NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)

Indo Trans

DISCLAIMER

I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here

exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html

(spasi dihilangkan, dot diganti titik)

.

WARNING

Yaoi, Boy x Boy, Typo (s) etc.

Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.

.

Forward

Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.

.

Chapter 9 – Almost Casual

.

Berbagai benda berjatuhan ke lantai. Hiasan hiasan mini dari kayu milik Kyungsoo berjatuhan di lantai saat Baekhyun terdorong ke meja dapur dan tanganya mencari sesuatu yang bisa dia pegang. Memo pekerjaan berkebun milik Sehun juga tersapu dari pintu kulkas saat Baekhyun mencoba mengimbangi situasi dengan mendorong Chanyeol ke arah berlawanan.

Chanyeol menarik kaos Baekhyun karena tidak suka saat Baekhyun mendorongnya, dan akhirnya dia mendorong Baekhyun lagi menabrak dinding saat mendominasi perang lidah yang terjadi di antara mereka. Tangan Chanyeol menarik baju Baekhyun ke atas, dan jarinya merasakan kelembutan kulit Baekhyun. Chanyeol memutuskan untuk membenci jenis kaos yang dipakai Baekhyun sejak itu karena susah untuk dilepaskan. Chanyeol membawa tanganya menuju kerah Baekhyun dan menarik lepas kaos bergambar itu, dan menambahkan daftar barang yang mereka jatuhkan di lantai karena petualangan yang penuh nafsu itu.

Mendorong dan menarik satu sama lain dalam lorong dalam perjalanan menuju kamar, membuat beberapa bingkai foto bergeser saat salah satu punggung mereka mengenainya. Kaos hitam Chanyeol terlepas di lantai kayu, hingga pada akhirnya sampai di depan pintu kamar mereka saat Baekhyun akan membuka risleting jeansnya.

Mereka harus memutuskan kamar mana yang akan dipilih. Kamar Bekhyun atau kamar Chanyeol. Chanyeol baru akan membawa Baekhyun ke kamarnya, tapi Baekhyun merengkuh leher Chanyeol dan menariknya ikut serta untuk memasuki kamarnya. Chanyeol mengikuti arahan Baekhyun, dan mendorong Baekhyun semakin masuk ke kamar, lalu menendang pintu tertutup.

Chanyeol tetap menopang Baekhyun sampai Baekhyun merasakan ujung tempat tidurnya pada belakang lututnya. Baekhyun membawa Chanyeol ikut terjatuh di atas kasurnya. Memundurkan badanya ke atas kasur, Baekhyun membuka kakinya melebar dan Chanyeol mulai menempatakan diri diantaranya.

Chanyeol menunduk masih dalam keadaan saling mencium sehingga dada telanjang mereka saling bersentuhan. Aliran darah dalam pembuluh darah Chanyeol sangat cepat, tapi dia tidak menghiraukanya, semuanya dibawah pengaruh alcohol. Chanyeol tetap mempertahankan sikunya terangkat ke atas ketika terlena dengan bibir Baekhyun dan tetap melanjutkan hisapan dan gigitanya, sehingga tidak seluruh bobot tubuhnya menindih Baekhyun.

Pinggul Chanyeol mulai bergerak dengan kendalinya dan mengenai bagian bawah Baekhyun. Kejantanan Chanyeol mulai mengeras bahkan semakin keras selama kegiatan ciuman mereka. Baekhyun dapat merasakan seberapa keras kejantanan Chanyeol melalui celana piyama tipisnya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang mereka lakukan? Bagaimana mungkin mereka melakukan semua ini? pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi udara dalam ruangan, tapi Baekhyun dan Chanyeol sangat jelas mengabaikan pemikiran logis dalam benak mereka. Pertanyaan – pertanyaan itu akan tetap menggantung selama mereka masih dalam keaadaan mabuk. Mereka akan tetap seperti itu saat mereka nafsu masih menguasi akal sehat mereka sampai salah satu tersadar.

Chanyeol memutus ciumanya, melepaskan rengkuhanya dari lengan Baekhyun. Dia mulai melepas jeans biru dan boxernya dalam beberapa detik. Ketika dia akan memulai lagi kegiatannya dengan Baekhyun, dia mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Baekhyun.

"Mengesankan."

Chanyeol mendengur, merasa de javu dengan pernyataan yang Baekhyun ucapkan dengan pernyataan saat pertemuan pertama mereka. Dia menempatkan tanganya pada band boxer Baekhyun, dan menurunkanya. Setelahnya, Chanyeol menyingkirkanya sehingga jatuh ke lantai.

"Kau tidak perlu menariknya dengan kasar" komentar Baekhyun dengan suara serak.

"Aku tidak menyukai boxer itu, jadi siapa yang peduli" gumam Chanyeol sebelum menempatakan lagi dirinya diantara kaki Baekhyun dan menyatukan bibir mereka lagi.

Chanyeol menyatukan bagian bawah yang keras dengan tanganya, sehingga terjadi gesekan satu sama lain., menciptakan getaran yang terasa penuh dosa tapi menyenangkan. Baekhyun mengeluarkan desahan lembutnya tepat mengenai bibir Chanyeol, membawa jari-jarinya mengusap dada bidang Chanyeol.

Sensasi usapan jemari halus Baekhyun pada dada bidangya sangat lembut, membuat tubuhnya terasa panas, yang menyebabkan Chanyeol menggerakan pinggulnya menekan Baekhyun lebih cepat, menggesekanya dan megapit kejantananya keras. Dorongan itu terlalu kuat, sehingga tidak cukup hanya menggesek kejantanan satu sama lain untuk memuaskan Chanyeol.

Chanyeol menegakan tubuhnya dan memasukan kedua jarinya pada mulutnya, saat Baekhyun mulai menyentuh bagian bawahnya, Chanyeol mengangkat kakinya ke atas. Chanyeol mulai memasukkan jari licinya pada bagian bawah Baekhyun yang ketat, dia memasukan satu jarinya perlahan dalam bagian bawah tubuh Baekhyun yang hangat. Tangan satu Chanyeol tetap mempertahankan kaki Baekhyun terangkat ke atas dan menyeimbangan reaksi kecil yang Baekhyun berikan saat jari Chanyeol memasukinya.

Beberapa saat kemudian, Chanyeol menambahkan jari satunya untuk memasuki Baekhyun. Merentangan kedua jarinya di dalam Baekhyun, dan memastikan Baekhyun melonggarkan bagian bawahnya sampai batas kemampuan. Tidak ada lubricant di ruangan ini, jadi Chanyeol melakukan segala cara untuk memudahkan proses intercourse padanya. Semuanya dilakukan untuk membuat Baekhyun lebih nyaman. Tiba tiba terlintas pertanyaan dalam benak Chanyeol.

Mengapa dia harus peduli apakah Baekhyun menikmati ini semua atau tidak? Chanyeol tidak mengetahuinya. Semua yang dia tahu hanya kepalanya sudah tertutup kabut sehingga dia melihat Baekhyun sebagai sesosok yang unik dan kekanakan. Dengan kata lain, Chanyeol berpendapat jika Baekhun sangat lembut dan rapuh. Chanyeol tidak ingin mengancurkanya seperti piring yang Baekhyun pecahkan.

Chanyeol merasa jika Baekhyun sudah pada batasnya dengan melihatnya terkesiap, akhirnya dia mengeluarkan jari panjangnya dari tubuh bagian bawah Baekhyun yang membuat Baekhyun kecewa beberapa saat, tapi Chanyeol mengalihkan waktu untuk membuatnya menyadari bahwa Chanyeol juga menahan hasrat yang kuat untuknya. Pikiran Baekhyun sudah tidak jernih, yang Baekhyun tahu jika dia merasakan kesenangan yang tiada tara, yang mana seharusnya adalah sebuah kesalahan.

Salah…. Kata itu bergema dalam kepala Baekhyun. Dia merasakan jika penis Chanyeol sudah menggesek dan menggoda bagian bawah yang sebelumnya sudah dimasuki jari Chanyeol. Kesadaran Baekhyun mulai kembali dan menuntut otaknya untuk berpikir jernih, dan sebelum Chanyeol mendorong penisnya untuk membuka dan menerobos 'lubang' Baekhyun, logikanya berteriak padanya jika apa yang mereka lakukan itu salah.

Baekhyun mendorong dada Chanyeol dengan tanganya. "Hentikan…." ucap Baekhyun serak. Tapi ketika Chanyeol mengabaikan perintahnya, Baekhyun mencoba menggeser bagian bawahnya menjauhi penis Chanyeol, menganggapnya seakan seperti sebuah senjata yang berbahaya. Baekhyun sudah mencoba menghindarinya, dan sekarang perhatian Chanyeol sepenuhnya terpaku pada Baekhyun.

"Apa yang sebenarnya kita lakukan?" tanya Baekhyun seperti bisikan dengan suara seraknya.

Chanyeol memandang tatapan bertanya Baekhyun. "Aku tidak tahu, tapi aku tidak peduli. Sekarang-"

"Tidak." Ucap Baekhyun cepat –secepat pergerakanya kakinya memundurkan badanya menuju sisi lain di tempat tidurnya, dan menjauhi Chanyeol yang masih terkejut dan bingung dengan tindakanya. "Kita tidak akan melakukanya," ucap Baekhyun panik. Pergerakanya berhenti ketika dia merakan sedikit pusing.

Chanyeol terlihat sangat shock. Penisnya yang masih berdenyut kuat –belum terpuaskan- membuatnya murka. "Sialan! Apa kau serius akan menghentikanya? Jangan bercanda!"

Chanyeol beranjak dan mencoba meraih Baekhyun, tapi Baekhyun segera menghindarinya. Baekhyun berguling ke pinggir tempat tidurnya dan segera bangkit. Pergerakanya sedikit goyah dan hampir jatuh ke lantai, tapi entah bagaimana Baekhyun mampu menyeimbangkan lagi tubuhnya. Dia berbalik untuk melihat Chanyeol yang sudah meletakan pijakanya pada lantai sekitar tempat tidurnya, menatapnya dengan tatapan frustasi dan marah dan terlihat berbahaya.

"Sialan! Baekhyun kembali ke tempat tidur dan-"

Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Kita tidak bisa melanjutkanya." Bahkan ketika Chanyeol berdiri menjulang di hadapanya, Baekhyun mengerahkan keberanianya dalam keadaan masih sedikit mabuk dan mulai mendorong dan menarik Chanyeol mendekati pintu kamarnya.

Chanyeol mencoba menghentikan tarikan Baekhyun, tapi entah bagaimana Baekhyun berhasil membuat Chanyeol lebih dekat pada pintu keluar. Anehnya, Chanyeol merasa menjadi lebih lemah. Pada akhirnya dia sadar alasannya karena Baekhyun menggunakan tubuh telanjangya untuk menggoda bersamaan dengan menggiringnya ke pintu. Gesekan kulit lembut Baekhyun dengan miliknya –serta gesekan penis Baekhyun yang mengenai kakinya –masih mampu membuat milik Chanyeol aktif dan mengeras.

Baekhyun mencoba memberikan dorongan terakhir pada punggung Chanyeol untuk keluar dari kamarnya, tapi Chanyeol menahan daun pintunya. "Baekhyun, hentikan permainanmu, Sialan!"

Baekhyun memusatkan perhatianya pada jari Chanyeol dan berusaha untuk melepaskannya dari daun pintu. Ketika Baekhyun masih dalam usahanya untuk melepas jari Chanyeol, tangan lain Chanyeol meraih bahu Baekhyun dan memutarnya menghadap Chanyeol.

"Sialan! Permainan apa yang sebenarnya kau lakukan, Baek?" geram Chanyeol marah.

Baekhyun, lagi, menggelengkan kepalanya. Dia memutuskan jika kekuatan fisik tidak akan berhasil untuk mengeluarkan Chanyeol dari kamar. Baekhyun berjinjit, dan memberikan ciuman tipis pada salah satu pipi Chanyeol. Dia tahu jika itu saja tetap tidak akan berhasil, jadi dia akan menggunakan salah satu tanganya, Baekhyun menyentuh bagian bawah Chanyeol dan memberikan sedikit tarikan –yang cukup membuat Chanyeol terlena dan meluapakan apa yang sebenarnya terjadi sesaat.

Saat Chanyeol sudah terlena dengan ciuman dan sentuhan yang Baekhyun berikan, Baekhyun mengambil kesempatan atas kelengahan Chanyeol dan mendorongnya keluar dari kamar sepenuhnya. "Maaf!" ucap Baekhyun cepat sebelum menutup pintu di depan muka Chanyeol yang masih telanjang.

Chanyeol belum sepenuhnya selesai untuk berpikir. Dia belum sepenuhnya tersadar dari kebingunganya. Dia belum selesai sepenuhnya dengan kemarahanya. Bahkan bagian bawahnya belum sepenuhnya keras dan terpuaskan.

Chanyeol menggebrak pintu dengan marah. "Baekhyun! Buka pintunya!" saat dia tidak mendengar respon apapun dari dalam, dia tetap melanjutkan gebrakanya. "Buka pintu sialan ini atau aku akan mendobraknya! Apapun permainan yang sedang kau lakukan ini sangat tidak lucu! Sialan! –Baekhyun!" dia memberikan gebrakan terakhirnya pada pintu. "Brengsek! Bahkan aku sudah memasukan jariku!"

Pada akhirnya, Chanyeol mendapat tanggapan walaupun tidak seperti yang dia harapkan. "Aku akan membayarnya suatu hari nant—aaahhh…"

Chanyeol membeku. "Sialan! Apa maksud dari 'aahh' ? Baekhyun apa yang kau lakukan"

"Mencoba menyingkirkan -nnghhh- ini," Chanyeol mendengar desahan Baekhyun.

Chanyeol menggertakan giginya. Baekhyun sedang bermastrubasi untuk melepaskan -melepaskan sesuatu yang sudah dia 'hidupkan'. Hal ini sangat membuatnya marah. "Baekhyun!'" bentak Chanyeol "tidak boleh bermastrubasi di rumah ini! Hentikan, Sialan!"

Terjadi keheningan beberapa saat sebelum Chanyeol mendengar desahan, yang cukup keras tapi teredam.

"Maaf…."

Chanyeol mengerang frustasi, desahan Baekhyun memberi efek erotis padanya yang menyebabkan dirinya menyentuh bagian tubuhnya sendiri.

"Kau tahu, untuk seorang lelaki yang membenci mesin, kau sangat terlihat sebagai salah satunya" ucapnya dengan menggebrak pintu lagi.

"Hentikan permainanmu dan biarkan aku kembali kedalam! Sialan Baekhyun! Kau tidak bisa meningalkanku seperti ini. Aku masih keras! Aku-" Chanyeol berhenti, terasa aneh karena seperti ada sesorang yang memperhatikanya. Dalam keadaan tangan yang masih berada pada penisnya, Chanyeol menoleh ke sisi lain lorong dan seketika membeku.

"S-Sehun…"

Terlihat raut terkejut pada wajah Sehun dengan mulut terbuka lebar. Dia berusaha untuk mengatakan sesuatu, tapi berakhir dengan keheningan. Dia merasa ada sesuatu yang menutup tenggorokanya sehingga suaranya tidak berfungsi, meskipun penglihatanya jelas masih berfungsi. Pandanganya turun ke bagian pangkal Chanyeol, dan itu sudah cukup menjelaskan apa yang sedang terjadi.

"Sehun….ini…itu—"

Sehun menggelengkan kepalanya saat suaranya kembali.

"Aku ….. tidak ingin mendengar detailnya," gumamnya sebelum melihat kembali mata Chanyeol "Aku pikir seseorang telah menerobos masuk dan menghancurkan rumah, tapi ternyata itu hanya perbuatan….kalian berdua" Sehun terdiam beberapa saat sebelum perlahan-lahan berjalan mundur.

"Aku pikir harus kembali ke kamarku ….sekarang"

Chanyeol tersentak kaget dan segera menutup bagian bawahnya.

"Sehun, tentang ini, ini-"

Pandangan Sehun seolah mengatakan 'aku…tidak…ingin tahu'

"Kau tak perlu menjelaskanya, karena kau mungkin harus mengurus 'itu'…"

"Sehun-"

Panggilan Chanyeol tidak Sehun hiraukan. Sehun hanya mengangkat alisnya dan menggeleng yang menekankan jika dia tidak ingin mendengar penjelasan Chanyeol lebih lanjut. Chanyeol melihat Sehun berbalik dan mulai berjalan ke sisi lain rumah menuju tempat Kyungsoo berada. Chanyeol mengutuk dan berjalan murka kembali ke kamarnya dalam keadaan masih keras dan masih mencari cara untuk melepaskannya.

.

.

Pagi datang dan Baekhyun terbangun dalam keadan yang cukup baik, tidak merasa pusing sama sekali. Dia mengingat semuanya, tapi ini bukan berarti dia memiliki kekuatan dalam kapasitas otaknya. Dia beranjak dari posisi tidur dan mulai menyadari jika dia masih dalam keadaan telanjang. Dia sangat mengingat bagaimana dia berakhir seperti ini. Semabuk apapun kondisi Baekhyun, dia akan selalu mengingat Sembilan puluh persen kejadian yang terjadi saat dia mabuk.

Walaupun Baekhyun dapat mengingatnya, dia tidak merasa malu atau canggung tentang apa yang terjadi padanya. Itu bukan 'stylenya' untuk merasa canggung. Dia memang merasa canggung pada kenyataanya, tapi dia tidak akan menunjukkanya. Jadi dia memutuskan untuk terlihat seperti biasanya, yaitu kasual, karena pada dasarnya Baekhyun memang menyukai segala seuatu yang terlihat kasual- pakaian yang kasual, makanan yang kasual, pembicaraan yang kasual, dan kejadian –aku-hampir-mengijinkanmu-untuk-menyentuhku-seutuhnya- kasual.

Baekhyun bangkit untuk segera membersihkan diri dan memilih pakaian yang biasa dia kenakan : kaos yang simpel, dipadukan dengan cardigan dan jeans yang sangat pas membungkus kakinya. Tidak ada gambar pada kaosnya dan bukan celana piyama bergaris miliknya.

Setelah dia selesai membasuh mukanya, Baekhyun bersiap untuk mendatangi kamar Chanyeol untuk melakukan tugasnya. Baekhyun mengira akan mendapat serangan dari neraka. Baekhyun yakin jika Chanyeol pasti sudah menunggu di belakang pintu kamarnya, bersiap untuk mencincang 'bola'nya untuk membalas kejadian yang terjadi semalam.

Baekhyun tidak merasa bersalah atas apa yang terjadi semalam. Dia tidak menginginkan seks, ya walaupun 'hand job' yang Chanyeol berikan padanya sangat menyenangkan, juga saat penis Chanyeol mengenainya sungguh sangat luar biasa. Tapi setelahnya dia tersadar jika Chanyeol adalah atasanya dan Bakhyun hanya seorang maidnya. Mungkin itu adalah alasan yang membuat Baekhyun kembali pada akal sehatnya, dan memutuskan untuk segera menghentikan tidakan lebih jauh Chanyeol.

Awalnya Baekhyun mengetuk pintu Chanyeol dengan pelan, sangat pelan. Dia tidak ingin mendapati Chanyeol berteriak 'Banzai!' dan berjalan keluar untuk menikamnya dengan pisau. Saat Baekhyun tidak mendapat respon, dia memutuskan untuk membuka kamar Chanyeol dengan hati hati. Dia mengintip sekilas, dan tersenyum puas saat melihat gundukan besar selimut di atas kasur. Baekhyun menebak jika Chanyeol berada di balik selimut itu.

Baekhyun berjalan menuju ujung kasurnya, dan membangunkan Chanyeol dengan cara biasanya.

"Bangunlah! Bangun, bangun bangun," ucapnya berulang seiring gerakannya pada kasur. "Aku belum sempat untuk meminum obat penghilang pusing jadi sekarang aku dalam keadaan yang sungguh buruk sekali!" ucap Baekhyun dalam nada yang sedikit aneh, tapi masih terdengar ceria.

Ketika Chanyeol tidak merespon ucapannya, Baekhyun menyeringai.

"Kasian sekali my baby, apa kau memiliki pagi yang buruk karena efek dari minum semalam?" ucapnya dan diakhiri dengan tertawa kemudian berjalan menuju sisi lain kasur Chanyeol. "Come on, Chanyeol. Bangunlah. Aku ingin segera meminum obat setelah kau bangun." Ketika tidak terlihat pergerakan sama sekali dari Chanyeol, Baekhyun meletakan tanganya pada gundukan di atas kasur di depanya. "Hey! Sekarang waktunya untuk bangun….."

Ucapan Baekhyun langsung terhenti saat tanganya ditarik oleh seseorang dalam gungukan selimut, tangan Chanyeol keluar dari selimut dan menarik tangan Baekhyun. Baekhyun hanya memberikan senyuman saat melihat raut marah pada wajah Chanyeol, dan mencoba untuk melepaskan cengkraman Chanyeol.

"Oh… good morning, Chanyeol."

Chanyeol tidak membalas sapaan Baekhyun melainkan dia menarik tubuh Baekhyun agar jatuh ke atas kasur denganya. Tanpa memberikan kesempatan pada Baekhyun untuk melawan, Chanyeol megubah posisinya menjadi di atas Baekhyun, mengunci pergerakan Baekhyun dengan menahan kakinya diantara kaki panjangnya.

Situasinya akan terlihat baik baik saja. Dan posisi mereka juga akan terlihat baik baik saja. Semuanya akan terlihat baik-baik saja jika saja Chanyeol mengenakan pakaian seperti orang pada umumnya. Tapi yang Baekhyun temukan jika dia sedang ditindih oleh seorang lelaki dalam keadaan telanjang yang sedang marah karena menderita hangover dan kekurangan tidur.

Baekhyun mencoba untuk mencairkan suasana yang canggung, dia melirik sekilas penis Chanyeol sebelum memandang matanya. "Sepertinya kau tidak memiliki masalah pagi hari. Itu bagus!"ucapnya dengan memberikan senyuman manisnya.

Chanyeol tidak merasa terhibur sama sekali. "Aku sangat ingin membunuhmu saat ini juga."

"Wohhh, sungguh klasik" Baekhyun menyeringai. "Seorang atasan yang membunuh maidnya. Aku pikir hubungan antawa keduanya terlihat saling menguntungkan, bukankah begitu?"

"Diamlah," potong Chanyeol. "Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Apa yang sudah kau lakukan? Sialan!"

Baekhyun mengangkat bahunya. "Kita makan malam dilanjutkan dengan minum-minum. Lalu setelahnya kita tidur" jawab Baekhyun, mencoba untuk membodohi Chanyeol.

"Salah," ucap Chanyeol, tidak termakan dengan info palsu yang Baekhyun berikan. "Kita makan malam malam. Kita minum-minum. Lalu kita melakukan oral seks seperti kehidupan kita hanya bergantung padanya, tapi di waktu waktu terakhir- saat aku sudah siap untuk memasukimu- kau mulai bertingkah aneh, mengusirku dari kamar, dan mengakibatkan kita memiliki masalah yang belum terselesaikan"

Baekhyun mengangkat alisnya. "Ingatan yang bagus."

Chanyeol mengabaikan pujian Baekhyun dan melanjutkan kemarahanya. "Sekarang katakana padaku, Brengsek. Apa yang sebenarnya terjadi? Dan semua karena kau, aku terlihat oleh Sehun dalam keadaan telanjang di lorong dan—"

"Well," ucap Baekhyun, terlihat seperti berpikir tentang kejadian itu, "jika aku tidak mendorongmu keluar kamar, bukankan Sehun akan melihat kita melakukan sesuatu yang seharusnya memang tidak kita lakukan sama sekali?"

Chanyeol akan merespon ucapan Baekhyun, tapi dia tidak melakukanya. Semua yang dikatakan Baekhyun benar. Sehun tetap akan melihat dia telanjang atau melihat keduanya dalam keadaan mabuk, dan terlihat seperti orang bodoh yang sedang horny. Chanyeol tidak menginginkan semuanya terjadi, tapi memang takdir sedang menentangnya malam tadi.

"dan itulah alasanya, " ucap Baekhyun tenang. "Kita memang seharusnya tidak melakukannya sama sekali. Jangan menyalahkanku, semuanya memang terlihat menyenangkan. Kau seseorang yang sangat penuh dengan gairah, bisa aku bilang seperti Dimitri dalam novel Secret Fire, tapi dia berkebangsaan Rusia, bukan Korea, plus dia juga seorang pangeran, tapi-" sesaat Baekhyun melihat wajah Chanyeol, dia tahu sudah berbicara keluar topic. "Intinya, aku tidak menginginkan seks. Maafkan aku. Ah, aku merasa seperti seorang pengantin yang kabur suami yang akan dinikahinya di altar." Baekhyun menghela napas sebelum memandang Chanyeol dan tersenyum. "Kau adalah atasanku. Dan aku hanya seorang maid. Jadi seks tidak boleh terjadi pada kita"

"Situasi antara atasan dan maidnya itu seperti sekarang" Chanyeol menatap tajam Baekhyun. "Situasinya berbeda malam itu, Baek. Aku berpikir kau memang terlihat aneh. Aku berpikir jika kau adalah seorang yang menyebalkan dengan selera fashion yang kekanakan, tapi tadi malam, kau hanya harus menyesuaikanya. Ketika seorang sedang dipenuhi oleh gairah, dan itulah yang terjadi semalam, mereka akan membiarkanya terjadi, dan kita hanya harus melakukan seks. Kedua dari kita akan merasa puas. Tidak ada syarat yang harus kita penuhi saat melakukanya."

Baekhyun hanya tersenyum tipis. "hanya seks, huh?"

"Ya"

"Aku tahu jika aku seseorang yang kasual, Chanyeol," ucap Baekhyun, "tapi aku sudah cukup melakukan seks yang kasual. Aku tahu aku bisa melupakanya saat pagi menjelang, oleh sebab itu aku terlihat biasa saja sekarang, tapi aku sudah lelah dan tidak ingin melakukanya lagi" Baekhyun mengangkat tangan dan meletakanya pada dada Chanyeol. "Sekarang bangkitlah dariku. Aku bukanlah kuda dan aku memiliki tubuh yang lebih kecil darimu. Kau akan meremukkan tulangku"

'Baek-"

Chanyeol membeku saat dia mendengar seseorang berdehem. Dia melihat Baekhyun mengarahkan kepalanya muntuk melihat pintu masuk. Tepat di kerangka pintu, Sehun berdiri disana dengan senyuman terpaksanya dan Kyungsoo berada disampingya dengan menunjukkan ekspresi yang sama seperti Sehun.

"Kami, uh…" Kyungsoo mencoba untuk berbicara. "Kami pikir kalian berdua akan membutuhkan seseorang untuk membangunkan kalian setelah malam panjang yang sudah kalian lewati, umm meminum alcohol, tapi sepertinya kami melihat kalian dalam keadaan yang sangat baik."

Setelah itu, Kyungsoo langsung berbalik dan mulai berjalan menuju dapur untuk menyelesaikan masakanya. Sehun mengikutinya di belakang dan mulai berbicara. "Aku sudah memberitahumu, jika kita hanya harus membiarakan saja mereka" suaranya terdengar yang menimbulkan echo di lorong sehingga cukup terdengar oleh Chanyeol dan Baekhyun dari kamar.

.

.

Aku kembali, yesss ^^ Bagaimana dengan chapter ini? aku tunggu tanggapan kalian ya ….. see you next chap ^^

XOXO