NOT INTENDED by EXObubz (livejournal)

Indo Trans

DISCLAIMER

I don't own anything, except the translation. Story belongs to EXObubz and the original story is here

exobubz dot livejournal dot com / 2329 dot html

(spasi dihilangkan, dot diganti titik)

.

WARNING

Yaoi, Boy x Boy, Typo (s), etc.

Cast : Chanyeol, Baekhyun and others.

.

Forward

Demi menyelesaikan perseteruan tiga generasi sebelumnya, Baekhyun diharuskan untuk menikahi seseorang dari keluarga musuhnya. Baekhyun menentangnya secara diam diam, memutuskan untuk kabur dari rumah, tepatnya dua hari sebelum pertemuan resmi dengan calom suami dan keluarganya. Baekhyun kabur hanya dengan berbekalkan dompet dengan beberapa uang dan kartu tanda pengenal di dalamnya. Baekhyun berpikir jika dia berkeliaran di jalanan maka kesempatan untuk ditemukan lebih besar – dengan koneksi dari temannya- Baekhyun berakhir menjadi maid di salah satu villa megah pinggiran pantai yang dimiliki oleh anak satu-satunya keluarga Park yang keji, Park Chanyeol.

.

Chapter 31 – Make believe& Cases

.

Chanyeol bangun dan melihat dirinya berbaring disamping tubuh seseorang. Dengan kepala yang masih pening, dia tidak perlu melihat untuk mengetahui siapa yang sedang berbaring disampingnya dan apa yang telah terjadi pada mereka malam sebelumnya. Dia berpikir tidak ada hal yang salah dan merasakan dunianya kembali seimbang dalam beberapa hal, jadi baginya tidak ada keraguan lagi karena Baekhyun lah yang sedang berbaring disampingnya sambil meyilangkan kakinya dengan milik Chanyeol dan tangannya yang melingkari dada Chanyeol.

Chanyeol berpikir untuk kembali berbaring dan melanjutkan tidurnya untuk beberapa saat, tapi dia terkejut ketika pandanganya terarah pada jam yang menunjukan sudah siang —dan dia berpikir jika aktivitas pagi merekalah yang menyebabkan mereka kesiangan.

Chanyeol bergerak membawa Baekhyun kembali berbaring pada punggungnya sendiri dengan perlahan. Lalu dia memandang Baekhyun yang sedang tertidur telanjang di kasurnya sebentar sebelum menginjakan kaki lelahnya ke lantai dan membawanya berjalan menuju kamar mandi.

Saat Chanyeol keluar dari kamar mandi, dia melihat Baekhyun sudah menendang selimut jatuh ke lantai, dan pelakunya terduduk degan menyilangkan kakinya sambil mengusap matanya. Chanyeol melihatnya mengeluarkan sedikit erangan dengan mengusak-usak rambut bangun tidurnya.

"Pagi…" gumam Baekhyun sambil memandang Bakehyun dengan mata lelahnya.

"Pagi," balas Chanyeol. Dia melangkah ke lemari, lalu membelakangi Baekhyun sesaat sebelum kembali menghadap Baekhyun. "Ini sudah siang, kau sebaiknya bangun sekarang".

Baekhyun mengangguk lelah. "Baiklah…" jawabnya. Lalu dia bangkit dari tempat tidur dengan lamban dengan sedikit limbung saat mencoba menyeimbangkan kakinya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol saat melihat Baekhyun sedikit kesusahan untuk menyeimbagkan tubuhnya.

"Yeah, aku bisa mengatasinya," gumam Baekhyun, sambil melambaikan tangannya pada Chanyeol. "Aku mau mandi, terasa lengket."

Chanyeol menarik kemeja dalam lemari dan menaruhnnya di atas tempat tidur. Dia menunduk, mengambil selimut dan melelparnya pada Baekhyun. "Jangan berjalan dalam rumah dengan telanjang."

Baekhyun menghela napas pelan. "aku tidak melakukannya dan aku hanya menyebrangi lorong untuk menuju ke kamarku."

"Tetap saja" ucap Chanyeol sambil meliliti selimut itu pada tubuh Baekhyun, dia memberikan ciuman singkat, membuat Baekhyun megerutkan dahinya.

"Aku menunggumu di dapur." Lanjut Chanyeol sambil memberikan tepakan singkat pada pantat Baekhyun. "Pergilah" kata Chanyeol tersenyum.

Baekhyun memandangnya sekilas sebelum berbalik dan berjalan dengan susah payah menuju pintu. Akan tetapi dia berhenti dan menolehkan kepalanya ke belakang. "Hey, aku ingin meminta sesuatu padamu. Kapan aku mendapat uangku?"

Chanyeol berkedip. "Uang apa? Untuk apa?" tanyanya. "Uang untuk tidur bersamaku?"

Baekhyun terdiam sejenak, menggelengkan kepalanya. "Bukan itu. Maksudku uang gajiku, karena sudah membersihkan rumahmu — aku ini masih maid mu."

Chanyeol menghela napas,menipiskan bibirnya. "Status maid mu akan segera berubah," gumamnya pelan.

"Apa—"

"Kenapa kau menginginkannya?" ucap Chanyeol, segera mengalihkan topik. "kau sedang membuthkan sesuatu?"

"Aku ingin membeli produk keluaran terbaru," jawab Baekhyun semangat.

Chanyeol menatap Baekhyun untuk sejenak sambil menghela napas dan memutar bola matanya. Chanyeol melambaikan tangan dan menggerakan kepala tanda mengusir. "Kau akan mendapatkannya hari ini." lanjut Chnayeol. sebelum Baekhyun membuka mulut untuk menanggapi, Chanyeol memotongnya. "Kita akan membicarakannya lagi nanti. Mandilah dulu. Aku tunggu di dapur. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan juga padamu.."

"Sungguh?" sergah Baekhyun dengan mata yang berbinar-binar. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, juga! Aku akan mengambil daftarnya dulu—tunggu sebentar. Oh yeah. Sepertinya dibicarakan nanti saja."

Saat Baekhyun pergi — yang hampir tersandung karena selimut lebar yang diberikan Chanyeol untuk menutupi tubuhnya—Chanyeol penasaran dengan apa yang akan disampaikan Baekhyun. Dia percaya, pasti sesatu yang bodoh dan tidak masuk akal-lah yang akan disampaikan Baekhyun.

.

.

Chanyeol tiba di dapur, dia melihat Kyungsoo duduk di meja dapur dengan Kai di depan laptopnya. "Kau bisa makan sisa sarapan atau bisa langsung ke menu makan siang. Jika kau menginginkan susu ada di kulkas." Ucap Kyungsoo, sambil mengarahkan kepalanya ke arah meja makan tanpa melihat Chanyeol.

"Thanks, Kyungsoo," kata Chanyeol sambil menguap dan mengusak rambut basahnya. Dia sedikit melirik layar laptop Kyungsoo saat melewati mereka. "Apa yang kalian berdua lihat?"

"Resep makanan," Kai merespon.

"uh, kenapa?"

"Karena," sergah Kyungsoo, sambil memutar kursinya menghadap Chanyeol dan menghela napas panjang, "sepertinya masakanku membosankan."

Mata Chanyeol langsung tertuju pada Kai. Kai mengangkat tanganya di depan Chanyeol,sebagai bentuk pertahannya. "Aku tidak mengatakan masakannya membosankan. Aku hanya mengusulkan untuk sesekali mencoba resep baru."

Kyungsoo mendengus, memutar kembali kursinya. "Intinya tetap saja, sama"

Kai memberi tatapan tajam pada belakang kepala Kyungsoo, sebelum bergabung kembali dengan seseorang yang sedang kesal tersebut untuk mencari resep masakan baru. Chanyeol membiarkan keduanya melanjutkan apa yang sebelumnya mereka lakukan dan duduk untuk mulai memakan makanannya. Beberapa menit berlalu diiringi dengan perdebatan keduanya mengenai bahan-bahan masakan pada resep baru dan proses pembuatannya, sampai Chanyeol diajak bergabung dalam sebuah percakapan.

"Jadi, apa yang akan terjadi pada Baekhyun?" tanya Kyungsoo sambil mengscroll halaman yang sedang dibacanya. Di sisi lain Kai sebenarnya masih mebaca deskripsi bahan bahan yang dibutuhkan, pada akhirnya dia mengambil alih mouse laptop itu dari tangan Kyungsoo.

"Aku akan mengajaknya berkencan" jawab Chanyeol singkat. Beberapa detik kemudian, dia menambahkan, "Ck, dia meminta uang gajinya padaku pagi tadi."

Kyungsoo memberi tatapan tajam pada Kai sebelum mengambil alih laptopnya lagi. "Apa masalahnya?" balas Kyungoo.

"Sekarang, aku tidak bisa menjadikan Baekhyun maid ku, jika hubunganku dengannya seperti ini" jawab Chanyeol, dia hanyut dalam pikirannya sambil menyingkirkan beberapa menu makanan yang tidak disukai ke pinggiran piring.

"dan, hubungan yang kau miliki dengannya tepatnya seperti apa?" tanya Kyungsoo, dengan maksud menekan Chanyeol.

"Sebuah hubungan yang romantis", ungkap Chanyeol. Dia terdiam beberapa saat sambil menegakkan posisinya. "Anyways, Aku sudah mendapatkan berkas dari orang tuaku. Aku akan melihat beberapa kandidat yang akan menjadi maid baru ku."

Tiba-tiba Kai mendengarnya dan segera berbalik. "Kau akan menggantinya?"

"Yeah," balas Chanyeol pelan. "Tapi, Baekhyun tetap tinggal di sini."

"Jadi, kau berencana menjadikan Baekhyun sebagai nyonya besar?" sergah Kyungsoo.

"Dia bukan nyonya besar," ucap Chanyeol ketus. "Dia tunanganku—"

"Chanyeol," potong Kyungsoo, menghela napas. "Baekhyun tidak mengetahuinya. Dia pasti akan berpikiran yang lain."

"Semua akan baik baik saja," kata Chanyeol, mencoba menenangkan Kyungsoo. "dia akan mengerti. Jika aku terus menjadikanya maid-ku, maka seolah-olah aku membayarnya untuk sebuah sex."

Kyungsoo mengerucutkan bibirnya dan kembali membawa pandangannya pada layar laptop. "Baiklah. Semoga hubunganmu dengannya berjalan dengan baik."

.

.

Baekhyun memasuki dapur dengan sedikit tidak biasa. Hal itu terjadi bukan karena Baekhyun tidak memakai pakaian yang tidak pas atau yang menurutnya 'nyaman'. Dia berpakaian rapi sama seperti malam sebelumnya, dan Chanyeol bisa melihat jika gaya rambut berantakan Baekhyun didapatkan dari blow dryer yang sengaja dia gunakan. Di sisi lain Chanyeol merasa sedikit tidak senang, karena tidak mengetahui penyebab kenapa Baekhyun berpakaian seperti itu.

"Pagi semua!" sapa Baekhyun sambil membawa langkahnya menuju meja makan. Dia tidak duduk dengan Canyeol seperti dugaan, melainkan mengambil piring dan mengisinya dengan makanan sambil berdiri. "Nugget, dimana?" tanyanya sambil menyuapkan makanannya.

Chanyeol, yang masih terpana dengan penampilan Baekhyun, akhirnya tersadar."Baekhyun, duduklah."

Baekhyun tidak menghiraukannya dan melanjutkan perkataannya. "Aku belum melihatnya sejak semalam." Baekhyun dengan malas duduk disamping giant itu saat merasa Chanyeol menarik jeansnya. "Oh, aku membawa daftarnya di saku belakangku. Aku tidak bisa mengambilnya karena tanganku penuh," ucapnya sambil mengangkat bahunya.

"Mungkin jika kau meletakan pirinya terebih dulu di meja, layaknya orang normal pada umumnya," Chanyeol melanjutnya, "kau bisa menggunakan tanganmu untuk mmengambilnya."

Baekhyun berhenti sejenak, lalu menaruh piringnya "Okay—sebentar" ucapnya sambil membawa tanganya memasuki saku belakang jeansnya.

Chanyeol mndengus melihat Baekhyun yang kesusahan memasuki saku jeansnya "Akan lebih mudah jika kau menggunakan jeans yang lebih longgar atu kau bisa meengcilkan ukuran pantatmu."

Baekhyun langsung memandang Chanyeol setelah berhasil menggambil kertas itu. "Apa kau benar-benar menginginkanku memiliki pantat yang lebih kecil? Hm?" tanya Baekhyun, sambil menyikut tubuh samping Chanyeol dengan sikunya.

Chanyeol menghindar dari sikutan kekanakan Baekhyun, dia menyeringai. "Aku tidak menyukainya."

"Tepat sekali" Baekhyun berdecak.

"Aku suka meremas pantatmu," ucap Chanyeol dengan suara rendahnya tepat di telingah Baekhyun. "Aku menyukainya saat aku mencoba untuk melebarknnya dan membawa jari-jariku untuk memasukinya – Oh apa kau ingin donat, Baek? Karena aku pasti akan memberikannya padamu jika benar donat bisa membuat pantatmu lebih besar."

Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Kau menjijikan."

"Lihat siapa yang memulai."

Baekhyun memutar bola matanya dan memutar kursinya menghadap Chanyeol. "Jadi, kau mau lebih dulu?"

"lebih dulu untuk?" ucap Chanyeol dengan ekpresi penuh tanya di wajahnya.

"Kau bilang ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku…" gumam Baekhyun, seolah-olah mengingatkan Chanyeol apa yang dia katakan di kamar tidurnya. "atau kau sudah melupakannya-"

"Aku tidak melupakannya," kata Chanyeol cepat mengaburkan gagasan Baekhyun. Dia terdiam sesaat untuk memutuskan, dan pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya mengarah ke Baekhyun. "Kau lebih dulu."

"Okay, Saat kau pergi, aku menonton beberapa film," jelas Baekhyun sambil membawa pandangannya ke lantai dan memunculkan seringaian yang lebar membuat rasa penasaran Chanyeol semakin tinggi. "Setelah menontonnya, aku memikirkan untuk—"

"Apa yang kau tonton?"

"Huh?"

"Apa yang sudah kau tonton saat aku pergi?" tanya Chanyeol lebih spesifik. "film porno?"

Baekhyun menghela napas. "Bukan. Membership film pornoku sudah kadalwarsa dua bulan lalu dan film yang gratis tidak memiliki kualitas yang bagus…" Dia menggantung kalimatnya beberapa saat, membuat Chanyeol bungkam sebelum bergerak. "Jadi yang ingin kusampaikan, timbul sesuatu yang bisa langsung kurasakan di perutku setelah aku menonton film Burlesque a."

"Kau ingin muntah?" dengus Chanyeol.

Baekhyun menepak paha Chanyeol. "Kau salah! Film itu membuatku menginginkan sebuah pole!" jelasnya dengan semangat. stumped

"seperti javelin pole (lempar lembing)?" tanya Chanyeol sambil mengusap area yang mendapat tepakan Baekhyun.

"Bukan," gumam Baekhyun, memiringkan kepalanya, "seperti stripper pole—"

"Tidak."

Baekhyun merengut. Lalu dia membuka kertas berisikan daftar alasannya. "Aku bahkan belum menunjukkkan daftar alasanku..."

Chanyeol mengerutkan keningnya, lalu mengambil kertas itu dari tangan Bakhyun dan mulai membacanya. "Stripper poles bisa digunakan untuk latihan…"

Baekhyun mengangkat bahunya. "Setiap orang mengatakan jika striper pole itu mudah digunakan, tapi memang dibutuhkan kekuatan yang lebih pada bagian tubuh atas untuk mengangkat keseluruhan tubuh ke atas pole tersebut."

Chanyeol melihat ke arah Baekhyun. "Dan kenapa kau mengnginkan bagian tubuh atasmu lebih kuat?"

"Aku tidak menginginkannya," balas Baekhyun cepat.

"jadi kau tidak membutuhkannya untuk latihan," jelas Chanyeol tegas. "alasan pertamamu invalid."

Baekhyun menyadari kesalahanya dan mencoba untuk memperbaikinya "Tidak—maksudku, Aku membutuhkannya. Aku membutuhkannya sehingga aku bisa mengangkat beberapa barang. Aku—"

Chanyeol tidak menghiraukan penjelasannya. "kau bisa menyewanya.…" keluhnya. "kau ingin menyewa dan menyentuh sesuatu yang sudah disentuh dan digesek-gesek orang lain? Aku pikir tidak."

"Tapi—"

"Tetap saja, tidak."

"Kau sungguh tidak adil," rengek Baekhyun.

Chanyeol menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan membaca alasan ketiga. "Pemadam kebakaran menggunakan pole... pemadam kebakaran adalah orang baik... Aku juga harus mendapatkannya..." Dia terdiam sejenak , mengerutkan kening. "Serius,,, Baek."

"Aku ini orang baik, jadi aku perlu memlikinya juga!" debat Baekhyun.

"Yeah, Bill Gates juga orang baik. Aku bertaruh jika dia memasang pole juga untuk istrinya," ucap Chanyeol sarkas. Dia melanjutkan membaca daftarnya. "pole ini terbuat dari stainless steel - sama seperti sepeda yang sudah kau larang aku untuk mendapatkannya"

"Yeah, jadi pole itu tidak akan mengalami karatan" jelas Baekhyun dengan menambahkan beberapa fakta "Jadi, akan mengurangi biaya perawatan."

Baekhyun memang memiliki poin yang valid, tapi Chanyeol tidak membiarkan alasan kempat itu dimenangkannya. "Tapi tetap saja akan memakan tempat— entah itu perawatannya mudah atau tidak."

Baekhyun mengerang dan mengambil kembali kertasnya, tapi Chanyeol mencegahnya dengan mendorong dengan lengannya lembut. "Let's see. Siswa membutuhkan buku... Penari membutuhkan studio... Aku membutuhkan pole ini di kamarku."

"Ya, aku memang membutuhkannya," ucap Baekhyun sambil mencoba mendorong tangan Chanyeol menjauhi dadanya sehingga dia bisa mengambil kertas tersebut.

"Well, bukankah kau terlalu imaginative, little thinker," gurau Chanyeol sambil melirik ke pemuda yang ingin menjadi stripper di depannya. "mudah untuk dipasang—Okay, berikutnya."

"Tapi—"

"…merupakan peralatan yang professional." Ucap Chanyeol sambil mengangat alisnya, lalu memberikan tatapan tertariknya pada Baekhyun. "Apa seperti strip club yang 'professional'?"

"Apa itu penting?" balas Baekhyun dengan helaan. "tetap saja kan professional."

"Yeah, well, tetap saja tidak." Chanyeol menghela napas panjang setelah melihat beberapa alasan Baekhyun yang tersisa pada kertas itu. "Baek, tidak ada satupun alasanmu yang bisa meyakinkanku." Setelah melihat ekspresi yang ditampilkan Baekhun, Chanyeol berhenti sejenak. "Sebenarnya, kenapa kau sangat menginignkan pole itu?"

Baekhyun memainkan jarinya sebelum akhirnya menghela napas, menatap mata Chanyeol dengan tatapan anak anjing yang sedang meminta makanan walaupun dia sudah gemuk. "Aku pikir akan menyenangkan jika memilikinya."

"Bagian mana yang menurutmu menyenangkan?"

"Meluncur dari atas ke bawah atau sebaliknya," gumam Baekhyun, menurunkan pandanganya ke bawah.

Setelah mempelajari sikap Baekhyun untuk sesaat, Chanyeol memaksa pria yang lebih mungil darinya itu mengangkat dagu dan menatapnya, Chanyeol menyeringai. "Jadi, bagian mana yang menyenangkan untukku?"

Baekhyun berkedip, lalu senyumnya pecah. "Oh, kau bisa memakainya juga, jika itu yang kau mau."

Seringai Chanyeol meghilang. "Aku tidak mau memakainya, dasar bodoh."

"Aku hanya bercanda," Baekhyun tertawa, melepaskan dagunya dari tangan Chanyeol. "aku tahu, kau menginginkanku menari strip untukmu." Baekhyun mengabaikan kursinya, dan bergerak mendekat ke depan Chanyeol, melebarkan kaki Chanyeol dengan hati-hati lalu menempatkan dirinya diatas pangkuan Chanyel. "Kau ingin memberikanku collar (ikatan)," bisiknya di telinga Chanyeol "kau ingin mengikatku, seperti binatang."

Chanyeol menaruh tanganya pada pinggang Baekhyun, tersenyum. "Dan?"

"Kau menginginkanku untuk berpegang pada pole itu sementara kau menyentuh tubuhku kan?," ucap Baekhyun serak.

Chanyeol membawa tanganya lebih rendah, lalu mengelus paha Baekhyun "Menurutku alasan ini lebih valid dibadingkan dengan 10 alasan bodoh yang sudah kau tulis di daftar tadi," geramnya.

"Yeah?"

"Yeah—"

"—bisakah kalian berdua menghentikannya?" seru Kyungsoo dari meja dapur, mengaburkan dunia kecil yang sudah dibangun Chanyeol dan Baekhyun. "Aku dan Kai masih di sini."

Orang nomal pada umumnya pasti akan merasa malu, tapi tidak dengan Baekhyun and Chanyeol, mereka hanya tertawa. Chanyeol membawa lengannya merangkul pria yang lebih kecil darinya, Chanyeol membiarkan Baekhyun tertawa dengan sepuasnya, karena untuk pertama kali, Chanyeol menyadari jika tawa Baekhyun tidaklah semenyebalkan seperti biasanya.

Chanyeol belum sempat menyampaikan maksudnya pada Baekhyun, walaupun Baekhyun sudah menyelesaikan sarapannya. Dia juga menunggu kepergian Kyungsoo dan Kai ke tempat lain di rumah itu, dan saat Chanyeol menemukan waktu yang tepat untuk menyampaikannya, tiba tiba Nugget keluar dari kamar Sehun, berlari—atau bergoyang-goyang—segera menuju Daddy nya, mencuri perhatian Baekhyun dari giant di sampingnya.

Beberapa menit berlalu dengan Baekhyun yang menaruh Nugget yang berloncat-loncat lembut di pangkuannya dan bernyanyi lagu yang seharusnya dinyanyikan untuk anak-anak. Chanyeol jelas nomer dua dalam daftar prioritas Baekhyun diluar kamarnya.

Ketika Baekhyun bangkit dari duduknya untuk mengabil makanan Nugget, Chanyeol mengambil kesempatan itu untuk menyampaikan maksudnya. "Apa kau menyukai binatang?" sergahnya, tiba-tiba.

Baekhyun berhenti di tengah-tengah menuangkan makanan Nugget ke dalam mangkuknya —membuat Nugget menjadi gelisah, berlari maju mundur untuk mendapatkan kembali perhatian Daddynya. "Entahlah, Chanyeol. Apa aku terlihat seperti penyuka binatang? "Dia memancing.

Chanyeol memandang ke bawah pada Nugget, yang mengais-ngais Daddynya untuk memberinya makanan, mengakui kebodohan pertanyaannya. "Ada kebun binatang, lima puluh mil dari sini."

"Oke, terus," kata Baekhyun, tersenyum pada Nugget saat dia berjongkok dan pada akhirnya memberi Nugget makan siangnya.

"Aku ingin membawamu ke sana."

Baekhyun mendongakkan kepalanya. "Seperti kencan di kebun binatang?" Tanyanya, tertawa.

"Aku tidak tahu apa kau ingin menyebutnya kencan," kata Chanyeol, mencoba bersikap acuh tak acuh sambil mengangkat bahu.

"Oh, jadi kita hanya dua orang, yang berciuman dan bercinta, dan pergi ke kebun binatang bersama," kata Baekhyun, menyeringai.

Tidak suka dengan kata-katanya, Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Lupakan. Baiklah, kita bisa menyebutnya sebagai kencan. "

Baekhyun tertawa , mengelus punggung Nugget saat dia makan. " Kau lucu."

"Apanya yang lucu?"

"Kau mengajakku berkencan," kata Baekhyun pelan sambil memperhatikan Nugget makan. "Kenapa kau melakukannya?"

Chanyeol terdiam. "Apa yang salah dengan aku yang mengajakmu berkencan?"

"Hanya sedikit aneh."

"Baek." Chanyeol menunggu Baekhyun untuk menatapnya, tapi ketika Baekhyun terus memberikan perhatiannya pada Nugget, yang bahkan tidak memintanya, dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pria yang mengabaikannya. Chanyeol menunduk ke bawah, lalu menarikn tudung jaketnya. "Apa maksudmu?"

Baekhyun mengangkat bahu, mundur selangkah — meskipun dia langsung diikuti oleh Chanyeol. "Aku terbiasa membatasi semuanya sampai pada tingkat fisik saja."

"Aku pikir saat kau mulai menciumku dan menariku sampai keluar kamar tidur, menunjukkan jika hubungan kita lebih dari tingkat fisik," kata Chanyeol sambil mendekat pada Baekhyun, memaksanya untuk menabrak meja.

"Aku harus mengingatkanmu jika kau pada awalnya, kau tidak terlalu menyukaiku, Wahai tuan Hebat," kata Baekhyun, pura-pura tertawa. "Jadi, apa yang sekarang kau lakukan? mengajaku berkencan?"

Chanyeol berhenti dan mundur, memberi Baekhyun sedikit ruang. "Mungkin aku berubah pikiran."

"Kau terlalu sering berubah pikiran—"

"Jadi, apa kau ingin berkecan denganku atau tidak?" Tanya Chanyeol, memojokan Baekhyun di meja.

Baekhyun menunduk sejenak. Nugget berhenti makan dan meregangkan telinganya, mendengarkan kedua orang dewasa itu bertengkar tentang kenapa seseorang ingin berkencan dengan yang lain. Dengan kata lain, Nugget sedang mendengarkan salah satu masalah manusia: suatu huubungan.

Setelah beberapa waktu, Baekhyun mendongak menatap Chanyeol dan mengangkat bahu. "Mungkin…"

"Aku tidak mau mendengar jawaban yang setengah-setengah."

"Kau tidak mau mendengar yang setengah—"

Chanyeol mendesah. "Baekhyun. Apa kau mau — atau tidak — pergi ke kebun binatang denganku? "

Baekhyun menggigit bibirnya sejenak sebelum mengangkat tangannya ke atas. "Aku mau pergi!" Akhirnya dia meledak, mencurahkan semua kegembiaraan yang sudah coba ditahannya sejak Chanyeol menyampaikan keinginannya untuk berkencan dengan Baekhyun. "Aku mau bertemu dengan ayah dan ibumu juga. Aku mau melihat primata yang sudah melahirkanm— "

Salah satu cara paling efektif untuk menghentikan Baekhyun — seperti yang sudah dipelajari Chanyeol — adalah dengan mengisi bibirnya dengan sepasang bibir lain. Tidak hanya membuat pria yang lebih kecil menjadi pendiam dan berhenti berbicara, Chanyeol juga mempelajari jika Baekhyun akan jauh lebih kooperatif. Bahkan saat Chanyeol telah menyelesaikan misinya, dia menjauhkan bibirnya sedikit dari godaan bibi Baekhyun yang menciuminya di seluruh permukaan bibirnya dan tetap berlama-lama dalam posisi itu.

"Yang harus kau lakukan hanyalah mengatakan ya daripada menyinggungg dan menyiratkan jika aku ini produk dari dua primata."

Menjatuhkan matanya ke bibir Chanyeol, Baekhyun tersenyum lemah. "Tapi memang keyataan, ya."

Kemudian, dengan suara serius, Chanyeol melangkah mundur dan berkata, "Kau tahu, jika kau memang mau bertemu orang tuaku, aku bisa mewujudkannya. Jika itu yang kau inginkan. "

Baekhyun tidak menanggapi Chanyeol dengan serius, dia mendengus dan mendorong giant itu menjauh sehingga dia bisa membebaskan dirinya dari posisinya sekarang. "Kau benar. Dan kau akan bertemu orang tuaku juga. "

"Ya, aku harus melakukannya suatu hari nanti." Chanyeol menanggapi.

Sambil menggelengkan kepalanya, Baekhyun memperbaiki bajunya. "Aku pikir kau tidak mau bertemu orang tuaku— mungkin saja kalo hanya ibuku. Tunggu, aku pikir kau mau bertemu dengan ayahku juga, kalian memiliki pekerjaan yang serupa. "

"Mungkinkah?" Tanya Chanyeol saat matanya mengikuti Baekhyun.

"Kalian berdua menyukai apa yang kalian lakukan, sebagai sumber nafkah," kata Baekhyun dengan senyuman kecil. "Ngomong-ngomong, kenapa kita membicarakan ini? Aku butuh uangnya, Chanyeol." Sergah Baekhyun sambil mengulurkan tangannya. "Please... dan terima kasih."

Chanyeol menyilangkan lengannya dan mengangkat alisnya. "Apa itu sebabnya kau berdandan? Kau mau pergi ke kota? "

"Tepat sekali."

"dan bagaimana kau ke sana?" Tanya Chanyeol.

Baekhyun memandang sekeliling sebentar, mencoba mencari jawaban yang masuk akal yang tidak melibatkan kata 'mobil', tetapi segera saja dia tidak menemukan jalan lain. "Dengan ... mobil ...?" Jawab Baekhyun, bersiap untuk mendapat ceramah berisi larangan keras tentang bagaimana dia tidak diizinkan mengemudi.

"Apa kau punya lisensi?" Chanyeol bertanya, bukannya menyerang jawaban yang dilontarkan Baekhyun.

"Yeaah."

"Tunjukkan padaku-"

"Tunggu, tidak, aku tidak punya." Baekhyun tiba-tiba melupakan semua informasi yang mungkin akan dibongkarnya, jika dia menunjukkan lisensinya, termasuk alamat rumah alamat dan nama belakang. "Aku hanya — aku pernah bermimpi jika aku punya lisensii. Aku rasa, aku hanya kebingugan membedakkan mimpiku dengan kenyataan." Dia memberi Chanyeol senyum malu-malu dan mengangkat bahu. "Oops."

Chanyeol — tanpa keraguan — telah melihat semuanya. Baekhyun sebenarnya memiliki lisensi, tetapi dia jelas berpikir Chanyeol tidak tahu apa-apa mengenai itu. Tapi tidak masalah, Chanyeol tidak keberatan, malah akan memberinya keuntungan.

"Kalau begitu kau tidak bisa ke kota dengan mobil." Baekhyun menggembungkan pipinya dan memutar matanya. Dia mencoba bermanuver di sekitar Chanyeol, tetapi giant itu melangkah lebih cepat dan menghalangi jalannya.

"Permisi, Tuan Hebat."

"Oh, aku menghalangi jalanmu?"

"Kau menghalangi jalan hidupku, mimpiku, aspirasiku, dan perjalananku ke toko buku," jawab Baekhyun, memiringkan kepalanya. "dan ya, kau menghalangi jalanku."

"Kasihan sekali, terdengar tidak bagus," kata Chanyeol, dengan nada simpatik. "Dan sekarang kau tidak bisa mendapatkan kunci mobil."

Baekhyun melihat ke belakangnya. "Kau tahu, aku bisa melangkah ke sisi lain dari meja makan, kan."

Chanyeol melirik dan melihat jika Baekhyun benar. Melihat kembali pada laki-laki yang sombong itu, Chanyeol mendengus. "Itu tidak masalah. Kau tetap saja tidak bisa mendapatkan kunci itu. "

"Aku pulang dengan selamat semalam," Baekhyun menunjukkan. "Aku jelas bisa menyetir."

"Aku tidak tahu kau bisa melakukannya."

Mengetahui bahwa berdebat selalu menuntun mereka dalam ketidakpastian, dan akan berputar-putr saja, Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Tapi, aku harus membeli buku itu dan kau melarangku mengendarai mobil — oh! Aku tahu. Kai. Kai bisa mengantarku," kata Baekhyun sambil tersenyum.

Chanyeol melihat ekspresi di wajah Baekhyun dan dia segera tahu harus berkata apa. "Tidak. Terakhir kali kau pergi dengan Kai, kalian membawa pulang seekor anak anjing. Aku tidak ingin kau kembali dengan sekotak penuh anak kucing yang tersesat kali ini. "

Baekhyun mengerucutkan bibirnya dan mengerutkan dahinya. "Aku tidak akan melakukannya! Bagaimana mungkin aku bisa menemukan sekotak — maksudku, mungkin saja jika satu atau dua ekor, tetapi sekotak anak kucing? Aku pikir tidak. "

"Baek—"

Baekhyun menjadi lebih tidak sabar, sambil mengerutkan kening dan merendahkan bahunya. "Chanyeol — Astaga. Aku sudah dua puluh dua tahun dan tidak akan menjadi lebih muda lagi. Aku hanya ingin membeli buku. "

Chanyeol sambil mengerang, mengibaskan tangannya ke udara dan melangkah keluar, menuju ke lorong. "Baiklah. Terserah."

"Aku bisa menggunakan mobilnya?" Baekhyun berkata dengan penuh semangat.

"Tidak."

"Ap—"

"—Aku akan mengantarmu," Chanyeol dengan cepat menambahkan. Setelah mendengar penawaran Chanyeol, Baekhyun mengikutinya ke lorong.

Nugget, yang sudah kehilangan minat pada dua orang dewasa yang bertengkar itu kembali makan sampai perut kecilnya yang gemuk itu tidak bisa menerimanya lagi. Kemudian dia merasa akan meledak, sehingga dia segera berlari kembali ke kamar Sehun.

"Sebaiknya kau tidak memintaku untuk memberikan blow job padamu (road head)! Aku tidak mau mati tanpa martabat." Ucap Baekhyun, Saat berjalan di belakang Chanyeol

Chanyeol tertawa ketika dia mencapai kamarnya dan mendorong pintunya terbuka untuk mulai mengganti penampilannya, yang akan membuatnya tampak menakutkan bagi siapa pun yang berani menatap Baekhyun saat mereka berada di kota. "Tenang saja. Road head tidak begitu menyenangkan. Jika aku benar-benar ingin melakukannya denganmu, Aku akan menepi — mencari aman. "

"Sungguh bijaksana."

Baekhyun duduk di tempat tidur saat Chanyeol menngganti pakaiannya; berubah menjadi pakaian yang tidak terlalu mencolok. Pakaian itu membuatnya terlihat lebih seksi, ya, tapi Baekhyun tidak ingin dia terlihat seperti itu. Chanyeol hanya akan menarik perhatian pada dirinya sendiri dan Baekhyun tidak menyukainya. Bukan karena dia cemburu. Tidak. Baekhyun tidak menyukai gagasan cemburu. Hanya saja Chanyeol akan mengalihkan perhatian orang-orang darinya — mengambil perhatian yang seharusnya tertuju padanya, jika Chanyeol tetap memakai pakaian "Casual Friday" –nya yang biasa. Ya, maksud Baekhyun seperti itu.

Setelah beberapa saat melihat Chanyeol bergerak di sekitar ruangan, Baekhyun bertanya, "Jadi, kapan kau akan memberiku uang itu?"

Melepas kemejanya dan membuka yang baru, Chanyeol melirik Baekhyun. "Cek atau cash?"

"Aku lebih suka cash, lebih menghemat waktu, karena tidak perlu menulis semua hal itu dan menguangkannya" jelas Baekhyun, menghela napas. "Satu-satunya yang lebih baik daripada cash adalah kartu kredit, tapi aku tidak bisa menggunakan punyaku ..."

"Oh?" Kata Chanyeol, membuat ekspresinya tampak seperti tertarik sambil memakai kemejanya. "Kau punya kartu kredit?"

"Tidak, aku berbohong," Baekhyun bergumam. "Aku berpura-pura lagi."

"Sama seperti saat kau berpura-pura memiliki lisensi?"

"Ya."

"Kau sering berpura-pura, Baek," Chanyeol menghela napas. Dia membawa tangannya mengibaskan rambutnya dan memutuskan untuk tidak merapikannya hanya untuk kunjungan sederhana ke toko buku lokal. Sebaliknya, dia berjalan ke mejanya dan mengambil kacamata hitamnya sebelum memberi isyarat untuk Baekhyun. "Ayo," katanya sambil mengambil kunci mobilnya dari laci mejanya.

"Uangku?"

"Jangan pedulikan uangmu," kata Chanyeol. "Aku akan membayarnya."

"Kau akan membayar novel romance-ku ..." Baekhyun berkata, mengklarifikasi situasi untuk berjaga-jaga jika Chanyeol tidak mengerti.

"Ya."

Menggelengkan kepalanya, Baekhyun mengangkat bahu. "Baiklah. Aku bergantung padamu. Apa itu berarti aku bisa belanja tanpa batas? "

"Untuk hari ini," pikir Chanyeol.

"Aku tidak ingin kau bangkrut."

"Percayalah, Baek," kata Chanyeol sambil meraih tangan Baekhyun dan mulai menuntun mereka keluar dari kamarnya, "kau tidak akan membuatku bangkrut."

Baekhyun memarkir SUV di luar pada malam sebelumnya, takut jika dia membuka pintu garasi, akan terdengar suara yang akan membangunkan penghuni lain di rumah. Tapi, ketika dia menyadari situasinya sekarang, dia seharusnya mengembalikan mobilnya ke dalam.

Ketika Chanyeol memundurkan mobilnya dari jalan masuk, dia melihat ke belakang ke arah mobil lain setelah memindahkan persneling dan dia menyipitkan mata, agar lebih fokus. Dia melihat goresan berbentuk garis panjang — goresan yang sangat mencolok. "Apa itu ... What the hell !?"

"Ada apa?" Tanya Baekhyun, menjulurkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi pada Chanyeol.

Ada jeda sebentar. Lalu Chanyeol melambaikan kepalanya ke arah laki-laki yang kebingungan di sampingnya, memberinya tatapan intens. "Apa itu goresan, Baek? Apa goresan sialan itu ada pada mobil SUV-ku? "

Mengangkat alisnya, Baekhyun bergumam dan melihat ke luar jendela. "Mungkin ..."

"Siapa yang melakukannya?"

Baekhyun melihat sekeliling sejenak ketika dia kembali melacak ingatannya dari waktu ke waktu ketika goresan itu dibuat. Dia ingat menambrak keranjang belanja. Dia ingat Kai ketakutan. Apa yang mereka bicarakan? Baekhyun berpikir dan kemudian dia ingat.

'Baek, aku tidak ingin mendapat masalah dengan orang itu ...'

'Jika pada akhirnya dia tahu, aku yang akan bertanggung jawab ...'

"Baek," kata Chanyeol dengan nada khawatir dalam suaranya, membawa Baekhyun keluar dari pikiranya. "Apa kau yang melakukannya?" tanya Chanyeol, ketika Baekhyun tidak menjawab, Chanyeol melotot. "Baek—"

"Kai yang melakukannya."

.

.

.

See Ya