A CHANBAEK STORY (GS)
.
.
.
.
ENJOY READING
.
.
.
.
.
CHAPTER 1
.
.
.
.
.
Aku Kembali
.
.
.
.
"Kenapa lama sekali?" Suara sinis Minseok menyambut ketika aku tiba di sampingnya.
Aku tak menjawab dan hanya memasang senyum tipis sambil mengangguk kepada kedua orang tuaku sebelum duduk di kursi. Aku menatap Ayah yang ternyata masih menatapku. Aku melihat sorot bersalah di sana dan itu membuatku merasa tak nyaman. Aku menatap arah lain untuk menatap ibuku yang sibuk menyiapkan roti cokelat untukku. Ibu tampak sangat gelisah ketika mengolesi selai cokelat di rotiku. Berkali-kali, dia mendesah berat.
"Ibu?" Aku menatap ibu dengan tatapan cemas.
"Ibu baik-baik saja?"
"Tentu saja tidak." Suara ketus Minseok yang menjawab.
"Ibu sangat mengkhawatirkanmu," lanjutnya.
"Lebih baik kita segera memulai percakapan ini daripada membuang-buang waktu," kata Kris dengan nada datar, tapi tegas.
"Kita tidak harus membicarakannya sekarang," Ibu kembali berkata.
"Lalu kapan,Bu? Iblis itu sudah datang kemari dan memintanya. Mau menunggu apa lagi? Menunggu dia menyerang?" Kris tampak kesal, tapi kemudian menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri.
"Maaf, Bu, aku tidak bermaksud untuk membentak Ibu. Aku hanya..., aku juga tidak suka dengan semua ini, Bu. Tapi, ini bukan hanya demi kita. Ini demi tanggung jawab," kata Kris.
Ibu kembali menunduk, sementara Ayah sama sekali tak berkomentar. Sekarang aku tahu, baik Ayah maupun Ibu tampaknya sama sekali tak rela jika aku pergi ke neraka bersama iblis itu. Tapi, Kris sudah dewasa dan dia bisa bertindak lebih bijaksana.
"Kapan aku akan dijemput?" Tanyaku. Selama seminggu ini, kami sama sekali tak membicarakan tentang penyerahanku kepada para iblis. Kurasa kami telah membuang cukup banyak waktu.
"Malam ini, Pangeran Iblis akan datang untuk menemuimu. Tapi, dia tidak akan membawamu kemana-mana," kata Kris tanpa menatapku.
"Baiklah. Aku akan pulang sebelum makan malam," kataku kemudian.
Biasanya, aku menghabiskan waktu di bukit hingga waktu makan malam. Tapi karena malam ini iblis yang akan menjadi pendampingku akan datang, aku tidak akan pulang seterlambat itu lagi. Lagipula, aku sudah lelah mendengar kalimat sinis Minseok. Apa dia benar-benar membenciku? Ah, entahlah. Sejak dulu, dia memang orang yang sinis. Tapi, dulu dia cukup perhatian kepadaku. Dibalik sikap sinisnya, dulu dia memperhatikanku. Tapi, saat ini ada kemarahan dalam sikap sinisnya.
Ketika acara sarapan usai dan mereka bersiap untuk berangkat, Kris berjalan menghampiriku yang masih duduk di meja makan.
"Terima kasih, Baek," katanya seraya mendaratkan tepukan pelan di kepalaku sebelum pergi.
"Kau akan ke mana pagi ini?" Tanya Ayah.
"Entahlah. Aku malas keluar jika hujan begini," jawabku lesu.
Ayahku tersenyum. "Jika hingga nanti sore masih hujan, aku akan mengurusnya untukmu, jadi kau bisa menyempatkan diri berjalan-jalan sore nanti. Sekarang, sebaiknya kau temani ibumu," katanya seraya mengecup puncak kepalaku, lalu mencium kening ibuku dan menyusul Kris yang sudah keluar lebih dulu.
Minseok mengecup pipi Ibu ketika hendak berangkat dan dia menyempatkan berkata sambil lalu kepadaku sebelum pergi, "Berhati-hatilah jika keluar sendirian."
Aku tak dapat menahan senyumku. Minseok mungkin tidak membenciku. Tapi, senyumku berganti gerutuan kesal ketika Suho melewatiku dan menjitak kepalaku. Setelah memberikan kecupan singkat di pipi Ibu, dia pun melesat meninggalkan rumah.
Aku mendesah. Mungkin memang sudah waktunya kami saling bicara. Mereka sudah membiarkanku berdiam dan menghindari mereka selama seminggu ini. Ya, selama seminggu ini kegiatanku hanya bermain dan bermain. Sepanjang hari hingga malam, aku bermain di bukit. Setelah itu, aku mengurung diri di perpustakaan atau kamar. Seakan, aku berusaha menghindari keluargaku. Aku hanya tidak benar-benar merasa nyaman tinggal di kastil ini. Karena, ini bukan rumahku lagi. Toh, sebentar lagi aku juga akan pergi. Untuk apa membiasakan diri?
"Ibu." Aku memanggil wanita yang sedang membereskan meja makan dengan sihirnya itu.
"Ya, Baekhyun?" Ibu menatapku dengan senyum lembut.
"Maafkan aku karena telah pergi terlalu lama," kataku sedih.
"Oh." Ibuku tercekat, tapi kemudian dia menghambur memelukku.
"Baek, kau tak tahu betapa kami sangat merindukanmu, mengkhawatirkanmu..."
Aku menelan ludah beberapa kali sebelum akhirnya bisa berkata, "Maafkan aku..."
Aku bahkan tak bisa mengakui bahwa aku juga merindukan mereka. Ah, sungguh. Seandainya saja kami bukan keluarga penyihir, kami pasti akan sangat bahagia. Dan, aku akan sangat, sangat, sangat bahagia.
Hari ini, aku banyak mengobrol dengan Ibu. Ketika di London, aku selalu meredam keinginan untuk melihat keluargaku dengan terus bekerja. Aku ingat, Megan bahkan pernah menyebutku gila kerja. Dan aku tak heran kenapa dia berkata begitu. Karena, satu-satunya yang bisa membuatku melupakan semuanya dan menikmati hidup di sana adalah kesibukanku.
Seperti janji Ayah, sore ini hujan mendadak berhenti. Kurasa itu memang bukan hal yang sulit untuk Ayah. Setelah berpamitan kepada Ibu, aku berlari keluar rumah. Tapi hingga tiba di bukit terakhir di perbatasan kota, aku masih belum ingin pulang. Kembali teringat kata-kata Minseok pagi tadi, tapi aku berusaha menepisnya. Aku bisa melakukan apa pun dengan sihir, kenapa aku mesti takut? Tapi, bicara tentang kemampuan sihir, sudah sangat lama sekali aku tidak menggunakannya.
Ketika berjalan di tengah hutan menuju kota, aku tak dapat menahan kekaguman. Kali ini, aku mencium bau segar pepohonan basah. Aku menoleh jalan di belakang, lalu mengintip jalan di depanku. Tampaknya, aku sendirian. Aku tersenyum ketika mendadak keinginan untuk berteriak sekeras mungkin muncul. Aku mengambil napas dalam-dalam, mengisi paru-paruku dengan oksigen, lalu mengeluarkannya dalam bentuk teriakan.
Aku tertawa lepas setelahnya. Ah, setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menumpahkan sedikit frustasi terhadap hidup. Aku masih tersenyum sendiri ketika kembali melangkah. Kali ini, aku bersenandung kecil. Baiklah. Aku sudah memutuskan, tak ada salahnya menikmati hari-hari terakhir di sini. Dan, aku tidak ingin pergi tanpa memberikan apa yang selama ini belum kuberikan kepada keluargaku. Lagi pula, aku tidak mungkin menghindari iblis itu. Aku tidak akan melawan. Sebaliknya, aku akan membuat hari-hari terakhirku di sini menjadi kenangan indah untuk kehidupanku selanjutnya, yang tak mungkin seindah ini.
Suara gemeresak dari arah hutan membuat langkahku terhenti. Aku menoleh ke samping kiri, mencoba mencari sumber suara. Tapi, kemudian suara itu terdengar dari sisi kanan. Ketika aku menoleh cepat ke arah kanan, seorang pria bertopeng sudah berdiri di sebelahku. Aku bergerak mundur, tapi kemudian pandanganku terhalang kibasan jubah hitam. Kemudian, aku merasakan pandanganku terblokir dan mulutku terbungkam paksa.
Di tengah kepanikan, aku berusaha untuk tenang dan berkonsentrasi. Tapi, aku bahkan belum sempat melakukan sihir ketika kudengar suara teriakan. Lalu, aku merasakan mata dan mulutku kembali bebas. Aku hanya bisa berdiri terpaku di tempat melihat pertempuran di depan mataku itu. Seorang pria yang mengenakan pakaian manusia biasa bertarung melawan lima orang berjubah hitam dan bertopeng. Dugaanku, kelima orang itu adalah penyihir. Tapi, kenapa mereka belum bisa menjatuhkan pria yang tampaknya hanya manusia biasa itu?
Saking terpananya melihat pertempuran yang akhirnya dimenangkan manusia biasa itu, aku sampai tidak membantunya. Aih, penyihir macam apa aku ini? Dia manusia biasa dan berusaha menolongku, tapi yang kulakukan hanya berdiri disini seperti orang bodoh.
Apa kau baik-baik saja? Aku mendengar sebuah suara teredam dalam kepalaku.
Aku mengerjapkan mata dua kali, berusaha mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku memekik kecil ketika mendadak kelima pria berjubah dan bertopeng tadi lenyap menjadi abu. Aku menatap pria penolong yang berdiri membelakangiku itu.
Apa kau baik-baik saja?! kudengar pertanyaan yang sama, lebih mendesak kali ini.
"Oh." Aku tercekat.
"Aku..., ya, aku baik-baik saja." kataku.
Lalu, pada kedipan mata berikutnya, pria penolongku itu lenyap. Aku masih terpaku di tempat. Pria tadi..., dia bukan manusia biasa. Dia juga penyihir. Karena itulah tidak ada serangan sihir dari kelima pria berjubah tadi. Itu berarti, pria penolongku itu memiliki kemampuan sihir yang tinggi hingga mampu membekukan sihir lima orang sekaligus. Dan, dia juga mampu melenyapkan kelima orang itu menjadi abu hanya dalam sekejap mata. Aku bahkan tak melihat api. Dia juga..., berbicara dalam kepalaku? Apa-apaan ini? Ah, mungkin ini hanya efek karena aku masih terpukul atas serangan tadi.
Aku berusaha memutar ulang rekaman ingatan tentang penolongku itu. Aku sama sekali tak bisa melihat wajahnya. Dia bergerak sangat cepat. Terakhir, aku hanya bisa melihat bagian belakangnya dengan jelas. Rambutnya, dia memiliki potongan rambut seperti Kris. Tapi, dia bukan Kris. Kris tidak akan meninggalkanku sendirian setelah kejadian tadi. Lagi pula, rambut Kris berwarna cokelat sepertiku, dan bukannya hitam.
Aku bahkan belum bisa bergerak ketika sebuah mobil merah melaju ke arahku. Barulah aku bergerak ketika suara marah Minseok menyentakku.
"Astaga, Baekhyun! Apa yang kau lakukan di sini sendirian?!" Dia tampak marah.
Aku menggeleng. Aku hanya bisa menggeleng ketika menatap kakakku itu. Aku tidak pernah pulang sejak dua puluh tahun lalu, aku tidak pernah mendengar kabar apa pun tentang tempat ini, dan aku sama sekali tak tahu apa yang terjadi di sini. Tapi, tadi itu apa? Kenapa aku diserang? Di tempat yang hanya dijamah oleh keluarga Alexander, oleh sesama penyihir pula?
Kulihat Minseok melompat turun dari M3 merahnya dan menghampiriku dengan mata menyipit curiga.
"Apa yang terjadi, Baekhyun? Kenapa kau tampak begitu ketakutan?"
"Aku..." Aku bahkan tak sanggup mengatakannya kepada kakakku sendiri.
Lalu, kulihat Minseok menatap ke dalam mataku. Sesaat, mata birunya berubah merah dan aku tersentak ketika kejadian tadi kembali berkelebatan. Terakhir, sosok penolongku itu berdiri di hadapanku. Aku hanya mampu menatap punggungnya. Aku bahkan masih bisa merasakan kehadiran sosok penolongku itu dalam mataku ketika Minseok mulai menginterogasi.
"Apa itu tadi? Kau diserang?" tanyanya, terdengar panik sekaligus marah.
"Kau ini! bukankah sudah kubilang, jangan keluar sendirian?!" kurasakan tangannya menarik lenganku dan dengan cukup kasar mendorongku naik ke mobilnya.
" Siapa pria yang menolongmu tadi, Baekhyun?" Minseok kembali bertanya.
"Sial, Baek! Apa yang sebenarynya terjadi? Kenapa mendadak kau jadi seperti idiot begini?"
Aku bahkan tak bisa marah mendengar kalimat kakakku itu.
Aku dan Minseok baru tiba di pintu rumah dan seluruh keluargaku sudah menyambut kami. Ibu langsung menghambur memelukku. Ketika akhirnya dia melepaskanku, mereka semua menanyakan begitu banyak pertanyaan. Aku masih belum bisa fokus. Pikiranku masih tertuju kepada penolongku tadi. Bayangannya seakan masih melekat di mataku, di pikiranku.
"Baek, apa yang terjadi?"
"Apa kau baik-baik saja?"
"Baekhyun, katakan sesuatu..."
"Baek, bagaimana kau bisa bertemu mereka?"
"Baekhyun!" Kali ini, suara keras Kris mengalahkan yang lainnya. Aku mendongak, menatap kakakku itu.
"Katakan kepadaku, apa yang terjadi?" katanya lagi, lebih lembut kali ini.
Aku menatap mata birunya yang kemudian berubah merah. Dan, lagi, aku seakan bisa melihat kejadian tadi terulang kembali di depan mata ketika kakak sulungku itu 'melihat' dari mataku. Siapa mereka? Dan, siapa penolongku itu?
Aku bahkan tak sadar ketika bibirku terbuka. Seakan berada di luar kendali otakku, bibirku berucap,
"Aku diserang"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
tanganku gatel banget sumpah pengen update chap ini...
chap depan papi chan udah muncul loh...
so stay tune yaa...
jangan lupa fav, follows and reviewnya. jejak kalian berharga :v
dan terima kasih buat yang udah reviews...
