat tidak wajar dari seorang Sirius Black jadi Severus memutuskan untuk mencurigai pemuda berdarah murni itu-. Sebelum Sirius sempat bicara Severus langsung memotongnya.

"Black, kalau kau mau tanya soal ramuan Lupin aku sudah mulai mengerjakannya dan sebentar lagi akan selesai." Kata Severus dengan enteng.

Well, satu fakta yang seharusnya tak seorang Sirius Black lupakan bahwa seorang Severus Snape adalah pembaca pikiran yang handal. Sirius akhirnya menatap Severus dengan tawa setengah canggung.

"Well, Snape. Kurasa aku memang yang selama ini salah menilaimu. Dan sekarang aku tau kenapa Prongsie naksir denganmu!" kata Sirius yang memandangi James yang sepertinya benar – benar lupa akan mengatakan apa.

Severus akhirnya memilih mengacuhkan Sirius kemudian ia menatap James. Well, James adalah yang mengajaknya bertemukan? Tapi kenapa pemuda berkacamata itu sama sekali tak mengajaknya bicara? Apakah James mempermainkan dirinya, ketika dirinya mulai berusaha untuk menghargai sang prankster?

"Potter aku mendengar bahwa kau ingin bicara padaku, tapi kenapa kau justru diam saja seperti patung? Tak ada yang memantraimu kan?" kata Severus dengan sarkastik.

James sebenarnya ingin menjawab bahwa ia terkena sebuah mantera, well mantera dari pesona seorang Severus Snape tentunya tapi entah kenapa rasa nervousnya membuatnya tak bisa melawak. Ia harus menyalahkan Sirius setelah ini! Kenapa sih Sirius menyuruhnya untuk segera –uhuk- benar – benar menembak Severus Snape? Memangnya apa perubahan yang berarti dari hubungan mereka? Kata James sih sama sekali tak ada tapi karena Sirius memaksa dan mengancam bahwa mungkin saja kalau James terlalu lama tak mengambil tindakan maka Severus akan jatuh ke tangan orang lain maka akhirnya Jamespun memutuskan untuk menuruti perintah sahabatnya tersebut yang tentu saja paling handal dalam urusan asmara.

"Halo, Potter? Kau masih bernyawa kan?" Akhirnya suara yang keluar dari mulut Severus Snape memecahkan lamunan James.

"Err, ya aku masih hidup dan sehat bahkan sangat sehat, Sev!" kata James yang mendadak bisa bicara dengan nada bahagianya.

"Jadi apa masalahmu kali ini, Potter?" Severus memandang James dengan dalam karena ia benar – benar tak tahu apa yang ingin dikatakan James.

James kembali merasakan rasa nervous yang sangat dalam. Ini akan jadi momen paling berarti dalam hidupnya! Kalau Severus menerima sih kalau Severus menolak ya lain cerita. James akhirnya menatap dalam mata Severus dan ia menghela nafasnya dalam – dalam –agar mengurangi nervous- dan hal ini sukses membuat seluruh perhatian Severus terarah kepadanya.

"Oke Sev jadi kita mulai dari sini dari awal aku kan menyukaimu dan mencintaimu." James memulai acaranya dengan intro yang ternyata tak disambut baik dengan seorang Severus Snape.

"Dengar, Potter kalau kau kesini hanya untuk menggombaliku lebih baik kau pergi. Langsung ke intinya saja." Balas Severus dengan dengusan.

James berusaha mengumpulkan segenap keberanian dari hatinya. Hell, dia Gryffindor! Harusnya dia tak punya ketakutan! Akhirnya James menyentuh kedua bahu Severus dan membuat seluruh perhatian mata Severus hanya tertuju pada matanya. Sirius yang ada disitu hanya mampu menahan senyum. Ah! Akhirnya sahabatnya akan segera sebahagia dirinya.

"Sev, kau mau jadi kekasihku kan?" tanya James dengan suara tegas.

Severus Snape tak menunjukkan ekspresi apa – apa setelah James mengatakan hal tersebut. Dan jika James boleh jujur hal ini membuatnya merasa teramat sangat kecewa. Rasanya James ingin segera pergi dari sana namun sebelum ia benar – benar memutuskan pergi, ia melihat Severus tersenyum! Ya, kalian tak salah baca Severus Snape tersenyum!

"Kita bisa memberikan itu percobaan kan?" Severus berkata dengan enteng.

James rasanya ingin berteriak dengan sekeras – kerasnya tapi mengingat lorong sudah cukup ramai dengan siswa – siswa yang akan mengikuti kelas James memilih diam… well, tapi bukan James namanya kalau betah diam lama – lama akhirnya James Potter memilih untuk memeluk seorang Severus Snape di hadapan siswa – siswa yang lalu lalang dan tentu saja ini menjadi pemandangan mengejutkan. Remus dan Lily secara tiba – tiba juga ikut serta muncul dan mereka berdua melirik Sirius –seolah meminta penjelasan pada sang animagus anjing-.

"Kau tunggu saja kabarnya saat nanti James heboh. Kau tau sendiri kan bagaimana James itu." Kata Sirius sambil tersenyum penuh arti karena ia bisa merasakan juga kebahagiaan yang dirasakan James.

Dan perkataan Sirius sangatlah tepat karena pada detik selanjutnya suara James bergema di koridor. Dan hal itu menyebabkan James berserta Severus menjadi pusat perhatian siswa yang ada disekitar mereka.

"Jadi, kau serius akan memberikan kesempatan padaku? Oh akhirnya!" James berucap dengan senang sekali.

"Jangan berlebihan, Potter." Severus yang menyadari perhatian seluruh siswa tertuju padanya mulai memandang James dengan tajam berharap sosok itu tak berusaha menarik perhatian orang – orang lagi.

"Tapi Sev kau tak tau betapa bahagianya aku setelah semua hal yang kualami." Kata James masih dengan nada mendramatisir.

"Yea yea terserah." Severus mulai berkata dengan tak senang karena ia benar – benar tak suka menjadi pusat perhatian.

"I love you, Sev!"

Perkataan terakhir James sangatlah keras dan sontak saja itu membuat semua siswa heboh… karena berarti kini James Potter dan Severus Snape telah benar – benar menjadi sepasang kekasih dan hal itu benar – benar mengejutkan. Remus, Lily dan Sirius langsung menepuk bahu sahabat mereka.

"Sepertinya akan ada yang mentraktir butterbeer di weekend besok." kata Lily yang menggoda pasangan baru tersebut.

"Well, kalau kalian mau sih aku iyakan." Kata James sambil mengangguk yakin.

Dan pada hari itu jugalah James merasa sebagai penyihir yang paling bahagia di seantero dunia sihir. Bagaimanapun usahanya selama setahun kebelakang tidaklah sia – sia dan dia berhasil mendapatkan hati seorang Severus Snape yang sedingin es batu. James menatap Severus sebentar dan..

"Kelas Transfigurasi sudah kulewatkan 15 menit kira – kira jika aku masuk McGonagall marah tidak ya? Kau ada kelas, Sev?" tanya James menatap Severus.

"Aku kosong. Dan kurasa aku tak akan mengijinkanmu membolos." Kata Severus seolah – olah tahu apa yang ada di pikiran James.

"Well, lagipula kelihatannya aku punya teman telat." Kata James tersenyum menatap Remus,Lily dan juga Sirius.

Akhirnya mereka berempatpun berpisah dengan Severus demi menuju ke kelas Transfigurasi.

31 Juli 1978

Jadi hari ini merupakan hari yang dinanti – nanti semua penghuni tahun akhir Hogwarts. Upacara kelulusan akhirnya setelah tujuh tahun menepuh pelajaran nan sulit dan rumit mereka akan lulus di hari ini! Dan selanjutnya mereka akan melakukan pekerjaan sesuai dengan minat dan keinginan masing – masing. Dan untuk hari penting kali ini mari kita sambut tokoh utama kita…

Severus Snape.

Sejak hubungan Severus dengan James tersebar di seantero Hogwarts para gerombolan Slytherin menjauhi Severus karena pilihan yang dipilihnya. Well, semua Slytherin sangatlah membenci Marauders dan jika kalian tanya berapa skala kebencian mereka makan skala kebencian mereka adalah 15! Mereka adalah musuh terbesar bagi para Slytherin. Tetapi Severus tetaplah Severus yang tak akan peduli dengan keadaan sekitarnya lagipula para Slytherin itu akan rugi sendiri karena tak menghargai keberadaan sang Potion Master contohnya saja lihat Avery dan Mulciber yang hanya mendapat nilai A pada ujian ramuan mereka, pada normalnya ketika dua penyihir itu dalam hubungan baik dengan Severus mereka sering mendapat E. Well, tapi bagaimanapun Slytherin itu gengsinya besar dan jangan pernah berharap seorang Slytherin yang sudah terlanjur menjauhimu tiba – tiba muncul lagi dihadapanmu karena hal itu sangatlah tidak penting. Namun, walau kehilangan teman – teman ularnya Severus sekarang berteman dengan cukup baik dengan Marauders. Well, cukup baik… setidaknya ia dan Sirius tak saling melempar mantera lagi walau terkadang mereka akan adu mulut dan… memperebutkan James. Entah kenapa di tahun – tahun terakhir mereka Severus mendadak berubah menjadi selalu ingin bersama James padahal sebelum – sebelumnya Severus tak pernah ingin terlalu dekat dengan James walau hubungan mereka sudah resmi. Entah apa yang ada di pikiran Severus, apakah mungkin ini hanya keparanoidan seorang Severus Snape bahwa mungkin saja ini merupakan saat – saat terakhirnya untuk selalu berada di dekat James? Mengingat bahwa pilihan hidup mereka sangatlah berbeda dan itu mungkin akan sangat menghalangi mereka untuk bertemu. Severus menyakinkan dirinya sendiri bahwa tak akan terjadi apa – apa, well kalaupun mereka jauh di mata mungkin mereka akan tetap terkait dari perasaan terdalam di hati masing – masingkan? Oke, Severus percaya akan hal itu dan ia juga percaya pada James, akhirnya ia segera memantapkan dirinya untuk berjalan menuju ke halaman Hogwarts dimana seluruh siswa kelas tujuh sudah berkumpul. Dan sebelum ia menemukan James dan gerombolannya ternyata justru James dan gerombolannya yang menemukannya.

"So, Sev kau benar – benar akan jadi guru disini?" tanya Lily menatap sahabatnya tersebut.

"Kurasa ya. Dan pilihan pertamaku adalah sebagai guru PTIH. Kau Lils?" tanya Severus.

"Lily dan aku akan menjadi Auror! Kau jaga dirimu baik – baik disini ya Sev! Dan jangan merindukanku." Kata James dengan sebuah cengiran.

"Yang ada kau yang rindu padaku, Potter." Kata Severus sembari mendengus.

"Oh ya lalu apa yang kalian lakukan?" kata James menatap Sirius dan Remus.

"Well, aku tau ini terdengar terlalu cepat. Tapi aku rasa setelah ini aku dan Remus akan segera menikah." Kata Sirius dengan senyum penuh kebanggan.

"WAHHH! SEV KAPAN KITA MENYUSUL MEREKA?" tanya James sembari melirik Severus dengan penuh arti.

Yang hanya direspon oleh dengusan dari Severus dan setelah itu Severus menatap Sirius dan Remus. Well, mereka memang sudah cocok sih dari sananya. Pertanyaannya apakah dia dan James benar – benar pantas bersanding? Apalah dirinya yang hanya sebatas anak hasil dari Amortentia dan hidup tak sejahtera sedangkan James adalah seorang Pureblood kaya raya. Severus kemudian menatap James, dia tahu James mencintainya lebih dari apapun dan akhirnya…

"Secepatnya, Potter. Secepat yang kita bisa."

Suara dari Severus sontak membuat gerombolan itu heboh. Lily hanya dapat melongo mendengar Severus yang berkata seperti itu. Well, kelihatannya memang hubungan Severus dan James berkembang lebih daripada apa yang mereka bayangkan selama dua tahun belakangan ini.

"Jadi… Lils, kau betah sendiri terus?" tanya James menatap satu – satunya wanita yang ada bersama mereka tersebut.

Lily tertegun sebentar karena ia tenggelam dalam pikirannya. Apakah ini memang jalannya? Bahwa jalannya adalah untuk membiarkan orang lain yang cintai bahagia tanpa mengurusi kebahagiaannya sendiri? Lily menepis pikirannya itu, mungkin saja ini belum waktunya. Namun, jika memang ia adalah seorang yang ditakdirkan sendiri itu bukanlah sebuah masalah karena yang terpenting adalah orang – orang di sekitarnya berbahagia.

"Hah! Ini belum waktunya saja, Potter! Lihat saja nantinya aku akan bersama dengan seorang penyihir yang hebat." Kata Lily setengah bercanda.

"Mari buktikan nanti, Lils," sahut Remus tersenyum.

Dan inilah akhir dari tujuh tahun yang rumit nan memusingkan bagi mereka. Dimana akhirnya mereka akan meninggalkan Hogwarts menuju ke tempat yang mereka cita – citakan. Ya, mereka memang akan meninggalkan Hogwarts tapi seluruh kepingan memori nan indah tak akan pernah tertinggal di kastil tua itu.

~END~

~OMAKE~

Summer's Vacation 1994

Pemuda yang mewarasi mata emerald milik neneknya itu menoleh tak percaya pada sang ayah baptis. Jadi itu adalah cerita sebenarnya soal apa yang terjadi pada ayahnya dan guru ramuan yang terlihat amat sangat membencinya itu? Tapi kenapa Snape tak pernah memberitahunya? Pemuda bernama Harry James Potter itu menghela nafas panjang setelah mendengar cerita dari sang ayah baptis.

"Lalu kenapa semua orang mengatakan bahwa Lily Evans adalah ibuku jika faktanya bukan begitu?' Harry akhirnya mencetuskan pertanyaan setelah ia mendengar cerita yang keluar dari Sirius Black berakhir.

"Kau tahu, Harry. Severus memiliki misi penting dalam dunia sihir dan ia ingin melindungi karena jika identitasnya ketahuan sebagai orang tua kandungmu maka misinya akan tamat." Sahur Sirius menghela nafas.

"Kau tak akan pernah mengerti betapa beratnya semua hal yang dilakukan Severus, Harry." Kata Remus ikut menambahkan.

"Apa aku perlu menanyakannya sendiri pada Professor itu?" tanya Harry menatap ayah baptisnya dan suami dari ayah baptisnya tersebut.

"Severus akan mengungkapkan sendiri semuanya, Harry. Jika waktunya telah tiba." Kata Remus mengangguk yakin.

"Jadi kesimpulan yang bisa kuambil dari cerita soal kedua orang tuaku yang sebenarnya adalah jika seorang mengaku membencimu tetapi ia terus berusaha mendekatimu… dia menyukaimu?" tanya Harry entah kenapa pemuda berkacamata itu memilih menanyakan pertanyaan seperti itu.

"Well, bisa jadi. Apakah peristiwa James dan Snape terulang padamu, Harry?" tanya Sirius sembari memandang sang anak baptis ragu – ragu.

"Malfoy… aku rasa dia bertindak seperti Dad. Dan sekarang aku merasa posisiku seperti Father hanya saja asramanya dibalik." Kata Harry dengan ragu – ragu.

Remus dan Sirius tersenyum mengingat semua kepingan memori dari masa lalu mereka. Akankah hal itu akan benar – benar terulang pada anak dari James dan Severus tersebut? Jika iya makan mungkinkah ini kutukan keluarga Potter? Well, siapapun tak akan tahu itu karena mereka tak bisa membaca masa depan. Tapi Sirius berpikir jika memang anak baptisnya bersanding dengan Malfoy apakah yang akan terjadi? Pasti akan lebih heboh daripada waktu Severus dan James di masa lampau.

"Kau akan tahu pada waktunya, Harry. Tapi kurasa Malfoy akan mirip Severus juga mengingat gengsinya tinggi dan kau akan keras kepala seperti James." Kata Remus sembari tertawa ringan.

"Well, Aku benar – benar tak mau berspekulasi kalau Malfoy naksir denganku. Dan lagipula aku tak berniat menerimanya kalaupun dia naksir denganku." Kata Harry.

"Kau tak akan tahu Harry bahwa semua hal bisa berubah dengan perjuangan." Kata Sirius tersenyum.

Dan disitulah akhirnya mereka ditenggelamkan dalam kepingan memori memori yang indah yang membuat mereka menemukan hal – hal menarik dalam kehidupan. Termasuk soal Harry yang mulai mengobservasi soal kelakuan Malfoy. Mungkin hal itu akan menjadi kepingan memori indah yang selanjutnya karena tak ada satupun orang yang tahu apa yang akan menimpamu kedepannya.

~TRUE END~

A/N : Oke twist ini malah sepertinya bakal membuat kalian menuntut sequel xD Well, kalau kalian menuntut sequel saya akan berikan tapi mungkin dalam jangan waktu yang lama mengingat saya senior years tapi disinilah ending dari Arc Sweetest Memories akhirnya setelah bertahun – tahun bergumul dengan fic ini saya menyelesaikannya /nangis bahagia/ oh ya bagaimana pendapat kalian soal ending ini? Seperti biasa saya mengharapkan review dari kalian semua wahai reader tercinta xD

Oke untuk balesan review

Mami Fate Kamikaze : mereka sudah bersatu disini kok dan mereka sudah dapet Harry sebagai anak mereka xD

Arin : no problemo! Tenang aja penting dapet review saya sudah girang xD. Makasih semangatnya

Friendshit : sudah dilanjut ya. Eh komik apaan saya tak tau lho author masih polos /ini bohong