NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)
Indo Trans
DISCLAIMER
I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here
exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html
(spasi dihilangkan, dot diganti titik)
.
WARNING
Yaoi, Boy x Boy, Typo (s), SMUT, etc.
Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.
.
Forward
Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.
.
Chapter 22 – Needed Confirmation
.
Kurang tidur bukanlah sesuatu yang ideal bagi Chanyeol dan juga bukanlah sesuatu yang dia sukai karena akan mengacaukan fokus dan moodnya sepanjang hari, tapi setelah melihat petualangan Baekhyun dengan Kris malam ini membuatnya tetap terjaga, dan terus menatap kosong langit-langit kamarnya selama berjam-jam hanya karena memikirkan si idiot itu.
Chanyeol keluar dari tempat tidurnya pada tengah malam – dan sengaja membuat matanya tetap terbuka sampai jam tiga hanya untuk menunggu bajingan kecil itu – yang tidak membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik. Setelah menggerutu di atas tempat tidurnya dengan kemarahan yang terus menguasainya selama satu jam, akhirnya Chanyeol berhasil tertidur.
Tepat sebelum tertidur, Chanyeol bertanya-tanya apa yang akan terjadi besok pagi dan bagaimana dia akan menanganinya. Dia tidak tahu apa segala sesuatunya akan menjadi canggung atau Baekhyun akan berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi – yang lebih baik dia lakukan, karena dia juga akan berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi.
Chanyeol akhirnya merasakan seperti apa yang terjadi pagi ini saat dia terbangun dengan cara yang berbeda. Dia tidak merasakan sesuatu yang basah di dagunya, yang menunjukkan jika Nugget tidak menjilat dengan lidah bodohnya itu. Dan tidak ada ciuman kilat pun di pipinya, yang menunjukkan jika Baekhyun tidak melakukannya.
Sebaliknya, dia terbangun karena suara gemerisik keras dari tirai jendela yang terbuka. Cahaya matahari merembes masuk dan mengenai matanya, memaksa Chanyeol menggerakan dirinya menjauh dari cahaya. Setelah beberapa saat, dia membawa kedua matanya terbuka dan mencari sumber suara itu, dan dia melihat Baekhyun di sana.
Chanyeol mendengar napas berat dan mengalihkan pandanganya ke samping tempat tidur. Dia melihat Nugget berdiri dengan kaki belakangnya, menggunakan pinggiran tempat tidur untuk pegangannya. Anak anjing itu melihat tepat ke arahnya, tapi Chanyeol dengan lembut mendorong anak anjing menjauh sehingga Nugget berhenti melakukannya. Nugget menunggu selama beberapa saat, memberikan Chanyeol waktu untuk bangun dari tempat tidurnya - meskipun Chanyeol tahu itu mustahil.
Chanyeol mengusap kepalanya sebelum mengarahkan tatapannya ke sosok mungil Baekhyun yang sedang mencoba memindahkan tirai dan mengikat mereka ke samping. Dia menyaksikan Baekhyun berjinjit untuk melakukannya.
Chanyeol masih kesal dan marah sampai sekarang. Dia masih belum mengetahui apa yang sebenarnya dua orang itu lakukan kemarin. Terakhir kali dia cek, Chanyeol mengatakan pada Kris untuk menjauhkan tangannya dari si idiot dan mengatakan pada Baekhyun untuk tidak berbicara sama sekali dengan Kris, tapi Chanyeol tidak meragukan lagi jika keduanya sudah melanggar aturan yang dia buat.
Suasana pagi buruk Chanyeol inilah yang mungkin membuat Baekhyun membangunkannya dengan cara yang berbeda. Chanyeol bahkan tidak menyadari jika dia sudah terbiasa dengan kenakalan pagi Baekhyun yang menciuminya, dan merasa kehilangan saat dia tidak mendapatkan apapun pagi ini. Jika saja Baekhyun dan Nugget yang sekarang berada di sisinya – membangunkannya dengan cara biasa, Chanyeol mungkin akan melupakan suasana hatinya yang buruk atau memang itulah efek dari keduanya walaupun dia tidak menginginkannya. Kondisi seperti sekarang hanya membuat Chanyeol lebih
marah saja walaupun hanya dengan melihat Baekhyun.
Setelah Baekhyun selesai mengikat tirai, dia berbalik dan matanya bertemu dengan Chanyeol, yang sedang mengawasinya dengan cermat dan terfokus. Baekhyun mengerucutkan bibir sebelum tersenyum pada Chanyeol.
"Pagi!" Tidak ada respon dari Chanyeol melainkan tatapan yang terus mengarah padanya dengan kosong, Baekhyun mengerutkan bibir dan berdehem. "Sepertinya aku harus pergi untuk membangunkan Kris." Dia bergerak dari posisi awal, memberikan Chanyeol sebuah tatapan agak sedih, sedikit canggung sebelum membungkuk untuk membawa Nugget. "Sarapan sudah siap."
Chanyeol ingin segala sesuatunya berjalan mundur dan berputar lagi, agar Baekhyun tidak bersikap seperti sekarang. Saat Baekhyun berjalan melewatinya untuk keluar, Chanyeol berharap dirinya untuk tetap diam dan membiarkannya pergi. Dia terus mengatakan pada dirinya sendiri jika dia tidak berhak meminta Baekhyun untuk bersikap seperti biasanya untuk membuat hatinya tenang, tapi semakin Chanyeol memikirkannya, dia semakin ingin membongkar apa yang sudah Baekhyun dan Kris lakukan semalam.
"Baek."
Sebelum mencapai pintu, Baekhyun menurunkan tangannya dari kenop pintu dan memutar kepalanya ke Chanyeol. "Ya?"
Alih-alih meminta Baekhyun untuk berjalan kembali ke arahnya secara lisan, Chanyeol melakukanya dengan memberi isyarat dengan jari-jarinya. Baekhyun mengerutkan keningnya sedikit, tapi tetap berjalan dengan malas ke ujung tempat tidur Chanyeol. Ketika Chanyeol menggeleng dan memberi isyarat lagi, Baekhyun menyadari jika Chanyeol menginginkan agar dia berdiri di sisi tempat tidur.
Setelah berpindah ke sisi tempat tidurnya, Baekhyun melihat tubuh Chanyeol yang bertelanjang dada yang menggodanya karena selimutnya semakin terbuka, terdorong ke pinggangnya. Baekhyun mengalihkan tatapanya pada mata Chanyeol untuk melindungi matanya pada sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.
"Apa kau membutuhkan sesuatu, Mr. wonderful?" Tanya Baekhyun, pura-pura menunjukkan ekpresi cerianya.
"Mengapa aku tidak terbangun dengan cara yang biasa?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun melirik ke langit-langit. "Fun fact. Orang biasanya terbangun dalam kondisi hidup. Anda hidup sekarang, oleh karenanya, kau sudah terbangun seperti- "
"Kau mengerti apa yang aku maksud, Baekhyun."
Keduanya saling bertatapan selama beberapa saat sebelum Baekhyun menghela napas. "aku tidak berpikir jika kau menginginkanku untuk- "
"Nah, itulah masalahnya. Kau tidak berpikir," kata Chanyeol, lebih menggertakan dari yang seharusnya dia lakukan.
Baekhyun berkedip. "Lagipula, kau tampak tidak pernah menikmatinya dan semalam - aku minta maaf. Aku tahu. Aku sudah melewati batas. "
"Kau sudah melewati setiap batasan yang kau buat sendiri," jelas Chanyeol. "Semua kecuali satu – malam sialan itu - tapi aku memahaminya untuk saat ini." Melihat wajah tegang Baekhyun, Chanyeol membawa dirinya bangkit dari tempat tidur dan duduk. "Aku masih marah padamu mengenai kejadian semalam."
"Aku-"
"Aku akan melupakannya jika kau bersikap padaku seperti biasa" sela Chanyeol. "Aku tidak mengatakan jika aku akan melupakan petualangan malammu dengan Kris sepenuhnya," ancam Chanyeol berbahaya. "Yang ingin ku katakan sebenarnya, aku tidak ingin kau bersikap seperti yang kau lakukan pagi ini - meskipun, saat ini aku juga berharap kau bersikap sedikit berbeda dalam beberapa kasus, tapi aku tidak berhak untuk memintamu melakukan apa yang kuinginkan akhir-akhir ini. "
Baekhyun tertawa kecil. "Lucunya. Aku tidak bisa membaca pikiranmu, jadi aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan sekarang. "
Saat Baekhyun tertawa, Chanyeol mengalihkan padangnya dari Baekhyun. "Tentu saja. "
"Oke, karena kau memintanya, mari kita lakukan." Baekhyun menyerahkan Nugget pada Chanyeol.
Mengambil anjing dari Baekhyun, Chanyeol ragu-ragu untuk sesaat sebelum membawa Nugget untuk mendekat ke wajahnya dan membiarkan anjing itu menjilat dagunya. Chanyeol menahannya selama beberapa saat, lalu mengembalikannya pada Baekhyun.
Baekhyun tertawa saat mengambil Nugget kembali dan menempatkannya di atas lantai. "Sudah selesai, keluarlah dari tempat tidur. Aku harus mebangunkan Kris- "
"Bagaimana denganmu?" Tanya Chanyeol sambil menatap Baekhyun.
Baekhyun tersenyum. "Oh. Aku lupa."
"Jangan berpikir jika aku melupakan kekuatan memorimu," Chanyeol berpendapat.
"Aku berharap tidak memilikinya," kata Baekhyun sinis sebelum bergerak lebih mendekat ke Chanyeol.
Baekhyun memegang dagu Chanyeol dengan tangannya dan memalingkan wajahnya ke samping. Baekhyun mendekat dan memiringkan kepalanya dan menempatkan kecupan singkat di pipi Chanyeol. Baekhyun perlahan-lahan menarik diri dan membiarkan Chanyeol berbalik menghadapnya, membiarkan wajah mereka terpisah beberapa inci dari satu sama lain.
"Sudah puas?"
Butuh beberapa saat untuk Chanyeol membuang semua pemikiran rasionalnya, yang akhirnya dia lakukan juga. Sebelum Baekhyun menarik diri lebih jauh, Chanyeol mengulurkan tangan dan meraih kaos Vneck abu-abu terangnya – yang tentu dipadukan dengan salah satu nya cardigan favoritnya - dan menarik Baekhyun mendekat kembali.
"Belum," ucap Chanyeol dengan memberi sedikit ancaman untuk mempertemukan bibirnya dengan milik Baekhyun. "Setelah kejadian semalam dan tidurku yang kurang, aku belum merasa puas sama sekali. "
Sebelum Baekhyun bisa merespon, ancaman Chanyeol ini menjadi kenyataan, dia menempelkan bibirnya pada bibir – tunangan Chanyeol- Baekhyun pada saat ini. Dia bukanlah maid. Dia bukanlah si idiot yang sarkastis. Dia adalah tunangan Park Chanyeol dan fakta itulah yang membenarkan tindakan Chanyeol. Dia menggunakan pertunangan sebagai alasan atas tindakannya. Dalam kepalanya, jika semua rencananya tidak berhasil, pada akhirnya dia pun harus mencium si pengantin sialan ini.
Chanyeol tidak langsung membawa lidahnya masuk kedalam, tapi dia merayu Baekhyun dengan menjilati bibir Baekhyun terlebih dulu, dia merasa Baekhyun melonggarkan pertahanannya, dan akhirnya dia mendapatkan akses. Chanyeol menautkan lidah mereka bersama-sama dan menyapu segala sesuatu yang ada dalam mulut Baekhyun, Chanyeol menyingkirkan selimutnya menjauh dan menarik Baekhyun ke tempat tidur.
Chanyeol melepaskan pagutannya sebentar dengan menggigit bibir Baekhyun ringan, lalu mendorong figure kecil Baekhyun menaiki kasurnya yang datar.
"Bergeserlah ke atas" perintah Chanyeol pelan. Setelah Baekhyun bergerak pada tengah tempat tidurnya, Chanyeol membuat kakinya terbuka dan menempatkan tubuh Baekhyun di antaranya.
Ketika Baekhyun melihat kaki Chanyeol yang menghimpitnya, dia tidak bisa mengalihkan tatapanya dari bagian bawah tubuh Chanyeol itu. Baekhyun baru ingat jika Chanyeol lebih suka tidur dengan telanjang. Sebelum dia bisa mengomentari milik Chanyeol yang terlihat jelas dan perlahan mengeras itu, Chanyeol menyerang bibirnya sekali lagi, mengalihkan perhatiannya.
Ciuman pagi – yang mendalam, sangat intim dan mendesak - yang seharusnya hanya ciuman biasa, tapi semua pemikiran rasional dicampakkan, Chanyeol dengan cepat membawa tangannya pada kedua kaki Baekhyun, melingkupi tonjolan itu dan mengelusnya lembut.
Dengan tangan Chanyeol yang berada pada 'miliknya' yang masih tertutup kain itu, Baekhyun mengerang dalam ciumanya, membuat suara-suara yang membuat Chanyeol lebih bergairah. Tanpa berpikir panjang, Baekhyun melingkarkan lengannya di leher Chanyeol, menariknya ke bawah dan memiringkan bibirnya agar lebih memudahkan lidahnya masuk lebih dalam.
Canyeol menyukai respon yang Baekhyun berikan, Chanyeol tersenyum. Meskipun dia menginginkan lebih, Chanyeol melepaskan lengan Baekhyun dari lehernya setelah satu menit, lalu membawa tanganya kembali bekerja di bagian bawah tubuh Baekhyun.
Chanyeol menggoda Baekhyun dengan membawa tangannya naik turun di paha bagian dalam sebelum
menyentuh penis yang masih berada dalam celana jinsnya. "Oh Tuhan!" ucap Chanyeol. "Sialan! pahamu, Baek."
Chanyeol membayangkan 'milik' Baekhyun yang masih tertutup kain itu menunggu untuk disentuhnya, pemikiran ini membuat 'miliknya' sendiri berdenyut keras, dan mengirimkan kenikmatan ke seluruh tubuhnya.
Saat Chanyeol membelai pahanya, Baekhyun akhirnya mendapatkan kembali beberapa kesadaranya walaupun sedang berada dalam kenikmatan. Membawa tangannya pada lengan Chanyeol, mencoba untuk menghentikannya dengan pelan. "Chanyeol, ini-"
Chanyeol tahu bahwa dia hanya akan membuang-buang waktu saja – yang hanya akan memberikan waktu pada Baekhyun untuk menolaknya lagi sebelum dia menyelesaikan tujuannya. Chanyeol menggelengkan kepalanya, dan memiringkan kepalanya pada Baekhyun sebelum memberinya seringai beratnya.
"Tidak," gumam Chanyeol sambi mmbawa tangannya membuka ritsleting depan celana jeans Baekhyun. "Kau tidak akan berargumen denganku tentang ini dulu. Tidak sampai aku memastikan sesuatu."
Baekhyun berjuang untuk tetap mempertahankan kesedarannya dengan semua tekanan mentalnya maupun bagian tubuh bawahnya, dia menelan ludah berat. "memastikan apa?" tanyanya dengan suara tegang.
"Memastikan ini." Chanyeol memegang ujung kedua jeans dan pakaian dalam Baekyun, menariknya bersama dan membawa mereka sampai terjebak di tengah paha putih susu Baekhyun. Dan di sanalah terlihat jelas 'milik' Baekhyun yang tegang dan keras, ingin diperhatikan.
Chanyeol menyaksikan tubuh Baekhyun menegang sebelum bertemu mata Baekhyun dan melihat perubahan warna pada wajah laki-laki di bawah tubuhnya itu. Ketika Baekhyun hendak mengulurkan tangan dan menutupnya, Chanyeol menahan tangannya.
Chanyeol mendekatkan tubuhnya pada tubuh Baekhyun, membawa kedua sikunya berada disamping kepalanya. Menurunkan setengan bagian tubuh bawahnya, dan membawa pinggulnya cukup rendah mennyebabkan kedua 'milik' mereka menyentuh satu sama lain.
Baekhyun memiringkan kepalanya ke samping, menahan desahannya, tapi Chanyeol tidak akan membiarkan Baekhyun melakukannya. Ketika Baekhyun menggerakan kepalanya lagi, Chanyeol memagut bibirnya dengan miliknya, dengan salah satu tangannya turun, meraih kedua 'milik' mereka dalam genggamannya dan mulai menggesekannya terhadap satu sama lain.
Baekhyun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kondisi ini semakin intim dan dia sangat menyadarinya, jika dia tidak seharusnya membiarkan Chanyeol merayunya dengan dengan membiarkan lidahnya menyelinap masuk, dan juga dia tidak seharusnya membiarkan Chanyeol melakukan segala sesuatunya sejauh ini yang telah membuatnya menyerah. Tapi beberapa hal berubah. Sebagian besar dirinya berteriak padanya untuk menghentikan apa yang sedang terjadi, sementara sebagian lain dirinya menginginkan lebih. Semua pemikiran itu terjebak dalam kepalanya, Baekhyun merintih dalam kekecewaan ketika Chanyeol menarik mundur pagutannya, merlepas bibirnya menjauh.
Chanyeol tersenyum rendah pada respon yang Baekhyun tunjukkan. "Ya Tuhan, kau begitu seksi," geram Chanyeol. "Dan kau bahkan tidak menyadarinya."
Chanyeol mengangkat kaki Baekhyun, Chanyeol harus melihat apa yang ingin dia pastikan. Dia tidak perlu menelanjangi Baekhyun seutuhnya untuk memastikannya. Chanyeol hanya perlu melihat bagian-bagian tertentu saja dan itulah apa yang dia lakukan sekarang.
Chanyeol membawa kaki laki-laki yang lebih kecil darinya lebih ke atas dan lebih mendoronya, Chanyeol mengulum jarinya dalam mulutnya cepat sebelum membawanya di antara belahan pantat Baekhyun. Dia menyaksikan ekpresi Baekhyun saat jarinya berusaha mencari 'hole' Baekhyun. Ketika Baekhyun terkesiap kecil, Chanyeol tahu jika sudah menemukannya.
Chanyeol memutar-putarkan jarinya untuk memasuki Baekhyun, dia menyeringai saat melihat bibir bawah Baekhyun ini mulai gemetar. "Aku ingin kita tetap seperti sebelumnya, ... aku tidak ingin kau bertindak aneh lagi di sekitarku, kau mengerti? "
Ketika Baekhyun mengangguk, Chanyeol meneruskan ucapanya. "Setelah kita berjalan keluar dari ruangan ini, aku tidak ingin kau berpura-pura jika semua ini seperti tidak pernah terjadi. Jika salah satu jariku telah memasuki 'hole' kecilmu. Tidak peduli seberapa keras kau berpura-pura, kau tidak akan pernah bisa melakukannya."
"Ngh-ahhh," Baekhyun mendesah, menggerakkan pantatnya untuk mencoba dan mendapatkan Chanyeol agar berbuat lebih jauh. "Damn it, Yeol."
Chanyeol berusaha tidak terpengaruh. "Kau menerapkan batas sialan itu- batasan agar aku tidak bisa menyentuhmu. Batasan yang menyebutkan jika interaksi fisik apapun diantara kita adalah terlarang. Kau mengatakan jika kita hanya seorang atasan dan maid?" Chanyeol tertawa."Salah satu malam yang membuat kita hampir melakukan sex, dengan beberapa ciuman, dan sentuhan kulit yang mendalam, aku pikir kita sudah melewati garis formalitas itu. "
Berhenti, Chanyeol mencabut jarinya, mengabaikan erangan Baekhyun ini. Dia mendorong dan melebarkan kaki Baekhyun ini lebih terbuka, sejauh elastisitas jeans yang Baekhyun kenakan.
Menempatkan dirinya pada pertengahan kaki Baekhyun ini, Chanyeol tidak bisa melewatkan kesempatan. Mengangkat tangan ke atas, mengayunkannya dan menepuk pantat Baekhyun.
Ketika Baekhyun berteriak, Chanyeol menyeringai. "Kau benar-benar sudah memabuatku melakukannya, jigglyass." Pada akhirnya, Chanyeol hanya menerima tatapan tajam Baekhyun. Tidak menyukai respon yang Baekhyun berikan, Chanyeol hanya harus melebarkan pantai Baekhyun lagi sebelum membuatnya melakukan apa yang dia pikirkan sebelumnya.
Chanyeol menggesekkan 'miliknya' pada 'hole' Baekhyun, dia menggoda Baekhyun dengan dorongan lembut yang membuatnya mengeluarkan precum dari porosnya.
"Apa kau penasaran kenapa aku melakukan ini?" Chanyeol bertanya dengan suara rendah. "Sebagian besar alasanya karena apa yang terjadi malam itu. Aku ingin kau menyebut ini 'spontan', tepat seperti yang kau inginkan. "
Melihat wajah Baekhyun yang memerah dan merona karenanya, Chanyeol berpikir jika dia sudah memgang kendali. Dia terus menggoda dengan mendorong dan mengesek miliknya pada 'hole' Baekhyun yang berdenyut.
"Tapi juga ada hal lain ..." Chanyeol melanjutkan. "Terakhir kali saat aku hampir melakukannya, kau mendorongku menjauh. Kau mungkin tidak mengatakan itu, tapi kau melakukanya, berpikir jika kita hanya antusias untuk bercinta karena alkohol. Mungkin kau juga berpikir jika tidak ada apapun yang nyata kecuali daya tarik fisik."
Chayeol membawa tanganya ke bawah, menggunakannya untuk memijat 'bola' Baekhyun, perlahan-lahan membuat sesuatu keluar dari ujungnya. "Tapi sekarang, lihatlah. Kita tidak sedang mabuk dan dalam satu detik mungkin aku akan melakukan sex dengan idiot yang terlihat sangat seksi ini, yang gemar melakukan squat" Chanyeol tertawa."By the way, jika kau ingin melakukan squat di atas penisku, bergerak naik turun, dan 'mengendarai'ku, aku mempersilahkannya. Kau bisa membuat pantatmu kencang karena melakukannya. "
Baekhyun mengerang. "Chanyeol, kau hanya-Nghh." Baekhyun menggeliat, merasa penis Chanyeol yang keras mendorong 'hole' nya.
Melihat Baekhyun begitu bergairah karenanya, Chanyeol merasa kemenangan penuh sudah didapatkannya. Dia memutuskan jika sudah waktunya untuk mengakhiri apa yang dia lakukan sekarang.
"Baek, aku dengan senang hati akan melakukannya," Chanyeol mengaku. "Tidak ada yang akan lebih menyenangkan daripada memiliki 'hole' sempitmu yang melingkupi 'milikku' dan membuat bibirmu berteriak mendesahkan semua kenikmatan yang kau rasakan. "
Chanyeol mundur dan menarik diri dari Baekhyun, menurunkan kaki Baekhyun. "Tapi aku tidak akan melakukannya tanpa 'lube'. Aku tidak peduli jika kau sudah berapa kali kau melakukan tanpa lube, tapi saat kita melakukannya, aku tidak ingin menjadi satu-satunya yang menikmatinya. "
Mulut Baekhyun menggantung terbuka, dan kemaluannya terus berdenyut. "Kk-kau tidak serius kan-"
"Aku serius." Chanyeol berbalik, dan turun dari tempat tidur, Baekhyun memandangnya dengan terkejut. "Selain itu, aku menganggap ini sebagai sedikit balasan saat kau menolakku dulu. "
Baekhyun bangkit untuk mendudukan dirinya segera, Baekhyun terlihat berantakan. Pikirannya berada di mana-mana, tapi aliran darahnya hanya mengarah ke tubuh bagian bawahnya.
"Tt-tapi-"
"Tidak. Aku tidak mendengarmu."
"Chanyeol!" Baekhyun berseru dengan suara pecah saat dia mendorong dirinya untuk berlutut. "Kk-kau harus menyelesaikannya!"
Chanyeol memiringkan kepalanya. "Apa kau sedang memerintahku?"
"Ya aku sedang memerintahmu, Sialan!" balas Baekhyun. Dia sudah tidak peduli. Dia hanya ingin melepaskan hasratnya, karena Chanyeol sudah membuatnya frustrasi. "Suck me off! Jerk me! Aku tidak tahu lagi! Finger me until i'll come! Aku tidak peduli! Lakukan saja! Pleaseee!?"
Chanyeol membeku. Di depannya terlihat Baekhyun sedang memohon untuk setiap kegiatan seksual yang sering Chanyeol bayangkan setiap kali dia pergi ke kamar mandi dengan alasan bathroom's break. Tapi dia harus tetap pada pendiriannya.
"Tidak."
"Chanyeol! Aku merasa sakit di bawah sini!"
Chanyeol menyeringai. "Jadi bagaimana menurutmu saat merasakan apa yang dulu kurasakan?"
Baekhyun merengut. "Kau juga masih tegang! Aku akan membantumu menyelesaikannya setelah kau menyelesaikan masalahku. Bagaimana jika kita melakukan posisi 69? Apa itu terdengar lebih baik? Pleaseee!?"
Seks. Terdengar bagus, tapi Chanyeol harus membuang jauh hasratnya untuk sekarang.
"Tidak, terima kasih. Aku akan mandi dan menyelesaikannya dengan bermastrubasi." Ucap Chanyeol sambil berjalan ke kamar mandi pribadi, dia menoleh kembali sejenak. "Sekarang bangkitlah dari tempat tidurku dan rapikan. Walau bagaimanapun, kau adalah maid. "
Ada jeda.
"Sial! Apa kau serius melakukan ini !?"
Chanyeol bersenandung dalam merespon Baekhyun.
"Ya?baiklah, aku harap kau tergelincir, jatuh dan mati di dalam sana!" kata Baekhyun frustrasi. "Aku harap sabun yang kau gunakan terjebak di celah penismu dan merusak penismu!"
"Oke."
Baekhyun terus mengutuk dan memakai kembali celana dalam dan jinsnya. "Persetan ini! Aku tidak peduli!"
Di dalam kamar mandi, Chanyeol terus mendengarkan kata-kata kasar Baekhyun, mengatakan
penghinaan setelah penghinaan. Saat Baekhyun mulai berjalan keluar dari kamar, dia tidak berhenti bicara. "Aku tidak peduli lagi. Aku bisa mengurus ini sendiri tanpa bantuanmu - kau mungkin tidak bisa melakukanya dengan baik! Kau hanya pandai bicara kotor saja! Pembual! "
"Ya ya ya terserah " balas Chanyeol dari kamar mandi.
Baekhyun mengerang sebelum berbalik dan meraih gagang pintu. "Dasar, giant idiot. Aku bisa mengurus ini sendiri!"
Setelah itu, Chanyeol mendengar pintu tertutup dengan keras dan dia ditinggalkan untuk menyelesaikan sendiri masalahnya.
.
.
Di meja sarapan, kepribadian Baekhyun berubah 180 derajat. Dengan Nugget yang duduk di pangkuannya, Baekhyun mendongak saat Chanyeol duduk di depannya. "Selamat pagi Mr. Wonderfull" sapanya riang.
Merasa sombong, Chanyeol menyeringai. "Hei. Bagaimana pagimu?"
"Benar-benar luar biasa," Baekhyun tersenyum sambil membelai Nugget. "Aku melihat Nugget dengan Sehun. Anak anjing kecil itu lari dariku. "
"Hn." Chanyeol terus bertanya. "Jadi, bagaimana tadi?"
"Bagaimana apanya?"
Chanyeol mengerutkan kening. "Jangan berpura-pura tidak tahu."
"Oh," Baekhyun gerutu. "Maksudmu masalah pagiku yang tegang itu," bisiknya. "Aku berhasil menyelesaiannya. Dan itu lebih cepat dari yang kupikirkan, karena aku mendapat bantuan. "
Telinga Chanyeol langsung terbuka. "Membantu?"
Baekhyun mengangguk. "Ya."
"Siapa?" Ketika Baekhyun tidak menjawab, Chanyeol mengeraskan suaranya. Sikap sombongnya telah menguap.
"Siapa, Baek?"
Baekhyun mengangkat bahu.
Chanyeol mengunci rahangnya, menatap Baekhyun dengan ancamam. "Sialan! Siapa yang 'membantu'mu, Baekhyun !?"
"Oh aku tidak tahu," kata Baekhyun, pura-pura tidak bersalah. "Mungkin Kai ... atau Sehun." Kemudian dia membalas Chanyeol yang sudah membuatnya kesakitan – atas tindakannya pagi tadi. "Atau mungkin juga Kris. Kau tahu, Kris memiliki tangan yang lebih baik darimu." Melihat wajah Chanyeol yang memerah, membuat Baekhyun diam-diam senang. "Yeah, tangannya besar dan lembut ... di sisi lain sepertinya, kau yang perlu lotion."
.
.
Maaf atas keterlambatannya
