NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)

Indo Trans

DISCLAIMER

I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here

exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html

(spasi dihilangkan, dot diganti titik)

.

WARNING

Yaoi, Boy x Boy, Typo (s) etc.

Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.

.

Forward

Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.

.

Chapter 4 – Red

.

"Menjauhlah!" teriak Baekhyun saat Chanyeol semakin mendekat ke arahnya dan Kyungsoo berpijak untuk membuat kastil.

Chanyeol memberikan tatapan marah pada maid nya, tapi Baekhyun mengabaikanya. Chanyeol berlutut tepat di samping Baekhyun, tanpa memberikan sedikitpun jarak di antara mereka untuk membuat Baekhyun kesal. Berdekatan adalah hal yang wajar saat mereka menikah nanti, jadi mereka harus membiasakanya mulai dari sekarang.

Baekhyun menatap tajam Chanyeol dari atas sampai bawah.

"Mr. Park kau terlalu dekat denganku. Aku menganggap ini sebagai pelecehan seksual"

"Tanah ini adalah milikku. Aku bebas duduk di manapun" balas Chanyeol cepat.

Baekhyun merasa jika perkataan Chanyeol benar, Baekhyun hanya menaikan bahunya.

"Baiklah, lanjutkanlah pekerjaanmu"kata Baekhyun, dan Chanyeol memberinya tatapan tidak suka.

"Ya! kau yang mengajaku berbicara. Oiya, berbicara tentang pekerjaan…"

"Aku tidak akan melakukanya" sela Baekhyun cepat, memotong ucapan Chanyeol. Baekhyun sendiri yang menyatakan sedang beristirahat, dia tidak ingin membicarakan apapun yang berkaitan tentang pekerjaan. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya, Kyungsoo yang baik datang mendekat dan meminta Chanyeol untuk membantunya membuat jendela.

Dua puluh menit berlalu, Kyungsoo menghentikan kegiatanya. Ia kembali ke dalam untuk membuat makan siang untuknya dan Sehun, karena mereka telah menghabiskan seluruh waktu pagi dan siangya di pantai. Saat keduanya pergi, tak dapat dielakkkan yang tertinggal hanya Baekhyun sendiri dan majikan raksasanya.

"Jadi, apa pekerjaanmu, Mr. Park?" ucap Baekhyun setelah beberapa saat kepergian Kyungsso dan Sehun.

"Aku sudah memberitahumu untuk tidak memanggilku 'Mr. Park', terdengar aneh karena kita seumuran. Dan untuk pertanyaanmu, pekerjaanku berkaitan dengan bisnis teknologi, kau tidak akan mengerti jika aku menjelaskanya sekalipun.

"Seperti membuat microchip dan menjualnya?" Chanyeol menggelengkan kepalanya.

"Lebih besar dari pada itu. Lebih seperti membuat robot"

"Hmmm… terdengar menyenangkan" ucap Baekhyun, mengangguk tersenyum. Senyumanya tipis, yang memberikan kesan pada Chanyeol jika itu adalah senyuman palsu. Situasi menjadi canggung setelah beberapa menit. Baekhyun menyilangkan tangan menuju ujung kaos putihnya, menarik pelan ke atas kepalanya, dan melepasnya sempurna.

Chanyeol melihat saat Baekhyun melepaskan kaosnya –membuangya asal ke atas pasir- dan mengibas-kibasnya rambut setelahnya ke arah samping, membuatnya terlihat berantakan.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku mencoba menggodamu agar kau menaikkan gajiku" canda Baekhyun sambil menatap Chanyeol.

"Aku ingin berenang, aku tidak ingin membeli ini dengan percuma"ucapnya, sambil menunjuk celana renang yang dipakainya.

Chanyeol memandang ke celana renang Baekhyun.

"Kau seharusnya tidak membelinya sama sekali. Uang yang kau dapatkan dari nenekku seharusnya kau pakai untuk membeli baju, bukan pakaian renang"

"Aku tidak memakai uang wanita tua itu, aku memakai uangku sendiri"gerutu Baekhyun tanpa berpikir.

"Kau membeli pakaian satu lemari penuh?" Chanyeol memandang pria setengah-telanjang di depanya, dan mengangkat alisnya.

"Yeah" Baekhyun mendengus, dia beranjak untuk meninggalkan Chanyeol dengan kastil yang sudah terbangun sempurna.

"Terahir kali aku melihat harga di beberapa pertokoan kota ini tidak bersahabat. Bukankah kau bilang jika kau tidak mempunyai tempat tinggal?" Chanyeol memberikan tatapan penuh tanyanya pada Baekhyun.

Baekhyun mengangguk, mendekat dan mencondongkan kepalanya ke arah Chanyeol.

"Aku memang tidak memiliki tempat tinggal, tapi aku memiliki uang"

"Berapa banyak won yang kau miliki?"

Baekhyun kembali ke posisi awal, dan menyilangkan kedua tangan di dadanya.

"Kau tak perlu mengetahuinya, Park Chanyeol"

"Kau terlalu penuh rahasia, seharusnya kau menambah julukan untukmu, 'Shady' (penuh tipu daya) Baek" ucap Chanyeol menyeringai.

Baekhyun mundur beberapa langkah dari Chanyeol, mengangkat bahu dan memberi senyuman pada Chanyeol.

"Kau harus memberitahuku jika aku sudah menjadi terlalu shady, sehingga aku tahu kapan aku harus pergi"

"Kau tidak akan pergi kemanapun" raut muka Chanyeol tidak senang.

Baekhyun berputar dan membelakangi Chanyeol, menghadap laut kemudian ia melambaikan tangan.

"Oh, aku lupa jika aku menyetujui untuk diperbudak olehmu. Aku akan kembali untuk melakukan tugasku dalam satu jam"

"Kau mengatakan hal yang sama tiga puluh menit yang lalu!" teriak Chanyeol sambil mengkerutkan keningya setelah melihat kepergian maid baru garis miring tunanganya yang menyebalkan, yang kasar dan suka melawanya.

Baekhyun memutar tubuhnya, menghadap Chanyeol sesaat sebelum berputar lagi dengan raut muka tidak seriusnya.

"Benarkah?" ucap Baekhyun agak keras.

Saat Chanyeol akan membalas pertanyaanya, Baekhyun sudah terlalu jauh. Suara Chanyeol mungkin masih bisa terdengar oleh Baekhyun, tapi Chanyeol sadar jika tidak ada gunanya berdebat dalam teriakan dengan Baekhyun.

Chanyeol berdecak, saat melihat Baekhyun menertawakan dirinya sendiri saat air laut mengenai tubuhnya. Chanyeol berpikir apa menariknya berenang di air laut yang dingin. Chanyeol tidak megerti Baekhyun sama sekali.

Chanyeol baru saja mengenal Baekhyun dan Baekhyun sudah mengalahkanya beberapa kali. Pertama, saat mengetahui fakta bahwa Baekhyun merupakan pengantin wanita (bride) pasangaya yang melarikan diri –bukan pengantin laki-laki (groom), karena Chanyeol akan menikam iblis jika dia yang menjadi bride dalam hubungan sialan ini. Kedua, adalah Byun Baekhyun sendiri. Chanyeol mengakui pada dirinya sendiri jika seorang pria itu harus memiliki standar. Untungnya, Baekhyun tidak menuruti perintah Chanyeol untuk menyelesaikan masalah paginya, dan memang seharusnya tidak. Baekhyun masih membingungkan bagi Chanyeol. Di suatu waktu Baekhyun terlihat seperti anak kecil –memesan soda dan cheesecake untuk makan siang, tertawa sendiri saat air laut mengenai tubuhnya –kemudian di waktu lain dia berubah menjadi seorang menyebalkan yang suka melakukan semuanya sendiri, seorang yang suka memberikan jawaban tidak jelas, kasar dan penuh penyangkalan.

Chanyeol menghela napas. Sejujurnya Chanyeol belum mengenal Baekhyun begitu jauh untuk mengetahui seperti apa Baekhyun sebenarnya.

Chanyeol mengambil kaos yang ditanggalkan Baekhyun, Chanyeol mengeluh saat dia bangkit untuk pindah ke bagian yang tertutup oleh sedikit rumput, yang tidak terlalu banyak pasir. Dia meletakan kaos tersebut sebelum berbaring, dan menempatkan kepalanya di atas kaos itu. Kemudian dia mengeluarkan telpon genggam dari saku celana pendeknya untuk melihat jam. Chanyeol menambah tiga puluh menit dari waktu yang tampak di layar, dan merencanakan untuk meneriaki dan mengomeli Baekhyun untuk segera membawa pantat sialanya kembali ke villa.

Matahari semakin meninggi, dan dia membawa lengannya ke atas dahi. Chanyeol menutup matanya sejenak, dan memikiran hukuman apa yang paling pas diberikan pada Baekhyun jika Baekhyun meminta tambahan waktu satu jamnya lagi setelah tiga menitnya habis, tapi angin tenang laut membuat Chanyeol nyaman, dan hanya keheningan yang terdengar.

Park Chanyeol tertidur saat menunggu Baekhyun selesai dengan kegitatan berenangnya.

.

.

Baekhyun keluar dari air setelah beberapa waktu. Baekhyun sejujurnya tidak mengetahui pasti berapa lama waktu yang dia habiskan dalam air ketika memutuskan untuk kembali ke daratan. Tubuh Baekhyun masih sangat basah, ia mengarahkan tanganya menuju rambut dan mengibas-kibaskanya. Saat langkah Baekhyun semakin dekat ke tempat terakhir dia meniggalkan Chanyeol, dia menyadari bahwa majikanya sudah berpindah ke bagian yang lebih berumput. Bukan hanya itu saja, Baekhyun melihat jika kaoasnya djadikan bantalan.

Baekhyun mengerutkan keningnya. Kaosnya bukan sesuatu yang rendahan yang bisa dijadikan bantalan seenaknya, dia memberikan tatapan mengadili pada majikannyayang tertidur pulas. Baekhyun berdecak, dan berencana untuk menendang majikanya. Baekhyun menyadari jika ia tidak memiliki alasan kenapa harus membangunkanya, jadi dia mengurungkanya. Baekhyun mengangkat bahunya, dan berjalan menuju villa meninggalkan majikanya yang masih tertidur.

Saat Baekhyun tiba, Sehun dan Kyungsoo memberikan tatapan bingung padanya dari arah meja dapur, yang sedang menikmati makan siang mereka.

"Dimana Chanyeol?" tanya Kyungsoo.

"Dia memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati laut" Baekhyun tersenyum, melangkah melewati mereka berdua.

"Dia akan kembali nanti" tambah Baekhyun.

"Nanti?" Kyungsoo memutar kepalanya ke arah Baekhyun yang sedang berjalan menuju lorong.

"Yeah, nanti" Jawab Baekhyun pasti dengan memunggungi Kyungsoo.

"Nanti kapan? kembali dalam beberapa menit?"

"atau beberapa jam" sambung Baehkyun pelan, seperti berbicara dengan dirinya sendiri sambil tetap melanjutkan langkahnya dan berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Kyungsoo.

.

.

Perkiraan Baekhyun benar.

Kekhawatiran Kyungsoo bertambah saat Chanyeol belum juga kembali setelah beberapa jam setelah kedatangan Baekhyun, tapi Baekhyun tetap tenang –tidak perduli- dengan masalah ini, Kyungsoo mengira ketidakhadiran Chanyeol hanya masalah sepele bagi Baekhyun.

Tidak sampai tiga jam, Chanyeol kembali ke villa dengan menggeser pintu belakang kasar, daengan keadaan yang sangat kaku. Kyungsoo dan Sehun yang sedang mengobrol di ruang tamu langsung membalik badan menuju sumber kegaduhan di pintu belakang, yang ternyata adalah majikan mereka.

Sebelum salah satu mereka mengeluarkan sepatah kata pun, Chanyeol berteriak marah dengan suara beratnya.

"Sialan!, dimana Baekhyun?!"

"Dia sedang di kamarnya…" jawab Sehun pelan dengan menelan ludah setelahnya..

Tatapan marah Chanyeol melewati mereka dengan cepat -tapi tegas dan menuju lorong. Chanyeol memukul pintu kamar Baekhyun keras saat sudah berada didepannya. Chanyeol lanjut menendang pintu sialan itu saat sang pemilik belum juga membukanya.

"Pintunya tidak dikunci" terdengar suara sang pemilik kamar.

Suaranya terdengar ramah, tapi Chanyeol tidak dalam mood yang bagus. Dia langsung memegang kenop pintu dengan kasar, membukanya, dan mendorong pintu sangat keras sampai menghantam dinding di belakangnya. Kegaduhan itu membuat Baekhyun mengalihkan pandangan dari buku yang ditemukanya beberapa waktu lalu menuju sesosok yang berdiri di depanya.

Baekhyun tidak bisa menahan tawanya saat pandanganya tepat pada Chanyeol. Baekhyun menganggap Chanyeol sangat lucu, sampai membuatnya tidak dapat berbicara. Ia tetap tertawa beberapa saat, sampai dia memejamkan matanya mencoba untuk menenangkan diri.

Setelah merasa sudah cukup tenang, Baekhyun mencoba berbicara, tapi tetap saja belum begitu terdengar baik karena dia masih menahan tawanya.

"A-apa yang te-terjadi pa-damu, Mr. Park? " tanya Baekhyun, mencoba yang terbaik untuk melakukanya.

Chanyeol menggertakan giginya.

"Kau bertanya apa yang terjadi padaku?! Sialan!?" maki Chanyeol, tidak perduli jika dua orang lain dalam rumah mendengarnya,.

"Kau meninggalku di luar, Sial! Tepat di bawah matahari! Aku terbakar, dan sialnya kau menertawaiku seolah aku tontongan terlucu sedunia!"

Baekhyun sudah tidak bisa menahan lagi. Dia mulai tertawa lagi, menepuk-nepuk buku yang ada di tanganya.

"Kau memerah" ucap Baekhyun terenga-engah.

"Kau begitu merah! kecuali dahimu!" Baekhyun tertawa sampai air matanya keluar mengenai pipinya.

"Dahimu terlihat sangat putih! Semua wajahmu memerah dari alis kebawah!"

Baekhyun tertawa lagi berguling sambil memegang perutnya di atas kasur. Chanyeol menatap tajam Baekhyun, sebelum mendekatinya. Lalu Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun kasar, sehingga punggungya menempel di kasur tepat, dengan tangan Chanyeol berada di bahunya, dengan tubuh Chanyeol tepat di atasnya memandang Baekhyun tidak suka.

"Berhentilah tertawa!" teriak Chanyeol marah tepat sebelum Baekhyun membuka matanya yang berair.

"Kau pikir ini lucu?!" lanjut Chanyeol, sebelum melepas cengkramanya pada bahu Baekhyun.

Baekhyun menutup mulutnya perlahan, tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

"Kau terlihat aneh!" ucap Baekhyun cepat.

"Sebelumnya kau telihat tanpan, tapi sekarang aku bahkan tidak mengetahui kau termasuk jenis makhluk apa "

Pujian tidak langsung yang Baekhyun berikan akan membuatnya senang dalam keadaan normal, tapi tidak untuk saat ini. Dia sedang tidak dalam mood bagus untuk menerima pujian baik langsung ataupun tidak. Chanyeol sedang merasakan sakit di seluruh bagian tubuhnya.

"Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan padamu" Chanyeol mengeluh, beranjak dari tubuh Baekhyun.

Tawa Baekhyun mereda, Baekhyun memberikan seringainya pada Chanyeol.

"Kau akan memecatku? Atau mengusirku?"

Chanyeol mengerutkan dahinya. Memecat Baekhyun adalah hal yang sangat Chanyeol inginkan sekarang, tapi dia berpikir bahwa itu tidak benar. Baekhyun sangat berguna untuknya, bukan hanya untuk hal bersih-bersih saja. Chanyeol sudah memikirkanya, jika keluarga Byun tidak dapat menemukan Baekhyun, maka perjodohaan mereka akan batal, oleh karenanya Chanyeol memutuskan untuk tetap mempertahankan Baekhyun, sampai kesepakatanya batal. Selain itu, Chanyeol masih ingin mencari tahu alasan Baekhyun bekerja padanya, apakah memang sudah direncanakan Baekhyun dari awal dengan orang tuanya atau tidak.

Chanyeol berdecak, menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak memecatmu"

"Ceroboh" ucap Baekhyun, memiringkan kepalanya.

Chanyeol mengabaikankan Baekhyun, mengarahkan kepalanya menuju arah pintu masuk.

"Pergilah ke kamarku, dan ambil krim untuk mengobati kulit yang terbakar "

Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali, memberi Chanyeol pandangan kosong, dia bangkit dari kasurnya.

"Baiklah" kata Baekhyun enteng..

"dan kembali lagi ke sini!" bentak Chanyeol, sebelum Baekhyun keluar dari kamar.

"Don't worry! " ucap Baekhyun, berputar menghadap Chanyeol.

"Aku akan mengambil krim yang kau maksud. Good Luck! Semoga lekas sembuh"

"Eh? Kau pikir aku akan melakukan semuanya sendiri?" Chanyeol mendengus.

"Yep" Baekhyun mengangguk.

"Jadi, apa fungsi kau sebagai maid?" tanya Chanyeol ketus.

"Kau akan kembali ke sini dan mengoleskan krim itu padaku!"

Baekhyun memiringkan kepalanya, mengangkat alisnya mengejek.

"Tapi, jika aku menurutimu, aku akan dipecat karena menyentuh tubuhmu" ucap Baekhyun, mengulang apa yang Chanyeol ucapkan tadi pagi.

Chanyeol menatap Baekhyun tajam.

"Aku tidak akan memecatmu –-"

"—aku tidak tahu. Aku hanya tidak nyaman menyentuh tubuh setengah telanjang yang dapat menyerangku kapan saja" sela Baekhyun, dalam nada mengejek.

"Apa sekarang aku terlihat seperti seorang bisa menyerangmu kapan saja?!" Teriak Chanyeol marah.

"Tidak, tapi kau memang terlihat seperti sesuatu yang lain" Baekhyun tertawa sebelum berputar keluar kamar.

Chanyeol mendengarnya, tapi dia memutuskan untu tidak menghiraukanya, karena dia merasa akan percuma saja. Chanyeol merasa lelah, dia memutuskan untuk duduk di atas kasur Baekhyun. Dia pikir sakitnya akan berkurang, jika melakukanya. Chanyeol berteriak, bukan karena sakit yang ia alami tapi lebih karena dia marah dengan kondisi yang dia alami sekarang.

Teriakan dan makian marah Chanyeol berhenti, saat telinganya mendengar tawa Baekhyun di bagian lain villa ini. Baekhyun sudah pasti sedang menertawakanya.

.

.

.

Next