NARUTO

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Sasuke X Ino

~Chapter 2~

Suara bus sekolah tiba terdengar dari depan halaman rumah.

"Mom, I'm home!" terdengar suara imut seorang gadis cilik yang bergema di seluruh halaman rumah bergaya American style tersebut.

Wanita yang dipanggil oleh anak itupun menoleh, berhenti sejenak dari kegiatan menanam bunganya barusan. Senyuman manis terukir di wajah wanita cantik tersebut, ia tersenyum melihat kepulangan putri kecilnya yang baru saja kembali dari kegiatan belajarnya di sekolah.

Anak itu pun berlari menuju tempat ibunya berada, Ibunya menyambut putrinya itu dengan pelukan hangat dan kecupan ringan di kedua pipi chubby putrinya.

Yamanaka Ino,yang ternyata adalah si ibu muda dari gadis kecil itu . Ino juga merupakan adik dari pemilik Yamanaka café di Tokyo. Sebelumnya, Ino dan putrinya ini menetap di California, namun kali ini ia kembali lagi ke Jepang untuk mengambil alih café kakaknya, Deidara yang memutuskan untuk kembali melanjutkan study S3 ny diluar negeri.

Dan disinilah Ino, kembali ke Tokyo dimana semua kenangan yang ingin Ino lupakan terjadi. Sudah 3 bulan lamanya Ino dan putrinya , Yamanaka Nami yang berumur 5 tahun ini menetap di Tokyo, dan selama 3 bulan ini pulah, Ino masih belum bertemu dengan dia. Ino tahu kalau orang itu masih berada di Tokyo dan cepat atau lambat mereka akan kembali bertemu. Ino sudah siap jika mereka bertemu nanti walaupun dengan memikirkan hal itu saja sudah bisa membuat Ino merasa bagaikan jelly.

"5 tahun telah berlalu, kau harus melepasnya Ino" gumam hati Ino mengingatkan.

Si gadis kecil yang melihat ibunya sedang berkebun menanam bunga tampak menunjukan raut kecewa di wajah imutnya, "Nami kan sudah bilang , bunganya biar Nami yang tanam saja Mom"

Ino menggigit bibirnya, merasa bersalah kepada putrinya.

"Maaf Nami, Ibu lupa hehe.." ujar Ino meminta maaf.

Putrinya hanya terdiam sembari menyilangkan kedua tangan mungil miliknya di depan dadanya. Nampaknya Nami masih ngambek dan kecewa dengan ibunya.

"Kau sangat mirip dengan ayahmu, mudah kecewa karena hal-hal kecil.." ucap Ino didalam hati sambil tersenyum melihat tingkah putrinya.

Ino lalu mencubit ringan pipi Nami, lalu berkata "Tenang, Ibu telah menyisahkan bibit bunga Matahari untuk Nami tanam kok"

Seketika itu juga, ekspresi Nami berubah menjadi senyuman riang bak seorang anak kecil yang baru dibelikan permen.

"Baiklah, sebelum Nami menanam bunga , Nami ganti baju dulu ya, ayo masuk" ajak Ino.

Ino menuntun Nami masuk ke dalam rumah mereka, dan langsung menuju kamar Nami di lantai 2.

"Jadi, ayo ceritakan pada Ibu tentang sekolah Nami hari ini" ucap Ino tersenyum lembut sambil membantu Nami berganti baju.

"it was fun ,Mom. Guru-guru dan teman-teman disana sangat ramah padaku"

"Really? Lalu Nami sudah belajar menulis Kanji dan berbahasa Jepang ?"

"a little, and I have 2 friends, they taught me how to speak Japanese" jawab Nami.

Ruangan kamar Nami dipenuhi oleh berbagai macam benda, mulai dari mainan-mainan anak perempuan, kasur kecil , lemari baju anak, dan boneka-boneka imut lainnya. Berbeda dangan Ino yang menyukai warna ungu, Nami layaknya anak perempuan pada umumnya menyukai warna pink dan kamarnya pun didominasi oleh warna soft pink.

Di sepanjang dinding kamar Nami, terdapat juga beberapa lembar gambar-gambar karya Nami yang ditempel sana sini oleh dirinya sendiri. Beberapa diantara nya adalah lukisan Ayahnya yang ditempel di atas tempat tidurnya. Ya, lukisan tersebut merupakan lukisan kesayangan Nami.

Nami tahu tentang Ayahnya. Ibunya tak pernah menyembunyikan hal tentang ayahnya kepada Nami. Bahkan sejak kecil, ibunya telah memperlihatkan foto ayahnya selain itu ibunya juga menasehati Nami untuk selalu mencintai ayahnya layaknya ia mencintai dirinya sendiri. Jadi, sampai sekarang Nami hanya mengetahui ayahnya sebatas dari foto dan walaupun tidak pernah bertemu secara langsung, Nami sangat menyayangi ayahnya.

"Ibu senang mendengarnya, bolehkah ibu bertemu dengan mereka hm?" Tanya Ino kembali.

"tentu mom, kapan-kapan Nami akan ajak mereka untuk datang kemari" ujar Nami senang.

"ehmmm, Mom..?"

"Iya Nami..? ada apa ?"

"Apakah Daddy juga bisa berbahasa Inggris seperti kita?"

Ino tersenyum lembut, sebelum akhirnya menjawab, "Daddymu itu sangat mahir berbahasa Inggris, namun ia lebih sering menggunakan bahasa Jepang.."

Nami hanya mangut-mangut mendengar jawaban ibunya, "kalau begitu Nami harus belajar bahasa Jepang biar sama seperti Daddy" ujar Nami riang.

Pertanyaan seputar Daddy-nya merupakan pertanyaan favorite Nami. Bahkan, Nami menyiapkan rencana untuk menemukan Daddy-nya,Nami percaya bahwa Daddy-nya menghilang karena telah diculik dan Nami yakin bahwa hanya ia sendiri yang bisa menyelamatkan Daddy-nya itu. Begitulah pemikiran anak-anak.

"Mom, dimana aku bisa menemukan Daddy?"

"Ibu sudah memberitahu Nami bukan?"

Nami menghembuskan nafasnya , kecewa karena jawaban Ino selalu sama setiap kali ia bertanya seputar Daddy-nya yang hilang itu, "Ya mom, I remember..finding dad is like finding Nemo" jawab Nami.

"Nah, sekarang ayo kita kembali berkebun.." ajak Ino mengalihkan topik.

Nami yang masih kecil dengan mudahnya terpancing dan berkata dengan riang "Let's go plant!"

"Jika kau bertemu dengan Nami, apa kau akan menerimanya ? apa kau akan menyayanginya?" gumam Ino , bertanya entah kepada siapa.

"Selamat datang di café kami" ujar pelayan café menyambut kedatangan Ino dan Hinata. Ino memutuskan mengajak Hinata untuk mampir ke café di dekat rumah sakit tempat Hinata bekerja.

Hinata adalah teman baik Ino, sekarang Hinata telah berprofesi sebagai dokter di rumah sakit tersebut. Hinata juga merupakan Ibu muda layaknya Ino, ia menikahi Aburame Shino dan memilik seorang putra yang baru berumur 3 tahun bernama Akira. Saat Ino dan Hinata keluar bersama, Akira dan Nami akan dititipkan pada Shino, seperti saat ini.

2 wanita cantik tersebut mencari tempat duduk yang pas disana dan mereka memutuskan untuk duduk didekat jendela.

"Ino-chan, mengapa kita harus ke café ini padahal kau sendiri memiliki café bukan?" Tanya Hinata memulai perbincangan.

"Marketing strategies" ujar Ino mengedipkan matanya. Ino memerhatikan sekeliling café tersebut, tempatnya lebih kecil daripada café miliknya, namun suasana dan musik di café ini menjadi nilai plus yang membuat café ini ramai dan tak pernah sepi.

"kurasa kau tak perlu sampai seperti ini Ino-chan, café mu sudah cukup terkenal kok" ucap Hinata tersenyum geli mendengar jawaban teman kecilnya itu.

"hehehe… , aku hanya kehabisan ide untuk café kakakku itu, jadi aku memutuskan untuk mampir ke café lain , siapa tahu aku akan mendapat beberapa inspirasi hehe.." ujar Ino.

"ngomong-ngomong, Jumat ini aku akan menghadiri sebuah acara.."

"hmm? Acara apa Hina-chan..?"

"sebenarnya yang diundang adalah Shino-kun, namun karena ia berhalangan aku rasa aku yang akan datang mewakilinya, dan aku bermaksud untuk mengajakmu menemaniku disana, kau tidak ada acara kan jumat ini?" Hinata menjelaskan panjang lebar.

"Jumat ini? Acara macam apa?" Tanya Ino.

"pembukaan restoran, kakak dari salah satu teman Shino yang menyelenggarakan acara tersebut, jadi bagaimana? Kau ikut ? aku juga akan membawa Akira bersamaku.."

"baiklah, aku akan membawa Nami juga kalau begitu.."

"besok akan kukabari lebih lanjut ya.." ujar Hinataa, "hey, bukankah itu Neji-nii?" tambah Hinata sambil menunjuk kearah counter café tersebut. Ino mengarahkah pandangannya kearah yang ditunjuk oleh Hinata.

"Neji ? siapa dia?" Tanya Ino karena merasa asing dengan nama tersebut.

"Neji-nii, sepupuku Ino-chan.."

"1 hot caramel macchiato untuk nona Ino" ucap salah seorang pelayan yang ternyata adalah Neji, orang yang sedang ia dan Hinata bicarakan.

Ino baru akan beranjak untuk mengambil pesanannya, namun Hinata menahan dirinya "biar aku saja yang mengambilnya.." tawar Hinata.

Ino kembali duduk di kursinya, ia melihat keluar jendela. Memerhatikan gelap malam yang semakin larut, Ino hanyut sejenak dalam pikirannya.

Ino ingat saat dirinya masih menjadi suster di rumah sakit tempat Hinata bekerja, biasanya Ino dan orang itu akan mampir ke café ini dan menikmati waktu bersama. Orang itu selalu menunggunya tak peduli betapa lama urusan Ino. Hal inilah yang paling disukai oleh Ino dari orang itu, orang itu selalu sabar jika menyangkut urusan Ino.

"1 ice caramel macchiato untuk tuan Sasuke" ujar pelayan yang lain dengan suara yang cukup lantang sehingga terdengar oleh Ino.

Ino terkejut mendengar nama itu kembali tergiang di kepalanya.

"tenangkan dirimu Ino, banyak orang yang bernama sama di dunia ini.." bisik Ino untuk meyakinkan dirinya sendiri. Namun walau begitu, kepala Ino tetap saja menoleh untuk melihat seperti apa rupa orang yang barusan dipanggil oleh pelayan tadi.

Pemuda berperawakan tinggi, dengan kulit putih dan model rambut mencuat ke belakang yang saat itu sedang memakai kaos hitam.

Ya, itu dia

Orang itu

Daddy-nya Nami

Lelaki yang bersamanya 5 tahun yang lalu, yang masih selalu dipikirkannya.

Uchiha Sasuke

Walau hanya melihatnya dari belakang, Ino yakin orang itu adalah Sasuke. Suara Ino tercegat di tenggorokan, tak bisa berkata-kata. Bahkan tidak bertemu secara tatap muka saja sudah membuat Ino sampai seperti ini. Sensasi kupu-kupu berterbangan di perutnya mulai terasa. Ya, hanya Sasuke yang bisa membuatnya merasakan hal seperti itu.

Berlahan , Sasuke tampak telah selesai dengan urusannya dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu begitu saja.

Ya, meninggalkan Ino sekali lagi, begitu saja.

Ino hanya tersenyum miris memandangi punggung Sasuke dari jauh.

~To be continue~

ReadnReview ! :)