NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)
Indo Trans
DISCLAIMER
I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here
exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html
(spasi dihilangkan, dot diganti titik)
.
WARNING
Yaoi, Boy x Boy, Typo (s) etc.
Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.
.
Forward
Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.
.
Chapter 12 – Fantastic Elastic
.
Baekhyun berjalan keluar dengan tangan terbuka lebar, dan langsung menuju Kai. Kai berjalan menuju depan mobil dan berhenti di tengahnya serta membuka lengan untuk Baekhyun. Tepat sebelum Baekhyun bisa menyapa Kai dengan pelukan, Chanyeol menarik bagian belakang bajunya dan menyeretnya kembali ke pintu masuk.
Kai membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi raut wajah Baekhyun tampak seperti akan menembak pria jangkung itu karena mengganggu aksinya. Sebaliknya, Kai hanya mengikuti mereka berdua tanpa kata. Dia tidak ada niatan untuk mengingatkan Baekhyun akan tingkahnya, saat Baekhyun memutuskan untuk menabrakan bahunya dengan milik Chanyeol sampai mengenai kusen pintu, agar Baekhyun bisa masuk lebih dulu ke dalam rumah. Kai hanya menyaksikan tingkah laku keduanya hingga Chanyeol sudah sepenuhnya terdorong ke sampng. Dia menyimpulkan jika Baekhyun bisa menangani semuanya sendiri, tapi Chanyeol tidak bisa menangani Baekhyun.
Setelah tiba di dalam rumah, Kai melepas sepatu perlahan, tapi dia berhenti dan melihat sekeliling, dia tidak melakukan apapun keculai kagum. "Wow ... Rumah yang bagus."
Baekhyun tersenyum padanya dan memiringkan kepalanya. "Thanks!"
Chanyeol melirik tajam ke arah Baekhyun saat dia meletakkan jaketnya di lemari. Thanks? Bocah itu bertindak seperti dia pemilik rumah ini. Terakhir kali Chanyeol memeriksa jika rumah itu masih di bawah namanya, bukan Baekhyun.
Sebelum Chanyeol bisa mengatakan apa-apa, Baekhyun berjalan ke arah Kai dan menarik-narik lengan bajunya. "Ayo ke kamarku."
Kai ragu-ragu. Dia mengikuti saja tarikan Baekhyun, tapi kemudian dia melihat ada dua orang lain yang sedang menatapnya . Salah satu dari mereka berdiri dekat meja dapur dan melihat Kai dengan mata besarnya. Yang lainnya adalah lelaki pirang, yang menatapnya melalui pintu geser dari luar.
"Um." Kai berdeham. "Bukankah kau seharusnya mengenalkanku lebih dulu?"
Baekhyun tersenyum. "Tentu." Senyumnyanya berubah sedikit sarkastik ketika melihat Chanyeol. "Lelaki itu yang pernah aku ceritakan."
Kai dan Chanyeol berpikir bahwa Baekhyun akan mengatakan lebih tentangnya, seperti menyebutkan nama lengkapnya, tapi tidak terjadi demikian. Baekhyun melanjutkan perkenalanya , dan membuyarkan dugaan kedua lelaki itu.
"Dia Kyungsoo. Dia yang memasak di sini. Dia itu orang pernah aku ceritakan padamu", ucap Baekhyun sampil mengedipkan mata sugestif pada Kai, menyebabkan Chanyeol menatap curiga padanya. "dan anak lelaki yang di luar?" Lanjut Baekhyun, melambaikan tangan pada Sehun. "Dia Sehun." Baekhyuun mendekat ke telinga Kai, dan berbisik, "Dia hanya bertugas untuk menyiram kebun saja ..."
Baekhyun pamit dan menarik Kai bersama menjauh berjalan menuju lorong. "Yorobun, ucapkan selamat tinggal pada Kai untuk sementara waktu," katanya dengan suara cemprengnya. "Kami akan berbicara secara pribadi terlebih dulu."
Kai melirik sekitar, melihat Kyungsoo menaikkan alisnya geli karena menyaksikan Chanyeol mengerutkan alis dan keningnya dengan rahang terkatup rapat. Dia baru disana berapa menit tapi dia sudah bisa membayangkan seperti apa kehidupan sehari-hari di rumah itu.
Saat keduanya berjalan menjauh dari ruang utama, Chanyeol hendak mengikutinya tapi Kyungsoo melambaikan tangannya dan menggeleng. "Biarkan dia , Chanyeol. Kau tidak perlu menyusulnya," ucap Kyungsoo tenang. "Dia pasti kembali."
"Mereka bisa saja melompat-lompat-"
"-atau menghancurkan sesuatu."
Chanyeol mengerang, menggelengkan kepalanya. "Aku pergi," gumamnya.
"Apa yang akan kau lakukan, Chanyeol?"
"Aku akan berdiri di luar pintu keparat itu," Chanyeol menjawab kembali, bergerak menuju kamar Baekhyun.
"Kau sangat aneh."
.
.
Kai menaruh tasnya di lantai sebelum duduk di satu-satunya kursi di kamar Baekhyun. Baekhyun memperhatikanya sambil duduk di tempat tidurnya.
"Sorry, aku tidak punya apapun lagi yang bisa membuatmu nyaman di ruangan ini. Sudah cukup jelas kan? Dia ingin membuatku merasa hidup di zaman batu." Baekhyun mengarahkan kepalanya ke jendela. "Aku bahkan tidak bisa membuka jendela , aku tidak diperbolehkan," keluh Baekhyun, dengan meniru suara berat Chanyeol saat melarangya.
Kai mencibir . "Kau seharusnya tidak berbicara seperti itu. Dia itu - atasanmu."
Baekhyun mendengus dan mengangkat bahu. "Dia tidak keberatan."
"Apakah kau yakin tentang itu ..."
"Ya," kata Baekhyun, mengangguk.
"Dia menyukainya saat aku tidak memperlakukan dia dengan hormat."
"Uh huh." Kai memain-mainkan jari-jarinya. "Baiklah. Jadi, apa kau sudah berbicara dengannya tentangku? Pekerjaan untukku?"
"Aku belum sempat melakukannya."Baekhyun bergumam. "Aku yakin dia akan memberimu pekerjaan di sini"
"Bagaimana kalau tidak?"
"Dia pasti melakukanya."
Kai menatap Baekhyun. "Baek, setelah aku bertemu denganya langsung, aku pikir-"
"Kau hanya perlu diam menunggu dan biarkan aku yang menanganinya," Baekhyun meyakinkan. Dia bangkit dari tempat tidurnya, berjalan, dan mengambil ransel Kai. "Apa kau bawa di sini?"
"Tidak ada apa apa-Baek, berhenti mengobrak-abrik ranselku!" teriak Kai sambil melompat dari kursinya.
Di sisi lain, Baekhyun terus berjalan mundur, mencoba untuk mengambil waktu untuk terus memeriksa segala sesuatu yang ada dalam ransel Kai. "Kaos, kaos, kaos-oh, beberapa pakaian dalam." Baekhyun mengusap jarinya pada pakaian dalam itu saat menariknya keluar, kemudian menjatuhkan ranselnya. "Ini terasa baru-Apa ini baru kau beli? Apa mereknya? "
Kai mengerang sambil memandang Baekhyun, mencoba untuk mengambil pakaian dalamnya dari Baekhyun. "Ya, itu baru. Merek? Aku tidak tahu-Baek, ayolah."
Baekhyun kembali menjauh, sekarang posisinya membelakangi pintu. Baekhyun membentang karet elastis pada pakaian dalamnya. "Apa kau tahu konstnta untuk elastis?"
"Baek...," Kai mengerang.
"Apa ini cukup untuk menampung milikmu?" Baekhyun bertanya, serius. "Apa kau tahu Lukas Brooks-dia salah satu anggota band dari Melbourne, daerah yang memiliki cuaca yang hangat- dan di suatu kesempatan dia mengenakan speedo di konsernya yang membuat satu dari 'bola'nya menyelinap keluar." Baekhyun mengangkat bahu. "Aku hanya tidak ingin 'bola' mu tergelincir keluar juga, Kai."
"Mereka tidak akan keluar jika aku mengenakan sesuatu di atasnya," Kai berpendapat. Dia melangkah mendekat, mengarahkan tangannya ke Baekhyun. "Sekarang kembalikan celana dalamku, Baekhyun. Kau membuat karetnya melar"
"Aku hanya mengecek seberapa elastis celana dal-" Baekhyun berteriak kaget ketika pintu yang ia sandari tiba-tiba terdorong dan terbuka, membuatnya tersingkir di dinding sebelahnya. Baekhyun kesal dan mendorong kembali pintu itu dengan punggunya, membenci dirinya sendiri karena lupa untuk menguncinya. Dia berhenti saat ada tangan menariknya dari belakang pintu kayu itu.
"Hai," kata Baekhyun, sapanya seperti sinar matahari pada pria jangkung di depanya yang sedang merengut.
"Kita perlu bicara," ucap Chanyeol singkat. Dia menoleh pada Kai. "Bawa ranselmu dan tunggulah di ruang tamu." Chanyeol menyeret Baekhyun dengan menarik kaosnya keluar menuju lorong, tepatnya ke kamar Chanyeol.
Chanyeol mendorong Baekhyun masuk ke dalam kamarnya, dia dapat melihat Baekhyun sedikit tersandung, kemudian menutup dan mengunci pintu di belakangnya. Chanyeol melemparkan pandangan tajam padanya, sedangkan Baekhyun mengusap lehernya tenang. "Apa maksudmu tentang pekerjaan?"
"Hm?"
"Kau menjanjikan pekerjaan di sini untuknya," Chanyeol mencoba mengklarifikasi.
"Wow, kau menguping," kata Baekhyun dengan mengangkat alisnya geli. "Tidak sopan."
Chanyeol menjentikkan jarinya pada bibir Baekhyun, menyebabkannya bergeming. "Perilaku tidak sopan adalah saat kau memberikan janji palsu dan mencoba menngarahkan itu padanya."
Baekhyun mengangkat kepalanya, dan memberi pukulan ringan di dada Chanyeol-tepat sengaja mengenai 'nipple'nya. "Apakah ini tentang dirimu sendiri, Big guy?"
Chanyeol mendorong tangan Baekhyun. "Berhentilah mencoba mengalihkan perhatianku."
"Kau yang membuat dirimu sendiri teralihkan," kata Baekhyun, menyeringai.
Chanyeol memutar bola matanya. "Hentikan," geramnya. "Jadi, Kau mengatakan padanya bahwa dia akan mendapat pekerjaan di sini."
"Dia dipecat dari pekerjaan terakhirnya," Baekhyun berpendapat. "Aku hanya berusaha untuk menjadi teman."
Chanyeol mengerang, mengusap dahinya kasar. "Baek, kau tidak bisa memberitahu teman-temanmu, jika mereka bisa mendapat pekerjaan di sini saat mereka dipecat!"
Baekhyun mengedipkan matanya dua kali. "Oh, aku tidak mengerti, Chanyeol. Kau mengatakan bahwa Kai adalah temanku satu-satunya. Jadi, siapa 'teman-teman' yang kau maksudkan?"
Chanyeol menipiskan bibirnya dan memberi tatapan tidak setujunya pada Baekhyun. "Kau lebih baik pergi ke depan sekarang dan memberitahukan yang sebenarnya pada orang itu ."
Keberanian Baekhyun mulai turun. "Chanyeol..."
"Jangan mencoba memohon padaku," kata Chanyeol. "Pergilah dan katakan padanya."
"Please...?" pinta Baekhyun. "Kau mempekerjakan Sehun hanya untuk menyirami bunga. Dia melakukannya dengan baik, tapi serius Chanyeol. Kau bahkan memberi jumlah gaji yang sama denganku untuk membuatnya bangun di pagi hari dan menghabiskan sepuluh menitnya untuk itu" Baekhyun mengangkat alisnya. "Kai mengatakan dia akan melakukan apa saja untukmu"
"Baekhyun, aku tidak bisa mempekerjakan dia!" ucap Chanyeol tegas. "Jadi, begini situasinya. Kau seorang yang susah untuk menyesuaikan diri, bahkan sampai sekarang, dan kau berencana untuk membawa seorang yang sama sepertimu di rumah ini? Aku tidak ingin berurusan dengan orang lain sepertimu lagi di rumah ini! Bagiku, Kau sudah cukup untuk aku hadapi setiap harinya! "
"Chanyeol-"
"Tidak- Kau tidak akan mendapatkan sepeda. Kau tidak akan mendapatkan ponsel. Kau tidak akan membuatku memberi pekerjaan pada pacar sialanmu!" teriak Chanyeol merasa benar-benar frustrasi. Dia tidak tahu perasaanya seperti apa saat ini, dia merasa seperti seorang ayah penuh drama dan menyebalkan terhadap anak gadisnya. "Dan aku mencoba untuk mengingatkanmu lagi bahwa kau tidak berhak untuk menggunakan telfon rumah, kau tidak diperbolehkan untuk bermasturbasi, kau tidak diperbolehkan untuk membawa orang lain di kamarmu, dan terakhir, kau tidak diperbolehkan untuk membuka jendela, karena jika kau melakukanya kau pasti lupa untuk menutupnya, Bodoh. "
"Dia dulu pernah bekerja untuk sebuah perusahaan katering! " Baekhyun mencoba lagi. "Dia bisa memasak-jika dia tidak berbohong padaku-"
"Kyungsoo bisa melakukanya"
"So, berilah pekerjaan padanya untuk berdiri dan meniup makananmu!" Baekhyun berhenti sejenak. "Tunggu, maksudku biarkan dia mengipasi makananmu. Makanan dapat menyerap aroma dari udara jadi mungkin jika Kai sebelumnya memakan permen karet mint, makananmu akan berakhir berasa mint juga dan aku berpikir bahwa kau tidak mungkin- "
Chanyeol menutup mulutnya. "Kau harus menghentikan ucapan mengenai fakta fakta sialanmu."
Baekhyun menarik tangan Chanyeol dan tersenyum. "Aku hanya berusaha untuk meningkatkan pengetahuanmu tentang dunia luar, karena kau hanya mengurung diri ruang kerjamu setiap hari, aku khawatir bahwa satu-satunya hal yang kau ketahui hanya tentang baut, sekrup, dan hidrolik. "
Chanyeol sedikit teralihkan dengan suara Baekhyun, tapi memaksa diri kembali ke tujuan utamanya. "Terima kasih, tapi aku tidak tertarik." Chanyeol membuka pintu, dan mengarahkan tanganya menuding Baekhyun. "Beritahu temanmu bahwa tidak ada pekerjaan di sini untuknya."
"Oke, baiklah. Dia tidak harus memiliki pekerjaan. Bisakah dia hanya tinggal di sini?"
"Tidak ada ruang yang tersedia."
"Om- " Baekhyun menutup mulutnya, menghentikan diri dari kutukan yang akan ia ucapkan. Mengutuk hanya akan menurunkan peluangnya untuk memenangkan argumen. "Chanyeol, aku membersihkan kamar mandimu. Aku tahu bahwa ada tiga kamar tidur di rumah ini dengan kamar mandi yang tidak digunakan. Kamar itu tidak ada yang menempati." jelasnya, tapi Chanyeol hanya berdiri di sana, memberinya pandangan kosong, Baekhyun mengangkat tangannya. "Kau tidak bisa memberikaan dia kamar? Baiklah, dia bisa tinggal dengaku! Seperti anjing. Dia bisa tidur di pangkuanku dan menjilati wajahku, juga. Katakanlah seperti aku memiliki hewan peliharaan."
" Baek- "
Baekhyun tersentak. "Kai bisa seperti hewan peliharaan! Maksudku, dia makan, dia buang kotoran, dan dia tidur, sama seperti apa yang hewan peliharaan lakukan. Dia juga-"
"Ya Tuhan!" Chanyeol mengerang, mengusap dahinya kasar. "Kau tidak akan mendapatkan manusia sebagai hewan peliharaanmu sialan - Aku turut prihatin jika kau benar benar membuatnya berpura-pura menjadi anjing!"
"Oh, apa ini? Kau bahkan tidak memperbolehkanku untuk memiliki hewan peliharaan," kata Baekhyun, meletakkan tangannya di pinggul. "Apa kau tahu jika komplek apartemen Kai memungkinkan pemiliknya memiliki setidaknya binatang atau makhluk kecil lainnya?"
"Ya?" Chanyeol melemparkan tatapan sinisnya. "Jika kau bersikeras menganggap Kai sebagai sebagai hewan peliharaan, aku anggap itu sebagai perbudakan."
"Ya, seperti kau yang melarang semua hakku, apa kau tidak merasa ini sudah di luar batas?"
"Membelikanmu ponsel atau memberimu sepeda bukanlah sesuatu yang harus aku lakukan, Baekhyun," teriak Chanyeol. "Semua ini tentang hak istimewa, Sialan!" Dia mendengus. Lalu dia melihat sesuatu di tangan Baekhyun ini. "Apa yang kau bawa ditanganmu?"
Baekhyun mengangkat alis bingung dan melihat ke bawah. "Oh ..." Baekhyun mengangkat bahu. "Ini hanya pakaian dalam milik Kai ... Kau tahu, ini super elastis dan aku yakin akan sagat pas untuknya. Aku tidak tahu apa ini termasuk merek yang umum, tapi-"
Chanyeol melambaikan tangan, dia speechless mendengar kata-kata Baekhyun. "Lupakan. Aku tidak peduli mengapa pakaian dalamnya ada pada tanganmu yang seharunya tidak ada padamu, jadi kau lebih baik mengembalikan lagi padanya saat kau keluar dari kamar ini untuk mengatakan yang sebenarnya."
Baekhyun sadar jika dia kalah dari Chanyeol, dia berencana untuk melawan balik, menegakkan badan di depannya dan mengangkat kepalanya tepat menatap mata Chanyeol. "Chanyeol."
"Baekhyun."
Baekhyun menipiskan bibirnya. "Dia bisa bekerja."
"Kau bisa pergi ke sana sekarang dan katakan padanya untuk mencari pekerjaan di tempat lain."
Baekhyun mengerutkan kening. "Chanyeol. Please... "
"Baekhyun. Please. "
Senjata terakhir harus digunakan. Baekhyun menjatuhkan pakaian dalam Kai yang super elastis di lantai, lalu meraih kerah kemeja Chanyeol. Dia berdiri di ujung jari-jari kakinya, dan mengarahkan kepalanya memiring ke atas sambil menarik Chanyeol kebawah. Kemudian dia mulai menjilati dan menggigit bagian bawah bibir Chanyeol.
Chanyeol terkejut dengan tindakan Baekhyun. Pada awalnya, dia berencana untuk segera mendorong Baekhyun, tapi kemudian dia mempertimbangkan untuk membiarkan Baekhyun melakukan apapun yang dia coba lakukan, karena pada akhirnya, dia tahu bahwa dialah yang memenangi argumen ini.
Dan dengan dengan pola pikir itulah Chanyeol membuka mulutnya, mencoba mendominasi Baekhyun, meskipun sekali-kali dia membiarkan Baekhyun memiliki kontrol situasi kembali lagi hanya untuk membuat Baekhyun berpikir bahwa dia yang memegang kendali.
Ketika Baekhyun merasa sudah mengendalikan Chanyeol dan membuatnya menyerah, dia memutuskan permainan lidahnya, lalu memberikan satu kecupan terakhir yang dalam pada bibir Chanyeol sebelum mengatur kakinya kembali di tanah dan melepaskan rengkuhan pada kemeja Chanyeol.
Baekhyun berpura-pura untuk menghapus debu dari bahu Chanyeol ini, kemudian menatapnya. "Jadi, aku mendapat jawaban ya?"
Chanyeol tersenyum sambil meletakkan tangannya di punggung Baekhyun sementara tanganya meraih kenop pintu. "Barusan sangat menyenangkan," mulai Chanyeol, memutar pintu terbuka. "Tapi jawabannya masih sama," ucapnya selesai tepat saat dia membuka pintu dan menggiring mereka berdua keluar dari kamarnya.
Chanyeol sedikit terkejut melihat Baekhyun berjalan di sampingnya dalam keheningan saat mereka melangkah ke ruang utama. Dalam benaknya, ia berpikir bahwa Baekhyun malu dengan apa yang sudah dilakukannya.
Belum sampai tujuan, tepatnya berada di dekat dapur, Baekhyun melakukan sesuatu. Dia berbalik ke arah Chanyeol dan meninju tepat di samping tubuhnya. Chanyeol meringis kesakitan dan menduga Baekhyun telah mematahkan tulang rusuknya. Kyungsoo hanya menyaksikannya dengan tenang dan menyeka beberapa tetesan air mata di wajahnya karena melihat tingkah lucu mereka, di sisi lain Kai dan Sehun terhibur menyaksikan seluruh adegan tepat di hadapan mereka.
.
.
Wahhh terima kasih banyak untuk yang tetap setia meninggalkan komentar di setiap chapternya, dan selamat datang untuk pembaca baru di ff translte ini ^^
Oiya, fic ini aslinya ada 60 chapter (dan ada sequelnya juga loh ^^) dan memang seringnya pendek, jadi persiapkan diri anda untuk membaca chapter chapter selanjutnya yaaa... bakal banyak kejutan di setiap chapternya :D
So, Bagaimana dengan chapter ini? Aku tunggu komentar kalian, and see you next chap, yess, chapter dimana nugget pertama kali muncul ^^
Love you all^^
