All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.

Suara tangisan pilu yang keluar dari mulut Hinata dan Sakura, dapat terdengar dengan jelas oleh kedua pemuda samurai tersebut.

Naruto dan Sasuke sedang menjadi saksi, bahwa saat ini kedua gadis cantik yang berada dalam dekapan mereka, tengah merasakan pengalaman yang mengerikan dalam hidupnya.

Hinata dan Sakura hanya bisa melampiaskan dengan cara seperti ini pada kedua pemuda samurai, yang diyakini dapat menjadi sandaran dan tempat berlindung bagi kedua gadis tersebut.

Naruto dan Sasuke secara refleks menggendong Hinata dan Sakura ala bridal style sambil berlari secepat mungkin ke tempat persembunyian sesuai usulan Shikamaru tadi.

Sementara kedua orang tua Hinata dan Sakura sudah berlari dan bersembunyi duluan. Maka dari itu, Naruto dan Sasuke terpaksa menggendong kedua gadis itu, agar segera menyusul orang tuanya.

"Kau tunggu dulu di sini ya, Hime. Kau sudah aman di sini bersama kedua orang tuamu. Aku jamin, setelah ini keadaan akan menjadi lebih baik. Aku harus segera bergabung dengan Kakashi-sama dan rekan-rekanku. Mereka sudah berusaha menahan serangan pasukan musuh sejak tadi." Naruto berusaha menenangkan Hinata yang masih terguncang.

"Hiks. Jangan pergi dari sisiku, Naruto-kun. A-aku hiks, benar-benar sangat ketakutan, hiks. Aku takut saat kau pergi, a-ada yang menyerang kami di s-sini, hikss."

"Ada Shikamaru yang menjaga keluargamu dan keluarga Sakura di tempat persembunyian ini, Hime. Aku juga akan berjanji padamu. Janji sebagai seorang laki-laki, bahwa aku tidak akan mati hari ini. Aku akan kembali ke sini untuk menjemputmu."

"Bahkan akupun juga berjanji padamu, bahwa aku tidak akan mati sebelum aku dapat hidup bahagia dan berdampingan bersamamu sebagai seorang suami dan menjadi seorang ayah dari anak-anak kita kelak." Janji Naruto kepada Hinata yang diucapkan dengan lantang dan muncul tanpa adanya rasa keraguan sedikitpun.

Dengan air mata yang masih mengalir dan mata yang mulai sembab, namun kedua mata Hinata langsung membola mendengarkan janji seorang Uzumaki Naruto kepada dirinya. Serasa janji tersebut terdengar tulus dan tanpa ada rasa keraguan sedikitpun.

Hinata pun membalas janji Naruto tadi dengan membisikkan pelan pada telinga Naruto,

"Kembalilah padaku, Naruto-kun. Aku mencintaimu."

Benih-benih cinta langsung muncul di antara keduanya, walaupun pertemuan mereka baru terhitung sehari.

Naruto hanya tersenyum kepada Hinata dan segera bergabung dengan pasukannya, untuk mengakhiri pertempuran ini.

Kedua orang tua Hinata juga masih diliputi rasa takut. Namun ternyata mereka diam-diam memperhatikan putri semata wayangnya sejak tadi. Hiashi pun dalam hati sudah berjanji akan merestui hubungan Hinata dengan siapapun laki-laki yang dia pilih, apabila semua selamat dari mimpi buruk ini.

Sementara di sisi lain,

"Sasuke-kun. Kumohon, jangan tinggalkan aku, hiks. Aku tidak rela jika kau beranjak pergi dan meninggalkanku. Hiks, a-aku benar-benar ketakutan saat ini. Aku tidak ingin hal terburuk menimpaku dan keluargaku, Sasuke-kun. Hiks."

"Sakura-chan, kumohon tunggulah di sini. Aku hanya meninggalkanmu sejenak untuk menghabisi orang-orang yang sudah mengusikmu, orang-orang yang sudah membuatmu ketakutan, dan masih kau rasakan hingga detik ini. Aku pastikan mereka semua akan menyesal, karena telah melakukan itu semua kepadamu dan keluargamu."

"Berjanjilah padaku untuk segera kembali dalam keadaan baik-baik saja, Sasuke-kun. Aku tidak ingin kehilangan sosok seorang ayah untuk anak-anak kita nanti."

Sasuke tertegun. Tak pernah ia sangka, jika akan mendengarkan langsung pernyataan seperti ini dari seorang Sakura.

"Hn. Tentu saja, Sakura-chan. Aku akan selalu bersamamu hingga saat 'itu' tiba."

Sakura benar-benar terharu pada pernyataan Sasuke, walupun tak bisa dipungkiri saat ini kondisi dirinya sama-sama mengenaskan dengan Hinata. Tersiksa dengan rasa ketakutan yang sangat dalam.

Walaupun terasa berat untuk melepaskan kepergian Sasuke, Sakura akhirnya mengangguk dengan pelan.

Dan Sakurapun berbisik kepada Sasuke,

"Lekaslah kembali di sisiku, Sasuke-kun. Aku mencintaimu."

"Hn." hanya itu yang bisa dibalas oleh Sasuke beserta senyum tulusnya kepada Sakura.

Jangan ditanya lagi. Tentu saja apa yang dipikirkan oleh orang tua Sakura saat ini, juga senada dengan apa yang sudah dipikirkan oleh orang tua Hinata.

'Hem. Jadi begitu, ya?' Batin Sasuke.

Naruto dan Sasuke pun bersiap melangkah ke medan pertempuran, dengan menunggangi kuda menyusul rekan-rekannya. Mereka juga tengah memikirkan sesuatu yang sama persis di pikiran mereka.

"Hinata / Sakura, aku berjanji sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang samurai, dengan segala kehormatan dan loyalitasnya. Janji untuk selalu di sisimu, melindungimu dan membahagiakanmu... Mulai saat ini."

.
Sementara itu.

Kakashi dan pasukannya yang dari tadi sudah berusaha meredam serangan, mulai tampak kesulitan.

Hal itupun diperburuk dengan sesuatu yang baru muncul di hadapan Kakashi saat ini.

Belum selesai urusan dengan seratus orang yang menyerang pada gelombang serangan pertama, malah diperparah dengan datangnya bala bantuan dari pihak musuh dengan jumlah pasukan yang kira-kira sama banyaknya, seperti serangan sebelumnya.

Bala bantuan dari pasukan musuh tersebut sudah bergabung dan bersiap untuk menyerang pasukan Kakashi.

"Sial, sampai kapan kami dapat bertahan dalam kondisi ini?"

Merasa kewalahan dan medan peperangan kurang mendukung bagi pasukannya, Kakashi berencana untuk sedikit menarik mundur pasukannya, untuk menggunakan siasat lainnya.

Belum sempat melaksanakan niatannya, tiba-tiba terdengar bunyi langkah cepat kaki kuda. Dua kuda lebih tepatnya, dari arah belakang.

Drap... Drap... Drap... Drap...

"Maafkan kami karena terlambat, kawan-kawan. Sekarang kita binasakan mereka semua!"

Sambil mengacungkan masing-masing pedangnya ke arah depan, Naruto dan Sasuke sedang memacu kedua kudanya dengan sangat cepat. Mereka ingin segera berada di tengah-tengah medan pertempuran, untuk melenyapkan semua lawan yang berada di depan mata.

"Naruto, Sasuke. Akhirnya kalian bergabung juga." Kakashi menghela nafas lega sambil tersenyum.

Diliputi rasa amarah yang besar dan nafsu membunuh yang tinggi, membuat penampilan kedua samurai tersebut seperti haus akan darah dari lawan-lawannya.

Rasa amarah yang mereka luapkan saat ini, tak lain karena mereka melihat kedua gadis yang mereka cintai begitu terpukul, tersiksa batin hingga diliputi rasa ketakutan hebat.

Tapi hal yang paling tidak bisa dimaafkan bagi mereka adalah, bahwa orang-orang jahat ini sudah membuat Hinata dan Sakura menangis.

Hal itulah yang paling tidak disukai oleh Naruto dan Sasuke, ketika melihat gadis yang dicintainya menangis karena orang-orang jahat ini.

Dan mereka telah bersumpah untuk menghabisi siapapun yang sudah membuat kedua gadis itu menangis.

Rasa amarah yang tengah mereka rasakan, ternyata juga menjalar pada kuda yang sedang mereka tunggangi saat itu. Kuda-kuda tersebut seakan-akan juga terlihat kesetanan.

Kedua samurai tersebut telah hadir di tengah-tengah medan pertempuran bersama dengan masing-masing kuda yang ditunggangi. Mereka mulai menghabisi satu demi satu nyawa.

"Terima ini!"

"Mati kau!"

"Heeeahhh!"

"Kubunuh kau!"

Frase kata yang hampir sama terus menerus diteriakkan, baik oleh Naruto maupun Sasuke, saat menebas dan mengibaskan pedangnya pada setiap musuh. Mereka berperang bagai iblis dari neraka yang turun ke bumi, dengan hasrat haus akan darah.

Tidak usah ditanyakan lagi siapa yang paling banyak meninggalkan jumlah korban pada pertempuran ini. Tak lain adalah Naruto dan Sasuke.

Karena setiap musuh yang berada dekat dengan jarak pandang keduanya, dalam hitungan detik langsung meregang nyawa terkena tebasan dan tusukan dari pedang kedua samurai tersebut.

Iris mata kedua samurai tersebut seakan-seakan menyala seperti api yang membara, mengisyaratkan akan membantai siapapun yang telah melukai batin kedua gadis yang mereka cintai, sehingga menangis dengan pilunya.

Jrraaasshhhh! Jreeebbb!

Wuuahhhh! Gaaahhh!

Jlebbbb! Croosshhh!

Aakkhh! Hhaaaaghh!

Suara tebasan dan tusukan pedang dari kedua samurai tersebut, terus menerus terdengar.

Yang kemudian diikuti dengan suara rintihan, teriakan, maupun suara yang menunjukkan ekspresi kesakitan dari korban-korban pembantaian oleh kedua tokoh protagonis tersebut.

Dengan menyisakan sedikit yang masih hidup, pasukan orang-orang jahat yang awalnya menyerang dengan kekuatan ratusan orang, pada akhirnya mereka memilih kabur dengan meninggalkan rekan-rekannya yang sudah meregang nyawa di tangan pasukan samurai Konoha.

Dari dua ratus orang pasukan musuh yang melakukan penyerangan, jumlah korban dari pihak lawan yang dibantai tanpa ampun oleh Naruto dan Sasuke sendiri, kira-kira sebanyak tujuh puluh persen.

Naruto dan Sasuke mulai memperingatkan satu sama lain, memperingatkan akan datangnya siasat baru dari musuh yang belum mereka ketahui siapa pimpinannya.

"Mereka pasti akan kembali, Dobe. Tentunya kita harus lebih waspada dengan siasat mereka berikutnya."

"Aku juga sudah mengerti, Teme. Dan harus kita ingat, pada sebuah janji yang sudah kita ucapkan untuk selalu melindungi Hinata dan Sakura, walaupun nyawa kita sendiri yang akan menjadi taruhannya."

-TBC-