NARUTO
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasukeXIno
~chapter 5~
-INO's POV-
Fiuh, lelahnya hari ini.
Setelah seharian menemani Hinata, akhirnya aku dan Nami tiba di rumah kami. Segera saja aku membantu Nami berganti baju , mencuci kaki dan menyikat gigi setelah itu aku menuntun Nami menuju kamarnya untuk tidur.
"Mom, Daddy datang kan besok ?" Tanya Nami ketika sudah berbaring di kasur kecilnya.
"Iya Nami, Nami tidak perlu khawatir ya.." balasku lembut sambil mengelus rambut pirang miliknya. "Nah sekarang Nami tidur kalau ingin cepat-cepat bertemu Daddy besok, oke ?"
"Hoaam, oke mom, Goodnight" ucap Nami tersenyum padaku lalu mengecup pipiku.
Aku pun membalas kecupan Nami di pipi chubbynya, lalu membenarkan posisi selimut Nami.
Saat kembali ke kamar ku, aku kembali memikirkan pertemuan kami dengan Sasuke kemarin.
Semua sudah berlalu Ino…
Aku menegur diriku sendiri. Pertemuan itu seakan membuka harapan untuk hubungan kami.
Tidak boleh.
Ya, aku tidak boleh berharap atau lebih tepatnya aku tidak mau. Hal bodoh jika aku kembali berharap padanya hanya Karena percakapan singkat kemarin, lagipula aku tidak benar-benar tahu bagaimana Sasuke sekarang ini. Hanya sebatas mengetahui tempatnya bekerja tak berarti apa-apa bukan?
Selain itu, Aku tidak ingin membuka luka lama di masa lalu. Walaupun pertemuan itu pada akhirnya mempertemukan Nami dengan Sasuke, di sisi lain pertemuan tersebut seakan membuka luka lama di masa lalu kami.
-Flashback-
Hari ini adalah hari terburuk ku.
Pertama, kaki terkilir dan percayalah sakitnya sungguh tak tertahankan, ini semua karena heels bodoh milikku itu, Arrrggh!
Aku berjalan kaki pulang ke rumah ku, sendirian. Jika kau bertanya tentang alasannya , itu karena hari ini Hinata menolak untuk mengantarku pulang dan hal ini merupakan alasan kedua mengapa hari ku sial.
Bukan, bukan karena Hinata yang menolak mengantarku. Tidak mungkin seorang Hinata membiarkan temannya berada dalam kesulitan seperti ini, kecuali Hinata bertengkar dengan orang tersebut. Yup, Aku bertengkar dengan Hinata, sial bukan ?
Ketiga, hari ini Yuka, salah seorang pasien yang kuaanggap sebagai adik sendiri meninggal dunia. Keempat, hari ini adalah ulang tahun ayahku dan ia menyuruhku dan kakakku Deidara untuk pergi mengunjunginya di US secepat mungkin.
Dan, apakah aku sudah bilang bahwa sudah 3 minggu lamanya aku tidak berbicara dengan Sasuke? Ya inilah bagian terburuknya.
Sasuke adalah teman karibku dan disaat seperti inilah biasanya ia akan datang menghiburku. Sasuke akan berusaha menghiburku dengan cara teraneh sekalipun. Orang-orang mungkin tak menyangka seorang Uchiha Sasuke yang terkenal dengan pembawaannya yang tenang ternyata sangat gemar melakukan hal-hal bodoh saat bersamaku.
Jika kau bertanya dimana Sasuke sekarang? Jawabanya tentu sedang bersenang-senang dengan Sakura.
Aku tersenyum getir membayangkan apa saja yang mungkin sedang mereka lakukan saat ini. Menonton ? Makan malam bersama ? atau mungkin sedang bermanja-manjahan satu sama lain? Oh sungguh aku tidak ingin memikirkannya lagi.
Sial!
Seakan belum puas dengan semua yang telah menimpaku, mendadak saja hujan turun dengan derasnya membasahi tubuhku yang kelelahan sekarang.
Aku sudah tidak tahan lagi!
Aku menangis, frustasi dan putus asa. Bukan frustasi kepada hujan, lebih tepatnya frustasi kepada diriku sendiri.
Aku telah jatuh cinta pada Sasuke sahabatku sendiri, namun disaat bersamaan aku juga yang telah membuat Sasuke dan Sakura bersama. Akulah yang menghindarinya, namun aku juga yang sekarang merindukannya. Aku rindu berbicara denganya.
Sekarang aku tidak tahu apakah aku dan Sasuke bisa akrab seperti dulu lagi ?
Aku kesepian, aku tak bisa menemui Hinata disaat hubungan kami dalam keadaan seperti ini, Ayahku menetap di US, Dei-nii sedang keluar kota, dan Sasuke tentu bukanlah pilihan.
Aku yakin saat ini aku tentu tampak seperti perempuan bodoh yang berjalan dengan terpincang-pincang sambil menangis serta badan yang sudah basah kuyup diguyur oleh air hujan. Beberapa orang disana tampak memperhatikanku secara diam, namun aku tak peduli. Saat ini aku hanya ingin menangis dan menangis.
Saat aku hampir mencapai rumahku, aku melihat seorang laki-laki yang menunggu di tengah halaman rumahku dengan tubuh yang basah kuyup terguyur hujan sama sepertiku.
Sasuke?
Aku kira awalnya aku sedang berhalusinasi, namun saat aku sudah berdiri cukup dekat dengannya, aku bisa melihatnya dengan jelas sedang berdiri dengan tangan yang dimasukan kedalam saku celananya tak peduli dengan hujan yang terus turun mengenai tubuhnya.
Apa yang dia lakukan disini? Apakah dia sedang bertengkar dengan Sakura dan ingin meminta pertolonganku? Lagi?
Aku menarik nafas sejenak, lalu berjalan melewatinya seakan ia tak ada disini. Aku tentu ingin berbicara dengannya, tapi aku sadar batasanku ,saat ini Sasuke adalah milik Sakura.
"Hey!" Tegur Sasuke.
Aku tak menanggapinya dan tetap berjalan menuju pintu rumahku.
"Hey Ino.." kali ini ia menarik lenganku dan memutar tubuhku sehingga kami berhadap-hadapan sekarang.
"Tidakkah kau mendengarku?" tanyanya.
Rasanya aku benar-benar ingin melarikan diri dari posisiku sekarang, tapi tentu itu akan membuatku terlihat bodoh di matanya.
"Tidak." Jawabku singkat.
"Kau pembohong yang buruk.."
"Kalau kau tahu, kenapa masih menanyakannya ?" balasku dengan suara sinis dan berharap dengan ini ia menyerah dan segera pergi dari tempat ini.
Kami berdua sama-sama terdiam.
Sasuke berdehem sejenak, "aku menunggumu seharian, kau kemana saja?"
Aku tak menjawab dan menghindari tatapannya.
"dan lihat diriku, aku kehujanan menunggumu.."
Sekali lagi aku tak membalas ucapannya.
"Kalau aku sampai sakit, kau harus bertanggung jawab Ino" canda Sasuke dengan senyum jahilnya.
"Apakah aku memintamu untuk menungguku ? Hah !? Jika kau sakit itu urusanmu, bukan urusanku !" Aku membentaknya.
Senyumnya lenyap berganti raut khawatir, "Kau ada masalah?"
Kami berdua bukanlah tipikal yang suka membentak , kecuali jika kami benar-benar dalam keadaan frustasi, seperti keadaanku saat ini contohnya.
"Bukan urusanmu, kau sendiri ? apa yang kau inginkan ?" Tanyaku menahan emosi yang terus bergejolak didalam.
"Aku ingin melihatmu" jawabnya, yang sempat membuatku sedikit terkejut.
Aku memutar mataku bosan, "kau tahu ? aku tidak peduli, permisi.."
Aku baru ingin meneruskan langkahku namun Sasuke menghalangi jalanku, "Apa masalahmu?" Tanyanya padaku.
"Aku baik-baik saja.."
"Lalu kenapa kau terus menghindar dariku?" Nada bicara Sasuke berubah, kurasa Sasuke sendiri sudah kesal.
"Aku tak menghindar.."
"benarkah? Kalau begitu, makan malam denganku?" tawarnya.
"Tidak, aku tidak berselera.."
"Kenapa tidak?" Sasuke mulai menginterogasiku.
"sudah kubilang aku sedang tak berselera , bodoh ! Tidak bisakah kau pulang sekarang !? Kembali sana ke pacarmu !"
Duh, Sekarang kau menambah rumit masalahmu sendiri Ino.
Senyuman jahil sekali lagi kembali tersungging di wajah Sasuke, "Sakura ? kau cemburu padanya ?"
"Apakah aku ada mengatakan kalau aku cemburu? Bagaimana mungkin kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu ?" Aku mengelak sebisa mungkin.
"Karena aku memang ingin kau cemburu , Aku ingin kau peduli !"
Gotcha! Kali ini Sasuke benar-benarberhasil membuatku bingung akan menjawab apa.
Aku benar-benar tidak peduli lagi kali ini, tanpa berpikir panjang aku berkata, "Baiklah kalau kau ingin tahu yang sebenarnya, IYA! Aku marah padamu, Kenapa!? Karena aku cemburu, kau puas sekarang?"
Sasuke tak membalas perkataanku, namun matanya terus menatapku.
"Kenapa diam saja !? Kehabisan kata-kata ? Sasuke, aku akan memberitahumu yang sebenarnya, Aku membencimu ! Aku sangat membencimu karena kau tidak mengerti apa yang kurasakan. Sebentar kau dekat denganku, lalu tak lama kau pergi lagi dan kemudian kembali lagi. Kau hanya memikirkan dirimu seorang. Kau tidak memerdulikan perasaan orang-orang di sekitarmu, perasaanku ! Kau menyakiti perasaan seseorang tanpa kau sadari sendiri!" ucapku mengeluarkan segalanya .
"Kau sadar kau telah menyakitiku?" ucapku dengan suara berbisik.
Sasuke sedari tadi terdiam akhirnya berkata, "Baiklah, sekarang giliranku. Kau tahu ? aku tak mengerti apa mau mu ! sebentar kau tertawa bersamaku, kemudian kau marah padaku. Kenapa kau baru memberitahuku sekarang ? kenapa tidak sebelumnya? Apakah kau perlu menghindariku? Apakah kau pernah memikirkan posisiku saat kau menghindariku selama ini? Pernakah? Kau bilang seakan-akan aku ini egois, tapi tak sadarkah dirimu ? kau sendiri telah menyakitiku ! kupikir kita teman"
"Itu masalahku, kau dan aku adalah teman!" balasku.
"Aku pun sama, aku tidak ingin berteman denganmu"
"Wow" hanya itu yang terucap dari bibirku setelah mendengar perkataanya, hati ku benar-benar hancur saat itu juga. Aku tak dapat berkata apa-apa. Aku semakin merasa lelah, aku tidak kuat lagi. Perkataannya sangat menyakitiku, apakah hubungan kami benar-benar akan selesai seperti ini?
Aku menutupi mulutku dengan tanganku, berusaha menahan isakan yang akan keluar.
Tidak, aku tidak boleh menangis di depannya.
Sasuke berjalan mempersempit jarak diantara kami, "Singkirkan tanganmu!" perintahnya.
Aku tak menjawab, bahkan aku tak berani melihatnya. Lalu aku merasakan tangan Sasuke mencengkeram tanganku, melepasnya dari mulutku dan seketika itu juga aku merasakan bibir Sasuke menekan bibirku.
Ya, Sasuke menciumku, ciuman pertamaku.
Kami saling berpagutan beberapa saat, aku dapat merasakan tangannya di pinggangku, mendekapku dengan erat.
Mungkinkah ini mimpi?
Merasakan pasokan udara yang semakin menipis, kami pun menyudahinya.
"Barusan itu?" aku membisikan kebingunganku akan ciuman yang barusan kami lakukan. Tangan Sasuke yang masih berada di pinggangku berpindah menyentuh wajahku.
"Aku tidak ingin menjadi temanmu Ino, Aku mencintaimu.." bisiknya di telingaku.
Kepalaku mendadak terasa pening mendengarnya, "Tapi, Sakura.."
Sasuke menghela nafas dan memutar matanya bosan, "itu yang ingin kujelaskan padamu beberapa waktu yang lalu, tapi kau terus menghindariku. Kami tidak menjalin hubungan apa-apa, aku berhenti mengejarnya setelah aku sadar kalau yang kucinta itu dirimu.." ucapnya dengan wajah yang merona. Baru kali ini aku melihatnya seperti ini, Sasuke yang miskin emosi terlihat berbanding terbalik dengan biasanya.
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan kudengar, tanpa sadar aku kembali terisak.
"Apa sekarang ? Kenapa kau menangis? Aku sudah menyatakan perasaanku" ujar Sasuke gemas menghadapi diriku yang entah mengapa sangat cengeng hari ini.
"Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal !?" ucapku di tengah isak tangisku, "Kau tidak merasakan bagaimana menderitanya diriku selama ini.."
"Kau sendiri yang menghindariku, bagaimana aku bisa tahu perasaanmu" Sasuke menyahutiku dengan sekenanya. Sepertinya Sasuke sudah kembali menjadi dirinya yang menyebalkan seperti biasanya.
"Aku membencimu.." ucapku menahan senyuman bahagiaku sembari memukuli dada bidangnya.
Sasuke lantas mendekapku kembali dan membisikkan, "Bagaimana kalau kita melanjutkan yang tadi didalam , hm ?"
-End of Flashback-
Aku tersenyum mengenang hari itu. Hari dimana kami sama-sama telah jujur dengan perasaan kami.
Apa Sasuke mengingatnya juga ?
Aku kembali termenung didalam kamarku. Sedikit demi sedikit membuka kembali tiap lembaran yang telah aku lewati bersama Sasuke dulu. Sampai akhirnya, aku teringat akan kenangan buruk itu, satu kenangan yang tak ingin kuingat kembali.
-FlashBack-
Walau cahaya matahari telah mengintip melalui sela-sela tirai kamarku, aku masih terbaring dengan tubuh polosku yang saat ini sedang didekap erat oleh Sasuke.
Aku menatap wajah Sasuke yang masih terlelap, bahkan disaat tidur pun dia masih terlihat tampan. Dengan mulut yang sedikit terbuka dan suara dengkuran yang lucu, membuat Sasuke terlihat sangat berlawanan dengan Sasuke yang biasanya. Aku pasti sangat beruntung berada di posisi ku saat ini. Kami sudah genap setengah tahun menjalin hubungan, dan walaupun Sasuke masih terlihat dingin namun percayalah dia sangat berbeda jika kami sudah berduaan.
"Sudah puas menatapi ketampananku ?" Tanya Sasuke yang ternyata sedari tadi sudah bangun.
"Cih, menggelikan.." tentu saja aku bohong, nyatanya aku memang menikmati pemandangan dari wajahnya barusan.
"Hey, cepat bangun, ini sudah hampir jam 9.." ujarku melepaskan dekapannya padaku.
"Kau membuatku kelelahan semalaman, beri aku waktu lagi.."
Jawaban yang Sasuke berikan sontak membuat wajahku merona malu membuatku teringat dengan apa yang kami lakukan semalaman.
"Bodoh, kau tak perlu membahasnya !" aku mencubit pipinya dengan gemas.
"Aku mandi duluan , jika kau ingin menggunakan kamar mandi, pakai kamar mandi di depan.." ucapku.
Sebelum aku beranjak dari kasur, Sasuke menahan tanganku, "Tidak ingin mandi bersama?" tanyanya menggoda.
Wajahku kembali dibuat merona, dengan gemas aku meraih bantal dan membekap kepala Sasuke, "Jangan menggodaku Sasuke!"
Aku pun segera beranjak menuju kamar mandi.
Dari dalam kamar mandi aku dapat mendengar umpatan Sasuke tentang perlakuan kasarku kepadanya barusan.
Rasakan itu, siapa suruh menggodaku terus..
Aku tersenyum penuh kemenangan.
Saat aku sudah selesai dari ritual membersihkan diri, aku mendapati Sasuke sudah tidak berada di tempatnya lagi. Lalu aku melihat ada sepucuk mini memo yang tertempel di lemari bajuku.
Aku ada urusan mendadak dan tak bisa menemanimu ke café hari ini
maafkan aku..
Nanti malam temui aku di café mu
dan satu lagi..
Selamat ulang tahun untukmu
Sasuke.
Aku bahkan tak ingat kalau hari ini ulang tahunku, tak kusangka Sasuke yang selama ini cuek dan acuh tak acuh malah mengingatnya. Dulu saat kami berdua masih berteman baik, Sasukememang tak pernah lupa untuk mengucapkan selamat padaku namun dia selalu menjadi orang terakhir yang memberi ucapan padaku, berbeda dengan sekarang.
Aku tersenyum mendapat perlakuan manis darinya.
Bzzt..Bzzt..
Segera aku meraih Handphone ku yang bergetar diatas kasur.
"Happy Birthday Ino-chan!" ucap Hinata bersemangat dari seberang sana, walau suaranya masih terdengar lembut dan sangat kalem.
"Arigatou Hina-chan, kau orang kedua yang mengucapkannya hari ini.."
"benarkah? A-aku pikir aku yang pertama.." ujar Hinata dengan nada suara yang kecewa.
"Hahaha… kau kalah cepat dengan Sasuke, Hina-chan"
"ah Ino-chan pasti senang ya..?"
"Tentu, tapi aku juga senang kau telah mengucapkannya kok,hahaha… hari ini kau ada acara?"
"tidak ada , kenapa?"
"ke café ku yuk, aku ingin mentraktirmu dan yang lain hari ini…"
"apa aku boleh mengajak Naruto-kun?"
"Naruto? Ooohhh, Hina-chan sudah dewasa rupanya ya.." Aku menggoda Hinata , ternyata desas-desus kalau Hinata dan Naruto telah menjalin hubungan itu benar. Ah senangnya, mereka pasangan yang sangat serasi menurutku, Hinata yang pemalu dengan Naruto, si kuning tidak punya malu itu.
"Ino-chaaaaann, j-jangan meledek.." rajuk Hinata di seberang sana. Aku bisa membayangkan betapa merahnya wajah sahabatku yang satu itu.
"Gomen Hina-chan, kau sangat lucu sih.. hahaha.." aku masih terbahak menertawakan Hinata, aku rasa Tuhan akan menghukumku sebentar lagi karena menertawai Hinata.
"Baiklah Hina-chan, aku menunggu kedatanganmu dengan kekasihmu ya mala mini di café, jaa.." ucapku mengakhiri obrolan kami.
Aku menghubungi teman-teman dekatku yang lain, tak ada salahnya kan sesekali merayakan ulang tahun walau umurku sendiri sudah resmi 23 tahun hari ini. Kau tahu ? aku bahkan mengajak Sakura untuk datang hari ini. Dulu karena Sasuke hubungan kami memang sedikit meregang, namun setelah akhirnya aku dan Sasuke telah bersama sampai saat ini, Sakura juga sudah bisa menerimanya dan merestui hubungan kami. Toh,Sakura tetap sahabatku.
-Skiptime-
Malam sudah tiba, teman-teman dekatku sudah datang semua ke café ku.
"Ino-chan, ini hadiahmu.. Happy Birthday!" ucap Hinata memberikanku bingkisan ungu di tangannya.
"Terimakasih Hina-chan, kau tak perlu repot-repot seperti ini tahu.." ucapku sembari memeluk erat Hinata.
"Selamat ulang tahun Ino.." kali ini Naruto yang berbicara dengan cengiran khasnya. Dia merangkul Hinata dengan mesra dan lewat perilakunya itu , Naruto seakan berkata "macam-macam dengannya, mati kau" kepada setiap laki-laki yang memerhatikan Hinata sang kekasih.
"Terimakasih neh Naruto…"
Kami bersama-sama menyantap dessert dan kopi yang telah disediakan waiter di café ku. Tidak banyak yang kami lakukan, hanya sekedar mengobrol tentang berbagai macam hal dan sesekali tertawa melihat tingkah Chouji dan Naruto .
Obrolan demi obrolan tak terasa telah membuat kami semua keseruan samai-sampai tidak menyadari kalau waktu sudah menunjuk pukul 11 malam. Chouji, Tenten, Shikamaru, dan Lee pun satu persatu pulang, menyebabkan café yang harusnya sudah tutup pukul 10 semakin sepi.
"Ino-chan, dimana Sasuke?" Tanya Hinata.
"Entahlah, aku sudah mencoba menghubunginya daritadi.."
"Aku dan Naruto akan segera pulang, kau tidak apa sendiri?"
"Tidak masalah, aku akan menunggu disini, terima kasih Naruto, Hinata.."
"Aku akan mencoba menghubungi Teme jika kau mau Ino.." tawar Naruto.
"tidak, tak perlu.. aku akan menunggu disini saja" balasku tersenyum.
"B-baiklah Ino-chan, kau yakin kan?" Tanya Hinata memastikan.
"I-iya Hina-chan, pulanglah.. Paman Hiashi akan membantai Naruto jika kau pulang lebih larut.." candaku.
Akhirnya mereka berdua pergi meninggalkanku. Café sekarang benar-benar dalam keadaan sepi, hanya aku seorang. Para karyawan dan pelayan café juga telah pulang. Karena café ini milik kakakku, aku memegang kunci duplikat, jadi tidak perlu khawatir.
Aku terus menunggu kedatangan Sasuke, sampai tak terasa waktu hampir mencapai tengah malam, dan sampai saat ini Sasuke belum menampakan batang hidungnya sama sekali.
Mungkin aku harus menunggu di depan, pikirku.
Aku keluar dari café dan setelah memastikan pintunya telah terkunci aku berjalan pergi dari tempat itu.
Fiuh, kemana dia seharian ini? Apa urusannya begitu banyak sampai-sampai lupa dengan janjinya? Payah..
Aku melangkahkan kaki ku bosan, sesekali menendang kerikil-kerikil. Namun aku berhenti sejenak, dari kejauhan aku melihat mobil hitam yang mirip dengan milik Sasuke. Untuk memastikan, aku mencari plat nomor mobil tersebut dan dugaanku tepat, itu mobil Sasuke.
Ah , akhirnya Sasuke datang .
Moodku yang sudah buruk mendadak saja menjadi baik setelah melihat kedatangan Sasuke. Aku pun berjalan menuju mobil tersebut, bermaksud menghampiri Sasuke disana. Namun belum sempat aku melangkah, aku melihat Sasuke keluar dari mobil tersebut dengan seorang perempuan berambut pink.
Pink? Sakura?
Kenapa mereka bisa berduaan? Apa yang mereka lakukan?
Aku ingat, hari ini aku juga mengundang Sakura untuk bergabung dengan acara ku. Dan aku baru sadar, 2 orang yang hari ini tidak hadir adalah Sasuke dan Sakura. Wajarkah aku curiga?
Kulihat mereka tampak berbicara dengan serius, namun aku tak dapat mendengar pembicaraan macam apa yang sedang mereka bicarakan. Sepertinya baik Sasuke maupun Sakura tidak sadar akan keberadaanku sekarang.
Apa-apaan ini?
Berlahan tapi pasti, aku melihat mereka saling berpelukan dengan mesra.
Sesak, dadaku terasa sesak melihat pemandangan ini. Air mataku yang sedari tadi kutahan saat menunggu Sasuke akhirnya tumpah ketika menyadari bahwa seharian ini aku hanya menungguinya bermesraan dengan Sakura.
Kalian berdua sangat tega padaku, terutama kau Sasuke.
-End of Flashback-
Aku menitikan air mata, mengingat kembali momen yang meninggalkan sesak yang masih bertahan sampai saat ini.
Aku tidak membenci Sakura maupun Sasuke karena hal itu. Karena pada akhirnya aku tidak bisa menyalahkan mereka. Mungkin memang dari awal aku yang menjadi penghalang untuk hubungan mereka berdua.
Dan bagaimana bisa aku terus membenci Sasuke ? Tanpanya aku takkan pernah memiliki Nami .
Ya, Nami satu-satunya alasan aku bisa terus bertahan sampai sekarang, bahkan aku bisa tampak sangat tegar saat berhadapan dengan Sasuke itu semua karena Nami, putri ku, putri kami.
Besok, aku dan Nami akan menemui Sasuke. Aku yakin Nami akan sangat senang menghabiskan waktunya seharian bersama Sasuke.
In the end, He'll only be Nami's Daddy, not the guy for me.
-End of INO's POV-
-Sasuke's Place-
Sasuke tampak risih di tempat kasurnya, ia sudah mencoba tidur sedari tadi namun tampaknya sampai saat ini masih belum membuahkan hasil.
Setelah seharian menceritakan banyak hal kepada teman-teman nya, Sasuke memutuskan untuk pulang ke apartemennya dibanding menginap di tempat Naruto seperti biasanya.
"Ino, Nami, tunggu aku.." Gumam Sasuke dalam hati.
Oh, ternyata si Uchiha bungsu ini tidak sabar untuk bertemu dengan putrinya dan cinta lama nya besok.
Masih dengan senyuman terkulum, Sasuke masih terus berusaha mencari posisi yang bisa membuatnya cepat tertidur untuk segera memasuki hari esok.
Kriiing!
Handphone Sasuke bordering, dan masih dengan suasana hati yang bahagia Sasuke mengangkat panggilan tersebut.
"Sasuke?" Senyuman di wajah Sasuke berlahan pudar mendengar suara dari seberang sana.
"Karin..?"
~To be continued~
Sudah panjang ? hehe
Ini kali pertama ngetik sampai 3K loh, biasa 1K aja aku uda gempor.. hehe
Smoga kalian suka ya, RnR
See You Next chap yang entah kapan akan diupdate, *Tabok!*
(sory for typo dan lain-lain)
