NARUTO

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasukeXIno

Previous chap

In the end, he'll only be Nami's daddy , not the guy for me

.

.

"Ino, Nami, tunggu aku.." gumam Sasuke dalam hati

.

"Sasuke ?" Senyuman di wajah Sasuke berlahan pudar mendengar suara dari seberang sana.

"Karin..?"

.

.

Chapter 6

Hari yang telah ditunggu-tunggu oleh Sasuke (26) pun tiba. Tidak seperti biasanya, hari ini Sasuke bangun lebih pagi, bahkan senyuman telah terpampang di wajah tampannya. Dengan senyuman yang masih terus merekah , Sasuke memilih pakaian terbaik yang akan dipakainya hari ini.

"Baju apa yang sebaiknya kupakai hari ini ? hmm…." gumam Sasuke yang masih bertelanjang dada dan hanya dibalut handuk dari bagian pinggangnya sambil memilah baju-baju di dalam lemarinya. Seketika Sasuke sadar bahwa baju-baju di lemarinya hanya didominasi oleh warna gelap , dan entah mengapa Sasuke sedikit menyesali itu.

"Bagaimana Nami bisa senang jika melihatku memakai baju berwarna gelap seperti ini ?" Sasuke bergumam pada dirinya sendiri.

Di tengah kebingungannya, Sasuke teringat akan sesuatu.

"Kau terlihat sedikit lebih baik jika memakai kemeja putih seperti ini Sasuke, dibanding memakai baju warna gelap mu yang sering kau kenakan biasanya…" ucap Ino tersenyum tulus memandangi Sasuke dengan penampilan 'baru' nya.

Mengingat perkataan Ino saat itu, ketika mereka masih bersama dan sedang menghadiri acara ulang tahun salah satu teman mereka. Sasuke tersenyum tipis dan langsung mencari kemeja putih yang letaknya memang sedikit lebih dalam karena jarang dikenakan olehnya.

Setelah selesai dengan pergumulannya dengan pakaian, Sasuke lalu menghampiri cermin yang terdapat di kamarnya untuk memastikan apakah penampilannya sudah cukup baik atau belum, padahal Sasuke sendiri sadar kalau ia sudah tampan tanpa harus dipastikan lagi. Hari ini Sasuke benar-benar bukan Sasuke yang biasanya.

-Longer-

Kelar dengan segala urusannya, Sasuke masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan kendaraan pribadinya itu keluar dari gedung apartemen miliknya menuju tempat tujuannya dengan kecepatan sedang. Matahari masih tampak malu-malu menunjukan dirinya , namun Sasuke telah sangat bersemangat.

Sambil masih berdendang di dalam mobilnya, dan sekali lagi hal ini bukanlah tipikal seorang Sasuke. Sasuke mengambil handphonenya lalu menghubungi salah seorang sahabatnya, Naruto.

"Halo? Siapa ini ?" ucap Naruto dari seberang sana dengan suara khas orang yang baru terbangun dengan paksa.

"Hei Dobe,ada apa denganmu ? ayolah bersemangat sedikit, hari ini adalah hari Minggu yang cerah…" balas Sasuke tanpa menutupi kebahagiaannya.

"Berisik, harusnya aku yang bertanya ada apa denganmu ? bahkan ini bukanlah waktu bangun tidurmu biasanya…"

"aku akan bertemu dengan Ino dan Nami, dan kau tahu…"

Belum selesai bercerita, sambungan telepon Sasuke telah diputus oleh Naruto.

"Ck, tidak bisa melihat temannya senang sedikit.." gerutu Sasuke menerima perlakuan sahabatanya.

Sedangkan di tempat Naruto sendiri, Naruto masih tenggelam dalam tumpukan sprei dan bantalnya. Namun seketika Naruto tertawa kecil menertawai tingkah sahabat yang baru saja menelponnya tadi.

"Baka, tolong jangan mempermalukan dirimu sendiri Teme, hahahaha…" Naruto bergumam lalu kembali menertawai Sasuke.

Kembali ke tempat Sasuke, kali ini Sasuke sedang berhenti menunggu lampu merah, di tengah kegiatan menunggunya, pikiran Sasuke kembali melayang membayangkan apa saja yang akan dirinya , Ino dan Nami lakukan seharian nanti.

Namun sayang sekali lamunan Sasuke harus berhenti karena ia harus kembali melajukan kendaraannya.

-Longer-

Tidak terasa, Sasuke telah tiba di depan rumah yang menjadi tujuannya sedari tadi. Setelah memastikan apakah alamat rumah tersebut dengan alamat yang ada padanya, Sasuke menarik nafasnya den berusaha mengendalikan dirinya. Layaknya seorang Sasuke, ia tak ingin terlihat terlalu bahagia, bukan Sasuke namanya jika tidak menjaga imagenya bukan ?

Sasuke berdehem sebentar untuk mempersiapkan dirinya dan menenangkan jantungnya yang entah mengapa berdetaklebih cepat dari biasanya.

"Sial, kenapa diriku seperti anak remaja yang akan berkencan untuk pertama kalinya begini…" gerutu Sasuke dalam hatinya.

Tanpa menunda lebih lanjut, Sasuke memberanikan diri menekan tombol bel yang terdapat disana. Tak berapalama kemudian , pagar tersebut dibukakan oleh seorang wanita yang terlihat sudah cukup berumur.

Alangkah terkejutnya Sasuke melihat wanita asing di hadapannya. Berbagai pikiran sudah muncul daam benaknya.

"Apa aku salah rumah ? tapi tadi aku telah menyocokan alamatnya , atau Ino hanya menipuku ? kenapa?" Sasuke mulai kembali berimajinasi dengan segala kemungkinan buruk dalam lamunannya.

"maaf tuan, ada yang bisa saya bantu ?" Tanya wanita itu dengan kebingungan.

Ditanyai seperti itu, Sasuke tersadar dari lamunannya.

"Bibi, apakah.." Sasuke baru saja akan bertanya , tapi pertanyaan yang akan dilontarkannya itu terpotong oleh teriakan seorang anak perempuan yang baru keluar dari pintu rumah tersebut untuk menghampiri wanita di hadapanya.

"Aunt Miko, ayo temani aku menonton Little Pony di dalam"

Oh ternyata anak itu adalah Nami (5), melihat hal itu segala pikiran buruk dalam benak Sasuke buyar berganti dengan senyuman bahagia di wajahnya.

"Nami ?"

Mendengar namanya dipanggil , Nami menengokan kepalanya ke arah Sasuke.

"Daddy !" dan dengan tidak kalah bahagianya, Nami segera saja menyambar memeluk Daddy nya itu.

Saat ini Miko (43) lah yang bingung dengan apa yang terjadi di hadapannya .

"Maaf, tapi anda siapa ? apa hubungan anda dengan Nami?" Miko meminta penjelasan.

Sasuke baru saja ingin menjawab namun, lagi-lagi Nami yang saat ini sudah berada dalam gendongannya menyela Sasuke.

"Aunt Miko, ini Daddy Nami , Daddy ini Aunt Miko.." Nami berceloteh dengan semangat.

Sasuke tak bisa menahan senyumannya melihat tingkah Nami yang menggemaskan itu. Walaupun ucapannya telah 2 kali disela oleh Nami, Sasuke tetap tak dapat marah dan kesal.

"Kau mirip sekali dengan ibumu, nak" ucap Sasuke dalam hati sembari memandangi putrinya.

"Daddy ?" Miko semakin merasa kebingungan dengan jawaban yang Nami berikan.

Sasuke baru akan menjelaskan kepada Miko, namun untuk kesekian kalinya niatan Sasuke untuk berbicara disela. Kali ini oleh Ino yang sedang mencari keberadaan Nami.

"Nami, where are you dear?"

"Mom, I'm here ! Look, Daddy has arrived" balas Nami dengan semangat.

Seketika Ino baru menyadari bahwa pagar depan rumahnya sedang dikerumuni oleh 3 manusia. Melihat hal itu, Ino segera mendatangi mereka.

"oh Sasuke, aku tidak menyangka kau akan datang sepagi ini" ucap Ino (26) ketika melihat ternyata Sasuke telah tiba di rumahnya. Jantung Ino tentu saja berdebar mendapati kedatangan Sasuke sepagi ini, Ino tak menyangka Sasuke akan datang di jam seperti ini. Nami bahkan masih mengenakan piyama tidurnya.

Sasuke tentu terkejut mendengar pertanyaan Ino, dan ia baru sadar bahwa jam nya berkunjung hari ini memang terlalu pagi. Terkadang rindu memang mampu membuat seseorang lepas kendali,lihat saja dirinya saat ini. Tapi bukan Sasuke namanya jika tidak pintar menutupi kesalahannya.

"Ah kau tidak mengatakan kapan aku harus datang, jadi aku datang lebih pagi, tidak apa kan ?"

"oh baiklah , ayo masuk dulu saja…" Ino mempersilahkan Sasuke memasuki rumahnya .

Miko yang masih bingung memutuskan untuk menyimpan kebingungannya sendiri, toh ini bukan benar-benar urusannya. Miko hanya salah satu tetangga Ino yang kebetulan sedang meminjam sesuatu pada Ino pagi itu. Walaupun hubungan Miko dan Ino sudah selayaknya Ibu dengan putrinya. Dan entah mengapa melihat wajah Sasuke yang cukup tampan namu memiliki aura playboy membuat Miko menjadi sedikit was-was dengan keberadaannya.

-Longer-

"Apa kau ingin minum sesuatu Sasuke ? biar kusiapkan untukmu" tawar Ino ketika mereka sudah memasuki ruang tamu.

"Air putih saja Ino, terima kasih"

"Oh baik sebentar" Ino berlalu ke dapur untuk mengambilkan air untuknya.

Canggung.

Kaku.

Seperti itulah kira-kira gambaran suasana antara dirinya dengan Ino saat ini.

Bersyukur ada Nami yang sampai saat ini masih betah dalam gendongannya, setidaknya keberadaan putrinya ini dapat mengurangi rasa canggung di dalam dirinya.

Tidak lama kemudian, Ino kembali dan meletakan gelas tang telah bersikan air di meja tamu di hadapan Sasuke.

"Terima kasih Ino"

"Tak usah sungkah Sasuke, dan terima kasih kau benar-benar datang, Nami telah menantimu dari kemarin" ucap Ino tulus kepada Sasuke.

Sasuke merasakan desiran aneh dalam dirinya ketika mendengar ucapan tulus wanita di hadapannya itu.

"s-siapa wanita di depan barusan?" Sasuke bertanya berusaha mengalihkan kecanggungan dalam dirinya.

"Bibi Miko, tetanggaku, ia baru saja pulang setelah beramitan denganku tadi..."

"oh, kukira aku telah mendatangi alamat yang salah" ucap Sasuke lebih kepada dirinya sendiri.

"hah ? apa yang kau katakan barusan ?" Tanya Ino karena memang ucapan Sasuke barusan tidak terlalu terdengar olehnya.

"Ah tidak , bukan apa-apa, hahaha.." balas Sasuke dengan tawa canggung.

Ino sebenarnya ingin menertawai ketawa canggung Sasuke yang baru saja dilihatnya, namun Ino memilih untuk diam dan menertawainya di dalam hati.

"Sasuke, kau tidak banyak berubah ternyata.." ucap Ino dalam hati.

"baiklah, aku ingin mengurusi beberapa hal dulu di belakang, kau tolong temani Nami disini, tidak apa kan?" Tanya Ino, sebenarnya Ino sedikit merasa tak enak meninggalkan tamunya sendirian bahkan menitipkan anak semata wayangnya , namun Ino memang perlu mengurusi beberapa hal di belakang.

"iya tak apa, aku malah senang dapat menemaninya disini.." balas Sasuke sembari mengelu rambut pirang anaknya.

"Baiklah, kutinggal sebentar ya..."

Sekarang hanya tinggal sepasang ayah-anak di ruangan itu.

"Nami, apa yang ingin Nami lakukan sekarang ?" tanya Sasuke masih tetap mengelus kepala anaknya dengan sayang.

"Little Pony Dad, I want to watch it.." balas Nami sembari turun melepaskan diri dari pangkuan ayahnya untuk menyambar remot TV yang tergeletak di lantai.

Nami dengan lihai segera menyalakan TV dan mencari channel yang menayangkan kartun kesayangannya itu.

Sasuke hanya memandangi tingkah putrinya dalam diam. Sasuke masih seperti tidak percaya, ia telah menjadi seorang ayah dari anak erempuan di hadapannya. Melihat tingkah Nami yang menggemaskan, celotehannya, tatapan polosnya, senyuman manis dan terutama mata birunya membuat Sasuke semakin sayang dengan Nami, dan tentu saja ibunya.

Sasuke sadar perpisahan selama 5 tahun dengan Ino tidak menghilangkan sedikitpun perasaan Sasuke untuk wanita itu. Ditambah dengan kehadiran Nami di tengah mereka, Sasuke seakan semakin dibuatsulit untuk melepaskan Ino.

Namun Sasuke sadar bahwa tidak akan mudah untuk mendapatkan Ino kembali.

Sasuke tidak tahu bagaimana pastinya keadaan Ino saat ini, apakah Ino sudah memiliki lelaki lain ? jika tidak, apakah Ino tetap mau menerimanya kembali ? Apa Ino benra-benar telah memaafkannya ? dan terlebih bagaimana perasaan Ino kepada dirinya sekarang ? biasa saja kah ? atau masih ada luka yang terus dipendam oleh Ino?

Sasuke bahkan sampai saat ini masih merasa sangat bersalah pada Ino. Melihat keberadaan Nami di hadapannya begini, membuat Sasuke bahagia sekaligus bersalah. Sasuke membayangkan bagaimana Ino harus hidup mengurusi Nami seorang diri di luar sana tanpa pendamping, belum lagi tekanan yang tentunya diterima Ino mendapat dirinya sedang mengandung Nami saat itu.

Selain itu, Sasuke tentu tidak lupa dengan perempuan yang masih berstatus sebagai kekasihnya sekarang, Karin. Gadis baik yang sangat tidak beruntung karena harus bertemu dengannya, dan menjadi pelarian dari perasaannya.

-Flashback-

"Karin?" ucap Sasuke.

"Iya sayang, ini aku Karin, kekasihmu hahaha… apa kau merindukanku hm ?" tanya Karin dari seberang sana.

"B-bagaimana kabarmu disana ?" bukannya menjawab, Sasuke malah melontarkan pertanyaan kembali pada Karin.

"kabarku baik, kau aneh sekali menanyakan kabarku seperti ini, sangat kuno dan kaku hahahaha.." canda Karin menanggapi Sasuke.

Mendengar Karin tertawa disana sejujurnya membuat Sasuke dirundung oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Ironis sekali memang, Karin menelpon Sasuke kekasihnya ketika kekasihnya sedang memikirkan wanita lain yang notabene adalah mantannya sendiri yang sekarang ternyata sudah memiliki anak dengannya.

"Hey Sasuke, kenapa kau diam saja ? besok aku sudah akan kembali ke Jepang, kapan kau akan menepati janjimu ?"

"Janji?" Sasuke berusaha mengingat kapan ia pernah menjanjikan sesuatu pada Karin.

"Yaampun tuan Uchiha, kau berjanji akan makan malam sebagai ganti dari makan malam kita yang batal saat itu.." jawab Karin mengingatkan.

"O-oh itu, bagaimana kalau lusa besok ? besok aku sudah ada janji dengan orang lain, tidak apa kan?"

"tentu, tapi kau tidak boleh lupa, aku tidak akan mengingatkanmu lagi kali ini.."

Sasuke tidak menanggapi perkataan Karin,Sasuke termenung dan berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan. Sasuke sekarang sadar bahwa hatinya masih seutuhny milik Ino dan Sasuke tentu tidak mau menyakiti Karin dengan memberitahukan hal ini pada Karin. Namun jika ditutupi, Sasuke juga tetap menyakiti Karin, ini tidak adil untuk Karin.

Sungguh, Sasuke sangat tidak suka berada di tengah rasa serba salah seperti ini.

"hey Sasuke, kenapa kau diam saja? Aku kan hanya bercanda…" perkataan Karin menyadarkan Sasuke.

"m-maaf Karin…"

"hah ? kenapa meminta maaf tiba-tiba seperti ini?" tanya Karin sedikit cemas.

"Lusa besok, pastikan untuk mengosongkan jadwal makan siangmu, aku ingin membicarakan sesuatu…" Sasuke menelan ludahnya sendiri setelah mengucapkan hal tersebut. Sasuke sudah memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Karin, dan ia harap keputusannya ini tepat.

Karin terdiam sebentar sebelum akhirny menanggapi , "Baiklah, pastikan kau ingat, kau sering sekali lupa jika sudah berjanji kepadaku.."

Mendengar ucapan Karin, Sasuke tentunya peka akan maksud dan sindiran yang tersirat di dalam perkataannya.

"kali ini aku akan mengingatnya untukmu.." balas Sasuke.

"senang mendengarnya tuan Uchiha , sekarang berisitirahatlah, sampai jumpa Sasuke-kun.."

Lalu sambungan telepon tersebut dimatikan oleh Karin.

Sasuke menghela nafas setelah perbincangan di teleponnya telah berakhir.

Senyuman dan rasa senang yang sempat ia rasakan seketika hilang saat itu. Sasuke membenamkan wajahnya di bantal, resah dengan segala rasa di dadanya. Apakah keputusannya sudah tepat ?

Di tengah kegundahannya, Sasuke menyambar kembali handphone nya dan segara mengetik pesan singkat kepada sahabatnya. Di saat seperti ini, Sasuke benar-benar butuh sebuah pendapat.

To: Naruto
Dobe, Karin menelponku

From : Naruto
Lalu ?
hey, kau tahu ? aku hampir melupakan keberadaan Karin sebagai kekasihmu
ck' sepupuku itu sudah melakukan kesalahan dengan menerima lelaki yang belum bisa melupakan mantan kekasihnya seperti dirimu ini… hahahahaha…

To: Naruto
Perkataanmu tak membantu sama sekali dobe, terimakasih banyak

From: Naruto
Sama-sama teme, setidaknya aku menyadarkan betapa brengseknya dirimu sebagai seorang pria, HAHAHAHAHA….

To: Naruto
Aku sudah memutuskan untuk memberi tahu Karin tentang hal ini lusa besok, bagaimana menurutmu?
jujur, aku merasa serba salah saat ini, arrgghhh…

From: Naruto
jadi kau sudah memutuskannya ? ya kalau kau sudah mengambil keputusan maka aku tidak dapat berkata apa-apa, toh aku yakin Karin adalah gadis yang kuat, paling-paling ia hanya akan memintaku untuk meninju wajah tanpanmu sekali HAHAHA…
kau sadar tidak teme, kita jadi seperti sepasang gadis remaja yang sedang curhat hahahaha, menjijikan

To: Naruto
Dobe, tolong jangan bercanda di saat seperti ini

From: Naruto
Aku tidak bercanda Teme,
aku pun bingung harus berkata apa, namun apapun itu aku harap ini keputusan terbaik
semoga kau tidak menyesal, dan ya semoga Karin juga menemukan kebahagiaannya setelah lepas darimu
jika kau memutuskan mempertahankan Karin sedangkan hatimu masih saja tertuju pada Ino, itu akan lebih menyakitkan
sudah, nikmati saja dulu hari esokmu, kau akan bertemu dengan putrimu dan juga Ino kan ?
hah, sungguh aku benci sisi melankolis dirimu yang seperti ini, -_-

Membaca isi pesan sahabatnya yang cukup panjang itu membuat Sasuke merasa lebih lega, terlepas dari perkataan kasarnya yang blak-blakan, Naruto selalu berhasil membuat Sasuke sadar dan merasa lebih baik.

To: Naruto
aku juga membencimu, jangan menggangguku lagi

From: Naruto
tidak tahu diri

Dan berakhirlah perbincangan mereka malam itu. Sasuke tidak menyesal telah bercerita pada Naruto. Sasuke mendapati dirinya menjadi lebih siap untuk menghadapi keputusan yang telah diambilnya. Sasuke hanya tidak ingin menyakiti Karin yang sudah sangat baik padanya.

-End of Flashback-

Sasuke kembali tersadar dari lamunan saat mendengar Ino memanggil Nami.

"Nami, ayo mandi, sebentar lagi kita harus pergi ke gereja.."

Nami yang tadi terfokus dengan tontonannya menoleh ke asal suara ibunya, "okay Mom, a minute"

"Nami, hurry up please…" balas Ino tidak sabaran dengan Nami.

"Nami, cepat ikuti kata Mommy mu, Nami bisa melanjutkan tontonan Nami nanti, okay ?" Sasuke berusaha membantu Ino.

Dengan muka memelas Nami akhirny mengangguk , "okay Dad…"

Sasuke hanya tersenyum penuh arti melihat imutnya wajah Nami.

Belum jauh melangkah, Nami kembali menoleh ke arah Sasuke , "Mommy.."

"Apa lagi Nami?" kali ini Ino muncul dari kamar mandi dengan muka yang sedikit geregetan.

"Bolehkah Daddy ikut ke gereja bersama kita ? Mommy pernah bilang gereja menerima semua orang ingin datang pada Tuhan bukan?" tanya Nami dengan polosnya.

"I can't say anything Nami, Mommy tidak tahu apakah Daddy mu ingin memberikan waktunya sebentar untuk ke gereja hari ini.." Ino menjawab dengan sedikit memelas. Ino kenal betul Sasuke ini bukanlah tipikal yang taat dengan agamanya, sedari dulu Sasuke memang lebih suka menghabiskan waktu hari minggunya untuk bersantai-santai dibanding menjalankan kewajiban beribadahnya.

Entah mengapa Sasuke merasa terpojokan dan tertantang oleh ucapan Ino yang Sasuke rasa memang sengaja diucapkan untuk menyindir dirinya, lalu dengan cepat Sasuke pun menjawab "I'll join you"

"Yeah, Daddy will join us.." mendengar bahwa ayahnya akan ikut serta, Nami tentu senang dan segera mendatangi ibunya untuk segera dimandikan.

Dalam hatinya, Ino sekali lagi hanya menertawai tingkah Sasuke yang sangat mudah terprovokasi. Sepertinya memang sudah kegemaran Ino untuk menjahili Sasuke.

Sasukepun menjadi sendirian di ruang tamu tersebut. Sembari menunggu Nami dan Ino bersiap, Sasuke memperhatikan furniture dan sekeliling ruangan tempatnya berada sekarang.

Suasana rumah Ino hangat, dengan nuansa yang minimalis dan feminim.

Lalu Sasuke melangkahkan kakinya untuk melihat foto-foto yang terpajang di dalam lemari etalase. Foto Ino dengan Ayah dan Kakaknya, Deidara. Kemudian terdapat foto Ino dengan Nami yang masih bayi dalam gendongannya. Foto Ino dengan Shikamaru dan Chouji, sahabat kecil Ino, dan salah satu foto yang sangat menarik perhatian Sasuke adalah foto bayi Nami yang sedang merangkak dan tersenyum lebar tanpa gigi.

Hati Sasuke menghangat memandangi potret putrinya itu.

Di tengah kegiatannya memandangi foto tersebut, Nami memanggil dengan suara cerianya , "Daddy, we're ready now.."

Sasuke menoleh mendapati Ino dan Nami nampak sangat cantik dengan balutan summer dress putih yang dibalut dengan cardigan berwarna kuning soft. Kedua perempuan yang dicintainya benar-benar membuatnya terkagum. Betapa Sasuke baru menyadari bahwa dirinya sangat beruntung mendapati 2 perempuan di hadapannya sebagai bagian dalam hidupnya.

"Sasuke?" Ucap Ino mendapati Sasuke melamun.

"a-aah apakah kalian sudah siap? Bisa kita berangkat sekarang?"

Bukannya dijawab, Sasuke hanya ditatapi dengan bingung oleh Ino dan Nami, untuk mengusir kecanggungan, Sasuke melanjutkan perkataannya ,"Aku yang akan menyetir hari ini, jadi nanti tolong tunjukan saja arahnya kepadaku, oke?"

Ino mengangguk mengiyakan pertanyaan Sasuke.

Kemudian mereka bertiga berjalan beriringan menuju mobil Sasuke yang terparkir di depan rumah Ino.

-Longer-

Beruntungnya, perjalanan mereka tidak berlangsung dengan canggung. Berterima kasih pada Nami yang berhasil mengusir suasana canggung antara kedua orang tuanya.

Setelah selesai dari ibadah di gereja, mereka bertiga memutuskan untuk langsung kembali melanjutkan waktu kebersamaan mereka. Tanpa mereka sadari, hal ini membuat mereka terlihat layaknya keluarga kecil yang bahagia.

Destinasi mereka selanjutnya adalah taman yang terdapat di tengah kota.

Selama di mobil, Nami terus berceloteh akan segala hal yang diihatnya, benar-benar cerewet. Namun mau Ino atau Sasuke, keduanya tampak tidak lelah menanggapi aktifnya putri mereka itu .

"Daddy, let's plant some flower together…"

"yes Nami, let's do it next time we meet , okay?"

"okay, pinky promise?" Nami menyodorkan kelingking kecilnya pada Sasuke.

Dan tentu Sasuke menyambutnya.

"Nami sangat mirip denganmu Ino…"ucap Sasuke mengawali percakapan sambil masih fokus menyetir.

"semua orang akan berkata seperti itu pada awalnya, namun jika kau sudah benar-benar mengenal Nami, kau akan sadar betapa ia lebih mirip denganmu…" balas Ino sembari memeluk Nami dalam pangkuannya.

"benarkah ? memangnya aku ini seperti apa?" Sasuke bertanya balik.

"Kau menyebalkan dan merepotkan" Ino menjawab sekenahnya.

Sasuke tersenyum tipis mendengar jawaban Ino, "Explain it for me" pintah Sasuke.

"Nami terkadang akan menjadi sangat keras kepala, jika ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, ia dapat mengacuhkanku beberapa lama tapi syukurnya sejauh ini Nami selalu berhasil untuk dibujuk olehku hahahaha…" Ino bercerita dengan cukup antusias.

"Apa aku juga seperti itu?" tanya Sasuke terheran. Menurutnya ia tidak pernah sekanak-kanakan itu.

"Iya, sifat itu persis denganmu Sasuke hahahaha…" dan tanpa sadar Ino tertawa bahagia.

Melihat dan mendengar tawa Ino seperti ini menimbulkan perasaan hangat dalam diri Sasuke ,yang membuatnya hanya terdiam menikmati cantiknya wajah Ino yang sedang tertawa di hadapanya. Bersyukurlah saat itu kebetulan lampu sedang merah sehingga mereka tidak kecelakaan.

"Ino…" panggil Sasuke menghentikan tawa Ino.

Ino reflek menoleh ke arah Sasuke dan betapa terkejutnya Ino mendapati Sasuke memandanginya seperti itu. Seketika itu juga rasa canggung kembali menyelimuti mereka.

Nami pun sedang terlelap , sehingga keadaan menjadi benar-benar hanya tinggal mereka berdua saja.

"Ino, kau kehilangan kendalimu lagi…" Ino merutuki dirinya sendiri.

"a-apa Sasuke ?" tanya Ino dengan kikuknya.

Baru saja Sasuke akan melanjutkan perkataannya, namun klakson dari mobil di belakang mereka mengharuskan mereka kembali melanjutkan perjalanannya.

Dan sekali lagi canggung menghinggapi suasana dalam mobil sampai akhirny mereka telah tiba di tempat tujuan mereka.

Nami yang terbangun karena mengetahui bahwa merea telah sampai ke tujuan mereka, segera dengan semangat menarik ibu dan ayahnya ke ayunan yang berada di taman itu.

"Daddy, tolongin Nami.." Nami mengangkat kedua tangan mungilnya , meminta Sasuke untuk menggendongnya duduk di ayunan tersebut.

Baru saja duduk ,Nami melihat Truk eskrim yang berada tak jauh dari tempatnya, segera saja Nami dengan semangat turun dari ayunan tadi.

Sasuke tentunya dibuat terkejut dengan tingkah aktif putrinya. Bahkan Sasuke sempat terkejut ketika Nami turun dari ayunannya dengan sangat cepat dan tidak hati-hati.

"Yaampun , anak itu…" gumam Sasuke.

Gumaman Sasuke tidak terlepas dari pendengaran Ino.

"Nami memang begitu, ia anak perempuan yang sangat lincah untuk usianya.."

Saat itu Nami sedang ikut dengan anak-anak yang lain mengantri giliran mereka untuk mendapatkan eskrim meninggalkan Ayah dan Ibu nya di ayunan itu.

"Sasuke…"Ino memberanikan diri untuk mengawali pembicaraan mereka.

"ehm ?"

"Apa yang ingin kau katakan tadi di mobil?" tanya Ino penasaran.

Ditanyai seperti itu membuat Sasuke ingat dengan pertanyaan yang hampir saja akan ditanyakan tadi saat di mobil seandainya tidak ada klakson dari mobil lain yang menghentikannya.

"Aku ingin bertanya…" sahut Sasuke menggantung.

Keraguan lagi-lagi menghentikan Sasuke. Padahal saat di mobil tadi Sasuke sudah menyiapkan diri, namun sekarang segala persiapannya tadi harus runtuh.

"bertanya tentang ?" Ino meminta Sasuke melanjutkan ucapannya.

Sasuke hanya terdiam dan bergumul dalam dirinya, haruska pertanyaan ini ditanyakan sekarang ? dan kata-kata seperti apa yang tepat untuk mempertanyakan hal itu?

"Hey Sasuke?" Ino kembali menyadarkan Sasuke dari pergulatan batinnya.

"cepat atau lambat, hal ini harus kutanyakan" Sasuke meyakinkan dirinya.

Sasuke berdehem sebentar sebelum akhirnya mengatakan , "Ino, aku ingin berbicara tentang hubungan kita.."

-TBC-

Yeay, akhirny update juga yak hehe

Itu tanda kurung yang aku taruh buat keterangan umurnya

Jadi di chap sebelumnya kayak ada kesalahan gitu soal umur Sasuke Ino, nah di chapter ini aku revisiin n biar reader tau umur mereka yang bener di ffn ini tuh berapa hahaha…

Mohon reviewnya ya

Mungkin akan banyak banget typo, sungguh maafkan ya

Thankyou buat yang sudah review n setia nunggu sampai sekarang.

Kucinta kalian !

You guys deserve much better story but you guys still choose to wait for this so ordinary story, thankyou so muchhhhh !