Requiem for Our Sin: Lacrymosa

"Tentang kau dan misa kematianku."

Suara itu mengerang pilu di ambang batas kesadarannya. Dalam keterpejaman, matanya mengernyit, timbul tenggelam menyelami keremangan hidup dan mati. Sebentar terang, sebentar lagi redup. Hanya kedipan monitor putih tulang yang menandakan bahwa ia masih bertahan untuk seseorang yang mengharapkan raganya tetap ada.

"Taehyung-ah." Suara Seokjin mencicit di tengah tangisnya. Di depannya, putra kesayangannya tengah menghembuskan napas lemah. Berkali-kali ia menciumi punggung tangannya, memberi kekuatan. Dan beribu kali pula air matanya bergulir membasahi kulit tan anaknya. Setiap detik ia menjerit dalam lubuk hati, pada Tuhan siapapun dan Tuhan yang manapun, mengingat selama ini ia tidak pernah mengenal Tuhan, Seokjin berharap 'telinga' Yang Punya Kuasa masih mau mendengar getar bibirnya, bahwa ia masih menaruh harap dan percaya agar putranya bisa disembuhkan.

Sama halnya dengan Taehyung yang tetap bertahan, Seokjin juga demikian. Ia bertahan untuk anaknya dan bertahan atas kuasa Namjoon.

Ia menggigit bibirnya kuat-kuat seiring isaknya yang mendesak keluar ketika otaknya memaksa mengingat itu lagi. Mengingat tentang Namjoon dan segala kedigdayaannya.

Seokjin menggeleng kuat-kuat, menepis segala pikiran itu. Ia tidak pernah menyesal mengenal Namjoon dan mendampinginya.

Tapi satu hal.

Satu hal yang menyebabkan Seokjin setengah mati ingin mengutuki segala sesuatu yang membuat rasa penyesalan menggerogoti setiap sel tubuhnya, yaitu mengiyakan Namjoon untuk segala rencana kotor dan konspirasi gelap yang mengambil peran dalam kekuasaannya.

Kekuasaan kotor yang menyebabkan Seokjin hampir kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Dengan segala upacara ganjil yang diikuti Namjoon saat itu mampu menukar hidup anaknya dalam satu gelombang yang menghempaskannya untuk bangun lalu jatuh, kemudian menderita hingga detik di mana Seokjin hampir putus asa mendengar denyut rapuh putranya.

"Taehyung-ah. Maafkan jika mama egois. Tapi bisakah kau membuka mata untuk mama sekali lagi, eoh?"

Jimin memandang sendu seseorang di depannya. Berkali-kali ibu jarinya mengusap kelopak milik mata mungil kesukaannya. Memandang pupilnya yang mengecil ketika cahaya menerobos masuk melalui gorden hijau yang terbuka di seberang mereka.

"Yoongi…" panggilnya lirih. Ada rasa pedih di ujung suaranya.

"Hmm?" Yoongi bergumam sebagai jawaban sambil pandangan matanya lurus ke depan, menerka-nerka di mana kedua bola mata Jimin yang tengah menatapnya.

Hening. Jimin tidak kunjung membuka suara. Yoongi berkata lagi, "Ada apa, Jim?"

"Kau ̶ "

"Kau ingin bilang kalau kau mengkhawatirkan aku lagi, eoh?" potong Yoongi sambil tertawa kecil. "Ahh, harus kukatakan berapa kali, aku tak mengapa, sungguh. Aku tak pernah menyesal, sayang."

Jimin kehilangan kata-katanya. Ini sudah kesekian kalinya mereka duduk menanti senja. Berdua memanjangkan kaki ke dekat perapian. Bersandar pada kursi kayu hitam yang juga Yoongi gunakan saat bermain piano hitam kesayangannya, serta Jimin dan ritual sorenya beberapa minggu belakangan ini, memandangi mata Yoongi. Mengelusnya pelan.

Diam-diam melalui kedua telinganya, Yoongi mendengar napas berat Jimin. Lalu tangan ringkihnya itu terangkat pelan. Mencoba mencari dan meraih wajah Jimin, menggunakan indera peraba dan perasaannya, namun sayang, sepuluh detik ia menghitung ujung jemari pucatnya tak kunjung menemukan paras suaminya.

Melihat itu, Jimin tersenyum sedih. Tangan kanannya meraih tangan Yoongi yang menggapai-gapai udara. Mengamati sejenak jari manis Yoongi dengan cincin emas putih polos yang juga tersemat pada jarinya. Bukti kesakralan dan janji mereka.

Jimin membawa jari-jari itu dalam kecupan. Yoongi merasakan hangat yang menjalar lewat nadi ketika ujung bibir Jimin menyentuh punggung tangannya. Teliti Jimin menciumi pucuk-pucuk jemari hingga telapak tangannya. Mengabsen setiap lekuk dan sendi jemari Yoongi yang kulitnya seakan tak bisa dimakan usia.

Selepasnya, Jimin membawa kedua tangan Yoongi untuk membingkai wajahnya. Ia bergeming menunggu saat bibir tipis pujaannya itu bergerak hendak mengatakan sesuatu.

"Jimin," panggil Yoongi lirih. Lama tak ada jawaban, hanya suara retak kayu yang terbakar di perapian. Ia memutuskan untuk melanjutkan. "Kumohon untuk kesekian puluh kalinya, berhentilah mengkhawatirkan. Mengkhawatirkan sesuatu yang seharusnya tak perlu dikhawatirkan."

"Pertemuan kita dua puluh empat tahun yang lalu bukanlah sebuah kesalahan. Pun keputusan besar itu pula," Yoongi berhenti sejenak. "Jangan pernah menyesalinya karena kau tak melakukan apa pun. Aku, aku yang memilih untuk menjadi seperti ini. Aku yang memilih Jungkook untuk hadir di antara kita. Aku yang memilih bahagia untuk kita."

Setetes bulir turun dari ujung mata Jimin mengenai tangkupan Yoongi. Suara tulus dan mata lembut Yoongi menerjunkannya jatuh, jatuh bebas ke dalam hidupnya dua puluh lima tahun terakhir, lalu mengambang mengingat semuanya.

Tentang titik pertemuan. Pertemuan sulur takdir mereka yang bercahaya biru terang, seterang langit tanpa awan-awan.

Musim semi di penghujung Maret tiba, ketika itu sakura sedang merekah. Sebagian besar warga kota keluar rumah dan turun ke jalan menikmati pekan-pekan musim semi yang merona. Tapi pengecualian untuk Jimin, pemuda itu sedang bergelung nyaman di Minggu pagi yang penuh buaian.

Seminggu penuh ia bergulat dengan tugas-tugas kuliah, tidak tidur jika angka jam digital di atas nakasnya tidak menunjukkan angka tiga, belum lagi pekerjaan paruh waktu yang dilakoninya setiap pulang dari kampus sudah cukup membuat tubuhnya remuk redam. Bagi Jimin, hari Minggu itu seperti mangsa yang harus ia telan bulat-bulat.

Meskipun matahari sudah menyentuh pucuk daun dan menerobos kisi jendela apartemennya, Jimin tetap bergeming. Ia tetap nyaman dalam dengkuran halus di balik buntalan selimutnya hingga jeritan nada panggil dari handphone mengusiknya. Terpaksa ia membuka mata yang rasanya baru saja terpejam beberapa saat lalu. Ingin Jimin mengutuk pelaku di balik panggilan itu, namun cepat-cepat ia menggeser ikon telepon dan mengakhiri nada panggilan yang menguing setelah tahu siapa yang mencoba menghubunginya, ibunya!

"HALO! JIMIN-AH, KE MANA KAU?! JANGAN BILANG KAU BARU BANGUN! DATANG SEGERA KE GEREJA ATAU TIDAK ADA UANG SAKU TAMBAHAN SELAMA SEMINGGU!"

Tuuut… tuuut… tuuut…

Panggilan tertutup begitu saja. Jimin mengerang kesal. Ia melirik jam digital di meja, pukul tujuh lebih lima belas menit. Pantas saja ibunya mengamuk.

Persoalan kuliah tidak kuliah, belajar tidak belajar, hang out sampai malam, ibu Jimin tidak pernah mempermasalahkan. Ia tidak pernah ribut kecuali satu, yaitu persoalan ibadah rutin di hari Minggu. Setiap pukul tujuh pagi Jimin harus sudah siap siaga di gerbang gereja pusat kota untuk mengikuti misa. Itu suatu keharusan, mutlak. Boleh tidak mengikuti jika benar-benar mendesak. Pernah sekali ia mangkir dari jadwal misa itu dengan alasan bahwa ia sedang di ada tugas sampai menginap di kampus. Namun sayang seribu sayang, ibunya bisa mendeteksi kebohongan yang keluar dari ujung nada suaranya. Selepas misa, ibunya mendobrak apartemen Jimin hanya untuk menemukan anaknya yang terkulai di ranjang empuknya. Tanpa babibu ibunya langsung mencercanya sampai Jimin terperanjat saking nyaringnya.

"KAU BOLEH SAMPAI TIDUR SAMPAI MAMPUS. TAPI HADIRILAH MISA DULU! SEPULANGNYA KAU BISA TIDUR SAMPAI MISA MINGGU BERIKUTNYA!" itu potongan rentetan omelan ibunya dengan akhir yang menyedihkan, "KARENA KAU TIDAK DATANG DAN BERBOHONG PADA IBU, MAKA TIDAK ADA UANG SAKU SELAMA SEMINGGU!"

Dengan setengah hati Jimin bangkit dari ranjangnya. Gerakannya yang tiba-tiba membuat pening kepalanya. Ia menjaga keseimbangan tubuh sambil tangannya meraba-raba di mana handuknya berada.

Sebenarnya Jimin apatis dengan kebutuhan rohaniah yang sering dituturkan ibunya sejak kecil. Ia sangat malas jika sudah disuruh duduk tenang di mengikuti prosesi ibadah, tak tanggung-tanggung, ia bisa berkali-kali menguap lebar hingga orang-orang yang duduk di sekitarnya tak nyaman. Ia sungguh tak peduli. Tapi lain urusan jika itu menyangkut ibu Jimin yang religius total. Pernah ia berpikir untuk pindah dari gereja yang sama dengan ibunya agar jika ia mangkir ibunya tak akan tahu. Tapi sekali lagi, ibunya selalu berhasil mencium akal bulus Jimin.

Jimin menghabiskan satu menit hanya untuk mandi. Ia segera berlari membuka lemari meskipun badannya belum kering benar. Alhasil, tetesan air dari badan membasahi apartemennya.

"Ah, sial!" Ia mengumpat beberapa kali ketika ekor matanya menangkap angka di kalendernya. Minggu ini adalah jadwal para pemuda Kathotik, organisasi para muda mudi seperti dirinya, menjadi koor di gereja. Dengan kata lain, ia harus menyanyi sepanjang misa. Oh, demi Tuhan Jimin sedang malas untuk itu. Membuka mulut untuk menjawab telepon ibunya saja ia malas, apalagi menyanyi sepanjang prosesi.

Jimin mengusap wajah kesal. Cepat ia menyambar setelan seragam yang ia kenakan setiap ada jadwal menjadi paduan suara di gereja. Ia bercermin sejenak, menyisir rambut hitam setengah basahnya dengan jari, lalu menyahut kunci motor di mejanya.

Jimin mencapai pelataran gereja ketika misa baru saja dimulai. Mengetahui Imam Selebran dan pelayan lainnya menuju altar dengan diiringi antiphon pembukaan, kaki Jimin segera berlari sambil berjingkat-jingkat, menuju salah satu pintu selain pintu utama. Ia mengendap-endap ke ruangan utama gereja. Ia melemparkan jaketnya ke sembarang tempat. Dengan halus ia menyelinap ke salah satu pintu yang menuju langsung ke tempat para koor gereja berada.

Hoseok hampir terjungkal begitu saja ketika Jimin muncul di sampingnya tanpa tiba-tiba. Ia melemparkan tatapan 'kau ingin mati?' saat Jimin dengan cengiran tanpa rasa bersalahnya ikut bernyanyi.

"Hei."

Jimin menoleh ketika Hoseok menyikutnya. Ia menaikkan alisnya, 'kenapa?'

Hoseok menunjuk dengan dagunya. Di ujung barisan koor, ekor mata Taemin, si ketua koor gereja hari ini, menyipit menatap Jimin. Air mukanya menunjukkan rasa tidak suka karena keterlambatan Jimin.

"Siap-siap saja mendapat khotbah tambahan dari Taemin." Ujar Hoseok berbisik di telinga Jimin.

Sementara Jimin masih menoleh ke kanan, tempat ujung barisan koor. Tapi bukan Taemin kali ini yang menyedot perhatiannya. Tapi lelaki di depan Taeyeon yang berdiri dua blok darinya. Seorang lelaki putih pucat yang tak pernah Jimin lihat sebelumnya. Kuat dugaan dia adalah anggota baru di gerejanya.

Lagu terakhir dari empat lagu misa yang mereka nyanyikan telah habis, namun mata Jimin tak meninggalkan titik di mana ia terpaku beberapa waktu yang lalu. Tak pernah sebelumnya ia tertegun dan menatapi orang asing seperti ini. Lelaki bermata dan berhidung mungil itu seratus persen menyedot perhatiannya. Jimin terus mengamati rambut hitam legamnya dan paras yang nampak manis dari samping. Tanpa tahu sesuatu di balik baju biru laut bordir emas miliknya berpendar.

Tanda miliknya. Tattoo sepasang burung gereja dan sulur-sulur yang menjuntai indah tengah berdesir halus. Menyiratkan cahaya biru langit yang terang. Ia meraba selangkanya. Sedetik kemudian, merasa diperhatikan, lelaki yang tak pernah lepas dari pandangannya itu menoleh menatap Jimin. Senyata kedua bola mata Jimin, lelaki itu juga memegangi selangkanya. Dengan mata lembutnya, ia menatap Jimin dengan jutaan gurat perasaannya.

TBC

Halo,

Terima kasih yang udah mau baca, yg fav, follow dan review apalagi. Eh, ada ralat, di chap 1 paragraf kedua dari bawah itu seseorang ya, bukan seorang wanita. Heheh. Bisa dibaca ulang yang bagian akhir biar ga bingung.

Oh iya, aku ga pernah liat ato ikut misa, tau misa dari temen temen yang suka aku tanyai wkwk. Jadi kalo chap ini ngga sesuai dengan misa yang biasanya dilakukan, mohon dimaklumi;( ato kalo ada yang nambahin gmn prosesi misa bisa ditulis di kolom review. Aku akan dg senang hati bacanya.

Finally, tengkiss. Semoga kalian ngga bosen.

ED.