A CHANBAEK STORY (GS)
.
.
.
.
.
ENJOY READING
.
.
.
.
.
CHAPTER 3
.
.
.
.
Pangeran Iblis
.
.
.
.
Mereka semua duduk di sofa ruang keluarga dan menatapku. Kurasa aku sudah bisa benar-benar memulihkan otakku sekarang karena akhirnya aku sadar, reaksiku tadi sangat di luar kendali.
"Tidak apa," kudengar Kris berkata.
"Wajar jika kau begitu shock dan ketakutan. Ini pasti pertama kalinya bagimu, diserang di halaman rumahmu sendiri," katanya.
Ya. Kris benar. Eh, bagaimana dia tahu apa yang ada dalam pikiranku?
"Ketika tidak menatap kosong, matamu mengatakan segalanya, Baek. Segalanya..." Kris berkata lagi.
Aku mendesah berat.
"Oke, kau benar. Selama ini, aku tinggal di London, sendirian, dan aku aman. Di sana, aku bisa menjaga diri sendiri dari siapa pun yang berniat jahat kepadaku. Kurasa, baru kali ini aku merasa lemah. Aku menyadari satu hal. Di London, mungkin aku bisa menghadapi manusia biasa sendirian. Di sini, bukan hanya manusia biasa yang kuhadapi. Tapi, mungkin penyihir hebat atau pemburu penyihir. Maaf telah membuat kalian cemas. Tapi, aku baik-baik saja," kataku cepat. Nah, lihat kan? Aku benar-benar kacau
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan keras.
"Apa ada yang bisa menjelaskan kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi di sini ketika aku pergi?" Tanyaku akhirnya.
Dulu, terakhir kali aku di sini, tak ada penyihir yang berani mengusik keluargaku. Bahkan, tak ada penyihir yang berani masuk kawasan kastil Alexander tanpa izin. Dulu, berada di sini sama amannya dengan di London. Tapi, sekarang...?
"Aku benar-benar cemas ketika Minseok bertelepati dan mengatakan bahwa kau diserang di hutan kita. Dan seperti yang kau tahu, ini adalah untuk pertama kalinya. Jadi, kelima orang itu sepertinya memiliki pemimpin hebat yang bisa menyamarkan mereka masuk ke hutan tanpa terdeteksi oleh Ayah, Ibu, atau aku." Kris menjawab.
"Pemimpin? Maksudmu, mereka ada di bawah perintah seseorang?" kagetku.
Dante mengangguk.
Apa yang sebenarnya terjadi di sini? pikirku bingung.
Aku menatap Ayah yang hanya bisa menunduk, tampak sangat letih. Di sebelahnya, Ibu tampak sedih. Ah, ternyata banyak yang terjadi di sini selama dua puluh tahun.
"Sepuluh tahun lalu, terjadi pemberontakan besar-besaran. Sekelompok penyihir menyatakan bahwa mereka ingin bebas dari pimpinan keluarga Alexander. Mereka ingin merebut kekuasaan Alexander. Awalnya, mereka secara sembunyi-sembunyi menyerang manusia. Dan awalnya, kami mengira itu serangan binatang buas. Padahal, kami sudah menjinakkan binatang buas yang ada di hutan dan di setiap sisi pulau. Tapi setelah aku dan Suho menyelidiki, kami melihat pembantaian yang dilakukan sekelompok penyihir. Kurasa, mereka adalah penganut sihir hitam. Mereka berkeyakinan bahwa dengan membunuh manusia, kekuatan mereka akan bertambah. Dan, mereka ingin memusnahkan manusia di pulau ini. Mereka ingin menguasai pulau ini." cerita Kris.
"Pemimpin mereka, Zhang Yi Xing, menyatakan perang saat itu. Mereka sengaja menyerang para manusia di kota untuk untuk menarik perang ke sana. Banyak korban dari pihak kita saat itu. Ayah memerintahkan pasukannya untuk melindungi para manusia untuk melindungi para manusia dengan nyawa mereka. Bagaimanapun, tempat ini milik para manusia. Karena bantuan para iblis, akhirnya pasukan pemberontak berhasih dikalahkan. Tapi, Yixing berhasil kabur. Dia sudah sekarat saat itu. Tapi, entah bagaimana, dia berhasil kabur. Dia memang pria yang tangguh ." Ada kesedihan dalam suara Kris. Tidak, ini bukan sekedar kesedihan, tapi duka yang mendalam.
Zhang Yixing? Sepertinya, nama itu tak asing. Aku memutar otak dan bayangan bersama saudara-saudaraku kembali berputar dalam kepalaku.
"Zhang Yixing itu...?"
"Ya, dia sahabatku," kata Kris akhirnya.
"Dulu."
Aku merasa tusukan rasa sakit sekaligus kasihan untuk kakakku itu. Aku tahu bagaimana rasanya memiliki sahabat. Aku tahu betapa bahagianya memiliki seseorang untuk berbagi. Dan aku tahu, bagaimana rasanya jika harus kehilangan seorang sahabat. Yang aku tak tahu, dan tak ingin tahu, adalah ketika aku harus melawan sahabatku sendiri, atau bahkan membunuhnya. Kris dan Yixing dulunya sangat dekat. Aku bahkan sudah menganggapnya saudaraku sendiri. Tapi kenapa...?
"Ketika dia tahu tentang pengorbanan yang dilakukan Alexander untuk para iblis, dia merasa telah dicurangi. Dia merasa terhina karena ternyata selama ini dia berada di bawah lindungan para iblis. Karena itulah, dia melakukan pemberontakan. Dia bahkan rela membunuh manusia demi menghancurkan kekuasaan Alexander. Dia berhasil merekrut banyak orang, dan kebanyakan dari mereka adalah teman-teman sekolahku." Kris mendesah lelah.
"Pemberontakan mereka dapat kami redam setahun setelah perang. Yixing pun menghilang. Setelah sekian lama, kurasa dia memutuskan untuk kembali. Dulu, dia sadar sama sekali tidak punya peluang. Jika menyerang, sama saja dengan bunuh diri. Tapi sekarang, setelah kau kembali, kurasa dia sudah menemukan kunci dari pertempuran ini. Dia mungkin ingin menculikmu untuk menukarnya dengan kekuasaan Alexander. Atau, yang kami takutkan, membunuhmu. Setelah sembilan tahun, akhirnya saat ini datang juga. Jadi, kuharap kau mengerti betapa pentingnya posisimu saat ini, Baek. Jika Yixing berhasil mendapatkan atau membunuhmu, akan pecah perang antara penyihir dan iblis. Selama ini, keluarga Alexander selalu menjaga untuk tidak mencari masalah dengan iblis. Karena itu..."
"Aku tahu, Kris. Maafkan aku. Aku tidak tahu jika keadaan sudah jadi separah ini. Aku berjanji, aku akan lebih berhati-hati." kataku.
Aku mengamati keluargaku satu per satu. Mereka menunduk, tampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu.
"Dan aku benar-benar menyesal untuk sahabat-sahabat dan teman-temanmu, Kris. Aku tahu betapa berartinya mereka bagimu," kataku kepada kakak tertuaku itu sebelum meninggalkan ruangan.
.
*
.
.
.
.
Kejadian sore tadi benar-benar membuatku lupa tentang pertemuanku dengan Pangeran Iblis malam ini. Karena kelelahan, aku tertidur. Suara ribut di bawahlah yang membangunkanku. Aku mengucek mata sambil turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Begitu tiba di anak tangga terakhir, aku melihat Suho terlempar menghantam dinding dengan suara keras.
"Suho!" Pekikku sambil menghampirinya.
"Astaga, apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Aku membantunya berdiri.
"Baekhyun Alexander?" Sebuah suara dingin menyebutkan namaku, membuatku menoleh dan mendapati sosok tinggi berjubah berdiri di depan Kris dan Minseok. Wajahnya tertutup tudung sehingga aku hanya bisa melihat dagu dan bibirnya. Apakah dia yang menyerang Suho? Siapa dia?
"Apa yang kau lakukan kepada kakakku?!" raungku sambil menghampirinya.
"Baekhyun, jangan." Suho menahan lenganku.
Pria berjubah itu melangkah maju, tapi Kris dan Minseok memblokir jalannya.
"Jangan sekarang. Dia belum mengenalmu, " kata Kris.
Bibir pria itu berkedut, tampak tak suka. Di belakangnya, beberapa orang berjubah lain bergerak, siap menyerang.
"Jangan sentuh keluargaku!"seruku marah kepada orang itu.
Pria berjubah di depan Kris dan Minseok itu terdorong mundur dan tampak kaget.
"Kau menyerangku?" Suaranya terdengar tak percaya.
Ketiga kakakku tampak sama terkejutnya dengannya, lalu menatapku cemas.
"Dia tidak sengaja. Dia tidak bermaksud begitu. Dia sudah lama tidak menggunakan sihirnya," Kris berusaha menjelaskan.
"Menarik." Katanya. Detik berikutnya, dia menghilang dan kembali muncul tepat di hadapanku.
Ketiga kakakku tampak hendak bergerak ke tempatku, tapi aku menahan mereka.
"Tidak apa-apa," kataku mencegah mereka bergerak ke tempatku. Aku tidak ingin pria asing ini menyerang mereka untuk membalasku.
"Siapa kau? Apa yang kau inginkan dari keluargaku?"tanyaku tajam.
Bibir itu tersenyum dingin sebelum menjawab.
"Aku Chanyeol, calon tunanganmu," katanya.
Aku tersentak mundur mendengarnya.
"Kau..., iblis itu?" Tanyaku ngeri.
"Sakit rasanya mendengarmu menyebutku begitu rendahnya. Tapi, ya, aku memang Pangeran Iblis yang kau maksud 'iblis' itu. Aku penasaran, kenapa malam ini kau menghindar untuk bertemu denganku? Bukankah pertemuan kita sudah diatur malam ini?" Tanyanya tajam.
"Sudah kubilang, dia kelelahan. Kau bisa menemuinya besok malam, tapi kau berkeras untuk menemuinya malam ini dan menghajarku," desis Suho marah.
"Aku tidak menerima alasan itu," katanya dingin.
Aku menyipitkan mata menatap wajahnya yang tertutup tudung.
"Aku juga tidak menerima alasanmu menyerang kakakku," desisku marah.
Mulut itu sedikit terbuka, tampak terkejut. Tapi, kemudian dia tersenyum miring.
"Menyenangkan sekali memiliki pendamping hidup sepertimu." Katanya senang.
Aku mendengus sebal dan memalingkan wajah darinya. Aku tidak menyukai Chanyeol. Aku membencinya. Aku tersentak ketika jemari dingin menyentuh daguku dan memaksa mendongak kembali untuk menatap Chanyeol. Tangannya begitu dingin. Bagaimana mungkin seorang iblis bisa sedingin ini?
"Kenapa kau membenciku?" tanyanya heran.
Aku menatapnya marah. "Apa perlu ada alasan untuk itu?" Sinisku.
Suara batuk yang aneh terdengar dari salah seorang pengawalnya tadi. Chanyeol mendengus kesal ketika melepaskanku untuk menoleh ke belakang.
"Jongdae, jika kau menertawakanku lagu, aku akan menghajarmu setelah ini," katanya kesal.
"Itu..., cukup menarik, Pangeran," jawab pengawalnya yang bernama Jongdae dengan geli.
Tadinya kupikir Chanyeol akan mendatangi Jongdae dan membunuhnya di tempat, mengingat tempramen buruknya. Tapi, ternyata kemudian dia kembali menatapku.
"Ya, Baekhyun, tentu saja aku ingin membunuhnya. Tapi jika aku membunuhnya, ayahku akan membunuhku. Aku tidak mungkin membunuh sepupuku sendiri," katanya geli.
"Aku senang kau belajar begitu cepat tentangku." katanya lagi.
Aku menyipitkan mata kepadanya. Jangan bilang dia bisa membaca pikiranku...?
"Matamu. Apakah ada yang pernah mengatakan bahwa matamu mengatakan segalanya?" tanyanya lagi, terdengar takjub entah mengapa.
"Kurasa aku sudah mengatakannya kepada adikku." Kris yang menjawab.
Chanyeol menoleh ke arahnya dan bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Tiga sosok lain yang keluar dari ruang kerja ayahku menarik perhatian kami semua. Kulihat, Ayah, Ibu, dan seorang lelaki asing seusia Ayah yang mengenakan jubah yang sama dengan Chanyeol, hanya saja tak memakai tudungnya, keluar dari ruangan itu.
"Apa kau membuat keributan lagi, Chan?" Pria asing itu bertanya pada Chanyeol.
"Apa boleh buat? Suho berusaha menyerangku karena aku ingin menemui Baekhyun, jadi aku ingin melemparnya. Mereka sama sekali tidak mengizinkanku untuk bertemu kekasihku sendiri." Jawab Chanyeol.
Aku meliriknya sebal. Kekasih apa? Orang ini benar-benar menyebalkan.
"Apa-apaan kau ini?" Pria yang lebih tua tampak marah kepada Chanyeol.
"Seharusnya, kau bertanya dulu apa yang sebenarnya terjadi. Baekhyun baru saja mengalami penyerangan. Dia sedang beristirahat ketika kau membuat keributan tadi!" kesal pria itu.
"Serangan? Dia diserang? " Chanyeol menunduk menatapku lekat.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja. Bukan aku yang kau lempar tadi." Sengitku.
"Oh, benar. Maaf," Chanyeol berjalan mengahampiri Suho.
"Suho, aku benar-benar minta maaf. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk itu. Aku hanya..."
"Lupakan saja, Pangeran. Toh, aku juga sudah berkesempatan menyerangmu tadi. Luar biasa juga rasanya mendapatkan maaf dari seorang pangeran sombong sepertimu." Kata Suho santai.
Lagi, terdengar suara batuk yang aneh dari kelompok pengawal Chanyeol.
"Jongdae, aku benar-benar akan membunuhmu," ancam Chanyeol.
"Enough, son." Pria asing tadi mendadak muncul di sebelah Chanyeol.
"Jika Ayah sudah menyelesaikan urusan Ayah dengan mereka, Ayah bisa kembali sekarang. Aku masih ingin bersama Baekhyun," kata Chanyeol kesal.
Oh, jadi pria asing ini adalah ayahnya Chanyeol. Ketika pria asing itu menatapku, aku mengangguk hormat kepadanya.
"Tidak perlu bersikap formal di depanku. Kau akan segera menikah dengan putraku. Kau akan tinggal bersamaku juga nantinya," katanya.
"Dan Chan, kau akan segera bersamanya, jadi kenapa tidak kau biarkan dia beristirahat dulu malam ini? Kau bisa bertemu dia besok. Dia tampak kelelahan." Raja Iblis berkata kepada putranya itu.
Aku menahan diri untuk tidak mendesah berat. Aku masih menunduk ketika Raja Iblis kembali ke samping ayahku.
"Ayahku benar. Kurasa aku sebaiknya membiarkanmu beristirahat. Apa kau keberatan jika aku kemari besok?" Chanyeol bertanya.
"Ya." Jawaban itu keluar dari ketiga kakakku. Lagi-lagi, Jongdae menyamarkan tawanya dalam batuk, sementara Chanyeol mendesis marah.
"Baiklah. Seminggu lagi, aku akan kembali. Dan ketika kemari minggu depan, aku akan mengajakmu keluar. Aku tidak ingin diganggu kakak-kakakmu itu atau sepupuku lagi," Chanyeol memutuskan.
Tak ada bantahan. Aku hanya bisa mengerang dalam hati.
"Baiklah. Kurasa minggu depan kita bisa menentukan hari yang tepat untuk penyatuan mereka. Mungkin, kalian ingin mengadakan pesta pertunangan dan pernikahan seperti manusia pada umumnya. Tapi ketika malam bulan purnama pertengahan bulan ini, jadi kurang lebih dua minggu lagi, Baekhyun harus ikut bersama Chanyeol-seperti yang sudah kukatakan kepadamu tadi,Siwon. Sepertinya, putraku menyukai putri kecilmu. Jadi, setelah mereka menikah nanti, aku bisa istirahat dan menikmati hidup. Dia yang akan menjadi pemimpin dunia iblis berikutnya," kata Raja Iblis kepada ayahku.
Aku menoleh kaget kepada pria itu, lalu menatap Chanyeol. Aku bahkan tak mengenal orang ini. Aku bahkan sangat membencinya. Tapi, kenapa...?
Aku tersentak mundur ketika jemari dinginnya kembali menyentuh wajahku. Tampaknya Chanyeol juga terkejut dengan reaksiku itu.
"Kau..., takut kepadaku?" tanyanya, terdengar tak percaya. Aku memalingkan wajah, tak menjawab. Aku sendiri tak tahu. Aku tak tahu kenapa bereaksi begitu. Ah, semua ini jadi semakin membingungkan. Kenapa hidupku jadi sekacau ini?
Kulihat Chanyeol menoleh kebelakang untuk menatap kakak sulungku.
"Mulai besok, jangan biarkan adikmu berkeliaran sendirian. Kemana pun dia pergi, pastikan tidak sendirian. Kecuali, kalian bisa mengawasinya dan bisa langsung muncul di sampingnya jika terjadi sesuatu," kata Chanyeol kepada Kris.
"Kami bisa menjaga Baekhyun," kata Kris mantap.
"Tentu saja. Sampai dia diserang di hutannya sendiri," sinis Chanyeol.
"Besok, bawalah dia ke kota. Meskipun cukup beresiko, tapi di sana ada banyak penyihir yang bisa melindunginya. Kalian juga dekat dengannya dan bisa merasakan kehadirannya. Terutama kau, Kris. Jika Baekhyun berada di kota, kau bisa merasakan bahaya yang mengancam Baekhyun dengan jarak sedekat itu," kata Chanyeol lagi.
"Baiklah. Kurasa kau benar untuk yang satu ini." Kris setuju.
"Istirahatlah." Chanyeol berkata seraya kembali menatapku. Setelah menunduk untuk menatapku selama beberapa saat -meskipun aku tetap tak bisa menatap wajahnya- dia kembali ke tempat pengawalnya berada.
"Sampai jumpa minggu depan, Baekhyun," katanya lagi.
Aku hanya mampu menatapnya tanpa berkata-kata. Begitu Raja Iblis bergabung dengan Chanyeol dan pengawalnya, mereka menghilang. Aku masih berdiri di tempat, sementara keluargaku berjalan menghampiriku.
"Maaf, Baekhyun." Kudengar Ibu berkata seraya memelukku.
"Seandainya saja ada cara lain..."
"Tidak apa,Bu." Aku berusaha meyakinkannya.
"Aku akan baik-baik saja," kataku lagi.
"Omong kosong," dengus Minseok seraya lebih dulu meninggalkan ruang tengah.
"Apa Minseok benar-benar marah kepadaku karena aku meninggalkan kastil?" tanyaku tiba-tiba, mengejutkan semua orang.
Kris mendesah.
"Dia punya alasan sendiri untuk bersikap seperti itu, Baek. Tak perlu kau pikirkan. Suatu saat, kau pasti akan tahu alasannya," katanya.
Aku terdiam. Lama. Lalu, kurasakan Ibu menggandengku kembali ke kamar. Aku masih larut dalam pikiran, menyadari Minseok marah kepadaku. Ya, dia marah. Marah karena aku. Tapi, kenapa?
"Ibu..." Aku menahan wanita yang melahirkanku puluhan tahun lalu itu ketika dia hendak meninggalkanku setelah menyelimutiku dengan selimut.
"Ya, Baek?" Wajah lembutnya selalu bisa menenangkanku.
"Apakah Ibu juga marah kepadaku karena aku meninggalkan kastil?" tanyaku.
Ibuku tersenyum, lalu menggeleng.
"Tidak ada yang marah kepadamu. Ibu dan Ayah justru merasa bersalah karena tidak bisa membuatmu bahagia tinggal di sini," katanya.
"Bukan begitu, Bu." Aku berkata cepat. Aku jadi merasa tak enak.
"Aku bahagia bersama kalian, tapi aku..., aku merasa tempatku bukan di sini," kataku.
Lalu, aku tersenyum.
"Tapi bagaimana pun juga, meski aku merasa tempatku bukan di sini, tetap saja takdirku adalah berada di sini."
Ibu memelukku.
"Senang akhirnya kau kembali ke rumah," katanya.
"Ya, Bu. Aku juga," dustaku.
Untuk saat ini, biarlah mereka berpikir aku senang berada di sini. Aku tidak ingin menyakiti keluargaku. Bagaimana pun juga, aku menyayangi mereka. Seandainya kami bukan keluarga penyihir Alexander, kami pasti sudah hidup normal dan bahagia. Tapi sayangngya, kami adalah penyihir Alexander.
Aku kembali muram memikirkannya.
Aku penyihir.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
yoyoyo... si Chanyeol udah muncul tuhhh... betewe ada yang bisa nebak siapa yg nolongin Baek kemarin gk??. makasih buat yg udah fav, follow and review...
dan gk kerasa udah mau tahun baru aja yaa. HAPPY NEW YEAR !! ya meskipun belum sih..
Don't forget to fav, follow and reviews.!!!!
.
.
.
