.

.

Chapter Four : Bantal, Telat, dan Novel

.

.

"..."

"..."

"... Gue harap lo punya alasan penting buat ngeganggu bokep gue."

Tenten melongo. Gue cepat-cepat meralat. "Bokep itu bobo cakep, heh! Cuci otak, sono!"

"Oh, oke, oke." Tenten meringis. "... Jadi ternyata novel gue ketuker sama cogan pas kita lari dari bances."

Gue cengo. Tenten kumat fangirling sambil gigitin bantal. Dia bilang cowoknya ganteng beudh, lah. Apa, lah. Ini, lah-itu, lah. Lah, lah, pusing gue.

Yang jelas, sekarang gue merasa kasihan sama itu bantal. Ditambah lagi gue bisa melihat si bantal nangis imajiner. Liat, itu ujungnya udah kecetak jejak gigi Panda-Setan, ada iler Tenten pula. Iewh, gue bersumpah gue nggak akan pernah pake itu bantal lagi.

"Ten, plis jangan fangirling disini. Kasian bantal gue, ntar lo gigitin mulu."

Tenten sabodo, gue muntab.

"TEN!"

Gue menggeplak muka Tenten pake sendal entah darimana, biarkan itu menjadi rahasia Tuhan.

"LO PUNYA KUPING, GAK, SEH?! GUE NGOMONG AMA ELO!"

"... Sak, plis, kalo ngomong nggak usah pake otot sama kuah."

... Ehm, pemirsah(?) yang terhormat, adegan ini di-skip dulu, ya. Nggak baik ada adegan gore disini, oke?

.

.

Setelah pembantaian Tenten dan makan malam yang tenang (harap perhatikan, tenang disini maksudnya adalah : penuh tereak "WOI ITU KAARAGE GUE!" atau "BALIKIN ITU MANGKOK GUE, KAMVRET!"), gue banting diri di kasur. Tenten udah baik-baik aja, nggak ada luka gores seinci-pun di mukanya, entah gimana caranya dia bisa seterong(?) kek gitu, gue nggak tau.

Mendadak, gue melihat sebuah novel teronggok begitu saja di nakas. Gue melirik judul itu novel. Oh, 'The Girl on the Train'. Lah, ini, kan, novel horor. Bukannya si panda penakut, ya?

Sabodo, ah. Biarlah ntar dia jejeritan sendiri bacanya. Mending gue tidur.

.

.

"GUE TELAAAAAAAAAAT!"

Pagi-pagi, rumah Haruno udah ada tereakan berkoar-koar dari gue. Sebabnya pasti tau, duns. Liat aja tereak gue tadi.

Gue membanting pintu rumah kasar, untung udah sempat mandi dan seragamnya rapi. Untung juga buku-buku gue udah dirapiin tadi malam. Jadilah sekarang gue lari-lari macam dikejar singa ke halte dengan mulut gigitin roti.

'Sabodo, ah, diliatin. Yang penting gue harus sampe sekolah, SECEPETNYA.'

Delapan detik kemudian, gue sampai di halte. Yang berjarak duaratus meter dari rumah Haruno. Kasihin standing applause buat kecepatan lari gue sekarang.

Gue duduk di halte dengan nafas berantakan. Bulir-bulir jeru-maaf, maksud gue bulir-bulir keringat membanjiri muka unyu gue. Untung ini muka nggak kelelep keringat(?).

Sang bus tercintah(?) datang sepuluh detik kemudian. Gue nangis haru (dalem ati), seketika merasa berhutang budi pada sang supir bus yang bagai malaikat. Dah, itu supir tau aja gue telat. Makasih, Pak Sup!(?) Gue nggak harus nunggu lama-lama sampe ini pinggang encok macam manula sakaratul maut.

Pas naek, gue sempat ngerasa ada hawa-hawa setan di ini bus. Firasat gue nggak enak, jangan-jangan ini bus bakal mogok, lagi. Err, tapi sabodo, lah. Gue nggak mau nama gue tercoreng (gak) indah di buku pelanggaran siswa.

Tapi, beneran kejadian.

Baru sekitar seratus meter berjalan, tiba-tiba bus mogok. Untung di pinggir jalan. Tapi, DAHELL, BAHKAN ITU CUMA SETENGAH JARAK DARI RUMAH KELUARGA HARUNO KE HALTE! MANA SEKOLAH MASIH EMPAT RATUS METER LAGI, DUH.

"Pak? Busnya mogok?" Tanya gue, merasa nggak danta, ngapa bus yang gue naiki selalu mogok. Supir bus mengangguk.

"Duh, maaf, ya, dek. Cari bus lain yang searah aja kalo udah buru-buru."

Sumpah, ya. Gue pengen banget nonjok muka supir bus kamvret itu.

Akhirnya, tanpa pikir panjang, gue lari keluar. Nge-sprint dengan kecepatan diatas rata-rata menuju sekolah. Sabodo dengan apapun. Pokoknya sekarang KESEKOLAH DULU.

Sambil lari, gue mantengin jam. Kalo tadi halte duaratus meter delapan detik, berarti sekolah empat ratus meter enambelas detik, dong? Yekan?

Tepat di detik kelimabelas, gue sampai didepan gerbang. Gerbang nyaris tertutup, membuat gue harus OOC dikit dengan ngeloncat indah dilatari bekgron(?) gunung Merapi dan backsound Hero's Come Back(?).

Tep.

AKHIRNYA GUE SAMPE, YALORD. GUE BOLEH SUJUD SYUKUR GAK SIH? HUHUHU, AKHIRNYEEE!

Tapi, bentar dulu.

Ada yang aneh dengan sekolah sekarang. Suasananya hening, sumpah. Tadi pagi juga orang rumah nggak ada yang buru-buru kayak gue. Terus, kok, satpam sekolah nggak standby, ya?

Ngerasa nggak danta, gue merogoh kantong tas, meraih hape, mengecek hari...

'Monday, 1 May 20xx'

"... BANGKE! MAYDAY!" Gue segera menendang sebiji dahan pohon yang teronggok disitu. Tadinya mau banting hape, tapi ia inget, ini, kan, bukan kamar, nggak ada kasur. Sayang, ah. AyPon gitu. Mana baru, pula.

Akhirnya, gue melangkah dengan aura madesu ke rumah Haruno. Sampe rumah, bukan ditanyain kenapa tadi pagi ngibrit kesekolah, eh, malah yang ada tawa jahanam menggelegar dari si Panda-Setan, dan muka-muka nahan ketawa dari bonyok. Kan tai.

Gue, yang udah badmood, sesegera mungkin melangkah keatas, tak lupa menggampar muka Panda jahanam itu pake tas yang beratnya naujubileh. Sabodo dengan omelan bulsyid(?) si Panda, yang penting emosi gue ter'salurkan' dikit.

.

"... Tau gini, ngapain gue ngerjain matik kemaren." Gue ngomel sendiri di kasur sambil nonjok-nonjok guling. Untung guling beneran, bukan si lontong bungkus(?). Kalo iya, mungkin si lontong bungkus a.k.a. pocong udah nangesh-nangesh minta dikembalikan ke alamnya.

-oke, OOT.

Tapi, entah kenapa, gue segera teringat dengan buruh-buruh yang pada demo hari ini. Wadoo, jalanan bakal macet, tuh. Gue nggak bisa kemana-mana, dah.

Mendadak gue nyadar, ada yang aneh dengan ini kasur. Ngapa kasurnya jadi keras, yak? Gue buru-buru bangkit, lalu-

-nampaklah novel Inggris si Panda disitu, dengan keadaan lecek macem bungkusan pecel.

Mampus gue.

.

.

A/N

Yap! Chap empat, weh!

Err... Maaf ngapdetnya lama, yak -_- lagi sibuk ini. ^^V

Oh, ya, yang ngapalin KonoHana cek profil! Ada project FF saya dengan pair KonoHana #promosi #ditabokmassa

.

Mind to review?

p.s. : Plis, review. Saya butuh KriSar dari klean semua T.T