NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)

Indo Trans

DISCLAIMER

I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here

exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html

(spasi dihilangkan, dot diganti titik)

.

WARNING

Yaoi, Boy x Boy, Typo (s), SMUT (Implisit), etc.

Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.

.

Forward

Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.

.

Chapter 29 – Promiscuous (tidak memilih-milih)

.

Salah satu hal yang mengganggu Baekhyun adalah fakta jika dia tidak dapat menemukan tempat di mana Chanyeol menyembunyikan kunci mobil, tidak peduli seberapa keras dia mencoba. Baekhyun bisa saja menghubungkan kabel kabel di mobil itu, jika benar-benar harus melakukannya, tapi dia tidak mau melakukannya karena hal itu membutuhkan banyak tenaga. Lebih mudah menggunakan kunci yang sah alih-alih memotong dan menghubungkan kabel-kabel tersebut.

Dalam pikirannya, semua bentuk kehidupan itu cerdas. Sebagai upaya terakhir, Baekhyun memanggil Nugget dan meminta anjingnya yang gemuk itu untuk menemukan kunci mobil. Nugget berlari menjauh dan Baekhyun tidak bisa menahannya, harapannya menguap saat melihat kaki mungil anjingnya yang gemuk itu menyelinap pergi ke tempat yang tidak diketahui. Tapi Nugget menangkis dugaan Baekhyun dalam lima menit, dia kembali dengan kumci yang menjuntai di mulutnya, mengejutkan Baekhyun. Nugget pun berakhir mendapat biskuit kesukaannya.

Saat Baekhyun melihat ke cermin, dia memiringkan kepalanya. Dia memperbaiki tatanan rambutnya yang sedikit tidak terarah. Sambil meletakkan jemarinya di bagian atas celana jinsnya yang ketat, dia menariknya sedikit lebih tinggi. Membuat jeans itu menempel dengan sempurna dan membuat pahanya terlihat bagus. Lalu dia memperbaiki kerah kemejanya sebelum memperbaiki letak jaket gelapnya.

Ketika Baekhun keluar dari kamarnya, dia melakukannya dengan tenang. Dia berjalan melewati lorong dan sesekali mengarahkan kepalanya ke ruang utama dengan kunci SUV hitam yang dipegang erat-erat di tangannya. Dia mengamati sekeliling dan melihat jika tidak ada seorang pun selain rice cooker yang sedang menyala. Baekhyun melihat Kyungsoo bersama Kai melalui pintu belakang yang terbuat dari kaca, sedangkan Sehun sedang menggantung kakinya, tertidur nyaman di atas hammock.

Tepat saat dia hendak berbalik dan pergi, telepon rumah berdering, menghancurkan keheningan rumah. Baekhyun mendesah dan menghela napas saat ia memutuskan untuk mengangkanya. Dia ragu sesaat, memikirkan bagaimana jika telepon tersebut dari Chanyeol, tapi kemudian dia sadar tidak akan ada masalah walaupun itu darinya, karena Baekhyun bisa langsung menutup telepon itu.

Sebelum dia bisa menyapa orang di line lain, dia sudah dibombardir dengan "hello" dan "Chanyeol?". Menyadari suaranya, Baekhyun mengetuk-ngetukkan jarinya di tepi meja sambil bersandar membelakanginya.

"Hai, Kris," dia menyalip setelah berhenti mendengar suara bising di sisi lain. "Chanyeol tidak di sini."

Ada jeda sejenak, yang menurut Baekhyun mungkin Kris sedang melihat layar teleponnya untuk melihat apakah dia telah menghubungi nomor yang tepat. "Oh begitu. Hei,..."Kris berkata, mengubah nada suaranya.

Jika Kris adalah Chanyeol dan jika dia adalah seorang yang disukai Baekhyun, pasti dia menyeringai mendengar suara seksinya, tapi Baekhyun tidak melakukannya. Dia harus keluar dari rumah sekarang dan Kris sedang menghalanginya untuk melakukan itu.

"Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Baekhyun, berusaha bersikap baik kepada teman dan rekan bisnis Chanyeol.

"Tujuanku menelpon Chanyeol untuk menanyakan beberapa berkas yang dia kirim, tapi karena kau yang mengangkatnya-"

"-Sebenarnya, aku harus pergi," sela Baekhyun dengan cepat, berusaha menghindari percakapan panjang

"Oh. Sayang sekali. Mungkin aku akan mencoba dan mendapatkan layananmu di lain waktu, "gumam Kris. "Anyways, dimana Chanyeol sekarang? "

"Dia sedang mengunjungi orang tuanya."

"Orang tua?" Ulang Kris. "why?"

"Aku tidak tahu," gumam Baekhyun. "Coba kau hubungi saja ponselnya karena aku harus pergi."

"Tunggu, Baek-"

Tanpa banyak penyesalan, Baekhyun mengakhiri teleponnya dan segera mengembalikan telepon itu pada tempatnya. Lalu dia berjalan menuju pintu depan, memasukan kunci mobil dan memutarnya sambil menggumamkan salah satu lagu dari film Burlesque.

.

.

Chanyeol hanya membutuhkan satu hari untuk menyelesaikan pertemuan dengan orang tuanya dan kurang dari tiga jam untuk menjelaskan situasinya. Orang tuanya jelas senang karena Chanyeol mengunjunginya setelah sekian lama bukan untuk membatalkan perjodohannya, namun sebaliknya, dia berkunjung untuk mengungkapkan bagaimana dia mulai menerima semuanya dan benar benar rela menjalankan proses perjodohan tersebut.

Terlalu banyak hal yang mereka bicarakan untuk satu waktu. Chanyeol juga telah menceritakan bagaimana Baekhyun berakhir tinggal bersama di villa miliknya dan bagaimana Baekhyun adalah sesosok yang sangat menyebalkan, manusia yang penuh dengan sarkasme yang pernah dia temui di muka bumi ini. Meski berbagai komentar negatif mengenai kepribadian dan perilaku Baekhyun sudah dia ungkapkan, Chanyeol tidak bisa menahan suaranya agar tidak terdengar terlalu berlebihan

Fakta mengenai orang tua Baekhyun yang tidak menghubungi mereka sejak Baekhyun menghilang - seperti yang mereka semua sepakati - agak aneh, tapi Chanyeol sudah merencanakan untuk mengunjungi orang tua Baekhyun keesokan harinya untuk mendiskusikan segala hal lainnya.

.

.

Ketika Chanyeol bertemu dengan orang tua Baekhyun, dia bisa melihat jika kerupawanan yang dimiliki Baekhyun itu menurun dari ibunya. Saat obrolan semakin mendalam diantara mereka, Chanyeol akhirnya mengetahui alasan mengapa orang tua Baekhyun tidak berusaha untuk menemukan putra mereka.

"Anda mengetahuinya?" Chanyeol mengulangi pertanyaanya dengan tak percaya. Mulutnya ternganga sesaat sebelum melanjutkan dengan pertanyaan lain. "Bagaimana bisa?"

"Kami mengobservasi jaringan pertemanan Baekhyun dam melihat ada seorang pemuda bernama Kai yang jelas berbeda," Ayah Baekhyun menjelaskan. "Kai bukanlah tipe teman yang akan Baekhyun pilih dalam jaringannya . "

Chanyeol mengerutkan kening. "Dan mengapa anda menyimpulkan seperti itu?"

"Kelas sosial," kata Tuan Byun. "Teman-teman Baekhyun tidak bekerja di Bidang yang Kai lakukan. "

Chanyeol jelas mengetahui kemana arah pembicaraan Ayah Baekhyun, tapi dia tidak dapat menahan segala pertanyaan yang ada dalam kepala. "Jadi tipe teman seperti apa yang seharusnya Baekhyun miliki? "

"Tipe yang produktif." Jelas Tuan Byun sambil bersandar di kursi dengan istrinya yang duduk dengan tenang di sampingnya. "Tipe teman yang pergi ke sekolah yang sama dengannya dan memiliki minat yang sama dalam hal robotika. Semuanya terlihat menjanjikan. Karena itulah saat latar belakang pemuda Kai itu melintas dihadapan kami, dia terlihat menonjol. Dia baru setahun menyelesaikan kuliah di jurusan bisnis sebelum membanting setir untuk bekerja di perusahaan katering. "

"Jadi Anda mengikutinya," kata Chanyeol sebagai sebuah pernyataan. "Anda mengikutinya karena dia terlihat berbeda."

Tuan Byun mengangguk, mengakui perbuatanya. "Ya, kami bahkan mengikutinya sampai ke stasiun saat kau menjemputnya. Dari situ, saya menyuruh sebuah mobil mengikuti kalian dengan jarak yang lumayan. Walaupun dengan satu kali putaran, tidak sulit mengikutimu karena jarak antara mobil tidak begitu jauh. Ditambah rumahmu yang sangat sayang untuk dilewatkan. Saat suruhanku melihat Baekhyun keluar dari rumahmu, dia kembali dan melaporkan semuanya padaku. Lalu, di saat itulah kami memutuskan berhenti mencari Baekhyun. "

"Anda tidak penasaran?" Tanya Chanyeol. "penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Baekhyun di sana?"

"Awalnya ya" jawab Tuan. Byun. "Tapi karena kalian berdua sudah dijodohkan satu sama lain, kami tidak ingin ikut campur "

Chanyeol terdiam beberapa saat sambil mengamati wajah calon mertuanya. "Dia tidak tahu mengenai perjodohan ini," katanya datar. "Dia tidak mengenali saya sama sekali. Saya tidak tahu bagamana bisa terjadi? Anak anda sungguh jenius, saya yakin dia akan langsung mengingat wajah saya dalam sekejap setelah melihat berkas saya, tapi dia tidak. "

Untuk pertama kalinya, ibu Baekhyun tersenyum kecil sambil membuang muka. Aksi itu hanya Chanyeol yang menangkapnya. Suaminya terlalu fokus kepada Chanyeol bahkan untuk menyadarinya. "Anak itu langsung melemparkan berkas mengenaimu dalam kobaran api," Ungkap Tuan Byun mengejek "Dia berdalih, kamarnya terlalu dingin dan hanya berkas mengenaimu yang tersisa untuk dibakar agar kamarnya hangat"

Chanyeol memutar matanya saat mendengarnya. Ya, tipikal Baekhyun. "Baekhyun mengetahui marga keluarga saya. Dia mengetahui pekerjaan saya. Namun, dia masih saja belum bisa menyatukan keping keping informasi itu. "

"Namamu terlalu umum dan siapa saja bisa membuat robot, walaupun tidak sebagus yang ahli."

Chanyeol menggigit bibirnya, melawan keinginan untuk menghina pria di depannya. Tidak heran mengapa keluarganya membenci keluarga Byun selama beberapa generasi terakhir -Keluarga Byuns Jelas sombong dan sangat sombong tentang apa yang telah mereka hasilkan.

"Saya mengerti," lanjut Chanyeol menggerutu, memberikan senyuman sekenanya. "Kembali ke awal pembicaraan, saya datang kesini untuk membicarakan perjanjiannya. "

"Apa kau ingin membatalkannya?"

"Tidak," sahut Chanyeol cepat. "Saya di sini untuk memberitahu kalian jika saya bersedia melanjutkan kontraknya"

"Senang mengetahui jika pada akhirnya kau memutuskan untuk menikahi Baekhyun" Ungkap Tuan Byun.

Mata Chanyeol mengalihkan tatapanya dari ibu Baekhyun ke ayahnya. Baekhyun mungkin mendapat gen rupawan dari ibunya, tapi jelas sekali jika dia juga mendapat gen menurun dari Ayahnya. Tidak menjadi misteri dari mana kemampuan lidah tajam yang dimilikinya.

"Baiklah, pertemuan ini kita sudahi samapai di sini," kata Tuan Byun sambil berdiri. "Saya harus kembali bekerja. Perjanjian tetap dilanjutkan, tapi kau yang akan menyampaikan kabar itu pada Baekhyun. Dia pasti akan marah saat mengetahui jika selama ini kau sudah membohonginya, jadi semoga beruntung dengan itu. Baekhyun anak yang cerdas dan penurut, tapi ada kalanya dia jadi pemarah, bahkan para pekerja di rumah pun takut padanya."

Ayah Baekhyun melangkah maju dan menjabat tangan Chanyeol. Chanyeol membungkuk kepada wanita yang segera menjadi ibu mertuanya dan berjalan bersama mereka ke luar ruangan. Saat ayah Baekhyun meninggalkan mereka sejenak untuk ke kamar mandi, Chanyeol sedikit terkejut karena ibu Baekhyun mendekatinya dan berbicara untuk pertama kalinya sejak mereka tiba.

"Dengar, Park Chanyeol, jangan pernah sekalipun berani untuk menyakiti anakku, apa kau mengerti?" Katanya, menusuk dada Chanyeol dengan jarinya yang lembut. "Jangan berani memaksanya, karena yang diinginkan Baekhyun adalah seorang yang peduli padanya dan apa yang dia inginkan. "

"Maksud Anda, dia menginginkan cinta?" ucap Chanyeol dengan sedikit nada ejekan dengan acuh tak acuh.

Sambil mengerutkan kening, ibu Baekhyun menepuk lengannya pelan. Dia tidak menghiraukan tanggapan Chanyeol "Cinta, pelukan, perhatian, aku tidak peduli. Dia pantas mendapatkan lebih dari itu. "Dia melipat tangannya didada, dan menghela napas panjang. "Kau tahu, dari semua yang dia inginkan saat masih kecil adalah seekor anjing. Ayahnya adalah seorang idiot yang membuang anjing yang saya dapatkan untuk ulang tahunnya. "

Setelah beberapa detik, Chanyeol memasukkan tangannya ke saku celananya. "Kami punya anjing."

"Benarkah?" Ibu Baekhyun berkata, mengangkat alisnya. "Saya yakin Baekhyun menyukai dan langsung jatuh cinta pada anjing itu. "

Chanyeol memutar matanya, bukan hanya menyukai dan jatuh cinta pada anjing itu, bahkan Baekhyunlah yang membawa anjing itu ke dalam rumah dan membuat Chanyeol ingin memotong lehernya.

"Kami baru memilikinya setelah Baekhyun datang ke rumah," gumam Chanyeol.

Ibu Byun terdiam sejenak. "Apa dia mengatakan padamu jika dia menginginkan seekor anjing?"

Chanyeol hanya mengangkat bahu. "Saya tidak ingat," katanya sambil berpura-pura mengingat hari-hari depresi Baekhyun karena kehilangan Nugget.

Tapi, ibu Baekhyun tidak menghiraukannya. Dia tertawa, sambil menyenggolnya dengan siku, "Jika kau memberinya seekor anjing, saya pikir kau tidak seburuk keluarga besarmu". Setelah beberapa saat, dia memiringkan kepalanya ke arah Chanyeol. "Bisakah kau menjawab satu pertanyaan lagi? Saya berhak mengetahuinya karena saya ibu Baekhyun"

Chanyeol melihat sekelilingku. "Ya, silahkan."

"Apa kau sudah menyentuhnya?" dia bertanya terus terang.

Chanyeol hampir tersedak ludahnya sendiri. Memberinya tatapan terkejut dan bingung, dia mundur selangkah. "Saya-"

"- Tidak apa-apa jika kau sudah melakukannya," katanya cepat. "Baekhyun memang bukan pemilih-milih." Lalu Dia membungkuk dan berbisik, "mungkin hal itu menurun dariku."

Chanyeol benar-benar tidak tahu bagimana menanggapi calon mertuanya. Di dalam ruangan sebelumnya, dia tampak tenang dan dewasa, tapi sekarang perilaku aslinya mulai keluar yang mengingatkannya pada Baekhyun, seperti sifatnya yang kurang ajar.

"Tapi saya selalu mengatakan padanya," dia melanjutkan, "jika kau tidak ingi melakukannya maka jangan. Jadilah seorang kekasih, bukan pelacur. "

Sambil menatap wanita yang sombong di sampingnya, Chanyeol menipiskan bibirnya. Orang tua Baekhyun jelas berpengaruh kuat dalam kehidupannya. "Baiklah," kata Chanyeol, tidak tahu harus berkata apa lagi. Setelah beberapa detik berlalu sebelum dia mengaku, "Pada awalnya dia memang tidak ingin tidur dengan saya, dia bilang hubungan kami hanya sebatas maid dan atasan. "

"Nah, jelas itu candaanya saja. Kau lebih dari itu."

"Tepat sekali. "

.

.

Saat Baekhyun masuk klub, hanya ada satu pelindung di bar. Tidak ada penari yang sedang beraksi walaupun lampu dinyalakan seremang mungkin dengan warna merah muda dan merah yang redup yang memantul di langit-langit dan dinding klub, tidak ada hal lain yang bisa dilihat. Baekhyun berjalan ke bar dengan hati-hati duduk dengan menyilangkan kedua kakinya sambil meletakkan telapak tangan di paha.

Bartender itu menatapnya-sekilas, bahkan-sebelum menyelesaikan apa yang sedang dilakukannya dan mendekat ke arah Baekhyun.

"Apa yang bisa saya berikan?"

Baekhyun berkedip. Dia mengernyit bibirnya dan memikirkannya. Dia hendak memesan sesuatu yang beralkohol, tapi dia ingat tidak bersama sopir. Chanyeol mungkin bisa mengabaikan goresan yang ia buat di mobil berminggu-minggu dan berminggu-minggu yang lalu, tapi dia cukup yakin Chanyeol akan membunuhnya jika dia mengalami tabrakan mobil saat mengemudi dalam keadaan mabuk.

"Bisakah saya mendapatkan soda?"

Sesaat bartender itu hanya menatapnya. Lalu dia mengangguk dan mengambil minuman pesanan Baekhyun. "Jenis apa?"

"Cherry coke."

Setelah beberapa menit, minuman pesananya telah tersedia. Dia menyesapnya dan agak gelisah di tempat duduknya, menarik perhatian pengunjung lain di bar. Tanpa ragu, Baekhyun menatapnya. "Umur saya lebih dari dua puluh satu tahun."

"kau tidak terlihat seperti itu."

Baekhyun mengerutkan kening. "Yeah, dan kau terlihat seperti pedofil."

Pria itu memutar matanya dan melanjutkan apa yang dia lakukan sebelumnya. Mata Baekhyun memperhatikan sekitar dan tidak bisa menahan diri untuk menanyakan kemana para wanita. Baekhyun mengetuk meja dan menarik perhatian bartender, dia bertanya, "Di mana para wanita?"

"Kau datang agak awal. Para pelanggang akan berdatangan sebelum jam tujuh," Bartender itu menjawab. "Saat itulah mereka mulai keluar."

Baekhyun menatap jam biru yang terpasang di dinding. Waktu baru menunjukkan pukul lima. Dia mengangkat bahunya dan meraih coke-nya. "aku kira akan kembali lagi nanti."

Bangkit dari tempat duduknya, Baekhyun mengambil kaleng minumanya dan melangkah ke pintu seperti akan menyelesaikan urusan lain yang sebenarnya tidak dia miliki. Ketika dia mendengar sebuah pintu terbanting, dia berhenti dan menoleh, melihat ke lorong dengan beberapa pintu di samping, tapi pada akhirnya ada yang menarik perhatiannya.

Sambil menyesap kalengnya lagi, Baekhyun melirik ke sekitar sebelum berjalan ke pintu itu seperti layaknya dia memiliki kepentingan di ruang itu-yang sebenarnya tidak ada. Ketika dia memegang gagang pintu tersebut, dia melihat ke belakang lagi untuk memeriksa apa ada orang yang melihatnya. Saat menyadari tak ada seorangpun yang mengawaasinya, dia menarik pintu dan terkejut melihat betapa mudahnya mengakses pintu yang terdapat tulisan "hanya karyawan" pada pintu.

Sambil mencemooh kekurangan klub tersebut, Baekhyun melangkah ke ruang belakang dengan sekaleng soda dingin.

Biasanya, jika seseorang berjalan menerobos ke ruang belakang, para wanita yang bekerja akan segera memanggil keamanan. Mereka pun akan melaporkan jika ada seorang peyusup, tapi saat Baekhyun masuk dengan sekaleng soda yang dingin dan ekspresi wajah polosnya, mereka bahkan memintah Baekhyun untuk tetap tinggal di ruang itu.

Mereka menyuruh Baekhyun untuk duduk di kursi yang bisa memutar dan mengjaknya berbincang beberapa hal. Dimulai dari kesukaan Baehyun pada Cheesecake sampai pengalaman saat SMA dan kuliahnya dulu. Mereka berbicara selama beberapa waktu, tapi para wanita itu menghentikannya saat para pelanggang mulai datang dan mengharuskan mereka untuk bersiap-siap.

Saat Baekhyun melihat mereka, matanya mengikuti kedua tangan gadis itu menyapukan brush dan lipstik ke wajah mereka. Diluar rasa penasarannya, Baekhyun mengungkapkan. "kalian tahu, aku tidak pernah memakai make up lagi sejak SMA. "

Salah satu wanita itu terkikik. "saat kau melakukan cross dressing?"

Baekhyun mengangguk. "Ya."

"Kau bahkan tidak memakai eyeliner? Padahal eyeliner akan terlihat indah di matamu. "

"Dulu aku sering memakainya" Baekhyun mengaku.

Beberapa menit berlalu, dan seseorang bertanya padanya"apa kau mau menggunakannya sekarang?"

Tanpa ragu, Baekhyun menjawab ya. Satu hal mengarah ke hal lain dan akhirnya semua wanita itu telah selesai menambahkan sesuatu pada wajahnnya, mereka telah menyemprotkan parfum ke tubuhnya, menambahkan eyeliner ke matanya, dan mengusap lipstik merah di bibirnya.

Saat Baekhyun melihat dirinya di cermin, dia tersenyum dan tertawa. "Apa aku terlihat cantik?" tanyanya dengan suara nasal. Dan untuk menjawab pertanyaan itu, semua wanita dalam ruangan menganggukan kepala.

.

.

Harapan Chanyeol saat dia kembali ke rumah adalah Baekhyun akan menyambutnya dengan dua tangan yang terbuka lebar – atau kakinya. Chanyeol menyukai keduanya. Akan tetapi, tak ada sambutan sedikitpun untuknya, bahkan tanpa salam hangat. Saat memasuki rumah, dia meletakkan tasnya di lantai dan melangkah kakinya ke ruang utama. Dia melihat Kyungsoo dan Sehun menonton televisi dan Kai duduk di meja makan membaca artikel di laptop Kyungsoo.

Kyungsoo mendengar pintu tertutup dan menoleh ke belakang. "Oh, hei. Kau sudah pulang."

"Ya, aku pulang," gumam Chanyeol sambil melepaskan dasi. Melihat sekeliling lagi, dia bertanya, "Baekhyun?"

Pertanyaan ini tidak ada yang segera menjawab. Kai sepertinya tidak tertarik, Sehun sepertinya tidak peduli, dan Kyungsoolah satu-satunya yang sepertinya menghiraukan Chanyeol. "Dia tidak di sini."

"Maksudmu?"

"Dia sedang keluar."

Mata Chanyeol melesat pada jam dinding. "Kapan?"'

"Aku tidak tahu persis. Mungkin jam lima" jawab Kyungsoo sambil mengubah volume di televisi.

Jika Baekhyun pergi sekitar pukul lima, berarti dia sudah pergi selama dua jam. Chanyeol menggertakan rahangnya dan mengusap rambutnya. Tanpa mengatakan apa pun, dia langsung menuju ruang kerjanya. Dia segera melihat kotak tempat menyimpan kunci terbuka dan melihat ada bekas gigitan di tepinya. Chanyeol yakin jika segila-gilanya Baekhyun, dia tidak akan menggigit tepian kotak itu, jadi satu-satunya yang masuk akal, pelakunya adalah Nugget.

"Di mana anjingnya?"

Nugget mendengar suara Chanyeol yang menggelegar dan berniat lari mendekatinya, tapi dia merasakan aura gelap di sekitar pria jangkung itu. Sebagai gantinya, Nugget berlari menjauhi Chanyeol dan menuju Sehun, dia berhenti sejenak, sebelum berganti arah, dan pindah ke Kyungso.

Kyungsoo mengangkat anak anjing itu dan menatap Chanyeol. "kenapa kau mencarinya?" Kyungsoo melihat kotak yang sudah terkoyak di tangan Chanyeol, lalu tertawa. "Apa kau yang melakukan itu, Nugget? "

Nugget menguburkan kepalanya di lengan Kyungsoo dan meringkukan ekornya, menolak menjawab secara verbal maupun isyarat. Chanyeol tidak termakan oleh tindakannya. Dia menaruh kotak di meja, dan berjalan mendekat dan mengambil anak anjing itu dari Kyungsoo.

"Daddy mu pergi kemana, anjing gemuk?" tanya Chanyeol menuntut, menggoyangkan Nugget.

Kyungsoo mengerutkan dahi melihat tindakan Chanyeol dan mengambil alih Nugget kembali. "Berhentilah menjadi idiot, Chanyeol. Baekhyun akan kembali, lover boy." Chanyeol hanya memberinya ekspresi cemberut, lalu Kyungsoo memutar matanya "Atau mungkin dia sudah bosan dengan perilaku seksmu dan tidak akan pernah kembali."

.

.

Pada saat Baekhyun mengendarai mobilnya untuk kembali, jam digital di mobil sudah menunjukan pukul setengah 11 malam. Sesekali dia bersenandng, lalu dia mengulurkan tangan dan meraihsatu botol dari beberapa botol susu yang dia beli di kota sebagai alasan mengapa dia pergi begitu lama. Dia tahu alasan yang dia miliki sangat tidak masuk akal, yang membutuhkan lima atau enam jam hanya untuk membeli susu, tapi sebenarnya dia tidak peduli.

Baekhyun mengunci mobil dan memutuskan akan membawanya kembali ke garasi keesokan harinya. Saat dia berjalan ke gerbang depan, dia mengintip terlebih dulu melalui jendela dan melihat gerakan di dalam. Setelah membuka rantai yang tergantung di gerbang dengan kunci yang sesuai, dia melangkah ke rumah, menyiapkan dirinya untuk dibombardir dengan berbagai pertanyaan dari ketiga rekan kerjanya.

Akan tetapi, suasana tenanglah yang dia dapatkan saat memasuki rumah. Kyungsoo menyambutnya dari ruang tamu dan Sehun melambai padanya sebelum kembali ke projek yang sedang dia kerjakan. Segalanya tampak baik-baik saja sampai dia berbelok di tikungan dan melihat Chanyeol duduk di dapur.

Chanyeol sedang mengkaji ulang berkas berkas dan aplikasi –aplikasi yang ada di depannya. Dia mendongak menatap Baekhyun dengan wajah tidak tertarik. Saat Baekhyun mengeluarkan senyuman tidak tahu malunya, Chanyeol tetap diam, tidak tertarik.

"Kapan kau kembali?" Tanya Baekhyun riang sambil meletakkan beberapa botol susu di atas meja dapur.

"Beberapa jam yang lalu."Jawab Chanyeol tegas, dengan sedikit nada yang ditekan.

Baekhyun mengangguk. Saat ia mulai mengeluarkan botol-botol itu dari kantong cokelat, dia bertanya, "Ada apa dengan wajah cemberutmu?"

Chanyeol menghela napas, memberi Baekhyun tatapan tajam. "Apa kau sungguh perlu menanyakan itu?"

Sambil berjalan menuju tempat sampah, Baekhyun melemparkan kantongnya. "Kau tau, aku tidak bisa membaca fikiranmu sampai kau memberi tahuku langsung.. "

Chanyeol mengamati penampilan Baekhyun dengan matanya. Selama yang Chanyeol tahu, tidak sekali pun dia melihat Baekhyun berdandan dengan pakaian rapi-atau berpakaian sesuai gaya. Dia menyipitkan matanya. "Kau berdandan."

"Aku tahu," kata Baekhyun sambil tersenyum.

"Jeansmu terlalu ketat."

Baekhyun melihat ke bawah, memiringkan kepalanya. "Kurasa tidak. Jeans ini membuat kakiku terlihat bagus. Aku rasa tidak masalah memakainya. "

Chanyeol menghela napas panjang, lalu meletakkan berkas-berkas dari tangan ke meja depannya di dalam folder dan menutupnya. "Aku terlalu lelah untuk menginterogasimu seperti yang kuinginkan saat ini, Baek, "katanya, terdengar sedikit frustrasi. "Kau terlihat cantik- bahkan seksi. Itu masalahku denganmu sekarang. Kau juga membawa mobil tanpa ijinku, dan itu masalah lain. Tapi ini sudah lewat jam sepuluh dan aku lelah setelah berurusan dengan Orang tuaku mengenai bebereapa hal jadi aku akan memikirkan apa yang akan aku lakukan padamu besok. "

Sambil berdiri, Chanyeol memberi isyarat agar Baekhyun mendekatinya. "Untuk saat ini, paling tidak beri aku ciuman. Mungkin aku akan meringankanmu hukumanmu besok saat aku tidak terlalu lelah. "

"Whatever," kata Baekhyun sambil tersenyum sambil mendekati Chanyeol. Menarik raksasa itu menunduk, dia menempelkan bibirnya, menyesuaikan keduanya dengan sempurna. Dia sesekali membawa lidahnya melawan milik Chanyeol, tapi langsung mengakhiri ciuman itu sebelum berlanjut ke hal yang lebih intim dan tertangkap oleh ketiga orang lainnya "Kau senang, sekarang?"

"Yea-" Chanyeol berhenti sejenak saat matanya terfokus pada sesuatu. Dia memegang wajah Baekhyun dengan tangannya, dia menyipitkan matanya saat melihat. "Baek, bibirmu ..."

"Hmm?" Baekhyun menatapnya bingung sebelum menyeringai. "Ya, bibirku menakjubkan. "

"Tidak," kata Chanyeol singkat. "Ini ..." Dia berhenti lagi. Lalu Chanyeol menatap Baekhyun sebelum mencondongkan tubuhnya dan mengendus. Apa yang dia lihat membuatnya membeku kaku.

Baekhyun bingung, mencoba menjauh sedikit. "Apa yang kau lakukan, Chanyeol?" Tanyanya tertawa gugup.

Chanyeol menarik pergelangan tangan Baekhyun dan mulai membawa Baekhyun langsung ke arah kamar tidurnya. Begitu masuk, dia menutup pintu dan menyudutkan Baekhyun, memaksa punggungnya melawan tembok. Chanyeol membuat lelaki yang lebih kecil itu menatapnya dengan paksa, memberinya raut kecewa.

"Bibirmu merah dan baunya seperti parfum wanita. Kau habis pergi dari mana? "

Baekhyun menggigit bibirnya sejenak dan mencoba mengalihkan matanya dari Chanyeol, tapi setiap dia mencoba untuk melakukannya, Chanyeol akan menarik perhatiannya kembali. Merasa tidak ada jalan lain, Baekhyun menghela napas dan menyilangkan lengannya.

"Apa kau pikir aku keluar untuk menemui pelacur?"

Chanyeol menggeram. "Kau melakukannya?"

"Tidak. Aku tidak melakukannya. "

"Jadi, kau dari mana saja selama lima jam?" tanya Chanyeol menuntut.

Baekhyun terdiam sejenak dan menggeliat di bawah tatapan tajam Chanyeol. Kemudian dia memerosotkan bahunya dan menatap Chanyeol dengan tatapan tidak bersalahnya. "Aku habis melakukan cross dressing ... "

.

.

.

See you on next chapter