NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)
Indo Trans
DISCLAIMER
I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here
exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html
(spasi dihilangkan, dot diganti titik)
.
WARNING
Yaoi, Boy x Boy, Typo (s) etc.
Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.
.
Forward
Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.
.
Chapter 16 – Solution
.
Sudah empat hari berlalu sejak kejadian penyerahan anjing ke penampungan dan tetap sama membosankannya, kurang antusias, dan kurang spontan seperti hari-hari sebelumnya. Baekhyun membangunkannya dengan sopan, sentuhan pelan, dan suara yang monoton. Chanyeol membenci keadaan seperti itu.
Ketika Baekhyun menyentuh bahunya dengan guncangan lembut, Chanyeol mencengkeram pergelangan tangannya. Dia berbalik telentang dan menatap Baekhyun, yang tidak begitu tersentak atau terlihat seperti sedang tertangkap basah. Bahkan saat Chanyeol memberikan tatapan menantang agar Baekhyun melakukan sesuatu yang radikal -bahkan lelucon tentang gay - Baekhyun tetap tidak menanggapi.
Sebaliknya, Baekhyun menarik tanganya agar terlepas dengan paksa, tapi tetap sopan. "Selamat pagi."
Ketika Chanyeol terus mengerutkan kening ke arahnya, Baekhyun memberinya anggukan kecil dan membuat sudut bibirnya membentuk senyuman kecil. "Sarapan sudah siap."
.
Pada sore harinya, Kyungsoo pergi ke pantai sementara Sehun mengikuti di belakangnya dengan ember dan sekop kecil untuk membangun istana dari pasir, meninggalkan Chanyeol sendirian di rumah. Sebelum Baekhyun datang, sendirian di rumah adalah sesuatu yang menyenangkan sambil mendengar deburan air laut yang tidak terlalu jauh, tapi untuk saat ini, keadaan seperti itu sangat mengganggunya karena Chanyeol menyadari bahwa ada seorang lain di rumah.
Chanyeol menghela napas panjang, dan ragu-ragu berjalan ke kamar Baekhyun. Dia tahu bahwa Baekhyun ada di dalam kamarnya karena dia langsung undur diri ke sana setelah menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Tidak sampai Chanyeol mencapai dan mengetuk bingkai pintu kamar Baekhyun yang terbuka, Chanyeol baru menyadari bahwa dia tidak memiliki alasan apapun untuk berada di sana.
Chanyeol melihat Baekhyun duduk di mejanya, lalu dia memutar kepalanya sedikit ke arah pintu untuk melihat ada siapa disana. "Hai…"
"Hai," jawab Chanyeol canggung. Dia berdiri di tengah pintu - tidak mengatakan apapun - untuk beberapa detik sebelum Baekhyun menipiskan bibirnya dan berbalik kembali menghadap mejanya.
Chanyeol merasa bahwa sikap yang dia tunjukkan sekarang tidak menunjukkan dirinya seperti biasa, dia mengusap rambutnya dan memasuki kamar Baekhhyun. Dia melihat ke kanan dan matanya segera menangkap tas yang dia diberikan secara tidak langsung pada Baekhyun - melalui Sehun. Terlihat tidak tersentuh, Baekhyun seperti hanya meletakannya saja di sana, bahkan dia tidak tertarik untuk melihat isinya.
Kemudian mata Chanyeol beralih pada jendela Baekhyun di mana dia menaruh buku-bukunya. Terakhir kali da melihatnya, buku-buku itu sangat tidak tersusun rapi -beberapa buku-buku tersusun tegak dan yang lainnya diletakan sejajar dengan alasnya. Akan tetapi, yang Chanyeol lihat sekarang adalah setiap buku tersusun rapi, berdiri tegak berdampingan satu sama lain, dan pemandangan itu membuatnya kesal.
Chanyeol meletakan tangannya di salah satu sudut meja Baekhyun, Chanyeol berdiri di belakangnya saat ia sedikit membungkuk. "Aku hanya ingin bertanya apa kau menginginkan sesuatu untuk dimakan – seperti cemilan atau sesuatu lainya."
"Tidak, terima kasih," jawab Baekhyun.
Meskipun Chanyeol tidak bisa melihat apa-apa kecuali bagian atas dan belakang kepala Baekhyun, dia tahu bahwa ekspresi wajah Baekhyun pasti tetap datar seperti yang dia tunjukkan akhir-akhir ini. Ketika Baekhyun terus merasakan kehadiran Chanyeol di belakangnya, dia berbicara lagi. "Apa ada hal lain yang kau butuhkan?"
"Tidak ada ..." Chanyeol tidak tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini. Dia menunduk dan melihat bahwa tangan Baekhyun telah berhenti melakukan apa yang sebelumnya dia kerjakan saat dia masuk. Perlahan-lahan, mata Chanyeol menerawang kertas di atas meja Baekhyun.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol penasaran.
"Tidak ada," gumam Baekhyun.
Chanyeol menggeleng mendengar jawabannya meskipun dia tahu jika Baekhyun tidak akan melihatnya. "Semua itu terlihat seperti rumus-rumus."
Baekhyun mengangkat bahu pelan, tetap menatap kertas. "Ini hanya latihan sederhana dengan beberapa angka yang tiba tiba muncul dalam kepalaku." Baekhyun segera membaliknya untuk menghentikan tatapan mata Chanyeol pada kertas itu, tapi dia melupakan jika dia telah melakukan pekerjaan lainnya di salah sudut meja.
"Apa itu?"
Baekhyun meringis. "Gambar…"
"Kau menggambar mesin kemudian melakukan perhitungan," kata Chanyeol dengan nada geli.
Sambil mengangkat bahu, Baekhyun membalas. "Aku ingat jika aku pernah mengatakan jika keluargaku bekerja di bidang teknologi dan robotika. "
"Tapi aku mengingat juga jika kau tidak tertarik pada hal-hal itu."
"Kebiasaan lama memang sulit untuk dihilangkan," gumam Baekhyun. Dia mengetuk - ketukan pensilnya beberapa kali pada meja sebelum bersuara, "Apakah kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu? Kenapa kau ada di sini? "
Chanyeol mengerutkan kening saat dia melepaskan tangannya dari meja dan kembali ke posisinya. "Aku hanya ingin melihat kondisimu ... "
Dengan punggung masih menghadap Chanyeol, Baekhyun mengerutkan alis dan keningnya lebih dalam. "Mengapa kau melakukannya?"
Chanyeol membuka mulutnya, berencana menjawab tapi dia mengurungkannya. Persetan dengan semuanya! Dia meraih dan mencengkeram punggung kursi yang sedang diduduki Baekhyun dengan kedua tangannya. Chanyeol menarik kursi itu menjauh dari meja, menciptakan decitan keras di dalam ruangan itu. Sedangkan Baekhyun, segera mencengkeram kursi dengan kuat sehingga dia tidak akan tiba-tiba terjatuh akibat gerakan yang Chanyeol lakukan. Kemudian, Chanyeol menggerakan lagi kursi itu sehingga posisi Baekhyun tepat menghadapnya.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Chanyeol. "Kenapa kau membuatku merasa seperti kotoran?"
Baekhyun memandangnya dengan tatapan datar dan emosi yang tertahan. "Aku tidak-"
"Omong kosong," sergah Chanyeol. "Kau melakukan segala sesuatu yang aku perintahkan padamu, bahkan kau tidak membatahnya sedikitpun. Sial! Kau tidak bicara atau bertingkah semaumu lagi – Demi Tuhan! Enyahkan ekspresi sialan di wajahmu itu! Kau terlihat terlalu kaku - kau melakukan segala perintah, melakukan segala pekerjaanmu seperti yang seharusnya kau lakukan, tapi ini hanya akan...aku ..."
Bahkan sampai suara Chanyeol melemah, ekpresi wajah Baekhyun tetap sama, belum menunjukkan sedikit emosipun yang memenuhi pikirannya. "Aku tidak tahu jika dengan melakukan pekerjaanku dengan baik malah membuatmu marah ... "
Chanyeol mengerutkan alisnya, frustrasi melihat fakta bahwa dia tidak bisa membentuk argumen yang benar – Walupun pada kenyataan dia sudah melakukannya, tapi sebenarnya dia berteriak pada Baekhyun hanya karena dia melakukan pekerjaanya dengan baik. Logikanya, itu sangat tidak masuk akal untuk marah pada Baekhyun terhadap apa yang sudah dia lakukan, tapi Chanyeol lebih tahu. Dia tahu bahwa suasana menyedihkan di sekitar rumah itu karena semua hal yang tiba-tiba tidak pada tempatnya.
Chanyeol mengertakkan gigi, lalu mengusap dahinya. "Semua ini karena anjing bodoh sialan itu, kan? "
Baekhyun tidak menanggapi. Sebenarnya dia ingin merespon Chanyeol, tapi dia menahan suaranya. Chanyeol sepertinya harus berhenti menggunakan kata 'bodoh' dan menghilangkan kata 'sialan' saat berbicara menyangkut Nugget, tapi Baekhyun tidak bisa berbuat apa-apa. Jika Chanyeol bisa dengan mudah membuang sesuatu yang tidak memiliki kesalahan apapun, Baekhyun pikir selanjutnya dia akan – dia akan kembali dalam dunia dulunya lagi, dan dengan terpaksa karena tidak ada pilihan lain, selain pulang.
Ketika Baekhyun tidak menjawab, Chanyeol melangkah maju dan memaksanya untuk mengangkat kepalanya lebih tinggi. "Jawab aku – Demi tuhan, Baekhyun! Lakukan sesuatu – apapun itu, Damn It!" Ekspresi Baekhyun tetap datar, duduk terdiam di kursinya. Kemarahan Chanyeol bertambah - meraih kedua sisi wajahnya. "Atau menangis - aku tidak peduli lagi. Hanya tolong lakukan sesuatu. Jika menangis akan membuatmu merasa lebih baik tentang kepergian anjing itu, maka menangislah, Sialan! "
Baekhyun menatap mata Chanyeol untuk beberapa saat sebelum menjawab permintaannya. "Aku tidak akan menangisi apapun. "
"Kenapa tidak?"
"Karena aku bukan anak berumur delapan tahun lagi."
.
.
Chanyeol menunggu dengan meletakan tanganya di saku. Kebisingan di sekelilingnya sangat menjengkelkan dan bau yang cukup kuat sangat membuatnya tidak nyaman, tapi tetap saja, dia tetap melakukannya. Dia mengetukan kakinya sambil menunggu wanita yang bertanggung jawab untuk datang kembali dengan solusi untuk masalah di rumahnya. Setelah lima menit, wanita itu yang dia tunggu akhirnya datang. Saat dia mendekat, mata Chanyeol terkunci dengan sepasang mata hitam yang melihat lurus ke arahnya.
"Nah, di sini dia," kata manajer penampungan itu sambil mendekat ke arah Chanyeol untuk memberikan anak anjing itu padanya.
Chanyeol mengambilnya, membawa Nugget dalam pelukannya. Butuh beberapa detik untuk Nugget menyamankan posisinya karena faktanya Posisi Chanyeol memegangnya salah. Kaki nugget yang menjuntai, dia menggerakan kakinya seperti mendayung saat mencoba untuk mencari pijakan. Pada akhirnya, wanita itu membantu Chanyeol dengan menunjukkan cara yang benar untuk membawa anak anjing itu. Setelah itu, Nugget tidak perlu berjuang banyak lagi.
"Jadi apa yang membuatmu berubah pikiran?"
"Aku memutuskan bahwa kami bisa merawatnya," kata Chanyeol.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk. "Itu bagus. Ini pertama kalinya aku melihat Nugget bahagia sejak kau membawanya ke sini. Semua yang dia lakukan hanya duduk dan menunggu di kandang kecilnya, menonton orang-orang yang datang dan pergi. "
"Hn. Jadi begitu…"
"Ya, setidaknya dia bisa pulang sekarang," wanita itu mengelus kaki Nugget lembut meskipun Nugget tidak tahu apa yang sedang terjadi, selain fakta bahwa Chanyeol memiliki bau yang enak.
Setelah itu, Chanyeol meninggalkan tempat penampungan dan membawa Nugget ke mobilnya. Saat Chanyeol mencapai mobil,d ia dengan cepat membuka kuncinya dan membuka pintu penumpang di sampingnya. Chanyeol menempatkan Nugget di kursi, tetapi ketika saat dia menarik diri untuk menutup pintu, Nugget mencoba mengikutinya, Chanyeol menempatkan Nugget kembali. Kemudian dia mencoba untuk menutup pintu lagi, tapi Nugget mengikutinya sekali lagi.
Sambil mengerang, Chanyeol mendorong Nugget kembali ke kursinya dan memaksa anjing untuk untuk duduk. Ketika Nugget hendak berdiri lagi, Chanyeol menunjuk ke arahnya. "Demi Tuhan, duduk atau aku akan membawamu kembali ke dalam." Seolah-olah memahami ancaman itu, Nugget kembali duduk.
Ketika Chanyeol masuk dan menduduki kursinya dan menyalakan mesin, dia memandang anjing, yang sedang memandangnya juga. Sambil mengerutkan kening, Chanyeol bertanya, "Kenapa kau melihatku seperti itu?"
Kau datang kembali untuk m-
"Aku tidak kembali karenamu," Chanyeol menggerutu sendiri saat dia mengganti gigi mobilnya. "Aku kembali demi kebaikanku - karena aku tidak ingin poltergeist sialan yang ada di rumah mencoba membunuhku diam diam dengan perasaan bodoh ini."
Oke...
Chanyeol melirik Nugget. "Kau lebih baik tidak jatuh dari kursi sialan ini, saat aku sedang menyetir karena aku tidak akan menaruhmu kembali pada kursi. "
Baiklah.
Saat Chanyeol mulai menjalankan mobilnya, Nugget terdorong ke bagian belakang kursi dan Chanyeol berpura-pura tidak melihatnya. Anak anjing itu mencoba untuk menyeimbangkan dirinya selama perjalanan. Sekali lagi, Chanyeol berpura-pura tidak mengetahui apa yang coba Nugget lakukan.
Saat mereka mendekati jalan bercabang, lampu berubah dari oranye ke merah, memaksa Chanyeol untuk menghentikan cepat laju mobilnya. Karena permukaan jok berlapis kulit dan dasar yang berbulu lembut, Nugget langsung meluncur dari tempat duduknya dan mendarat di dasar mobil.
Chanyeol menyaksikan Nugget merengek, mencoba untuk melompat dan memanjat kembali, tetapi pada akhirnya gagal. Nugget menyerah tetap duduk di dasar mobil. Chanyeol lebih mengerutkan keningnya lebih rapat saat melihat anak anjing memutuskan untuk mengakui kegagalannya. Kemudian Chanyeol melirik lampu yang masih merah sebelum ia memarkirkan mobil, melepas seatbeltnya, membungkuk dan mengangkat anak anjing itu kembali ke kursi.
Kemudian, Chanyeol mengulurkan tangan dan menarik seatbelt pada kusi penumpang, lalu membukanya. Dia mengambilnya dan menempatkan lengan Nugget diatasnya sehingga sabuk itu melindungi Nugget dengan membuat tubuhnya menempel sempurna pada kursi. Chanyeol melihat hasil karyanya dan menganggap pemandangan itu terlihat bodoh meskipun dia tahu bahwa hal itu akan tetap menjaga Nugget aman sampai mereka tiba di rumah.
Ketika mereka tiba di rumah, Chanyeol tidak tahu bagaimana cara dia memberikan anak anjing itu, tapi pada akhirnya, dia memutuskan untuk tetap melakukannya. Dia berjalan masuk ke dalam rumah dengan Nugget, yang sedang menjulurkan lidahnya keluar dan mencoba mengibaskan ekornya meskipun tetap gagal karena terus mengenai jaket Chanyeol.
Sehun adalah penghuni pertama yang melihat mereka. Dia mendongak dari pekerjaanya dan langsung terfokus pada anak anjing yang Chanyeol bawa. "Jadi kita akan mendapatkan anjing," ucap Sehun, menjawab pertanyaannya sendiri pada semua orang saat pertama kali melihat Nugget beberapa hari yang lalu.
Chanyeol hanya mendengus, saat dia berpapasan dengan Kyungsoo, yang tidak bisa menyembunyikan senyuman dari wajahnya. "Dia lucu, Chanyeol."
"Terserah."
Dalam perjalanan ke kamar Baekhyun ini, Chanyeol berpapasan dengan Kai. Mereka membuat kontak mata sebelum terputus karena Kai menatap sesuatu yang ada di lengan Chanyeol. "Apa itu Nugget?"
"Mungkin."
Kai mengangkat bahu dan menyaksikan langkah Chanyeol dan akhirnya menghilang karena berbelok ke sisi lain rumah.
Saat Chanyeol memasuki kamar Baekhyun, dia melihat Baekhyun di mejanya lagi. Tanpa melihat ke arah pintu masuk, Baekhyun bertanya, "Apa yang kau butuhkan?"
Chanyeol tidak menjawab. Sebaliknya dia hanya berjalan melintasi ruangan dengan Nugget terus bergerak dalam gendonganya. Ketika Chanyeol mencapai meja Baekhyun, dia segera membawa Nugget ke atas kertas yang penuh dengan angka.
Butuh sepersekian detik bagi Baekhyun untuk menyadari apa yang ada didepannya. Saat tersadar, dia tampak terkejut. "Nugget?"
Nugget, merespon dengan berlari-lari kecil di atas kertas Baekhyun, menimbulkan kebisingan akibat gerakannya. Tanpa ragu-ragu, Baekhyun membawanya dalam pelukan, membiarkan anak anjing itu bergerak gembira dalam sukacita setelah bertemu kembali dengan Daddynya. Baekhyun berbalik, berencana mengucapkan terima kasih pada Chanyeol, tapi Chanyeol sudah pergi.
Sepanjang sisa hari itu, Baekhyun mencoba mengucapkan terima kasih kepada Chanyeol, tapi Chanyeol selalu tidak menghiraukannya, mencegah, atau memotong ucapannya, yang tidak memungkinkan Baekhyun mengatakan apa-apa padanya.
Meski begitu, Baekhyun bertekad untuk tetap mengatakannya pada Giant satu itu .
.
Keesokan paginya, Chanyeol terbangun dengan cara baru. Dia mengerang tidak suka saat merasakan sesuatu yang basah menyapu pipi kanannya. Awalnya hal itu tidak mengganggunya, tapi saat sapuan basah itu terus dirasakannya, matanya mulai terbuka.
"Fuck ... Baek, hentikan," Chanyeol mengerang.
Kemudian, dia mendengar tawa Baekhyun. "Kau dengar itu, Nugget? Dia pikir itu aku."
Nugget? Mata Chanyeol tersentak terbuka hanya dalam waktu singkat untuk melihat Baekhyun mengarahkan Nugget kembali turun untuk menjilat pipinya.
"Selamat pagi, tampan," puji Baekhyun.
Chanyeol mendengar kata 'tampan' sengaja diperjelas dengan suara keras sebelum menempatkan tangan di pipinya. Lalu Chanyeol menenangkan dirinya dan menatap maid nya yang sedang tersenyum ceria. Bahkan sebelum Chanyeol bisa mengatakan apa-apa, Baekhyun menepuk tanganya pelan
"Kau tampak sangat tampan pagi ini, Mr. Wonderful."
"Baek," ucap Chanyeol.
"Dengar, kami hanya ingin mengucapkan terima kasih," kata Baekhyun. Nugget mengeluarkan gonggongan kecil. " Nugget ingin menciummu sebagai ucapan terima kasihnya."
"Oh, Oke."
"Dan aku juga."
Chanyeol tidak sempat bertanya maksud ucapan Baekhyun. Lalu Baekhyun membungkuk dan menempelkan bibir lembutnya menyentuh bibir Chanyeol selama beberapa detik sebelum menariknya kembali. Chanyeol terkejut, dengan hati yang terus berdebar lebih cepat dari yang seharusnya, sementara Baekhyun tertawa dan menari dengan Nugget yang berada dalam pelukannya.
.
.
See You Next Chap, ditunggu tanggapanya ^^
