MIANHAE, OPPA

"Oppa, berhenti menggangguku? apa kau kira aku tak terganggu dengan sikapmu ituuu?" teriak Baek Ji pada sang kakak yang terus-terusan mengganggunya.

"i know it, Babe! but i always like it"

Baek Hyuk tertawa keras karena selalu berhasil membuat sang adik kesal. berbanding terbalik dengan Baek Ji yang kesal setengah mati, sebab sang kakak tidak mengenal situasi saat mengganggunya.

"Tertawalah! aku senang melihat kau tertawa seperti itu. sangat mengerikan!" Baek Ji segera membereskan semua barangnya dan melangkah menjauh meninggalkan sang kakak yang kini menguasai markasnya di gazebo, halaman belakang rumah mereka. sebelum menghilang dibalik pintu, Baek Ji berteriak mengumpat sang kakak "Aku membencimu, Oppa! selamanya!"

Nahas bagi Baek Ji karena saat berbalik untuk menjauh, tubuhnya malah terhempas dan jatuh dengan sangat tidak elitnya. "Yaakkkkk! Oppa! Kalian memang menyebalkan!" teriak Baek Ji saat tahu siapa yang menabraknya hingga terjatuh, dan lagi saat mendengar tawa keras dari sang kakak.

"Mau ku bantu?" Baek Hyun yang berdiri dihadapan Baek Ji mengulurkan tangannya.

Baek Ji menatap sang kakak yang tersenyum simpul.

"Aishhhh! kalian tak lelah rupanya terus-terusan menggangguku!" ucap Baek Ji sembari menyambut uluran tangan sang kakak.

"Bukan salahku jika aku menabrakmu karena disini kaulah yang seharusnya disalahkan!" Baek Hyun melenggang pergi meninggalkan sang adik yang terbengong setelah mendengar penyangkalan dari sang kakak.

"Terserahlah...!" teriak Baek Ji lagi.

Baek brother hanya tertawa mendengar gerutuan dari sang adik.

oOoO Mianhae, Oppa! oOoO

Baek Ji tersenyum mengingat kenangan manis yang dahulu pernah mereka rasakan. kenangan manis sebagai Baek bersaudara, dimana Baek Hyuk dan Baek Hyun, yang kembar sebagai kakak bagi Baek Ji, si bungsu yang selalu mengandalkan sekaligus menjadi bahan bully kedua kakaknya. meski begitu, tak ada sakit hati Baek Ji atas ulah kedua kakaknya, karena ia tahu, yang dilakukan kedua kakaknya adalah bentuk kasih sayang dari keduanya.

"Kau kembali mengingatnya, Ji-ah?"

suara berat seorang namja membuyarkan lamunan Baek Ji yang masih tersenyum saat mengingat kenangan bersama kedua kakaknya.

Baek Ji menjawab tanya itu dengan helaan nafas berat.

"Jika berat, berbagilah" lanjut namja itu.

"Oppa, aku tak tahu lagi" balas Baek Ji dengan wajah sendu. "ribuan kali aku mencoba mengubur kenangan itu, ribuan kali juga rasa sakit itu muncul. dan jika rasa sakit itu muncul, maka kebencian ini semakin mendarah daging. aku harus bagaimana?"

namja yang kini sudah duduk disamping Baek Ji hanya mengulum senyum.

"Selalu itu yang menjadi jawaban andalanmu"

"Jangan membencinya" ucap namja itu.

Baek Ji kembali menghela nafas. "Selalu itu yang selanjutnya kau ucapkan"

Baek Ji beranjak dari duduknya. "Aku harus pulang. minggu depan aku kembali lagi"

"Kau tak harus datang setiap minggu. Kau harus meluangkan waktumu untuknya" namja itu berpesan sebelum Baek Ji meninggalkannya.

"Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu" jawab Baek Ji.

"Aku selalu bersamamu. Tapi kau tak pernah bersamanya sekalipun"

"Oppaa, kau tahu alasannya"

namja itu hanya mengangguk-anggukkan kepala sembari tersenyum kecil.

"Nde, arraseo. Pulanglah!"

Baek Ji menatap namja itu cukup lama.

"Aku pulang sekarang. baik-baik disini"

namja itu kembali mengangguk. dan langkah Baek Ji meninggalkan namja itu, di taman yang cukup sepi itu.

Mianhae, Oppa

Hoeeekk...

Hoeeekkk...

uhukkkkk...

suara itu menyambut kedatangan Baek Ji. dia tahu itu suara siapa dan berasal darimana.

Baek Hyun, sang kakak kedua yang kini tengah menundukkan wajah di westafel kamar mandi kamarnya. suara muntahan dan batuk yang tedengar menyakitkan itu membuat langkah Baek Ji mendekat. namun langkah itu hanya sampai diambang pintu kamar Baek Hyun.

dari tempatnya berdiri, Baek Ji dapat melihatnya, kedua kakaknya berada di kamar mandi yang terbuka dengan Baek Hyuk yang tengah menepuk dan memijat pelan punggung Baek Hyun yang masih berusaha memuntahkan apa yang baru saja masuk kedalam perutnya.

Tanpa disadari, air mata telah menggenang dipelupuk Baek Ji.

"Hyung, sudah cukup" ucap Baek Hyun lirih, namun masih mampu didengar Baek Ji diambang pintu kamar. "bantu aku berbaring lagi" lanjut Baek Hyun.

Baek Hyuk mengangguk lalu memapah tubuh sang adik yang suda melemah. sedangkan Baek Ji berhasil menyembunyikan diri sebelum kedua kakaknya menyadari kehadirannya.

"Baek Ji belum pulang?" tanya Baek Hyun setelah berhasil berbaring di tempat tidur.

"sepertinya belum. nanti Hyung akan menghubunginya" balas Baek Hyuk sembari merapikan selimut yang menutup tubuh sang adik. "istirahatlah. Hyung akan menghubungi Baek Ji, jangan memikirkan apapun!" lanjut Baek Hyuk.

Baek Hyun hanya mengangguk, dan setelah sang kakak beranjak namja itu berusaha menutup mata. berharap nyeri yang menyerang ulu hatinya segera lenyap.

oOoO Mianhae, Oppa oOoO

Baek Ji tengah menyantap makan malamnya saat sang kakak mendekat lalu duduk dihadapannya. Baek Ji mengabaikan kehadiran sang kakak dan melanjutkan suapan-suapan makan malamnya.

senada dengan sang adik, Baek Hyuk memutuskan untuk menunggu dalam diam.

"Kau mengunjunginya lagi?" tanya Baek Hyuk saat melihat adiknya sudah selesai bersantap.

Baek Ji hanya menjawab dengan anggukan. masih menunggu apa yang akan disampaikan sang kakak, Baek Ji memutuskan untuk mengutarakan pertanyaan. "Dia, baik-baik saja kan?" tanya Baek Ji lirih diselimuti nada keraguan.

Baek Hyuk menghela nafas lelah. "Apa sebenarnya yang ada dalam benakmu. sudah jelas kau sangat mengkhawatirkannya tapi kenapa masih saja berpura-pura acuh? Baek Ji, dengarkan Oppa. sebelum semua terlambat, dan kau akan menyesal lebih baik singkirkan egomu. kau tahu kondisinya bisa menurun sewaktu-waktu. apalagi yang kau tunggu? apa kau akan menyuruhnya kembali saat dia sudah pergi?"

Baek Ji menundukkan wajahnya

mulai merasa bersalah terhadap apa yang telah diperbuatnya pada sang kakak selama ini.

"Aku hanya bingung harus bagaimana saat berhadapan dengannya. Oppa, masih jelas terpatri dalam benakku kejadian itu. dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!" balas Baek Ji.

"Kau belum juga menyadari jika itu semua salah paham. bukankah kau sendiri yang mengatakannya"

Baek Ji mencoba mengangkat wajahnya, namun masih saja ragu. "Itu memang salah paham, Oppa. tapi kesalahpahaman itu tak akan membawanya kembali"

"dan juga akan membawa pergi Baek Hyun dari sampingmu dengan sejuta penyesalan karena kau tak memaafkannya"

"Aku sudah memaafkannya, Oppa"

"Belum, Baek Ji. kau mengingkari apa yang kau katakan"

Baek Ji tak menjawab.

"Sebelum semuanya terlambat, singkirkan kebencian itu. kau tahu, waktunya tak banyak"

Baek Ji masih bungkam, sampai kepergian Baek Hyuk diabaikannya.

"I wanna try it, but i think i can't do it, Oppa. how it?" gumam Baek Ji sembari mengusap lelehan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.

oOoO Mianhae, Oppa oOoO

"Yakkkk, Baek Hyun! apa yang kau lakukan?" teriak Baek Hyuk saat memdapati sang adik kembar tengah berganti baju, padahal kondisinya masih lemah.

"Ah, Hyung. aku ingin keluar sebentar. jenuh berada disini. kau tak perlu menemaniku jika kau tak ingin, karena aku hanya akan jalan ke sekitar rumah" jawab Baek Hyun sembari membenahi letak syal yang melilit lehernya.

"Kau masih sakit. jangan keluar rumah!"

"Hyung, hanya sampai ujung jalan, setelah itu aku akan kembali"

Baek Hyuk menarik pelan tangan sang adik. "Kali inj dengarkan apa yang Hyung katakan. jika kondisimu sudah stabil, kau boleh keluar sesuka hatimu. tapi untuk saat ini jangan"

"Aku tahu Hyung mengkhawatirkanku. tapi hanya untuk saat ini saja. aku harus menemui seseorang. dia tidak bisa datang kerumah, jadi kami memutuskan untuk bertemu. please Hyung, hanya untuk saat ini. Aku janji akan segera pulang begitu urusan kami selesai. kau boleh ikut jika tak percaya"

baek Hyuk menghela nafas.

"Baiklah. tapi kau tak bisa berlama-lama berada diluar. tunggu aku sebentar"

Baek Hyun mengangguk kecil.

oOoO

di cafe ujung jalan

seseorang melambaikan tangan saat melihat kedatangan si kembar Baek.

"ingat, Hyun! jangan terlalu lama"

"nde, Hyung"

"Aku tunggu di meja lain. ku rasa kau butuh privasi"

Baek Hyun tersenyum melepas kepergian sang kakak.

"Kau baik-baik saja, Hyun-ah? wajahmu terlihat pucat?" tanya orang tersebut setelah Baek Hyun duduk di hadapannya.

"Aku baik-baik saja. kau mendapatkannya, Joon?" tanya Baek Hyun langsung pada tujuannya.

Kwak Joon, namja di hadapan Baek Hyun itu merogoh saku mantel dan mengelurkan sebuah kotak perhiasan. "Sesuai permintaanmu" ucapnya sembari memberikan kotak itu pada Baek Hyun.

Baek Hyun mengambil alih kotak itu, membukanya dan mengambil apa yang ada dalam kotak itu.

sebuah liontin.

"this is perfect" ucap Baek Hyun tersenyum puas. "Joon, terima kasih banyak untuk ini. ku harap dia menyukainya!" lanjut Baek Hyun.

"Kuharap aku tak mengecewakanmu. jika kau menyukainya, aku yakin dia juga pasti menyukainya. tapi kalau boleh tahu, ini untuk siapa Hyun?"

Baek Hyun tersenyum tanpa menjawab pertanyaan sang sahabat.

"Arraseo. aku tahu, aku tak boleh mengetahuinya. ku doakan semoga kau berhasil"

Baek Hyun tertawa mendengar ucapan Kwak Joon. "Ku harap doamu manjur, Joon"

"Nde. minum dulu coklatmu sebelum menjadi dingin. ku mau makan sesuatu?"

"Aniya. aku harus segera kembali. pengawalku akan menyeretku jika aku terlalu lama disini. Joon sekali lagi terima kasih banyak. aku berhutang padamu. aku pergi sekarang, nde" pamit Baek Hyun sembari beranjak dari duduknya.

"jangan terlalu sungkan. kau pikir aku siapa?"

"Jeongmal gomawoyo"

"Nde, Hyun ah"

Langkah Baek Hyun menjauh dari meja tempatnya bertemu dengan Kwak Joon. dihampirinya sang kakak yang sudah menunggunya di dekat pintu masuk.

"Kenapa cepat sekali. ku pikir aku harus menunggu hingga lumutan"

"Aigoo Hyung, kau terlalu hyper. aku sudah mengatakan kalau aku hanya sebentar. salahmu jika kau tak mempercayaiku. Jja, kita harus segera pulang sebelum Baek Ji kembali"

Baek Hyuk hanya menurut tanpa mengatakan apapun.

oOoO Mianhae, Oppa oOoO

Baek Ji tengah menyeduh teh saat mendengar suara gedebuk benda jatuh yang berasal dari kamar sang kakak, Baek Hyun. segera saja langkah cepat itu menghampiri kamar Baek Hyun yang masih tertutup. di dera rasa khawatir dengan tanpa mengetuk terlebih dahulu, Baek Ji membuka pintu kamar Baek Hyun dan mendapati sang kakak tengah duduk dan mengerang, dengan tangan kanannya mengusap kepala di depan lemari besar. Baek Ji mengedarkan pandangan dan mendapati sebuah koper cukup besar tergeletak tak jauh dari posisi duduk Baek Hyun.

"Apa yang kau lakukan Oppa?"

tanya Baek Ji yang masih di dera kekhawatiran, namun tetap memasang ekspresi acuhnya.

"Ah, Baek Ji. maaf membuatmu terganggu. aku hanya ingin mengambil beberapa barang dalam koper diatas lemari, tapi ada serangga yang membuatku terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan koper itu. mianhae, jika itu mengganggumu" jawab Baek Hyun sembari berusaha bangun, namun sepertinya ada yang salah dengannya.

"Kau kenapa?" tanya Baek Ji lagi, kali ini mendekat pada Baek Hyun.

Baek Hyun menggeleng. "aku baik-baik saja. kau bisa kembali, Ji-ah"

Baek Ji menatap sang kakak yang tak juga bangun. "Jika butuh bantuan katakan saja. kenapa menyusahkan diri sendiri?" ucap Baek Ji sedikit ketus

mendengar penuturan Baek Ji membuat Baek Hyun tersentak. dia melupakan kenyataan jika dalam beberapa bulan belakangan ini, hubungan mereka cukup jauh. dan rasa khawatir yang tadi sempat ditangkapnya dari wajah sang adik mungkin hanya mimpinya.

"Baiklah jika kau baik-baik saja!"

Baek Ji beranjak dari kamar Baek Hyun. sebelum benar-benar pergi, Baek Ji menatap Baek Hyun yang belum mengubah posisinya.

selepas kepergian sang adik, Baek Hyun menekan erat ulu hatinya yang terasa nyeri. terlalu sakit hingga membuatnya bungkam, tak mampu mengerang karena takut jika Baek Ji mengetahuinya.

dengan segenap tenaga yang dimiliki, Baek Hyun merangkak menuju pembaringan. cukup lama baginya untuk mencapai tempat itu.

"Ukhhhh..." erang Baek Hyun akhirnya karena rasa sakit yang sudah tak terperi.

namja itu mengerang pelan saat rasa sakit semakin menjalar ke seluruh tubuh, mematikan fungsi organ dalam tubuhnya. tak lama, kesadaranpun perlahan mulai menghilang.

oOoO

"mianhae, Oppa... ini salahku yang tak peka pada kondisi Hyun oppa. aku tahu ada yang salah dengannya, tapi aku mengabaikan hal itu" aku Baek Ji, saat berhadapan dengan Baek Hyuk, diluar ruang perawatan Baek Hyun. tangisnya siap pecah kapan saja.

sepulang dari kantor, Baek Hyuk yang tak melihat kedua adiknya segera mencari keduanya di kamar masing-masing. Baek Ji ditemukannya tengah bergulat dengan buku materi di dalam kamarnya, sedangkan Baek Hyun sudah terlelap diatas pembaringan. namun posisi tidur Baek Hyun yang dirasa janggal, membuat Baek Hyuk mendekat. dan dia yakin terjadi sesuatu dengan sang adik kembar.

"Yakkkk, Baek Hyun! Ireona!" Baek Hyuk menepuk pipi Baek Hyun hingga beberapa kali, namun tak ada respon dari Baek Hyun.

dirundung kecemasan, Baek Hyuk segera membawa sang adik kembarnya ke rumah sakit.

"Sudahlah, semua sudah terjadi. kedepannya, Oppa harap kau bisa lebih mengutamakan rasa empati daripada egomu, Ji-ah!" ucap Baek Hyun sembari menepuk pelan bahu Baek Ji yang bergetar karena menahan tangis.

"Mianhae, Oppa?"

Baek Hyuk memeluk Baek Ji yang masih menangis.

Baek Hyuk kembali mengingat apa yang telah disampaikan dokter yang menangani Baek Hyun. tentang kondisi sang adik yang mulai menurun drastis.

Kanker hati, stadium lanjut.

mengingat betapa kesakitannya Baek Hyun setiap kali sakit itu menghampiri membuat air mata Baek Hyuk menggenang. terasa cukup berat karena Baek Hyun adalah separuh jiwanya.

"Berhenti menyalahkan diri sendiri. sekarang, masuklah. temani Baek Hyun. Oppa harap, dia mau membuka matanya saat kau ada disana. Jangan perlihatkan rasa sedihmu, karena Oppa takut itu akan membebani bathinnya. hapus air matamu, Chagiya"

"Oppa, aku takut! Aku tak bisa sembunyikan tangisku"

Baek Hyuk kembali memeluk Baek Ji, mencoba menenangkan sang adik yang cukup kalut atas apa yang telah terjadi.

"Keluarkan semua tangismu sekarang, dan segera temui Baek Hyun. jangan biarkan dia menunggu terlalu lama"

setelah beberapa saat, Baek Ji mulai melangkah menuju kamar perawatan Baek Hyun. langkah gamangnya terhenti di depan pintu kamar. antara ya dan tidak.

"Masuklah Baek Ji!" suara itu membuat Baek Ji memantapkan langkahnya. meskipun tak tahu suara itu berasal darimana.

perlahan, tangan gemetarnya membuka pintu kamar. dan saat mendapati Baek Hyun sudah berdiri menyambutnya, Baek Ji langsung menangis dan memeluk sang kakak.

"Oppa, mianhae. Jeongmal Mianhae, Oppa!" tangis Baek Ji yang terdengar cukup pilu membuat Baek Hyun ikut meneteskan air mata.

rasa bersalah yang selama ini bersemayam dalam sanubari membuat mulutnya kelu. tak mampu mengatakan satu katapun. kecuali permintaan maaf.

Baek Hyun semakin erat memeluk tubuh sang adik. rasa penyesalan karena tak sekalipun berusaha meluruskan kesalah pahaman yang terjadi membuatnya tergugu dalam diam. andai sejak awal dia menjelaskan apa yang sebenarnua terjadi, mungkin hubungan keduanya tak akan merenggang.

"Mianhae, Ji-ah. ini semua salah Oppa. Andai waktu itu Oppa bisa menjaga Dong ha dengan baik, maka kau tak akan kehilangannya. Mianhae, jeongmal mianhae. Oppa menyesal tak bisa menjadi sandaran untuk Dong Ha. Mianhae..."

"cukup Oppa. kita semua tahu, semua itu bukan kesalahan kita. itu semua sudah takdir. Oppa, mulai sekarang jangan memikirkan apapun. berusahalah untuk bertahan demi aku!"

pelukan Baek Hyun semakin mengerat pada Baek Ji.

"Kau harus istirahat. tubuhmu masih lemah. aku tak ingin terjadi sesuatu padamu, Oppa!"

Baek Ji memapah tubuh Baek Hyun menuju pembaringan.

"aku tak ingin berada disana. bisakah kau membawaku keluar. ke taman. aku butuh udara segar" tolak Baek Hyun sebelum Baek Ji berhasil membuatnya berada di pembaringan.

"tapi kau masih lemah. kau bahkan baru sadar beberapa jam yang lalu. bisakah kali ini kau tak keras kepala?"

Baek Hyun tertawa mendengar omelan dari Baek Ji. "senang bisa mendengar kau marah-marah, Ji-ah"

"Yakkk, Oppa! kau berusaha membuatku naik darah? berhenti menggodaku"

Baek Hyun masih tertawa mendapati wajah Baek Ji yang mulai memerah karena malu.

"Annyeong..."

suara seseorang menghentikan tawa Baek Hyun.

"Ah mianhae, sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat. oke, aku akan kembali nanti"

"Hyung... jangan pergi!"

orang itu berbalik, dan kini berjalan menghampiri kedua adiknya.

"Omooo, Baek Ji, apa yang terjadi dengn wajahmu? seperti kepiting rebus"

"Kalian membuatku kesal!" teriak Baek Ji sembari memukul pelan tubuh Baek Hyuk yang kini sudah berada disampingnya. sedangkan Baek Hyun kembali meneruskan tawanya yang tadi sempt terhenti.

"Hyung, aku ingin keluar" Baek Hyun menginterupsi.

"Hyun-ah. dengarkan Hyung. untuk saat ini, cobalah untuk mengembalikan kondisimu dahulu. jangan tergoda untuk melakukan hal-hal yang belum bisa kau kerjakan. singkirkan keinginan jika itu bertentangan dengan kondisimu. kita semua tahu, kau baru saja bangun dan tentu butuh istirahat yang cukup. jika kau ingin keluar sekarang, Hyung yakin kau akan kesulitan nantinya. percayalah, Hyung akan membawamu keluar jika kondisimu sudab stabil..."

"Hyung, aku hanya ingin keluar dari kamar. ke taman. bukan kembali ke rumah"

"Aku tahu. tapi tetap saja, kau belum boleh keluar karena kondisimu yang masih labil. ingat apa yang tadi Hyung katakan!"

"Hyuk Oppa benar. kau harus istirahat penuh! aku akan mengawasimu sepenuhnya!"

Baek Hyun tersenyum. dalam hatinya mengucap beribu-ribu rasa terima kasih karen sekarang semua sudah kembali seperti sedia kala.

"Baiklah. aku akan istirahat saja. kalian juga seharusnya istirahat. aku akan mengawasi kalian. remember it!"

Baek Hyuk dan Baek Ji tertawa mendengar apa yang disampaikan Baek Hyun.

oOoO Mianhae, Oppa oOoO

Baek Hyuk dan Baek Ji tengah menyantap menu sarapan mereka tanpa Baek Hyun. keduanya melirik ke dapur saat mendengar suara ribut yang Baek Hyun ciptakan karena sibuk dengan aktivitasnya memasak untuk bekal yang akan mereka bawa piknik hari ini. Baek Hyun tak mengizinkan kedua saudaranya untuk ikut dalam kegiatan memasak yang sedang dilakukannya. dan sebagai gantinya, dia meminta kedua saudaranya untuk melahap menu sarapan yang telah dibuatkan.

"Hyung jangan khawatirkan aku. habiskan saja makan kalian! aku bisa menangani ini!" teriak Baek Hyun dari ruang dapur.

"Arraseo. katakan jika kau butuh bantuan!" balas Bark Hyuk, lalu meneruskan kembali santapannya.

sementara itu, Baek Hyun tengah bergelut dengan menu yang akan mereka bawa piknik ke sebuah bukit yang selama hampir tiga tahun tak mereka kunjungi. dengan senang hati, Baek Hyun yang jago memasak iyu menyelesaikan misinya dengan sempurna.

oOoO

Baek Hyun menghirup udara sedalam-dalamnya karena sudah cukup lama tak mendapatkan aroma sejuk udara pegunungan. tak jauh berbeda dengan kedua saudaranya yang kini malah asyik memperhatikan tingkah Baek Hyun.

"wae? Waeyo? kalian tak suka aku melakukannya?"

"Ani.." balas Baek Ji dan Baek Hyuk hmpir bersamaan.

"Lalu? kenapa kalian tertawa? aku terganggu dengan hal itu. seperti kalian tengah menertawakanku"

"Ani..!" balas kedua saudara Baek Hyun hanpir bersamaan lagi. "Lakukan apa yang kau inginkan. jangan hiraukan kami! kami senang kalau kau senang. jadi nikmati saja hari ini! abaikan kami jika itu mengganggumu!" terang Baek Hyuk saat mata Baek Hyun mulai menelisik.

"Yakkkk! aku mengajak kalian kesini bukan untuk melihatku menikmati alam ini sendiri tapi kita harus menikmatinya bersama-sama. kita tak pernah melakukan hal ini sejak kepergian appa dan eomma. jadi kita harus benar-benar menikmati kebersamaan ini. jangan katakan semua demi aku. aku tak suka sama sekali dengan hal itu"

"Arraseo... kami akan ikut menikmati hari ini denganmu!"

begitulah hari itu mereka habiskan dengan melakukan kegiatan yang tak pernah mereka lakukan bersama.

sebelum meninggalkan lokasi, Baek Hyun mengajak mereka untuk berfoto bersama.

dan setelahnya mereka nergegas kembali ke rumah.

oOoO

tengah malam.

Baek Hyuk yang memutuskan untuk tidur dengan sang adik kembar mendengar suara aneh dari kamar mandi. seperti orang yang tengah muntah. dan saat bangun, dirinya tak mendapati sang adik di pembaringan.

dengan langkah tergesa, Baek Hyuk mendekati kamar mandi dan betapa terkejutnya dia mendapati kondisi Baek Hyun yang mebgebaskan. darah tercecer disekeliling Baek Hyun yang tergeletak tak berdaya. nafasnya terlihat kembang kempis. membuat jantung Baek Hyuk berdetak cepat.

"Baek hyun! ireona! yakkkk! Baek hyun!" teriak Baek Hyuk membabi buta.

tanpa mempedulikan apapun lagi, Baek Hyuk segera membawa sang adik menuju rumah sakit. meninggalkan baek Ji yang masih terlelap.

ICU, Rumah sakit

Setelah sejam mendapat perawatan darurat dari tim medis, Baek Hyun di tempatkan diruang ICU karena kondisonya yang kritis.

Baek Hyuk menatap sang adik dari balik pintu ruang ICU yang tembus pandang. tangisnya sudah tak mampu dibendungnya.

"Oppa!" panggilan dari Baek Ji menyadarkannya. "Bagaimana Hyun oppa? apa kata dokter?"

Baek hyuk menggeleng, dan air matanya kembali berderai mendengar pertanyaan dari Baek Ji.

Baek Ji memeluk sang kakak dan menumpahkan seluruh tangisnya dalam pelukan Baek Hyuk. keduanya terlarut dalam kesedihan.

"Bolehkah aku masuk?"

Baek Hyuk mengangguk.

kemudian Baek Ji masuk kedalam ruang ICU. dilihatnya sang kakak yang terbaring dengan berbagai macam alat medis terpasang pada tubuhnya.

"Oppa..." panggil Baek Ji setelah duduk disamping pembaringan Baek Hyun. Bark Ji meraih jemari Baek Hyun yang tak berdaya, putih pucat. mengusapnya pelan, lalu menempelkan pada pipinya. "Oppa, kita baru saja memulai semuanya dari awal. haruskah berhenti sekarang? apa kau benar-benar akan meninggalkanku? meninggalkan kami?" tanya Baek Ji dalam tangisnya.

tak ada sahutan dari Baek Hyun.

"Andai waktu dapat kembali ke masa itu" lanjut Baek Ji. dan masih tak ada tanggapan dari Baek Hyun.

"mianhae Oppa, jeongmal mianhae? bisakah kau kembali? maukah kau kembali bersama kami? tak inginkah kau bersama kami?" tanya Baek Ji masih dalam tangisnya.

"Baek Ji-ah. Oppa harus pergi. jaga Hyuk Hyung dengan baik. saranghae" bisik Baek Hyun yang tak mampu di dengar oleh Baek Ji.

Baek Ji tersentak saat tangan Baek Hyun yang berada dalam genggamannya mulai bergerak. sontak, yeoja itu berteriak memanggil paramedis yang bertugas di ruangan itu.

Baek Hyuk datang dan langsung memeluk tubuh Baek Ji yang bergetar hebat.

"Hyun Oppa akan bangun kan Oppa? aku merasakannya. dia menggerakkan tangan"

dokter menghampiri kedua bersaudara itu.

"kondisinya sudah sangat lemah"

satu kalimat itu mampu menjelaskan apa yang tengah terjadi.

setelah paramedis menyingkir, Baek Ji dan Baek Hyuk mendekati pembaringan Bark Hyun.

"Hyung..." panggil Baek Hyun, sembari mengangkat tangan berharap uluran itu disambut Bark Hyuk.

"Nde, hyung disini. jangan banyak bergerak. kau masih lemah" balas Baek Hyuk sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Baek Hyun.

Baek Hyun mengangguk. lalu pandangannya mengarah pada Bark Ji yang berdiri tak jauh dari Baek Hyuk.

"Ji-ah..." panggil Baek Hyun.

Baek Ji mendekat. tangisnya semakin berderai, membuat Baek Hyun ikut menangis. "jangan menangis" lanjut Baek Hyun. "Oppa menyayangimu. jangan menangis"

mendengar apa yang dikatkan Baek Hyun membuat tangis Baek Ji semakin menjadi.

"Oppaaaa!" Baek Ji merangsek, memeluk Baek Hyun yang sudah sangat lemah. "Jangan pergi. ku mohon!"

tak ada balasan dari Baek Hyun karena namja itu berusaha untuk menahan tangisannya.

"Jangan banyak bergerak Hyun. kau harus banyak istirahat. kau akan segera pulih. kami akan menunggumu" ucap Baek Hyuk, berusaha menghibur diri sendiri. sekuat tenaga, namja itu menahan air mata yng telah menggenang dipelupuk matanya.

"Saranghae Hyung... Saranghae Ji-ah! Mianhae. Jeongmal mianhae..."

oOoO Mianhae, Oppa oOoO

Baek Hyuk dan Baek Ji menatap nanar bingkai foto berisikan gambar mereka bertiga, saat berada di bukit, beberapa bulan yang lalu. masih jelas dalam ingatan mereka berdua kenangan manis bersama Baek Hyun waktu itu.

"Oppa, boghosippo... mianhae, jeongmal mianhae" ucap Baek Ji.

tangisnya sudah pecah sejak mengantarkan Baek Hyun menuju peristirahatan terakhirnya.

pelukan Baek Hyuk tak menyurutkan tangisnya, malah semakin membuat tangis yeoja itu kian pilu.

"Berhenti menyiksanya, Baek Ji. ingat pesan baek Hyun yang sudah kau janjikan"

Baek Ji menggeleng. tentu sangat sulit baginya untuk melepas kepergian sang kakak. namun dengan sepenuh hati, Baek Ji akan berusaha untuk menepati janji pada sang kakak.

"nde, oppa. aku akan menepati janjiku!"

baek hyuk menepuk pelan bahu Baek Ji, berusaha menguatkan hati sang adik.

"selamat jalan, Baek Hyun/Oppa!" bathin Baek Hyun. dan baek Ji bersamaan.

oOoO Fin oOoO

Annyeonghaseo yeorobum...

Ini FF berchapter tapu berbeda tiap chapternya.

hanya satu yang sama, yakni FF ini mengandung unsur angst...

selamat menikmati..

dan mohon maaf atas typo yang bertebaran.

harap maklum, project nya diketik lewat mobile, jadi tak sempat edit?

are you wanna next chapter?

don't forget to R n R

thank a lot