All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.

Kedua gadis cantik tersebut benar-benar terperanjat saat melihat Sasuke dan Naruto berada persis di belakang mereka. Mereka benar-benar salah tingkah dan pipi mereka sama-sama memerah seperti tomat.

"Yes! Misi berhasil, Dobe." Bisik Sasuke.

"Hahaha, iya Teme. Tingkah mereka benar-benar lucu, ditambah pipi mereka yang memerah itu benar-benar menggemaskan." Naruto balas berbisik.

"Ehem," Sasuke berdehem mencoba mengembalikan keadaan kembali ke normal setelah kondisi awkward barusan.

"Maaf atas kelancangan hamba dan teman hamba yang baka ini, nona putri cantik. Mohon maaf jika kami sudah mengusik kegiatan kalian." Sasuke melanjutkan kalimatnya sambil dipelototi Naruto yang kesal mendengar kata 'baka'.

"Nama hamba adalah Uchiha Sasuke, dari pasukan samurai Konoha."

"Dan nama hamba adalah Uzumaki Naruto."

Hinata masih agak terkikik ketika mendengar Sasuke mengatakan temannya itu baka.

"Hihi, kau sangat tampan. Tapi sayang kau dibilang 'baka' oleh temanmu sendiri, hihi. Oh ya, namaku Hinata. Hyuga Hinata. Jangan menambahkan suffiks '-san' atau '-sama'. Panggil saja sesuai namaku."

"Dan namaku Sakura, Haruno Sakura. Sama seperti Hinata, panggil saja sesuai namaku. Oh ya, untuk tuan Sasuke, bolehkah jika aku memanggilmu 'Sasuke-kun'? Tentunya agar kita bisa lebih akrab." Sakura mulai meluncurkan jurus rayuannya.

Hinatapun juga tak mau kalah dari Sakura, "Aku juga akan memanggilmu 'Naruto-kun', agar kita bisa lebih dekat lagi. Boleh kan?"

Sasuke dan Naruto benar-benar terbelalak dan mulut mereka berdua seperti terkunci. Tak disangka-sangka, kedua putri dari keluarga bangsawan yang sedang di hadapan mereka bisa seagresif ini.

Bahkan ini di luar ekspektasi Sasuke dan Naruto yang mengira mereka akan berusaha keras guna menaklukkan hati kedua gadis cantik tersebut. Eh, yang ada malah sebaliknya.

"Ah, ini sih kita tinggal terima doang, Dobe. Tanpa mengeluarkan keringat malah. Tapi jujur dari dalam hatiku, aku benar-benar terpukau dengan Sakura. Bagaimana? Kau dengan Hinata ya?" Bisik Sasuke.

"Hihi, baiklah Teme. Sejujurnya aku memang sudah sangat tertarik dengan Hinata. Syukurlah, ternyata pilihan kita juga berbeda. Artinya kita tak perlu saling berebut. Sahabatku ini memang paham apa yang ada di dalam pikiranku."

Naruto dan Sasuke pun akhirnya menganggukkan kepalanya bersamaan, yang artinya setuju dengan permintaan kedua gadis cantik tersebut.

"Aaaaa, arigatou, Sasuke-kun. Oh ya, aku mau minta tolong. Bisakah kita menggeser tempat untuk pindah ke sana? Supaya kita tidak mengganggu Hinata dengan kekasih barunya, hihihi."

Sasuke pun membalasnya dengan anggukan kepala.

Hinata dan Naruto yang mendengar kalimat Sakura menjadi terdiam dan mematung, sambil memperlihatkan pipi yang sama-sama merona.

"Perasaan apa ini, mengapa jantungku berdetak sangat kencang tak beraturan?"
Hinata dan Naruto memikirkan hal yang sama.

Kedua pasangan berbeda lawan jenis yang baru berkenalan tersebut, sedang menghabiskan sore hari di Osaka dengan suasana romantis yang bisa membuat orang lain bisa cemburu jika melihat hal tersebut.

"Cih, apa-apaan sih mereka itu? Baru saja sampai di Osaka sudah ketiban durian runtuh, berkenalan dengan gadis-gadis secantik itu. Bahkan mereka kelihatan sudah saling akrab." Omel Kiba dari kejauhan.

"Sudahlah, Kiba. Gak perlu ngomel dan jangan ganggu keakraban mereka. Biarkan mereka menikmati waktu berharga mereka saat ini." Respon Shikamaru dengan tatapan malas.

.
Pagi pun akhirnya datang. Tampak rombongan kedua keluarga, baik keluarga Hyuga dan Haruno, tengah mempersiapkan diri.

Tak terkecuali Hinata dan Sakura yang juga ikut berangkat ke Konoha, mereka bersiap akan melakukan perjalanan yang cukup jauh dengan menaiki kereta kuda.

Sementara itu, para samurai Konoha yang akan mengawal kedua keluarga tersebut juga sudah bersiap-siap untuk meninggalkan Osaka.

.
Di perjalanan

Para rombongan yang sedang dalam perjalanan menuju Konoha, saat ini mereka sedang melewati sebuah hutan yang berisi pepohonan tinggi dan lebat.

Di mana tidak banyak sinar matahari yang menembus masuk ke dalam hutan akibat terhalang pohon-pohon lebat, dan menyebabkan suasana cenderung gelap di dalam hutan itu. Padahal hari masih siang.

Tiba-tiba, sebuah perasaan aneh tengah dirasakan oleh Naruto. Jika kita membahas tentang apa yang dikatakan Sasuke tadi, soal kepekaan Naruto ketika menyadari keberadaan musuh di sekitar, memang benar.

Naruto segera menoleh kesana kemari untuk mengira-ngira apakah ada serangan dari musuh.

Naruto kembali merasakan getaran perasaan yang tidak mengenakkan dan semakin lama semakin terasa.

Deg Deg Deg Deg...

"Hinata."

Merasa bahwa Hinata sedang berada dalam bahaya, dia pun menggeser posisinya yang sedang menunggangi kuda tersebut, menjadi tepat di samping posisi duduk Hinata di dalam kereta kuda tersebut.

Naruto tampak sangat waspada, dan dia memutuskan untuk mengambil posisi di samping gadis tersebut.

Benar saja. Tak berselang lama, muncul dua sosok anak panah yang melaju kencang. Entah dari arah mana telah dilepaskan oleh penembaknya, menuju persis ke arah kereta kuda keluarga Hyuga.

Dan sesuai dugaan Naruto, bahwa arah laju kedua panah tersebut mengarah tepat ke arah Hinata, yang saat ini sudah dijaga oleh Naruto sebagai tameng pada sisi luar kereta.

Grebbbb...

Refleks tangan Naruto menangkap dengan sigap salah satu anak panah yang sebenarnya akan menembus kaca kereta kuda dan menuju tepat ke sasarannya, yaitu Hinata.

Walaupun anak panah itu sudah dilepaskan dengan sangat cepat, ternyata dapat ditangkap dengan mudahnya oleh Naruto, cukup dengan satu tangan saja.

"Apa ini? Panah beracun?" Naruto merasakan ada yang aneh dengan panah yang sekarang berada dalam genggaman tangannya tersebut. Di bagian ujungnya terlihat seperti diolesi cairan agak kental, yang hampir diyakini bahwa itu adalah racun.

Sementara anak panah lainnya yang tidak tertangkap oleh Naruto, arahnya meleset sedikit. Mengenai kaca pada kereta kuda, namun tidak mengenai seorangpun di dalam kereta itu.

Praannggg...

Bunyi suara kaca yang pecah akibat hantaman anak panah, terdengar di telinga Hinata.

Hinata yang kaget dengan suara pecahan kaca tadi, segera refleks melihat ke sisi luar kereta. Mengamati Naruto yang sedang berada di sebelahnya. Mendapati pemuda tersebut sedang memegang anak panah di tangannya, kemudian menoleh ke arah Hinata. Dan dia pun berteriak ke arah Hinata,

"Hinata, AWAS..."

-TBC-