Naruto Kuroko
Naruto dan KnB bukan punya saya
Warn : fem naru, typo, gaje, pasaran dll.
Selamat membaca !
" Gomen.. aku nggak ada saat kau membutuhkanku." Yahiko berucap sendu pada sosok Naruto yang berbaring di ranjang rumah sakit. Sakit rasanya saat melihat orang yang kau sayangi terluka. Ditambah kau tak bisa melakukan apa pun padanya.
" Gara-gara aku kau terluka. Seandainya aku menjemputmu. Seandainya aku tak mengikuti rapat sialan itu, seandainya aku meny.."
" Stt... ini bukan salahmu Yahiko kun."balas Naruto lembut menghentikan ocehan tak jelas Yahiko.
" Gomen gomen gomen."ucap Yahiko berulang sambil mengecup punggung tangan Naruto.
Naruto tak menyalahkan Yahiko karena tak ada disisinya saat itu. Ia juga tak menyalahkan salju yang kapan saja bisa membuat hipotermianya kambuh. Karena memang sudah seharusnya kejadian tadi menimpa dirinya. Takdir? Tentu saja.
Digenggamnya tangan itu erat, memberikan rasa hangat yang menjalar ke tubuh dingin Naruto.
Yahiko bukan tak tahu dengan apa yang terjadi dengan Naruto. Hanya saja ia akan mengurusnya nanti. Yang penting sekarang kesembuhan kekasihnya itu.
Yahiko mengecup kening Naruto lama sebelum meninggalkannya yang terlelap.
Yahiko berjalan menuju pintu menghampiri Akashi yang berdiri di sana. Entah perasaannya atau memang dia melihat aura hitam di sekitarnya. Jika tak salah sepertinya itu ditujukan untuknya.
" Akashi san.."panggil Yahiko saat sudah berdiri di hadapannya.
" Arigatou."lanjutnya sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. Tak ada jawaban membuat Yahiko bingung. Segera saja dia menegakkan tubuhnya dan memandang Akashi muda dengan kening berkerut.
Sepertinya ada yang salah. Kenapa Akashi menatapnya tajam seolah-olah dialah tersangka dalam kejadian yang menimpa Naruto. Dapat Yahiko lihat manik heterokrom itu berkilat penuh intimidasi.
" Aku tak tahu apa yang kau rencanakan. Hanya saja jangan libatkan Naruto."ujar Akashi tiba-tiba.
Tak ada respon dari Yahiko. Entah apa yang ada dipikirannya. Ia hanya memandang akashi bingung.
" Jauhi Naruto."lanjut Akashi tegas.
" Apa ma.."
" Aku tahu kau mengerti maksudku."
Raut Yahiko berubah datar kemudian seringai kecil muncul di bibirnya.
" Kau menyukainya?!"
" Bukan urusanmu."
" Ck. Maaf saja. Aku tak akan melepaskan Naru chan." Balas Yahiko menimbulkan kilat kemarahan di manik dwi warna itu.
" Harusnya kau tahu itu."dengan itu Yahiko berlalu meninggalkan Akashi.
Sasuke side.
" APAAA..?!"teriakan melengking Kiba mengagetkan mereka yang sedang bersama si Inuzuka itu.
Di sisi lain, Hinata tengah merutuki kebodohannya karena menelepon Kiba perihal Naruto. Yang ada pasti pemuda itu akan bereaksi berlebihan. Hah.. baka Hinata.
" Ck. Merepotkan.. berhentilah berteriak puppy."ujar pemuda berambut nanas yang hendak memasuki mobilnya sambil mengelus kepalanya yang membentur pintu mobil. Semoga saja otak jeniusnya tak kenapa-napa.
Saat ini mereka bersiap pulang, tapi.. yah gara-gara teriakan tak jelas mereka membuat mereka menghentikan kegiatan mereka.
" Lalu bagaimana keadaan Naru chan?"tanya Kiba masih dengan suara yang tinggi masih dengan nada paniknya. Bahkan dia sudah menggigiti jari telunjuknya.
Yang lain tersentak kaget saat mendengar nama Naruto disebut. Bukankah Naruto baru pergi satu jam yang lalu.
Sreekk..
Ponsel Kiba berpindah tangan pada Sasuke.
'Halo Ki..'
" Bagaimana keadaan Naruto, Hinata?"tanya Sasuke dingin. Namun masih tertangkap nada khawatir di suaranya.
' Sasu.. ah.. Naru chan masih ditangani dokter. Kami ada di rumah sakit Konoha sekarang."
" Kami ke sana."balas Sasuke cepat dan langsung memutus panggilan. Segera saja dia menuju mobilnya diikuti sang kekasih.
" Sasuke kun.. ada apa?"tanya Sakura buru-buru saat melihat raut khawatir di wajah kekasihnya.
" Naruto di rumah sakit."ujarnya cepat lalu memasuki mobil diikuti Sakura dan yang lain yang mengikuti laju mobil Sasuke.
Dengan kecepatan penuh mereka menuju RS Konoha.
Skip
" Hahhh.."hela napas lega keluar dari bibir Sasuke dan teman-temannya.
" Dobe."ujar Sasuke ketus plus lega. Entah seperti apa ekspresinya. Yang jelas hatinya lega saat melihat Naruto-dobenya baik-baik saja.
Bukan apa-apa, Naruto babak belur itu tak masalah karena Naruto bukan orang awam yang tak kenal beladiri. Hanya saja, udara dinginlah yang membuatnya takut, karena Naruto paling tidak tahan yang namanya dingin.
Flashback
Tak ada suara, hanya saja air asin itu terus mengalir dari mata sewarna jelaga itu. Sosoknya yang mungil berbalut jaket lusuh kebesaran membuatnya sulit terlihat di antara kerumunan orang yang berjalan-jalan. Ditambah lagi udara yang semakin dingin membuat tubuh pucatnya semakin pucat.
" Hei."panggil seseorang namun tak mengalihkan atensi si manik jelaga dari tatapan kosongnya.
" Kau menangis?"sebuah uluran tangan berbalut sarung tangan mengusap pipinya. Hangat. Hanya satu kata yang dirasakan anak kecil itu.
" Dobe."
Ujar anak itu lirih namun masih bisa di dengar Naruto. Bukankah sudah jelas dia menangis. Matanya saja sudah merah ditambah ingus yang sudah mengalir. Iuuhhh..
Sluurrpp..
Suara tarikan ingus membuat gadis kecil merengut jijik.
Iaakkksss..
" Cengeng."gerutu si gadis pelan. Ayolah.. bukankah anak laki-laki tak boleh menangis. Dirinya saja yang perempuan tak menangis. Batinnya membanggakan diri.
" Aku tidak cengeng dobe."teriak si lelaki kecil tak terima. Ayolah dia adalah Uchiha Sasuke. Dan Uchiha pantang menangis. Apalagi di hadapan perempuan. Tak dikenal pula. Yah meski sulit mengakui dia baru saja menangis.
" Bukankah barusan kau menangis. Bahkan ingusmu saja sampai meluber kemana-mana."balas Naruto sambil menunjuk ingus Sasuke.
Oh Tuhan.. Sejak kapan cairan kental itu keluar dari hidungnya. Memalukan. Dengan segera Sasuke mengelapnya dengan lengan jaket.
" Iuhh.. kau jorok sekali."ujar Naruto menghentikan niat jorok Sasuke. Diambilnya sarung tangan dari jaket lusuh warna hitamnya. Diusapnya ingus di hidung Sasuke kecil.
" Ayo keluarkan."perintah Naruto kecil.
Sroott..
Bunyi ingus yang keluar dari hidung kecilnya. Tanpa ragu Naruto segera membersihkannya.
" Kau kedinginan?" tanya Naruto saat melihat tubuh kecil itu menggigil. Ragu Sasuke mengangguk. Segera saja Naruto melepas syal merah miliknya dan melingkarkannya di leher Sasuke. Sekejap pipi Sasuke memerah. Entah malu, kedinginan atau hal lain. Yang jelas sebagai laki-laki ia kalah telak dengan gadis di depannya.
What the sudahlah..
Skip
Setelah berjalan mengelilingi kompleks perumahan elite, Sasuke dan Naruto akjirnya sampai di depan mansion Sasuke. Ya meski sempat tersesat akhirnya mereka sampai juga.
" Teme ini rumahmu?" tanya Naruto kagum plus sedikit kecewa. Tentu saja.. mana ada yang mau berteman dengan anak panti sepertinya. Naruto melirik Sasuke.
" Ne Teme, sebaiknya aku pulang. Jaa.."Naruto berbalik namun terhenti karena Sasuke memegang tangannya.
" Ayo masuk.."
" Ta.."
Belum sempat menjawab Sasuke sudah menarik erat tangannya.
" Astaga.. tuan muda dari mana saja."seru seorang pria dengan garis melintang di hidungnya cemas. Dia adalah Iruka asisten pribadi Sasuke. Ayolah siapa yang tidak cemas saat tuan muda alias majikannya menghilang atau bisa dibilang kabur? Dari pengawasannya. Dan sayangnya Iruka masih ingin seluruh anggota tubuhnya utuh.
" Hn."hanya jawaban singkat yang keluar dari Sasuke. Iruka menggela napas. Sudah terbiasa, batinnya sabar.
" Are,.. siapa dia tuan?"tanya Iruka saat melihat sosok asing di samping tuan mudanya. Sasuke tak menjawab hanya melirik Naruto seakan menyuruhnya mengenalkan dirinya.
" Na naruto, et tto.."
" Iruka. Nama paman Iruka."
" Ha'i Paman." Balas Naruto semangat dengan cengiran lima jarinya membuat Iruka tersenyum. Ah anak yang ceria. Berbeda sekali dengan tuan muda batinnya sambil melirik Sasuke. Dan saat itulah Iruka tertegun saat melihat senyum tulus Sasuke. Sudah lama rasanya sejak tuan mudanya tersenyum. Tepatnya tiga tahun setelah keluarganya sibuk dengan urusan masing-masing.
" Ayo Dobe."ajak Sasuke sambil menarik Naruto menuju kamarnya.
Skip
Sudah seminggu lebih Sasuke dan Naruto berteman. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Bermain, belajar karena mereka sudah sd dan lain-lainnya. Keluarga Sasuke tak ada yang mengetahui tantang Naruto, hanya para maid dan penjaga mansion yang mengetahui bahkan sudah akrab. Dan sejak saat itu juga Sasuke lebih sering tersenyum bahkan tertawa.
Saat ini Sasuke, Naruto dan Ayame sedang belajar membuat roti. Lebih tepatnya Naruto, karena Sasuke malah asik memainkan adonan dan mengusili Naruto.
Pukk
" Hahaha.. dobe lihat wajahmu.. haha lucu hahaha sekali."tawa Sasuke membahana saat melihat wajah merengut Naruto yang penuh tepung karena ulah Sasuke. Yap.. Sasuke dengan sengaja menumpahkan tepung yang sedang dibawa Naruto dalam baskom yang cukup besar. Alhasil wajah dan bajunya kotor oleh tepung.
Sedang para maid memandang geli tingkah mereka. Mereka tak menyangka ternyata tuan muda mereka sangat jahil. Yah.. meskipun hanya pada Naruto, Iruka dan Ayame sifat jahilnya keluar.
" grr... TEMEEEE..."teriak Naruto lalu menerjang Sasuke.
" Huaaaa..." jerit Sasuke saat Naruto menubruk dan memeluknya. Ia mengusek ngusek wajah dan bajunya pada Sasuke. Membuat Sasuke juga kotor.
Puas mengusek-ngusek Naruto menggelitiki perut Sasuke dengan menduduki perutnya.
" Hahahaahha.. Dobee.. haha sudah hahahaha.. hen hahaha tikan hahaha dobe.." Iruka menggelengkan kepala melihat sikap tuan mudanya keluar dari karakternya. Ah.. dia harus mengabadikannya.
Tap tap tap
Suara beberapa langkah kaki memasuki mansion yang terlihat sepi.
" Tadai..."
" Hahaha.. dobe lihat wajahmu.. haha lucu hahaha sekali."terdengar tawa Sasuke yang membahana membuat empat orang yang memasuki mansion mengernyit bingung.
' Sasuke?'batin mereka ragu plus bertanya-tanya. Setahu mereka Sasuke tak pernah tertawa sekeras itu.
" TEMEEEE..."kali ini terdengar teriakan cempreng khas anak perempuan.
" Huaaaa... Hahahaahha.. Dobee.. haha sudah hahahaha.. hen hahaha tikan hahaha dobe.."kali ini teriakan Sasuke diikuti tawa.
Tawa Sasuke yang lepas membuat keempatnya penasaran. Karena si bungsu Uchiha itu sudah tak pernah tersenyum apalagi tertawa. Dan kini mereka harus memastikannya.
Dapat mereka lihat kini tubuh kecil bungsu uchiha ditindih bocah perempuan. Dan bocah itu menggelitiki Sasuke hingga Sasuke tertawa lepas.
Namun tawa Sasuke segera berhenti saat melihat empat orang yang kini menatap dirinya. Digenggamnya tangan Naruto membuat gadis itu mengernyit bingung.
Segera saja mata birunya menoleh melihat arah pandang Sasuke. Saat itu juga saphirenya terbelalak. Segera saja ia berdiri dan menunduk takut. Sedangkan tatapan Sasuke kini berubah menjadi datar dan dingin.
" Sa.."
" Ayo Naru."ujar Sasuke lalu menarik Naruto pergi ke kamarnya.
Keempat orang itu memandang sendu sosok Sasuke. " Selamat datang Madara sama, Fugaku sama, Mikoto sama, Itachi sama."sapa Iruka lalu membungkuk diikuti yang lain.
" Siapa?"Suara Madara terdengar mengisi keheningan yang sempat terjadi. Pandangannya masih fokus pada dua punggung kecil yang hampir menghilang ditelan pintu.
" Ah.. dia Naruto, Madara sama. Dia anak panti asuhan di dekat sini. Beberapa hari ini memang mereka sering bermain bersama. Bahkan tak jarang Sasuke sama bersikap jahil layaknya anak-anak pada umumnya. Terutama saat bersama gadis kecil itu."jelas Iruka panjang yang kemudian mendapat tatapan tidak percaya dari keempat uchiha.
" Sungguh?"tanya Mikoto tak percaya.
" Ha'i, bahkan saya dan ayame sering menjadi korban. Ah Izumo dan Kotetsu juga. Dan Naru chan dia gadis yang baik. Saat itu dia yang mengantarkan tuan muda pulang karena kami sempat kehilangan tuan muda. Ah meski saya sempat melihat wajahnya kecewa. Mungkin dia tidak tahu kalau tuan muda orang kaya. Karena saat menghilang tuan muda mengenakan jaket Izumo yang kebetulan sudah lusuh. Saat itu saya melihat senyum pertama tuan muda begitu tulus saat bersama Naruto. Mungkin Naru chan tidak mengetahuinya karena saat bersama Naru chan tuan muda lebih sering tersenyum, bicara dan tertawa."
Mendengar penkelasan Iruka, mereka sempat tak percaya. Tapi, melihat bagaimana Sasuke tertawa lepas sebelum kedatangan mereka, agaknya membuat mereka percaya dan..
Bersyukur, setidaknya dinding yang dibangun si bungsu sudah ada yang menghancurkannya.
" Ne Teme.. sebaiknya aku pulang."ujar Naruto tiba-tiba setelah memasuki kamar Sasuke.
" Tidak dobe.. kau harus di sini." Balas Sasuke datar. Kini keduanya sedang duduk di ranjang king size milik Sasuke.
Hening
" Apa mereka leluargamu?"
" Hn. Mereka kakek, orang tua dan aniki ku."
" Tapi Naru tidak punya."balas Naruto sedih.
" Sttt.. Naru kan masih punya Sasu."jawab Sasuke tanpa ragu membuat Naruto bersyukur. Akhirnya dia memiliki teman yang mau menerimanya. Mereka pun berpelukan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan adegan pelukan Sasuke.
" Sasuke, boleh kaa chan masuk sayang?"ujar Mikoto membuat dua anak kecil itu bangun dari duduk mereka.
Tak ada jawaban, langsung saja Mikoto membuka pintunya. Dapat dilihatnya mereka berdiri dengan Naruto dibelakang Sasuke.
Sungguh Naruto benar-benar takut. Apa ini terakhir kalinya ia bermain bersama Sasuke. Ia takut keluarga Sasuke tak menyukainya.
Mikoto menghampiri keduanya dan berjongkok menyamakan tingginya.
" Sasuke kau tak ingin mengenalkan temanmu pada kaa chan?"ujar Mikoto sambil membersihkan noda tepung di wajah Sasuke.
Tak ada respon hanya Sasuke menarik naruto untuk berdiri di sampingnya.
" Na naruto, de desu.. yoroshiku bibi." Ucap Naruto gugup.
" Hai Naru chan.."seru Mikoto semangat saat melihat wajah imut Naruto. Dipeluknya Naruto erat. Ah.. ia ingin sekali punya anak perempuan.
Skip
Sejak saat itu Naruto mulai dekat dengan keluarga Uchiha yang bahkan menganggap keluarga mereka. Apalagi Madara, dia akan sangat bersemangat jika Naruto berkunjung ke mansion utama.
Dan semua keposesifan keluarga Uchiha bermula saat Naruto kelas dua sd. Dia terjatuh ke kolam renang saat udara dingin karena menolong Sasuke yang hampir terjatuh. Dan akhirnya Sasuke selamat karena Naruto menariknya sedang dirinya terjatuh menggantikan Sasuke. Naruto menariknya karena Naruto tahu Sasuke tidak bisa berenang. Namun Naruto salah. Karena cuaca yang dingin Naruto kedinginan. Dan itu membuatnya sulit berenang. Saat hampir sampai tepi tubuhnya sudah tidak sanggup lagi.
Sasuke yang melihat Naruto nyaris tenggelam langsung berteriak histeris. Tak lama Madara yang kebetulan lewat langsung menolong Naruto. Meskipun ia sudah tua, jangan remehkan kondisinya yang masih bugar.
Madara pun memeluk Naruto dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Sedangkan Sasuke mengikutinya sambil menangis.
Dan mulai saat itulah keluarga Uchiha selalu posesif pada Naruto. Karena Naruto matahari mereka, cahaya mereka dan musik pengiring kehidupan mereka.
Dan mereka tak akan membiarkan apa pun menghalangi cahaya mereka.
Flashback end
Tbc
Udah dulu. Maaf upnya lama. Moga suka. Kali ini membahas keprotektifan keluarga Uchiha. Kelanjutannya bisa kalian bayangkan sendiri saat mereka mengetahui keadaan Naruto.
Terima kasih sudah membaca.
