NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)
Indo Trans
DISCLAIMER
I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here
exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html
(spasi dihilangkan, dot diganti titik)
.
WARNING
Yaoi, Boy x Boy, Typo (s), SMUT (Implisit), etc.
Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.
.
Forward
Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.
.
Chapter 26 – Weird
.
Chanyeol terbangun, dan kesadaranya sudah kembali. Dia tahu persis apa yang telah terjadi, dan alasan mengapa dia merasa seperti pagi ini benar-benar sangat tepat, dan seseorang yang sedang berbaring di sampingnya dengan lengan mereka yang terkait sama lain. Membawa tatapannya ke bawah, Chanyeol melihat dada Baekhyun yang naik-turun teratur. Chanyeol Tidak dapat menahan dirinya sendiri, merengkuh tubuh Baekhyun mendekat ke arahnya, menyebabkan laki-laki yang lebih kecil itu terganggu dan menggerutu.
Chanyeol melihat mata Baekhyun perlahan terbuka. Dengan malas, matanya mendongak menatap wajah Chanyeol sebelum menutup lagi. Baekhyun mengutuk tingkah Chanyeol, mencoba melepaskan rengkuhan Chanyeol dan membenamkan wajahnya ke bantal. "Asshole" gumamnya pada sesuatu yang empuk dbawahnya.
Mengangkat alisnya, Chanyeol menyeringai. "Terima kasih, selamat pagi juga."
Baekhyun berguling menghadapi Chanyeol. "Aku tidak bermaksud mengataimu asshole," ucapnya pelan, tetapi dengan nada yang tajam. "yang ingin kukatakan itu jika asshole-ku benar benar sakit-Sial!, kenapa kau begitu berbakat? Kenapa kau tidak bisa menjadi rata-rata ... "
Chanyeol mendengus, membawa dirinya pada posisi duduk, menatap tubuh lelah Baekhyun. Mengabaikan komentar Baekhyun, "Apa kau benar-benar merasa sangat sakit?" tanya Chanyeol.
"Aku merasa sakit sekali. Aku rasa, aku tidak akan bisa bekerja hari ini ..."
"Apa kau sengaja menggunakan alasan jika kita telah melakukan seks untuk kabur dari tanggung jawabmu melakukan pekerjaan yang pada akhirnya aku yang bayar? "canda Chanyeol, menyenggol sisi tubuh Baekhyun dengan lututnya."aku pikir itu tidak akan mempan".
Baekhyun-tidak dalam mood untuk melucu-mengepalkan tangannya dan memukul paha telanjang , Chanyeol keras, menyebabkan Giant itu tersentak. "Terima kasih, karenamu aku tidak bisa menggerakkan setengah tubuh bawahku. Aku tidak ingin mendengar leluconmu pagi ini -Dan tutup jendelanya! Ini terlalu dingin!"
Chanyeol terima dengan pukulan Baekhyun, lalu dia menepuk pelan pipi pantat Baekhyun, membuatnya mengeluarkan ringisan pada bantal. "Aku sering memberitahumu agar tidak membuka jendela, tetapi kau tetap saja melakukannya,"desahnya kesal. Chanyeol meraih dan menarik selimut Baekhyun untuk menutupi tubuh mereka sebelum kembali berbaring.
Untuk sesaat, Chanyeol mendapati ekspresi cemberut Baekhyun. Dia mencoba membuat keadaan menjadi lebih baik, dengan tersenyum padanya dan membawa tangannya melingkari tubuh Baekhyun, yang berakhir mencapai pantatnya dan meremasnya tepat dimana tepukan sebelumnya mendarat.
"Kau tidak membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik," gumam Baekhyun.
"Bukankah aku sudah berusaha mencobanya?" jawab Chanyeol. Dia menepuk pelan pantat Baekhyun dua kali, dan menyeringai. "Aku mencoba membuatmu merasa lebih baik. "
Baekhyun menatapnya skeptis. "Kau menjadi aneh." Baekhyun membawa tangan Chanyeol menjauh dari tubuhnya. "Kenapa kau bersikap baik padaku?"
"Apa aku harus memperlakukanmu seperti sampah?" tanya Chanyeol sambil tersenyum tipis.
"Tidak, tidak biasanya kau seperti ini, terlihat aneh." Cibir Baekhyun. "Kau bertingkah seolah-olah aku sedang mengandung anakmu. Bisakah kau tidak melakukannya? "
Chanyeol mengangkat bahu. "Aku hanya telah melakukan seks setelah beberapa waktu yang lama. Aku pikir, aku memiliki hak untuk bangun pagi dengan perasaan yang lebih bahagia. "
"Aku kira ..." gumam Baekhyun. Dia terdiam selama beberapa saat sebelum meraih dan menyentuh lengan Chanyeol. "Bisakah kau memberiku sedikit waktu?"
Chanyeol berkedip, benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Baekhyun. "Apa maksudmu?"
"Waktu," ulang Baekhyun. "Aku jelas membutuhkan waktu sebelum aku bisa berjalan lagi dengan normal. Saat itu terjadi, aku akan pergi- "
"Sial! Kau akan pergi kemana?" tuntut Chanyeol, menggenggam tangan Baekhyun erat.
"menjauh?" jawab Baekhyun, tidak yakin dengan jawabannya sendiri. "Aku tidak tahu. Itulah sebabnya aku memintamu untuk memberikanku waktu. Aku harus mencari tahu kemana aku harus pergi atau apa yang akan aku lakukan selanjutnya..."
Bibir Chanyeol menipis saat ia mengamati wajah Baekhyun. " Apa yang sebenarnya kau bicarakan?" ucap Chanyeol, memposisikan dirinya duduk dan mengamati Baekhyun lebih dalam."Kau akan pergi? "
Baekhyun menatapnya bingung. "Apa kau tidak mengusirku pergi dari rumah ini? Kau sudah mendapatkan apa kau inginkan. Aku yakin kau juga tidak ingin membuat semua ini menjadi canggung untuk yang lainnya. Bagaimana jika mereka mendengar kita semalam? Apa kau-"
"Sialan, Baekhyun," geram Chanyeol, sambil mengusap rambut berantakannya ke belakang. "Aku tidak akan mengusirmu. Kita telah melakukan seks dan aku tidak akan berpura-pura seolah kita tidak pernah melakukannya," katanya tajam dengan nada posesif pada suaranya. "Jika yang lain mendengar, aku tidak peduli. Biarkan mereka tahu. "
Baekhyun menghela napas. "Baiklah ..." kalah Baekhyun. "'Public shame' bukanlah sesuatu yang baru bagiku."
Chanyeol mengerutkan kening. "Semua ini bukanlah 'public shame', Baek," katanya dengan nada keras.
"Aku tidak mengatakan hal ini sebagai sesuatu yang buruk," kata Baekhyun, tesenyum kecil. Dia mengangkat tangannya dan menepuk paha Chanyeol, berusaha menenangkan Giant itu. "Aku hanya ingin mengatakan, jika Sehun tidak akan melihatku dengan cara yang sama lagi. "
"Dia sudah melihatku menggedor-gedor pintumu sambil memohon seks. Aku yakin dia akan memahami situsi kita."
.
.
Setelah mandi dengan cepat dan berpakaian kasual setelahnya, Chanyeol menyeret kakinya ke dapur. Saat dia masuk, dia mendapat tatapan dari tiga pasang masa seolah dia seorang anak yang kedapatan mengambil dua potong permen dari mangkuk Halloween, yang seharusnya satu.
Tapi, Chanyeol tidak menghiraukan mereka dan melanjutkan tujuan awal dia ke dapur. Chanyeol berjalan ke arah rak berada, dan mengambil cangkir mengisinya dengan kopi. "Apa yang salah dengan semua muka kalian? "
"Pertanyaannya adalah," mulai Kyungsoo, yang akhirnya mendapatkan perhatian Sehun dan Kai di sisi lain meja, "apa yang salah denganmu?"
"Tidak ada," kata Chanyeol, menaik-turunkan bahunya. "Aku baik-baik saja menurut pemeriksaan terakhirku."
"Bukan itu maksudku, dan kau tahu itu," jelas Kyungsoo, lalu menghela napas. Mendorong piringnya menjauh, ia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan meja. "Aku sedang berbicara tentang Baekhyun."
"Bagaimana dengan dia?" kata Chanyeol setelah meneguk kopi, panjang.
"Aku mendengarnya. Sehun mendengarnya. Kai mendengarnya. Kita semua mendengar itu," ungkap Kyungsoo jelas, memutuskan untuk tidak menjelaskan lebih detail apa yang sebenarnya mereka dengar.
Chanyeol menggigit bibirnya. "Seharusnya kau menyalahkan Baekhyun untuk apa yang kalian dengar, tapi semua itu bukan sepenuhnya salahnya."
Sehun tersedak jus jeruk dan cairan itu menetes dari sudut mulutnya. Setelah meraih serbet, Sehun menolak untuk membuat kontak mata dengan tutor, teman, dan atasannya itu. Kyungsoo melirik Sehun, lalu memutar bola matanya.
"Chanyeol, Baekhyun itu maid mu," jelas Kyungsoo mengingatkan dengan menekankan kata maid. "Kau tidak memiliki alasan untuk tidur dengannya! "
Chanyeol menaruh mugnya di atas meja, dan mengangkat alisnya. "Kau dan aku jelas tahu, jika Baekhyun yang ada di rumah ini itu lebih dari sekedar maid. "
Kyungsoo jengkel, menghela napas berat. "Tentu saja, aku tahu," lanjutnya. "Tapi bagaimana denggan kontrak? Kau jelas mengatakan akan menunggu sampai kontrak itu gagal dan akan membiarkannya pergi- tanpa ada ikatan apapun di antara kalian. Tapi, liat apa yang sudah kau lakukan? Tidur dengannya hanya akan membuatmu lebih terikat padanya."
"Aku tahu," Chanyeol menjawab kembali sambil berbalik dan membungkuk untuk mengambil tray tempat sarapan di atas tempat tidur. "Kau mengingatkanku, Kyungsoo. Aku ingin kau menghubungi orangtuaku. Aku rasa dalam waktu dekat ini akan mengunjungi mereka. "
"Apa maksudmu?" Kyungsoo bergerak di sekitar meja dapur dan berjalan ke arah Chanyeol saat dia sudah bangkit dari posisi bungkuknya. "Apa yang akan kau lakukan? Kenapa kau tiba-tiba ingin mengunjungi orang tuamu? "
"Ada perubahan rencana."
"Apa semua ini berkaitan dengan fakta jika kau sudah tidur dengannya!?"
"Tujuanku bertemu dengan orang tuaku itu untuk berunding dengan mereka," ungkap Chanyeol. "Setelah itu, aku akan mengatur pertemuan dengan orang tua Baekhyun."
"Kenapa kau harus bertemu dengan orang tuanya?" terdengar pertanyaan yang keluar dari sudut meja dimana Sehun berada, sehingga menyebabkan perhatian semua orang teralih padanya. Menyadari apa yang telah dia lakukan, Sehun melihat sekeliling dan mencoba mencari jalan keluar, kerutan di wajah Chanyeol membuatnya bertambah canggung. "Maksudku ... kau memang sudah melakukan 'itu' denganya, tapi apa tidak terlalu cepat untuk bertemu orang tuanya?" Ketika tidak ada serangpun di sekelilingnya yang sependapat, Sehun tampak frustrasi. "Kai, kau mengerti apa yang ingin kusampaikan, kan?"
Kai hanya memberi Sehun sebuah ringisan "Aku tidak bisa mengatakan apapun."
Sehun menendang Kai, lalu melotot. "Apa maksudmu kau tidak bisa-" Tiba-tiba dia mengalihkan fokusnya kembali pada Chanyeol. "Aku pikir kau tidak harus bertemu dengan orang tua Baekhyun. Kau bertindak seolah kalian berdua memutuskan untuk menikah. Aku sungguh tidak mengerti."
Kyungsoo mengirim sinyal pada Chanyeol, lalu menggeleng. "Kau tahu Yeol, Sehun perlu mengetahuinya juga. Kau sudah melakukan semua ini terlalu jauh, jadi dia berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi sekarang. "
Sehun melihat ke semua orang yang ada di ruangan itu, lalu bangkit dari kursi makan itu. "Apa ini? Kalian semua sudah mengethaui sesuatu yang tidak aku ketahui? "
Kyungsoo mengalihkan tatapan pada Sehun, dan memberinya tatapan lembut. "Sehun, apa kau ingat saat Chanyeol memecahkan vas, membuat penyok mobil karena mengendrainya saat marah, dan membuat lubang di dinding garasi? "
Sehun memberikan tatapan selidik pada Chanyeol, lalu mengangguk. "Ya…"
"Apa kau ingat kenapa?"
"Aku tidak mengingat dengan jelas," gumamnya. "Sepertinya tentang sebuah pernikahan."
"Ya, tepat. Apa kau ingat siapa orang yang harus dinikahi Chanyeol? "
"Seseorang yang sudah orang tuanya atur-" Sehun membawa kedua tangannya pada rambutnya. "Aku semakin tidak mengerti. Apa hal itu berhubungan dengan apa yang aku dengar 'ahh hardeer!' tadi malam? Apa kaitanya dengan Chanyeol yang ingin bertemu dengan orang tuanya? Atau orang tua Baekhyun!?"
"Karena Baekhyun adalah orang yang akan dinikahi Chanyeol, Sehun," jelas Kyungsoo, memberikan sedkit pencerahan.
"A-Apa?" ucap Sehun kaget, matanya langsung melesat ke arah Kai, yang menganggukan kepalanya, lalu ke Chanyeol, yang tampak seperti sudah bosan dengan pembicaraan itu, yang sudah diulang berkali-kali. "Tidak, dia bukanlah orangnya."
"Sehun," kata Chanyeol, akhirnya berbicara. "Dia tahu tentang mesin dan robotika. Dia tahu matematika sama baiknya seperti yang aku lakukan dan nama terakhirnya adalah Byun. "
"Byu-"
Suara Sehun terputus oleh teriakan keras yang berasal dari lorong yang mengarah ke kamar Baekhyun. Chanyeol bergumam sesuatu, memutar matanya dan menaruh tray itu ke meja dan menempatkan sarapan Baekhyun di atasnya. Dia memutuskan untuk tidak membawa jus jeruk karena tidak bisa menyeimbangkannya, dan memutuskan untuk kembali lagi ke dapur setelah menaruh tray yang berisi makanan ini terlebih dahulu di kamar.
"Aku akan kembali," desahnya sebelum berjalan menjauh, meninggalkan tiga laki-laki di ruangan itu.
"Fucking hormones..." Komentar Kyungsoo setelah kepergian Chanyeol.
Setelah mendengar komentar itu, Kai menggeleng dan menaruh peralatan makannya ke meja. "Aku bertanya-tanya kapan pertahananya runtuh. Satu minggu penuh dengan kehadiran Kris di rumah ini terasa seperti di neraka. Aku tidak mengerti. Ketegangan seksual di sisi Chanyeol cukup tinggi. "
"Tentu saja," bentak Kyungsoo, berjalan kembali ke arah meja dan kembali duduk.
"Sudah tinggi sejak malam Sehun melihat Chanyeol telanjang di depan kamar Baekhyun. Meskipun begitu, seharusnya idiot itu tidak harus tidur dengannya. Dia bisa mengatasi ketegangan itu dengan cara lain. "
"Seperti masturbasi?"
Kyungsoo panik. "Ya, terdengar lebih bijaksana."
"Tidak semuanya bisa diselesaikan dengan menyentuh diri sendiri."
Kyungsoo memberikan tatapan tajam pada laki-laki yang lebih muda di sampingnya. "Kau tahu? Tak seorangpun yang menanyakan pendapatmu." Segera setelah itu, Sehun –yang masih terkejut- menyaksikan adegan Kyungsoo yang memukul kepala Kai dan memaksanya beranjak bangkit dari tempat duduknya.
.
.
Saat Chanyeol berjalan memasuki kamar Baekhyun, dia melihat Baekhyun sudah menendang selimutnya jatuh dan berbaring telentang. Posisi itu akan tampak normal jika aja Baekhyun tidak dalam keadaan telanjang, membiarkan setiap inci tubuh telanjangnya tampak jelas bagi siapapun yang melihatnya.
"Setidaknya tutupi bagian privatmu."
Baekhyun mengerang. "Aku tidak bisa bergerak."
Chanyeol melirik selimut yang tergeletak di lantai dan ke jendela yang sudah tertutup. "Jelas kau bisa melakukannya."
Bakehyun mengikuti tatapan mata Chanyeol ini, dan mengerti apa yang Chanyeol maksudkan. Dia menghela napas dan mendudukan dirinya dengan enggan. " 'Bola'ku menangis 'Daddy kami kedinginan'. Saat itu adalah waktu yang berat, aku mengabaikan rasa sakitku - demi kenyamananku."
"Kenyamanan," Chanyeol mendengus. Dia melangkah maju, dan berhenti tepat di tepi tempat tidur Baekhyun. "Tutupi tubuhmu."
"Kenapa tidak kau saja yang melakukannya?" rengek Baekhyun. "Aku tidak ingin kau menafsirkan ini dalam artian yang seksual. "
"Hanya dengan melihat ekspresi menyebalkanmu, aku tahu jika permintaanmu itu bukanlah sesuatu godaan."
Baekhyun memberi tatapan tajam pada Chanyeol. "Menyebalkan? Apa yang terjadi dengan orang aneh yang tadi pagi bangun disebelahku? "katanya, pura-pura sedih sambil menarik selimut hingga tepat di atas pinggang.
"Dia pergi ke dapur dan harus berhadapan dengan orang yang sudah mendengar seks panas mereka yang sangat keras"
Mata Baekhyun melebar. "Aku sudah memberitahumu! Aku memberitahumu jika mereka akan mendengarku, dasar keras kepala!" Dia mendengus saat Chanyeol mengatur tray makan di atas tempat tidur. "Tapi kau tetap bersikeras dan mengatakan. 'Aku tidak peduli' Demi Tuhan!. Inilah kenapa aku tidak menurutimu. Bahkan hewan peliharaanku saat aku sepuluh tahun saja lebih memiliki otak dari pada kau-ngh! "
Chanyeol membungkuk ke depan dan menarik hidung Baekhyun. "Diamlah. Saat kau sedang galak seperti ini membuatku sedkit menegang, jadi makanlah sebelum aku memutuskan untuk membuat pantatmu memantul diatasku lagi. "
Baekhyun menggerutu dan mengusap hidungnya. "Aku pikir itu tidak akan terjadi."
"Apa yang tidak akan terjadi?"
"Aku," kata Baekhyun, "memantul di atas penismu."
Chanyeol menyeret kursi di sebelah tempat tidur dan mendudukinya. "Dan kenapa kau berpikiran seperti itu?" tanyanya sambil membuka bungkusan peralatan makan yang sudah diatur Kyungsoo dengan serbet.
"Bukankah tadi malam itu hanya sesuatu seperti 'one night stan'?" ucap Baekhyun santai sambil mengatur rambutnya ke sisi telinganya dan mengambil sendok dan garpu yang Chanyeol ulurkan padanya.
"Seperti suatu hal yang terjadi di luar kendali kita?" jelas Chanyeol sambil melihat Baekhyun.
"Ya."
"Aku tidak mengerti, apa kau menganggapnya sepeti itu?"
Baekhyun menatap balik Giant di depannya. "Aku pikir, ya."
Chanyeol ingin mengejeknya. Baekhyun mengatakan 'dia pikir' dan itulah kata kuncinya. Chanyeol merespon dengan mengangkat bahunya. "Baiklah. Hal itu terjadi di luar kendali kita."
"seutuhnya?"
"Ya, seutuhnya."
.
.
Selama seminggu, kata 'seutuhnya' menjadi sangat erat kaitannya dengan kata "aku berbohong". Dua hari setelah malam pertama mereka, Chanyeol memanggil Baekhyun ke ruang kerjanya. Pada awalnya, semua berjalan normal, tapi entah bagaimana dengan serangkaian inisiatif Chanyeol, Baekhyun berakhir dengan salah satu tubuh Chanyeol yang berada dalam drinya sehingga membuatnya memantul ke atas dan ke bawah. Akan tetapi, kursi Chanyeol tidak bisa memberikan ruang untuk mereka sehingga Chanyeol dengan menyesal untuk memberitahukan Baekhyun untuk berpindah.
Chanyeol tidak membuang waktu sedikitpun dalam hal ini. Dia segera meraih belakang kaki Baekhyun dan melingkarkan kakinya pada pinggangnya. Mereka bergerak, dan Chanyeol mengatur Baekhyun di meja terbesar yang ada di ruangan itu dan melanjutkan hentakannya pada Baekhyun sampai membuatnya hampir menangis.
Tak perlu dikatakan lagi, semua kertas Chanyeol di meja itu berakhir kusut, rusak dan kotor.
.
.
Nugget juga menjadi korban tanpa dia sadari langsung. Semua hal yang Nugget ketahui adalah jika Daddy nya sedang melakukan loundry saat lelaki yang lebih tinggi dari Daddy nya datang. Setelah itu, Nugget merasa dirinya terangkat dan hal berikutnya yang dia tahu, pintu ke ruang loundry tertutup di depan Wajahnya.
Dia menghabiskan waktunya mencoba untuk membuka pintu dengan mengais-ngaisnya, tapi Nugget menyadari jika dia tidak bisa lakukan apapun. Beberapa menit berlalu ketika Nugget mulai mendengar erangan Daddy nya dan suara-suara lainnya dari dalam ruangan. Dia tidak tahu mengapa, dan dia tidak memiliki waktu untuk berpikir tentang hal itu, karena suara mesin cuci mulai terdengar dan menengggelamkan suara suara lainnya kecuali suara samar Daddy nya yang memanggil-manggil orang lebih tinggi dari Daddy nya.
Bosan dan kesepian, Nugget menjauh dari pintu dan berjalan ke arah Sehun yang langsung mengangkatnya dan mengatakan padanya jika Daddy nya adalah orang yang mesum.
.
.
To be continued
