NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)

Indo Trans

DISCLAIMER

I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here

exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html

(spasi dihilangkan, dot diganti titik)

.

WARNING

Yaoi, Boy x Boy, Typo (s) etc.

Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.

.

Forward

Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.

.

Chapter 8 – How Things Funtion

.

Saat Chanyeol sepenuhnya melihat kondisi Baekhyun di lantai, dia menyenggol Baekhyun dengan kakinya.

"Aku tahu, aku sering menyuruhmu membersihkan lantai, tapi bukan berarti kau menggunakan tubuhmu."

"Apakah ini lelucon?" Baekhyun menanyakan dengan ketus sambil mencoba mengangkat tubuhnya bangkit. " Karena, jika iya, leluconmu tidak lucu"

Chanyeol mengangkat bahunya, dan berjalan menuju tempat Baekhyun membumbui daging. Dia mengambil mangkuk itu, dan mengamati Baekhyun yang menocba berdiri dengan mengokohkan peganganya di meja.

"Setidaknya kau tidak merusak apapun"

"Kau benar"jawab Baekhyun ketus." Apa kau berniat untuk menuntutku?"

"Aku tidak akan menuntumu, aku hanya ingin kau mebersihkan kekacauan yang kau buat sehingga kau tidak akan terpeleset lagi saat melewatinya"ucap Chanyeol mengernyitkan hidung dari bau cuka yang menyengat "dan bersihkan dirimu setelah kau menyelesaikan semuanya. Aku tidak ingin mencium bau cuka darimu"

Baekhun mengelus wajahnya yang sebelumnya mengarah ke lantai itu. Dia mengeluh sesaat, sebelum meluruskan kakinya, mencoba untuk menormalkan lagi aliran darahnya, khusunya pada daerah kaki.

"Baiklah" gumamnya saat membawa tubuhnya menjauhi dapur.

Chanyeol melangkah menuju pintu belakang, sebelum memutar kembali tubuhnya mengarah ke Baekhyun.

"Ganti bajumu juga"

Baekhyun menghentikan langkahnya, dan menengokan kepalanya ke arah Chanyeol.

"Aku sudah berganti baju tiga kali hari ini" ucapnya dengan cemberut.

Chanyeol mengangkat alisnya.

"Gantilah! Jeansmu sudah terkena cuka"

Baekhyun tidak langsung menanggapinya, kemudian memberikan senyuman pada Chanyeol.

"Bukankah akan lebih efektif jika langsung mengeringkan-"

"-Baekhyun" sela Chanyeol "tolong ganti saja bajumu."

Chanyeol melihat Baekhyun tersenyum sebelum melangkahkan kakinya menuju lorong.

"Ini lebih efektif!" ucap Baekhyun dengan suaranya yang menggema.

"Aku tidak ingin mencium bau cuka saat makan nanti!" balas Chanyeol tidak kalah keras sambil membuka pintu belakang.

"Aku tidak ingin merasa sedang makan bersama gelandangan"

"Aku memang tidak mempunyai tempat tinggal" Chanyeol mendengar teriakan Baekhyun dari dalam.

Chanyeol mendengus, saat sudah sepenuhnya keluar dari rumah.

"Homeless? Sepertinaya memang benar" gerutu Chanyeol..

Beberapa saat kemudian, Chanyeol menyesal karena tidak menspesifikasikan pakaian ganti yang harus Baekhyun kenakan. Chanyeol mendengar suara pintu belakang terbuka, menengok untuk melihat dan menyadari kesalahan yang dilakukanya saat dia melihat pakaian yang Baekhyun pilih.

Jeans dan kaos dan cardigan kebangganya sudah hilang digantikan dengan celana piyama yang memiliki garis pink vertikal dipadukan dengan kaos bergambar botol kecap yang terdapat tulisan 'What's up, Dog!' yang megarah pada gambar hotdog di sebelahnya.

Sebelum Chanyeol berkomentar mengenai pakaian yang dia gunakan, Baekhyun tersenyum puas dan mengangkat bahunya, seolah mengatakan bahasa tubuh universal 'aku tidak peduli dengan apa yang akan kau katakan karena itu tidak akan menggangguku sama sekali.'

Chanyeol cemberut dan mengerutkan dahinya sebelum mengarahkan perhatianya pada daging yang dia panggang dibandingnya memperhatikan penampilan santai Baekhyun. Perhatianya teralihkan saat Baekhyun mendekat ke sisi kananya. Chanyeol menunduk untuk menatapnya, sebelum menanyakan maksudnya.

"Apa yang kau lakukan?"

Baekhyun memeluk tubuhnya sendiri karena terpaan angin malam, dia mendongakan wajahnya mengarah Chanyeol, memberikan pemandangan yang sangat bagus karena terpaan matahari senja mengenai wajahnya.

"Melihat apa kau memanggang dagingnya dengan benar atau tidak"

Chanyeol mengalihkan tatapanya dari wajah Baekhyun.

"Masuklah ke dalam, Baek. Aku tidak akan membuatnya gosong-"

"Kau salah paham. Kau boleh saja membuat milikmu terpanggang gosong, selama punyaku tidak demikian"

Chanyeol berhenti melakukan kegiatanya sesaat dan melihat laut dengan muka datarnya dan berpikir apakah dia bisa membunuh Baekhyun dengan menenggelamkanya di air laut yang dingin tanpa ampun dan berpikir apakah dia akan sempat menutupi kematianya sebelum Sehun dan Kyungsoo kembali ke villa.

Bajingan itu tidak perduli jika Chanyeol menggosongkan dagingnya selama miliknya terpanggang sempurna? Chanyeol menunduk menatap tajam pria yang lebih pendek darinya. Rencananya pasti akan berjalan sempurna jika saja dia tidak melihat Baekhyun menggigil kedinginan sambil memeluk tubuhnya.

Chanyeol baru menyadari seberapa dekat jaraknya dengan Baekhyun yang berdiri di sampingnya. Faktanya, Baekhyun menekan tubuhnya ke tubuh besar Chanyeol untuk mentransfer panas dari tubuhnya. Chanyeol mengerang, menggosok permukaan telapak tanganya.

"Baekhyun, masuklah ke dalam" perintah Chanyeol.

"Aku tidak akan meninggalkan dagingku di tangan besarmu" dengus Baekhyun.

"Baekhyun, masuklah jika kau memang kedinginan" ulang Chanyeol.

"Aku baik baik saja, asap dari pemanggang membuatku tetap hangat"

Chanyeol ingin memukul Baekhyun saat itu juga.

"Menyingkirlah dari asap pemanggang! Idiot, kau akan berakhir dengan bau daging dan gas"

Baekhyun mengangkat bahu tanda tidak perduli dan tersenyum menanggapi bentakan Chanyeol, dia tetap mempertahankan pandanganya pada daging yang sedang dipanggang. Tidak menghiraukan rasa tidak suka Baekhyun, Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun dan menjauhkannya dari pemanggang. Baekhyun mendekat lagi ke samping Chanyeol dengan cepat untuk membuatnya kesal.

"Demi Tuhan, Baekhyun! Masuklah ke dalam!" ucap Chanyeol dengan menurunkan spatulanya ke bawah.

"Apa kau tahu jika memakan daging yang gosong itu tidak baik untuk kesehatanmu?" Baekhyun memberi informasi pada Chanyeol dengan suara yang gagap, menghindar dari perintah Chanyeol. "Lagian, rasanya juga tidak enak"

"Uh, uh"

"Aku dengar jika daging gosong bisa meningkatkan peluangmu untuk terkena kanker usus" Baekhyun menjelaskan, menghilangkan rasa canggung yang ada di antara mereka."Apapun yang gosong itu tidak baik, berbahaya untuk kesehatan. Faktanya, itu-"

"Baekhyun, diamlah dan masuklah ke dalam," dengus Chanyeol. "Kau menggigil -"

"Apakah aku seperti vibrator seukuran manusia?"

Lagi, Chanyeol berpikir untuk menenggelamkan dan membunuh Baekhyun. Mengabaikan pemikirannya, Chanyeol mencoba lagi.

"Baekhyun-"

"Jika aku vibrator, maka kau dildo" Baekhyun tertawa sendiri. "Apa kau mengerti?"

Terkutuk untuk siapapun yang meciptakan Baekhyun dengan mulut seperti itu. Mungkin Chanyeol memang tidak bisa membunuh Baekhyun. Jadi, dia memutuskan untuk memfokuskan perhatianya tetap mengarah ke daging yang sedang dipanggangya daripada mendengar omongan bodoh Baekhyun.

Baekhyun melihat Chanyeol frustasi karena tingkahnya, Chanyeol menatap Baekhyun sekilas sebelum melepas jaketnya dan menggantungkan jaketnya pada tangan Baekhyun yang sedang melingkar di tubuhnya. Awalnya Baekhyun kaget dengan inisiatif Chanyeol, dia menatap pemilik asli jaket tersebut,

"Pakai jaket itu dan diamlah."

Baekhyun memandang jaket tersebut sekilas sebelum menganggukan bahunya. Dia memakainya dan menyesuaikan dengan postur tubuhnya, tapi tetap saja bagian lenganya terlalu panjang dan dia sadar jika dia terlihat bodoh karenanya. Dalam benaknya, jaket Chanyeol sukses menutupi kesempurnaan dari celana piyama kebanggaanya.

Seperti permintaan Chanyeol, Baekhyun berhenti berbicara. Dia hanya berdiri, memperhatikan Chanyeol yang membolak balik dan menekan daging beberapa kali. Dia mengamati Chanyeol dan melihat dia memasukan tanganya ke saku celana untuk tetap membuatnya tetap hangat dari dinginya angin malam. Baekhyun hampir merasa tidak enak karena memakai jaketnya.

Hampir.

Beberapa menit berlalu, Baekhyun menguap.

"Aku bosan"

Chanyeol memutar bola matanya, mengejek Baekhyun.

"Jadi apa yang ingin kau lakukan?"

Baekhyun berpikir selama beberapa saat sebelum membulatkan niatnya. Dia melangkah mundur dan berputar, melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam rumah.

"Masuklah saat kau sudah selesai. Jika kau tidak memanggang dagingku dengan baik, aku tidak akan memakanya"

"Bisakah kau menghentikan ocehanmu mengenai akan seperti apa dagingmu nanti?" Chanyeol menggertak, memutar kembali kepalanya.

Sebelum Baekhyun menggeser pintu di belakangnya, dia merespon Chanyeol.

"Aku tidak ingin terkena kanker usus!" teriaknya tepat sebelum menggeser pintu rapat.

Chanyeol mengeluh, memusatkan kembali perhatianya pada daging yang masih belum dipanggagnya. Hal itu menghabiskan beberapa menit sampai dia menggigil dan sadar jika jaketnya dibawa masuk Baekhyun. Chanyeol menggerutu, memutuskan untuk mengambil kembali jaketnya, saat dia mencoba menggeser pintu, tapi pintunya tidak dapat terbuka. Mata Chanyeol langsung terarah pada sisi lain rumah, saat melihat Baekhyun, dia memikirkan cara untuk mengakhiri hidup pria itu lagi.

Bajingan itu mengunci pintunya.

Baekhyun sengaja meninggalkan Chanyeol sendiri untuk menyelesaikan tugasnya. Dia memutuskan untuk kembali ke dalam dan melepas jaket dan meletakanya di lemari terdekat. Dia tidak sadar membuat pintu belakang terkunci sampai dia melangkah ke dapur dan mendengar gedoran Chanyeol pada pintu kaca itu dengan tatapan tajamnya.

"Jangan kunci pintunya, sialan!"

"Itu tidak disengaja," balas Baekhyun jujur.

"Uh uh," ucap Chanyeol tidak percaya "tolong kembalikan jaketku"

Baekhyun berhenti dan menatap Chanyeol.

"Aku baru saja menaruhnya"

"Ambilah lagi"

Baekhyun mengerutkan keningnya, tapi dia tetap melaksanakan perintah Chanyeol untuk mengambilkan jaketnya, berdecak dan menggerutu sepanjang perjalananya. Saat jaket sudah ada padanya dan jarak dengan Chanyeol cukup dekat, dia melemparkan jaket itu. Chanyeol menangkapnya, dan memberi pandangan tidak suka padanya sebelum berputar kembali ke halaman belakang, Chanyeol berpikir bahaimana semuanya berubah menjadi rumit saat berkaitan dengan Baekhyun.

Saat semua daginya sudah matang –terpanggang sempurna- Baekhyun menyiapkan meja. Dia meletakan nasi pada mangkuk dan 2 set gelas kaca untuk masing masing mereka berdua. Setelah semuanya telah siap, Baekhyun duduk dan menunggu Chanyeol menyiapakan daging panggang itu untuk mereka berdua. Saat Chanyeol selesai meletakan semuanya, dia berjalan menuju lorong.

"Aku akan mengganti bajuku. Jangan memulai makan terlebih dulu."

"Baiklah," ucap Baekhyun tidak tulus. Saat dia melihat panggangan daging, dan mencondongkan kepalanya. Tidak begitu buruk, tapi daging ini tidak sepenuhnya dapat membuat dia terbebas dari kanker usus.

Ketika Chanyeol kembali, Baekhyun menyangka jika dia akan langsung menempati tempat duduknya, tapi Baekhyun melihat Chanyeol melewatinya dan berjalan menuju ruang bawah tanah. Baekhyun tidak menyukainya, karena dia sudah sangat kelaparan. Tapi dia memutuskan untuk menahanya, 'manners were manners', dia menunggu sampai Chanyeol kembali dan melihatnya membawa 4 botol wine dengan merek yang berbeda.

Mata Baekhyun melebar saat melihat Chanyeol meletakan keempat botol wine itu didepanya.

"Apa hari ini semacam perayaan sampai melibatkan empat botol wine…" gumam Baekhyun.

Chanyeol menggelengkan kepalanya sambil mengambil gelas yang disiapkan Baekhyun sebelumnya dan menuangkan wine pada gelas itu dari salah satu botol.

"Kita hanya makan malam"

"Dengan empat botol wine mahal"

Raut muka Chanyeol datar.

"Wine akan melengkapi makan malam kita" ucapnya ambil menaruh gelas yang sudah terisi di depan Baekhyun, Chanyeol menarik tanganya dan menundukan kepalanya, sengaja menarik perhatian Baekhyun dari wine di depanya. "Selain itu, 'apa kau tahu'?" lanjut chanyeol, sengaja mengejek Baekhyun dengan mengikuti nada bicaranya saat mengucapkan 'apa kau tahu?', "jika wine itu bagus untuk jantung?"

"Ya tentu, aku mengetahuinya" Baekhyun tidak terpancing dengan permainan Chanyeol.

"Oke, mari kita mulai makan malam ini" ucapnya saat kembali ke tempat duduknya.

.

.

Dibutuhkan tiga botol wine, beberapa kaleng bir, untuk membuat Baekhyun benar benar mabuk. Chanyeol sudah mendengar omongan tidak pentingnya mengenai beberapa fakta kucing, kanker usus, cheesecake dan omong kosong lainya yang tidak menarik perhatiannya, sampai dia harus menghentikan Baekhyun saat dia mulai meneriakkan segala hal yang dia omongkan.

Baekhyun sudah mabuk dan juga Chanyeol, tapi Chanyeol masih bisa mengontrol kesadaranya. Melihat Baekhyun, Chanyeol mengamati jika Baekhyun yang mabuk membuatnya seribu kali lebih cerewet dan frekuensi tawanya lebih sering terdengar dibandingkan dengan Baehyun dalam keadaan normal. Semuanya terlihat aneh, tapi Chanyeol tidak dapat memilih sisi mana yang membuat Baekhyun terlihat lebih pintar. Sisi mabuk, yang membuat Baekhyun memberikan fakta 'apa kau tahu' nya, ataukah sisi Byun Baekhyun yang menjadi genius saat behadapan dengan mesin.

Saat kesadaran Baekhyun sudah sepenuhnya hilang, maka semua rahasia akan dia beberkan dengan suka rela, Chanyeol yang mabuk memutuskan untuk memulai interogasinya dengan beberapa pertanyaan. Chanyeol mengambil telfon genggang dari sakunya, dan meletakannya di bawah meja, menaruhnya tepat di tempat duduk disamping Baekhyun. Chanyeol membuka aplikasi perekam pada telfon genggamnya untuk merekam apa yang mereka bicarakan malam ini, sebagai antisipasi jika dia melupakan percakapan mereka pagi nanti, dan waktupun mulai berjalan.

Chanyeol menyenderkan punggungnya, dan mengarahkan pandangan lemahnya pada Baekhyun yang sedang memainkan tangan pada rambutnya sehingga terlihat berantakan.

"Baekhyun…."

Baekhyun tertawa saat Chanyeol memanggil namanya.

"Yes" jawab Baekhyun sambil menyanyikanya dengan pelan – dan dengan sikap sopanya – Baekhyun membuka matanya tepat mengarah ke Chanyeol. " Yes, slave master Chanyeol?"

"Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini?" tanya Chanyeol sambil melingkarkan tanganya pada kaleng bir. "bekerja untukku?"

Baekhyun menyeringai, tapi dia mengangkat bahunya tanda dia tidak yakin. "Aku tidak tahu….aku bahkan tidak suka bersih bersih" gumamnya. Saat pandangan Baekhyun beralih pada botol wine yang kosong di depanya, dia mengabaikan apa yang dia bahas sebelumnya. "apa kau tahu jika wine yang berasal dari new York memiliki rasa yang tidak enak? Dan itu memang benar Chanyeol. Rasanya sangat buruk, pahit. Tidak enak sama sekali"

Chanyeol mengerutkan dahinya, tidak menyukai jika dia diabaikan oleh Baekhyun. Kemudian dia mulai menemukan cara untuk merekayasa fakta yang Baekhyun berikan. "Bagaimana-Ah, bagaimana kau mengetahuinya, Baek? Apa kau pernah ke New York?" tanya Chanyeol.

Tanpa berpikir panjang, Baekhyun mengangguk dan meletakan sikunya diatas meja dan meletakan kepala diatas tanganya. "Ayahku menyuruhku untuk melihat dan merasakan langsung bagaimana sebuah kesepakatan dibuat…" Baekhyun menghentikan penjelasan saat dia cegukan. "Dia membawa dan memaksaku untuk mengambil libur dari kampus, Bajingan itu. Saat aku kembali, aku mendapat tugas yang menumpuk untuk diselesaikan" gerutu baekhyun, menunjukkan rasa frustasinya saat di universitas dulu. "Aku sangat membencinya"

Chanyeol berpikir jika dia juga akan merasakan yang sama jika dia mengalaminya sendiri. Chanyeol memandang Baekhyun.

"Tapi, kesepakatan apa yang kau maksud, Baekhyun?"

"Bisnis, bisnis keluarga, kesepakatan bisnis mengenai suatu hal yang bodoh" jawab Baekhyun malas.

Chanyeol mengerutkan dahinya. Hal bodoh? Menemukan dan menciptakan inovasi untuk teknologi masa depan hanya –tidak ada arti- 'hal bodoh'. Sebuah penemuan yang dapat dimplikasikan dalam otak dan mensinkornasikanya dengan lengan buatan untuk menolong beberapa orang yang membutuhkanya hanya 'hal bodoh'. Faktanya, segala sesuatu yang berkaitan dengan inovasi itu sungguh sangat rumit, tapi analisa Chanyeol saat mendengar respon Baekhyun, dia merasa jika Baekhyun sama sekali tidak tertarik dengan hal seperti itu dan membuat Chanyeol sangat penasaran.

Chanyeol menatap Baekhyun, dan mencoba melanjutkan interogasinya.

"Sebenarnya bisnis seperti apa yang keluargamu lakukan? Jika kau tidak keberatan untuk menceritakanya"

Baekhyun tertawa, tapi terdengar mengerikan. "Mesin, robot, chip… hal hal seperti itu…." kemudian dia mengerang saat mengusap matanya -mungkin karena efek dari banyaknya alcohol yang diminum. "Persis seperti yang kau lakukan kan, Chanyeol?"tanyanya, memberikan seringaian khas orang mabuk.

Chanyeol tidak merespon. Walaupun dalam kondisi mabuk, Chanyeol menyadari jika dia harus menjadi seseorang yang memegang kendali "Baek, kenapa kau tidak kembali saja ke rumahmu?"

Baekhyun diam beberapa saat, sebelum memberikan senyuman sendunya. "Apa kau sebegitu bencinya denganku sehingga menginginkanku untuk pergi dari sini, Chanyeol?"

Tatapan Baekhyun pada Chanyeol membuatnya merasa tidak enak, tapi lagi, Chanyeol harus mengabaikan rasa bersalahnya. Dia harus menanyakan beberapa pertanyaan pada Baekhyun, karena telfon gengangnya sedang merekam.

"Jawab aku, Baek. Kenapa kau tidak kembali ke rumah?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya, sebelum membawanya untuk di sandarkan pada meja "Aku tidak ingin menikah…."

Chanyeol dapat mendengar jelas suara despresi Baekhyun. "kenapa kau tidak menginginkanya?" dia harus menanyakan. Dia ingin mengetahui tanggapan Baekhyun tentang menikahinya, sebagai jawaban atas rasa penasaranya.

"Perjodohan itu sistematik" Baekhyun mengangkat wajahnya dari meja dan memutar tubuhnya dan menyandar pada kursi. "Perjodohan itu terencana. Tidak akan ditemukan… kau tahu, semuanya terlihat tidak indah. perjodohan itu hanya sebuah rencana yang harus kau ikuti, sistematik, teratur, mekanik… seperti robot, hampir…."

Keheningan terjadi beberapa saat.

"Baekhyun…."

Sebelum Chanyeol dapat menyelesaikan ucapanya, Baehyun memotongnya.

"Dan alasan itulah yang membuatku tidak menyukai perjodohan, Chanyeol. Aku sangat membencinya. Aku membenci bagaimana sesuatunya berjalan"

"Sesuatu apa yang kau maksudkan?"

"Segala sesuatunya" gerutu Baekhyun, lalu menundukkan tatapanya "novel romance… aku suka novel romance"

Lagi, Chanyeol merasa Baekhyun sedang mengalihkan topik yang dia bahas. "Baekhyun, jalannya sesuatu apa yang kau maksudkan? Apa yang-"

Baekhyun memotong ucapan Chanyeol dengan mengibaskan tanganya lemah. "Aku menyukai novel romance karena ada perasaan yang tidak pasti dari karakternya. Semua orang tahu jika mereka saling jatuh cinta, tapi rasanya seperti….. mereka tetap khawatir dengan akhir cerita yang penulisnya pilih, walaupun pada kebanyakan kasus, mereka akah berakhir dengan bercinta, tapi menurutku itu sebuah berkah."

Chanyeol tetap berusaha untuk bungkam untuk membuat Baekhyun tetap berbicara.

"dan, dalam suatu perjodohan," Baekhyun melanjutkan "Semuanya terencana. Aku diharuskan untuk membiarkan pihak ketiga yang memilihkan pasanganku. Aku diharuskan untuk menemuinya. Aku diharuskan untuk menyukainya, menikahinya, bercinta denganya, memiliki keturunan denganya, dan memiliki gambaran ini denganya. Sedangkan, tidak ada keharusan dalam novel romance. Mereka tidak diharuskan untuk jatuh cinta pada seseorang tertentu. Semuanya terjadi begitu saja, Chanyeol…."

Baekhyun mengeluh. "Dengan kata lain, perjodohan itu kaku, sistematik, dan tidak ada perasaan cinta di dalamnya…."

Chanyeol menelan ludah. Melihat Baekhyun yang sangat jujur adalah hal baru baginya, Chanyeol tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia merasa jika inilah sisi rapuh Baekhyun, dia mulai mengerti pemikiran Baekhyun. Saat Chanyeol mencoba untuk mengajukan pertanyaan lain, Baekhyun memotongnya lagi. Kali ini, Chanyeol bersedia mengalah. Dia memutuskan membuat Baekhyun tetap melantur akan lebih mudah.

"Mekanik….robot….sistematik….."gerutu Baekhyun "Aku membenci semua itu karena terdengar sangat dingin, kaku, dan terlalu lurus. Aku tahu apa yang sudah aku katakan mengenai bisnis keluargaku berkaitan dengan teknologi, tapi aku tidak memiliki ketertarikan sama sekali dengan semua itu…."

"Kenapa tidak?"

"Aku tidak menyukai mesin," Baekhyun menjawab dengan simple seolah membuka kaleng minuman "Mereka tidak memiliki perasaan. Mereka general. Mereka tidak memiliki pemikiran sendiri. Satu hal yang mereka harus lakukan adalah perintah dari data yang sudah dimasukan seseorang dalam programnya."

Terjadi keheningan yang cukup lama. "Tidak akan ada hal spontan yang terjadi pada mesin, Chanyeol. Mereka hanya mengikuti perintah…." Lalu, Baekhyun membuka matanya, sehingga terlihat iris warna hitamnya yang memandang Chanyeol. "dan aku bukanlah robot…."

Suasana malam itu berubah menjadi gelap dan sendu, Chanyeol memutuskan untuk memberikan senyuman yang sudah beberapa kali ditolak Baekhyun karena terlihat aneh, besar, lebar dan tidak ada gunanya. "Aku tahu kau bukan robot, Baek."

Baekhyun meminum seteguk lagi bir di depanya yang diakhiri dengan seriangaian puasnya dan sedikit mengembalikan semangatnya. "aku sudah mengerjakan tugasku dengan baik, kan?"

Chanyeol menatap Baekhyun dan mengakat bahunya. "Mungkin"

"Yah!" teriak Baekhyun, tidak puas dengan jawaban Chanyeol. "Akuilah…"

Chanyeol menyerah untuk mengakuinya, dia menganggap jika Baekhyun akan melupakan jawabanya juga karena dia sedang mabuk, Chanyeol mengagguk. "Ya, kau sudah bekerja dengan baik."

Baekhyun tertawa, yang terdengar seperti music bagi telinga Chanyeol setelah mendengar omongan depresi Baekhyun mengenai robot dan seberapa benci Baekhyun pada robot yang sangat kaku dan sistematik. Beberapa menit berlalu tanpa satu katapun keluar dari mulut mereka. Senyuman dari wajah Baekhyun perlahan mulai memudar dan pandangan Chanyeol mulai meredup pada semua benda yang ada di meja.

Baekhyun melakukan pergerakan pertama, berdiri dari kursinya sedikit goyah saat melakukanya. Dia mengokohkan peganganya pada meja. Menatap kosong meja didepanya, Baekhyun –dalam keadaan yang sangat mabuk- mencoba menstabilkan tubuhnya.

Tingkah Baekhyun itu terlihat lucu bagi Chanyeol, semuanya karena alcohol. Mereka memiliki toleransi yang rendah terhadap segala sesuatu yang serius saat itu.

Setelah berhasil menstabilkan badanya, Baekhyun membawa piringnya dan mengulurkan tangan satunya ke arah Chanyeol untuk memberikan piringnya juga. "Beri aku piring kotormu juga, tukang makan."

Chanyeol mendengus. "Fine. Tapi jika kau tersandung dan memecahkanya, aku akan memotong bayaranmu" Chanyeol memperingati.

Baekhyun mengambil piring Chanyeol dan menumpuk di atas piringya, dan memandang Chanyeol. "Aku bisa berjalan dengan benar."

"Omong-omong kau berjalan terhuyung-huyung, apa kau bisa melihat dengan jelas?"

Baekhyun tertawa keras. "Tunjukkan jarimu dan aku pasti bisa menjawabnya"

Jari? Chanyeol mengangkat satu jarinya. Lalu dia bertanya "Berapa?" seperti yang Baekhyun inginkan.

Baekhyun berdecak. "Satu!" dia tersenyum."Lihat kan? aku dapat melihat dengan jelas. Aku dapat melihat kau hanya- ah, mengangkat satu jarimu."

Situasi yang terlihat sangat kekanakan ini membuat Chanyeol tersenyum "Ya, kau benar. Satu."

Baekhyun berputar dan berjalan perlahan menuju bak cuci. Walaupun jaraknya tidak begitu jauh, Baekhyun berhenti beberapa kali untuk menyeimbangkan jalanya dan memastikan bahwa dia tidak akan tersandung dan menjatuhkan piring-piring itu, karena jika dia melakukanya,hal itu akan membuat Chanyeol puas dengan apa yang dilihatnya. Walaupun dalam keadaan mabuk, Baekhyun tidak ingin membuat Chanyeol menganggap apa yang diyakininya itu benar.

Saat Baekhyun sudah tiba di bak cuci, dia menaruhnya dan mulai menyalakan air keran. Dia cukup menyandarkan sebagian besar bobot tubuhnya pada bak cuci, tapi tetap mempertahankan posisi seimbangnya. Baekhyun mengambil spon cuci –meraba raba beberapa benda kecil disekitar bak cuci- dan memulai mencuci salah satu piring.

Berjalan dengan benar saja sangat susah. Dan mencuci piring kotor itu kasus lain pada orang mabuk. Bagi Baekhyun, semua itu layaknya multitasking, dia harus tetap memastikan jika kakinya tetap menyokong tubuhnya. Lalu dia juga harus memastikan jika busa sabun tidak mengaburkan penglihatanya, yang dapat membuatnya menggosok tanganya sendiri. Hal lain yang harus dia pastikan adalah satu tangan untuk menggosok sedangkan tangan lainya memegang piring dengan benar.

Semuanya terlihat sangat berlebihan untuk Baekhyun saat itu.

Bahkan tugas sederhana seperti berdiri dengan benar saja adalah tantangan bagi Baekhyun. Baekhyun terhuyung. Sembilan dari sepuluh, dia dapat menstabilkan lagi saat itu, tapi salah satu dari sepuluh itu tidak terjadi sesuai dengan apa yang dia harapkan.

Keberuntungan sedang berpihak padanya, karena Chanyeol melihat itu dan bergegas ke arah Baekhyun yang terhuyung untuk menolongnya. Dia memegang pinggang Baekhyun dan mencoba menyeimbangkan tubuh keduanya. Semuanya akan terlihat baik, jika saja Baekhyun tidak melupakan pegangan tanganya pada piring, karena Baekhyun menjatuhkan piring itu pada akhirnya.

Saat piring tepat mengenai lantai, terdengar bunyi keras. Baekhyun berkedip beberapa kali saat suara pecahanan piring terdengar pada telinganya. Baekhyun menatap seorang yang sedang memegangnya. Baekhyun memberikan senyuman lembutnya. 'I'm sorry?"

"Baek-"

"Apa kau tahu jika memecahkan piring pada tradisi bangsa yunani itu merupakan ekpresi kebahagiaan?" ucap Baekhyun, mencoba memecah ketegangan.

"Baekhyun, aku tidak peduli."

Baekhyun mencoba untuk berpikir, tapi selalu gagal, pikiranya sudah tidak berjalan dengan benar karena mabuk. Mereka ada tapi tidak teliti. Terlintas sebuah ide tanpa dianalisa terlebih dulu. Mereka terlihat tidak masuk akal dan tidak lazim, tapi sisi mabuk Baekhyun tidak mau mempermasalahkanya, pemikiran logis sepenuhnya sudah keluar dari kepalanya.

Baekhyun berputar menghadap Chanyeol, menjinjit kakinya. Dia memberikan ciuman singkat pada bibir Chanyeol.

"Apa kau tahu jika ciuman akan membuat orang bahagia?"

Mengabaikan permainan 'apa kau tahu' nya, Chanyeol bertanya dengan tegas, "Apa yang baru saja kau lakukan?"

Baekhyun mengangkat bahu. "tawaran untuk berdamai secara spontan?"

"Spontan?"

Baekhyun melirik sekitar sebelum mengangguk. "Ya?"

Chanyeol menatap tajam pria didepanya. Ciuman itu masih terasa pada bibirnya dan masih jelas terasa bagaimana bibir Baekhyun mengenai bibirnya. Chanyeol mengutuk. Dia marah. Dia sudah kehilangan kendali atas dirinya.

Sejujurnya, apa yang Baekhyun lakukan barusan? Chanyeol tidak mengetahuinya. Bahkan dia tidak tahu bagaimana harus meresponya dan terasa sesuatu yang menggelitik perutnya. Dia tidak mengetahui mengapa dia memiliki gairah ini… gairah seperti binatang.

Semuanya terjadi karena keduanya dalam keadaan yang mabuk.

Bumi terasa berhenti berputar dan satu hal yang Chanyeol dengar hanya keheningan dan suara dari detak jantungnya. Kepalanya dipenuhi dengan berbagai pemikiran, tapi sama seperti Baekhyun, semuanya tidak begitu teliti. Pada akhirnya, situasi yang sama dialami oleh keduanya.

"Sialan!" adalah kata terakhir yang dia ucapkan sebelum meraih bagian belakang kepala Baekhyun dan menariknya ke atas sehingga dapat melihat Baekhyun dengan jelas.

"Kau mengatakan jika itu adalah spontan?" gerutu Chanyeol. Dia melihat Baekhyun menelan ludah yang terlihat jelas pada lehernya. "Inilah yang harus kau sebut spontan," terang Chanyeol sebelum menundukkan kepalanya menuju Baekhyun.

Saat itu adalah jam 8 malam dan keduanya sudah tidak berada dalam pikiran jernihnya. Chanyeol memakai kaos hitam kasualnya dengan jeans biru, Baekhyun memakai kaos bergambar karakternya dengan celana piyama bergaris. Terdapat 4 botol wine impor yang sudah kosong dan kaleng kaleng bir yang berserakan di dapur. Dan terlihat dua orang yang sedang menikmati berkah kata "spontan" yang belum pernah terjadi sebelumnya, terlihat Chanyeol yang menyambar bibir Baekhyun dengan bibirnya dengan possesif.

Tidak ada yang sistematik dalam tindakan yang mereka lakukan sekarang. Semuanya tidak terencana. Tidak ada keharusan yang harus mereka lakukan. Semua tidak terjadi seperti yang seharusnya berjalan.

Semua terjadi begitu saja.

.

.

.

Mind to review? See you next Chap... ^^