Sudah menyentuh angka ke seratus hari Seulgi meninggalkan dunia, meski begitu meskipun Wonwoo menanggalkan jas hitamnya(*) itu tidak mengubah fakta apapun. Dia tetap berkabung. Di tengah ruang utama kediamannya dia membangun pelataran ibunya, Wonwoo menaruh dupa dan persembahan. Dia melepaskan sepatu untuk menaiki pelataran kemudian mendoakan Seulgi. Meski kelelahan sepulang bekerja dia tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang anak.

Namun ada yang berbeda sore ini —dia pulang saat matahari masih bertengger di langit karena ini hari ke-100 ibunya meninggal. Seorang penjaga rumah mengatakan ada pria mencurigakan karena memarkirkan mobilnya di depan pagar tetapi tidak mengucapkan sepatah katapun.

Usianya terlihat lebih dari 6 dekade, dia berdiri membelakangi sebuah BMW hitam sembari memandangi Wonwoo datar. Pria tua itu nampak rapi mengenakan pakaian formal dan eksklusif. Rambutnya setengah memutih disisir ke belakang. Memakai kaca mata membantu penglihatannya yang siapa saja dapat duga kabur akibat dimakan usia.

Hingga Wonwoo memilih berjalan melintasi perkarangan lalu terhenti di hadapannya, balik memandangi si pria tua. Mengabaikan Mimi —kucing peliharaan melenggok manja di kakinya.

"Maaf tuan, ada yang bisa aku bantu?" Deritnya dari balik pagar.

Wangi parfum melintang di udara. Pria itu memiliki rambut klimis yang mengilap memantulkan pias mentari sore. Dari raut datarnya Wonwoo asumsikan ia memiliki sikap tenang dan mampu menyelesaikan segala permasalahan menggunakan kepala dingin.

Typical seorang pria di usia senja yang sudah mengenal asam-pahit kehidupan. Penampilannya yang rapi sudah pasti tuntutan pekerjaan yang harus dipenuhinya sepanjang ia berkarir sejak belia.

"Konnichiwa Wonuu— sama." Halo, tuan Wonwoo.

Wonwoo tersentak lalu reflek mundur sebanyak dua langkah. Dia terjengit keheranan.

"Kaerimasho." Ayo pulang.


•oOo•

Hajimete Dewanai
Chapter 1: My Ice Mountain

•oOo•


Wonwoo tidak sanggup berpikir bahwa ia akan bertemu keluarga kecilnya yang telah terpisah selama lima tahun. Dia setengah antusias, setengah tidak. Dia memang seumur hidup menantikan masa-masa ini, menyelesaikan mimpinya yang tak berujung. Tetapi di lain sisi, dia teringat Seulgi yang pernah tidak merestui kehidupan berkeluarganya.

Bagaimana dengan penampilan dirinya? Wonwoo berkaca pada Iphone miliknya dan seperti biasa menemukan wajah melanin pucat warisan sang ibu. Dia hanya perlu mengaplikasikan lipbalm di bibirnya, sisanya biar dia menepuk-nepuk wajahnya agar sedikit berwarna.

"Anda sudah seperti itu Wonuu— sama, tidak perlu merubahnya."

Diketahui nama pria tersebut adalah Takeda Fumie. Wonwoo memanggilnya Takeda-san. Partikel di akhir dia tambahkan untuk menandakan dirinya memiliki darah jepang. Selama 62 tahun hidupnya Takeda mengabdikan diri kepada keluarga Mingyu.

"Ke mana kita pergi?"

"Airport."

"Apa? Kita bukan ke restoran atau lainnya saja? Di mana tepatnya sekarang Kim Mingyu?"

"Di Okinawa tuanku."

Wonwoo terdiam sebentar. Pantas saja dia merasakan kejanggalan ketika Takeda membawanya memasuki jalan tol, pindah lintasan ke arah satu-satunya jalan menuju bandara. Dia melirik jam tangannya kemudian bergumam.

"Aku seharusnya meeting jam 10 malam ini." Katanya seraya menatap matahari terbenam.

Takeda tidak menjawab.

"Apa kau tidak berpikir yang kau lakukan sekarang adalah penculikan, Takeda-san?"

Takeda terkekeh. "Kau yang masuk ke mobilku tadi, tidak ada paksaan sama sekali ketika aku, memintamu." Takeda berkilah. Senyum sengau Wonwoo dapati.

"Aku tidak bawa passport."

Tiba-tiba saja Takeda mengangkat tangan kirinya sambil menunjukkan buku tipis. Sebuah passport jepang dengan kepemilikan nama Jeon Wonwoo berada di tangannya. Dia mengipas-ngipaskan benda tersebut di udara.

Wonwoo menyipitkan mata bersungut kemudian bersender dengan tangan yang berlipat.

"Kau masih suka merajuk tuanku. Kawaiine."

Setidaknya, mereka masih berada dalam satu garis keturunan yang sama. Takeda memang bicara menggunakan bahasa ibu Wonwoo, tetapi terkadang ada satu-dua kata bahasa jepang diselipkan juga.

"Aku mengerti maksudmu Takeda-san. Aku tidak menganggap itu pujian! Aku-tidak-mau disebut imut!"

"Kawaii tidak selalu imut. Bisa manis, anak kecil, dan untuk lelaki submissive juga kecil seperti anda."

Wonwoo akan meledak saat itu juga kalau yang menjadi partner bicaranya bukanlah orangtua yang musti dia hormati. Jika Takeda adalah seorang di stasiun yang tidak Wonwoo kenali kemudian berucap demikian, dia akan ditahan karena dianggap telah melecehkan.

"Aku tidak imut, dan tidak manis! Aku tinggi! Lelaki macam apa yang mau disebut seperti itu? Submissive astaga."

"Kau dulu suka disebut begitu."

Wonwoo yang hampir memuntahkan kata makian mendadak tersedak. Dia melihat kaca spion di depan, pandangan Takeda masih terfokus pada jalan.

"S-Siapa yang menyebutku dulu begitu?"

"Ming gyu-sama orangnya. Kawaii, utsukushii, omoshiroii, tanoshii, shizuka, miwakusuru; kau adalah definisi kata-kata yang aku sebutkan tadi menurut Kim Ming gyu."

"Maaf, tapi apa artinya kata-kata tadi?"

"Imut dan manis, cantik, ramah, menyenangkan, pendiam, memesona."

Wonwoo hanya perlu mengatur kadar merah yang spontan terpoles di wajahnya. Apa benar seseorang begitu memuja Wonwoo bahkan memberikan definisi tersebut untuknya?

Orang seperti apa sebenarnya Kim Mingyu ini? Wonwoo menerka-nerka dia adalah pria baik mungkin sedikit manja sehingga membutuhkan pelayan seperti Takeda. Wonwoo benar-benar tidak memiliki ide mengenai kilas balik wajah seperti apa yang dimiliki seorang Kim Mingyu.

"Sudah sampai."

"Eh, ini tidak seperti tempat yang biasanya. Apa kita langsung ke lacu landas?"

"Kita memakai jet pribadi Kim Ming gyu, tuanku."

•oOo•

Gugup itu ada. Sekarang Wonwoo mencoba menetralkan degup jantungnya dengan berusaha tidak bertindak serampangan sesampai di kawasan mewah tersebut. Seperti istana. Tambahkan garis bawah; Seperti istana! Dengan langit-langit tinggi bergaya Victorian, Takeda menceritakan rumah Mingyu sudah ada sejak era Meiji; ketika Amerika berhasil memasuki jepang setelah gempuran mahadahsyat untuk menghancurkan masa isolasi negara jepang di era edo.

Dulu kediaman itu ditempati jendral angkatan laut Amerika yang bertugas di Jepang. Pemerintahan jepang menyerahkan rumah tersebut kepada leluhur Mingyu di akhir abad 1800-an sebagai bentuk kerjasama negara imperialis (Korea) dengan negara produksi (Jepang). Keluarganya cukup terpandang karena sebagai 'wajah' kerja sama korea-jepang di dunia industri pada masa tersebut.

Wonwoo mengikuti jejak Takeda dan terhenti di sebuah ruangan kosong dengan langit cukup tinggi dan ada lorong untuk menyambung dengan ruang selanjutnya. Ia duga ruangan di depannya setelah lorong adalah galeri dilihat dari banyaknya lukisan yang dijejalkan di dinding. Dia dapat mendengar suara orang bercakap-cakap dalam bahasa jepang dan bayangan beberapa pria melintasi lorong.

Sekali lagi mencoba menenangkan degup jantungnya. Wonwoo dapat melihat Takeda melirikkan matanya dan Wonwoo menangkap salah seorang pria paling tinggi dengan kulit gelap menawan tersenyum terhadap tamunya. Setelah berbincang mereka berjabat tangan dan kedua pria itu melengang meninggalkan ruangan. Mingyu masih berdiri di sudut membelakangi dan menghadap ke sebuah jendela. Sepertinya tidak menyadari kehadiran Takeda besertakan Wonwoo di ambang pintu.

"Ehm, Ming gyu-sama." Takeda berdehem dan itu menyadarkan Wonwoo yang terpatung selama beberapa detik. Sementara Mingyu di seberang masih menatap jendela akhirnya berputar perlahan. "Jeon Wonwoo sudah saya antarkan dengan selamat."

Wonwoo tidak terlalu paham dengan yang diucapkan Takeda. Dia memutuskan untuk menghampirinya.

Setelah dilihat dari dekat Kim Mingyu ternyata tidak sembarangan tinggi. Dia sangat tinggi melebihi 180 centimeter dan perawakannya cukup besar. Kulitnya berwarna tan sehingga menimbulkan kesan eksotis, tubuhnya berisi juga seksi. Rahang tegas dan struktur wajah yang jelas diakui semua orang ketampanannya tentu saja akan menjadi pusat perhatian —termasuk Wonwoo sendiri.

Bibirnya agak terbuka sedikit dan memperlihatkan deretan giginya yang cukup besar. Yang paling menonjol adalah gigi seri miliknya yang timpang dan taring besar yang mencuat. Cukup mengalihkan atensi Wonwoo untuk sesaat lamanya. Wonwoo merasakan sengatan di perut hingga memacu adrenalin dia pernah merasakan ini entah di mana.

Ikon seorang pewaris tahta melekat dalam dirinya. Tanpa menelusuri lebih dulu tercium bau kekayaan pada pria itu. Dia sangat tinggi sampai-sampai segala sesuatu dilihatnya secara congkak. Wonwoo merasakan panas menjalari pipinya di bawah tatapan tajam mata pria itu. Irisnya begitu gelap dan aura dominan seorang pria yang biasa berkuasa sejak kecil menguar bebas. Badannya tegap dan karisma yang ditunjukkannya luar biasa angkuh.

Mereka terpaut 5 langkah jaraknya. Dengan Wonwoo yang berusaha menahan panas di wajah serta mati-matian mengontrol diri untuk tidak ambruk pada saat itu juga saking menarik Kim Mingyu di matanya. Wonwoo pernah jatuh cinta dengannya di masa lalu dan dia tidak mengingat penyebabnya, kini Wonwoo mengerti alasannya dan menahan diri untuk tidak terlihat seperti dia yang dulu —meski Wonwoo sendiri tidak mengingatnya.

"H-Hai aku Jeon Wonwoo. Mungkin aneh karena aku memperkenalkan diri kepada suamiku sendiri. Itu lucu, tapi—"

Mingyu mendesah.

"Jangan sampai dia keluar." Berucap seraya melangkah, Mingyu menepuk punggung Takeda sekali lalu keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Wonwoo yang menggantung kalimatnya di udara.

Wonwoo berputar sebentar, perlahan. Menuntut penjelasan pada Takeda yang menatapnya datar. "Okay. Apa-apaan itu?" Dia melemparkan pandangannya melintang ke jendela, menatap porsche hitam yang dimasuki Mingyu kemudian melaju dari halaman —yang dia pikir tadi taman kota karena terlalu luas.

Takeda menunduk sekali. "Saya undur diri." Kemudian melangkah mundur. Wonwoo ditinggalkan seorang diri di ruangan besar yang ia pikir adalah ruang tamu itu.

Sekarang Wonwoo tidak tahu harus kemana, dan melakukan apa di tempat asing.

•oOo•

Wonwoo cukup beruntung karena seorang pria yang mengaku orang asli korea mendapatinya ketika sedang kebingungan. Saat itu Wonwoo sedang melihat-lihat galeri Mingyu di ruangan yang tersambung dengan lorong, ada meja yang sangat besar dan dapat menampung sekitar 30 orang banyaknya.

Sepertinya galeri Mingyu beberapa kali disewakan terlihat dari permadani yang diinjakkannya masih nampak gemilang tetapi cukup bernoda, atau mungkin dijadikan tempat konferensi dan meeting besar. Wonwoo tidak tahu.

Meski Wonwoo sendiri menjalankan usaha, tidak pernah terpikirkan baginya untuk merubah kediaman miliknya menjadi tempat umum atau bisnis. Bahaya sekali. Atau jika dirinya mendapat kesempatan diberikan hak oleh pemerintah untuk menerima tempat tinggal semacam ini, maka Wonwoo akan memilih untuk menghibahkannya saja.

Pemuda korea yang menghampirinya mengaku sebagai kepala pelayan setelah Takeda diangkat menjadi tangan kanan Kim Mingyu. Dia berkata namanya adalah Lee Jihoon dan ternyata memiliki usia yang sama dengan Wonwoo. Tubuhnya kecil sekali mungkin hanya mencapai 165 sentimeter, sekitar 15 senti lebih pendek daripada Wonwoo. Dia bergumam seharusnya pria ini yang Takeda sebut submissive, bukan dirinya.

Setelah Jihoon menerangkan sedikit tentang rumah, Wonwoo percaya saja dan menyerahkan diri kepada pria pendek itu. Eksistensi dirinya dianggap angin lalu oleh Mingyu dan itu membuat Wonwoo kehilangan sebagian nyawanya. Mingyu sangat tidak beretika dan Wonwoo dibuatnya kesal setengah mati.

"Rumah ada di sayap kanan. Yang tadi itu bangunan utama untuk keperluan bisnis." Katanya. "Kau akan tinggal di sini." Setelah undakan ke-2 dan itu membuat Wonwoo lelah—Wonwoo harus berterimakasih kepada Jihoon karena telah membuatnya berolahraga—dia mengikuti arah pandang Jihoon dan menatap ke balik pintu jati yang dibukakan olehnya.

Itu ruangan paling mewah yang pernah Wonwoo temui dibandingkan kamar-kamar hotel berbintang yang pernah ia sewa saat dinas. Rahang terjatuh dan matanya membulat.

"Biasa saja Wonwoo-ssi, Mingyu memang seleranya yang seperti ini."

"Sebentar. Kau memanggilnya Mingyu saja? Tanpa embel-embel." Wonwoo baru menyadari itu padahal sudah bercakap-cakap cukup panjang tadi. Dia mengerutkan satu alisnya dongkol. Entah kenapa dengan dirinya saat ini. Tadi dia merutuki perilaku Mingyu yang menyebalkan, sekarang dia tidak suka orang lain memanggilnya akrab.

"Hm.. Sebenarnya aku saudara jauhnya. Mingyu menawariku pekerjaan sekitar sebulan lalu katanya dia butuh pekerja korea, make sense?"

"Apa kau punya istri atau lainnya?"

"Aku hidup sendiri Wonwoo-ssi, terimakasih sudah bertanya." Lalu Jihoon meninggalkan Wonwoo seorang diri.

Wonwoo mematung dan mencoba meresapi informasi itu. Entah pikirannya yang mendadak terus negatif sejak mendatangi tempat ini atau apa, dia tidak suka orang lain dapat dekat dengan Mingyu sementara dirinya tidak.

Dia perlu mandi air dingin untuk menyegarkan pikiran setelah 3 jam perjalanan dan menerima kenyataan bahwa suaminya bersikap dingin padanya. Lalu ada orang lain yang dapat memanggil Mingyu akrab menambah kecemasan yang tidak perlu ditambah ke dalam kepalanya. Wonwoo benar-benar butuh berendam air dingin lalu tidur.

Setelah mandi dia mendapati Kim Mingyu di kamarnya. Wonwoo hanya mengenakan handuk putih di pinggang dan itu menambah kadar terkejut di dalam dirinya. Ada Lee Jihoon juga nampak di sebelah Mingyu yang terduduk di kasur. Dia nampak membawa sepotong pakaian untuk kemudian diserahkan kepada Wonwoo. Wonwoo menerima pakaian tersebut tanpa melepas pandangan kepada Mingyu.

"Ke mana kau tadi?" Tanyanya.

Jihoon menengadah sebentar kemudian ia melangkah keluar.

"Bisnis." Suaranya menggema di dalam ruangan. Khas bariton dan memantul-mantul di kepala. Pakaiannya lebih santai dibandingkan saat ia berangkat tadi.

Jeon Wonwoo baru pertama kali merasakan pertahanan dirinya runtuh. Biasanya ia bersikap tenang dan waspada. Kenapa kepada Mingyu rasanya ingin ia semprot saja orang ini.

Wonwoo berjalan menuju sudut ruangan. Menghadap dinding tanpa mengalihkan pandangannya. Dia melihat Mingyu yang sibuk dengan tabletnya.

"Hei!" Teriaknya.

Mingyu menatapnya. Sebagian pikirannya masih berada tablet yang sedang dipegang.

"Apa kau masih tetap ingin di sana? Aku akan berganti pakaian." Ucap Wonwoo.

Masih mempertahankan wajah angkuhnya, atau memang terlihat seperti itu dari sananya —Wonwoo kesulitan menerka ekspresi apa yang Mingyu pasang sekarang.

"Apa aku harus pergi dari kamarku sendiri?"

"Apa maksudmu? Ini kamarku. Jihoon mengatakannya begitu." Wonwoo berkata kasar.

"Ini kamarku." Deritnya absolut. Bariton yang masih sama. Tetap menggema dan memantul-mantul memenuhi kepala Wonwoo.

"Sialan.'' Wonwoo siap berbalik dan mengenakan pakaian itu.

Dan untuk pertama kalinya Mingyu mengangkat wajahnya untuk kemudian menghampiri Wonwoo. "Apa kau bilang tadi?"

Wonwoo cukup terkejut tentu saja. Handuknya sudah ia kendurkan dan hampir merosot ditambah Mingyu yang menghentakkan bahunya kasar.

"Untuk sekali saja, perlakukan aku seperti keluarga. Kau suamiku, kau yang membawaku ke mari."

Aku sendiri bingung mengapa. Mingyu balik mempertanyakan kerasionalan pada dirinya sendiri.

"Apa kau diizinkan menyumpahi suamimu? Seperti apa orangtuamu mendidikmu hah?"

Wonwoo naik pitam. Yang Mingyu singgung sudah pasti Seulgi dan Wonwoo tidak dapat terima. Wonwoo menangkis tangan Mingyu di bahunya, dia tidak menyangka sebelum tangannya mampu menjangkau lengan Mingyu pria itu sudah lebih dulu mencengkram bahunya. Wonwoo menjerit kesakitan, perih dan lumpuh dapat dirasakannya.

"Jangan berpikir kehidupanmu di sini berjalan seperti sebelumnya, Jeon Wonwoo." Sebelum Wonwoo menjatuhkan lututnya, Mingyu melonggarkan cengkraman di bahu Wonwoo. Dia kembali mendapat keseimbangannya.

Rintihan lolos dari belah bibirnya, dia berhasil menelan amarah. Sementara Mingyu masih menatapnya sama. Dia menelan ludah yang berkumpul di mulut.

"Cepat berpakaian, makan malam sebentar lagi."

Wonwoo merunduk. Dia yang selalu bangga dengan pertahanan dirinya malam ini runtuh. Wonwoo menangis di hadapan suaminya. Dia tidak berani menatap wajah Mingyu.

Matanya berkelindan sendu, menatap apa saja yang yang berada di bawahnya seperti lantai dan ornamen-ornamen kayu di kaki meja. Harga dirinya di hadapan Mingyu tidak lebih dari pada benda-benda tersebut.

Continuer

Counts word: 2303


(*)Menurut budaya di Korea menanggalkan pakaian hitam tanda penghormatan artinya telah selesai masa berduka. Tapi hanya jaman dulu.


Oh ya, sepertinya ini akan menjadi long chapter, gomennasai. Tapi aku sudah selesai sampai chapter 4.