NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)
Indo Trans
DISCLAIMER
I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here
exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html
(spasi dihilangkan, dot diganti titik)
.
WARNING
Yaoi, Boy x Boy, Typo (s) etc.
Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.
.
Forward
Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.
.
Chapter 23 – Back to Square One
.
Sebanyak apapun Chanyeol mencoba, dia tidak akan bisa menang. Dia sudah menyadari hal ini saat Baekhyun memberinya senyuman seolah-olah tidak terjadi apapun di antara mereka pagi itu dan melihat ekspresi Baekhyun yang senang karena sudah mendapatkan bantuan dari tangan besar Kris untuk menyelesaikan masalah paginya. Butuh satu detik untuk membuat dirinya kembali sadar. Jika Chanyeol tidak melakukannya, mungkin dia akan segera mengusir anak anjing itu keluar dan menyelesaikan apa yang sudah dia mulai tadi pagi dengan Baekhyun di dapur.
Menarik diri dari fantasi seksualnya Chanyeol dengan Baekhyun – satu dari semua hal – di atas meja dapur, Chanyeol bangkit dari kursi. Mata Baekhyun mengarah mengikutinya sambil terus menepuk-tepuk Nugget di pangkuannya. "Kau tidak makan?"
"Tidak lapar."
Baekhyun memiringkan kepalanya ke kanan. "Kenapa tidak?"
Chanyeol meliriknya. "Aku harus pergi ke kota."
"Untuk apa?"
"Kau tidak perlu tahu," Chanyeol menjawab sambil mendorong kursinya ke bawah meja. "Untuk sekarang tidak." Saat dia melihat Baekhyun berniat untuk berdebat dengannya, Chanyeol memotongnya bahkan sebelum Baekhyun memulai. "Di mana Kris?"
"Di kamar mandi," kata Baekhyun, mengalihkan matanya ke piring. Dia hanya menebak, tapi dia yakin kemungkinan besar Kris akan berada di sana.
Chanyeol tertawa sinis sebelum mulai bergerak kembali ke lorong. "Dan bagaimana bisa kau mengetahuinya, Baekhyun?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Dia mengundangku untuk bergabung dengannya setelah dia memuaskanku," kata Baekhyun sambil mengangkat bahu, Wajah Chanyeol diam membatu. "Sayangnya, aku harus menolaknya."
Saat Chanyeol sudah pergi, Baekhyun diam-diam merajuk dan mengutuk Chanyeol untuk apa yang sudah dia lakukan sebelumnya. Setelah meninggalkan kamar Chanyeol pagi itu, Baekhyun memang berpikir untuk mendatangi Kris karena tangan Kris mirip dengan Chanyeol, sehingga tidak akan terlalu sulit baginya untuk membayangkan jika yang melakukan hal-hal itu padanya adalah si giant yang kejam itu bukan Kris, tapi Baekhyun tahu jika Kris pasti akan meminta lebih dari apa yang bisa dia berikan.
Baekhyun tidak tahu kemana Chanyeol pergi. Dia tidak tahu apa yang akan giant itu beli, dan dia tidak mengerti mengapa Chanyeol memutuskan untuk pergi saat ini ketika dia bisa saja menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia lakukan beberapa hari terakhir. Baekhyun menebak mungkin Chanyeol malu atas apa yang sudah dia lakukan, tapi dia membuang jauh pemikiran itu, karena dia tidak yakin Chanyeol menyesali sesuatu yang berkaitan dengannya.
Setelah Baekhyun menyelesaikan makannya, dia kembali ke kamar tidurnya dan mengganti pakaianya
menjadi sepasang celana renang pendek. Dia tahu jika dia masih memiliki kewajiban untuk membersihkan kamar Chanyeol, dan kamar Kris dimana menurut dugaannya sedang menyelesaikan mandi, tapi Baekhyun tidak peduli. Chanyeol sudah membuatnya berada di ambang kegilaan yang menyakitkan, dan dia tidak akan bisa menghentikan Baekhyun untuk pergi ke laut di siang bolong ini
.
.
Kota yang Chanyeol kunjungi kecil, tapi kota ini memiliki nuansa aristokrat karena sebagian besar penghuninya memiliki villa yang besar di sepanjang pantai. Orang yang tinggal disekitarannya juga cukup ramah, tetapi ketika Chanyeol mendatangi satu-satunya apotek yang ada di kota itu untuk mencari lube, dia merasa mendapat tatapan menghakimi dari wanita tua yang bekerja di sana.
Awalnya dia berperang dengan pikirannnya sejenak sebelum memutuskan untuk tidak memperdulikannya. Semua itu tidak akan jadi masalah buatnya, karena dia tidak akan menunjukkan wajahnya lagi karena malu. Jika kedepannya dia sakit atau menderita penyakit tertentu, dia akan menjalaninya tanpa obat-obatan. Tapi sisi positifnya, dia memiliki lube dan Baekhyun akan melebarkan kaki di bawahnya. Jadi kondisi ini cukup sepadan dengan apa yang akan dia dapatkan, akan tetapi Chanyeol diam-diam berjanji pada dirinya sendiri jika dia tidak akan membuka segel atau menggunakan lube itu sampai tiba pada waktu yang tepat.
Pembangkangan yang dilakukan Baekhyun adalah sesuatu yang bisa Chanyeol prediksi, tapi Kris tidak. Saat pulang dari kota, Chanyeol melihat rumah sangat tenang kecuali untuk suara halus yang dapat dia dengar, tawa yang sangat halus yang berasal dari salah satu sisi rumah. Suara tawa ini tidak diragukan lagi adalah milik Baekhyun. Dia melihat keluar pintu kaca bening di belakang , dan matanya jatuh pada orang lain, yang sedang bermain semacam sepak bola untuk tiga orang di pantai.
Chanyeol berjalan ke lorong, menuju kamarnya. Dia baru menyadari, saat dia berjalan ke kamarnya lebih dekat, maka semakin lirih juga suara tawa Baekhyun yang didengarnya, Chanyeol berhenti. Dia bertanya-tanya di mana posisi Baekhyun jika dia tidak berada dalam kamarnya, tapi Chanyeol tidak harus memutar otaknya terlalu keras, dia sangat tahu jika si sarkastik, si idiot itu sedang berpetualang dengan rekan kerjanya – yang merupakan salah satu kesalahannya sendiri karena tidak memecat dan menaruhnya di daftar hitam pada setiap industri yang memiliki koneksi dengan perusahannya.
Dia mencapai pintu Kris, Chanyeol memutar kenop pintunya, tetapi menyadari jika pintu itu terkunci. Saat dia mencoba memutar kenop itu lagi, suara tawa dan kekehan rendah dari dalam kamar Kris berhenti dan Chanyeol tidak bisa menahan rasa kesal yang memenuhi hatinya.
Menggedor pintu dengan satu tangan sementara tangan lainya mencengkeram kantong plastik yang berisi sesuatu yang sudah membuatnya malu di kota tadi, Chanyeol berteriak. "Yah! Baekhyun!" Ketika dia tidak mendengar respon, Chanyeol geram. "Aku tahu kau di sana! Kau belum menyelesaikan pekerjaanmu!"
Setelah beberapa detik, saat Chanyeol sedang bersiap-siap untuk menggedor pintu lagi, Baekhyun membuka pintu itu. "Aku sedang membersihkan kamar Kris '."
Chanyeol mengerutkan wajahnya tidak setuju pada maid di depannya yang mencoba menunjukkan rasa tidak bersaahnya. "Membersihkan kamar seseorang tidak akan melibatkan sesuatu lain seperti mengunci pintu dan tertawa-tawa," Chanyeol merengut.
Baekhyun memiringkan kepalanya dan menyeringai. "I'm Sorry. Aku tidak tahu. "
Chanyeol mengertakkan gigi, lalu dia baru menyadari penampilan Baekhyun yang basah. "Mengapa kau basah? "
Baekhyun mengangkat bahu. "Aku tidak tahu." Menggunakan kedua tangannya, Baekhyun mendorong Chanyeol lembut dan melewatinya. "Aku akan merapikan kamarmu- Oh apa yang ada di situ?" tiba-tiba Baekhyun bertanya, menunjuk kantong yang dipegangnya.
Chanyeol tidak terlalu fokus pada apa yang sudah dia beli pada saat ini, tapi dia tetap merespon. "Bukan urusanmu."
Baekhyun mencibirkan bibirnya sebelum mendengus. "Fine."
Setelah Baekhyun pergi, Chanyeol mengalihkan fokusnya pada Kris. "Apa yang dia lakukan di sini?" Chanyeol melihat rambut Kris juga basah, lalu memberikan tatapan tajam padanya, dengan masih tetap menpertahankan wajah tenangnya.
"Bersih-bersih. Sama seperti ucapannya," jawab Kris dengan seringai yang ingin Chanyeol hilangkan langsung dari wajahnya saat itu juga. Mengarahkan kepalanya ke tempat tidur, Kris melanjutkan. "Seperti merapikan tempat tidur dan segala sesuatunya."
Melihat raut wajah Chanyeol, Kris menghela napas. "Tidak, dia tidak bergabung denganku di kamar mandi. Aku terlambat bangun dan saat membuka pintu aku melihat dia berdiri di depanku, menyenggolku dengan anjingnya. Dan dia sudah basah. "
Melemparkan setiap praduganya, Chanyeol menipiskan bibirnya saat dia menyerah, melihat situasi secara rasional dan meredakan sisi cemburunya, yang sangat dia benci mengingat dia tidak seharusnya merasakan hal seperti itu terhadap maid bodoh nya - bukan tunangan. Hanya maid.
Melangkah masuk ke dalam kamar Kris, Chanyeol melihat sekeliling. "Aku masih tidak mengerti, hanya suara tawa yang bisa ku dengar."
"Apakah kebahagiaan dilarang dalam rumah ini, Mr. Park?" Kris mendengus saat dia berjalan ke meja dalam ruangan itu.
"Tawa Baekhyun menggangguku," Chanyeol bergumam. "Tawanya keras dan menyebalkan."
"Aku menyukai tawanya," jawab Kris.
"Oke, jangan menyukainya."
Kris menatap Chanyeol untuk sejenak sebelum mengangkat bahu. "Terserah. Dia adalah orang yang akan kau nikahi, Yeol" Kemudian dia memberi isyarat Chanyeol untuk bergabung dengannya di dekat meja. "Kami tertawa karena Baekhyun terus saja mengolok-olokmu."
Chanyeol bergerak menuju meja sambil mengerutkan dahinya. "Oh, benarkah?" Tanya Chanyeol, tidak terkejut sama sekali jika si idiot akan menikamnya melalui penghinaan.
"Yeah, lalu dia melihat pekerjaanmu di mejaku. Aku sedang melihatnya semalam sehingga tidak sempat mereskannya dan dia melihat pekerjaanmu yang tergeletak di semua tempat. "
Mata Chanyeol melebar. "Kau membiarkan dia melihat ei-"
"Tenang," kata Kris, memutar matanya. "Aku mengamatinya. Dia terlalu sibuk mengkritisimmu atas kurangnya kreativitas dan karena menggunakan matematika yang terlalu rumit, sehingga dia tidak melihat yang lainnya. Oiya, lihatlah."
Chanyeol menarik matanya dari Kris dan melihat desain gambar mekanik nya. Dia bisa melihat di mana Baekhyun telah membuat perubahan dalam hal ukuran dan lebar desain lengan ini. Selain itu, Baekhyun juga telah mengubah perhitungan matematikanya menjadi lebih sederhana.
"Dia mengatakan jika kau tidak perlu menjadi begitu rumit," kata Kris. Mengangkat alis, lalu mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu apa ini berarti sesuatu bagimu, tapi terlihat sangat jelas. Aku tidak tahu bagaimana hubunganmu dengannya, karena terus terang, kalian terlihat sangat membingungkan."
Chanyeol terdiam beberapa saat, membiarkan kata-kata Baekhyun melingkupinya. "Jadi pada dasarnya, kalian berdua mengubah hasil pekerjaanku," katanya, terdengar sedikit kesal. Dia tidak suka kalau ada orang mengerjakan ulang setiap karyanya tanpa izin dan pemberitahuan.
Menyadari Chanyeol yang kesal , Kris mengambil kertas yang sebelumnya mereka lihat dan melipatnya. Lalu Kris mengambil sticky note putih yang menempel di balik kertas itu. "Dia mengatakan jika kau tampak marah, maka aku harus menunjukkan ini."
Setelah Chanyeol melihat ke sticky note itu, dia mengerutkan kening. Dia tidak senang melihat gambar pada note itu, sebuah karakter dengan kepala yang menyerupai penis dengan mata yang miring dan telinga berukuran abnormal, Chanyeol juga tidak terhibur pada pesan yang Baekhyun tulis di sisi kertas yang terbaca 'mange une bite'.
Dia juga tidak percaya senyuman kotak Baekhyun.
.
.
Selama hari-hari terakhir Kris di rumah itu, Baekhyun masih berinteraksi dengan Chanyeol seperti biasa, tapi tampak seperti dipaksakan. Senyum sinisnya seperti menyembunyikan belati, namun dia tidak selalu peduli. Dia sudah terbiasa dengan kebiasan Baekhyun ini. Satu hal yang yang mengganggu Chanyeol adalah Baekhyun yang terus menempel pada Kris.
Pagi hari setelah kegiatan seksual mereka, sikap Baekhyun di sisa hari itu sangat berbanding terbalik padanya. Hari pertama setelah foreplay itu, Baekhyun menamparnya. Chanyeol langsung merasa suasana hatinya memburuk, tapi kemarahan pagi itu hilang dalam sekejap karena Baekhyun langsung meraih wajahnya dan memaksa Chanyeol menciumnya. Chanyeol tidak menolaknya, dia dengan senang hati membalas ciuman itu, tetapi saat dia mulai memperdalam ciumannya, Baekhyun menarik diri dan mendorongnya kembali di tempat tidur. Ketika Baekhyun mengusap bibirnya dengan lengannya, Chanyeol menemukan dirinya sedikit marah dengan tingkah Baekhyun.
Pada pagi kedua setelah kejadian itu, Baekhyun membangunkannya dengan cara yang sama – itulah yang Baekhyun rencanakan. Akan tetapi saat tangan Baekhyun akan turun untuk menyerang wajahnya, Chanyeol, yang sudah terbangun sepuluh menit lebih awal oleh alarm yang dia atur, menangkap tangannya dan menarik tubuh Baekhyun ke tempat tidur, dan dengan cepat memagut bibir tunangan tidak terduganya .
Setelah beberapa menit beraduh lidah untuk menentukan siapa yang lebih dominan, Chanyeol lah yang menang, lalu Baekhyun mencengkeram bahu telanjang Chanyeol dan mendorongnya. "Apa ini akan berlanjut ke tahap yang lebih jauh?" tanyanya serius.
Chanyeol mengangkat bahu dengan santai. "Mungkin tidak."
Baekhyun tersinggung, sedikit merengut. "Aku tidak suka main-main."
"Aku juga tidak, tapi kau terus mengajaku bermain-main," Chanyeol bergumam sebelum menempatkan bibirnya di leher Baekhyun.
Tapi, Baekhyun menghentikannya. "Sarapan sudah siap," katanya ketus sebelum melepas rengkuhan Chanyeol dan kembali berdiri, memperbaiki bajunya. "Kyungsoo terlihat lebih bahagia pagi ini. Mungkin karena Kris akan pergi nanti malam. "
Chanyeol mendengus saat dia menjatuhkan tubuhnya kembali ke tempat tidur dan memandang Wajah acuh tak acuh Baekhyun. "Kyungsoo bukan satu-satunya yang merasa senang melihat Kris pergi malam ini." Ucap Chanyeol sambil menaruh lenganya di belakang kepalanya, dia memejamkan mata, menyadari sepenuhnya jika dia berbaring telanjang di depan Baekhyun. "Tidak akan ada pekerjaan untuk sementara waktu ..."
"Ya kembali seperti sebelumnya."
"Ya, kau benar."
Baekhyun melirik Chanyeol beberapa saat sebelum pergi dengan senyuman palsunya. "Baiklah, kalau begitu." Saat Baekhyun mulai melangkah, dia mengingatkan Chanyeol lagi. "Sarapan sudah siap. "
Mata Chanyeol menyaksikan kepergian Baekhyun, saat dia berbalik untuk melangkah ke pintu. Chnayeol mengangguk, tapi tiba-tiba pikirannya mengarahkan pada pernyataan yang Baekhyun utarakan sebelumnya. Merasa ada sesuatu yang ganjil, Chanyeol melompat dari tempat tidur, telanjang bulat. "Tunggu."
Dengan tangannya yang masih di kenop pintu, Baekhyun berbalik. Sejenak, mengamati tubuh Chanyeol dari atas sampai bawah sebelum kembali menatap mata giant di depannya. "Ya?"
Chanyeol berhenti. "Apa maksudmu 'kembali seperti sebelumnya'?"
Baekhyun memandang langit-langit mereka sambil mempoutkan bibirnya. "Kau tahu, kembali ketika kau tidak terkurung di kamarmu sepanjang hari atau ketika Kyungsoo tidak begitu terganggu/nervous setiap kali Kris memasuki ruangan."
Chanyeol ingin menyelidiki lebih. "Ada yang lain?"
Baekhyun berkedip, lalu seolah-olah menyadari ada sesuatu yang lain, dia mengangkat alisnya. "Oh. Ya, ini," lanjut Baekhyun, menunjuk bolak-balik mereka berdua. "Kita kembali menjadi maid dan atasan, bukan maid dan atasan dengan sexual benefit. "
Setelah mendengar ucapan Baekhyun yang secara tidak langsung menyebutkaan adanya batasan lain di antara mereka, Chanyeol mengepalkan tinjunya dan menggertakan rahangnya. "Sial! Aku sudah pernah mengatakannya, Baekhyun. Aku tidak ingin kau bertindak seolah-olah tidak pernah terjadi apapun pagi itu- "
"Aku tidak mengatakan akan berpura-pura tidak pernah terjadi apapun pagi itu," jelas Baekhyun dengan senyum kecil. "Jangan salah paham, aku sangat menikmatinya saat jarimu yang akan menyelinap masuk dalam diriku. Aku menyukaimu – secara fisik, setidaknya, sejauh yang kutahu, tapi aku juga memikirkan perkataanmu waktu itu."
Chanyeol membeku. "Bagian apa tepatnya?"
"Hmmm," Baekhyun mengerutkan alisnya, mencoba mengingat. "Aku ingat kau mengatakan sesuatu tentang daya tarik fisik. Kau tahu, jika," ucap Baekhhyun seraya menunjuk ke 'milik' Chanyeol yang terlihat jelas. "Bisakah aku berkata jujur padamu? Karena kaulah yang membayarku, jadi aku harus memberitahumu tentang keluhanku seperti pekerja pada setiap fasilitas kerja lainnya"
"Keluhan apa yang kau miliki, Baekhyun?" Chanyeol cemberut.
Baekhyun tidak mengatakan apapun selama beberapa detik, tapi kemudian dia berseru, "Baru-baru ini, Aku ingin sekali 'mengendaraimu'!" ekpresi terkejut terlihat di wajah Chanyeol menyebabkan Baekhyun segera menjelaskan lebih lanjut dengan terburu-buru. "Lihat, aku juga tidak mengerti. Aku adalah orang yang mengatakan jika kita hanyalah sebatas atasan dan maid, tapi hal itu terjadi -lagi- dan kau meninggalkanku sendiri untuk menyelesaikan 'milikku' yang masih tegang, sesuatu yang sebenarnya disebabkan olehmu. Sekarang, aku tidak bisa fokus pada segala sesuatunya lagi, seperti aku akan berfantasi melakukan sex denganmu di atas lantai saat aku berusaha untuk membersihkannya, seakan-akan kita sedang melakukan seks maraton dua puluh empat jam!"
Baekhyun kehabisan napas, lalu mengangkat tangannya. "Tapi aku juga berpikir. Apa yang akan terjadi jika seandainya kita, kau tahu, benar-benar melakukannya? Aku pikir, hal ini akan membuat semuanya menjadi lebih canggung. Apa yang harus kita katakan pada yang lainnya? Apa kita akan berdalih dengan mengatakan jika kita melakukannya karena saat ini musim kawin? "
"Mereka tidak perlu tahu apa yang kita lakukan," Chanyeol berpendapat.
"Mereka tidak perlu tahu, tapi mereka pasti akan tahu!" Baekhyun gusar. "Oke, saatnya cerita pendek."
Chanyeol geram. "Sial! Aku tidak ingin mendengar cerita pend-"
"-Jadi," sela Baekhyun, melanjutkan penjelasannya. "Aku dulu tinggal di asrama saat kuliah. Ada beberapa mahasiswa lain yang juga tinggal di sana, tapi aku adalah satu-satunya yang dilarang untuk melakukan seks - satu-satunya orang di seluruh bangunan. "
Chanyeol tidak peduli. Dia tidak ingin mendengar tentang kegiatan seksual Baekhyun di masa lalunya karena satu-satunya aktivitas seksual Baekhyun harus dia pikirkan adalah apa yang terjadi di antara mereka saat ini.
Namun, Chanyeol tetap bertanya. "Dan mengapa mereka melarangmu?"
Baekhyun menggigit bibirnya. "Ada alasan yang lucu mengapa aku dijuluki The Screamer, Chanyeol." Melihat perubahan ekspresi wajah Chanyeol, Baekhyun meneruskan penjelasannya."Tidak perlu ada orang lain untuk menceritakan apapun tentangku karena aku cukup yakin mereka dapat mendengar suaraku."
Chanyeol ragu-ragu sejenak sebelum melangkah maju. "Aku tidak peduli jika mereka mendengarmu."
Baekhyun berkedip sebelum tersenyum ke arahnya. "Aku ingin berteriak untukmu, Chanyeol. Aku akan melakukannya dengan senang hati saat kita melakukan seks yang membara, thigh-burning sex, tapi aku menyukai Sehun dan aku juga menyukai Kyungsoo. Aku menyukai rumahmu dan anehnya aku juga menyukai bekerja untukmu. Awalnya berpikir jika kau adalah sesosok yang pemarah dan menyebalkan, tapi pada saat yang sama, aku tahu jika itu tidak benar karena pada nyatanya kau hanya corny pushover*."
Baekhyun menghela napas dan mengangkat bahu. "Aku tidak tahu bagaimana akhir dari semua ini jika kita melanjutkannya. Aku tidak ingin semuanya memburuk sehingga mengharuskanku pergi, karena aku benar-benar menyukai segala sesuatunya di sini."
Keheningan datang dan pergi. "Jadi kau memotong perkataanku karena kau tidak tahu apa yang akan terjadi jika seandainya kita benar melakukannya? "tanya Chanyeol menuntut.
Baekhyun memutar kenop pintu dan perlahan-lahan menariknya terbuka, Baekhyun tersenyum. "Seberapa besarpun aku menyukai sesuatu yang spontan, tapi ini adalah satu dari banyak hal yang tidak akan aku ambil resikonya – karena pada dasarnya aku tidak ingin kehilangan tempat ini. "
.
.
Note : Corny Pushover (Aku bingung ngartiinnya). Berikut arti masing masing berdasarkan urban dictionary
Corny : Berusaha untuk menjadi keren, tapi berakhir dengan tidak keren, bahkan sering sangat memalukan.
Pushover : Seseorang yang mudah dikendalikan, menunjukkan sedikit perlawanan terhadap permintaan orang lain, dan mudah untuk mundur/menyerah.
See you
