NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)

Indo Trans

DISCLAIMER

I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here

exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html

(spasi dihilangkan, dot diganti titik)

.

WARNING

Yaoi, Boy x Boy, Typo (s) etc.

Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.

.

Forward

Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.

.

Chapter 11The Dark Side

.

"Kenapa kau masih di sini !? Kai menghubungiku jika dia sudah di stasiun!"

Baekhyun mengomeli Chanyeol di pintu masuk kamarnya, tapi Chanyeol hanya mengedipkan matanya sebagai balasan, membalikan badanya kembali ke arah cermin untuk memperbaiki tatanan rambutnya. Dia memeriksa kemejanya kembali, melihat jika terdapat noda pada kemeja putih di menit-menit terakhir, maka dia akan menggantinya. Chanyeol sepenuhnya sadar mendapat padangan tidak menyenangkan dari Baekhyun. Bahkan sangat sadar ketika Baekhyun mulai mengetuk-ketukan kakinya.

Merasa terganggu, Chanyeol menoleh. "Ada apa?"

"Tidak ada. Aku tidak mengatakan apa-apa," Baekhyun menjawab dengan lengan yang disilangkan.

"Berhenti mengetuk-ketukan kakimu, Baekhyun," ucap Chanyeol sambil berbalik kembali ke cermin.

"Aku akan melakukanya setelah kau berhenti melihat dirimu sendiri," Baekhyun membalas ketus. Dia menghela napas dan berjalan masuk ke kamar Chanyeol. "Kai sudah di stasiun. Kau seharusnya sudah menjemputnya sepuluh menit yang lalu," gerutu Baekhyun sambil menempatkan lututnya di tempat tidur milik Chanyeol, sebelum menumpuhkan berat badanya.

"Dia bisa menunggu," Chanyeol bergumam. "Ini bukan urusanku-"

"Ini adalah urusanmu ketika kau orang yang menawarkan untuk menjemputnya," Baekhyun berpendapat. "Kau tahu, jika kau mengijinkanku untuk memakai mobil, kau tidak harus berganti baju, yang terlihat konyol bagiku." Ucap Baekhyun sambil memegang ujung tempat tidur, untuk bangkit, berdiri di tempat tidur. "Sangat konyol. Kenapa kau memakai setelan rapi, Chanyeol? Kau tidak mencoba untuk mengesankan dia kan?"

Chanyeol mendengus. "Kesan pertama itu penting, Baek." Setelah merasa puas dengan penampilannya, Chanyeol berbalik untuk melihat Baekhyun yang sedang melompat-lompat ringan di tempat tidurnya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Tempat tidurmu empuk," komentar Baekhyun, dia mengabaikan pertanyaan Chanyeol. "Apa konstanta untuk pantulan? "

"Kenapa tiba-tiba kau peduli tentang fisika?" Tanya Chanyeol, memberikan ekspresi kesal pada Baekhyun. "Baek, turun dari tempat tidurku sekarang, atau kau berniat untuk melanjutkan apa yang kita lakukan semalam."

Baekhyun tertawa dan melompat-lompat di atasnya lagi, tanpa memperdulikan perintah Chanyeol. "Berapa besar gaya yang dibutuhkan untuk menhancurkan tempat tidur ini? "

Chanyeol mengerutkan alisnya. "Apa itu yang kau coba lakukan?"

"Aku akan melakukanya jika kau tidak segera pergi," Ancam Baekhyun.

Chanyeol tidak dalam mood untuk berargumen dengnaya. Bahkan, dia tidak dalam mood untuk apa pun ketika sesuatunya berhubungan dengan Baekhyun. Saat Baekhyun mendarat dari lompatanya lagi, Chanyeol memegangya dengan mencengkeram dan menarik kakinya, menyebabkan Baekhyun jatuh tepat di atas tempat tidurnya.

"Aku akan pergi sekarang." Chanyeol memandang Baekhyun. "Kau lebih baik tidak bertindak keluar batas saat aku kembali, hanya karena aku mengijinkan orang itu datang. Dan ketika dia sudah kembli ke asalnya, kau akan kembali bekerja, Baek. Aku mungkin menambahkan beberapa aturan baru untukmu. "

"Bagaimana dengan Sehun dan Kyungsoo?" Tanya Baekhyun sambil bangkit untuk duduk.

"Aku tidak mengatakan apapun tentang mereka." Chanyeol memberi Baekhyun satu tatapan terakhir sebelum meraih jaket hitam dari belakang kursi dan berjalan menuju pintu. "Keluarlah sekarang."

Baekhyun mengangkat bahunya sebelum berjalan cepat melewati Chanyeol. Setelah Chanyeol menutup pintu, ia berbalik dan melihat Baekhyun masih menunggunya. Dia bertanya-tanya mengapa Baekhyun bertingkah tidak biasanya, bahkan repot-repot untuk menunggunya untuk menutup pintu ketika biasanya Baekhyun langsung pergi meninggalkanya. Dan rasa pensaran Chanyeol terjawab cepat.

"Bisakah kau membelikanku sepeda?"

Chanyeol mengehela napas, dan melanjutkan langkahnya. "Tidak."

"Aku hanya ingin mempunyai kendaraan untuk ke kota-"

Chanyeol berhenti, menyebabkan Baekhyun berjalan menabraknya. "apa yang akan kau lakukan di kota?"

Baekhyun mengangkat bahu. "Berbelanja kebutuhan dapur-"

"Kyungsoo bisa melakukan itu."

"-dan hal hal lainya-"

"Sehun bisa mendapatkan 'hal-hal lain'."

Baekhyun gusar. "Aku butuh ponsel."

Chanyeol mendengus sebelum melanjutkan "Untuk apa? Kau kan tidak punya teman."

"Jahat," kata Baekhyun, sebelum berjalan menyamai Chanyeol. "Aku punya, Kai."

"Dia satu satunya temanmu."

Keduanya berjalan berdampingan di lorong, sampai Chanyeol berada di tempat biasa menaruh kunci mobilnya. Dai mengambil kunci itu cepat, dan mengingatkan dirinya untuk mengganti tempat penyimpanan kuncinya. Sebelum Baekhyun bekerja padanya, penyimpanan kunci itu baik-baik saja. Tapi sekarang, hal itu berbeda. Dia merasa penyimpanan ini mudah dijangkau Baekhyun.

"Jadi, jawabanmu ya?" Tanya Baekhyun, mencoba untuk memanipulasi situasi. Di pintu depan, Chanyeol segera memakai sepatunya. Dia masih belum menjawab, sehingga Baekhyun menyimpulkan sendiri. "Aku harap bisa mendapatkan sepeda dalam minggu ini."

Chanyeol membuka pintu dan melangkah keluar. Sebelum berjalan ke mobilnya, dia teringat sesuatu. Beralih ke Baekhyun yang bersandar di daun pintu. "Ambilkan kacamataku."

Baekhyun mengerang, tapi tetap melakukan perintahnya, berjalan malas ke tempat yang biasa digunakan Chanyeol meletakan hal-hal miliknya, sehingga mudah untuk dijangkau. Saat baekhyun kembali, Chanyeol segera meraih kacamatanya dari tangan Baekhyun. Saat Chanyeol akan pergi, Baekhyun berteriak, "Sungguh, Bisakah kau membelikanku sepeda?"

Chanyeol menghentikan langkahnya. "Apa kau benar-benar akan bersepeda sejauh sepuluh mil untuk sampai ke kota?"

"Aku lebih suka mengendarai mobil-"

"Tapi kau tidak memiliki lisensi."

Bibir Baekhyun menipis menjadi senyuman. "Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. Kai sudah menunggumu di Stasiun."

"Tidak perlu, karena pembicaraan ini sudah selesai. Kau tidak akan mendapatkan sepeda ataupun ponsel. Kau bahkan tidak membutuhkanya dan aku tidak merasa harus memberikanmu apapun." Setelah Chanyeol mencapai mobilnya, dan membuka pintu. "Terlihat seperti apa penampilan temanmu?"

"Seperti dewa seks yang indah," kata Baekhyun, memiringkan kepalanya ke kanan.

Chanyeol mengerutkan kening. 'Seperti dewa seks yang indah?' Chanyeol sudah tidak mengerti lagi dengan Baekhyun. Dia memutuskan untuk segera masuk ke mobilnya dan keluar dari garasi dibandingkan dengan mendengar omong kosongnya, tidak peduli dengan gerakan tangan Baekhyun saat mengucapkan 'selamat jalan' padanya.

.

.

Sesampainya di stasiun, Chanyeol mulai bertanya-tanya apa 'Kai' benar-benar tampak seperti yang digambarkan Baekhyun. Ketika dia melihat sekeliling, hanya ada tiga orang yang duduk, pria tua, wanita, dan lelaki yang memiliki gambaran paling pas untuk menjadi 'Kai'.

Meminggirkan mobilnya di tepi jalan, Chanyeol memperlambat mobilnya hingga berhenti. Dia membuka pintu dan berdiri, dengan salah satu kaki masih di dalam mobil. Dia melambaikan tangan, mencoba mendapatkan perhatian dari lelaki yang bukan seorang wanita, atau seorang pria tua.

Ketika lelaki itu akhirnya mendongak, Chanyeol memberi isyarat dengan tangan. "Apa kau Kai?" tanyanya singkat.

Kai memandang sekeliling seakan tiba-tiba lupa identitasnya sendiri. Dia berdiri dari tempat duduknya dan mulai ragu-ragu berjalan menuju mobil. "Ya…?"

Chanyeol menunggu Kai untuk membuka sisi lain pintu mobilnya, tapi yang dia lakukan hanya memandang keadaan sekitar dan tetap berdiri di dekat pintu, Chanyeol mengerutkan kening. "Apa kau tidak akan masuk?"

"Uh ..." Kai mengalihkan pandanganya dari mobil ke Chanyeol, sehingga membuat matanya bertemu dengan mata Chanyeol . "Aku tidak bermaksud menyinggungmu, tapi aku tidak menemukan alasan yang tepat mengapa harus masuk ke mobilmu."

Chanyeol mengulurkan tangan untuk membuka kacamatanya. "Baekhyun tidak bisa menjemputmu."

"Tapi dia mengatakan padaku-"

"Baekhyun tidak bisa menjemputmu," ulang Chanyeol. "Aku yang menggantikannya. Masuklah kedalam mobil sekarang."

Kai menggigit bibirnya beberapa saat sebelum mengangguk. Dia mengambil ranselnya, memasuki mobil dan menempatkannya ke bagian dasar mobil. Chanyeol juga segera masuk mengikutinya,tetap mengawasi Kai yang sedang membuat dirinya duduk nyaman.

Butuh beberapa saat sebelum Chanyeol menyadari bahwa dia telah mengamati Kai dengan detail. Pandanganya menelusuri rambut dan wajah Kai, terus kebawah ke tubuh rampingnya dan gaya berpkaiannya. Pikiran Chanyeol masih dipenuhi dengan deskripsi yang Baekhyun berikan bahwa Kai itu 'Dewa seks yang indah'. Chanyeol mengutuk karena dua alasan. Pertama karena deskripsi yang Baekhyun katakan benar dan pemilihan kata untuk menggambarkannya juga. Dengan alasan itu, Chanyeol segera melajukan mobilnya cepat, tanpa menunggu Kai selesai mengenakan seatbelt nya, sehingga membuatnya terdorong ke depan.

Chanyeol sudah melaju selama lima menit, membiarkan kecanggungan tetap menggantung di antara mereka. Beberapa kali, dia melirik Kai, yang sedang menekan-nekan jari di atas pahanya. Tidak ada percakapan untuk waktu yang lama. Chanyeol bingung apa yang harus dia bicarakan. Tidak ada niatan sedikitpun untuk bertanya padanya kenapa bisa berteman dengan orang seperti Baekhyun. Chanyeol menganggap bahwa Kai itu sama aneh dan gilanya seperti Baekhyun.

"Jadi ... kau itu Park Chanyeol ..." Kai bergumam. Chanyeol hampir menginjak rem mendadak. Dia menoleh sejenak ke arah Kai, yang enggan melihat kembali padanya. "Aku tidak menyangka jika Park yang terus Baekhyun sebutkan itu sebenarnya... Kau tau, marga Park itu cukup umum."

Chanyeol memajukan bibirnya dan mengencangkan cengkeramannya pada kemudi, "Jadi kau tahu siapa aku..."

"Ya, baru saja ..."

Merasa sedikit tertarik dengan jawaban Kai, Chanyeol mengangkat alisnya. "Baru saja?"

"Kau tahu, berita di entertainment news ... tentangmu ... dan Baekhyun-"

Chanyeol langsung menghentikan mobil di tengah jalan sepi. "Apa maksudmu?"

"Apa Baekhyun benar-benar bekerja padamu?" Kai bertanya, tidak menghiraukan pikiran Chanyeol yang sedang berkecamuk. "Aku yang memberitahunya tentang lowongan pekerjaan maid di rumahmu, tapi ... ..dia itu tunanganmu. Kau pasti akan langsung mengenalinya dan kalian akan segera menyadari satu sama lain. "

Chanyeol menghela napas, dan menginjak gas lagi. "Baekhyun tidak mengetahuinya."

Kai berkedip. "Dia tidak tahu bahwa kau ...?"

"Dia tidak tahu apapun tentang hubungan kami. Dia tidak tahu bahwa aku adalah tunangannya. Aku juga tidak tahu mengapa," Chanyeol bergumam. "Kau yang merekomendasikan pekerjaan ini padanya?"

Kai mengangguk. "Apa dia memberitahumu jika dia kabur dari rumah? Dia tinggal dengankku untuk sementara waktu, tapi aku mengatakan padanya bahwa dia harus bekerja. Aku mendengar adanya lowongan pekerjaan ini dari beberapa maid kenalanku saat bekerja. Aku memberikan informasi ini pada Baekhyun dan begitulah bagaimana dia bisa sampai bekerja padamu. "

Chanyeol berdecak, tidak tahu harus merespon apa. Sebagian kecil dari dirinya ingin mencekik Kai karena pada kenyataannya, semua adalah kesalahan Kai yang membuatnya harus berurusan dengan Baekhyun setiap hari. Chanyeol melirik ke samping "Apa hubunganmu dengan Baekhyun?"

Kai bersandar, sambil mengangkat bahu,. "Aku tidak tahu ... kami hanya berteman. Teman yang kasual"

Chanyeol tidak suka kata itu. "Kasual" berarti banyak hal, kemudian Chanyeol tersadar jika dia tidak seharusnya mencampuri urusan orang lain. Tapi, pikiran lainnya pun menyadarkannya lagi, semua ini merupakan urusannya, karena Baekhyun adalah tunangannya.

"Kasual seperti apa? Seperti melakukan Seks bersama? "

"Apa?" Kai hampir tersedak ludahnya sendiri.

"Apa kau lebih suka istilah 'friends with benefits' atau-"

Kai menggeleng "Aku tidak seperti itu-kita tidak seperti itu. Baekhyun hanya seseorang yang aku kenal secara tidak sengaja. Saat itu, orang tuanya menjadi tuan rumah sebuah pesta dan mereka menyewa perusahaan tempatku bekerja." Kai mengusap rambutnya sebelum mencoba menyatukan segala kepingan kepingan informasi yang dia peroleh. "Aku akan mencoba menyimpulkan. Jadi, kau Park Chanyeol dari Park Inc dan dia Baekhyun dari Byun Enterprise. Kau seharusnya menikah, tapi Baekhyun kabur karena dia tidak ingin menikah. Dan aku secara tidak sadar telah mengirim Baekhyun untuk bekerja padamu. Kau tahu siapa dia ... tapi dia tidak tahu siapa kau. "

"Semuanya benar," Chanyeol bergumam.

"Bagaimana mungkin dia tidak mengenalimu?" Tanya Kai, meskipun pertanyaan itu lebih diarahkan pada dirinya sendiri.

Jarak menuju rumah semakin dekat. Chanyeol memperlambat kecepatan mobilnya. "Aku juga tidak tahu, tapi aku harap searusnya tetap seperti itu. "

Kai sudah melihat rumahnya. Dia bisa saja terkesan melihatnya, tapi dia sudah terbiasa melihat rumah seperti itu saat bekerja. "Kenapa kau ceritakan semuanya padaku?" tanyanya, ingin tahu.

"Karena," ucap Chanyeol dengan menarik napas perlahan, "Fakta kau sudah benar-benar mengatahui siapa aku - termasuk fakta mengenai hubunganku dengan Baekhyun dari berita – aku harus menceritakan semua kebenaran padamu sehingga kau akan memihakku. "

"memihakmu?"

Chanyeol perlahan memarkir mobilnya di garasi. "Dengar, Kai, aku tidak ingin kau dengan tidak sengaja membongkar siapa aku, karena aku masih ingin tahu apa Baekhyun memiliki motif yang lebih dalam untuk berada di sini selain hanya 'bekerja'. Aku harap kau bisa diandalkan dalam hal ini, Kai." Dari sudut matanya, Chanyeol melihat Baekhyun mendorong tirai jendela depan, tersenyum pada mereka-atau lebih tepatnya, Kai. "Kau bisa melakukan sesuatu untukku? Aku hanya ingin kau tetap bungkam tentang apa yang sudah kau ketahui saat bersamanya. Aku tidak ingin bajingan sialan itu kabur.

Kai tertawa. "Kau tidak ingin Baekhyun kabur dari sisimu? Apa maksudnya? Apa kau sudah mulaii menyukainya? "

Chanyeol mendengus. "Konyol. Tidak, aku hanya tidak ingin orang tuanya menemukannya. Jika mereka tidak menemukannya, kesepakatan pernikahan akan berantakan. Kemudian, dia tidak perlu menikah dan dia akan bebas melakukan apapun yang dia inginkan. Bagian terbaiknya adalah aku tidak harus menikah, dan tetap mempertahan kewarasanku serta terbebas dari kegilaannya. "

Chanyeol akan membuka pintu mobil saat Kai mengajukan pertanyaan terakhir. "Apa dia membuatmu gila?"

Chanyeol memutar matanya saat melangkah keluar. "Y-"

Dia menggangu apapun yang akan Chanyeol lakukan – Entah itu untuk bekerja, tidur, bahkan seks - Baekhyun selalu menganggunya. Pintu depan terbuka keras dan terlihat Baekhyun dengan suara lantangnya "Welcome home!" untuk Kai, yang membuat Chanyeol kesal.

Sial, sebenarnya siap pemilik rumah yang harus mendapatkan ucapan selamat datang?

.

.

Yosh! Terima kasih atas komentar dan beberapa koreksi yang kalian tinggalkan, aku sangat menghargainya ^^

Ya, aku akan berikan bocoran, kedepanya memang ada Kaisoo Yes?

Selamat bermalam minggu, dan sampai berjumpa di chapter berikutnya ^^