NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)

Indo Trans

DISCLAIMER

I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here

exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html

(spasi dihilangkan, dot diganti titik)

.

WARNING

Yaoi, Boy x Boy, Typo (s) etc.

Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.

.

Maaf atas keterlambatany

Please Enjoy... ^^

.

Forward

Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.

.

Chapter 15 – Star Comparison

.

Chanyeol membenci keadaan seperti ini. Dia tidak berpikir akan sebenci ini dengannya. Ini bukan masalah tentang muka murung yang Baekhyun tunjukkan. Tidak, Baekhyun tidak murung sama sekali. Dia bahkan tidak pernah membuat masalah di rumah. Setelah mereka sampai di rumah, Baekhyun melakukan segala sesuatunya seperti biasa. Dia melakukan semua kewajiban hariannya – seperti merapikan tempat tidurnya, menyapu lantai, mengelap berbagai peralatan – akan tetapi ada satu hal yang berbeda darinya yaitu dia tidak berbicara dengannya.

Dan itulah hal yang paling mengganggu Chanyeol. Dia tidak pernah berpikir bahwa keheningan yang sempat dia dambakan bahkan lebih menganggunya dari pada tawa Baekhyun yang beresonansi dalam rumah. Chanyeol dapat mendengar jeritan bersalah dirinya yang terus berdengung alih-alih mendengar suara Baekhyun.

Malam itu, Chanyeol tidak sengaja menumpahkan kopi di kemejanya. Saat itu hampir jam sembilan dan semua orang tampaknya sudah dalam kondisi besantai. Meskipun demikian, Chanyeol mengganti kemejanya dan pergi mencari Baekhyun, yang kemudian dia lihat sedang duduk dengan Sehun dan Kai di ruang tv.

Chanyeol berjalan ke arahnya, dan menyerahkan baju yang sebelumnya terkena tumpahan kopi dengan lembut. "Baekhyun, cucikan baju ini. "

Baekhyun mengangkat matanya dari televisi kemudian mengarah ke kemeja. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Baekhyun bangkit berdiri. Dia tidak melakukanya dengan cara yang kesal atau malas. Dia menurut seperti tidak ada yang salah dan bahwa segala sesuatunya dalam keadaan baik-baik saja. Baekhyun mengambil kemeja itu dari tangan Chanyeol dan berjalan ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membilas sebagian cairan sebelum mencucinya di mesin cuci. Setelah dia pergi, Chanyeol merasakan tatapan Kyungsoo mengarah padanya sebelum Kyungsoo menggelengkan kepala dan mengalihkan mukanya, yang membuat Chanyeol lebih merasa semakin bersalah.

Keesokan paginya, Chanyeol tidak dibangunkan dengan cara yang biasanya. Sebagai gantinya, Baekhyun berdiri di sampingnya dan mengguncang bahunya dengan lembut. Baekhyun menyerukan Chanyeol untuk bangun dengan suara yang tidak begitu keras seperti berbisik.

"Mr. Park, saatnya untuk bangun. "

Chanyeol mengerjap beberapa kali, mencoba untuk memahami apa yang dia dengar. Pada awalnya dia tidak yakin apakah yang dia dengar itu benar – dia tidak yakin karena Baekhyun memanggilnya dengan sebutan formal. Tapi ketika Baekhyun mengulangi kata-katanya lagi, Chanyeol – membalikan tubuhnya menghadap Baekhyun – dan membuka matanya. Ekspresi terkejut terlihat di wajah Chanyeol, dan akhirnya dia menyadari bahwa cara Baekhyun membangunkannya pagi ini memang berbeda.

Tidak ada goncangan di tempat tidurnya, yang biasa Baekhyun lakukan sejak pertama kali mereka bertemu. Tidak ada suara setengah berteriak, setengah bernyanyi untuk membangunkanya dan menyuruhnya untuk menikmati udara segar. Baekhyun bahkan tidak membuka selimutnya dengan paksa untuk memaparkan dirinya pada udara pagi yang dingin. Sebaliknya, sekarang Chanyeol dibangunkan dengan suara yang kecil dan pelan – sedikit ragu – serta agak gemetar.

"Mr. Park, apa kau sudah bangun? "

Chanyeol menarik napas sebelum menjawab. "Ya ..." Kemudian Chanyeol mendengar Baekhyun mengambil langkah kembali ke pintu. Chanyeol mendudukan dirinya perlahan-lahan, matanya mengikuti kepergian Baekhyun, mengamati gerak geriknya, yang mengusap belakang lehernya.

Setelah pergi, Chanyeol menjatuhkan dirinya kembali ke tempat tidurnya, menatap langit-langit putih, karena tidak dapat menyingkirkan perasaan bodoh dalam hatinya.

.

Ketika Chanyeol pergi ke dapur untuk sarapan, sedikit terhuyung karena baru bangun tidur, dia hampir tersandung pada kantong kertas cokelat yang terasa seperti batu. Chanyeol mendesis karena hampir membuat dirinya terjatuh, lalu dia memelototi kantong itu sebelum Kai mendorongnya dengan lembut dan berjongkok untuk mengambil kantungnya. "Maaf. Aku bermaksud untuk membuang ini kemarin," jelas Kai.

Tepat sebelum Kai keluar melalui pintu belakang untuk membuang apa pun yang ada dalam kantung itu, Chanyeol memanggilnya. "itu kantung apa?"

Kai berhenti dan melihat ke bawah ke dalam tas. "Bukan apa-apa. Ini hanya sesuatu yang Baekhyun beli dua hari lalu- "

"Apa yang dia beli?"

Kai mengangkat bahu sebelum sepenuhnya melangkah keluar. "Pakan anjing," gumamnya. Kemudian Kai menambahkan, "Jangan khawatir. Kami tidak menggunakan uang belanja untuk membelinya. Bekhyun membeli dengan uangnya sendiri. "

Kemudian Chanyeol membenci dunia ini karena sepertinya dunia juga membencinya.

.

Sepanjang hari, Chanyeol menyaksikan Baekhyun yang sedang melakukan pekerjaannya dengan tenang, mekipun dia sempat meminta izin untuk membuka beberapa jendela agar angin laut yang segar bisa masuk ke dalam rumah. Chanyeol meresa terkejut mengetahui bahwa Baekhyun bahkan meminta izin padanya. Meskipun demikian, dan tidak peduli seberapa tidak enak perasaanyaa, Chanyeol mengangguk dan mengijinkannya, memberikan satu kata 'ya' sebelum meninggalkan Baekhyun sendirian lagi.

Dan selama pengamatan Chanyeol, dia menghitung gerakan yang terus Baekhyun lakukan yaitu membawa tangan untuk mengusap lehernya. Chanyeol penasaran alasan Baekhyun terus melakukannya, tapi dia menduga mungkin Baekhyun pasti tidur di posisi yang salah tadi malam. Dugaan itu awalnya tetap kuat, sampai Sehun memberitahunya bahwa Baekhyun menyelinap keluar malam tadi dan tidur di ayunan gantung yang dia buat di luar.

"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Chanyeol pada Sehun yang sedang berjongkok untuk memotong beberapa daun yang mati di batang bunga.

"Baekhyun melakukanya setelah semua sudah berada dalam kamar masing masing," mulai Sehun. "Saat itu aku pergi ke dapur untuk minum,lalu mendengar pintu belakang bergeser terbuka. Awalnya menakutkan, tapi aku menyadari itu hanya Baekhyun... " Sehun berhenti sejenak untuk menyeka dahinya dengan lengan. "Lalu dia memintaku untuk membantunya memasang ayunan gantung, kau tahu? Pada awalnya aku berpikir bahwa itu hanya salah satu ide-ide gilanya lagi, tapi entahlah ... aku tidak merasa dia sedang melakukannya."

"Saat itu sangat gelap, salah satu penerangan mungkin hanya dari bulan," kata Sehun, mencoba mengingat. "Dia membawa senter, kemudian kami akhirnya selesai memasang ayunan itu. Aku bertanya padanya mengapa dia tidur di luar, lalu dia menjawab... Dia mengatakan bahwa dia hanya tidak ingin merasa terikat, dan hanya itu yang dia katakan sebelum menyentuh lenganku dan menyuruhku untuk kembali ke dalam. "

.

-Baekhyun; 22 tahun-

Baekhyun Berayun lembut di ayunan itu sambil menatap pantulan bulan pada air laut yang tenang, membiarkan suara ombak yang lembut menerjang ke pantai mengisi telinganya. Perlahan, tatapan matanya melayang ke arah langit. Dia merasa sedikit rasa damai meskipun perasaan hancurlah yang memenuhi hatinya , mengancamnya untuk membuka kenangan yang pahit, kenangan lama yang akan membuatnya menangis.

Air mata. Tidak ada ruang sedikitpun dalam hidupnya untuk air mata – tetesan air yang bodoh itu akan memancarkan karakter lemah. Air mata adalah sesuatu yang hanya dia miliki di masa kecilnya, dan dia sudah bersumpah untuk tidak pernah lagi melakukannya - menangis. Air mata itu akan membuatnya terlihat 'kacau'. Menangis akan menyebabkan dirinya tertekan secara emosional dan tertekan akan menunjukkan bahwa dirinya telah kehilangan kendali dirinya. Dalam kamusnya, kendali diri adalah emas.

Di langit, jutaan bintang menunjukkan cahaya mereka bersama bulan. Mereka sangat indah di matanya, tapi saat ini, Baekhyun tidak bisa mengabaikan fakta bahwa kegelapanlah yang memenuhi hidupnya.

Ketika Baekhyun masih kecil, sudah jelas bahwa dia adalah si jenius yang dapat lahir dalam silsilah keluarganya. Sebagai seorang anak, ratusan orang akan mengomentari otaknya, kemampuannya, kendali dirinya di usia muda, dan 'kecintaanyanya' untuk 'seni' - robotika.

"Baekhyun, kau anak yang sangat pintar," kata mereka. "Kau sangat beruntung memiliki otak seperti itu," mereka akan menambahkan. Kemudian, mereka akan mengelus kepalanya seperti semacam ungkapan puas terhadap suatu proyek yang sangat berharga, sebelum melanjutkan memuji kecerdasanya yang tidak pernah Baekhyun pinta. "Baekhyun, kau tampak seperti bintang. Kau benar-benar terang – bersinar karena potensi-potensi yang kau miliki."

Bahkan di usia mudanya, Baekhyun sudah mengetahui segala seuatunya tentang semesta – tentang bintang. Dia menahan ucapannya, tidak berani untuk mengoreksi mereka, atau bahkan belum berani, mengatakan kepada mereka bahwa mereka telah membuat kesalahan - bahwa dia tidak ingin menjadi bintang. Bahkan pada usianya yang belum genap sepuluh tahun, Baekhyun lebih memahami semuanya dari pada orang dewasa, namun ia memutuskan untuk tetap bungkam demi tetap mempertahankan sikap sopan santunnya.

Saat tatapan Baekhyun sudah tidak tidak fokus pada bintang karena mengingat semua hal yang sudah terjadi dalam hidupnya, kehidupan dimana dia sering dibandingkan dengan "bintang". Dia berpikir, mencoba untuk mengingat apa yang membutnya tetap menutup mulutnya. Butuh waktu tidak lebih dari satu menit baginya untuk mengingat alasan mengapa dia membenci perbandingan itu meskipun saat itu dia masih anak-anak.

Bintang - ketika kau melihat mereka dari Bumi - terlihat berbinar. Bintang-bintang itu tampak berkelap-kelip karena mereka bercahaya. Bintang dari permukaan bumi akan menarik perhatian semua orang karena mereka berpikir bahwa bintang-bintang itu terlihat indah dan sempurna. Tapi - Baekhyun yang masih kecil sudah menegetahui – jika bintang yang semua orang lihat di langit berjarak satu juta tahun cahaya. Dan dari berbagai sumber, menyebutkan jika bintang-bintang itu tidak indah. Bahkan, sebagian besar inti bintang sudah sekarat atau telah mati

Sebuah fakta yang menyedihkan. Meskipun pada saat itu Baekhyun tidak suka perbandingannya dengan bintang, akan tetapi saat dia tumbuh dewasa, Baekhyun mulai menyadari bahwa dalam beberapa hal, dia adalah seorang bintang : terlihat terang, sempurna, dan bahagia di permukaannya, namun perlahan-lahan dia sekarat di dalamnya - mati karena sosok yang semua orang harapkan membunuh sosok yang Baekhyun harapkan.

Menyamankan dirinya di ayunan, Baekhyun memejamkan mata dan tidur di bawah bintang yang terlihat seperti dirinya.

.

.

Saat itu sore ketika Sehun tiba-tiba mendapat tas kecil, tas itu terdorong ke tanganya. Sehun mendongak dari tempat duduknya, terkejut melihat Chanyeol di kamarnya. Dia bahkan tidak menyadari kapan Chanyeol memasuki kamarnya.

Pandangan Sehun menunduk pada tas, dia tidak tahu harus berkata apa. "Terima kasih?"

"Ini bukan untukmu," jelas Chanyeol.

Sehun melirik bolak-balik antara Chanyeol dan tas. "Ini untuk…?"

"Aku ingin kau masuk ke dalam kamar Baekhyun dan memberikan itu padanya."

Sehun mengangkat alisnya. "Dan ... Kau membuatku melakukan ini karena?"

"Karena kau bekerja untukku dan aku memberitahumu untuk melakukannya, jadi kau hanya harus melakukannya sekarang," kata Chanyeol sebelum menghela napas. "Tolong..."

Sehun bangkit dari tempat duduknya, memiringkan kepalanya, memegang tas itu dengan kedua tangannya. "Baiklah. Aku akan memberikan ini kepadanya, apapun ini –Jadi, apa yang ada didalamnya? "

"Hanya beberapa hal yang Baekhyun sukai," Chanyeol bergumam.

Sehun menyeringai dan mendekat. "Seperti?"

Memutar bola matanya, Chanyeol meletakkan tangannya di punggung Sehun dan mulai mendorongnya perlahan keluar pintu, dia bersamaan berjalan di sepanjang sisinya. "Sebuah cardigan dan beberapa buku," gumam Chanyeol.

"Aku tidak dapat mendengarnya."

"Aku akan memotong gajimuu jika kau bersekeras tidak mendengarnya," kata Chanyeol, memberikan ancaman kosong. "Kau hanya harus memberikan ini padanya dan kembali menghdapku-"

"Apa yang harus aku katakan?" Tanya Sehun saat mereka berjalan dalam rumah. "Oh Baek, ini tas berisi hal-hal yang Chanyeol tahu jika kau menyukai- "

"Jangan menyebut namaku."

Sehun berhenti dan menatap Chanyeol. "Jangan?" Sambil menggelengkan kepala,dia mengangkat bahunya. "Aku tidak mengerti. Kenapa tidak kau saja yang langsung memberikan ini padanya?" Ketika Chanyeol tidak menjawab, Sehun mengerti rasa bersalah yang tampak di wajahnya. "Kau tidak bisa langsung menghadapinya,kan? Chanyeol, aku berpikir s- "

"Aku tidak ingin mendengar pendapatmu," sergah Chanyeol. "Lakukan saja seperti yang kuminta. Katakanlah bahwa kau berbelanja dan melewati beberapa hal dan kau mengingat bahwa dia menyukainya. "

"Jadi itu kronologi bagaimana kau berakhir dengan berbagai isi dalam tas ini?" ucap Sehun sambil tertawa sambil mulai berjalan.

"Diamlah" kata Chanyeol cepat menghentikannya sebelum memasuki sisi kanan rumah, Chanyeol menyaksikan Sehun melanjutkan langkahnya.

.

Saat Sehun masuk ke ruang kerja, Chanyeol sedang membungkuk dan segera menegakkan posisinya, meraih pensil untuk mencoba dan menciptakan façade yang sedang dia kerjakan, walaupun pada kenyataannya, Chanyeol tahu ekspresi wajah yang Sehun tunjukkan bahwa Sehun tidak mempercayainya.

"Sedang mengerjakan sesuatu?"

"Ya."

"Tapi kertas itu terlihat benar-benar kosong."

Chanyeol mengabaikan komentar Sehun dan melanjutkan perkataanya. "Apa yang dia katakan?"

"Tidak ada," kata Sehun mengangkat bahu. "Dia hanya mengatakan 'terima kasih' dengan suara yang selalu dia gunakan setelah kau menyerahkan anjingnya ke penampungan... "

.

.

Next