.
.
Chapter Seven : Ancaman, Nyungsep, dan Kerapian
.
.
Ngakak.
Gue ngakak dalem hati, ngeliat Tenten kelimpungan sana-sini nyariin novel. Tapi sebenernya keki juga, kamar gue yang tadi udah berantakan sebelum gue capcus ke rumah Yamanaka, jadi makin hancur gegara diberantakin si Panda lagi.
"Apaan, sih, itu novel. Mentang-mentang novel misteri, jadi keberadaannya juga misteri, gitu?" Tenten misuh-misuh. Gue duduk anteng di kasur sambil ngeliatin Tenten mondar-mandir ala setrikaan.
"Heh, bantuin!"
Gue kena serangan jantung mendadak selama dua detik. Kaget, karena tiba-tiba si Panda tereak.
"Males."
"Plis, Sakura. Bantuin gue. Itu tugas akhir, bisa mampus gue kalo nggak nyelesaikan itu tugas."
"Yang punya masalah, kan, situ. Ngapa gue ikut diseret?"
"Yakin, gak mau bantuin gue?"
"Yoi."
"... Meskipun gue jajanin lo di Streetfood Fair?"
"WOKEH, SINI GUE BANTUIN."
Tenten menatap gue setengah illfeel setengah sangsi. "Lo emang sepupu paling kampret yang pernah gue temui, Sak."
Gue menyeringai diam-diam, lalu menggrepe-grepe bagian atas lemari hanya demi mengambil novel yang gue umpetin disitu. Nah, ini. Tenten langsung membelalak ngeri, ala-ala kodok yang biasa loncat-loncat di pinggir kali.
"LAH! LO YANG UMPETIN?!"
"Yoi. Siniin dulu foto gue, baru gue balikin novelnya."
Tenten meringis kecut. Wow, gue suka ini. Pasti mau nggak mau dia bakal balikin foto gue. Lo pada pernah, kan, diginiin? Dicolong barangnya, lalu dibalikin, tapi pake syarat. HAHAHA. Kasian banget, sih, lo!
-oke, gue bercanda. Turunin itu bangku.
"Nih."
Gue melongo macem orang bego. Serius? Segampang itu ngebujuk si Panda? Seriusan ini sekarang dia udah nyodorin foto gue?
"Oke, nih. Jangan lupa jajanin gue, yak." Untung jangan dibuang, mamen. Kita harus bisa memanfaatkan segala kesempatan. Kalo kata iklan Smartfren, mah, key of success adalah kunci kesuksesan.
-oke, gak nyambung.
Tenten menghela nafas pasrah. Ia mengangguk, lalu mengambil hapenya.
"Oke, oke. Kebetulan, foto lo udah gue fotoin pake kamera hape gue. Sekarang gue bakal blackmail seluruh temen pake foto lo, oke?"
LAH?!
LAH JADI INI CERITANYA ADA UDANG DIBALIK GAJAH, GITU?! Pura-pura baik, tapi sebenernya ada rencana boosooq?
-plis, berikan gue golok SEKARANG JUGA.
Setelah acara pembantaian Tenten, gue langsung mendepaknya ke kamar.
-EH WOI! JAUHIN ITU PIKIRAN KOTOR LO!
Gue nyuruh dia ngeberesin seluruh kekacauan yang udah dia lakukan ke kamar gue. Barulah saat gue mau keluar, gue teringat sesuatu.
... Gue belum makan. Sejak pagi tadi, gue hanya sempat makan sepotong roti -itupun cuma setengah.
Gue memutuskan untuk turun kebawah, mengambil piring, lalu melongok ke seluruh lemari, mencari lauk. Bahkan, entah linglung entah apa, lemari dibawah kompor yang isinya gas dan kardus-kardus lama, ikutan gue buka.
Setelah menemukan lauk (dengan menggrepe-grepe bagian dalam lemari makanan), gue pun duduk di meja.
Makan bang.
Saat gue mau menuntaskan misi mulia memberi makan cacing-cacing kelaperan di tubuh gue, gue baru keinget kalo gue belum ngambil sendok. Dengan malesnya, gue jalan lagi ke lemari, lalu balik ke meja, lalu ma-
"WADOW!"
-siku gue kepentok meja. Dan, taulah, gue langsung kesetrum. Gue yakin, hampir seratus persen dari lo-lo pada pernah ngalamin ini.
Ditengah-tengah acara makan gue (eh, lo puasa? Sori, sori! Ijin, yak!), datanglah si Panda-Setan dari lantai atas. Sebenernya nggak aneh, yang aneh adalah cara dia datang.
-dia nggelundung dari atas.
"Woi! Lo ngapain, sih?" Gue langsung menyentaknya, lalu buru-buru lari kearah si Panda yang masih nyungsep dengan gaya yang gak ada bagus-bagusnya sama sekali.
Eh? Bukan, bukan. Gue bukan berubah jadi sepupu malaikat yang mau nolongin si Panda. Gue masih jadi sepupu durhaka, kok.
"Astagah! Lo hebat banget, nyungsep dari atas tanpa retak sedikitpun!"
"... Iya, iya, makasih pujiannya. Daripada itu, bisa nggak lo bantuin gue berdiri?"
"Gue?"
"NGGAK! EYANG HASHIRAMA! YA ELO, LAH!"
"... Jadi duta shampo lain?"
-seketika gue dilempar lemari.
(Sampai sini gue bertanya-tanya, gimana caranya dia ngelempar lemari padahal posisinya masih nyungsep ngenes dibawah tangga begitu)
.
Akhirnya kami berdua makan dengan muka bonyok sana-sini. Mami dan Papi ada di kondangan. Gue tau, dong, gue kan punya sixth sense.
Canda, canda. Ada memo yang ditempelin di kulkas tadi. Kok nyolot, sih? Iri, ye, lo gak punya sixth sense? Jiah, gue tampol lo! (-sesekali marilah kita flesbek ke anak-anak bisquadh lagi.)
"Kenapa lo bisa nyungsep?" Merasa amat garing, gue pun membuka pembicaraan. Si Panda keselek mendadak.
"... Kepleset keset. Taulah lantai atas, licinnya kek pala Saitama."
"Pffft-"
"Eh, udah! Nggak usah ketawa lo!" -gue digetok sendok. Sakit, ajigile.
Setelah acara makan (yang seperti biasa, diwarnai jeritan-jeritan; "WOI BALIKKIN MANGKOK GUE!" atau "ITU LAUK GUE, SYIDH!"), gue memutuskan untuk balik ke kamar.
Hayati terlalu lelah dengan segala kejadian di Mayday absurd ini, maaak.
-tapi gue, kan, Sakura. Bukan Hayati. Ah, sudahlah.
Begitu ngebuka kamar, mendadak sejumlah paragraf memenuhi otak gue; tentang analisis tipe-tipe orang di dunia.
Nah. Orang kalo disuruh ngerapihin kamar ada dua macem.
Yang pertama, bongkar seluruhnya, lalu rapiin semuanya dengan kinclong, bersih bening seperti tanpa kaca! -eh salah. Pokoknya tipe ini, bahkan cat dinding sampe dirombak ulang segala. Niat amat, mah, bersihinnya.
Yang kedua, yang paling kamvret selangit sebumi se-Jupiter, se-Mars, se-au, ah pokoknya kamvret. Tipe ini cuma menyusun ulang semua bantal (dan, seprainya gak dirapiin), lalu barang-barang disusunin ngasal, lalu sampah-sampah disapu.
Iya, disapu. Tapi dibiarin teronggok di pojok kamar.
Kampretnya lagi, Panda-Setan termasuk tipe kedua. Jadilah kamar gue hancur gak karuan dengan bantal-bantal numpuk di kasur dan barang di tempat yang tidak semestinya. Nah, loh, contohnya itu ngapa sendal swallau ada di meja rias, coba? EMANGNYA GUE BISA MAKE-UP PAKE SENDAL, APA?!
"... Taek. Bahkan itu keset masih ada di tangga."
Gue langsung turun dengan kecepatan yang bisa membuat Koro-sensei, Valentino Rossi, bahkan Fourth Hokage sekalipun, merasa malu. Gue udah bawa-bawa celurit, gaya-gaya orang pen demo sambil nge-cosplay Grim Reaper.
Alasannya? Sederhana. Gue udah menemukan DUA alasan untuk segera memenggal pala mirip Panda yang nggak ada bagus-bagusnya itu. Yang pertama, karena ancaman blackmail sebagaimana disinggung diatas. Yang kedua, karena kamar gue... Ah, sudahlah.
-yang jelas, gue beneran pen revenge sekarang. Kira-kira berapa kali, ya, si Panda itu hampir gue bikin isded? Coba itungin, dong. Yang bener gue kasih piring cantik, deh.
Iya, piring cantik. Tapi beli pake duit sendiri, ya. Yha, itung-itung biar lo tau harga pasar. Lagipula sekalian, kan, bisa buat parsel untuk nenek tercinteh?
Lagipula, gue masih terlalu sibuk memikirkan rencana paling sadis untuk memenggal kepala makhluk yang mengalami mutasi gen dengan Panda itu.
.
.
Tsudzuku.
.
.
A/N
Ini dibuat ngebet sengebet ngebetnya -_- berhubung mepet buka puasa -_-
Garing yha? Yha? Maap. Maap, serius. Special thx to :
Moga Untung Luganda :
Udah saya bales PM nya yakkk :) Makasih buanyak /sungkem /ditendang.
...
Spoiler dikit, nanti saya bakal kasih Special Chap saat Lebaran. Lalu setelah Lebaran akan ada Arc(?) Streedfood Fair, YEEEY! /nak.
Ada yang mau kenalan? Sesuai janji di chao sebelumnya, add aja LINE saya; als(titik)zhr
Tenang, saya gak jahat kok :) gak makan orang :) Add aja, friendlist saya sepi T.T /jomblodetected. Okelah.
.
Mind to review?
