NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)
Indo Trans
DISCLAIMER
I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here
exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html
(spasi dihilangkan, dot diganti titik)
.
WARNING
Yaoi, Boy x Boy, Typo (s) etc.
Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.
.
Forward
Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.
.
Chapter 13 - Nugget
.
Chanyeol membenci banyak hal. Dia membenci situasi dan kondisi saat ini. Di ruang kerjanya, Chanyeol mencoba untuk fokus pada perhitungan matematika di depannya, tapi dia tidak bisa karena suara tawa Baekhyun yang sangat menjengkelkan dengan mudahnya terdengar bahkan dengan pintu yang tertutup sekalipun.
Chanyeol mengamati Baekhyun yang tampak jauh lebih bahagia dibandingkan dengan dulu, sesuatu yang sangat tidak disukainya. Sejak Kai berhasil mengancamnya (black mail) agar bisa tinggal di rumah itu sebagai "asisten koki", Baekhyun menjadi sedikit lebih hiperaktif sekarang, karena salah satu teman yang sama gila denganya tinggal di rumah itu juga.
Chanyeol tidak melewatkan sedikitpun tentang Baekhyun. Dua hari sudah berlalu, dan Baekhyun tampak cukup menurut dengan beberapa perintahnya - sesuatu yang Chanyeol sukai - tapi sebagai gantinya mulut Baekhyun akan selalu terbuka, membicarakan apapun, entah tentang cuaca, musim, isu dunia, dan hal-hal lain yang belum tentu menarik perhatian Chanyeol karena Baekhyun yang memulai topik itu.
Dinamika di rumah dulu baik baik saja, kecuali sekarang karena Chanyeol merasa seperti Ayah yang kejam dan Kyungsoo seperti ibu yang sangat baik, yang dihormati oleh semua orang di rumah itu. Sehun, Kai, dan Baekhyun menjadi seperti anak-anak mereka, tapi Baekhyun adalah anak yang tidak ingin dimiliki oleh orang tua manapun.
Semuanya terlihat sempurna, sebelum Baekhyun dengan segala kegilaanya menghancurkan kehidupan semua orang. Chanyeol merupakan mentor Sehun. Pada saat seperti ini seharusnya Sehun berada dalam ruang kerja bersamanya, tetapi yang terjadi malah Baekhyun membawa pergi muridnya untuk bermain Board Game. Suara tawa Baekhyun dapat terdengar jelas dari kamarnya saat seseorang membuat kesalahan di depan si jenius Baekhyun karena si bodoh Baekhyun itu akan tertawa seperti orang idiot di depan wajah lawan-lawannya.
Chanyeol memberi Baekhyun toleransi waktu selama lima belas menit untuk menurunkan dan menghentikan suara tawa menjengkelkannya, dan untungnya tawa Baekhyun langsung hilang dalam satu menit setelah Chanyeol mengikrarkan janji dalam hatinya.
Chanyeol berterima kasih kepada para dewa, karena akhirnya bisa mengatasi suara tawa itu dan menikmati ketenangan yang ada dalam rumah. Chanyeol mendengar suara suara kecil, dan menyadari bahwa permainan yang mereka lakukan sudah berakhir. Chanyeol berharap Baekhyun dikalahkan telak.
.
.
Permainan berakhir. Sehun pamit undur diri untuk bergabung dengan Chanyeol di ruang kerjanya, Kai membuat dirinya berguna dengan memperbaiki kursi meja makan dan memindahkan Board game menjauh. Di sisi lain, Baekhyun melangkah ke arah Kyungsoo, yang sedang mengeluarkan sayuran dari kulkas, dan mengalungkan lenganya di atas bahu Kyungsoo.
"Kyungsoo ..." gumam Baekhyun, menempatkan dagunya di bahu Kyungsoo.
"Yeah?"
"Bisakah kau membuat dessert untuk makan malam nanti?" Tanya Baekhyun. "Sesuatu seperti cheesecake?"
Kyungoo bergerak menjauhkan dagu Baekhyun dari bahunya dengan lembut, berbalik dan memberi tatapan menyesal pada Baekhyun."Sorry, Baek. Aku tidak tahu bagaimana membuatnya."
Mata Baekhyun berbinar dan kepalanya miring ke kanan. "Aku tahu bagaimana membuatnya."
Kyungsoo menatapnya ragu. "Oh?"
"Aku sudah menonton cukup video di internet untuk mengetahui bagaimana membuatnya," kata Baekhyun, mencoba meyakinkan Kyungsoo. "Aku pikir, aku memenuhi syarat."
Kyungsoo tersenyum. "Meskipun begitu, aku pikir kita tidak memiliki satu bahan pun untuk membuatnya"
"Bagaimana jika pergi kota untuk membelinya?"
"Tidak bisa," jawab Kyungsoo. "Aku tidak punya waktu untuk pergi sekarang. Bagaimana dengan besok? Kita bisa pergi ke toko dan- "
Baekhyun menyern, "Bagaimana jika kau membiarku menggunakan mobil dan-"
"Chanyeol tidak akan pernah mengijinkanmu, Baekhyun," kata Kyungsoo dengan nada geli saat dia mengatur sayuran di meja dapur dan pergi untuk mengambil talenan. "Kau tahu jelas bagaimana sikap Chanyeol tentang kau dan mobil."
"Dan dengan jendelaku, dengan ruang kerjanya, bahkan dengan pakaianku sendiri," tambah Baekhyun. "Tapi, Chanyeol tidak harus tahu. "
"Aku yakin dia akan segera menyadarinya saat keberadaanmu tidak ditemukan dan keberadaan mobil yang tidak ada di garasi, Baek. "
Baekhyun meringis, tapi kemudian dia melihat Kai dari sudut matanya. "Kai bisa mengemudi." Baekhyun mengalihkan kepalanya ke arah Kai di meja, dan bertanya padanya, "Kau punya lisensi, kan?"
Kai berkedip sebelum mengangguk dengan enggan. "Yeah..."
Baekhyun menghadap Kyungsoo lagi dan menyeringai. "Lihat, kan?"
Kyungsoo mengerutkan alisnya. "Baek-"
"Ini hanya akan membutuhkan tiga puluh menit saja, jika kita pergi sekarang. Kami akan melakukanya dengan cepat," kata Baekhyun. Saat Baekhyun melihat raut wajah Kyungsoo, dia mengubah kata-katanya. "Maksudku pelan- kita akan mengemudikanya dengan pelan-pelan. "
Kyungsoo mengamati wajah Baekhyun untuk sejenak, menggigit bibirnya saat ia merenungkan tentang apa yang harus dia putuskan sekarang. Kyungsoo menghela napas panjang, dan meletakkan jarinya di dada Baekhyun. "Oke- tapi Kai yang mengemudi. Kau harus duduk tenang di kursi penumpang dan kalian berdua lebih baik kembali lagi ke sini dalam satu jam- paling lama." Kyungsoo mundur. "Aku mohon ... atau aku akan kena marah juga. "
Senyum Baekhyun terpancar dan langsung memeluk Kyungsoo sesaat sebelum menyadari bahwa dia membuat Kyungsoo tidak nyaman. "Aku lebih menyukaimu daripada Chanyeol, Kyung," bisik Baekhyun di telinga Kyungsoo.
Kyungsoo sedikit bergidik kecil dengan aksi Baekhyun, mendorong Baekhyun menjauh darinya lembut, "Jangan lakukan itu ..."
Baekhyun mendecakkan lidahnya dan mengarahkan jarinya menuju Kyungsoo membentuk sebuah senjata. "Baiklah..." , dan berjalan ke kunci mobil yang tergantung, kunci yang belum sempat Chanyeol pindahkan. Jari Baekhyun bergerak bingung untuk memutuskan kunci mana yang akan dia ambil. Dia menduga kunci dengan desain yang tidak terlalu rumit adalah kunci mobil hitam, SUV empat pintu.
Kai mengikuti Baekhyun, keduanya berjalan ke pintu yang mengarah ke garasi. Tepat sebelum mereka keluar melalui itu, Baekhyun melihat Kyungsoo mengarahkan kepalanya ke arah mereka. "Baekhyun, Kai yang mengemudi."
Baekhyun memutar kepalanya ke belakang dan mengangguk. "Tentu saja," jawabnya, memberikan kunci ke tangan Kai dengan terpaksa.
"Bye ..." ucap Kyungsoo.
Kai telah melangkah keluar menuju garasi dan segera diikuti Baekhyun. Dia memberikan Kyungsoo salam hormat dua jari dan tersenyum "Kami akan segera kembali dalam satu jam." kata Baekhyun.
Baekhyun menutup pintu di belakangnya, dan mengikuti Kai saat dia berjalan ke sisi pengemudi. Tepat setelah Kai membuka pintu, Baekhyun mengambil kunci dari tangan Kai dengan anggun. Kai memelototinya. "Aku pikir , aku yang akan mengemudikannya."
"Aku berbohong. Aku yang mengemudikanya," ucap Baekhyun singkat sambil membuka pintu lebih lebar.
"Tapi-"
"Masuk saja," sergah Baekhyun.
Alis dan kening Kai berkerut, tapi tetap saja, dia berjalan ke sisi lain mobil dan menempatkan dirinya di kursi sebelah Baekhyun. Saat Baekhyun menekan remote control untuk membuat pintu garasi terbuka, Kai menatapnya. "Kau tampak sangat bersemangat untuk mengemudikannya - meskipun kau tidak seharusnya mengemudikan mobil ini."
Baekhyun tertawa, sambil melihat pintu garasi terbuka sepenuhnya. "Ya Tuhan. Kau terdengar seperti Chanyeol sekarang. "
Kai melihat ke belakang kursinya dan berkata pada Baekhyun, "Terserah. Apa kau berencana untuk pergi sekarang atau apa? "
"Safety First. Pasang sabuk pengamanmu. "
Kai berkedip dan menyadari jika sabuk pengamannya belum terpasang. Dia segera memasangnya dengan cepat. Baekhyun mendengar bunyi klik, dan segera mengatur gigi mobil dan menginjak pedal gas sedikit. Saat Kai menyadari bahwa mereka bahkan tidak bergerak satu inci pun, dia melihat keluar dari jendela lalu beralih ke Baekhyun. "Kita tak bergerak sedikitpun."
Baekhyun berhenti menekan pedal gas dan menginjak rem sebagai gantinya. "Aku terbiasa menggunakan mobilku yang super sensitif. "
"Ini bukan salah satu mobil sportmu, Baek. Ini adalah SUV, mobil orang biasa," gumam Kai. "injak gasnya lebih keras. "
Baekhyun mengangkat bahu. "Oke." Dia belum terbiasa dengan fungsi kendaraan yang sedang dia kemudikan, akhirnya dia menginjak pedal gas penuh, dan Kai segera menyesal saat itu juga karena tidak mengarahkan lebih spesifik pada Baekhyun. Keduanya berteriak saat mobilnya berjalan mundur dari garasi dengan kecepatan penuh, hampir menghancurkan mobil Chanyeol, dan hal itu tidak berlanjut sampai mereka berada di tengah jalan di depan rumah, karena Baekhyun tersadar dan langsung menginjak rem seperti orang sinting.
Kai masih tercengang dengan apa yang baru saja terjadi, sesuatu yang hampir membuatnya mati. Dia mengamati tangannya dan segera melepaskan cengkaramannya di sisi pintu. Kai mengarahkan kepalanya lebih dekat ke Baekhyun, dan menatapnya tajam. "Keluar. Kau tidak akan mengemudi lagi. Ini tidak mengeherankan kenapa kau dilarang mengemudikan apapun di rumah ini, Baek. "
Setelah mendapatkan kembali keberaniaanya, Baekhyun merasa tertantang. Dia menyeringai kembali pada Kai. "Aku dilarang karena alasan tidak masuk akal Chanyeol saja, ok? Sekarang, diamlah. Aku pikir, aku sudah mengerti bagaimana mobil SUV ini bekerja." Bersandar pada jok kemudi, Baekhyun berbisik,"Aku akan menjinakkanmu," ucapnya sambil mengusap dsbor didepanya.
Kai menyaksikannya, sedikit horor. "Uhhh ..."
Baekhyun menegakkan duduknya dan mencoba menyamankan dirinya di kursi kemudi. Kemudian, ia menekan remote lagi, untuk menutup pintu garasi. Setelah itu, dia mengatur gigi mobil untuk mendorong, memutar roda mobil sambil memandang Kai. "Chugga chugga chugga cheesecake," ucap Baekhyun dengan nyanyian sebelum Kai menutup matanya, menyesali berbagai hal yang sudah dia lakukan- selama Baekhyun mengemudi menuju kota.
.
.
Dengan menyandarkan wajah pada tanganya, Chanyeol menyaksikan Sehun memasukkan dan memutar kecil baut menjadi robot kecil yang sudah mereka ciptakan dari awal untuk menguji keterampilannya. Saat jari Sehun bergerak, Chanyeol memainkan bibirnya, dan pikirannya melayang pada apa yang terjadi di ruang tamu dengan ketidakhadirannya.
Seolah bisa membaca pikiran Chanyeol, Sehun akhirnya memulai pembicaraan pertama kalinya sejak dia memasuki ruangan dengan rasa bersalah, dan rasa sesal yang telihat pada wajahnya. "Kau tahu, Baekhyun itu cukup pintar…"
"Benarkah?" Chanyeol bergumam, berpura-pura tidak tertarik pada topik pembicaraan itu.
Sehun mengangguk sambil menjaga tatapanya tetap ke sesuatu yang coba dia selesaikan. "Dia cukup jago dalam Monopoli."
Chanyeol mendengus. "Itu hanya Monopoli."
"Yeah, meskipun begitu Baekhyun bermain dengan serius dan penuh strategi" jawab Sehun. "Aku pikir dia tidak menyadarinya, tapi hal itu jelas terlihat jelas dari pandangan kami."
"Hm," Chanyeol mendengus, kurang tertarik dengan pengamatan Sehun. Kemudian, Chanyeol melanjutkan, "Apa yang dia lakukan sekarang?"
Sehun mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, tapi sebelum aku pergi, aku mendengarnya meminta Kyungsoo untuk membuat Cheesecake - "
Chanyeol hanya memainkan alisnya, setuju dengan Sehun. "Tentu saja dia akan melakukanya- Anyway, apa pendapatmu tentang lelaki baru - Kai."
Sehun tersenyum. "Aku menyukainya."
"Coba bandingkan dia dengan Baekhyun."
"Dia tidak terlalu sensitif dan tidak mencari ribut denganmu" kata Sehun. "dan juga dia tidak hiperaktif - pada dasarnya dia lelaki yang normal. "
Diam-diam, Chanyeol setuju dengan Sehun. Kai - yang baru beberapa hari bersamanya- tampak berada di pihaknya, tepatnya berada dalam satu garis kewarasan yang sama dengan Chanyeol, Sehun, dan Kyungsoo yang sangat berlawanan dengan Baekhyun. Dia melakukan apapun yang Chanyeol perintahkan dan tetap berada di jalan yang benar. Walaupun pada kenyataan Kai telah mengancamnya, dia menjelaskan jika dia tidak mmiliki motif lain selain untuk menjauh dari kehidupannya untuk sementara. Baekhyun dan temanya ini memiliki kesamaan – tapi, motif Kai terlihat lebih tidak mencurigakan. Dia normal seperti yang Sehun katakan. Kai tampak seperti tipe lelaki yang akan tahu bagaimana cara menangani Baekhyun jika terjadi sesuatu.
.
.
"Sial! Baekhyun apa yang kau -"
" -Mungkin itu sudah ada sebelumnya."
Kai mengerang frustrasi dan kesal sambil mencengkram rambutnya. "Baek! Kau menyerempet mobil ini dengan sebuah keranjang belanja sialan beberapa menit yang lalu dan kau bahkan tidak menyadarinya sampai seorang lelaki memberitahumu sampai muak! Panggil aku bodoh, tapi aku sangat yakin jika goresan itu tidak ada sebelumnya!" Kai mengutuk. "Goresan itu sangat terlihat jelas, Baek. Sialan! Apa yang akan kita lakukan?"
Baekhyun meletakkan kedua tangannya di pinggang dan mengangkat bahu, menghela napas. "Masuk dan membeli apa yang kita butuhkan, lalu pulang ke rumah," jawabnya sebelum mengambil langkah menjauh dari tempat kejadian. Ironisnya, Baekhyun membungkuk, mengambil keranjang yang sebelumnya merusak mobil itu dan segera berjalan menuju toko.
Kai berjalan tepat di belakang Baekhyun sambil terus membawa tangannya di rambutnya, panik. "Kita tidak bisa mengembalikan mobil dalam keadaan seperti itu! Mereka akan menyadarinya - dia akan menyadarinya. Sial! Baek, kita akan dituntut - ini juga kesalahanku. Kau bahkan tidak seharusnya mengemudi! Fuck! aku sudah bangkrut, dan sekarang aku akan digugat juga. Ditambah aku- "
Baekhyun berhenti sejenak setelah keluar dari pintu otomatis, lalu meninju lengan Kai. "Diamlah. Aku akan memperbaikinya. "
"Bagaimana?" Tanya Kai, menggosok lengannya. "Aku tidak berpikir sebuah kota kecil sialan seperti ini memiliki tempat servis mobil, Baek. "
"Apa aku harus membuat kerusakan yang lebih besar pada mobil itu sehingga Chanyeol pasti akan lebih fokus menyadari kerusakan besar itu sampai dia bahkan tidak akan menyadari adanya goresan?"
"Aku serius!"
Mendorong keranjang belanja lagi dan masuk, Baekhyun melambaikan tangan ke Kai. "Oke oke, tenanglah. Aku tahu apa yang akan aku lakukan."
"Kau mengatakannya seperti itu juga saat akan mengemudi dan memarkir mobil ini," Kai melanjutkan. "Dan lihatlah apa yang terjadi."
Baekhyun mencondongkan tubuh ke depan, memegang gagang pintu dan tersenyum mengangguk untuk menyapa pekerja di toko. "Tenanglah, dengan sentuhan sedikit kosmetik ini semuanya akan bisa diperbaiki. "
"Jadi ini ide sialan yang kau miliki untuk menyelesaikan kerusakan di mobil itu!?"
Baekhyun mengabaikan ledakan kekesalan Kai. Dia mengamati produk di depanya, memeriksa harga dan daya tahannya. Ketika dia puas dengan pilihannya, Baekhyun berjalan kembali ke keranjang milik mereka. "Ini satu satunya jalan."
Kai memukul dahinya frustrasi. "Eyeliner! Kau akan menutupi goresan di mobil dengan eyeliner hitam! Itu rencanamu?!"
"Apa kau punya sesuatu lain dalam pikiranmu, Einstein?" balas Baekhyun bertanya balik, menaruhyeliner dalam keranjang belanjaan mereka. "Tidak? Maka jangan mengkritik ideku. Ini pasti bisa menutupinya. Aku bersumpah."
"Baek, aku tidak ingin mendapat masalah dengan orang itu. Apakah kau bahkan tahu siapa dia sebenarnya- "
"Ya. Dia Chanyeol. Dia yang menandatangani cekku setiap minggu – lalu memberiku kuliah tentang bagaimana aku harus menghabiskan uang itu, melarangku melakukan hal-hal normal, dan mendapatkan beberapa hal - jika ku tahu apa yang kumakskudkan," kata Baekhyun, Kai sepertinya belum sepenuhnya memahami. "Jika pada akhirnya dia tahu, aku yang akan bertanggung jawab. Aku tidak akan membiarkan dia memarahimu. Ini hanya mobil SUV kelas menengah, Kai. Ini bukan Lamborghini atau apa pun."
Kai mengangkat kedua tangan di depan dadanya. "Sorry Baek, aku bahkan tidak melihat mobil itu hanya sebagai SUV 'kelas menengah'. "
"Whatever. Pada intinya dia tidak akan memarahimu." Ucap Baekhyun, mengarahkan mereka ke kasir. "Ayo pergi."
.
.
Chanyeol dan Sehun keluar dari ruangan kerjanya dan berjalan ke dapur setelah selesai dengan sesi biasa mereka, berharap jika makan malam sudah siap. Chanyeol merasa keadaan rumah ini cukup tenang - terlalu tenang saat dia semakin dekat dengan dapur. Dia menoleh di mana-mana, berharap untuk melihat Baekhyun, tapi penampakan dari wajah ceria dan menjengkelkan miliknya sama sekali tidak terlihat.
Keadaan di dapur pun tampak tidak normal. Makanan yang Kyungsoo masak belum siap, seakan dia menyerah di tengah jalan untuk menyelesaikannya. Sehun mengangkat alis sebelum menyentuh perutnya, tidak berani mengeluhkan jika dia lapar, karena dia merasakan ada sesuatu yang salah.
Chanyeol berjalan ke meja dapur di mana Kyungsoo duduk di bangku dengan kepala menatap ke bawah, kemudian menyentuh bahunya. "Kyungsoo."
Merasa terpanggil, Kyungsoo segera mengangkat kepalanya. "Chanyeol, aku ... Ah, makan malam - "
Chanyeol mengerutkan kening. "Apa yang terjadi?"
Kyungsoo melirik sekitar membuatnya tersandung saat berdiri dari posisi duduknya. "Tidak ada, aku hanya ... lelah." Dia segera melangkah mendekat ke kompor dan menyalakannya lagi. "Aku hanya beristirahat sebentar. Maafkan aku."
Sehun diam-diam menghela napas sebelum pamit undur diri ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Di sisi lain, Chanyeol terus mengawasi Kyungsoo, tapi dia tidak menanyainya. Lalu, dia mengamati kondisi sekitar. "Di mana Kai?" Kyungsoo tidak menjawab cukup cepat sebelum Chanyeol bertanya dengan nada keras: "Baekhyun. Di mana Baekhyun?"
Kyungsoo mengetukkan jarinya di meja sebelum berbalik untuk menghadapi Chanyeol. Dia tidak suka berbohong kepada Chanyeol, tapi dorongan untuk berbohong itu tiba-tiba muncul. "Dia ada di kamarnya."
Ekspresi kesal tampak di wajah Chanyeol ini. "Bahkan bajingan itu tidak tahu kapan harus datang untuk makan malam." Chanyeol berdecak, dan membalikkan badanya. "Aku akan memanggilnya-"
"Tidak!"
Chanyeol membeku sejenak. Chanyeol menangkap ada yang mencurigakan saat melihat Kyungsoo gelisah, kemudian dia berpaling menghadapnya dengan menyilangkan lengan. "Kyungsoo. Aku bertanya sekali lagi. Dimana Baekhyun dan teman kecilnya? "
Kyungsoo mengerutkan kening dan menunduk sedikit sebelum ia menggumamkan sesuatu. Chanyeol tidak bisa mendengarnya, lalu meminta Kyungsoo untuk berbicara lagi. "Aku mengatakan jika Baekhyun sedang di kota."
"Kota?" Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Chanyeol. Apa yang Baekhyun lakukan di kota? Lebih penting lagi, bagaimana dia bisa ke kota? Sebuah pemikiran muncul seketika, membuat matanya segera melesat ke tempat dia menyimpan kunci mobil. Seperti dugaanya, salah satu kunci mobilnya lenyap.
Kyungsoo melihat sorot mata Chanyeol yang sedang menatapnya dengan tatapan yang mematikan. "Mereka mengatakan jika mereka akan segera kembali!"
"Sialan! Kyungsoo, kau seharusnya tahu jika Baekhyun itu terlarang untuk menyentuh mobil itu atau mengendarainya!" bentak Chanyeol. "Kau tahu siapa dia. Dia bisa saja kabur! "
Kyungsoo mulai panik - sesuatu tidak diduga Chanyeol. "Aku tidak berpikir tentang itu! Maafkan aku Chanyeol, dia mengatakan jika dia hanya ingin membeli bahan-bahan untuk membuat cheeseckae! Dan juga Kai yang menyetir- "
"Omong kosong. Kai pasti akan dipaksa untuk duduk di kursi penumpang," Chanyeol berpendapat. Chanyeol menyaksikan Kyungsoo tampak sangat kecewa, lalu dia menggeleng. "Maaf aku tidak bermaksud untuk meneriakimu "
"Tidak, aku yang salah. Aku memang tidak seharusnya memberi izin padanya ..."
Chanyeol menghela napas panjang, lalu berjalan ke telepon. "Kau tidak usah khawatir. Semua akan baik-baik saja."
Kyungsoo mengamati Chanyeol. "Apa yang kau lakukan?"
"Memanggil bajingan itu."
"Tapi ... Baekhyun tidak memiliki ponsel ..."
"Sialan!" Chanyeol mengutuk sebelum membanting telepon itu kembali.
.
.
"Sudah satu jam lebih tiga puluh menit," kata Kai, terdengar gelisah dan khawatir.
"Tenanglah," kata Baekhyun. Selama perjalanan mereka, Baekhyun terus mengulangi kata itu pada Kai. Dia menempatkan plastik terakhir ke dalam mobil, dan memberitahu Kai untuk menjauhkan keranjang belanjaanya dari mobil sejauh mungkin. Kai berjalan kembali ke arah mobil saat pintu belakang sudah ditutup, dan telinga Baekhyun mendengar suara rengekan dari belakangnya.
Baekhyun berbalik untuk melihat sumber suara itu. Saat Kai sudah sejajar denganya, dia melihat sumber suara itu juga, dan Kai segera tahu bagaimana ekspresi wajah Baekhyun walaupun saat ini Baekhyun sedang memunggunginya. Ketika Baekhyun mengambil langkah pertama, Kai mencoba mencegahnya, tetapi Baekhyun berhasil lepas dari genggamannya dan mulai berlari menjauh, Kai ingin berteriak.
"Baekhyun! Tidak!" Baekhyun tidak berhenti atau mendengarkan teriakanya. Kai mengejar Baekhyun. "Sialan, Baekhyun! Kita tidak bisa membawanya! Baekhyun! "
.
.
Chanyeol mempersiapkan diri untuk banyak hal. Dia bersiap untuk menceramahi Baekhyun saat dia kembali nanti. Dia mempersiapkan hukuman – seperti pemotongan gaji dan pencabutan setiap hak istimewa yang dia miliki di rumah ini. Chanyeol bahkan membayangkan setiap rencana itu dikepalannya. Adegan yang tampak dikepalanya terlihat Chanyeol yang memarahi mereka dan menyuruh mereka masuk ke kamar tanpa memberikan makan malam terebih dulu – walaupun adegan itu terlihat seperti skrip sinetron.
Apa yang Chanyeol bayangkan tidak terwujud karena ketika bajingan itu berjalan masuk melalui pintu depan dengan Kai yang membawa semua palstik di belakangnya sedangkan baekhyun membawa anak anjing berbulu hitam kecil di lenganya. Kemudian, Baekhyun dengan bangga menunjukkannya pada Chanyeol dengan senyuman lebarnya, membuat Chanyeol kehilangan kata kata. Baekhyun memegang anjing itu di lengannya dengan lembut, dan memperkenalkan masalah baru di rumah itu.
"Jadi, aku sudah memutuskan untuk menamainya Nugget."
.
.
.
Next,,,,
