Mingyu mengamati mata gelap anak semata wayangnya yang sedari awal kedatangan Wonwoo ke meja makan tetap melekat pada pria itu. Sekali-kali Natsu memotong irisan salmon di piring lalu memasukkannya ke mulut. Dia menambahkan nori terlalu banyak ke kentang tumbuknya sehingga Mingyu tidak ingin membayangkan seperti apa rasa masakan itu.
Untuk memecah kecanggungan dalam situasi kala itu maka Mingyu memilih topik untuk dibicarakan dengan puteranya. "Kyouwa nani o benkyou shimashita?"
Natsu tetap diam, tatapannya terpaku pada Wonwoo di seberang Mingyu. Natsu di sampingnya hanya mengacak-acak makanan di piring padahal biasanya anak itu selalu semangat ketika melahap makanannya. Mingyu teringat Natsu pernah mengatakan jika dirinya dilahirkan untuk makan makanan enak bahkan badannya boros di usia masuk belasan dia terlihat seperti sudah 15 tahun.
"Jadi, siapa pacar barumu, dad?"
•oOo•
Hajimete Dewanai
Chapter 3: Benkyoushimasu And Hormone
•oOo•
Menghela napas dilakukannya, Mingyu dapat rasakan Wonwoo di seberang sana menegang lewat ekspresi kaku. Di balik sikap diam yang biasa dia lakukan, sebenarnya Mingyu mudah membaca perilaku dan sifat seseorang. Natsu berulang kali menatap dirinya dan Wonwoo bergantian. Dia tersenyum menampilkan gigi kelinci khas miliknya.
"Dia yang pertama berhasil naik ke meja makan untuk santap malam bersama." Ucapnya dengan mata penasaran khas bocah sambil memandang Mingyu.
Tangannya terulur pelan mengelus surai kelam Natsu. Berkata dalam bahasa jepang bahwa anaknya harus bicara lebih ramah lagi.
"Tidak ada yang menjadi panutanku dalam bersikap, dad. Dan kau tidak ramah. Arigatou." Menjawab Mingyu lalu menaruh perhatian pada pelayan yang menuangkan saus, dia balik menatap Wonwoo lagi.
"Apa kau mencintai dad? Karena pasangan-pasangan dad sebelumnya selalu mundur ketika tahu dia memiliki anak usia belasan." Aksen koreanya terdengar aneh karena lama tidak digunakan. Natsu menyendok kentang tumbuk lalu menelannya. Wajahnya tertuju pada Wonwoo yang menatapnya kebingungan.
"Dad pernah menjalin hubungan dengan pria tapi itu sudah lama sekali, dia jadi kuno karenanya. Seokmin juga bilang banyak wanita mendambakan dad dan uangnya tetapi tidak satupun bisa masuk ke kamarnya lalu makan di sini apalagi mau bertatapan denganku." Dia melahap satu lagi.
"Kau pria dan menyukai dad, berhasil berada di kamarnya lalu makan di sini. Seperti wanita-wanita itu apakah kau membenciku sekarang?" Katanya dengan mulut dipenuhi makanan.
"Natsu tutup mulutmu! Kau terlalu banyak bicara." Mingyu menyadari ucapan Natsu banyak yang tidak perlu dan cukup ngelantur. Wonwoo bisa ketahui Mingyu kini menegurnya dalam bahasa jepang lalu menyuruhnya selesai cepat-cepat.
"Aku menyayangi kalian berdua." Mingyu mengangkat wajah, memandang Wonwoo di seberang melemparkan tatapan teduh untuknya dan Natsu. Hatinya sedikit luruh dan dia kembali bersandar.
Menggumam kemudian terkekeh. "Kau memiliki wajah yang tebal dengan hadir di sini padahal sudah melakukannya dengan dadku, di depanku."
Mingyu bicara dalam bahasa jepang kepada Natsu dan sepertinya Wonwoo sedang berasumsi kalau Mingyu menyuruh anaknya menyelesaikan makanannya atau berhenti bicara. Wonwoo menatap lumrah Natsu yang memang banyak ingin tahu karena dia remaja yang berkembang dan mencari banyak hal untuk dipahami.
"Aku tidak keberatan meskipun dad melakukan seks dengan pria, kita di jepang. Dan kau berhasil berada di meja makan ini merupakan prestasi hebat." Itu artinya dad memercayaimu.
Natsu melemparkan tatapan menantang kepada Wonwoo yang memasang wajah masam. Dia memasang senyum mengintimidasi jadi Wonwoo kembali pada wajah datar andalan, melanjutkan makan malamnya meski agak terganggu.
"Natsu Kim, yang di sana adalah Jeon Wonwoo. Ayahmu yang lain." Kali ini Mingyu bicara dengan bahasa korea, dan untuk pertama kali Wonwoo mengerti dengan ucapannya di atas meja makan.
Mendengar itu Natsu terbatuk hingga makanannya berhamburan. Dia meraih segelas air putih lalu meneguknya cepat-cepat. "Kau tahu maksudku." Kalimat yang seperti pernyataan Mingyu tambahkan, Natsu menatap Wonwoo tidak percaya.
Jika Wonwoo tidak sibuk dengan pikirannya sendiri ataupun merasa tersindir oleh ucapan Natsu, mungkin dia dapat melihat senyum kecil di wajah Mingyu berkat usaha membela Wonwoo di hadapan Natsu. Natsu tidak boleh terlihat terkejut menurut prinsip dirinya, tetapi mata bulatnya tidak dapat berbohong bahwa dirinya tidak kaget. Setelah mendengar pernyataan tersebut baik Wonwoo maupun Natsu hanya saling bertatapan lama dalam diam.
Menghampiri Wonwoo selepas turun dari kursinya, ia dapati ayah barunya luluh dengan pertahanan wajah datar miliknya. Wonwoo melepas peralatan makannya dan menyambut Natsu dengan tatapan lembut. Usai di depannya tanpa dinyana Natsu meninju perut Wonwoo sekali, Wonwoo dibuatnya tersentak dan kesakitan. Kursinya bergoyang akibat pukulan yang ia terima.
"TIDAK TAHU PERASAAN ORANG LAIN!" Teriaknya lalu berlari meninggalkan ruangan.
Mingyu diam saja melihat Wonwoo yang mengumpulkan kembali kesadarannya perlahan.
"Kau beri makan dia apa?" Isak Wonwoo, terbatuk-batuk kemudian berusaha bangkit.
Mingyu yang sudah menghabiskan makanannya sejak tadi hanya menatap picisan, tak niat. "Salmon." Entah apa yang mendorong dirinya untuk mengatakan itu, transparan sekali pertanyaan Wonwoo adalah sarkasme yang tidak perlu dijawab.
Wonwoo menatapnya heran. Menaikkan kedua tangannya tidak percaya dengan Mingyu yang tidak memberikan reaksi apa-apa padahal putera mereka baru menghajar salah satu ayahnya.
"Nanti aku akan bicara dengannya. Dia sedikit keras."
"Seperti kau!" Wonwoo mendesis lalu berjalan menyusul Natsu.
Lalu Mingyu bersender, menikmati makanan penutup yang belum tersentuh. Meraih tecquila di tengah meja untuk disesapnya. Mengamati kepergian kedua orang lainnya dari meja makan.
"Aku khawatir justru dia seperti kau, Jeon."
•oOo•
"Hei, Natsu-chan." Wonwoo mengetuk dinding di sebelah ambang pintu tanpa daun, menatap lelah Natsu yang menyalakan televisi lalu menyambungnya dengan permainan konsol. Dia dapat lihat Natsu tenggelam dalam kesibukannya sendiri tanpa mau repot-repot memandang Wonwoo.
Menggumam pelan kemudian berkata lembut. "Apa maksudmu aku tidak tahu perasaan orang? Bisa tolong jelaskan?"
Natsu melirik kemudian kembali pada video gamenya. "Selalu seperti itu, kau langsung menanyakan tentangmu tanpa mau tahu kabarku ataupun dad. Kau egois."
Memasuki kamar kemudian duduk di kasur. "Aku minta maaf jika selama ini aku punya salah, aku benar-benar tidak mengingatnya."
Remaja di hadapannya berusia sekitar lima belasan entahlah, tubuhnya cukup berisi sehingga nampak bukan usia remaja awal tetapi wajahnya mengatakan dia masih kecil. Surai kelamnya menyala diterpa cahaya lampu. Matanya bulat dan kulitnya putih, wajahnya memanjang dengan rahang tegas.
Jika dilihat dengan teliti Natsu lebih mirip dirinya dibandingkan Mingyu, hanya saja mata besar dan rahang kuat seperti berasal dari prianya itu. Wonwoo berpikir sebentar, darimana mereka mendapatkan anak ini. Dia benar-benar seperti perpaduan antara Mingyu dan Wonwoo.
"Yang aku ingat hanyalah memori-memori kabur tentang dirimu, apa tidak pernah terpikirkan sekali saja dalam hidupmu untuk mengunjungiku? 5 tahun kau meninggalkan kami dalam kehampaan." Natsu di lantai menatapnya lemah. "Dad jadi gila karena kau."
Menelan ludah yang berkumpul di tenggorokan, Wonwoo tidak dapat memahami ucapan Natsu yang dilemparkan kepadanya. Lagipula Mingyu terlihat baik-baik saja sejak kedatangannya. Dia seperti diagungkan dan pria sukses dalam menjalankan karir serta apapun.
"Baiklah Natsu, apa kabarmu?"
"Aku baik." Dia terisak. "Tapi dad tidak."
Menuruni kasur untuk duduk sejajar dengan puteranya, dia memeluk Natsu yang kini berada di sampingnya. "Semua akan baik-baik saja, aku sudah berada di sini. Tenanglah." Natsu balas memeluknya kemudian membenamkan wajahnya pada dada Wonwoo.
Sekali-kali dia dapat mendengar hentakan dan erangan dari mulut Natsu. Dia biarkan anak itu menumpahkan gunda dan kelaraan hati yang menumpuk selama 5 tahun dalam dekapannya. Suara Natsu lembut dan ringan, merdu seperti kicau burung. Dia jadi teringat Mingyu. Suara Mingyu lembut dan manis, tidak kasar seperti Wonwoo. Dia mendeskripsikan Mingyu memiliki suara berat namun dalam porsinya sendiri.
Membantu menyiapkan air untuk puteranya mandi dan berendam, Natsu kembali bercengkrama dengan Wonwoo setelahnya. Pada pukul 11 dia akhirnya tertidur. Natsu meminta untuk memanggilnya appa. Sebelumnya dia sempat meminta izin untuk memanggil Wonwoo dengan sebutan mama, Wonwoo benar-benar menolak.
Dia mengangkat tubuh anak itu ke kasur lalu menyelimutinya, menolak pelayan yang menawarkan bantuan. Dia menatap Natsu terakhir kali sebelum kemudian kembali pada kamarnya dan Mingyu. Wonwoo mematikan lampu dan melihat pendar LED menari-nari di wajah Natsu, meninggalkan putranya dengan rasa bersalah.
Maka Wonwoo terduduk di ranjangnya kemudian menekan kepalanya yang nyeri. Semuanya abu-abu; familiar tetapi tidak dapat dijabarkan. Wonwoo merasa familiar berada di sekitar Natsu, familiar dengan nuansa kamarnya, familiar dengan taman bunga dan keindahannya, familiar dengan Mingyu, familiar dengan sentuhannya.
Tapi satu hal yang mengganjal pikirannya, dia tidak dapat mengingat semua itu. Natsu meneriakinya tidak memiliki perasaan, dia mengira Wonwoo meninggalkan keluarganya padahal Wonwoo sendiri tidak tahu yang sudah terjadi dan tidak dapat mengingat.
Tiba-tiba seseorang menciumi lehernya, Wonwoo sedikit terkejut tetapi tidak memberikan reaksi yang berarti. Dia memegang kepala Mingyu di sebelahnya lalu mengusap rambutnya kasar. "Natsu sudah tidur, aku akan bicara dengannya besok." Kata Mingyu.
Menggeliat pelan. "Mingyu, kenapa Natsu mengatakan aku meninggalkannya?"
Mingyu tidak menjawab dan memilih sibuk dengan urusannya, akhirnya Wonwoo pilih untuk menyingkir agar dapat bicara bertatapan mata dengan prianya. "Aku serius. Tolong jawab pertanyaanku." Serunya.
Mingyu menatapnya datar lalu mendesah. "Tidak ada yang perlu dijelaskan, dia masih terlalu muda untuk mengerti." Dengan itu Mingyu meraih bahu Wonwoo untuk dibaringkan.
"Tidak terlalu muda untuk membahas seks di meja makan." Telaahnya.
Wonwoo tahu kilatan di mata Mingyu berbahaya dan dapat menghipnotisnya dalam sekejap, Wonwoo mendorong Mingyu lalu beranjak dari kasur. "Aku akan mandi lalu tidur di luar." Putusnya.
Mingyu menatap Wonwoo yang berdiri ribut, terburu-buru melangkah menuju gantungan handuk lalu meraih satu. "Kau merusak suasana." Ucap Mingyu datar.
Memang itu tujuannya. Jawab Wonwoo dalam kepala.
Mengambil satu bathrobe untuk di kenakannya. Dia meraih dua tali di pinggang kemudian mengikat kuat-kuat, melupakan keberadaan Mingyu di belakang yang dapat melihat lekuk tubuhnya. Wonwoo baru akan berjalan tetapi Mingyu sudah berdiri di belakangnya dan menahan pinggangnya, dia memeluk tubuh kurus itu posesif.
"Sebenarnya ada apa, apa yang kau pikirkan?" Bisik Mingyu tepat di telinganya, Wonwoo tidak dapat berjalan ditambah kepala Mingyu yang ditumpukan di bahu kurusnya membuat pergerakannya terbatas.
"Jika Natsu menyebutku tidak tahu perasaan orang, maka kau suka mempermainkan perasaan orang." Dia menyelipkan lidah kecil merahnya guna membasahi bibirnya canggung. Wonwoo berusaha berontak tapi tidak mungkin, Mingyu mencengkram pinggang dan tangannya seperti seni mengunci tubuh.
"Kenapa begitu?" Sahut Mingyu.
"Kau, kau aneh!" Hentaknya tetapi tidak berhasil melepaskan diri dari Mingyu. Dia menahannya begitu erat sampai-sampai Wonwoo bisa muntah karenanya. "Kenapa kau bersikap begitu kasar, lalu baik, lalu kasar lagi? Kau suka sekali membuatku berharap, lalu menjatuhkanku."
Mingyu menarik napas mengeratkan pegangannya dan Wonwoo merasa seperti sudah putus asa. "S-Sakit." Erangnya karena Mingyu menumpu terlalu berat dan tidak bagus untuk tubuhnya yang ringkih. Mingyu mendesis dan Wonwoo dapat ketahui dia tidak dapat memberikan jawaban.
Mingyu melepaskannya lalu Wonwoo berdiri di hadapan pria itu. "Aku ingin kamar terpisah, untukku menenangkan pikiran." Desaunya dan dihadiahi tatapan tajam oleh Mingyu.
"Tidak boleh."
"Tapi, ini untuk kebaikan."
"Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan di kamar itu." Mingyu menyisir rambut-rambutnya ke belakang dengan jemari panjangnya, menampakan dahinya yang membuatnya terlihat panas sehingga Wonwoo memalingkan wajah sesaat. "Apakah kabur atau," dia menatap Wonwoo yang terlihat resah. "menyakiti diri sendiri."
Jadi Wonwoo tidak pernah mendapatkan kamarnya sendiri untuk dia berpikir. Malam itu Wonwoo kembali menaiki kasur itu lalu menghabiskan malam dengan saling memunggungi lagi. Seperti malam-malam sebelumnya jika mereka tidak memiliki kebutuhan. Wonwoo mengecup bibir Mingyu lembut menyampaikan perasaannya, Mingyu melirik sesaat kemudian membalas sedikit lebih kasar tetapi akhirnya tertidur lagi.
Wonwoo meneteskan air mata dalam tidurnya dan tidak seorangpun mengetahui itu.
Pagi harinya saat terbangun dia tidak dapat menemukan tubuh Mingyu di sampingnya. Wonwoo juga tidak dapat menghubunginya melalui ponsel. Dia menuruni kasur lalu beranjak keluar kamar. Wonwoo tahu Natsu sedang mengikuti kegiatan taekwondo, dia bertemu Jihoon dan bertanya di mana Mingyu berada.
Ternyata akibat kepulangan awalnya kemarin malam Mingyu diharuskan menyelesaikan beberapa urusan pagi ini, dan sialnya Wonwoo mendapatkan pesan dari Mingyu yang mengatakan akan dinas di luar negeri selama sebulan.
Wonwoo sedikit bingung kenapa menyebut itu sebagai kesialan, padahal dia dapat merasakan kebebasan jika Mingyu tidak di mansion. Atau memang selama ini Wonwoo menikmati ketika diatur oleh sikap keras Mingyu?
Wajahnya spontan menanas, dia teringat Mingyu pulang lebih awal kemarin malam untuk dirinya. Jadilah Wonwoo tersenyum dan tenggelam dalam lamunannya.
Dia menghabiskan 2 bulan lagi dalam kediaman itu dengan hampa. Jadi total dirinya menetap dalam rumah tersebut sudah selama 3 bulan. Tetapi Wonwoo masih belum menemukan cara untuk memasuki rumah kaca di taman terpisah. Dia heran kenapa Mingyu keras sekali melarang dirinya berada di sekitar rumah kaca tersebut.
Natsu kembali melanjutkan campnya dan Wonwoo tidak memiliki teman lagi untuknya diajaknya bicara. Kini dia tahu Natsu berusia 12 dan sekolah alam. Dia bingung kenapa Natsu tidak menempuh pendidikan umum saja daripada kerepotan menetap sebulan di hutan lalu pulang untuk satu minggu di rumah lalu pergi lagi.
Asuhan yang diberikan Mingyu agaknya membuahkan hasil berupa sikap keras bagi Natsu. Tetapi setelah tinggal cukup lama di tempat ini Wonwoo jadi cukup terbiasa dengan Mingyu dan sikap otoriternya. Penuh kendali dan kuasa penuh.
Jihoon memperingatkan sore nanti adalah jadwal Wonwoo untuk bertemu Soonyoung mempelajari bahasa jepang, dia mengiyakan dan menyerahkan kepada Jihoon tempat pertemuan mereka. Wonwoo sudah cukup pusing dengan kegilaan di rumahnya padahal dia tidak melakukan apa-apa selain berenang dan joging di taman.
"Wonwoo, kau rindu masakan korea?"
"Memangnya kenapa?"
"Kita akan menghadiri paguyuban, Soonyoung juga berada di sana."
Dengan itu Wonwoo terdiam, sedikit berpikir kemudian mengangguk. Setidaknya dia akan bertemu orang-orang dari tanah airnya setelah sekian lama.
Continuer
•
Counts word: 2121
Benkyoushimasu: Belajar^^
Kalo kalian meet up sama Lissashit tolong dengan sangat, jangan telantarkan hp kalian sembarangan(:
Oh ya. Aku bikin akun ig namanya mieuxsa17
Come on difollow! Monggo dispam! Ayo anak Jakarta kita meet up! Kita bisa chat2an. Aku mau tulis banyak imagine di sana heheheh, apa kalian setuju? Ayolah amal drabble ke aku. Kemungkinan beberapa bulan ke depan aku banyak free dan bisa terusin Teen Wolf secepatnya. Ditunggu ya heheh..
