Setelah menyelesaikan pekerjaan yang tersisa di ruang kerjanya, Mingyu kembali menuju kamar untuk beristirahat. Pukul 2 dinihari, pukul 9 ia harus pergi lagi ke kantor. Oh ini adalah hari yang besar, Wonwoo kembali dalam kehidupan mereka setelah 5 tahun masa penantian.
Dia membuka pintu ruang kamar lalu menuju ranjang yang akan ditempatinya bersama dengan Wonwoo, lagi. Dia melihat Wonwoo yang tertidur dalam posisi tengkurap dan sembrono. Untuk sementara waktu Wonwoo akan mengenakan pakaian Mingyu karena pakaian lamanya apek dan Mingyu curiga dengan adanya serangga.
Dia memiringkan tubuh Wonwoo lalu memakaikannya selimut. Setelah itu Mingyu menuju seberang kasur untuk berbaring. Kasurnya terasa lebih hangat daripada malam-malam sebelum ini. Dia menatap wajah damai lelap Wonwoo di sampingnya. Kulit putih berseri seperti perempuan, ekspresi kakunya masih sama persis dengan 5 tahun lalu. Dia hanya sedikit bertambah tua tetapi masih Wonwoo yang dikenalinya.
Mingyu baru akan memakai selimut juga tetapi Wonwoo menggeliat, leher jenjang dan polosnya terbuka akibat sweater merah tua milik Mingyu yang kebesaran dan longgar di bagian sana. Mingyu jadi teringat Wonwoo termasuk tipe orang yang menjadikan makanan sebagai daftar musuh utamanya. Apakah di Korea Selatan Wonwoo masih seperti itu?
Wonwoo akan kesetanan jika seseorang memintanya makan, baginya aktivitas makan hanyalah membuang-buang waktu. Hanya sebagai alasan karena ia takut gemuk atau dia terlalu berambisi dalam menjaga bentuk tubuh. Semasa berpacaran Mingyu jadi belajar masak karena Wonwoo susah makan dan menemukan kegiatan itu menjadi rutinitas yang menyenangkan.
Dia menghabiskan sebagian besar masa kuliahnya pacaran dengan Wonwoo memintanya bolos di manshon* yang dulu ia sewa. Mingyu butuh usaha agar Wonwoo pindah dari apaato** agar pacarnya dapat ia pantau kesehatannya.
Dia meraih tubuh Wonwoo untuk dipeluknya dan Mingyu merasakan suaminya seperti bertambah kecil. Mingyu menekan-nekan lehernya, selangkanya, sampai lengannya ia periksa; bekas itu masih ada. Dia menyenderkan kepala Wonwoo di bahunya dan bergumam lirih. Mengecup kepala Wonwoo lalu membisikinya hangat.
"Semua akan baik-baik saja Won."
•oOo•
Hajimete Dewanai
Chapter 2: The Lover and Beloved Child
•oOo•
Hari-hari berjalan sangat buruk. Dengan Mingyu yang selalu abai dan tatapannya yang mematikan, juga boneka yang lebih akrab dengan Mingyu bernamakan Lee Jihoon dibandingkan Wonwoo —suaminya sendiri. Dia sudah 3 minggu menetap dan belum seluruh kediaman dapat dijangkaunya. Rumah yang sangat luas, Wonwoo lebih memilih menyebutnya museum daripada kediaman.
"Hey!" Wonwoo baru saja melarikan diri dari anjing bulldog di taman —entah taman ke berapa yang dia temui di Mansion sejak kedatangannya. Jihoon memanggilnya seraya berlari.
"Apa?" Wonwoo menutupi dahaga dan lengos napas yang memburu dengan menegakkan badan.
"Mingyu mengizinkanmu keluar. Aku memohon padanya." Katanya antusias. Kenapa pria ini mau repot-repot untuknya.
"Um, aku sebenarnya tidak terlalu butuh. Yang aku inginkan adalah pulang ke Korea Selatan."
"Jangan begitu Wonwoo-ssi, Mingyu akan sedih nanti."
Sedih apanya? Dia hampir membunuhku setiap hari dengan perilakunya. Batin Wonwoo.
"Pokoknya kita keluar dulu lalu refreshing. Kau tidak bosan apa di rumah sepanjang hari? Jujur saja walaupun aku cuma pelayan pribadimu tapi rasanya tulangku remuk menuruti permintaan-permintaan tidak masuk akalmu." Keluhnya. "Kau memintaku memaksa Mingyu memakai jas ungu yang tidak dia sukai. Dan pada akhirnya dia tetap tidak mau memakainya. Seharusnya kau saja yang memintanya, pasti dia akan menurut."
Padahal permintaan Wonwoo kepada Jihoon saat itu hanya untuk mengamati seberapa jauh tingkat kedekatan antara Mingyu dengan Jihoon —saudara yang katanya jauh tersebut.
"Aku kesulitan mengimbangimu Wonwoo-ssi."
"Panggil Wonwoo saja." Ucapnya seraya mengusap bahu Jihoon. Sebenarnya Jihoon tidak seburuk yang Wonwoo duga. Dia baik karena di samping sebagai seorang pelayan pribadi, Jihoon memikirkan perasaan Wonwoo.
"Dan aku mohon jangan berucap seperti Mingyu peduli padaku. Jangan memberiku harapan."
Jihoon sudah mengetahui konflik antar keduanya. Wonwoo dan Mingyu tidak pernah dapat akrab hampir dalam segala situasi. Mereka tidur saling memunggungi dan erangan-erangan berisik dari kamar mereka membuat Jihoon terjaga sepanjang malam.
Setidaknya Jihoon tahu di balik wibawa dan kesempurnaan seorang Kim Mingyu yang selalu dielu-elukan masyarakat, ternyata memiliki kecacatan berupa cara memperlakukan Wonwoo—suaminya—secara kasar dan semena-mena.
"Tersenyumlah Jeon Wonwoo. Aku tahu semua ini tidak mudah, tapi apa yang bisa kita lakukan? Setidaknya jalan-jalan cukup menyenangkan bukan?"
"Percuma. Aku tidak mengerti bahasa jepang. Aku tidak bisa memesan makanan atau menanyakan jalan. Jangan minta-minta lagi."
"Belajar bahasa jepang saja, aku bisa mengajarimu."
"Kau ingin membunuhnya atau apa?" Sepenggal suara mengalun menggelayuti telinga Wonwoo. Itu suara bariton yang belakangan ini hadir dalam kesehariannya. Wonwoo mematung dan tidak ingin repot memutar badan. Suara itu berasal dari balik badannya dan dia dapat merasakan Jihoon yang semakin ditimpa bayangan. "Apa kau dapat mengimbangi sikap temperamennya karena kau juga tempramen. Kalian berdua akan saling membunuh."
Wonwoo menelan ludah dengan susah payah. "A-aku akan ambil les bahasa jepang."
"Aku tidak mengizinkan. Tetaplah seperti ini." Kemudian Mingyu melaju, melewati keduanya tanpa repot memandang Wonwoo. Dia berjalan menuju bangunan di depannya.
"Aku akan tetap ambil!" Dengan itu Mingyu menolehkan kepalanya malas. "Aku bisa membujuk orangku mencarikanku les bahasa jepang."
Jihoon menatap tidak mengerti. Orang apanya.
"Terserah." Lalu Mingyu melanjutkan langkahnya.
Wonwoo menghela napas yang ia tahan-tahan sedari tadi. Menatap kepergian Mingyu yang luar biasa seenak jidat seperti biasanya.
"Orangmu apanya?"
"Aku menjalankan usaha market, usahaku itu terbentang luas di asia timur Jihoonie. Setiap orang di sana pasti mengenaliku."
"Wow, kau pengusaha hebat juga rupanya. Tapi aku heran kenapa kau kesulitan keluar dari rumah ini."
Ya aku sendiri juga heran. Dia mengajukan pertanyaan yang sama dalam kepalanya.
Wonwoo berjalan menuju bangku taman terdekat kemudian duduk di sana, diikuti Jihoon yang juga duduk di sampingnya. "Aku pernah konsultasi dengan dokterku melalui kakaw talk. Apa kau tahu apa yang membuatku tidak dapat melaporkan ke polisi mengenai perilaku Mingyu padaku?"
"Apa?"
"Dokterku bilang, di jepang —di sini, pola BDSM lumrah terjadi dan dilegalkan. Dan Mingyu adalah suamiku yang menambah kuat posisinya sehingga tidak dapat aku laporkan."
Tertawa sebentar hingga Wonwoo dibuatnya jengkel. "Jangan lupakan, dia public figure dan pengusaha besar, Jeon Wonwoo." Jihoon memperingatkan.
Screw that.
Wonwoo tidak dapat bertindak semena-mena kepada orang seperti Mingyu. Di majalah dekat ruang tamu yang dipesannya (dan parahnya tidak dapat ia baca) Wonwoo hampir menemukan foto Mingyu hampir di segala halaman. Di cover, di topik, di mana-mana.
Mingyu ini, Mingyu itu; jelas saja pria berkuasa, berpengaruh dan kaya raya sepertinya terbebas dari konsekuen. Wonwoo akhirnya terjebak di tempat asing dengan suami yang asing.
Tidak peduli usaha apa yang dijalankan Mingyu, tetapi dia perlahan mengikis kesuksesan dan kelangsungan perusahaan miliknya. Dia tidak bisa berlama-lama seperti ini. Akibat absen dan tidak menghadiri acara kantor. Cepat atau lambat Wonwoo harus menyerahkan jabatannya kepada Jeongchan.
Kenapa Wonwoo harus melepas perusahaannya demi orang yang dingin kepada dirinya. Beberapa pemegang saham mempertanyakan keberadaannya dari informasi yang didapatinya berkat Jeongchan. Wonwoo harus melepaskan segalanya untuk ini.
Setelah memilih satu institusi yang diyakininya cukup bagus, Wonwoo mendaftar dan menunggu kedatangan pengajarnya. Dia meminta izin Mingyu untuk seseorang dapat memasuki rumah mereka, Mingyu tidak menunjukkan dukungan untuk Wonwoo mempelajari bahasa jepang.
Tetapi tekad bulat memotivasi keinginannya saat ini untuk mempelajari bahasa tanah yang ditempatinya sekarang. Mingyu mengatainya naif, Wonwoo tidak peduli lagi dengan kata-kata yang keluar dari bibir itu. Semuanya sama, hanya untuk membuat Wonwoo merasa buruk.
Adalah Kwon Soonyoung, pemuda yang ekstrem ceria juga berisik. Wonwoo menyukai caranya mengajar secara mendetail membuat dirinya paham dan cepat tangkap. Dalam waktu satu minggu saja Wonwoo dibuat mengerti tulisan jepang baik hiragana maupun katakana.
Dia memiliki usia yang sama dengan Wonwoo. Lahir dan bertumbuh di korea, tetapi memasuki usia dewasa dia mengganti kewarganegaraannya dan menetap di jepang. Dalam waktu singkat mereka bersahabat dekat. Bahkan di beberapa kesempatan keduanya bertemu di tempat umum seperti restoran atau mall.
Setelah seminggu belajar bahasa jepang dan empat kali keluar rumah dipandu Jihoon, Wonwoo sedikit menemukan caranya untuk bahagia kembali. Eh, bahagia. Wonwoo jadi teringat ibunya. Membawa Wonwoo pergi lima tahun dari monster itu merupakan andil yang tepat.
Wonwoo harus berdoa dan berterimakasih kepada Seulgi. Karena berkat dirinya, Wonwoo tidak perlu menghabiskan 5 tahun bersama Mingyu.
•oOo•
Melewati rumah bagian sayap timur untuk melanjutkan tournya, Wonwoo memasuki ruang kerja Mingyu di lantai ke-dua. Mingyu sudah tidak pulang selama sepekan entah untuk apa. Kalau Wonwoo bertanya Mingyu pasti menjawab ada urusan bisnis. Jadi Wonwoo hanya bisu setiap melihat kedatangan atau kepergiannya.
Tidak ada yang menurutnya penting di sana. Hanya kertas-kertas berisi pemasukan galeri, sewa-sewa, dan yang mencuri perhatiannya adalah berkas berisi daftar barang-barang lelang. Bukan hanya lukisan, mereka juga melelang barang antik dan barang pembelian koruptor. Asosiasi yang diketuai Mingyu agaknya memiliki andil banyak dalam urusan kenegaraan. Wonwoo menggigit bibirnya pelan.
Tanpa sengaja matanya menangkap pemandangan jendela dari balik meja kerja. Dia melihat sesuatu di sana. Ada banyak mawar, ada juga bunga-bunga jenis lain. Wonwoo teringat sepotong mimpi itu. Dia menuruni tangga dan berlari menuju taman dari bangunan sayap kanan. Wonwoo butuh menyebrang dan memanjat dinding untuk mencapai tempat tersebut. Itu sebabnya tempat satu itu tidak dapat ditemukannya.
Dia tidak mengerti kenapa taman yang dipenuhi mawar ini dipisahkan begitu saja. Padahal begitu indah dan menarik. Wonwoo jauh lebih menyukai taman ini daripada galeri tak berujung milik Mingyu. Setelah berhasil melangkah turun, dia mengikuti jejak mawar di kakinya tidak memedulikan pakaiannya kotor dipenuhi debu juga tanah.
Tempat ini terpencil dah jauh dari bangunan utama. Kediaman Mingyu memanglah berbeda —di samping porsi dan desainnya yang tidak biasa. Meski berada di kota, Wonwoo tidak dapat menemukan tetangga maupun market yang ia kelola di lokasi rumahnya. Entah untuk tujuan apa Mingyu tetap memilih tinggal di tempat terpencil seperti ini.
Yang Wonwoo nantikan selama ini adalah misteri dalam mimpinya mengenai taman tersebut. Tempat inilah yang membuat Wonwoo bertahan selama di jepang. Untuk menemukannya.
Taman di mana bunga-bunga ini berada dikelilingi dinding batu sehingga menampilkan cela yang sempit saja. Sisanya di luar dinding adalah sabana yang melintang luas. Wonwoo mencari cara untuk menemukan ujung dari taman. Dia berjalan mengikuti bunga-bunga yang tumbuh berbaris membentuk jalan.
Ketika hampir menemukan ujung, dia mendapati sebuah rumah kaca mungil nan elok ditimpa pias cahaya sore. Wonwoo terpana untuk beberapa saat. Dia berjalan kembali menuju pintu di rumah kaca tersebut. Tangannya tergerak untuk mendorong kusen pintu lalu membukanya, sampai sebuah tangan lain mencegah Wonwoo bertindak lebih jauh.
Jari-jari panjangnya digenggam erat oleh sebuah tangan yang lebih besar dari segi bentuk dan ukurannya. Membuat Wonwo sedikit terkejut dengan kemunculan seseorang yang hilang kabarnya selama sepekan ini. Wonwoo sedikit mendongak demi mendapati wajah pria yang lebih tinggi di sampingnya.
"Kau lancang sekali." Mingyu menghempaskan tangan Wonwoo.
Mengusap tangannya lemah, Wonwoo terkejut sehingga mundur beberapa langkah. Dia sudah cukup tahu respon apa yang akan diberikan Mingyu jika dirinya menjawab. Awalnya Wonwoo memilih diam, tetapi pandangannya tidak mau terlepas dari rumah kaca itu. Di balik bahu bidang Mingyu yang lebar, rumah kaca itu memantulkan cahaya.
"Apa aku boleh masuk ke sana?"
"Kurang apalagi Jeon Wonwoo, kau sudah memiliki rumah besar di sana."
"A-Aku hanya ingin lihat." Wonwoo berjinjit. Masih berusaha melihat isi rumah kaca.
Menghampiri Wonwoo dengan langkah terburu lalu menarik tangannya kasar. Mereka berjalan di samping dinding batu dan memutari dinding batu. Dengan cara itu mereka dapat menuju taman terpisah tanpa memanjat dinding.
Membawa mereka pada ruang kamar lalu menghempaskan tubuh Wonwoo ke atas ranjang. Jihoon yang sedari bangunan belakang mengekori mereka dilarangnya masuk. Wonwoo cukup awas dengan Mingyu yang menatapnya geram.
"Sebulan. Kau baru tinggal di sini sebulan dan sudah berani berulah." Dia melepas kancing-kancing pakaiannya.
Wonwoo terpaku karena awas. Dia menatap ke arah pintu melemparkan tatapan lemah. Berharap dari celah tersebut, Jihoon melihat lalu membantunya pergi. Percuma, sedekat apapun mereka, Jihoon masihlah pelayan yang tidak akan membantah Mingyu —majikannya.
"Lihat, kau jadi kotor. Menjijikan sekali." Mingyu berucap gusar.
Menaiki kasur dengan merangkak, lutut-lututnya menumpu tubuh. Kini dia bertelanjang dada, dengan pakaian yang sudah acak di genggamannya. Ketika jari-jari Mingyu hampir menyentuhnya, Wonwoo memejamkan mata defensif.
Mingyu mengelap wajah Wonwoo menggunakan baju miliknya. Wonwoo membuka mata perlahan. Pria itu memasang wajah datar dan tangannya terampil membersihkan debu dan tanah di wajahnya. Wonwoo menelan ludah gugup. Ngilu dengan perlakuan tidak biasa Mingyu yang ditujukan kepadanya.
"Maaf." Ucap Wonwoo pelan.
Deru napas menjadi pengiring sunyi kala itu. Mingyu telaten dalam membersihkan kulit Wonwoo. Setelahnya Mingyu ikut terduduk di samping kakinya, melempar pakaiannya asal lalu menatapnya tajam. Dia bangkit lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian lain.
"Aku pulang lebih awal hanya untuk menemukanmu tidak di tempat. Pokoknya jangan pergi. Apalagi keluar mansion tanpa sepengetahuan ku." Dia berucap.
Wonwoo menatap kulit Mingyu yang mengilap, efek pigmen berlebihan milik pria itu. Sebaliknya, Wonwoo hanyalah seorang yang kekurangan pigmen. Dia tidak dapat menangkis kenyataan kalau suaminya luar biasa tampan. Wonwoo juga pria tampan. Hanya saja mereka berdua seperti berasal dari spesies yang berbeda. Mingyu tampan dan jantan, sementara Wonwoo hanya tampan. Sudah, seperti itu saja.
"Apa yang kau lamunkan?"
"Uhm, tidak ada." Dia terdiam sejenak. "Tadinya, aku berpikir kau ingin melakukan itu padaku."
Mingyu mengerutkan satu alis. Menatapnya heran. "Apa yang membuatmu berpikir begitu?"
Wonwoo sendiri juga bingung. Kenapa dirinya menanyakan hal tersebut. Apa ini efek tidak bertemu Mingyu selama seminggu? Dia menggelengkan kepala linglung.
Wonwoo tidak mungkin merindukannya.
"Karena kau jarang pulang dan terlihat seperti lelaki yang memiliki nafsu besar."
"Mesum!"
Melemparkan tatapan menghakimi, Wonwoo hanya tidak dapat melepas pandangan dari tubuh atletis Mingyu yang cukup berisi —disertai masa otot yang berlebihan, oh lihat bagaimana otot itu menggumpal di tangannya ketika dia melekukkan tangan atau saat berjalan. Wonwoo teringat ruangan gym di lantai 3.
"Bukan begitu! Setiap kali kau pergi, aku malas menanyakanmu karena kau selalu memberikan jawaban yang sama." Erangnya. "Bisnis ini, bisnis itu.." "Jadi aku menanyakan hal lain demi mendapatkan jawaban berbeda."
Mingyu tidak menjawab dan melanjutkan mengenakan pakaian yang baru ia ambil dari lemari. Kini dirinya menggunakan kaos hitam polos yang melekat dengan badan lalu meluruhkan celana bahan di kakinya sehingga menyisakan celana pendek abu-abu. Mingyu menatapnya dengan dahi yang berlipat. Wonwoo merasa kecil, dia tidak pernah dapat membiasakan diri berada di bawah tatapan tajam pria dominan itu.
Maka dari itu untuk menjawab pertanyaan tersebut, Mingyu menghampiri kasur di mana Wonwoo terduduk kini. Dia melangkah perlahan, tidak membiarkan kontak mata mereka terputus. Sementara Wonwoo di sana, semakin tenggelam dan tersesat dalam manik gelap pria itu.
Semakin mendekat Mingyu meletakkan tangan kirinya di belakang tubuh Wonwoo, satu dengkulnya dinaikkan ke atas kasur demi menyangga berat tubuhnya. Memaksa Wonwoo kembali merebah akibat kukungannya. Dagu Mingyu mengenai hidung Wonwoo, Mingyu menebarkan wangi anyelir, kayu-kayu dan bunga.
Cukup kuat merayap melalui indera penciumannya. Kemudian dia mencengkram pinggang Wonwoo dan rintihan didapatinya. Mingyu di atasnya semakin merunduk dan membatasi oksigen, sementara Wonwoo di bawah berusaha meraupnya banyak-banyak.
Mingyu menatap matanya dan menemukan keraguan di sana, tetapi manik gelap Wonwoo tidak berkedut dan justru mengundang tantangan. Mingyu adalah lelaki dan tidak ada lelaki yang menolak tantangan. Wonwoo sebenarnya merasa tidak yakin sementara tangan kiri Mingyu kini sudah berganti memegang pergelangan tangannya. Tetapi dia tidak dapat menemukan kemauan diri untuk berhenti.
"Jeon-san?" Panggilan itu seakan menggetarkan saraf-saraf di tubuhnya, Wonwoo dibuatnya kaku dan dipaksa menikmati sensasi yang menegangkan dan asing. Bisikan Mingyu menciptakan panas dan berkedut di telinga.
Dalam keadaan tubuh dihimpit dan tertekan secara mental, menahan badan agar tidak terjatuh, dia menahan Mingyu dengan mengangkat tangan ke depan dada pria itu. Wonwoo merasakan getaran sensual saat deru napas Mingyu menyapu kulit wajahnya.
"Kau mau berciuman?"
Membuang muka karena malu. Jangan lupakan panas yang merambat hingga kupingnya, pasti kulitnya merah sekali sekarang. Entah apa yang dilakukannya kini. Tidak mengerti ide yang merambat ke otaknya saat orang sekejam Mingyu menggodanya tetapi tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolak. Orang macam apa yang akan menolak Mingyu? Seluruh perempuan di luar sana, mungkin ada juga lelaki pasti berlomba-lomba menaiki kasurnya.
Itu tidak terdengar seperti meminta izin atau permintaan karena tanpa menjawab, wajah itu kini sudah beradu dengan kulitnya. Dengan itu Mingyu mencium pipi Wonwoo. Wonwoo tidak mengerti dengan perilakunya saat ini. Sangat bertentangan dengan Mingyu yang biasa. Ia menoleh melihat Mingyu hanya untuk mendapati gelora gairah di dalam matanya yang gelap.
Tiba-tiba Wonwoo nyaris tidak dapat bernapas. Perutnya mulas dan kepalanya pusing. Otaknya mengatakan untuk berhenti tetapi tidak dengan reaksi tubuhnya. Wonwoo menjadi orang paling munafik abad ini. Setelah menolehkan kepala, Mingyu mencondongkan kepala ke arahnya dan Wonwoo semakin antisipasi.
Mulut Mingyu mengenai miliknya lalu menggoda mulutnya lembut. Wonwoo menaikkan tangan dari dada Mingyu menuju bahu liatnya yang berotot. Merematnya seiring Mingyu melumat bibir Wonwoo sensual. Mingyu semakin mendorong Wonwoo untuk bersender, jadi dia hanya mundur dan tangan-tangannya beralih kepada punggung Mingyu dan membuat pola acak di sana. Tiba-tiba saja tangan Mingyu sudah berada di paha Wonwoo lalu dia mengangkatnya pelan. Menempatkan diri di antara kaki-kakinya. Membuat badan mereka semakin dekat.
Ciuman mereka terlepas, Wonwoo mendesah dan kakinya reflek melingkari pinggang Mingyu. Pagutan mereka berlanjut dan Wonwoo memeluknya kian erat. Dia beralih menekan leher Mingyu, memperdalam ciuman mereka mencegah untuk terlepas lagi. Ciuman Mingyu turun ke lehernya, sampai tiba-tiba dia menggelinjang sambil menjenggut rambut Mingyu ketika pria itu menghisap satu titik di lehernya hingga meninggalkan bercak merah.
"Euhhm.. Ahh..."
Tiba-tiba Mingyu bergerak di antara kakinya membuat gesekan. Menciptakan efek yang tidak pernah Wonwoo duga. Mingyu mempercepat gerakannya sehingga Wonwoo tidak dapat berpikir lurus. Mulut Wonwoo terbuka, matanya mendamba demi menatap iris kelam Mingyu yang dipenuhi nafsu.
"Dad, nani o shimasuka?" Apa yang kau lakukan?
Mengangkat kepalanya kacau untuk kemudian mendorong bahu Wonwoo. Mingyu menuruni kasur buru-buru menghampiri seorang remaja—entah di usianya yang ke berapa—seperti baru masuk masa pubertas. Dia merangkul remaja itu lalu membawanya keluar ruangan. "Nanimonai, soude nai you ni." Sayup-sayup Wonwoo mendengar suara Mingyu dan bocah itu bersahutan.
Wonwoo yang menatap kepergian mereka menjatuhkan kepalanya dalam keterpanaan. Kesan pertama yang diberikannya kepada Natsu sepulang camp musim panas cukup buruk. Dia tidak tahu harus meletakkan wajahnya di mana setelah insiden memalukan barusan.
Tetapi ada yang tidak dapat dibohonginya; yaitu perasaan bergelora di dalam dadanya yang mengatakan rindu. Dia menekan organ inti di balik dadanya kuat-kuat, berharap gemuruh di sana perlahan semakin tenang. Mingyu baru saja pulang lebih awal demi dirinya, dan Wonwoo tidak bisa bertindak seperti tidak terjadi apa-apa.
Continuer
•
Counts word: 2988
manshon* : Apartemen yang dulu pernah Mingyu sewa semasa kuliah.
apaato** : Seperti kamar kos, Wonwoo menyewanya semasa kuliah.
Kenapa pada membenci Mingyu di sini? Dia itu baik hehe, please jangan dibawa hati sama sifat dia. Aku bingung gimana menuliskannya huhu(:
Aku sudah kasih italic dan bolt, sebagai kunci kenapa Mingyu bersikap begitu. Mungkin aku juga yang salah hehe terlalu keras menuliskannya, tapi Mingyu itu baik, suer!xD
