NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)
Indo Trans
DISCLAIMER
I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here
exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html
(spasi dihilangkan, dot diganti titik)
.
WARNING
Yaoi, Boy x Boy, Typo (s) etc.
Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.
.
Forward
Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.
.
Chapter 14 – Bits and Pieces
.
Chanyeol tidak tahu harus berkata apa. Kyungsoo hanya diam dan terkejut. Baekhyun menyadarinya, tapi dia tidak menghiraukan segala pemikiran yang ada di kepala mereka. Dia terus mengelus anjing dalam pelukannya itu seperti bayi dan mengajak bicara dengan lembut seperti berbicara pada anak kecil. Anak anjing itu tampak mengerti, menjulurkan lidahnya keluar, terengah dengan perlakuan yang Baekhyun berikan. Kai sebaliknya, bergerak cepat menjauh dari Baekhyun, meninggalkan dia sendirian berdiri menghadapi kemarahan Chanyeol.
"Seseorang menempatkan dia dalam sebuah kotak, di dekat bangunan merah yang tidak terurus itu," kata Baekhyun, mengarahkan tangannya untuk membelai lembut di pipi anak anjing itu. "sungguh memprihatinkan."
Mata Chanyeol langsung melesat kearah Kai yang mencoba melarikan diri menuju dapur, dan mencoba menggunakan tubuh Kyungsoo untuk menutupinya dari tatapan ancaman Chanyeol. Ketika Kai menyadari jika perhatian Chanyeol memang seenuhnya di arahkan padanya, Kai mengangkat bahu. "Aku sudah mencoba untuk menghentikannya! "
"Dia tidak akan bisa meyakinkanku untuk meninggalkanmu, benarkan Baby?" Kata Baekhyun, sambil mengusel-usel wajahnya pada anak anjing yang ada di rengkuhannya.
Chanyeol mengawasinya. Dia mengakui bahwa anak anjing itu agak lucu, tapi pemikiran itu berada di bagian paling belakang dari semua hal yang ada dikepalanya. Dia masih marah atas daftar panjang hal yang sudah Baekhyun lakukan. Anak anjing hanya akan mengacaukan segala sesuatunya.
Sehun keluar dari kamar mandi, mendongak dan berhenti ketika dia melihat semua orang menatap dan menghadap ke satu arah - dia merasa ketegangan mengelilingi mereka. Matanya mengikuti arah setiap orang dan segera melihat bulatan bulu hitam.
"Apakah kita ... mendapatkan anjing?" Tanya Sehun dengan hati-hati. Tidak ada yang menjawab dia, meskipun begitu Kyungsoo menoleh dan menggeleng halus.
Chanyeol tanpa kata berjalan kearah Baekhyun dan meraih kemejanya. Dia menarik Baekhyun kasar agar mengikutinya ke kamar mandi terdekat sebelum menutup dan mengunci pintu di belakangnya. Kemudian, Chanyeol berbalik ke arah Baekhyun, mengambil anak anjing itu dengan paksa meskipun Baekhyun tetap berusaha merengkuh Nugget. Chanyeol melangkah ke bath tub dan menempatkan anjing itu didalamnya, membiarkannya aman berjalan-jalan di area terbatas, menggonggong kecil dan berlari-lari dengan kaki kecilnya.
Baekhyun mencoba untuk mendorong dan melewati Chanyeol untuk mengambil Nugget kembali, tapi Chanyeol meletakkan telapak tangan di dadanya dan mendorongnya. Ketika Baekhyun tersandung mundur, dia mengerutkan kening ke arah Chanyeol tidak suka, meskipun dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Tidak menyukai wajah marah Baekhyun, Chanyeol menggeram dan berdiri mnghadap Baekhyun. "Sial! Apa kau tahu kenapa aku sangat marah padamu?"
"Mungkin karena aku pergi keluar-"
Chanyeol mendorong Baekhyun ke dinding dan membanting tangan di sisi tubuhnya, menyebabkan Baekhyun tersentak. "Coba lagi."
Baekhyun gusar. "Aku memakai mobilmu ..." Chanyeol menggerakan alisnya, mengarahkan ke Baekhyun untuk melanjutkan penjelasan. "Aku tidak tahu aturan lainnya yang aku langgar-"
Chanyeol tertawa sebelum menunjuk lebih di bak mandi. "Kau melupakan itu."
"Apa yang salah Nugget?"
"Apa yang salah Nugget!?" ulang Chanyeol seolah-olah dia menjadi orang gila, yang sangat sesuai dengan kenyataan. "Sialan! Nugget tidak seharusnya berada di sini!"
Baekhyun memukul lengan Chanyeol lembut. "Aku tidak akan meninggalkannya-"
"Kau harus melakukanya," Chanyeol menelan ludah berat. "Kau terus membawa hal-hal yang tidak seharusnya ada di rumah ini, Damn it! Pertama Kai dan sekarang hewan sialan itu - "
"Nugget!" Bentak Baekhyun. "Namanya Nugget."
"Aku tidak peduli," Chanyeol bentak kembali. "Hewan itu terlihat bodoh dan tidak seharusnya berada sini. Ya tuhan! Bahkan hewan itu tidak seharunya memiliki nama, sialan! "
Chanyeol tekejut, melihat kekecewaan di wajah Baekhyun. "Kau tidak seharusnya mengatakan hal itu, Chanyeol."
"Dan kenapa tidak?"
Bibir Baekhyun bergetar seiring dengan kemarahan yang mulai muncul dalam suaranya. "Jika kau dapat memberikan mesin sebuah nama dan cara untuk mendidentifikasinya, lalu mengapa Nugget tidak boleh memilikinya? "
"Karena itu hanya seekor hew-"
"-Diamlah," sela Baekhyun. "Dia bukan hanya seekor hewan, Chanyeol."
"Apa maksudmu dengan 'dia'-"
"-Dia Nugget!" teriak Baekhyun. "Dia anak anjing dengan bulu hitam dan perut yang cukup berisi bernama Nugget. Beberapa bajingan telah meninggalkannya. Dia mungkin saja hanya seekor hewan bagimu, Chanyeol, tapi kenyataanya, anak anjing di sana itu? Dia memiliki perasaan. Dia memiliki potensi untuk menjadi banyak hal - menjadi teman baik atau pendamping. Damn it! Dia hanya seekor anjing yang penuh dengan cinta yang ingin dia berikan pada siapapun, tapi tragisnya dia ditinggalkan sebelum menggunakan kesempatan itu ..." Baekhyun melirik kakinya sebelum mentap mata Chanyeol lagi. "Kau tahu, aku yakin Nugget hanya duduk di kotak dan bertanya-tanya sebenarnya apa kesalahan yang sudah dia lakukan. Aku yakin dia akan terus menunggu."
Chanyeol melihat bagaimana mata Baekhyun berkilau. Dalam benaknya, Baekhyun mungkin sudah terlalu terpikat dengan anjing itu, sampai memberikan nama untuknya, memahami kepribadian, sifat, dan bahkan mengungkapkan sedikit pemikiran kreatif mengenai perasaan anjing itu. Chanyeol, tidak mengerti dengan hewan dan mengabaikan seluruh pemikiran Baekhyun.
"Besok," ucap Chanyeol dengan suara rendah. "Kita akan membawanya ke tempat penampungan hewan besok."
Mata Baekhyun terbelalak, lalu dia menggenggam kemeja depan Chanyeol. "Tidak! Kita tidak bisa melakukanya!" Baekhyun bisa mendengar Nugget merengek di bath tub, seolah-olah merasakan nasibnya yang akan berakhir di penampungan hewan. Mendengar rengekan anjing itu, Baekhyun mencengkeram kemejanya semakin keras. "Pleaseeee- aku berjanji untuk merawatnya. Semua biayanya akan aku tanggung sendiri dengan gajiku. Aku akan mengurus segala sesuatu tentangnya!"
Chanyeol kesal, menarik cengkraman tangan Baekhyun dan menaruhnya di sisi tubuh Baekhyun. "Besok," ulang Chanyeol tegas. "Kita tidak akan merawatnya, Baekhyun. Besok kita akan menyerahkanya ke penampungan dan itu keputusan akhir. "
Selesai dengan percakapan, Chanyeol berbalik membelakangi Baekhyun dan mulai berjalan menuju pintu. Ketika dia tidak mendengar Baekhyun mengikutinya, Chanyeol menengokan kepala ke belakang, siap untuk memberikan perintah untuknya, tetapi ketika dia melihat Baekhyun masih dalam posisi yang sama saat dia meninggalkannya, Chanyeol mengalah sedikit.
"Ayo, sudah waktunya makan malam" ajak Chanyol, saat matanya melihat Baekhyun terus menatap lantai dengan tangan tergantung lemah di sisi tubuhnya, Chanyeol tidak tahu harus bagaimana lagi, sehingga dia merespon dengan cara yang defensif. "Oke terserah. Kau bisa terus di sini," kata Chanyeol sebelum keluar kamar mandi, membanting pintu di belakangnya.
Butuh satu menit setelah Chanyeol pergi sebelum Baekhyun tersentak dari posisinya. Ketika ia mengangkat kepalanya, Nugget telah berdiri di atas kaki belakangnya, mencoba untuk menjaga keseimbangan kakinya pada tepi bath tub agar tidak tergelincir saat ia mencoba untuk mendapatkan perhatian Baekhyun.
Meskipun perasaan Baekhyun sedang tidak baik, Baekhyun masih bisa tersenyum pada anjing itu, dia berjalan ke arahnya dan duduk di tepi bath tub, dan membiarkan anjing memanjat ke pangkuanya. Ketika Nugget tidak bisa melakukannya, Baekhyun tertawa pelan sambil mengangkat anjing dan menempatkan dia menempel di dadanya.
Merasakan kaki kecil menggelitik dadanya, Baekhyun berakhir dengan merasa senang dan sedih bersamaan. Baekhyun menggigit bibirnya sambil membelai bagian atas kepala anak anjing itu. Seolah-olah merasakan suasana hati Baekhyun ini, Nugget menghadap tepat ke wajah Baekhyun, sehingga bola matanya yang besar dapat terlihat jelas.
Baekhyun menghela napas panjang, dia terus membawa tanganya mengelus di sepanjang tulang belakang anak anjing itu. "Maafkan aku, Nugget. Kurasa aku akan kehilanganmu lagi ... "
.
.
Makan malam sudah berjalan lima belas menit yang lalu dalam keadaan yang sangat canggung, dan Chanyeol sudah berada di titik kesabaranya. Baekhyun tidak bergabung dengan mereka sampai sekarang dan hal itu sangat mengganggu dirinya. Ssalah satu sisi Chanyeol menyadari jika semua ini adalah kesalahnya, tapi sisi keras kepalanya terus mengatakan bahwa sepenuhnya adalah kesalahan Baekhyun karena dia begitu kekanak-kanakan.
Meskipun pemikiran itu terlintas di benaknya, Chanyeol tidak ingin kembali dan menghadapi Baekhyun lagi, karena dia tidak ingin melihat kondisi Baekhyun setelah mendengar keputusannya – serta ceramahnya. Chanyeol meletakan garpunya keras di atas piring, dia sudah tidak tahan dengan keheningan yang terjadi di meja makan itu, dan dengan ketidakhadiran Baekhyun.
Chanyeol mengarahkan pandanganya pada Sehun, dan memiringkan kepalanya untuk menghadapnya. "Panggilah si bodoh itu."
Sehun mengangguk dan pamit dari meja dan pergi ke kamar mandi. Saat Sehun telah pergi, Kyungsoo mengerutkan kening dan menatap dua kursi kosong di depannya. Dia mengarahkan pandanganya pada Chanyeol, lalu bertanya dengan nada yang berat dan sedikit marah. Sesuatu yang tidak biasa dilakukan olehnya saat berbicara pada Chanyeol. "Apa yang sudah kau lakukan padanya?!"
"Aku tidak melakukan apapun."
"Lalu apa yang kau katakan?!"
"Kenyataan dari semuanya."
.
.
Baekhyun membenci pemandangan itu. Dia membenci bayangan bodoh dari bangunan di depannya. Sebuah gambar yang tampak menampilkan sekumpulan hewan yang terlihat bahagia, dan semuanya hanya omong kosong baginya. Dia tahu kebenaran apa yang ada di dalam. Apa yang ada di dalam adalah adalah sekumpulan batangan logam yang akan membatasi pergerakan apapun yang ada didalamnya.
Chanyeol melepas kacamatanya dan menggantungnya di kemeja yang dia pakai. Dia memandang Baekhyun yang menatap bangunan itu, dia tidak benar-benar tahu apa yang dipikirkan Baekhyun. Matanya menatap pangkuan Baekhyun, dan melihat anak anjing yang mencoba untuk mencari perhatian Baekhyun sebelum mengarahkan kepalanya untuk melihat Chanyeol.
Chanyeol mengerutkan keningnya, dan mengalihkan tapanya dari anak anjing itu. Dia tidak menyukai sorot mata anak anjing itu - yang terlihat seperti 'Kenapa kau melakukan ini padaku'. Chanyeol segera melepas seatbeltnya, dan membuka pintu. "Come on. Keluarlah, kita harus segera menyelesaikan semuanya." Saat Baekhyun tidak merespon sama sekali, Chanyeol mengerang. Dia membungkuk dan mengambil anak anjing dari lengan Baekhyun.
Baekhyun mencoba untuk mendapatkan anjing itu kembali, tapi seatbelt membuat pergerakanya terbatas. "Berikan Nugget padaku, Chanyeol. "
"Keluar dari mobil dan aku akan memberikannya padamu lagi."
Mengetahui bahwa ia tidak memiliki kendali dalam situasi ini – sesuatu yang tidak diinginkanya - Baekhyun melpas seatbeltnya dan keluar dari mobil, menutup pintu sambil berjalan ke luar. Chanyeol melihat Baekhyun menurut dan lalu menutup pintu mobilnya sendiri. Chanyeol mendekat sejajar dengan kepala Baekhyun lalu menyerahkan anak anjing itu kembali padanya, mencoba untuk menghindari rengekan dan cakaran kaki anjing kecil itu padanya.
Ketika mereka sampai di gedung kantor penampungan itu, Baekhyun berhenti. Ketika Chanyeol menyerukan dia untuk terus berjalan mengikutinya, Baekhyun menggeleng. "Aku akan menyerahkanya jika surat-suratnya sudah selesai ditandatangani."
Chanyeol ingin membuka mulutnya untuk membantah, tapi dia mengalah.. Semua kebahagiaan Baekhyun terlihat tertarik keluar darinya dengan paksa – dan Chanyeol tidak bersedia untuk bertanggung jawab atas itu. Chanyeol mengangguk dan menyruh Baekhyun tetap berada di sekitar gedung itu sebelum memasukinya.
Setelah Chanyeol pergi, Baekhyun membawa Nugget ke pohon besar terdekat, duduk di bawahnya dan melanjutkan elusanya pada anak anjing itu yang sedang menghadapkan wajahnya di pangkuan Baekhyun.
.
Setelah berbicara dengan orang yang akan bertanggung jawab dan menandatangani beberapa hal mengenai kesejahteraan Nugget ini di penampungan itu, Chanyeol melangkah keluar untuk mengambil anak anjing itu, tapi dia tidak melihat Baekhyun di manapun. Pada awalnya, Chanyeol berpikir bahwa Baekhyun kabur – cukup masuk akal. Tapi setelah memeriksa daerah sekitarnya lagi, Chanyeol melihat Baekhyun sedang berteduh di bawah pohon yang tidak terlalu jauh dari bangunan itu.
Chanyeol berjalan ke arah keduanya, tapi langkahnya dibuat sedikit lebih lambat dan tenang setelah mendengar Baekhyun berbicara dengan anak anjing itu, dia mencoba menangkap apa yang coba Baekhyun katakan.
"Aku yakin kau akan diadopsi oleh orang-orang baik, Nugget," kata Baekhyun, mencoba untuk berpikir posotif. "aku yakin kau akan tinggal di sebuah rumah yang bagus - Aku hanya mengatakan 'bagus' karena hidup di sebuah rumah besar tidak menjamin kau akan menjadi anjing yang lebih bahagia. Coba bayangkan, ketika kau tinggal di sebuah rumah yang besar dan kau satu-satunya anjing di di dalamnya – apalagi sekarang kau masih kecil – kau pasti akan merasa kesepian. Aku yakin, bahkan kau akan mendengar gema suaramu sendiri jika kau mengonggong." Baekhyun tersenyum pada anak anjing itu, merasakan bulu lembut pada jari-jarinya. "Tapi, jika kau tinggal di sebuah rumah yang kecil, seperti rumah badut, setiap orang dalam keluargamu akan saling berhimpitan, tapi itu hal bagus karena kau akan menyukai seberapa dekat kau dengan mereka semua – mereka akan menyukainya juga, karena tidak peduli seberapa kecil rumah mereka, mereka senang mengetahui bahwa mereka dapat membuat ruang yang cukup untukmu juga."
"Oh iya, kau juga jangan mau menerima perintah dari orang-orang yang jahat padamu," lanjut Baekhyun. "Jika mereka memukulmu, lalu memberitahumu untuk berguling, yang harus kau lakukan hanya duduk saja dan jangan melakukan apapun. Tapi, jika mereka baik padamu dan mereka memberitahumu untuk berguling, maka kau harus melakukannya karena itu akan membuat mereka senang, yang akan membuat perasaanmu tenang - dan membuatmu senang, juga. "
Ketika Nugget bergerak di atas paha Baekhyun dengan kakinya, Baekhyun tertawa. "Ya, aku ini munafik, kan? aku tidak bisa membuat orang lain merasa senang, Nugget. Aku sudah berusaha untuk melakukan itu semua selama hidupku, tapi sekarang aku hanya ingin menjadi sedikit egois untuk menebus setiap waktuku. Jangan seperti Daddymu ini – tenanglah, aku akan selalu menjadi Daddymu. Kau pasti akan mendapatkan ayah - atau ibu lain – dalam beberapa waktu ... semoga kau tidak perlu menunggu terlalu lama ... "
Beberapa saat berlalu dalam keheningan sebelum Baekhyun terkejut mendengar suara seseorang menepuk pohon tempatnya bersandar. Dia melihat ke atas, dan tampak Chanyeol berdiri di sisi pohon itu. "Baek, sudah waktuya ..."
Dengan merapatkan bibirnya kuat, Baekhyun merengkuh Nugget di satu tangan sambil membawa dirinya kembali berdiri. Baekhyun memandang mata Chanyeol untuk beberapa saat sebelum membawa pandanganya ke bawah.
Chanyeol tidak ingin merasa bersalah atau sedih dengan apa yang sudah dia lakukan. Dia bahkan tidak seharusnya peduli tentang rengkuhan Baekhyun pada anak anjing itu menjadi lebih erat, namun pada akhirnya dia melakukanya juga. Chanyeol peduli meskipun dia tidak menginginkannya. Dengan segala sesuatu yang dalam hatinya, Chanyeol memaksa mengabaikan perasaan itu, dan berjalan kembali ke dalam tempat penampungan.
Perjalanan kembali ke rumah sangat hening, tapi keheningan ini berbeda. Keheningan ini bercampur dengan rasa bersalah dan tidak menyukainya. Dia tidak menyukai fakta bahwa Baekhyun sangat tenang. Bahkan, Chanyeol lebih suka jika Baekhyun berteriak atau marah padanya dari pada menyiksa Chanyeol dengan cara mendiamkannya.
Tapi, bukan berati Chanyeol bisa dengan mudah meminta Baekhyun untuk marah padanya, jadi dia hanya terus membiarkan Baekhyun untuk memandang ke luar jendela, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
.
-Baekhyun; Umur 8-
Baekhyun menjatuhkan tas sekolahnya dan segera melepaskan sepatunya dengan cepat, menerobos melewati semua pelayan dengan kaki mungilnya menaiki tangga. Dengan setiap langkah yang dia ambil dengan cepat, Baekhyun menjadi lebih dan lebih bersemangat untuk cepat sampai ke kamarnya karena ada yang menunggunya di sana.
"Nugget!" Teriaknya gembira sambil berlari menuju kamar tidur yang terbuka. "Nugget, datanglah dan sambutlah aku! Daddymu datang!" Baekhyun melambat saat dia sudah sampai di depan kamarnya, sedikit tertawa. Mendorong pintu kamarnya terbuka lebih lebar, dia berencana untuk melompat, tapi dia tidak melakukannya, melainkan melangkah pelan untuk melihat sekeliling. Senyuman masih tampak pada wajahnya. "Nugget? Nugget, apa kau bersembunyi di suatu tempat? "
Baekhyun berada di tengah kamarnya, mencari di bawah tempat tidurnya untuk ketiga kalinya ketika dia mendengar ketukan di pintu kamarnya. Dia merangkak keluar dari bawah dan melihat bahwa yang datang adalah ayahnya dengan posisi tangan berada di belakang punggungnya. Membawa dirinya bangkit berdiri, Baekhyun segera berlari ke arah ayahnya, lalu mencengkeram celananya.
"Ayah, aku tidak menemukan Nugget! Aku-"
Baekhyun berhenti ketika ayahnya membungkuk untuk membelai rambutnya. "Baekhyun, kami sudah melepaskan anjingmu. "
Perlahan-lahan, Baekhyun melepaskan cengkraman pada celana ayahnya. "Apa maksud ayah?" Tanyanya tidak sepenuhnya mengerti. "Ayah, Nugget itu temanku Kenapa kau membiarkan dia pergi?" tanya Baekhyun, meskipun muda, dia tetap tenang. Ayahnya tidak menyukai perilaku tidak teratur sehingga ia tidak punya pilihan lain, selain mencoba dan menjadi tenang.
"Alih-alih bermain dengan beberapa hewan bodoh, ayah pikir kau bisa melakukan sesuatu yang sedikit lebih produktif sebagai ahli warisku. Apa kau mengerti?" tanya ayahnya.
Baekhyun mengerti. Dia pintar. Dia sangat mengerti maksud ayahnya, tetapi pada saat yang sama, dia berharap bahwa dia tidak mengerti. Dia berharap bahwa otaknya tidak dapat memahami situasi berharap bahwa dia tidak mengerti apa yang telah dilakukan ayahnya atau mengapa ayahnya melakukan itu. Baekhyun berharap bahwa dia bukanlah Byun Baekhyun, seorang yang tidak memiliki teman, atau lebih tepatnya seorang yang baru saja kehilangan teman satu-satunya karena siapa dia dan apa statusnya.
Tapi dia hanya anak lelaki yang masih berumur delapan tahun. Dia tidak punya pilihan. Baekhyun mengangguk dan bergumam, "Ya."
Ayahnya tersenyum dan mengambil sesuatu dari tangan lainnya yang berda di belakang punggung, lalu menunjukkan robot kecil dengan kepala, dua lengan, dua kaki, dan dada. Dalam pikiran Baekhyun, Robot itu memiliki rupa yang tidak mengenakan. Robot itu mencoba menyerupai manusia, tapi Baekhyun cerdas dan dia tahu lebih baik. Robot itu hanya kumpulan logam.
"Robot ini sebenarnya masih berfungsi, tetapi ayah mengambil dan membongkar beberapa bagian agar kau bisa berlatih dan meletakan bagian-bagiannya kembali bersama-sama." Dia menyerahkan mainan robot itu pada Baekhyun, lalu ayahnya memberinya sebuah tas kecil, yang Baekhyun tebak berisi semua bagian yang dibongkar. "Kau tahu, jika kau melakukannya dengan tepat, mainan robot itu akan berfungsi lagi. Kemudian kau bisa bermain dengannya, bahkan dia bisa menjadi teman terbaikmu. "
Sekali lagi, Baekhyun mengangguk. "Oke."
Mengacak rambut anaknya untuk terakhir kali, ayah Baekhyun pergi, meninggalkan Baekhyun dengan mainan rusak dan beberapa bagian mainan itu di tas kecil.
Tidak butuh waktu lama bagi Baekhyun untuk memasang kembali mesin yang rusak itu. Meskipun waktu tidurnya sudah lewat, Baekhyun duduk di meja dengan lampu dihidupkan. Dia menyandarkan kepalanya di lengannya, melihat robot kecil itu bergerak dengan kaku, berjalan dari titik awal di mana Baekhyun menempatkannya di salah satu sudut mejanya.
Baekhyun berusaha untuk menyukainya. Dia mencoba untuk menyukai mainan yang menyerupa manusia itu. Pada satu titik, Baekhyun mencoba untuk mengelus mainan itu seperti yang biasa dia lakukan pada anjingnya, tapi ujung-ujung tumpul mainan itu malah melukai tangannya, dan permukaan mainan yang dingin itu tidak menarik baginya. Dia tidak bisa merasakan sesuatu yang di lembut pada permukaanya. Bahkan sorotan mata yang dimiliki mainan itu sangat dingin, tidak menunjukan emosi apapun, selamanya.
Baekhyun mencoba lagi, dia meminta robot itu untuk melakukan serangkaian perintahnya. "Mengonggonglah" Hening. "Bicaralah" Hening. "Bergulinglah" Hening.
Robot itu tidak bisa melakukan apapun kecuali berjalan dalam garis lurus dan mengedipkan beberapa lampu. Merasa lelah dan tidak puas dengan itu, Baekhyun mematikan lampu dan melompat dari kursinya. Cahaya malam di samping tempat tidur adalah Bintang Utara miliknya yang menerangi malam yang gelap. Dan saat Baekhyun tiba di tempat tidurnya, dia menaikinya lalu segera masuk dalam selimut serta meringkuk di dalamnya, tidak melupakan fakta bahwa dulu pernah ada tubuh hangat berbaring di sampingnya. Tapi sekarang, bukan anjing yang dimilikinya, melainkan robot rakitan.
Dan dia tidak menyukainya.
.
.
.
dan cerita ini kembali bersambung ^^
Oiya terima kasih atas saran yang kalian berikan, oiya jika kalian merasa ada bagian translteanku yang kurang sesuai, kalian bisa memberitahuku, aku akan memperbaikinya, aku sangat menghargainya ^^
Dan untuk waktu update aku memang tidak meemiliki jadwal, tapi aku akan berusaha untuk selalu mengupdatenya, aku akan langsung mengupdate saat aku sudah menyelesaikan translteanya ^^
Terima kasih untuk pembaca yang selalu menunggu lanjutan ff translte ini, Jadi bagaimana dengan dua chapter ini? Aku menunggu tanggapan kalian ^^
See you next chap ^^
