NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)

Indo Trans

DISCLAIMER

I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here

exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html

(spasi dihilangkan, dot diganti titik)

.

WARNING

Yaoi, Boy x Boy, Typo (s), SMUT (Implisit), etc.

Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.

.

Forward

Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.

.

Chapter 27 – Emotionally Attached

.

Berbaring dan bercinta dengan penuh gairah diatas mesin cuci yang bergetar bukanlah sesuatu yang pernah terlintas dalam pikiran Baekhyun sebelumnya. Tapi keadaan itulah yang sedang terjadi sekarang dan terdengar sangat berisik. Tidak banyak yang bisa dia lakukan kecuali tetap melekat ke tubuh panas Chanyeol dan meneriakan namanya, terkadang mencoba mengingatkan mereka agar tidak terlalu berisik, tapi sebuah hentakan lah yang dia dapat dari Chanyeol, yang membuatnya kembali berteriak.

Tangan Chanyeol berada di pinggangnya, membuatnya tetap berbaring di atas mesin saat dia terus membawa miliknya memasuki lebih dalam tubuh laki-laki yang lebih kecil darinya. Dan setiap kali Baekhyun mencoba untuk mencoba mengingatkan untuk mengecilkan volume seks mereka, Chanyeol hanya menggerutu, "Diamlah," ucapnya singkat, sebelum menyerang kembali lehernya.

Apa yang sedang mereka lakukan sudah bukan rahasia lagi dalam rumah itu, tapi Baekhyun tidak membiarkan hal itu mengganggunya. Dia masih tetap berinteraksi dengan semua orang, tapi memang pada awalnya Sehun berusaha menjauhinya. Setelah memaksa dan mengajak lelaki yang lebih muda darinya itu berbicara berkali-kali, Sehun mulai kembali seperti semula. Meskipun Baekhyun tetap bisa menjaga hubungan senormal mungkin dengan semua orang, tapi mereka tetap tahu apa yang sebenarnya terjadi saat mulai terdengar suara-suara aneh.

Di sisi lain, Kai, Kyungsoo, dan Sehun sudah mulai terbiasa melihat adegan porno secara langsung. Bahkan ketika mereka tahu Chanyeol sedang menyerang tunangannya-atau tunangan 'rahasia'nya- maka mereka akan mencari cara untuk menghindarinya. Di suatu waktu jika mereka menyadari hanya ada ketiga dari mereka saja di rumah itu, mereka lebih baik pergi ke luar atau membuat volume televisi menjadi lebih keras untuk meredam kebisingan yang ditimbulkan oleh pasangan itu. Tapi terkadang suara mereka tak tertahankan. Suara desahan dan jeritan Baekhyun yang memenuhi rumah akan memaksa Kyungsoo mengajak Kai dan Sehun keluar untuk menjernihkan pikiran sebelum muncul hal-hal aneh di kepala mereka.

Nugget sedang berlari menuju Daddy nya, tapi dia berakhir diangkat oleh Sehun dalam perjalanannya. Dia mencoba melawan anak laki laki yang berusia sembilan belas tahun itu, tapi tawaran satu biskuit dari Sehun mengalihkan perhatian Nugget dari Daddy nya. Makanan pertama, setelah itu baru Daddy nya, itulah prinsip Nugget.

Kyungsoo tetap mencoba segala sesuatunya berjalan normal dengan Baekhyun. Dia sudah mengenal Chanyeol untuk waktu yang lama, tapi dia masih tidak dapat mengerti alasan Chanyeol yang membuat sebagian besar waktu Baekhyun untuk dirinya sendiri secara berlebihan. Bahkan Chanyeol jelas terang-terangan mengawasi setiap pergerakan Baekhyun di rumah. Sejauh yang Kyungsoo lihat, tatapan itu bukan hanya tatapan seseorang yang hanya menginginkan seks. Ketika Kyungsoo menyadari apa yang sebenarnya, dia memutar matanya dan melanjutkan apa pun yang dia lakukan sebelumnya.

Idiot itu sudah mulai menyukai seorang yang sebenarnya ingin dia singkirkan dari kehidupannya.

Tour seks terkhir yang dilakukan oleh Baekhyun dan Chanyeol dirumah itu terjadi saat Chanyeol tidak sengaja menjatuhkan Baekhyun. Situasi itu terjadi karena tangan Chanyeol yang panas dan basah oleh keringat terlepas dari pantat Baekhyun. Rasa percaya diri Chanyeol yang begitu tinggi dalam melakukan seks tanpa adanya penopang pada tubuh Baekhyun, membuat tubuh Baekhyun langsung terjatuh keras, membuat kepalanya terbentur ke lantai. Dan saat Baekhyun terjatuh, Baekhyun refleks memegang salah satu kabel lampu terdekat sebagai pegangan, yang membuatnya tertarik kebawah menimpahi meja yang menjadi miring yang mampu membuat printer Chanyeol di meja itu bergaser dan menimpah dinding dan menghancurkannya, menciptakan sebuah lubang seukuran kepalan tangan.

Ketika Kyungsoo mendengar dentuman keras itu, dia segera berjalan menuju sumber suara, saat dia melihat pemandangan di depannya, Kyungsoo memutuskan jika sudah saatnya Baekhyun beristirahat dari kekerasan seksual yang dilakukan Chanyeol. Kyungsoo mengabaikan fakta jika kedua idiot itu masih bertelanjang bulat, dia melangkah ke dalam ruangan dan mendorong Chanyeol menjauh dari Baekhyun, lalu berlutut. Menempatkan salah satu lengan Baekhyun di punggungnya, membantunya berdiri, menghalangi Chanyeol kembali menyentuh Baekhyun.

"Tidak Chanyeol. Segera berpakaian. Kau harus membawanya ke dokter," kata Kyungsoo tegas sambil memapah Baekhyun keluar. Saat Kyungsoo membawa Baekhyun perlahan keluar, Chanyeol mendengar kyungsoo bergumam tentang lubang di dinding kamarnya.

.

"Yah, dia gegar otak ringan," ucap Kyungsoo marah saat dia melihat Chanyeol menempelkan es pada kepala Baekhyun.

Dokter telah melakukan semua prosedur dasar dan mengatakan yang perlu Baekhyun lakukan hanya beristirahat untuk sementara waktu. Ketika Kyungsoo mendengar ini, dia tidak menahan untuk memberikan tatapan menghakimi pada Chanyeol yang dimaksudkan untuk mempermalukan raksasa itu karena sudah membuat kekasihnya terjatuh dan mengalami gegar otak.

"Dan sekarang kau memiliki lubang di kamarmu," kata Kyungsoo. "Kau tahu, Chanyeol. Nugget mungkin akan berpikir jika dia telah menemukan pintu gerbang ke Narnia. "

"Kita akan segera memperbaikinya," kata Chanyeol sambil mengatur es di kepala Baekhyun.

Terjadi keheningan beberapa saat sebelum terdengar suara Kyungsoo "Sungguh! Kau harus menghentikan tour seksmu." Geram Kyungsoo. "Kau sudah melakukannya di setiap ruangan di rumah ini kecuali kamar Kai, Sehun, serta kamarku - setidaknya dugaanku seperti itu, karena jika tidak- "

Chanyeol mendengus. "Tidak. Baekhyun tidak ingin melakukannya dikamar kalian. "

"Disini, Baekhyunlah yang memiliki sifat yang lebih terbuka, tapi dia lebih bijaksana mengenai hal-hal semacam ini, sungguh bertolak belakang denganmu " sergah Kyungsoo, menggosok nya dahi dengan tangan.

"Ya, dia memang seperti itu," Chanyeol bergumam sambil menatap wajah damai Baekhyun. "Blak blakan, tapi jujur."

Kyungsoo meyeringai sebelum beranjak dari posisinya dari ambang pintu. Dia berjalan ke arah Chanyeol yang sedang duduk di tepi tempat tidur Baekhyun. "Jujur saja. Kau sudah mulai menyukainya."

Chanyeol diam selama beberapa saat untuk berpikir. "Dia menyebalkan."

Kyungsoo melirik atasanya, yang tidak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari laki-laki yang berbaring didampingnya. "Kau ini," katanya, tidak senang.

"Dia tertawa sangat keras. Terlihat bodoh." Chanyeol berkedip. "Untuk beberapa alasan dia menyukai dan membenci gugus bintang. Aku rasa dia tidak bisa memutuskannya karena dia bodoh dan penuh keraguan ... Dia pikir dia itu imut, padahal tidak, dia itu hanya menyebalkan. Aku rasa dia merasa dia itu lucu tapi kau tahu Kyungsoo, dia tidak lucu." Setelah beberapa saat, Chanyeol mengerang dan memiringkan kepalanya menghadap Kyungsoo untuk pertama kalinya setelah beberapa menit. "Dan aku tidak mengerti dengan selera berpakaiannya? Menurutku dia buta warna karena lemarinya hanya penuh dengan cardigan. Bukankah kau yang mengantarnya ke kota untuk berbelanja? Kenapa kau membiarkannya membeli pakaian terkutuk itu !? "

Kyungsoo mengangkat alisnya dan mengambil langkah mundur. "Oke," dia mendesah. "Kau frustrasi karena kau benar benar menyukainya dan sekarang kau memarahiku karena sudah membiarkannya membeli pakaian yang keren. "

"Pakaiannya tidak keren," Chanyeol berpendapat.

"Terserah apa katamu," kata Kyungsoo, mendesah sambil menepuk pelan bahu Chanyeol. "Senang mendengar jika kau juga menyukainya. Jika kalian menikah maka memang sebaiknya kalian harus saling menyukai satu sama lain. " Kyungsoo baru saja berbalik untuk meninggalkan ruangan itu, tapi dia berhenti dan menjetikan jarinya. "Oh, aku sudah menghubungi orang tuamu. Sebaiknya kapan aku harus memberitahukan kedatangamu pada mereka? "

Chanyeol berpikir sejenak, tiba-tiba teringat permintaannya untuk bertemu orangtuanya. "Tiga hari dari sekarang. Aku akan berangkat besok. "

Kyungsoo mengangguk. "Baiklah. Aku akan meninggalkan Baekhyun padamu. Pastikan dia tidak bergerak terlalu banyak." Lanjutnya.

"Ya," jawab Chanyeol, membawa kembali perhatiannya pada Baekhyun, yang sedang bergerak pelan, membuat Chanyeol mendengus. "Idiot."

.

.

" ' Maafkan aku, Sayang, tetapi kau harus tahu bagaimana mungkin wanita muda yang baik-baik sepertimu memiliki anak sebelum menikah, terutama anak dari seseorang yang tidak kau sukai.' Lalu tiba-tiba dia tidak senang lagi, ekspresinya berubah gelap dengan kecurigaan memenuhinya. 'Kecuali dia-'

Megan menangkap pemikiran yang memenuhi kepalanya dan memotongnya. 'Dia tidak melakukannya, dan Aku membencimu karena sudah berpikir seperti itu! '

'Och, Kau tidak perlu melakukannya tae-' "

Mulut Baekhyun itu menganga. "Tidak tidak. Teruskan membacanya! Kenapa kau berhenti? "

Chanyeol merengut menatap buku di tangannya. Dia mebalik buku itu, dan menatap covernya sejenak sebelum membuka lagi ke halaman terakhir sebelum memandang Baekhyun yang sedang cemberut. "Buku ini tidak masuk akal, Baek. Ini omong kosong. "

"Buku itu bukanlah omong kosong," sergah Baekhyun, cepat.

"Aku meragukannya!" Mata Chanyeol memindai kata-kata itu cermat. "Lihat? Apa maksudnya 'och' atau 'Tae'? "

Memutar matanya ke langit-langit, Baekhyun mengerang keras. "Dia orang Skotlandia dan begitulah cara dia berbicara. Kita biasa menyebutnya, aksen. "

"Kenapa dia tidak bisa berbicara normal," Chanyeol bergumam.

"Bisakah kau hanya membacanya saja?" Tanya Baekhyun, menghela napas di tempat tidur. "teruskanlah membacanya. Aku penasaran apa yang akan terjadi. "

Chanyeol menipiskan bibirnya, tapi tetap melakukan seperti apa yang diminta Baekhyun.

" 'Och, sekarang, kau nae jangan kalah dengan amarahmu,tae" katanya dengan tingkat kejengahan.

'kalah? Aku sudah kalah sejak pagi tadi, wahai pria bodoh. Kau tidak berhak membawaku pergi dari tunangnaku! Aku akan menikah hari ini! ' "

Chanyeol melirik Baekhyun, dan melihatnya tersenyum sendiri dan menggeliat di bawah selimut. "Ada apa dengan ekpresi wajahmu?"

Baekhyun menatap balik Chanyeol dan tersenyum. Dia membuka mulutnya seakan akan meneriakkan kegembiraan yang dia rasakan, tapi dia berhenti. Sedetik kemudian dia memutuskan untuk mengeluarkan pendapatnya juga. "Dia bilang tunangan. Dia menyebut Devlin sebagai tunangannya," kata Baekhyun seakan membuatnya sesak napas.

"Dan mengapa itu penting?" Tanya Chanyeol, mengawasinya dengan hati-hati.

Baekhyun menyadarinya, dan mengangkat bahu sambil memalingkan muka. "Ya, memang begitu. Anyways, terus membaca."

" 'Lachlan menggeliat sedikit, menyadari jika sebentar lagi akan menangis, sesuatu yang tidak bisa dia tahan. 'kau masih bisa melakukannya . Aku yakin kita bisa menemukan gereja di sekitar sini. "

" 'Aku tidak akan menikah denganm ' "

Chanyeol berhenti ketika Baekhyun tiba-tiba tertawa. Menyeka air matanya yang keluar, Baekhyun melambai padanya untuk tetap melanjutkan.

" 'Aku tidak akan menikah! Bahkan, Aku memintamu untuk embawaku kembali, sekarang!' "

Kegiatan membaca Chanyeol itu berhenti sekali lagi ketika Chanyeol melihat Baekhyun yang terus menggerakkan kakinya secara berlebihan di bawah selimut dan menggerakan seluruh tubuhnya seperti gadis remaja yang akan mendapat edisi baru majalah favoritnya.

Chanyeol mendesah, melipat tepi halaman bagian atas dan menutup buku itu. Lalu dia menyilangkan lengannya dan dia mendapat tatapan tidak setuju dari Baekhyun saat dia bersandar di kursinya. "Aku tidak akan membacanya lagi."

"Apa?"

"Kau terus bergerak," kata Chanyeol. "Aku membacakan buku ini untukmu agar kau tidak banyak bergerak. Tapi karena kau terus melakukannya, maka aku tidak akan melanjutkan. "

"Chanyeol," kata Baekhyun dengan napas tidak teratur. " Kau tidak mengerti."

"Buat aku mengerti." Saat Baekhyun hendak membawa dirinya bangkit dari tempat tidur untuk menceramahinya, Chanyeol menggeleng dan memberinya isyarat. "Tetap Berbaring di tempat tidur, Baek."

Baekhyun menggerutu, tapi tetap melakukan seperti yang diperintahkan. "Lihat," dia mulai, "ini hanya sesuatu yang akan kau rasakan ketika membaca hal-hal seperti ini. Kau tidak dapat menahannya, kecuali tertawa tiba-tiba karena merasa malu saat melihat Lachlan mencoba menggoda Megan. Aku ini orang sangat ekspresif saja."

Chanyeol berdecak dan kembali menatap buku itu. "Ini terlihat menggelikan . Kau terhibur hanya karena seorang yang tidak bisa bicara dengan normal menggoda seorang gadis yang dia culik, yang sudah bertunangan dengan seorang pria bernama Devlin." Lalu, ia mengangkat matanya kembali ke Baekhyun. "Kau menertawakannya karena dia mencoba membawa pergi seorang perempuan dari tunangannya?"

"Ya, itu seharusnya terdengar lucu," kata Baekhyun, mengangkat bahu.

"Hal itu tidak lucu."

Baekhyun mengangkat alisnya, tertawa. "Tenang, Giant. Ini hanya sebuah buku. "

Chanyeol mengerucutkan bibirnya dan menghela napas , lalu mengusap rambutnya. "Ya, kau benar." Chanyeol menutup buku itu, dan meletakkannya di meja samping tempat tidur Baekhyun. "Sudah cukup untuk hari ini."

"Kau bahkan belum membaca sampai tiga bab."

"Apa kau mengeluh?" Kata Chanyeol sambil menatapnya .

"Pantatku sakit karenamu dan aku mendapat benturan keras juga karenamu," Baekhyun mengingatkan. "Aku pikir, aku berhak memintamu untuk membaca tiga bab lagi karena kau tidak membiarkanku melakukan apapun. "

"Bukumu membuat kau tidak bisa beristirahat."

"Karena bukuku memang sangat bagus."

Chanyeol berpikir untuk beberapa saat. Lalu dia mendapat ide dan segera bangkit dari kursinya. "Aku akan mengambil salah satu bukuku. Aku akan kembali."

"Kau membaca romance juga?"

"Ya."

.

Setelah membaca halaman demi halaman, Chanyeol selesai sampai kalimat terakhir. " '... Pria itu sangat sederhana dan dia bisa mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya dengan mudah saat itu juga, tapi saat dia melakukannya maka dia akan menemukan orang lain yang akan menderita karena telah tertipu olehnya. ' "

Ketik Chanyeol selesai, Baekhyun-dengan mata setengah tertutup menoleh pada Giant yang sedang duduk sambil mengawasinya, "Bukumu membosankan." Ucapnya.

.

.

Malam itu pada saat Chanyeol hendak keluar dan pergi, Baekhyun tidak menyadarinya untuk sementara waktu. Bahkan, dia tidak tahu sama sekali jika Chanyeol sudah keluar dari kamarnya, sampai Giant itu memasuki kamarnya lagi saat larut malam dengan ransel yang sudah menempel di punggungnya, barulah Baekhyun akhirnya sadar.

"Jadi berapa lama kau akan pergi?" Tanyanya lagi setelah kedua kalinya Chanyeol mencoba untuk menjelaskan semuanya.

"Aku belum tahu. Mungkin empat hari. Lima jika semuanya tidak berjalan secepat yang aku inginkan, tapi mungkin tiga jika semuanya lancar," kata Chanyeol. "Aku pergi sekarang agar sampai disana pada pagi hari, sehingga aku bisa benar-benar mendapatkan satu hari penuh untuk melakukan apa yang butuhkan."

"dan apa itu?"

"Pekerjaan," ucap Chanyeol singkat.

Baekhyun tersenyum tipis dan mengangguk. Ya, tentu saja pekerjaan. Chanyeol tampak seperti dia melakukan pekerjaan yang menuntut meskipun yang dia lakukan hanya menghabiskan waktunya di rumah sepanjang waktu. Baekhyun sangat paham, karena ayahnya juga melakukan hal yang sama.

"Ok," dia menjawab singkat sambil membawa tubuhnya kembali berbaring di atas tempat tidur dan menarik selimutnya. "Kau bisa pergi sekarang. "

"Kau tidak memberikan ciuman sebagai pengantar kepergianku?"

Baekhyun meletakkan tangannya ke bibirnya dan mengecupnya dan melayangkannya pada Chanyeol. "Sana pergi."

"Itu tidak masuk hitungan."

"Ciuman melayang itu sama efektifnya dengan ciuman secara fisik," ucap Baekhyun, memberikan informasi. "Seperti bagaimana sebuah penyakit yang menular melalui udara yang bisa mematikan sama seperti saat kau tertular melalui kontrak fisik. "

Mengabaikan perbandingan yang Baekhyun infokan, Chanyeol membungkuk dan membawa bibirnya menempel pada pria sedang berargumentasi itu. Dia menggunakan waktunya dengan baik untuk menikmati nuansa dan rasa bibir Baekhyun sebelum menariknya kembali. "Saat aku kembali, aku ingin kau pulih sepenuhnya. Jika tidak, maka aku tahu jika kau melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. "

"Ya," kata Baekhyun, mengusir Chanyeol dengan tatapannya.

"Aku serius," Chanyeol memperingatkan, menempatkan tangannya di bawah dagu Baekhyun dan membawa Baekhyun menatap tepat pada matanya. "Bertingkah baiklah."

"Bukankah memang itu yang selalu kulakukan?"

Mengelus pelan pipi kanan Baekhyun, Chanyeol berdecak sebelum menarik tangannya menjauh. "Kau tidak melakukanya" melihat kembali ke pintu, dia berkata," Aku harus pergi sekarang. Jangan tidur larut"

"Aku tidak akan melakukannya."

Chanyeol menatapnya sejenak sebelum membungkuk dan mengambil benda kecil, sebuah senter di jendela sebelah tempat tidur Baekhyun. "Dan tidak membaca dalam gelap," ucapnya sebelum berbalik dan mulai berjalan ke arah pintu. "Aku menemuimu lagi dalam beberapa hari."

"Baiklah," kata Baekhyun, tidak lepas dari fakta jika senter kecil berbentuk beruang yang dia beli telah dibawa pergi darinya. "Bye, Chanyeol."

Berbalik kembali untuk menatap mata laki-laki yang lebih kecil darinya, Chanyeol memberi anggukan. "Bye, Baek."

.

.

08:15-Baekhyun masih tidur.

08:30-Dia bangun.

09:00-Dia kembali tidur.

09:34-Baekhyun sedang sarapan. Sehun mencuci piringnya.

10:23-Dia turun ke ruang bawah tanah dan menemukan permainan papan catur yang diberikan nenekmu dulu. Aku pikir dia akan memainkannya, tapi dia malah mendandangi anjingnya dengan alumunium foil dan megulang adegan dari salah satu film penyihir inggris.

10:30-aku perlu menambahkan alumunium foil pada daftar belanjaan.

11:00-Sehun memperbaiki lubang di dinding kamarmu. Memang terlihat tidak dilakukan secara profesional, masih terlihat ada sesuatu yang tidak beres di kamarmu. Aku turut menyesal, tapi pada saat yang sama, aku tidak benar-benar mengatakannya.

11:27-Baekhyun sedang mandi sekarang. Kai berdiri di luar pintu, jika tiba tiba terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

11:57-Baekhyun keluar dari kamar mandi. Dia sedikit merengut.

01:38-Aku tertidur. Aku tidak tahu apa yang terjadi.

01:55-Baekhyun berteriak sekarang.

02:06-Jangan khawatir. Dia baik-baik saja.

04:13-Baekhyun pergi ke pantai dengan Kai.

04:39-Kai kembali tanpa celana pendeknya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak suka dengan pilihan celana dalam yang dia kenakan.

05:14-Baekhyun berbaring di sofa sekarang.

05:16-Sehun memijat kakinya.

05:17-Dia tiba-tiba meletakan kakinya di antara paha Baekhyun.

05:19-Kai bergabung dengannya dan ikut menyelipkan tangannya kedalam piyama Baekhyun.

05:20-Mereka melepas pakaian mereka.

05:23-Sepertinya terjadi pesta di ruang tamu.

05:27-benar benar terjadi.

05:30-Aku mendengar teriakan Baekhyun. Aku pikir dia mengatakan -"Berhenti membuat Kyungsoo memata-mataiku," Sincerely Baekhyun

Ps: Aku merusak salah satu kaosmu. Aku tidak merasa bersalah.

Chanyeol duduk di kamarnya, menatap layar laptop yang menampakan halaman emailnyanya selama beberapa menit sebelum menutup jendela, mematikan laptop, lalu tidur memikirkan bagaimana dia benar-benar berakhir di rumah orang tuanya, bersiap untuk mempererat hubungan dengan mereka. Dengan kata lain, dia bersedia untuk tetap terikat dengan idiot yang sudah membuatnya gila, Idiot dengan pilihan fashionnya buruk, komentar sinisnya, suara tawa menyebalkannya, dan senyuman bodohnya.

.

.

.

SEE YA