A CHANBAEK STORY (GS)
.
.
.
.
ENJOY READING
.
.
.
CHAPTER 1
.
.
.
Aku Kembali
.
.
Aku benci bau hujan bercampur lumut yang lembab, membuat dingin semakin terasa menusuk. Aku mendecakkan lidah ketika kurasakan kehadiran seseorang di kamarku. Aku mengerang kesal ketika terpaksa harus duduk karena kemunculan kakakku itu.
"Ini masih terlalu pagi, Myeon, dan ini hujan! Aku sedang tidak ingin diganggu!" Kesalku kepada kakakku yang usil itu.
Suho memamerkan seringaian seraya melenyapkan selimutku, membuat semakin kesal.
"Maaf, Baek, tapi ini perintah ibu," katanya seraya mengangkat tangan pasrah.
"Ada yang perlu dibicarakan sebelum yang lain pergi."
"Baiklah. Aku akan segera turun." Akhirnya, aku yang mengalah.
Kali ini, Suho tersenyum lembut. "Sampai ketemu dibawah," katanya lagi sebelum lenyap dari kamarku, setiba-tiba saat dia muncul tadi.
Aku mendesah berat. Dengan muram, aku menatap keluar jendela kamar yang penuh cipratan air hujan. Di luar sana, aku bisa melihat hujan juga mengguyur pusat kota yang berjarak satu jam perjalanan dari kastil ini. Rumput dan pohon-pohon di sepanjang bukit yang memisahkan tempat tinggalku dari kota tampak segar sekaligus tampak suram. Ah tidak, bukan mereka yang tampak suram, tapi hatiku. Ya, memang hatiku.
.
.
.
Baekhyun Alexander adalah namaku. Aku adalah putri bungsu Keluarga Alexander. Ayahku, Siwon Alexander, adalah pemimpin klan penyihir di kota ini. Dia adalah pria yang tangguh dan luar biasa cerdas, tak heran jika banyak yang memuja kepemimpinannya. Dengan mata biru tajamnya, kurasa Ayah sanggup menaklukkan siapa pun hanya dengan tatapannya. Ibuku, Kibum Alexander, adalah wanita yang lembut dan selalu setia di samping ayahku. Ibu adalah wanita paling kuat yang pernah kutemui. Maksudku, dengan adanya Kris, kakak lelaki pertamaku yang dingin, Minseok, kakak perempuan pertamaku yang sinis, Suho, kakak lelakiku yang terakhir, yang amat sangat menyebalkan, dan aku, yang bisa sangat keras kepala dan suka semauku sendiri-mereka biasa menyebutku pemberontak kecil-ibuku benar-benar tangguh.
Sejauh ini, yang kutahu, Ayah sibuk di perusahaannya dengan Kris. Minseok sibuk dengan karier gemilangnya sebagai editor utama sebuah perusahaan penerbitan-membuatku merasa kasihan kepada para penulis yang menjadi korbannya. Sementara, Suho sibuk dengan pekerjaannya sebagai pengacara. Ibuku sendiri sibuk dirumah, mengurus perkebunan dan selalu mendukung ayahku dari belakang. Dan aku?
Aku awalnya tidak berada di sini. Awalnya, aku berada di suatu tempat yang nyaman di London, dan aku suka tinggal di sana. Aku bisa menjadi manusia normal disana. Manusia normal yang tidak tiba-tiba hilang dan muncul di mana-mana. Manusia normal yang tidak perlu menjadi pusat perhatian karena siapa keluarganya. Manusia normal yang bisa pergi kemana saja tanpa ditakuti. Manusia normal yang..., bukan penyihir.
.
.
.
Aku kembali mendesah. Sudah seminggu aku berada di sini. Tempat ini sama sekali tak bisa disebut tempat tinggal yang nyaman. Tempat ini bukanlah suatu negara bagian, melainkan sebuah pulau. Pulau yang cukup luas, tapi hanya memiliki satu kota yang sangat besar, yang dihuni para penyihir dari berbagai negara dan manusia yang sama sekali tak menyadarinya.
Penduduk asli pulau ini adalah manusia. Dulu, Alexander pertama yang menemukan pulau ini memutuskan bahwa ini adalah pulau yang tepat untuk membangun komunitas. Tapi karena tidak ingin mengganggu para manusia, Alexander pertama itu menyembunyikan identitasnya sebagi penyihir. Ketika akhirnya jatuh cinta kepada manusia, dia menikah dengan gadis yang dicintainya itu. Lalu, lahirlah Alexander-Alexander lain yang mewarisi bakat sihirnya. Dan meski pada awalnya wanita itu terkejut dengan kenyataan bahwa pria yang dinikahinya adalah penyihir, dia tidak bisa meninggalkannya. Cinta. Begitulah logikanya bekerja.
Dan, wanita itu mengajarkan cinta kepada Alexander-Alexander kecilnya. Mereka hidup bahagia. Tapi kemudian, kebahagiaan pasangan tersebut terenggut ketika putra-putra mereka merasa tak cukup puas berada di pulau ini. Hanya ada satu Alexander yang tinggal, sementara yang lain meninggalkan pulau ini. Alexander-Alexander yang meninggalkan rumah itu akhirnya tewas di tangan pemburu penyihir.
Karena khawatir terhadap keselamatan istri dan satu-satunya putra yang tersisa, Alexander memutuskan untuk bekerja sama dengan Raja Iblis. Kekuatannya saja tidak akan cukup menghalau pasukan besar pemburu, apalagi dia sama sekali tidak memiliki kelompok. Alexander pertama melakukan perjanjian dengan iblis. Raja Iblis saat itu meminta seorang putri keturunan Alexander untuk disandingkan dengan Pangeran Iblis. Dalam sejarah bangsa iblis, jika seorang iblis bisa bersatu dengan keturunan penyihir yang kuat, maka akan bertambah pula kekuatan iblis itu.
Tapi karena saat itu Alexander belum memiliki putri, dia membuat kesepakatan, setiap keturunan putri keseratus akan diserahkan kepada Raja Iblis. Sebagai gantinya, Alexander dan keturunannya akan mendapat kekuatan dan bantuan penuh dari para iblis. Sejak kesepakatan itulah, kekuatan Alexander meningkat. Awalnya hanya beberapa penyihir yang tersesat di pulau itu dan bergabung dalam perlindungannya, tapi semakin lama semakin banyak penyihir yang datang meminta perlindungan Alexander. Hanya dalam waktu puluhan tahun, pulau ini sudah meniliki banyak penyihir di tengah para manusia.
Karena saat itu Alexander menikah dengan manusia, jadi ketika istrinya meninggal, Alexander memutuskan untuk menyerahkan tampuk kekuasaan kepada satu-satunya putra yang tersisa. Dan Alexander kedua itu, karena begitu mencintai ibunya, dia pun memutuskan untuk menikah dengan manusia. Tapi setelah melahirkan Alexander-Alexander berikutnya dan mengetahui bahwa suami dan anak-anaknya adalah penyihir, wanita itu meninggalkan mereka. Karena tidak ingin identitasnya diketahui para manusia, Alexander kedua terpaksa membunuh istrinya sendiri.
Sejak saat itu, mereka memutuskan untuk tidak berhubungan dekat dengan manusia. Lagi pula, saat itu sudah banyak penyihir yang datang ke pulau ini. Maka, dimulailah pembangunan peradaban penyihir di pulau ini. Tapi, kebanyakan perempuan keturunan penyihir Alexander memutuskan untuk meninggalkan pulau bersama pasangannya. Dan ratusan tahun kemudian, seorang penyihir perempuan diserahkan kepada Raja Iblis.
Hingga suatu waktu, keturunan Alexander hanya tinggal seorang. Dan ketika menikah, dia pun hanya memiliki seorang putra, yaitu kakekku. Tapi ternyata, kakekku pun hanya memiliki seorang putra, yaitu ayahku. Dan satu-satunya Alexander keturunan ayahku yang meninggalkan rumah adalah aku, yang sialnya adalah putri keseratus yang akan dikorbankan kepada para iblis.
.
.
.
Ketika cukup dewasa, aku menyadari jika aku hanya hidup dalam bayang-bayang keluargaku di tempat ini. Meskipun kotanya berkembang pesat, tapi tetap saja aku tak bisa hidup tenang di pulau ini. Sejak awal, aku membenci darah penyihir yang mengalir dalam nadiku. Aku selalu membencinya, hingga saat ini.
Aku masih kecil ketika teman-teman ku yang hanya manusia biasa menjauhiku karena aku tak sengaja melakukan sihir. Mereka menjauhiku begitu saja. Sejak saat itu, ayahku melarangku berteman dengan manusia biasa. Karena, tak seperti penyihir lain yang sangat menghormati keluarga Alexander, para manusia bisa sangat bodoh dan menyebalkan. Dan aku menyadari, akulah yang paling bodoh diantara mereka. Karena, sejak saat itu aku begitu ingin menjadi manusia biasa.
Aku tidak membenci keluargaku, aku hanya membenci keadaan keluargaku. Aku benci menjadi bayangan, pusat perhatian, atau apa pun itu namanya. Aku benci menjadi berbeda. Tidak hanya di kalangan manusia biasa, di kalangan penyihir pun, keluarga Alexander dipandang berbeda. Aku tidak pernah menginginkan pemujaan seperti yang dilakukan para penyihir itu. Aku hanya ingin teman dan kehidupan yang normal. Tapi, aku sadar, selama berada di pulau ini, aku tak akan pernah bisa
mendapatkannya.
Karena itulah, suatu malam, aku memutuskan untuk meninggalkan rumah. Aku hanya meninggalkan pesan agar mereka tidak menghubungi atau mencariku karena aku hanya ingin bebas mencari tahu tentang dunia luar.
Di London, aku mempunyai kehidupan yang sempurna. Pekerjaan, sahabat, dan apartemen. Aku hidup layaknya manusia biasa, dan aku bahagia. Aku bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan fashion terkenal di London. Aku memliki seorang sahabat bernama Megan dan juga banyak teman. Aku bahkan bisa memiliki mobil dan apartemen sendiri dari hasil kerjaku. Tapi setelah dua puluh tahun menikmati kehidupan tenang, Kris dan Suho datang menjemput karena ada keadaan darurat. Aku sudah berkata kepada mereka bahwa setelah keadaan membaik, aku akan kembali ke London. Aku tidak bisa, tidak mau, meninggalkan kehidupan sempurnaku disana.
Dan ternyata, yang membawaku kembali ke tempat ini adalah darah penyihirku. Sungguh, aku tidak menyesal hadir di keluarga ini. Aku berharap seandainya saja aku, dan mereka, bukan penyihir. Karena, kali ini aku datang kembali ke tempat ini untuk menjemput takdir bahwa akulah yang mendapat kutukan itu. Kutukan sebagai keturunan putri keseratus yang akan diserahkan kepada iblis.
Aku tak heran ketika mendapati keluargaku tida terlalu berbeda dengan saat aku meninggalkan mereka dulu ketika aku kembali. Bahkan meskipun dua puluh tahun sudah berlalu, tak banyak perubahan dari fisik mereka. Ayah dan Ibu masih sebugar dua puluh tahun lalu. Kris dengan rambut cokelatnya yang lurus itu tampak semakin memukau, dan semakin dingin. Dia mewarisi mata biru Ayah yang tajam dan mampu menaklukkan dengan baik itu. Entah sudah berapa banyak hati yang dipatahkannya. Sementara, Minseok tampak semakin cantik. Rambut cokelat gelapnya sudah semakin panjang, jatuh dengan indah di punggungnya. Seolah merasakan pengamatanku, mendadak dia menggelung rambutnya menjadi gelungan anggun di belakang kepalanya dengan sihir. Sesaat, kulihat mata birunya melirikku sinis.
Aku berganti menatap Suho dengan rambut cepak hitamnya. Kakakku yang sangat suka usil itu juga semakin tampan. Apalagi, dengan mata biru yang kami warisi dari Ayah. Aku tidak akan heran jika banyak wanita yang jatuh hati kepadanya. Aku sendiri mewarisi rambut cokelat dari ibuku, seperti Kris dan Minseok. Sementara, rambut Suho sehitam rambut Ayah. Dan, kami semua memiliki warna mata sama, yaitu biru. Kecuali Ibu, tentu saja. Mata cokelat Ibuku selalu menyorotkan kelembutan ketika menatapku. Dan, aku merasa senang karenanya.
Sebagai keturunan Alexander, kami bisa hidup cukup lama. Sangat lama, sebenarya. Mungkin, hingga ratusan tahun. Tapi, tentu saja bukan itu yang kuinginkan. Meskipun di London, aku sama sekali tidak tertarik untuk memulai hubungan dengan pria manapun. Aku lebih mencintai pekerjaanku dariapada para pria. Jadi, kurasa hubungan dengan para pria paling jauh hanya sampai makan malam.
Tapi jika harus memilih antara si Pangeran Iblis itu atau manusia biasa, tentu saja aku akan memilih manusia biasa. Aku tidak ingin hidup di neraka bersama para iblis. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak bisa menolaknya. Karena jika menolak, keluargaku dan klan penyihir yang ada dalam lindungan ayahku akan diserang oleh para iblis. Jadi, kuanggap ini sebagai pengorbanan untuk keluargaku dan klanku. Toh, aku sudah cukup merasakan kehidupan luar. Mungkin, memang sudah saatnya aku kembali dan menyambut takdirku.
Aku penyihir.
TBC
hai guys... soo ini dia chap 1 nyaa. dan ini isinya tuh masih perkenalan gitu. betewe salken ya :v aku newbie nih.. baru berani sekarang..
