Hay kalian yang sudah nunggu lamaaaa banget, trims banget yah kalian rela nungguin saya updet sampai selama ini, trims juga buat yang uda dukung n support lewat PM n Review.

semoga chapter ini bisa membayar kesalahan saya karena telah lama updatenya, Thanks :D

NARUTO

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Paring : SasukeXIno

~Chapter 4~

-SASUKE's POV-

"Halo?" Ucapku mengangkat panggilan ponsel ku, hari itu adalah sehari setelah malam pertemuanku dengan Ino.

"Teme ! cepat datang, kami semua sudah tiba di Bar, jangan membuat kami menunggu lebih lama.." Sahut Naruto dari seberang sana.

"Ya,ya.. Aku sedang bersiap-siap, bersabarlah sebentar.." Ujar ku mengakhiri pembicaraan.

Saat ini aku sedang bersiap-siap untuk pergi menuju tempat biasa kami berkumpul, aku telah berjanji akan menemui mereka dan menceritakan kepada mereka sebuah berita besar.

Sebelum akhirnya aku beranjak pergi, lagi-lagi aku tersenyum mengingat kejadian kemarin malam.

-Flashback-

Aku menatap lekat bola mata biru milik wanita yang sekarang sedang berdiri di hadapanku, Ia pun juga melakukan hal yang sama.

Malam ini Ino mengenakan dress berwarna ungu, hal ini lantas membuatku tersenyum dalam hati mengingat betapa Ino sangat menyukai warna ungu. Rambutnya dicepol satu, memperlihatkan tengkuknya yang putih. Ia sangat menawan dan selalu menawan. Entah mengapa aku merasakan ada sesuatu yang berubah dari sosok Ino, namun apapun itu perubahan tersebut membuat Ino semakin cantik. Aku benar-benar tak bisa berhenti memujinya.

Kurasakan ada sedikit sentuhan lembut pada tanganku, ternyata itu adalah tangan mungil milik gadis cilik yang Ino panggil Nami. Nami menarik tanganku dan menuntunku menuju tempat Ino berdiri. Saat jarak kami hanya tinggal beberapa langkah, aku menghentikan gerakan kakiku. Aku tak dapat mendekat lagi karena aku tahu, saat nanti aku di dekatnya aku takkan bisa mengendalikan diriku untuk tidak memeluknya.

"H-hey.." sapa ku dengan suara sedikit bergetar berusaha mengawali pembicaraan kami.

Baiklah, aku sadar aku pasti terlihat bodoh sekarang.

"Sasuke" ucap Ino.

Mendengar namaku keluar dari bibir tipisnya, membuatku merasakan sensasi aneh. Sebuah sensasi yang sudah lama tak kurasakan.

"Mom, ini Daddy" sela Nami dengan suara cerianya.

Ino nampak berdehem sejenak untuk mengusir kecanggungan, dan sampai saat ini pun aku masih bingung mengapa anak bernama Nami ini terus memanggilku dengan sebutan 'Daddy'.

Apakah mungkin?
Muncul banyak kemungkinan di pikiranku yang tentunya menuntut untuk segera dipecahkan.

"sebentar" ujar Ino kepadaku sembari membawa Nami menjauh. Kulihat Ino membisikan sesuatu kepada Nami.

"Nami-chan" terdengar suara wanita yang memanggil dari kejauhan. Penasaran dengan si pemilik suara, aku pun menoleh ke asal suara tersebut.

Hinata? Aku harus menceritakan ini pada Naruto.

Hinata berlari ke tempat kami dengan seorang anak lelaki yang tampak tertidur pulas di gendongan nya.

"oh? Oh.." Hinata tampak terkejut saat melihat kami bertiga.

Hinata, wanita ini tidak berubah masih saja polos seperti dulu. Seandainya ku ajak Naruto ikut denganku malam ini, mereka pasti akan bertemu.

"Hina-chan, bisakah kutitip Nami sebentar denganmu?" pinta Ino yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Hinata. Nami pun menurut dan pergi dengan Hinata , meninggalkan aku dengan Ino berdua.

"Jadi.."

"Jadi.."

Ucap kami bersamaan.
Hal ini membuat suasana yang sudah canggung menjadi semakin parah, Sial.

"Hey Sasuke, sudah lama tidak bertemu.." sapa Ino dengan santai, berbanding terbalik denganku yang mati-matian menahan degup jantung.

"bagaimana kabarmu ?" Tanya Ino kembali.

Kabarku? Hidupku buruk semenjak kau pergi menghilang begitu saja ,bodoh !
seandainya aku mempunyai keberanian untuk mengatakan hal itu.

"Aku baik-baik saja, tempatku bekerja masih sama dan aku masih.. sendiri" sahutku dengan sedikit ragu di bagian akhir karena pada kenyataannya aku memang tidak sendiri lagi.

"Bagaimana denganmu?" tanyaku balik.

Kemana saja dirimu selama 5 tahun ini? Kau tahu ? aku mencarimu kemana-mana.

Ino tersenyum tipis, "Kabarku baik, aku.." Ino berhenti sejenak.

"k-kami baru pindah kemari 3 bulan yang lalu.." Lanjut Ino.

Kami? Mungkinkah Ino telah berkeluarga ?

Tebak ku didalam hati yang jujur saja aku harap merupakan tebakan yang salah.

"Maksud mu ? Kau dan..?" tanyaku memastikan.

"Aku dan Nami"

"Hanya kalian berdua?" Tanya ku meyakinkan , berharap Ino mengiyakan nya. Dan sepertinya Tuhan mendengar doaku, Ino menganggukkan kepalanya.

"Nami itu putri mu kan?" Aku memberanikan diri untuk mengangkat topik tentang Nami yang sedari tadi membuatku penasaran.

"Ya, Nami itu putriku" jawab Ino tanpa memandangku.

"lalu? Mengapa ia memanggilku….. 'Daddy' ? " akhirnya pertanyaan ini keluar dari mulutku.

"Sasuke.."

Ino tampak ragu, namun akhirnya melanjutkan "Kau adalah Ayah Nami.."

-INO's POV-

Aku merindukannya.
Perkataan itulah yang terus membayang-bayangi benakku selama kami duduk di ayunan ini.

Tidak seperti yang kuduga, ternyata Sasuke dengan lega menerima keberadaan Nami. Aku ingat senyuman tulusnya ketika kuberitahu bahwa ia adalah Ayah Nami.

Aku bahkan menawarkan kepadanya untuk mengikuti Tes DNA jika memang ia tak percaya kalau Nami adalah putrinya, namun ia tak menjawab melainkan masih asik tersenyum sendiri akan berita yang barusan ia dengar.

Aku sekali lagi kembali menata perasaanku. Aku telah berjanji pada diriku sendiri , ketika aku bertemu dengan Sasuke, aku hanya akan memberitahukannya tentang Nami, Sasuke boleh bertanya apa saja tentang Nami, tidak lebih.

Jujur aku sangat rindu padanya, namun aku tak boleh memperlihatkan perasaanku padanya, aku tidak boleh mengulangi kesalahanku.

Aku telah memaafkan Sasuke atas apa yang terjadi 5 tahun yang lalu, Aku baik-baik saja. Namun, yang tak dapat kulupakan adalah rasa sakit yang kurasakan saat itu, dan aku benar-benar tak ingin hal itu terulang lagi.

Kami menikmati suasana tenang mala mini. Malam ini begitu indah untuk kami berdua, atau setidaknya untukku. Setelah ini, aku sudah tak tahu akan bagaimana, apa yang akan terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan Sasuke dengan Nami, denganku, dan semuanya. Jujur, aku tak menyangka kalau semuanya akan begitu cepat terjadi.

"Boleh aku menemuinya?" Tanya Sasuke memecah keheningan.

"Tentu" ujarku, lalu aku mengambil selembar kertas dan pulpen lalu menuliskan alamat rumah kami.

"Nami ada kelas di hari Senin,Rabu dan Jumat. Ia anak yang periang, kau harus melihatnya ketika ia memakai seragam, ia sangat imut.." Aku berkata dengan riang, dan tanpa sadar tersenyum padanya. Sasuke terpana menatapku, menyadari hal itu aku segera kembali terdiam.

Kendalikan dirimu Ino !

Tak lama kemudian, Nami muncul entah darimana, dengan Hinata dan Akira yang tertidur di gendongan ibunya.

"Uhm, Ino-chan.. Aku akan menunggumu di mobil" Ujar Hinata meninggalkan kami bertiga di taman itu lalu tampak berpamitan dengan Sasuke di sebelah ku. Kami sama-sama terdiam saat ini, dan Sasuke hanya menatap Nami dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan.

"Ayah?" panggil Nami lembut dengan suara lucunya, "Ayah sudah ingat sama Nami?"

Mendengar pertanyaan polos keluar dari mulut Nami, aku menepuk ringan dahiku. Aku baru ingat, sebelumnya aku berbohong pada Nami kalau ayahnya adalah seorang yang pelupa seperti (1)Dory sehingga ia lupa kalau ia telah memiliki seorang putri. Dan aku juga belum menjelaskan kebohonganku ini pada Sasuke. Duh.

Namun kurasa Sasuke mengerti, buktinya sekarang ia tampak berjongkok dihadapan Nami untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Nami.

"Nami" ucap Sasuke dengan suara bergetar,"Boleh Ayah memelukmu?"

Nami menutup jarak di antara mereka, tangan mungil nya memeluk erat lelaki didepannya itu, "Daddy!"

Aku mengalihkan pandanganku, berusaha menahan airmata yang sudah terbendung di ujung mata ku. Rasanya sangat bahagia melihat mereka, sampai-sampai aku terharu seperti ini. Akhirnya putri kecilku bertemu dengan Ayahnya. Tak ada kata-kata yang bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini.

Mereka masih terus berpelukan untuk beberapa saat, sebelum aku merasakan getaran pada Handphone ku.

"ya Hinata?"

"Ino-chan, maafkan aku tapi kita harus segera pulang... aku menerima panggilan darurat dari rumah sakit"

"ehm baiklah"

"Maaf Sasuke, aku dan Nami harus kembali sekarang, Hinata menerima panggilan darurat dari rumah sakit" ujarku kepada sepasang Ayah anak di hadapanku.

Dapat kulihat rasa kecewa terpatri di wajah Sasuke, bahkan Nami mulai melancarkan pandangan memohonnya padaku.

"Jangan khawatir Nami, kau masih bisa bertemu dengan Daddy mu kok.." ucapku sambil menarik lembut tangan Nami untuk mengikutiku. Mendengar itu, mendadak saja raut 2 manusia berbeda umur didepanku itu berubah menjadi senang.

Like Father , Like Daughter.

"Benarkah ? kapan ?" Tanya Nami antusias.

"Besok.." jawab Sasuke semangat, "Atau mungkin Lusa ? Atau Senin ?"

"Ehm itu pun jika kau tidak keberatan Ino.." Tambah Sasuke cepat sambil menatapku dengan pandangan puppy eyes miliknya.

Aku rindu pandangan itu.

"Lusa, tepatnya hari Minggu.. kau boleh mengunjungi kami.. Ehm maksudku Nami.." ucapku terburu-buru, sadar bahwa yang ingin ditemui Sasuke adalah Nami,bukan aku, hanya Nami.

Menyadari kesalahanku, Sasuke menyeringai tipis.

Apa-apaan dia, masih bisa meledek diriku seperti itu.

Selanjutnya, Sasuke berpamitan dengan Nami dengan mengecup ringan dahi Nami. Aku yang memandangi mereka hanya tersenyum tipis, bahagia melihat putriku bahagia.

Akhirnya aku dan Nami berjalan meninggalkan Sasuke seorang diri di taman itu, namun tiba-tiba Sasuke memanggilku dari belakang, "Ino.."

"Ya?" aku menoleh ke tempatnya berada.

"Terima kasih" Sasuke tersenyum, semakin memamerkan ketampanannya yang membuat membuat kaki ku terasa lemas dan wajah ku merah padam.

Arggght! Kenapa harus tersenyum segala.

"S-sama-sama Sasuke.." balasku segera berangsur dari tempat itu.

-End of INO's POV-

-End of Flashback-

Sasuke keluar dari mobilnya dengan raut muka cerah , tidak seperti biasanya.

"Aku tak sabar melihat reaksi mereka.." ucap Sasuke dalam hatinya.

"Hey ! lihat siapa yang datang ?" ucap Kiba semangat, menyambut Sasuke yang saat itu baru memasuki Bar.

"Oi Teme, kenapa lama sekali ? aku bahkan telah menghabiskan 2 kaleng bir saat menunggumu.." ujar Naruto dengan cengiran khas miliknya.

"Apa berita besar yang ingin kau ceritakan ?" Tanya Sai, salah satu teman dekat Sasuke yang selalu tampak tenang .

"Nanti akan ku ceritakan, tidakkah kalian ingin bersenang-senang dulu?" sahut Sasuke

"kami sudah cukup bersenang-senang saat menunggumu, bodoh.." ujar Naruto yang sepertinya sudah sedikit mabuk.

"Hey, dimana Shikamaru?" Tanya Sasuke menyadari absennya Shikamaru, si Pemalas Jenius itu.

"Shika pergi menemani Temari ke rumah orang tuanya di Suna.." Jawab Kiba

"sepertinya Shikamaru akan menjadi yang pertama yang akan menikah di antara kita" tambah Kiba.

Sasuke sedikit terkejut, namun ia tentunya bahagia mendengar berita ini. Di antara mereka berlima, Shikamaru memang sosok yang paling dewasa dalam menjalani hidupnya. Wajar saja jika Shikamaru yang akan melepas masa bujangnya pertama kali, bahkan pasangan Shikamaru juga merupakan perempuan yang umurnya lebih tua 3 tahun diatasnya.

"hey jangan mengalihkan pembicaraan, apa 'Berita Besar' mu , hmm ?" ucap Naruto yang sudah penasaran sembari menikmati minuman miliknya.

"baiklah, jadi.." Sasuke berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.

"kemarin malam, aku bertemu dengan Hinata.."

Raut wajah Naruto sontak menegang mendengar nama Hinata disebut.

"dan aku bertemu dengan Ino.."

Kali ini Kiba tersedak camilan yang sedang dimakannya.

"Kau bertemu dengan mereka?" Tanya Naruto memastikan.

"ya, dan selain itu aku juga bertemu Nami.."

"Siapa Nami?" Tanya Sai.

"Putri Ino.." sahut Sasuke seadanya.

"APA?" Ucap Kiba dan Naruto serentak, terkejut mendengar penuturan Sasuke.

"Teme? Kau tidak ap.." ucapan Naruto disela oleh Sasuke.

"dan Aku telah menjadi seorang Ayah sekarang." Lanjut Sasuke dengan senyuman terukir di bibirnya.

"ini gila.." ucap Naruto mengerti dengan maksud perkataan Sasuke tentang statusnya sebagai 'Ayah' .

Berita 'Besar' ini nampaknya terlalu 'Besar' untuk dicerna oleh Naruto dan kawan-kawan nya.

"Hinata? Bagaimana dengan Hinata? Kau bertemu denganya bukan?" Tanya Naruto antusias.

Sasuke tersenyum tipis melihat reaksi Naruto. Sasuke sangat mengerti bahwa Naruto sendiri sampai saat ini masih belum bisa melupakan cinta lamanya itu, sama seperti dirinya.

"hmm? Kau harus melihatnya sendiri.."

Sepertinya malam ini akan menjadi malam dimana sepasang sahabat ini bernostalgia dengan masa lalu mereka.

~To Be Continued~

Duh, maaf lama update nya yaa *sujudsembah*

Saya ada kendala baru nih pas mau upload chap ini, ternyata sekarang situs ud gabisa dibuka lagi di browser laptop saya, jadi ya benar-benar repot.
Kalau ada yang punya solusi, boleh bantu saya yaa.. hehe

Sekian chap4 nya, maaf telat n mengecewakan ya , RnR ! :D